• Tidak ada hasil yang ditemukan

Variabel brand personality mempunyai pengaruh tidak langsung secara signifikan terhadap variabel purchase intention melalui brand trust produk running shoes merek Nike dengan nilai sebesar 0.294

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Variabel brand personality mempunyai pengaruh tidak langsung secara signifikan terhadap variabel purchase intention melalui brand trust produk running shoes merek Nike dengan nilai sebesar 0.294"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

1

Pengaruh Brand Personality terhadap Purchase Intention dengan Brand Trust sebagai Variabel Mediasi (Studi pada Produk Running Shoes Merek Nike)

Oleh:

Ahmad Rizal Fadhillah

Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Brawijaya Jl. MT Haryono 165 Malang

[email protected]

Dosen Pembimbing:

Nadiyah Hirfiyana Rosita, SE., MM.

Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya Malang Jl. MT Haryono 165 Malang

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh brand personality dan brand trust terhadap purchase intention konsumen produk running shoes merek Nike. Penelitian ini menggunakan sampel sebanyak 210 responden yang diambil dari populasi mahasiswa S1 Universitas Brawijaya. Teknik analisis data menggunakan analisis jalur (path analysis). Kesimpulan dari hasil penelitian ini adalah variabel brand personality mempunyai pengaruh langsung secara signifikan terhadap variabel brand trust pada produk running shoes merek Nike dengan nilai sebesar 0.722. Variabel brand personality mempunyai pengaruh langsung secara signifikan terhadap variabel purchase intention pada produk running shoes merek Nike dengan nilai sebesar 0.372. Variabel brand trust mempunyai pengaruh langsung secara signifikan terhadap variabel purchase intention produk running shoes merek Nike sebesar 0.407. Variabel brand personality mempunyai pengaruh tidak langsung secara signifikan terhadap variabel purchase intention melalui brand trust produk running shoes merek Nike dengan nilai sebesar 0.294.

Kata kunci: Brand Personality, Brand Trust, Purchase Intention.

PENDAHULUAN

Olahraga yang pada mulanya hanya berfungsi sebagai kegiatan untuk menjaga kesehatan tubuh, perlahan bertransformasi menjadi sebuah gaya hidup modern (Timothy, 2015). Kebutuhan pun semakin meningkat untuk membeli sepatu lari dari berbagai merek, pakaian olahraga dengan teknologi terkini, hingga aksesoris-aksesoris penunjang kegiatan lari lainnya seperti aplikasi

pada smartphone, headset, armband atau headband hingga smartwatch (Timothy, 2015).

Layaknya seorang manusia yang membutuhkan nama sebagai bagian dari identitas, sebuah produk juga membutuhkan merek untuk membedakannya dengan produk lain yang sejenis. Terdapat beberapa merek olahraga terkenal di dunia yang terus bersaing merebut konsumen. Tercatat merek seperti Puma, Adidas, Reebok, Nike, Fila,

(2)

2 Converse, Asics, Umbro, K Swiss, dan New Balance masih tetap bersaing di dunia (Liam, 2015). Dari sepuluh merek tersebut terdapat dua merek yang paling menonjol yaitu Nike dan Adidas.

Nike adalah pemimpin pasar di industri sepatu olahraga global dengan pendapatan lebih dari $14.5 milyar pada tahun 2013 (Statista, 2013). Di Indonesia, industri sepatu olahraga juga dikuasai oleh Nike dan Adidas (Top Brand Award, 2014).

Menurut hasil survei Top Brand Award, pada tahun 2012 Adidas menduduki puncak market share dalam kategori sepatu olahraga disusul oleh Converse dan Nike.

Tahun 2013, Nike berhasil menggeser Adidas dari posisi puncak namun keduanya memiliki persentase yang sama yaitu 22.9%.

Kebutuhan dan keinginan konsumen akan barang dan jasa berkembang dari masa ke masa dan mempengaruhi perilaku mereka dalam pembelian produk (Ferdy dkk., 2015). Bouhlel et al. (2011) menjelaskan bahwa kepercayaan konsumen terhadap suatu merek dapat mempengaruhi niat untuk membeli. Satu hal tidak boleh dilupakan perusahaan adalah kenyataan bahwa kepercayaan bersumber dari harapan konsumen akan terpenuhinya janji merek.

Ketika harapan mereka tidak terpenuhi maka kepercayaan akan berkurang bahkan hilang. Ketika kepercayaan konsumen hilang maka akan sulit bagi perusahaan untuk menumbuhkan kembali (E. Desi &

Sri Rahayu, 2011).

