• Tidak ada hasil yang ditemukan

UTS METODOLOGI PENELITIAN

N/A
N/A
23. Tasya Anggita Putri

Academic year: 2024

Membagikan "UTS METODOLOGI PENELITIAN"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

UTS METODOLOGI PENELITIAN

1. Metodologi Penelitian adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang melaksanakan penelitian untuk mencari, mencatat, merumuskan, menganalisis sampai menyusun laporan berdasarkan fakta-fakta atau gejala-gejala, secara ilmiah. Metode ilmiah adalah metode yang menggunakan kebenaran ilmiah: bersistem, bermetode, objeftifitas, universal(berlaku umum) Logico, hypothetico, verifikatif

2. Cara mencari judul penelitian :

a. Rumusan masalah yang ada di daerah studi penelitian, diutamakan pada permasalahan yang menduduki peringkat pertama, hasil temu kenal permasalahannya.

b. Sesuaikan judul dengan minat dan bermanfaat bagi daerah yang diteliti.

c. Perbanyak referensi judul terlebih dahulu, kemudian diskusikan dengan kakak tingkat

3. Unsur metode penelitian :

a. Populasi dan sample

b. Variabel-variabel penelitian c. Instrumen penelitian d. Tehnik pengumpulan data e. Tehnik tabulasi data f. Tehnik analisis data

NAMA : TARUNI NINDYA TASYA ANGGITA PUTRI KELAS : TD 3.8

NOTAR : 2001394

DOSEN PENGAMPU : DRS. SITI UMIYATI, MM

(2)

g. Tehnik/kriteria penafsiran data

h. Tehnik/kriteria pengambilan kesimpulan hasil penelitian

4. Data merupakan segala informasi tentang variabel yang diteliti dan merupakan hasil pencatatan, baik berupa angka maupun fakta. Adapun cara untuk mendapatkan data, yaitu dengan mengamati variabel yang diteliti dengan metode pengumpulan data antara lain :

- Metode Pengamatan Langsung - Metode Menggunakan Pertanyaan - Metode Khusus

5. Jenis-jenis data dapat diklasifikasikan menjadi 3, yaitu :

1. Data berdasarkan sumbernya, yaitu data primer dan data sekunder 2. Data berdasarkan sifatnya, yaitu data kualitatif dan data kuantitatif

3. Data berdasarkan waktu pengumpulannya, yaitu data berkala dan data cross section 6. Hipotesis merupakan pernyataan singkat yang disimpulkan dari permasalahan yang

akan dikaji berdasarkan landasan teori atau tinjauan pustaka dan merupakan jawaban sementara terhadap masalah yang dihadapi dan masih harus dibuktikan kebenaranya.

“jawaban sementara”, akan diuji kebenarannya secara empiris. Berupa pertanyaan, atau pernyataan Dirumuskan secara jelas dan padat yang didasarkan kepada kerangka pikiran Rangkuman simpulan hasil telaah Pustaka Dapat tentang hubungan atau perbedaan Contoh hipotesis :

Berdasarkan permasalahan dalam penelitian yang akan dikaji terdapat beberapa praduga sementra yang akan menjadi acuan keberhasilan dalam penyelesaian penelitian ini yaitu:

1. Peningkatan kinerja lalu lintas secara terisolasi dengan anggapan kinerja persimpangan setelah dilakukan optimasi akan lebih baik dari hasil eksisting

(3)

2. Pengkoordinasian parkir guna meningkatkan tingat pelayanan

3. Perbandingan hasil peningkatan kinerja lalu lintas dengan data eksisting simpang, baik secara optimasi terisolasi maupun koordinasi persimpangan.

4. Penerapan kebijakan terbaik untuk peningkatan kinerja lalu lintas berdasarkan beberapa opsi atau scenario

7. Perumusan hipotesis : 1. Membuat Kerangka Teori

2. Mengeksplorasi hubungan-hubungan yang terjadi dalam permasalahan 3. Lakukan Observasi tentang Suatu Topik atau Masalah.

4. Buat Daftar Masalah yang Ingin diteliti.

5. Mulai Menuliskan Hipotesis.

6. Pastikan Hipotesis Dapat diuji

8. Model penelitian adalah suatu komponen pada penulisan tesis khususnya pada penelitian kualitatif atau model penelitian sering disebut kerangka pikir yang merupakan model konseptual akan teori yang saling berhubungan satu sama lain terhadap berbagai faktor yang telah diidentifikasi sebagai masalah yang penting.

