UJIAN TENGAH SEMESTER GANJIL TAHUN AKADEMIK 2024 - 2025 POLITEKNIK MANUFAKTUR ASTRA
Nama : Maisun Septriazahra W
Npm/Nim : 0620220005
Prog.Studi / Semester : TKBG/5/A Mata Kuliah : PAI
Hari / Tanggal : Kamis, 31 Oktober 2024
Dosen : Mohammad Yunus
No. Absen/Peserta : 05
JAWABLAH SOAL-SOAL BERIKUT DENGAN SINGKAT DAN JELAS
1. Alloh SWT menciptakan manusia sebagai makhluk yang sempurna. sebutkan kelebihan2 manusia dibandingkan dengan makhluk yang lain sehingga Alloh SWT memilihnya sebagai kholifah di muka bumi !
2. Alloh SWT menurunkan dienul islam kepada manusia sejak Nabi Adam As sampai Nabi Muhammad SAW. jelaskan persamaan dan perbedaan misi yang diamanatkan kepada Nabi Muhammad SAW dan Rosul2 sebelumnya !
3. Rukun iman yang ke-6 adalah iman kepada qodho dan qodar/taqdir.
a. jelaskan pengertian qodho dan qodar ! b. sebutkan hal2 yang bisa merubah taqdir manusia !
c. Apa yang dimaksud taqdir mubrom dan taqdir mu'allaq ? sebutkan cintoh2 dari keduanya!
4. Sebagai pedoman atau petunjuk Al-Qur'an senantiasa relevan dengan kondisi jaman. kita tidak bisa mengamalkannya kecuali dengan berpedoman dengan Assunnah Nabi Muhammad SAW bagaimana langkah2 yang harus dilakukan agar Al-Qur'an dapat membawa keselamatan di dunia dan menjadi sya'faat di Akhirat ?
5. Apa hubungan empat madzhab fiqh islam ( Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Syafii dan Imam Hambali ) dengan Ijtihad, apa saja metodologi ijtihad mereka dan mengapa hanya mereka ber-4 yang bertahan dan menjadi rujukan ahlu sunnah wal jamaah sampai sekarang ?
JAWABAN
1. Allah SWT menciptakan manusia sebagai makhluk paling sempurna dengan berbagai kelebihan, antara lain:
a. Akal dan Pikiran, Untuk memahami dan mengembangkan ilmu.
b. Hati Nurani, Untuk membedakan baik dan buruk.
c. Tugas sebagai Khalifah, Amanah untuk menjaga dan mengelola bumi.
d. Potensi Beriman, Kecenderungan beribadah kepada Allah.
e. Kreativitas, Kemampuan mencipta dan berinovasi.
f. Adaptasi, Bisa bertahan di lingkungan yang beragam.
g. Empati Sosial, Untuk hidup bermasyarakat dan saling membantu.
2. Allah SWT menurunkan dienul Islam kepada manusia melalui para nabi dan rasul, mulai dari Nabi Adam AS hingga Nabi Muhammad SAW, dengan misi utama yang sama, yaitu mengajak manusia bertauhid, menyembah Allah semata, serta menegakkan nilai-nilai kebenaran, keadilan, dan kebaikan untuk keselamatan dunia dan akhirat. Namun, ada perbedaan penting dalam misi yang diemban oleh Nabi Muhammad SAW. Sebagai nabi terakhir (Khatamun Nabiyyin), Nabi Muhammad SAW membawa risalah Islam yang berlaku universal, bukan terbatas pada satu kaum atau bangsa seperti nabi-nabi sebelumnya, melainkan ditujukan untuk seluruh umat manusia sepanjang masa. Selain itu, beliau menerima Al-Qur’an sebagai kitab penyempurna yang membenarkan dan melengkapi kitab-kitab sebelumnya, sekaligus dijaga keasliannya hingga akhir zaman sebagai petunjuk hidup yang sempurna dan lengkap. Dengan demikian, meskipun semua nabi membawa misi yang serupa, misi Nabi Muhammad SAW memiliki sifat yang lebih universal dan berlaku abadi sebagai penutup seluruh risalah kenabian.
3. Rukun iman yang ke-6 adalah iman kepada qodho dan qodar/taqdir.
a. Qodho merupakan ketetapan Allah yang telah ditentukan sejak azali atau sejak awal sebelum sesuatu terjadi dan mencakup segala hal yang akan dialami oleh makhluk-Nya, seperti rezeki, jodoh, serta kematian. Sementara itu, Qodhar adalah perwujudan atau pelaksanaan dari ketetapan Allah tersebut dalam kenyataan, yaitu bagaimana segala yang telah ditetapkan terjadi dalam kehidupan nyata sesuai dengan kehendak-Nya. Dengan kata lain, Qodho adalah ketetapan awal dari Allah, sedangkan Qodhar adalah realisasi dari ketetapan itu dalam kehidupan manusia dan alam. Meyakini Qodho dan Qodhar berarti memahami bahwa segala yang terjadi merupakan bagian dari rencana Allah yang sudah ditetapkan untuk kebaikan dan hikmah tertentu.