Perusahaan kemudian mencoba untuk mengembangkan hubungan yang dapat bertahan dari waktu ke waktu dengan pelanggannya. Untuk melakukan hal tersebut, merek dapat

digunakan sebagai pendukung hubungan antara perusahaan dan pelanggan (Louis & Lombart, 2010).

Merek dapat dianalogikan sebagai sebuah gunung es. Gunung es digambarkan sebagai 15 persen bagian yang tampak di permukaan air dan 85 persen sisanya tak terlihat di bawah air. Bagian yang terlihat itu adalah logo dan nama sebuah merek, sedangkan bagian yang tak terlihat adalah nilai, kecerdasan dan budaya (Chernatony, 2006).

Delgado et al. (2003) dalam Johan (2010) menjelaskan bahwa kepercayaan berevolusi dari hasil pengalaman masa lalu dan interaksi sebelumnya. Sebagai atribut pengalaman, kepercayaan merek dipengaruhi oleh evaluasi konsumen terhadap setiap kontak langsung (misalnya percobaan, penggunaan) dan tidak langsung (misalnya iklan, dari mulut ke mulut) dengan merek (Delgado et al., 2003). Lebih lanjut, Bouhlel et al. (2009) juga menjelaskan bahwa kepercayaan terhadap suatu merek memiliki pengaruh positif terhadap minat beli di masa yang akan datang.

Kepercayaan dalam hubungan antara konsumen dan merek seperti

“variabel psikologis atau lebih seperti komitmen atau asumsi bahwa merek, sebagai entitas yang dipersonifikasikan, membuat komitmen untuk melakukan tindakan sesuai dengan apa yang diharapkannya, dan untuk mempertahankan tujuan dari hubungan ini setiap waktu”

(Lacoeuilhe, 2000 dalam Bouhlel et al., 2009). Merek sebagai sesuatu yang dipersonifikasikan juga dikenal sebagai brand personality.

Pengiklan sebenarnya sadar bahwa pada beberapa waktu tertentu brand personality mempunyai

(3)

3 peranan yang penting dalam membangun minat beli konsumen (Plummer, 1985 dalam Freling, 2010). Nike sebagai sebuah merek tentunya juga memiliki kepribadian yang melekat padanya. Namun nyatanya, menurut Cock (2012) brand personality dapat dinyatakan dalam dua bentuk; bentuk pertama adalah kepribadian yang merupakan pernyataan dari perusahaan, dan yang kedua adalah kepribadian pada merek yang dirasakan oleh kosumen.

Rangkuti (2009) dalam Siti Zuhroh (2014) menyatakan bahwa ketika merek telah menjadi cerminan kepribadian konsumen, fungsi merek bukan sekedar merupakan gambaran tentang produk. Merek merupakan wakil pribadi penggunanya. Pada saat ini, nilai suatu merek telah berubah dari instrumental menjadi simbolik yaitu merek dapat mengekspresikan pemakainya.

Menanggapi fenomena yang menjadi latar belakang pada penelitian ini, dinamika yang sedang terjadi pada konsumen serta hubungannya dengan teori yang telah dipaparkan, maka dirasa perlu untuk melakukan penelitian lebih lanjut dengan judul “Pengaruh Brand Personality Terhadap Purchase Intention Dengan Brand Trust Sebagai Variabel Mediasi (Studi Pada Produk Running Shoes Merek Nike)”. Permasalahan yang dapat diangkat dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Apakah terdapat pengaruh dari variabel brand personality terhadap variabel brand trust pada produk running shoes merek Nike?

2. Apakah terdapat pengaruh dari variabel brand trust terhadap variabel purchase intention pada produk running shoes merek Nike?

3. Apakah terdapat pengaruh dari variabel brand personality terhadap variabel purchase intention pada produk running shoes merek Nike?

4. Apakah terdapat pengaruh dari variabel brand personality melalui brand trust terhadap variabel purchase intention pada produk running shoes merek Nike?

TINJAUAN PUSTAKA

Merek (Brand)

American Marketing

Association (AMA) dalam Kotler &

Keller (2009:258) mendefinisikan merek sebagai “nama, istilah, lambang, atau desain, atau kombinasinya, yang dimaksudkan untuk mengidentifikasi barang atau jasa dari salah satu penjual atau

kelompok penjual dan

mendiferensiasikan mereka dari pesaing”.

