• Tidak ada hasil yang ditemukan

View of (Re) imagining the Problem of Racism: An Evangelical Response to Racism

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "View of (Re) imagining the Problem of Racism: An Evangelical Response to Racism"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

VERITAS: JURNAL TEOLOGI DAN PELAYANAN21, no. 2 (December 2022): 283–298 pISSN: 1411-7649; eISSN: 2684-9194

DOI: https://doi.org/10.36421/veritas.v21i2.600

(Re)imagining the Problem of Racism:

An Evangelical Response to Racism

Hendra Winarjo

Gereja Kristen Kalam Kudus BCS, Surabaya, Indonesia [email protected]

Abstract: This article aims to re-imagine and offer an evange- lical response to the problem of racism that is not dichoto- mous, but holistic, where racism is understood both as an individual and structural sin, leading to a balance between racial reconciliation and racial justice that needs to be con- sistently practiced. This research indicates that evangelicals generally do not yet have a holistic imagination to understand racism. Hence efforts to fight this persisting problem are still one-sidedly inclined toward racial reconciliation. For this purpose, this article begins by analyzing the common yet problematic understanding and response by some evangelicals who emphasize racism as only an individual sin and racial reconciliation as a solution. The next step is to describe the importance of imagination, namely the capacity to conceptual- ize the problem of racism in its entirety by involving sensitivity to racist situations, interpretation of Scripture with virtues, and introspection of our position toward racism—all of which are used to understand the dual nature of racism and response against it. In the end, as I demonstrate that racism is both an individual and structural sin, evangelical churches thus need to strike a balance between racial reconciliation and racial justice if they want to handle the problem of racism well.

Research Highlights:

• This article attempts to show that a truncated view of sin, often emphasized only as an individual but not structural, leads to an imbalance among evangelicals in handling racism.

• The solution offered is to see once more how the faculty of imagination is necessary to perceive the complexity within any racist situation; hence a more balanced approach to fighting racism could emerge.

Article history

Submitted 31 March 2022 Revised 2 June 2022 Accepted 24 October 2022 Keywords

Racism; Evangelicals; Racial Reconciliation; Racial Justice; Individual Sin;

Structural Sin

© 2022 by author.

Licensee Veritas: Jurnal Teologi dan Pelayanan.

This article is licensed under the term of the Creative Commons Attribution- NonCommercial-ShareAlike 4.0 International

Scan this QR code with your mobile devices to read online

(2)

Mengimajinasikan Kembali Masalah Rasisme:

Sebuah Respons Injili terhadap Rasisme

Hendra Winarjo

Gereja Kristen Kalam Kudus BCS, Surabaya, Indonesia [email protected]

Abstrak: Tujuan artikel ini adalah untuk mengimajinasikan kembali dan menawarkan sebuah respons injili terhadap masalah rasisme yang tidak dikotomis namun holistis, di mana rasisme dipahami sebagai sebuah dosa yang bersifat individual maupun struktural, sehingga keseim- bangan antara rekonsiliasi dan keadilan rasial perlu untuk diterapkan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kaum injili secara umum belum memiliki imajinasi yang holistis tentang rasisme, sehingga upaya untuk melawannya masih berat sebelah hanya pada rekonsiliasi rasial.

Untuk itu, penelitian ini diawali dengan menganalisis persoalan pemahaman dan respons yang umum oleh beberapa kaum injili yang menekankan rasisme sebagai dosa individual dan re- konsiliasi rasial sebagai solusinya. Langkah selanjutnya mendeskripsikan pentingnya imajinasi, yaitu daya untuk mengkonseptualisasikan masalah rasisme secara utuh dengan melibatkan kepekaan pada situasi yang rasis, menafsirkan Kitab Suci dengan kebajikan, dan mengintro- speksi posisi kita terhadap masalah rasisme—yang digunakan untuk memahami natur ganda rasisme dan respons terhadapnya. Pada akhirnya, ketika rasisme diperlihatkan sebagai dosa individual maupun struktural, maka dibutuhkan gereja-gereja injili yang memberikan porsi seimbang antara rekonsiliasi rasial dan keadilan rasial agar dapat melawan rasisme dengan baik.