9. Mengkonstruksi model penelitian :

- Menyusun rumusan teoritis atau kerangka pikiran tentang topik dan masalah - Berdasar pada hasil telaah pustaka dan penalaran

- Menunjukkan masalah ilmiah dan jalan pikiran dalam menjawab permasalahan Kerangka fikir dapat berbentuk bagan, model matematik, atau persamaan fungsional, yang dijelaskan secara naratif.

10. TEMA : PERENCANAAN LALU LINTAS

1 Judul Penelitian PERENCANAAN JARINGAN TRAYEK ANGKUTAN PERDESAAN DI KABUPATEN BANYUWANGI

2 Latar Belakang Masyarakat di daerah pesisir Kabupaten Banyuwangi kesulitan saat menjangkau pusat perbelanjaan dan tempat kerja dikarenakan tempatnya yang cukup jauh

(4)

dan akses menuju Kawasan tersebut belum terdapat fasilitas publik yang memadai serta belum terdapat angkutan umum yang melayani. Oleh sebab itu harus ada tindakan dari pemerintah untuk merencanakan jaringan trayek angkutan umum di Kabupaten Banyuwangi khususnya di daerah pesisir hal itu sesuai sesuai dengan Peraturan Daerah Kabupaten Banyuwangi Nomor 08 Tahun 2012 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Banyuwangi Tahun 2012-2032 Pasal 20 ayat 1 yang menyatakan bahwa pengembangan trayek angkutan umum yang meliputi angkutan perdesaan melayani trayek penumpang dari terminal perkotaan dengan ibukota kecamatan berada di wilayah Kabupaten.

Dari uraian permasalahan tersebut, perlu adanya tindak lanjut yang bertujuan dapat meningkatkan pelayanan angkutan umum di Kabupaten Banyuwangi karena melihat pentingnya angkutan umum untuk Kabupaten

Banyuwangi, untuk itu penulis melakukan penelitian dengan judul “Perencanaan Jaringan Trayek Angkutan Perdesaan di Kabupaten Banyuwangi”

3 Identifikasi Masalah 1. Belum adanya Angkutan Umum dalam trayek (Angkutan Perdesaan) di daerah pesisir Kabupaten Banyuwangi

2. Sulitnya masyarakat di daerah pesisir Kabupaten Banyuwangi untuk melakukan perpindahan dalam kegiatan sehari-hari.

3. Pelayanan angkutan umum di Kabupaten Banyuwangi terdiri atas AKDP, AKAP, Angkutan Perkotaan, dan hanya memiliki 1 trayek Angkutan Perdesaan yaitu trayek Terminal Blambangan – Terminal Sri Tanjung sehingga menyebabkan belum meratanya pelayanan angkutan umum di Kabupaten Banyuwangi.

4 Rumusan Masalah 1. Berapa jumlah potensi permintaan angkutan umum di Kabupaten Banyuwangi?

2. Bagaimana jenis angkutan umum dan jumlah armada yang sesusai dengan kebutuhan terhadap

(5)

angkutan perdesaan di Kabupaten Banyuwangi?

3. Bagaimana penentuan rute yang sesuai dengan kebutuhan terhadap angkutan perdesaan di Kabupaten Banyuwangi?

4. Bagaimana usulan Kinerja Operasional angkutan perdesaan yang efektif dan tepat sasaran sehingga dapat memenuhi kebutuhan angkutan umum di daerah pesisir Kabupaten Banyuwangi?

5. Berapa tarif yang sesuai dengan Biaya Operasi Kendaraan (BOK)?

5 Daftar Pustaka Abubakar. 1996. “Menuju Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Yang Tertib, edisi yang

disempurnakan.” (Jakarta: Direktur Jenderal Perhubungan Darat).

Andhini, Nada Agi, dkk. 2021. “Optimalisasi Kinerja Pelayanan Angkutan Perdesaan

di Kabupaten Kudus.” Jurnal Forum Mekanika:10(2).

Buchika, Muhammad Dexy, dkk. 2018. “Studi Perencanaan Rute Angkutan Umum

Di Kota Pontianak”: Jurnal LAST:5(2).

Cahyo, Nugroho Bagas. 2015. “Perencanaan Jaringan Trayek Angkutan Umum di

Wilayah Perkotaan Purwokerto” FSTPT Internasional Symposium(Bandar

Lampung) .

Erica, Denny. 2018. “Pengaruh Kualitas Layanan Dan Pemanfaatan Teknologi

Informasi Terhadap Kepuasan Dan Loyalitas Pelanggan Jasa Transportasi

Online Di Jakarta” Jurnal Perspektif:16(2).

