POTENSI SUMBER DAYA AIR
UNTUK PENGEMBANGAN SISTEM PERTANIAN ORGANIK DI DAERAH HILIR DAERAH ALIRAN SUNGAI
(DAS) PAKERISAN
Penelitian Hibah Grup Riset Udayana
Prof.Dr.Ir. I Gusti Ngurah Santosa, MS.
Dr. I Wayan Budiasa, SP.,MP.
Desember 2017
PENDAHULUAN
Latar Belakang
• DAS Pakerisan sudah ditetapkan sbg warisan budaya dunia
• DAS Pakerisan sangat berpotensi sebagai penghasil pangan
• Pangan yang diharapkan adalah pangan organik
• Pariwisata terus tumbuh dan berkembang, termasuk pertanian
• Dikawatirkan ada pembuangan limbah ke Tukad Pakerisan baik dari aktivitas pertanian maupun non pertanian.
• Di daerah hilir DAS Pakerisan (DI Medahan) berpotensi sebagai akumulasi limbah, pencemaran /polusi air irigasi
• Kualitas air irigasi di daerah hilir belum diketahui kesesuaiannya
• Perlu dilakukan penelitian terkait potensi sumberdaya air di daerah hilir DAS Pakerisan
2. Tujuan
Mempelajari
:
Peluang pengembangan Sistem Pertanian Organik di daerah hilir DAS Pakerisan (DI Medahan) ditinjau dari segi :
• Ketersediaan/kecukupan air irigasi
• Kualitas air irigasi
• Kandungan logam berat air irigasi
II. Metode Penelitian
1. Lokasi dan Waktu Penelitian : DAS Pakerisan, Daerah Irigasi (DI) Medahan, berlangsung dari April – Nop 2017
2. Bahan dan Alat :
Air, fasilitas irigasi, bahan/zat kimia, alat – alat
laboratorium, gunting, ember, jerigen dan alat-alat tulis
3. Pelaksanaan Penelitian a. Kegiatan di lapangan
• Dilakukan pengumpulan data/ pengamatan terhadap: Peta Daerah Irigasi Tukad Pakerisan (lokasi Geografis, kondisi
Geologi dan Hidrologi, topografi DAS, Alur Tukad, dan iklim), DI Medahan dan jumlah Subak, debit air, cara bercocok
tanam, sumber pencemar dan jenis pencemar, mekanisme pembuangan limbah dan teknologi pengelolaan limbah untuk mengatasi pencemaran tsb.
b. Kegiatan di Laboratorium
• Pengambilan sampel air
Sampel air di ambil di Derah Irigasi (DI) Medahan yaitu : di Saluran dan di petakan sawah
- Di saluran primer 2 sampel air - Di saluran sekunder 2 sampel air - Di saluran tertier 2 sampel air
- Di petakan sawah subak 8 sampel air
• Analisa Laboratorium
1. Daya Hantar Listrik (DHL)
2. Padatan Terlarut (TDS) 3. Kemasaman (pH)
4. Kalsium (Ca) 5. Magnesium (Mg) 6. Natrium (Na) 7. Karbonat CO3)
8. Bikarbonat (HCO3) 9. Sulfat (SO4)
10. Kloroda (Cl)
11. Kalium (K) 12. Nitrat (NO3) 13. Boron (B) 14. BOD
15. COD
Untuk logam berat :
Arsenik (As), Timbal (Pb), Kadmium (Cd) dan
Kromium (Cr) juga dinalalisa.
Kelayakan Kualitas Air Irigasi
Kelayakan kualitas air irigasi ditentukan dengan menggunakan metode Deskriptif Komparatif, berdasarkan Standar Project Management Unit (1996, dalam Santosa, 2006), Peraturan
Gubernur Bali No. 8 Tahun 2007 dan Yusuf, 2014.
Luaran Penelitian
Luaran yang diharapkan pada penelitian ini adalah : potensi air irigasi di DAS Pakerisan bagian hilir masih layak untuk irigasi untuk pengembangan system pertanian organik.