Kata-kata kunci: Rasisme; Kaum Injili; Rekonsiliasi Rasial; Keadilan Rasial; Dosa Individual;

Dosa Struktural

PENDAHULUAN

Rasisme adalah masalah etis yang saat ini se- dang menarik perhatian global. Sebagai contoh, isu rasisme yang saat ini terjadi di Amerika Serikat (AS). Rasisme di AS tidak dapat dilepaskan dari latar belakang sejarah bangsa tersebut yang dihiasi dengan berbagai kasus rasisme, seperti, perampasan tanah dari penduduk lokal yang kemudian dibunuh atau dipindahkan oleh kelompok kolonial Inggris dan perbudakan yang dilakukan oleh orang kulit putih kepada jutaan orang Afrika untuk membangun sistem perekonomian

yang tidak adil.1 Emerson dan Smith menye- but masyarakat AS adalah racialized society, di mana identitas rasial setiap individu atau kelompok memainkan peran penting dalam menentukkan perbedaan pengalaman hidup, kesempatan hidup, dan relasi sosial.2 Di AS, kelompok yang memiliki privilese dalam area-area seperti ekonomi, politik, keaman- an, dan pendidikan adalah orang yang kulit putih, ketimbang yang bukan kulit putih, seperti orang kulit hitam dan Asia.3 Privilese

1Jim Wallis, America’s Original Sin: Racism, White, Privilege, and the Bridge to a New America (Grand Rapids:

Brasoz, 2016), 11.

2Michael O. Emerson dan Christian Smith, Divided by Faith: Evangelical Religion and the Problem of Race in America (Oxford: Oxford University Press, 2001), 7.

3Emerson dan Smith, Divided by Faith, 170.

(3)

ini rupanya ditopang oleh sebuah ideologi yang disebut supremasi kulit putih (white supremacy), sebuah keyakinan dan asumsi bahwa orang kulit putih lebih unggul dari ras lain, sehingga mereka harus mendominasi ras lain.4 Supremasi kulit putih tidak hanya terlihat melalui sikap, tetapi juga cara berpi- kir di antara kebanyakan orang kulit putih.5 Sedihnya, rasisme tidak hanya terjadi di AS, tetapi juga mengglobal di seluruh dunia.6 Di Indonesia sendiri, kasus rasisme juga masih sering terjadi. Sebagai contoh, pada Agustus 2019 terjadi persekusi dan diskriminasi rasial terhadap beberapa mahasiswa Papua yang studi di Surabaya.7 Di tengah berbagai kasus serta fenomena rasisme yang terjadi di dunia ini, ternyata gereja yang diwakili oleh seba- gian kaum injili didapati masih mengabaikan masalah tersebut.8 Kelalaian sebagian kaum injili terhadap masalah rasisme ini adalah ka- rena kekurangpekaan mereka terhadap isu- isu sosial jika dibandingkan dengan kelom- pok Kristen noninjili lainnya.9 Ditambah lagi, alih-alih berkolaborasi untuk melawan rasis-

4Kelebogile T. Resane, “White Fragility, White Su- premacy, and White Normativity Make Theological Dia- logue on Race Difficult,” In die Skriflig 55, no. 1 (Januari 2021): 3, https://doi.org/ 10.4102/ids.v55i1.2661.

5Robin DiAngelo, White Fragility: Why It’s So Hard for White People to Talk about Racism (Boston: Beacon, 2018), 28.

6Untuk survei global berbagai kasus rasisme, lih. Jeff Liou, “Racism,” dalam Discerning Ethics: Diverse Christian Response to Divisive Moral Issues, ed. Hak Joon Lee dan Timothy Dearborn (Downers Grove:

InterVarsity Press, 2020), 241-245.

7Ahmad Fanani Rosyadi dan Villarian Burhan, Rasis- me di Papua: Tinjauan Pelanggaran Hak Asasi Manusia pasca Kasus Rasisme Surabaya (Jakarta: Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat, 2021), 2.

8Christena Cleveland, Disunity in Christ: Uncovering the Hidden Forces That Keep Us Apart (Downers Grove:

InterVarsity Press, 2013), 165; Ken Wytsma, The Myth of Equality: Uncovering the Roots of Injustice and Privilege (Downers Grove, InterVarsity Press, 2017), 5; Jemar Tisby, The Color of Compromise: The Truth about the American Church's Complicity in Racism (Grand Rapids:

Zondervan, 2020), 190.