Giannopoulos, G. A. 1989. “Bus Planning and

(6)

Operation in Urban Areas: A Practical Guide. Avebury.” (Brookfield USA).

Kementerian Perhubungan. 2002. “Surat Keputusan Direktur Jenderal

Perhubungan Darat Nomor:SK687/AJ.206/DRJD/2002 Tentang Pedoman

Teknis Penyelenggaraan Angkutan Penumpang Umum Di Wilayah Perkotaan

Dalam Trayek Tetap Dan Teratur.”

Kementerian Perhubungan. 2013. “Peraturan Menteri Perhubungan Republik

Indonesia Nomor PM. 98 Tentang Standar Pelayanan Minimal Angkutan

Orang Dengan Kendaraan Bermotor Umum Dalam Trayek.”

Kementerian Perhubungan. 2019. “Peraturan Menteri Perhubungan Republik

Indonesia Nomor PM. 15 Tentang Penyelenggaraan Angkutan Orang Dengan

Kendaraan Bermotor Umum Dalam Trayek.”

Kementerian Perhubungan. 2019. “Peraturan Menteri Perhubungan Republik

Indonesia Nomor PM 73 Tentang Penyelenggaraan Subsidi Angkutan Jalan

Perintis.”

Miro, Fidel. 2005. “Perencanaan Transportasi untuk Mahasiswa, Perencana, dan

Praktisi”. (Jakarta.: Erlangga).

Nalendra, Rangga Aditya dkk. 2021. “Statistika Seri Dasar dengan SPSS”.

(Tangerang: Media Sains Indonesia)

Nasution H.M.N. 1996. “Manajemen Transportasi”.

(7)

(Jakarta.: Penerbit Ghalia Indonesia).

Nurhasanah, Siti dkk. 2020. “Analisis Kebutuhan Angkutan Umum Rute

86

Singkawang-Sambas.” Jurnal Transportasi.

Pemerintah Republik Indonesia. 2009. "Undang- Undang Republik Indonesia

Nomor 22 Tentang Lalu Lintas Dan Angkutan Jalan."

Pemerintah Republik Indonesia. 2014. "Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tentang

Angkutan Jalan."

Pemerintah Kabupaten Banyuwangi. 1995. "SK Bupati No 269 Tentang Trayek

Angkutan Umum di Kabupaten Banyuwang."

Pemerintah Kabupaten Banyuwangi. 2012. "Peraturan Kabupaten Banyuwangi

Nomor 08 Tentang Tata Ruang Wilayah Kabupaten Banyuwangi Tahun 2012

- 2032."

Rosyidah, Marhamah. 2017. "Analisis Potensi Demand , Abillity to Pay (ATP) dan

Willingness to Pay (WTP) BST Koridor 1 dengan Adanya Sistem Contra Flow

di Jalan Brigjen Slamet Riyadi Pada Instansi Pemerintah" Jurnal Matriks Teknik

Sipil.

Saputra, Tommy Bahtiar. 2013. "Pemodelan Pemilihan Moda Antar Monorel

Terhadap Busway Dengan Metode State Preference"

Jurnal Matriks Teknik Sipil, 1(4).

(8)

Sriastuti, Dewa Ayu Nyoman. 2018. "Analisis Kebutuhan Pengoperasian Angkutan

Antar Jemput (Car Pooling) Bagi Siswa Sekolah" Jurnal Paduraksa, 7(1).

Warpani, Suwardjoko. 1990. "Merencanakan Sistem Perangkutan". (Bandung:

Penerbit ITB).

Zulfikri, Herawati. 2014. "Konsep Standar Pelayanan Angkutan Perdesaan Concept

Of Rural Transport Services Standard." Warta Penelitian Perhubungan:26(4).