b. Dalam Islam, ada beberapa hal yang diyakini bisa mengubah takdir manusia dengan izin Allah SWT. Salah satunya adalah doa, yang memiliki kekuatan besar untuk mengubah keadaan, karena Allah mengabulkan permohonan hamba-Nya yang tulus. Selain itu, usaha dan kerja keras juga penting, karena manusia diperintahkan untuk berikhtiar dalam mencapai tujuan hidupnya. Sedekah dan berbuat baik merupakan cara lain yang bisa mendatangkan keberkahan dan menolak bala, sehingga mengarahkan hidup ke arah yang lebih baik. Tawakal atau berserah diri kepada Allah setelah berusaha juga membuka pintu pertolongan, sebab Allah akan membantu hamba-Nya yang bertawakal. Terakhir, taubat dan istighfar bisa memperbaiki takdir buruk karena Allah Maha Pengampun dan memberikan ampunan kepada hamba yang bertaubat dengan tulus. Dengan doa, ikhtiar, sedekah, tawakal, dan taubat, seorang muslim berusaha memperbaiki takdirnya dengan tetap mengandalkan rahmat Allah.
c. Taqdir Mubrom dan Taqdir Mu'allaq adalah dua jenis takdir dalam Islam yang memiliki perbedaan dalam sifat ketetapannya.
Taqdir Mubrom
Taqdir Mubrom adalah takdir yang pasti dan tidak bisa diubah oleh apapun. Takdir ini merupakan ketetapan Allah yang mutlak dan hanya Allah SWT yang mengetahui. Contoh Taqdir Mubrom antara lain:
Kematian : Setiap makhluk hidup akan mengalami kematian di waktu yang telah ditetapkan Allah.
Jenis Kelamin Saat Lahir : Seorang anak lahir sebagai laki-laki atau perempuan adalah ketetapan yang tidak bisa diubah.
Hari Kiamat : Waktu terjadinya hari kiamat adalah ketetapan Allah yang pasti dan tidak bisa dihindari.
Taqdir Mu'allaq
Taqdir Mu'allaq adalah takdir yang bergantung pada usaha atau ikhtiar manusia dan bisa berubah dengan izin Allah. Takdir ini bisa diubah melalui doa, amal baik, dan usaha manusia. Contoh Taqdir Mu'allaq antara lain:
Rezeki : Dengan usaha yang sungguh-sungguh, rezeki seseorang bisa bertambah.
Kesembuhan : Orang sakit bisa sembuh dengan berdoa dan berusaha mencari pengobatan.
Nasib atau Keberhasilan : Seseorang bisa mengubah nasibnya menjadi lebih baik dengan doa, usaha, dan amal baik.
4. Agar Al-Qur'an dapat menjadi pedoman keselamatan di dunia dan syafaat di akhirat, beberapa langkah perlu dilakukan untuk mengamalkannya dengan benar sesuai petunjuk Rasulullah SAW. Pertama, kita harus memahami dan mengimani Al-Qur'an sebagai wahyu Allah SWT, dengan keyakinan bahwa isi dan ajarannya adalah kebenaran. Kedua, mempelajari Al-Qur'an secara mendalam, termasuk tafsirnya, sangat penting agar setiap ayat dan maknanya dapat dipahami dalam konteks yang tepat. Ketiga, mengamalkan ajaran Al-Qur'an dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam aspek ibadah, muamalah, maupun akhlak, sesuai dengan contoh yang ditunjukkan oleh Nabi Muhammad SAW. Keempat, menjadikan Al-Qur'an sebagai sumber rujukan dalam menghadapi berbagai masalah dan tantangan hidup, dengan berusaha mencocokkan setiap keputusan dan tindakan dengan prinsip-prinsip yang terkandung dalamnya. Terakhir, menyebarkan ajaran Al-Qur'an kepada orang lain melalui dakwah, serta mengajak masyarakat untuk hidup sesuai dengan petunjuk Al-Qur'an. Dengan langkah-langkah ini, Al-Qur'an tidak hanya akan membawa keselamatan di dunia, tetapi juga menjadi syafaat bagi kita di akhirat.
5. Empat madzhab fiqh Islam, yaitu Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Syafii, dan Imam Hambali, memiliki hubungan yang erat dengan konsep ijtihad, yaitu proses intelektual untuk menentukan hukum syariat berdasarkan Al-Qur'an dan Assunnah. Masing-masing madzhab memiliki metodologi ijtihad yang unik: Imam Hanafi mengedepankan akal dan rasio serta fleksibilitas dalam menerapkan hukum; Imam Maliki menekankan praktik masyarakat Madinah sebagai sumber hukum; Imam Syafii mengembangkan sistem yang terstruktur dengan memprioritaskan Al-Qur'an dan Sunnah; sedangkan Imam Hambali lebih ketat dalam menerima dalil, menekankan pada teks-teks yang jelas. Keempat madzhab ini tetap bertahan dan menjadi rujukan Ahlus Sunnah wal Jamaah sampai sekarang karena kedalaman ilmu para imam, kesesuaian hukum dengan realitas sosial, sistematisnya metodologi mereka, pengakuan oleh ulama dan masyarakat, serta tradisi pewarisan ilmu yang kuat. Dengan demikian, mereka telah
membentuk fondasi yang kokoh dalam pengamalan ajaran Islam dan tetap relevan dalam menghadapi tantangan zaman.