Sumarwan (2004) dalam Etta

& Sopiah (2013) mendefinisikan merek sebagai simbol dan indikator kualitas dari sebuah produk. Menurut Stanton & Lamarto (2001) dalam Etta & Sopiah (2013), “merek adalah nama, istilah, simbol atau desain khusus, atau beberapa kombinasi unsur-unsur tersebut yang dirancang untuk mengidentifikasi barang atau jasa yang ditawarkan oleh penjual”.

Sesuai dengan beberapa pengertian merek tersebut, dapat disimpulkan bahwa merek merupakan kombinasi beberapa elemen seperti nama dan lambang yang kemudian berguna bagi konsumen dalam membedakan suatu produk dengan produk lain yang sejenis. Konsumen dapat dengan mudah menemukan produk yang mereka inginkan dengan identifikasi melalui merek.

(4)

4 Kepribadian Merek (Brand Personality)

Kepribadian merek menurut Aaker (1997) didefinisikan sebagai serangkaian karakteristik manusiawi yang diasosiasikan dengan merek.

Misalnya, karakteristik seperti jenis kelamin, kelas sosial, dan berbagai sifat kepribadian manusia yang melekat.

Alasan utama mengapa pelanggan membayangkan setiap merek memiliki kepribadian adalah sebagai bagian dari proses membangun dan menunjukkan konsep diri mereka, baik itu konsep aktual diri mereka saat ini, maupun konsep ideal untuk diri mereka nanti (Schiffman & Kanuk, 2000:113).

Contoh untuk menggambarkan konsep ini, Pepsi misalnya, dapat digambarkan dengan seorang pemuda modis, enerjik, dan modern;

sedangkan Coca-Cola dapat dipersonifikasikan dengan pria lembut dan konservatif (Wang et al., 2009).

Kepribadian merek merupakan salah satu faktor penting yang meskipun tidak mempengaruhi kinerja produk secara langsung, namun sangat mempengaruhi proses pembelian bagi konsumen (Keller, 1998:59). Berdasarkan beberapa penjelasan tersebut, dapat disimpulkan bahwa brand personality merupakan sekumpulan kepribadian manusia yang dikaitkan dengan merek.

Aaker (1997) mengembangkan 5 dimensi brand personality yang terdiri dari Sincerity, Excitement, Competence, Sophistication dan Ruggedness.

Kepercayaan Merek (Brand Trust) Hubungan antar pribadi sering digunakan sebagai metafora ketika

mendefinisikan hubungan antara merek dan konsumen (Fournier, 1998; Hess & Story, 2005). Dalam hal ini, diungkapkan pentingnya kepercayaan merek (brand trust) baik dalam hubungan interpersonal ataupun dalam pembentukan hubungan jangka panjang yang sehat antara merek dan konsumen (Aydin et al., 2014).

Sebuah teori sosiologi tentang kepercayaan yang diusulkan oleh Luhmann (1979) berpendapat bahwa ada tiga mode yang menegaskan harapan tentang masa depan berdasarkan pengalaman pribadi dan sistem makna budaya, yaitu familiarity, confidence, dan trust.

Pada tingkat risiko tertinggi, trust atau kepercayaan yang melibatkan penilaian emosional daripada kognitif merupakan aspek yang dibutuhkan untuk pembelian (Elliot

& Yannopoulou, 2007).

Menurut Delgado et al. (2003), brand trust adalah perasaan aman yang dimiliki konsumen akibat dari interaksinya dengan sebuah merek, yang berdasarkan persepsi bahwa merek tersebut dapat diandalkan dan bertanggung jawab atas kepentingan dan keselamatan konsumen. Selain itu, Delgado (2003) juga menjelaskan bahwa brand trust adalah harapan akan kehandalan dan intensi baik merek.

Chaudhuri & Holbrook (2001) mendefinisikan kepercayaan terhadap merek adalah kemauan dari rata-rata konsumen untuk bergantung pada kemampuan dari sebuah merek dalam melakukan segala fungsinya.

Sesuai dengan definisi diatas maka dapat disimpulkan bahwa brand trust adalah harapan konsumen terhadap segala janji merek akan kehandalan, kemampuan, dan tujuan merek yang dijanjikan oleh perusahaan kepada

(5)

5 konsumen. Assael (1998) mengemukakan bahwa dalam mengukur kepercayaan terhadap merek diperlukan penentuan atribut dan keuntungan dari sebuah merek.