1 Judul Penelitian PERENCANAAN JARINGAN LINTAS ANGKUTAN BARANG DI WILAYAH KABUPATEN PEKALONGAN

2 Latar Belakang Tingginya pertumbuhan kendaraan di Kabupaten Pekalongan dan banyaknya kendaraan angkutan barang ini mengakibatkan meningkatnya volume ruas jalan. Semakin tinggi volume ruas jalan akan mengurangi kinerja ruas jalan, dapat diketahui dari nilai V/C rasio pada ruas jalan yang dilewati oleh angkutan barang mencapai 0,83. Namun untuk kondisi saat ini di Kabupaten Pekalongan belum terdapat jaringan lintas angkutan barang sehingga kendaraan angkutan barang masih secara bebas memilih jaringan untuk dilintasi. Hal tersebut juga menyebabkan kerusakan pada perkerasan jalan karena angkutan barang beroperasi tidak sesuai pada kelas jalannya. Melalui kondisi permasalahan ini, perlu dilakukan kajian mengenai pengaturan dan penataan pergerakan angkutan barang di Kabupaten Pekalongan sebagai perbandingan antara kinerja lalu lintas sebelum dan setelah ditentukannya jaringan khusus pergerakan angkutan barang. Sehingga kajian ini mampu dijadikan sebagai dasar penetapan kebijakan bagi pemerintah terkait kinerja lalu lintas terhadap pergerakan angkutan barang. Berdasarkan latar belakang yang telah disampaikan, Kertas Kerja Wajib ini ditulis dengan judul

“Perencanaan Jaringan Lintas Angkutan Barang di Wilayah Kabupaten Pekalongan”.

3 Identifikasi Masalah 1) Belum terdapat kebijakan dari pemerintah terkait penetapan jaringan khusus lalu lintas angkutan barang

(9)

di Kabupaten Pekalongan.

2) Adanya Mixed Traffic lalu lintas antara angkutan barang dengan lalu lintas kendaraan umum dan pribadi pada ruas jalan di Kabupaten Pekalongan.

3) Dari hasil survei pencacahan lalu lintas kendaraan umum, pribadi, maupun angkutan barang yang telah dilakukan didapatkan nilai perbandingan antara volume dengan kapasitas jalan (V/C ratio) tertinggi sebesar 0,83. Kinerja ruas tersebut tergolong buruk atau

dalam kategori level of service D.

4 Rumusan Masalah 1) Bagaimana kondisi kinerja jaringan jalan di Kabupaten Pekalongan sebelum ditetapkan jaringan lintas angkutan barang?

2) Bagaimana rencana jaringan lintas angkutan barang yang sesuai dengan hasil analisa?

3) Bagaimana gambaran kinerja jaringan jalan di Kabupaten Pekalongan setelah usulan hasil penelitian tentang jaringan lintas angkutan barang pada tahun 2022?

5 Daftar Pustaka ___________, 2009. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas

dan Angkutan Jalan. Jakarta.

___________, 1993. Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 1993 tentang

Prasarana dan Lalu Lintas Jalan. Jakarta.

___________, 2011. Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 2011 tentang

Manajemen dan Rekayasa, Analisis Dampak serta, Manajemen

Kebutuhan. Jakarta.

___________, 2014. Peraturan Pemerintah Nomor 74

(10)

Tahun 2014 tentang Angkutan Jalan. Jakarta.

___________, 2015. Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 96 Tahun 2015

tentang Manajemen dan Rekayasa Lalu Lintas di Jalan.

Jakarta.

___________, 2019. Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 60 Tahun 2019

tentang Penyelenggaraan Angkutan Barang di Jalan.

Jakarta.

___________, 1997. Manual Kapasitas Jalan Indonesia (MKJI). Direktorat Jendral

Bina Marga dan Departemen Pekerjaan Umum. Jakarta.

___________, 2022. Laporan Umum Praktek Kerja Lapangan Kabupaten

Pekalongan, Pola Umum Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Kabupaten Pekalongan 2022. Politeknik Transportasi

Darat

Indonesia-STTD. Bekasi.

___________, 2022. Pedoman Kertas Kerja Wajib dan Artikel Ilmiah Program Studi

Diploma III Manajemen Transportasi Jalan. Bekasi.

Tamin, Ofyar. Perencanaan dan Pemodelan Transportasi Edisi 1. Bandung: Institut

Teknologi Bandung, 1997.

Tamin, Ofyar. Perencanaan dan Pemodelan Transportasi. Bandung: Institut

Teknologi Bandung, 2000.

98

Warpani, Suwardjoko. Merencanakan Sistem Pengangkutan. Bandung: Institut

Teknologi Bandung, 1990.

(11)

Nurhadi, Febrian Setyo. 2019

https://eprints.umm.ac.id/52371/3/2%20BAB%20II, diakses pada 15 Agustus

2022 pukul 10.01

Hadi, Robi Yusrilma. Dkk, Perencanaan Jaringan Lintas Angkutan Barang di Kota

Madiun. Bekasi: Politeknik Transportasi Darat Indonesia-STTD, 2019

1 Judul Penelitian PERENCANAAN JALUR SEPEDA PADA JALAN PARIWISATA DI KOTA BENGKULU

2 Latar Belakang Di Kota Bengkulu sendiri saat ini belum tersedia jalur untuk sepeda sehingga perlu menyediakan jalur sepeda untuk fasilitas orang-orang yang ingin bersepeda. Hal ini dapat mendukung program penghijauan lingkungan dan meningkatkan Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Kota Bengkulu.