9Ferry Y. Mamahit, “Globalisasi, Gereja Injili dan Transformasi Sosial,” Veritas: Jurnal Teologi dan Pelayan- an 6, no. 2 (2005): 255, https://doi.org/10.36421/veritas.

v6i2.151.

me, kebanyakan kaum injili justru menga- lami perpecahan karena perbedaan pema- haman dan cara merespons masalah rasisme, antara rasisme individual atau struktural, dan rekonsiliasi rasial atau dengan keadilan rasial.10 Di Indonesia sendiri, seperti ten- densi kaum injili pada umumnya di AS, ter- lalu banyak fokus masih tertuju pada “trans- formasi hati dan akal budi,” daripada “tin- dakan transformasional” sebagai solusi atas masalah rasisme, seperti yang diamati oleh Yakub Tri Handoko dalam sebuah webinar yang membahas masalah rasisme.11

Sampai di sini, muncul pertanyaan dalam be- nak penulis: Bisakah kedua pemahaman ten- tang rasisme ini diperdamaikan? Apakah va- lid untuk mendikotomikan kedua pemaham- an ini? Jika bisa diperdamaikan, imajinasi apa yang bisa dipakai untuk menyeimbangkan keduanya? Pertanyaan-pertanyaan seperti ini yang kemudian menuntun penulis sebagai se- orang injili hendak mengimajinasikan kembali serta merespons masalah rasisme melalui artikel ini.12 Respons penulis diartikulasikan dengan argumen bahwa rasisme adalah dosa individual, tetapi juga struktural, sehingga gereja injili perlu merentangkan cakrawala

10Lih. Andrea Smith, Unreconciled: From Racial Re- conciliation to Racial Justice in Christian Evangelicalism (Durham: Duke University Press, 2019), 3–4; Brantley W.

Gasaway, Progressive Evangelicals and the Pursuit of Social Justice (Chapel Hill: University of North Carolina Press, 2014), 76–77; Antipas L. Harris, Is Christianity the White Man’s Religion?: How the Bible Is Good News for People of Color (Downers Grove: InterVarsity Press, 2020), 123.

11Lih. “Webinar: Injili dan Rasisme,” 22 Juni, 2020, Grace Alone Ministry, video, 3:05, https://www.youtube.

com/watch?v=mnB9bBF3sTM. Untuk tendensi kaum in- jili di AS yang mereduksi masalah rasisme sebatas tang- gung jawab individu dalam relasi dengan yang lain, serta pertobatan atau lahir baru sebagai solusi atas rasisme, lih.

Emerson dan Smitg, Divided by Faith, 74–78.

12Untuk istilah dan identitas injili di sini, lih. Hendra Winarjo, “Menuju Satu Tubuh dengan Berbagai Anggota:

Sikap Kaum Injili untuk Memediasi Konflik yang Ber- potensi Muncul Akibat Keragaman Demonimasi Gereja di Indonesia,” Jurnal Amanat Agung (September 2021):

269, https://doi.org/10.47754/jaa.v16i2.495; Adrianus Yo- sia, “Merupa Wujud Evangelikalisme di Indonesia: Suatu Usulan Awal,” Veritas: Jurnal Teologi dan Pelayanan (Mei 2020): 90-91, https://doi.org/10.36421 /veritas.v19i1.339.

(4)

panggilannya untuk melawan rasisme dengan menyeimbangkan antara rekonsiliasi rasial maupun keadilan rasial. Dengan memberi- kan porsi yang seimbang antara kedua ga- gasan ini, gereja injili akan efektif melawan rasisme.

METODE PENELITIAN

Artikel ini menggunakan metode penelitian literatur. Secara definisi, penelitian literatur adalah penelitian yang menggunakan doku- men literatur, baik yang dicetak maupun da- ring, sebagai sumber utamanya.13 Oleh sebab itu, penelitian ini dilakukan dengan cara me- ngumpulkan data-data literatur seperti buku, artikel, dan berbagai sumber daring lainnya yang membahas tentang masalah rasisme, khususnya oleh teolog-teolog injili.

Struktur artikel ini dibagi menjadi tiga sub- bab. Pada subbab pertama, penulis meng- analisis persoalan pemahaman dan respons beberapa kaum Injili, seperti Carl Bradford, Kevin DeYoung, dan John Piper, terhadap rasisme yang lebih menekankan rasisme se- bagai dosa individual dan rekonsiliasi rasial sebagai solusinya. Selanjutnya, penulis men- deskripsikan metode berpikir tentang pen- tingnya sebuah imajinasi yang digunakan un- tuk memahami natur ganda rasisme dan res- pons terhadapnya. Terakhir, penulis mengu- raikan secara argumentatif tentang natur gan- da rasisme dan bagaimana rekonsiliasi rasial dan keadilan rasial bekerja bersama dalam melawan rasisme, tanpa menekankan gagasan yang satu dan mengabaikan yang lain.