Brand trust adalah variabel psikologis yang melibatkan tiga variabel yaitu credibility, integrity dan benevolence yang merupakan atribut konsumen dengan merek (Gurviez & Korchia, 2002). Fournier (1998) dalam Aydin et al. (2014) mengatakan bahwa hubungan antara merek dengan konsumen tidak ada bedanya dengan jenis hubungan lain, dan dapat mempengaruhi keputusan seorang konsumen untuk membeli atau tidak membeli produk dari merek tersebut. Oleh karena itu, ketika kita percaya pada seseorang, maka bukan tidak mungkin kita juga akan percaya pada produk atau merek yang direkomendasikan orang tersebut (Elliot & Yannopoulou, 2007).

Minat Beli (Purchase Intention) Pembelian adalah keputusan konsumen mengenai apa yang dibeli, apakah membeli atau tidak, kapan membeli, di mana membeli dan bagaimana cara pembayarannya (Ujang Sumarwan, 2003:310). Minat beli konsumen adalah tahap dimana konsumen membentuk pilihan mereka diantara beberapa merek yang tergabung dalam perangkat pilihan, kemudian pada akhirnya melakukan suatu pembelian pada suatu alternatif yang paling disukainya atau proses yang dilalui konsumen untuk membeli suatu barang atau jasa yang didasari oleh berbagai macam pertimbangan (Andriastika Sukmawati & Joko Suyono, 2005:26).

Menurut Kotler (2003), kebanyakan perilaku pembelian

konsumen seringkali diawali dan dipengaruhi oleh banyaknya rangsangan dari luar dirinya, baik berupa rangsangan pemasaran maupun rangsangan dari lingkungannya. Rangsangan tersebut kemudian diproses dalam diri sesuai dengan karakteristik pribadinya, sebelum akhirnya diambil keputusan pembelian.

Karakteristik pribadi konsumen yang dipergunakan untuk memproses rangsangan tersebut sangat kompleks, dan salah satunya adalah motivasi konsumen untuk membeli.

Sehingga, fenomena yang sekarang terjadi, para pemasar ingin mempengaruhi minat beli dari konsumen dan setelah itu akan berdampak pada pembelian berulang ataupun dampak lain karena minat beli tersebut, ataupun pembelian hanya mungkin akan terjadi sekali ataupun tidak ada dampak yang lebih lanjut (Adrian & Jony, 2012).

Menurut Sutisna & Pawitra (2001) minat beli merupakan sesuatu yang berhubungan dengan rencana seorang konsumen untuk membeli produk tertentu serta berapa banyak unit produk yang dibutuhkan pada periode waktu tertentu. Sciffman &

Kanuk (2000) juga berpendapat bahwa minat beli adalah motivasi sebagai dorongan kekuatan dari dalam diri individu yang memaksa mereka melakukan tindakan.

Kesimpulannya, minat beli merupakan suatu motivasi atau dorongan dari dalam diri setiap individu untuk mencari serta mengevaluasi berbagai produk yang mereka butuhkan.

Proses ini dilakukan dengan mengidentifikasi dan mengevaluasi beberapa merek yang memenuhi kualifikasi seorang konsumen.

Menurut Augusty Ferdinand (2006),

(6)

6 minat beli dapat diidentifikasi melalui minat transaksional, minat referensial, minat preferensial, dan minat eksploratif.

METODOLOGI PENELITIAN

Jenis penelitian ini adalah penelitian eksplanatori. Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa program S1 Universitas Brawijaya. Sampel pada penelitian ini diambil dengan menggunakan purposive sampling dengan kriteria responden harus pernah memperoleh informasi terkait produk running shoes Nike dalam bentuk apapun.

Pada penelitian ini, kueisoner di desain untuk mengumpulkan data.

Penelitian ini menggunakan brand personality sebagai variabel bebas, purchase intention sebagai variabel terikat, dan brand trust sebagai variabel intervening.

Penelitian mengenai brand personality terdiri dari beberapa dimensi sebagai berikut:

Sincerity yang diwakili oleh indicator cheerful

Excitement yang terdiri dari trendy, spirited, young, imaginative, up-to-date, independent dan contemporary.

Ruggedness terdiri dari outdoorsy dan tough.

Indikator untuk brand trust adalah:

Credibility yang menjelaskan kemampuan suatu merek dalam memenuhi harapan konsumen.

Integrity yang menjelaskan kesetiaan seorang konsumen terhadap suatu merek.

Benevolence yang mencerminkan suatu merek yang selalu mempertimbangkan kebutuhan konsumennya.

Purchase intention terdiri dari:

 Minat transaksional, yaitu kecenderungan konsumen untuk memutuskan apakah akan menggunakan produk dari merek tertentu atau tidak.

 Minat referensial yang menjelaskan kecenderungan konsumen untuk mereferensikan produk kepada kerabat.