Walikota Kota Bengkulu memiliki usulan untuk perencanaan jalur sepeda tersebut dan pernah dirapatkan dengan pihak Dinas Perhubungan yang rencananya akan membuat jalur sepeda pada Jalan Pariwisata. Hal ini dikarenakan guna untuk meningkatkan faktor keselamatan dari para pengguna sepeda. 3 Beberapa hal tersebut yang menjadi dasar penulis untuk menyediakan Fasilitas jalur khusus sepeda. Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian terkait dengan penyediaan fasilitas jalur sepeda yang berkeselamatan dan penulis mengambil judul “Perencanaan Jalur Sepeda Pada Jalan Pariwisata di Kota Bengkulu“.

3 Identifikasi Masalah 1. Pengunaan sepeda di jalan pariwisata mencapai 130 hingga 183 pesepeda. Dengan proporsi volume kendaraan berkisar 3,1%.

2. Untuk kondisi lalu lintas yang ada pada ruas Jalan Pariwisata yaitu cukup padat dan ramai yang dihasilkan oleh kendaraan bermotor. Kemudian ditambah dengan banyaknya masyarakat yang mengunjungi wisata Pantai Panjang dekat ruas Jalan Pariwisata.

3. Belum ada perhatian khusus dari Pemerintah Kota Bengkulu terkait fasilitas untuk bersepeda.

(12)

4 Rumusan Masalah 1. Bagaimanakah dasar penentuan rute dan bentuk desain jalur khusus sepeda di sepanjang ruas Jalan Pariwisata?

2. Bagaimanakah kinerja ruas jalan setelah adanya jalur khusus sepeda ?

3. Fasilitas apa sajakah yang harus disediakan oleh pemerintah untuk pengguna sepeda agar sesuai dengan standar keselamatan?

5 Daftar Pustaka 2009, Undang-undang Nomor 22. Tentang Lalu Lintas dan Angkutan

Jalan.

2021, Surat Edaran Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat

Direktorat Jenderal Bina Marga SE Nomor 05 Tentang Perancangan Fasilitas

sepeda.

1997, Manual Kapasitas Jalan Indonesia , PT. Bina Karya Indonesia,

Jakarta.

2006, Peraturan Pemerintah Nomor 34 tentang Jalan.

2020, Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 59, tentang Keselamatan

Pesepeda di Jalan.

Devin, Devin, Giovanni Pranata, and Johannes Susanto.

2021. “ANALISIS

EFEKTIVITAS LAJUR KHUSUS SEPEDA PADA KAWASAN TOMANG – CIDENG

TIMUR.” JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil 4 (1).

Universitas Tarumanagara:

13. doi:10.24912/jmts.v0i0.10507.

Sugasta at al. 2016. “Analisis Efektivitas Lajur Khusus Sepeda Pada Kawasan

Perkotaan Pontianak ( Studi Kasus Jalan Sutan Syahrir -

(13)

Jalan Jendral Urip

- Jalan K. H. W. Hasyim - Jalan Merdeka).” Jurnal Rekayasa Sipil 4 (4): 1–

9.

http://jurnal.untan.ac.id/index.php/JMHMS/article/vie w/19197.

Hervian Handika Sugasta. Dkk. 2020. Analisis Efektivitas Lajur Khusus Sepeda

Pada Kawasan Perkotaan Pontianak (Studi Kasus Jalan Sutan SyahrirJalan Jenderal Urip-Jalan K. H. W. Hasyim- Jalan Merdeka). Pontianak.

Listansari. Dkk. 2017. Desain Jalur Sepeda Di Wilayah Perkotaan Wonosari

Kabupaten Gunungkidul Daerah istimewa Yogyakarta.

Universitas Gadjah Mada.

67

Shui, C. S., and W. Y. Szeto. 2020. “A Review of Bicycle- Sharing Service Planning

Problems.” Transportation Research Part C: Emerging Technologies 117

(August). Elsevier Ltd. doi:10.1016/j.trc.2020.102648.

Artiningsih. (2011). Jalur Sepeda Sebagai Bagian Dari Sistem Transportasi Kota

Yang Berwawasan Lingkungan. Universitas Diponegoro.

Mulyadi. (2013). Modul Pelatihan Pelatihan Perancangan Lajur dan Jalur Sepeda.

Bandung. Pusat Penelitian dan Pengembangan Jalan dan Jembatan,

Kementerian Pekerjaan Umum.