HASIL DAN PEMBAHASAN Kebuntuan Kaum Injili Melawan Rasisme Pada umumnya, kaum injili menggolongkan rasisme sebagai suatu masalah etis atau moral.

Untuk memahami dan merespons masalah

13Nancy Jean Vyhmeister dan Terry Dwain Robertson, Quality Research Papers: For Students of Religion and Theology (Grand Rapids: Zondervan 2020), 41.

rasisme, kaum injili memusatkan perhatian pada Alkitab, yang merupakan sabda Allah yang memiliki otoritas tertinggi bagi penge- tahuan teologis dan kehidupan etis. Alkitab mengajarkan apa yang seharusnya dilakukan berdasarkan atribut-atribut atau karakter moral Allah seperti cinta, adil, penyayang, setia, benar, dan suci.14 Namun sayangnya, seperti yang dikatakan Timothy Tseng,

Evangelical affirmation of a high view of biblical authority often leads to methodological debates regarding the use of extrabiblical sources for theological reflection.”15 Dengan kata lain, seperti juga dikatakan Willie Jen- nings dalam hal perdebatan metodologis,

that Christianity in the Western world lives and moves within a diseased social imagination.”16 Inilah yang mengakibatkan kaum injili meng- alami kebuntuan dalam melawan rasisme:

imajinasi dengan metode yang keliru, di ma- na cenderung menekankan rasisme sebagai dosa individu serta rekonsiliasi rasial sebagai solusinya, dari pada rasisme sebagai struktu- ral dan keadilan rasial sebagai solusinya.

Sebagai contoh, Carl Bradford berpendapat bahwa rasisme adalah sebuah dogma di ma- na satu orang atau kelompok etnis meng- klaim atau menganggap lebih superior atas yang lain, baik secara budaya, intelektual, fisik, maupun sosial-ekonomi. Selanjutnya, prasangka ini dimanifestasikan melalui sikap dan praktik diskriminatif.17 Bagi Bradford,

14Wayne Grudem, Christian Ethics: An Introduction to Biblical Moral Reasoning (Wheaton: Crossway, 2018), 69–

70, 79–80.

15Timothy Tseng, “Race,” dalam The Oxford Hand- book of Evangelical Theology, ed. Gerald R. McDermott (Oxford: Oxford University Press, 2010), 476. Dalam mengafirmasi otoritas Kitab Suci, penulis sependapat dengan Vanhoozer dan Treier bahwa terdapat perbedaan antara sola Scriptura dan solo Scriptura. Kevin J.

Vanhoozer dan Daniel J. Treier, Theology and the Mirror of Scripture: A Mere Evangelical Account (Downers Grove:

InterVarsity Press, 2015),102.

16Willie James Jennings, The Christian Imagination:

Theology and the Origin of Race (New Heaven: Yale University Press, 2010), 6.

17Carl Bradford, “A Gospel-Centered Approach to the Issue of Racism: Race, Ethnicity, and the Gospel's

(5)

ada tiga alasan mengapa rasisme adalah dosa.

Pertama, karena rasisme berkontradiksi dengan natur Allah yang mengasihi semua orang tanpa memandang etnisnya. Rasisme membuat seseorang salah paham tentang Allah yang dianggap lebih memilih atau peduli pada satu orang atau kelompok dari- pada yang lain, seperti yang pernah dialami oleh Petrus (Kis. 10:34–35).18 Kedua, rasisme adalah dosa karena membujuk seseorang untuk menggantikan Tuhan dengan dirinya sendiri. Rasisme melibatkan seseorang yang menganggap bahwa ia tahu lebih baik dari- pada Tuhan atau memiliki otoritas untuk bertindak sebagai Tuhan dengan sewenang- wenang.19 Ketiga, rasisme adalah dosa kare- na melanggar pembawa-gambar Allah, sebab manusia sebagai gambar Allah memancar- kan kemuliaan Allah.20 Dalam merespons rasisme, Bradford mengusulkan rekonsiliasi rasial, yang berarti upaya untuk mengampuni musuh dari ras yang berbeda yang dimung- kinkan oleh pertobatan karena Injil.21 Di sini, terlihat bahwa Bradford menyamakan rasis- me dengan dosa membenci yang lain, sehing- ga mengampuni yang lain adalah solusinya.