 Minat preferensial, menjelaskan preferensi utama seorang konsumen.

 Minat eksploratif, yaitu kecenderungan konsumen untuk menggali informasi terkait produk.

Item pada kuesioner ini diukur menggunakan skala Likert. Alat analisis yang digunakan pada penelitian ini adalah analisis jalur (path analysis) untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh langsung yang ditimbulkan oleh variabel bebas terhadap variabel terikat dan juga pengaruh tidak langsungnya melalui variabel intervening. Pengujian terhadap empat hipotesis pada penelitian ini akan dilakukan menggunakan uji t.

HASIL PENELITIAN

Pengaruh Langsung Brand Personality (X) Terhadap Brand Trust (Z)

Variabel

Standardized Coefficients

Beta

t hitung Sig t

X 0.722 15.047 0.000

Variabel terikat = Z R = 0.722 R Square = 0.521

Adjusted R Square = 0.519

(7)

7 Hasil analisis ini menyimpulkan bahwa brand personality memiliki pengaruh signifikan brand trust. Selain menggunakan perbandingan nilai signifikan dengan nilai α (0.05), hal ini dibuktikan melalui uji t. Uji t dilakukan dengan membandingkan nilai ttabel dengan thitung. Ttabel yang digunakan pada penelitian ini adalah sebesar 1.97149 (df= 210-3 = 207).

Hasil dari perhitungan thitung

untuk variabel brand personality dan brand trust yang nilainya adalah 15.047. Dari hasil tersebut diketahui bahwa thitung (15.047) lebih besar daripada ttabel (1.97149), maka H1

yang menduga bahwa brand personality berpengaruh langsung terhadap brand trust dapat diterima.

Hasil dari penelitian ini mendukung penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Louis &

Lombart (2010). Pada penelitian terdahulu ini ditemukan bahwa brand personality atau kepribadian merek memiliki pengaruh dalam membentuk brand trust (kepercayaan merek).

Pengaruh Langsung Brand Trust (Z) Terhadap Purchase Intention (Y)

Variabel

Standardized Coefficients

Beta

t hitung Sig t

X 0.372 5.354 0.000

Z 0.407 5.866 0.000

Variabel terikat = Z R = 0.723

R Square = 0.522

Adjusted R Square = 0.518

Hasil analisis ini menyimpulkan bahwa brand trust memiliki pengaruh signifikan

terhadap purchase intention. Hal ini dibuktikan dengan hasil dari perhitungan thitung untuk variabel brand trust dan purchase intention yang nilainya adalah 5.866. Dari hasil tersebut diketahui bahwa thitung

(5.866) lebih besar daripada ttabel

(1.97149) sehingga dapat dikatakan bahwa terdapat pengaruh antara brand trust (Z) terhadap purchase intention (Y). Dari penjelasan tersebut maka dapat disimpulkan bahwa H2 yang menduga bahwa brand trust berpengaruh langsung terhadap purchase intention dapat diterima. Artinya, kepercayaan konsumen terhadap sebuah merek dapat membentuk keinginan atau minatnya untuk menggunakan produk dari merek tersebut.

Hasil dari penelitian ini mendukung penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Desi & Sri Rahayu (2011). Pada penelitian terdahulu ini ditemukan bahwa kepercayaan merek memiliki pengaruh dalam memunculkan minat beli konsumen.

Pengaruh Langsung Brand Personality (X) terhadap Purchase Intention (Y)

Hasil analisis ini menyimpulkan bahwa brand personality memiliki pengaruh langsung yang signifikan terhadap purchase intention. Hal ini dibuktikan dengan hasil dari perhitungan thitung untuk variabel brand personality dan purchase intention yang nilainya adalah 5.354.

Dari hasil tersebut diketahui bahwa thitung (5.354) lebih besar daripada

ttabel (1.97149) sehingga dapat

dikatakan bahwa terdapat pengaruh antara brand personality (X) terhadap purchase intention (Y).

Dari penjelasan tersebut maka dapat

(8)

8 disimpulkan bahwa H3 yang menduga bahwa brand personality berpengaruh langsung terhadap purchase intention dapat diterima.

Hasil dari penelitian ini menunjang hasil penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Wang & Yang (2009). Pada penelitian tersebut brand personality menjadi salah satu variabel bebas yang mempengaruhi minat pembelian (purchase intention) konsumen.