Kelompok PKL Kota Bengkulu. 2022. Pola Umum Manajemen Transportasi Jalan di

(14)

Wilayah Studi Kota Bengkulu dan Identifikasi Permasalahannya

1 Judul Penelitian PERENCANAAN RUTE AMAN SELAMAT SEKOLAH (RASS) DI KAWASAN PENDIDIKAN JALAN AHMAD YANI KOTA KENDARI 2 Latar Belakang Data hasil analisis Tim PKL Kota Kendari 2021 menunjukkan

bahwa tingkat kecelakaan yang melibatkan pelajar di Kota Kendari yaitu sebesar 84 kejadian atau 35% dari total kecelakaan di tahun 2020. Hal tersebut menjadikan tingkat kecelakaan berdasarkan profesi tertinggi ada pada Pelajar, Sementara untuk di Jalan Ahmad Yani sendiri angka kecelakaan yang terjadi di ruas jalan tersebut sebanyak 40 kejadian kecelakaan, dan yang menjadi titik blackspot di ruas jalan tersebut yaitu berada di depan SMA N 4 Kota Kendari. Hal ini disebabkan karena karakteristik pengguna jalan yang tidak memperhatikan kondisi lalu lintas, seperti halnya yang terjadi pada Kamis, 20 Februari 2020 pukul 18:30 WITA, data kronologi yang penulis dapatkan dari Satlantas Polres Kota Kendari menyebutkan bahwa salah satu kecelakaan pada titik blackspot Jalan Ahmad Yani disebabkan karena tidak adanya fasilitas naik turunnya penumpang, dan karakteristik pengendara sepeda motor, yang mana pada kasus tersebut sepeda motor tersebut menyalip dari sebelah kiri disaat angkot hendak menurunkan penumpangnya sehingga tidak bisa dihindarkan terjadinya tabrakan antara penumpang yang ingin turun dengan pengendara sepeda motor.

Berdasarkan latar belakang tersebut, dapat diberikan usulan dan kebijakan mengenai penanganan terhadap masalah yang terjadi di Kawasan Pendidikan Jalan Ahmad Yani Kota Kendari dengan melakukan Program Pemerintah yang diselenggarakan sesuai Peraturan Menteri Perhubungan Darat Tentang Konsep RASS. Penelitian ini dilakukan 4 berdasarkan permasalahan yang terjadi di lokasi studi yaitu dengan topik “PERENCANAAN RUTE AMAN SELAMAT SEKOLAH (RASS) DI KAWASAN PENDIDIKAN JALAN AHMAD YANI KOTA KENDARI” agar terlaksananya kajian ini peneliti mengharapkan usulan dan kebijakan yang dibuat dapat diterapkan sesuai pengaturan yang berlaku di daerah kajian, serta memberikan dampak positif terhadap keselamatan pelajar dalam melakukan perjalanan dari/ke sekolah.

3 Identifikasi Masalah 1. Tingkat Kecelakaan lalu lintas yang melibatkan pelajar di Kota Kendari yaitu sebesar 84 kejadian atau 35% dari total kecelakaan di tahun 2020. Sementara di Jalan Ahmad Yani sendiri tingkat kecelakaannya yaitu sebanyak 40 kejadian kecelakaan.

(15)

2. Terdapat 4 sekolah dengan jumlah total 4698 siswa yang berada di kawasan pendidikan Jalan Ahmad Yani Kota Kendari yang dimana kegiatan pelajar dalam melakukan perjalanan menuju/kembali ke sekolah dengan berjalan kaki, bersepeda, angkutan umum, dan di antar/jemput.

3. Belum tersedianya rute perjalanan untuk pelajar menuju/kembali dari sekolah bagi pelajar yang berjalan kaki, sepeda, dan fasilitas angkutan umum.

4. Kondisi fasilitas penunjang keselamatan di Kawasan Pendidikan tersebut untuk pelajar masih kurang memadai, seperti Zona Selamat Sekolah (ZoSS), rambu lalu lintas, marka jalan yang memudar, tidak adanya jalur khusus sepeda, halte untuk angkutan umum, serta titik lokasi pengantar / penjemput pelajar (drop zone / pick up point) untuk menaikkan dan menurunkan pelajar di kawasan pendidikan sehingga menimbulkan kemacetan bahkan bisa menimbulkan kecelakaan.