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1. Kegiatan Lapangan
a. Iklim
CH tahunan rerata 1662 mm/th, CH efektif 1415,20 mm/th dan evapotranspirasi 1210,80 mm/th. Ini berarti persediaan air di DI Medahan lebih besar dari air yg hilang melalui evapotranspirasi.
b. Daerah Irigasi Medahan dan Jumlah Subak
DI Medahan terletak paling hilir sungai Pakerisan, meliputi luas areal
275,09 ha, terdiri dari 7 subak yaitu : Peling, Jurit, Masceti, Celuk, Nengan, Abu dan Subak Padang Legi.
c. Ketersediaan Air
Air tersedia sepanjang tahun. Kebutuhan air maksimum 0,699 m3/dt.
Di DI Medahan debit (Nopember 2016 – Oktober 2017) minimum 0,855 m3/dt. Ini berarti persediaan > kebutuhan.
Lanjutan Kegiatan di Lapangan
d. Cara Bercocok Tanam
Jenis tanaman yg diusahakan Padi dan palawija.
Padi Varietas Ciherang dan Cigelis. Palawija :
Jagung (Jagung manis), Kacang tanah dan kedelai.
Pola tanam : Padi - Padi – Palawija
Pupuk yg digunakan : Pupuk kandang, Urea, dan pupuk NPK ponska.
Pengendalian hama penyakit 80 % petani
menggunakan pestisida anorganik : Komidor dan
Trisula. Baru sebagian kecil petani menggunakan air kencing sapi hasil simantri.
Dosis pupuk : Pupuk organic 5 kg/are, urea 3 kg/are, dan NPK ponska 3 kg/are
Lanjutan Kegiatan di Lapangan :
e. Sumber dan jenis Pencemar
• Sumber pencemar : buangan limbah dari rumah tangga, warung, rumah makan/restoran, hotel/penginapan, pasar, bengkel pencucian mobil termasuk juga aktivitas mandi, mencuci di saluran irigasi.
• Bahan pencemar : buangan limbah padat/cair, penggunaan pupuk anorganik, pestisida anorganik, sabun, detergen dan sampah
f. Teknologi Pengelolaan Limbah
Belum ada yg menggunakan teknologi pengelolaan limbah
3.2. Kegiatan Laboratorium
a. Hasil Analisa kualitas air irigasi di
Saluran Primer, Sekunder dan Tersier
Semua parameter yg diamati (no 1 – 15) : Daya Hantar
Listrik, Zat padat terlarut Derajat keasaman, Calcium, Magnesium, Sodium, Bikarbonat, Sulfat, Chlorida, Potasium, Nitrat-Nitrogen, Boron, BOD, COD sesuai untuk irigasi.
Kecuali kandungan karbonat melebihi ambang batas standar. Hasil analisa : 11,70 – 28,50 mg/l, Standar 3 mg/l.
Untuk logam berat yg diamati (Arsen, Kadmium, Kromium dan Timbal) semuanya sesuai untuk irigasi
b. Hasil Analisa Kualitas Air Irigasi di Petakan Sawah
• Semua parameter yg diamati (no 1 – 15) sesuai untuk irigasi kecuali kandungan karbonat melebihi ambang batas standar. Hasil analisa : 27 – 36 mg/l, Standar 3 mg/l.
Nilai karbonat di petakan sawah ini kandungannya lebih tinggi dibanding dg yang di saluran. Hal ini dapat dipahami karena karbonat lebih terakumulasi di petakan sawah, dibanding dg yg di saluran.
• Untuk logam berat yg diamati semuanya sesuai untuk irigasi
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
:• Ketersediaan air Irigasi di Daerah Irigasi Medahan (DAS Pakerisan Hilir) cukup untuk pengembangan Sistem Pertanian Organik.
• Kualitas air Irigasi di Daerah Irigasi Medahan tidak sesuai untuk pengembangan Sistem Pertanian Organik.
• Kandungan logam berat air irigasi Daerah
Irigasi Medahan sesuai untuk pengembangan
Sistem Pertanian Organik
Saran
• Pada sumber atau tempat yang berpotensi sebagai pencemar perlu memiliki alat/bahan pengelolaan limbah.
• Perlu menyediakan tempat pencucian dan kamar mandi umum yang layak .
• Perlu melakukan koordinasi yang lebih intensif antara masyarakat, aparat desa dan lembaga terkait untuk menangani masalah limbah dan sampah.
• Kegiatan Simantri perlu lebih digalakkan.