Pengaruh Tidak Langsung Brand Personality (X) terhadap Purchase Intention (Y) Melalui Brand Trust (Z)

Menguji hipotesis pengaruh tidak langsung brand personality terhadap purchase intention melalui brand trust dapat pula dikatakan untuk menguji pengaruh mediasi antara variabel intervening dengan variabel dependen. Sebelum melakukan pengujian hipotesis menggunakan uji t, terlebih dahulu akan dilakukan pengujian menggunakan rumus Sobel.

Perhitungan dengan rumus Sobel ini akan menghasilkan nilai Standard Error untuk pengaruh tidak langsung yang nantinya akan digunakan untuk menghitung nilai thitung. Rumus Sobel bertujuan untuk menguji apakah mediator membawa pengaruh dari variabel independen terhadap variabel dependen (Preacher & Hayes, 2004).

Hasil perhitungan memperoleh nilai thitung sebesar 8.806. Pengujian hipotesis dilakukan dengan Uji t yang dilakukan dengan membandingkan nilai ttabel dengan thitung. Ttabel yang digunakan pada penelitian ini adalah sebesar 1.97149 (df= 210-3 = 207). Jika thitung lebih besar daripada ttabel maka hipotesis diterima.

Hasil dari perhitungan thitung

untuk variabel brand personality terhadap purchase intention melalui brand trust nilainya adalah 8.806.

Dari hasil tersebut diketahui bahwa thitung (8.806) lebih besar daripada ttabel (1.97149), maka H4 yang menduga bahwa brand personality berpengaruh tidak langsung terhadap purchase intention melalui brand trust dapat diterima.

Hasil analisis pada penelitian ini menyimpulkan bahwa brand personality memiliki pengaruh tidak langsung yang signifikan terhadap purchase intention melalui brand trust. Hasil dari penelitian ini sejalan dengan apa yang dinyatakan oleh Bouhlel (2009) bahwa dalam menentukan merek mana yang akan digunakan, konsumen akan melakukan proses evaluasi terlebih dahulu salah satunya melalui kepribadian yang melekat pada merek tersebut. Kepercayaan konsumen akan lebih tinggi ketika mereka merasa kepribadian suatu merek sesuai dengan apa yang mereka harapkan, sehingga pada akhirnya hal ini akan menimbulkan minat beli.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan yang dapat diambil dari hasil penelitian ini adalah brand personality mempunyai pengaruh langsung secara signifikan terhadap brand trust, brand trust mempunyai pengaruh langsung secara signifikan terhadap purchase intention, brand personality mempunyai pengaruh langsung secara signifikan terhadap purchase intention, dan brand personality mempunyai pengaruh tidak langsung secara signifikan terhadap purchase intention melalui brand trust.

(9)

9 Berkaitan dengan penelitian yang telah dilakukan, peneliti dapat memberikan saran seperti Nike sebaiknya tetap mempertahankan karakter kepribadian merek yang telah melekat dibenak konsumen.

Promosi produk dan pemilihan endorser merupakan beberapa contoh cara yang dapat dilakukan Nike untuk menyampaikan secara tidak langsung karakternya kepada konsumen.

Penting bagi Nike untuk menunjukkan kepeduliannya kepada konsumen. Kepedulian ini dapat diwujudkan dengan memberikan layanan seperti call center ataupun wadah dimana konsumen dan calon konsumen dapat menyampaikan keluhan serta pertanyaan terkait produk Nike. Tentunya hal ini akan sulit dilakukan mengingat Nike merupakan perusahaan yang beroperasi di berbagai belahan dunia.

Untuk mengatasi hal tersebut, sebaiknya Nike menyediakan kantor perwakilan di negara-negara yang memang menjadi target pasar mereka.

Nike perlu mengantisipasi agar konsumen tidak kesulitan menemukan informasi terkait produk mereka. Nike memiliki varian yang cukup banyak untuk produk running shoes-nya, sehingga tanpa informasi yang jelas konsumen akan kebingungan. Website resmi milik Nike dapat dijadikan sarana yang tepat untuk memberikan informasi seakurat mungkin agar tidak menyulitkan konsumen.

Disarankan bagi penelitian selanjutnya untuk menambah variabel lain yang mungkin dapat mempengaruhi purchase intention selain brand personality dan brand trust, seperti brand commitment,

brand attachment, brand image dan brand association.

DAFTAR PUSTAKA

Aaker, David A. (1991). Managing Brand Equity: Capitalizing on the Value of a Brand Name. The Free Press, New York.

Aaker, Jennifer L. (1997).

Dimensions of Brand Personality.

Journal of Marketing Research (JMR). Vol. 34, pp 347-356.