4 Rumusan Masalah 1. Bagaimana kondisi rute pejalan kaki, pesepeda dan angkutan umum ke sekolah saat ini?

2. Bagaimana merencanakan kebutuhan rute pejalan kaki, pesepeda dan angkutan umum ke sekolah?

3. Bagaimana menentukan fasilitas penunjang keselamatan ke sekolah untuk tiap rutenya?

4. Bagaimana desain kawasan pendidikan yang menerapkan Rute Aman Selamat Sekolah (RASS) yang sesuai dengan karakteristik wilayah pada kawasan pendidikan Jalan Ahmad Yani?

5 Daftar Pustaka 2009, Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 Tentang Lalu Lintas dan Angkutan

Jalan, Direktorat Jenderal Perhubungan Darat.

Jakarta.

1999, Pedoman Perencanaan Jalur Pejalan Kaki Padab Jalan Umum Nomor

032/T/BM/1999, Direktorat Jenderal Bina

(16)

Marga.

1996, Keputusan Direktur Jenderal Perhubungan Darat Nomor 271 Tentang

Pedoman Teknis Perekayasaan Tempat Pemberhentian Kendaraan Penumpang

Umum. Jakarta.

1999, Tata Cara Perencanaan Geometri Jalan Antar Kota, Direktorat Jenderal

Bina Marga.

1992, Standar Perencanaan Geometri Untuk Jalan Perkotaan, Direktorat Jenderal

Bina Marga.

2015, Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 26 Tentang Standar Keselamatan

Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, Jakarta.

1997, Surat Keputusan Direktorat Jenderal Perhubungan Darat Nomor SK.43.AJ

007/DRJD/1997, Jjakarta.

2016, Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 16 Tentang Rute Aman Selamat

Sekolah (RASS). Jakarta.

2013, Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tentang Jaringan Lalu Lintas dan

Angkutan Jalan, Jakarta.

2018, Keputusan Direktur Jenderal Perhubungan Darat Nomor:

SK.3582/AJ.403/DPJD/2018 Tentang Pedoman Teknis Pemberian Keselamatan

dan Kenyamanan Pejalan Kaki Pada Kawasan Sekolah Melalui Penyediaan Zona

Selamat Sekolah. Jakarta.

2017, Peraturan Pemerintah Nomor 37 Tentang

(17)

Keselamatan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Jakarta.

123

Nurcahyadi, Harry. 2017. Penerapan Konsep Rute Aman Selamat Sekolah

(RASS), STTD, Bekasi

Pratama, Randy Bramesta Putra, 2020.

Penerapan Konsep Rute Aman Selamat

Sekolah (RASS) Di Kawasan Pendidikan Kota Kupang, STTD, Bekasi

Soejachmoen, Kuki. 2004. Keselamatan Pejalan Kaki dan Transportasi.

Patilima, Hamid. 2015. Rute Aman Selamat Sekolah,.Artikel . https://kla.id ,

Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia.

Idawan, Santoso. 1996. Perencanaan Prasarana Angkutan Umum, Bandung : ITB

Munawar, Ahmad. 2004. Manajemen Lalu Lintas Perkotaan, Beta Offset,

Yogyakarta.

Tamin, Ofyar Z. 2009. Perencanaan, Permodelan, dan Rekayasa Transportasi,

ITB, Bandung.

Nazir, M. 2005. Metodologi Penelitian. Bogor:

Ghalia Indonesia.

Indarto dan Irwansyah. 1997. Modul Praktikum Analisis Tabulasi Silang.

Bandung: Universitas Islam Bandung

1 Judul Penelitian PERENCANAAN ZONA SELAMAT SEKOLAH SMAN 1 KERTEK DAN SDN 1 BOJASARI

2 Latar Belakang Dengan melihat kondisi lapangan, salah satu kawasan

(18)

sekolah yang berada di Jalan Kertek – Wonosobo I yaitu SMAN 1 Kertek dan SDN 1 Bojasari yang lokasinya tepat di Jalan Nasional masih kurang dalam hal fasilitas perlengkapan jalan seperti fasilitas penyebrangan, rambu batas kecepatan saat memasuki wilayah sekolah. Di kawasan sekolah tersebut juga terdapat black spot yang berada di depan SMAN 1 Kertek. Kondisi ini dapat meningkatkan potensi kecelakaan, sehingga perlu di adakan analisis berupa program Zona Selamat Sekolah ( ZoSS ) yang disertai kajian kebutuhan fasilitas yang disesuaikan dengan karakteristik daerah studi tersebut. Kusmaryono, Rusgiyarto, Widjajanti (2010) berpendapat bahwa penerapan ZoSS dilakukan bertujuan untuk melindungi pejalan kaki anak sekolah dari bahaya kecelakaan lalulintas.