Adrian Hartanto & Jony Oktavian Haryanto. (2012). Pengaruh Display, Kepercayaan Merek, Keakraban Merek, Persepsi Harga Terhadap Intensi Pembelian dan Pembelian Tak Terencana. Pekan Ilmiah Dosen FEB – Universitas Kristen Satya Wacana, pp: 261-282.

Andriastika Sukmawati & Joko Suyono. (2005). Analisis pengaruh karakteristik bintang idola iklan (celebrity endorser) terhadap minat beli konsumen sebuah merek multivitamin.

Jurnal fokus manajerial. Vol. 3, No. 1, hal 21-33.

Assael, H. (1998). Consumer Behavior and Marketing Action 6th edition. International Thomson Publishing, New York.

Augusty Ferdinand. (2006). Metode Penelitian Manajemen, Edisi Kedua. Badan Penerbit UNDIP, Semarang.

Aydin, G., Aybeniz Akdeniz AR, Taşkin, C. (2014). The Role Of Brand Trust on Parents’ Purchase Intentions of Baby-Care Products. Doğuş Üniversitesi Dergisi. 15 (2) pp. 165-180.

Bouhlel, O. Mzoughi, N. Hadiji, D.

& Slimane, Ichrak B. (2009).

Brand Personality and Mobile Marketing: An Empirical

(10)

10 Investigation. World Academy of Science, Engineering and Technology. Vol. 3, pp. 587-594.

Bouhlel, O. Mzoughi, N. Hadiji, D.

& Slimane, Ichrak B. (2011).

Brand Personality’s Influence on the Purchase Intention: A Mobile Marketing Case. International Journal of Business and Management. Vol. 6, No. 9, pp.

210-227.

Chaudhuri, Arjun & Holbrook, Morris B. (2001). The Chain of Effects From Brand Trust and Brand Affect to Brand Performance: The Role of Brand Loyalty. Journal of Marketing.

65,2, pp. 81-93.

Chernatony, Leslie de. (2006). From Brand Vision to Brand Evaluation, 2nd Edtion. Elsevier Ltd, Burlington.

Cochrane, Lauren & Ferrier, Morwenna. (2014). Nike v Adidas - are you a swoosh addict or a stripe aficionado?.

http://www.theguardian.com/fash ion/fashion-

blog/2014/aug/22/nike-v-adidas- are-you-a-swoosh-addict-or-a- stripe-aficionado. (Diakses pada tanggal 19 April 2015).

Cock, Anouk. (2012). A Cross- Cultural Investigation of the Effect of Culture on the Relationship between Brand Personality and Brand Trust.

Universiteit Van Amsterdam.

Delgado-Ballester, E., Munuera- Alemán, J.L., Yagüe-Guillén, M.J. (2003). Development and Validation of a Brand Trust Scale. International Journal of Market Research. Vol.45, No. 1, pp. 35-53.

E. Desi Arista & Sri Rahayu Tri Astuti. (2011). Analisis Pengaruh Iklan,Kepercayaan Merek, dan

Citra Merek Terhadap Minat Beli Konsumen. Aset. Vol. 13, No. 1, pp: 37-45.

Elliot, Richard & Yannopoulou, Natalia. (2007). The Nature of Trust in Brands: A Psychosocial Model. European Journal of Marketing. Vol. 41, No. 9/10, pp.

988-998.

Etta Mamang Sangadji & Sopiah.

(2013). Perilaku Konsumen, Pendekatan Praktis disertai:

Himpunan Jurnal Penelitian.

Penerbit Andi, Yogyakarta.

Ferdy Fahrian, Leonardo B. Hasiolan

& Andi T. Haryono. (2015).

Pengaruh Citra Merek, Lokasi, Kepercayaan dan Kualitas Pelayanan Terhadap Minat Membeli BBM di SPBU GASINDO MEKAR PUTRA Semarang. Journal of Management Universitas Pandanaran Semarang. Vol. 1, No. 1.

Freling, Traci H., Crosno, Jody L., &

Henard, David H. (2010). Brand

Personality Appeal:

Conceptualization And Empirical Validation. Journal of the Academy of Marketing Science.

Vol. 39, pp. 392-406.

Gurviez, Patricia & Korchia, Michaël. (2002). Test of a Consumer-Brand Relationship Model Including Trust and Three Consequences. 30th International Research Seminar in Marketing.

France.

Johan Albantani. (2010). Brand Trust (Kepercayaan Merek).

http://brandsite.weebly.com/bran d-trust.html. (Diakses pada tanggal 7 April 2015).

Keller, Kevin L. (1998). Strategic Brand Management: Building, Measuring, and Managing Brand

(11)

11 Equity. Prentice Hall, New Jersey.

Keller, Kevin L. (2008). Strategic Brand Management: Building, Measuring and Managing Brand Equity 3th edition. Prentice Hall, New Jersey.

Kotler, Philip., Keller, Kevin L., Ang, Swe Hoon. Leong, Siew Meng. Tan, Chintiong. (2009).

Marketing Management an Asian Perspective (fifth edition).

Prentice Hall, South Asia.

Kotler, Phillip & Keller, Kevin L.

(2009). Manajemen Pemasaran, edisi 13, Jilid 1. Erlangga.

Jakarta.

Kotler, Philip. (2003). Manajemen Pemasaran. PT Indeks, Jakarta.

Liam, Gerry. (2014). 10 Merek Olahraga Terbaik di Dunia.

http://sport.10terbaik.com/2015/0 3/10-merek-olahraga-terbaik-di- dunia.html. (Diakses pada tanggal 7 April 2015).

Louis, D. & Lombart, C. (2010).

Impact of brand personality on three major relational consequences (trust, attachment, and commitment to the brand).

Journal of Product & Brand Management. Vol. 19, Iss: 2, pp.

114-130.

Schiffman, Leon & Leslie L. Kanuk.

(2000). Consumer Behavior.

Prentice Hall, New Jersey.

Sekaran, Uma. (2006). Metodologi Penelitian Untuk Bisnis Edisi 4 Buku 1. Salemba Empat, Jakarta.

Sekaran, Uma. (2007). Metodologi Penelitian Untuk Bisnis Edisi 4 Buku 2. Salemba Empat, Jakarta.

Siti Zuhroh. (2014). Brand Personality Congruity (BPC) dan Pengaruhnya terhadap Loyalitas Merek yang Dimediasi oleh Nilai Pelanggan dan Kepercayaan Merek (Studi pada Smartphone

Merek BlackBerry). Disertasi Universitas Brawijaya.

Statista. (2013). Footwear Segment Revenue of Nike, Adidas &

Puma 2013.

http://www.statista.com/statistics/

278834/revenue-nike-adidas- puma-footwear-segment/.

(Diakses pada tanggal 7 April 2015).

Sugiyono. (2009). Metode Penelitian Bisnis. Alfabeta, Bandung.

Sugiyono. (2012). Metode Penelitian kuantitatif kualitatif dan R&D.

Alfabeta, Bandung.

Sugiyono. (2014). Metode Penelitian kuantitatif kualitatif dan R&D.

Alfabeta, Bandung.

Sutisna & Pawitra. (2001). Perilaku Konsumen dan Komunikasi Pemasaran. PT. Remaja Rosdakarya, Bandung.

Timothy Secawardaya. (2015). Lebih Dari Sekedar Sehat.

http://markaround.net/2015/03/31 /lebih-dari-sekedar-sehat/.

(Diakses pada tanggal 7 April 2015).

Top Brand Award. (2012). Top

Brand Index.

http://www.topbrand- award.com/top-brand- survey/survey-

result/top_brand_for_teens_index _2012. (Diakses pada tanggal 7 April 2015).

Top Brand Award. (2013). Top

Brand Index.

http://www.topbrand- award.com/top-brand- survey/survey-

result/top_brand_for_teens_index _2013. (Diakses pada tanggal 7 April 2015).

Top Brand Award. (2014). Top

Brand Index.

http://www.topbrand- award.com/top-brand-

(12)

12 survey/survey-

result/top_brand_for_teens_index _2014. (Diakses pada tanggal 7 April 2015).

Ujang Sumarwan. (2003). Perilaku Konsumen: Teori dan

Penerapannya Dalam

Pemasaran. Ghalia Indonesia, Bogor.

Wang, Xuehua & Yang, Zhilin.

(2011). The Impact of Brand Credibility and Brand Personality on Purchase Intention: An Empirical Study In China.

International Marketing:

Emerging Markets Advances in International Marketing. Vol. 21, pp. 137-153.

Wang, Xuehua, Yang, Zhilin and Liu, Ning Rong. (2009). The Impacts of Brand Personality and Congruity on Purchase Intention:

Evidence From the Chinese Mainland's Automobile Market.

Journal of Global Marketing.

Vol. 22:3, pp. 1990-215.

Referensi

Dokumen terkait

Sehingga dapat disimpulkan bahwa H3 diterima .Variabel Brand awarness secara individu mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variabel Keputusan pembelian..