Kendaraan yang berada dalam zona sekolah harus bergerak dengan kecepatan rendah, untuk memberikan waktu reaksi yang lebih lama dalam mengantisipasi gerakan anak sekolah, yang bersifat spontan dan tak terduga, yang dapat menimbulkan kecelakaan lalu lintas. Di wilayah tersebut juga terdapat angkutan umum yang ngetam di pinggir jalan yang dapat mengganggu pengguna jalan baik kendaraan dan pejalan kaki karena tempatnya di ambil oleh angkutan umum tersebut. yang membuat pejalan kaki di haruskan jalan di badan jalan tidak di tempatnya yang dapat meningkatkan bahaya bagi pengguna jalan terutama pejalan kaki

3 Identifikasi Masalah 1. Terdapat Blackspot di depan Sekolah SMAN 1 Kertek dengan total 29 kecelakaan di antaranya 7 yang meninggal dunia pada tahun 2021.

2. Terdapat angkutan umum yang ngetam di depan SMAN 1 Kertek

3. Masih kurangnya fasilitas pejalan kaki di wilayah studi.

4 Rumusan Masalah 1. Bagaimanakah menentukan fasilitas pejalan kaki ? 2. Bagaimanakah menetukan fasilitas teluk bus dan halte ? 3. Bagaimanakah desain ZoSS berdasarkan hasil analisis dan ketentuan dari Peraturan Dirjen Perhubungan Darat SK.

3582/AJ. 403/DRJD/2018 ?

5 Daftar Pustaka _______, 2018, Pedoman Penerapan Zona Selamat Sekolah (ZoSS), Direktorat

Jenderal Perhubungan Darat Direktur Keselamatan Transportasi Darat, Jakarta

_______, 2018, Perencanaan Teknis Fasilitas Pejalan Kaki, Kementrian Pekerjaan Umum Dan Perumahan

(19)

Rakyat, Jakarta.

_______, 2015, Spesifikasi Geometrik Teluk Bus, Badan Standarisasi Nasional, Jakarta

_______, 2015, Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 96 Tahun 2015 tentang Pedoman Pelaksanaan Kegiatan Manajemen dan Rekayasa Lalu Lintas, Dapartemen Perhubungan, Jakarta.

_______, 2013, Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2013 Tentang Jaringan Lalu Lintas, Jakarta.

_______, 2013, Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 75 Tahun 2013 Tentang Standar Biaya Tahun 2014 di Linkungan Kementrian Perhubungan, Jakarta.

_______, 2011, Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 2011 Tentang Manajemen dan Rekayasa, Analisis Dampak, Serta Manajemen Kebutuhan Lalu Lintas, Jakarta

_______, 2009, Undang – Undang Nomor 22 Tahun 2009 Tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, Dapartemen Perhubungan, Jakarta.

_______, 1996, Pedoman Teknis Perekayasaan Tempat Perhentian Kendaraan Penumpang Umum, Departemen Perhubungan Direktur Jendral Perhubungan Darat, Jakarta.

Referensi

Dokumen terkait

Dengan berlakunya Peraturan Daerah ini, semua ketentuan terdahulu yang dikeluarkan oleh Pemerintah Daerah Tingkat I Lampung mengenai perizinan trayek kendaraan angkutan

Perluasan wilayah kota dan penambahan jaringan trayek terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun yang terus di imbangi dengan bertambahnya jumlah angkutan umum perkotaan sesuai

Perluasan wilayah kota dan penambahan jaringan trayek terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun yang terus di imbangi dengan bertambahnya jumlah angkutan umum perkotaan sesuai

Rencana pengembangan jaringan trayek angkutan umum oleh Dinas Perhubungan Kota Banjarbaru dan Organda sebaiknya dilakukan dalam rangka pemberian akses pelayanan angkutan

Wajib retribusi adalah badan yang memperoleh izin untuk menyediakan pelayanan angkutan penumpang umum pada suatu atau beberapa trayek tertentu dari Pemerintah

Untuk ini diperlukan jaringan trayek angkutan umum yang disesuaikan dengan peta dampak lumpur Lapindo dan perkembangan jaringan jalan yang sudah dan yang akan dibangun di

Tahapan perencanaan sebagai berikut: 1 Merencanakan jaringan drainase baru dengan mengacu pada saluran drainase eksisting dan peta kontur untuk mengetahui daerah yang berelevasi rendah

Dalam hal ini diperlukan jaringan trayek angkutan umum yang disesuaikan dengan peta dampak lumpur Lapindo dan perkembangan jaringan jalan yang sudah dan akan dibangun di daerah