Lebih jauh, menurut Bradford, penciptaan berkontradiksi dengan rasisme, kejatuhan manusia dalam dosa adalah penyebab rasis- me, penebusan dalam Kristus membersihkan rasisme, dan restorasi akhir menunjuk ke arah puncak rekonsiliasi rasial.22

Selain Bradford, Kevin DeYoung meng- uraikan bahwa rasisme adalah dosa karena:

(1) semua manusia diciptakan dalam gambar Allah (Kej. 1:27); (2) semua manusia adalah orang berdosa yang telah dirusak melalui kejatuhan (Rm. 3:10–20; 5:21); (3) semua orang, jika percaya dalam Yesus, telah satu dalam Kristus (Gal. 3:28); (4) keterpisahan

Influence towards Racial Reconciliation,” Southwestern Journal of Theology 63, no. 2 (2021): 106.

18Bradford, “A Gospel-Centered Approach,” 106–107.

19Bradford, “A Gospel-Centered Approach,” 107.

20Bradford, “A Gospel-Centered Approach,” 107.

21Bradford, “A Gospel-Centered Approach,” 116–117.

22Bradford, “A Gospel-Centered Approach,” 113–116.

adalah kutukan dari Babel (Kej. 11:7–9), tetapi kesatuan adalah karunia dari Penta- kosta (Kis. 2:5); (5) keberpihakan (partiality) adalah dosa (Yak. 2:1); (6) cinta yang sejati mencintai seperti seseorang yang berharap untuk dicintai (Mat. 22:39–40); (7) setiap orang yang membenci saudaranya adalah seorang pembunuh (1Yoh. 3:15); (8) cinta bersukacita dalam apa yang benar dan men- cari apa yang terbaik (1Kor. 13:4–7); (9) Kristus datang untuk meruntuhkan tembok di antara orang-orang yang membangunnya (Ef. 2:14); (10) surga tidak memiliki ruang untuk rasisme (Why. 5:9-10; 7:9–12; 22:1–

5).23 Dalam merespons rasisme, DeYoung lebih fokus pada rekonsiliasi rasial, yaitu hu- bungan perdamaian antara individu atau ke- lompok yang berkonflik, yang membutuhkan pertobatan personal dan korporat, dari pada memperjuangkan keadilan atau kesetaraan rasial. Meskipun demikian, DeYoung meng- aku ada rasisme struktural dan ketidakadilan sistemik. Tetapi DeYoung menolak bahwa kesenjangan ekonomi atau pendepatan an- tara orang kulit putih dan orang kulit hitam, dan juga pemenjaraan minoritas itu sendiri menunjukkan rasisme struktural.24 DeYoung juga menolak bahwa orang yang pasif dalam keterlibatannya menyebabkan rasisme secara struktural perlu dimintai pertanggungjawab- annya, sebab DeYoung berpendapat bahwa tanggung jawab korporat hanya terjadi jika setiap orang dalam kelompok tertentu aktif terlibat dalam dosa rasisme, atau jika orang- orang itu memiliki kemiripan spiritual yang sama dengan para pelaku di masa lalu.25

23Kevin DeYoung, “10 Reasons Racism Is Offensive to God,” The Gospel Coalition, Juni 2015, diakses 25 Januari 2022, https://www.thegospelcoalition.org/blogs/

kevin-deyoung/10-reasons-racism-is-offensive-to-god.

24Kevin DeYoung, “Racial Reconciliation: What We (Mostly, Almost) All Agree On, and What We (Likely) Still Don’t Agree On,” The Gospel Coalition, April 2018, diakses 25 Januari 2022, https://www.thegospelcoalition.

org/blogs/kevin-deyoung/racial-reconciliation-mostly- almost-agree-likely-still-dont-agree/.

25Kevin DeYoung, “Thinking Theologically About Racial Tensions: Sin and Guilt,” The Gospel Coalition, Juli 2020, diakses 25 Januari 2022, https://www.thegospel

(6)

Masih sejalan dengan pemahaman rasisme sebelumnya, John Piper mendefinisikan ra- sisme adalah, “an explicit or implicit belief or practice that qualitatively distinguishes or val- ues one race over other races.”26 Dalam me- respons rasisme, Piper bahwa satu tujuan penting Yesus datang ke bumi adalah untuk mematikan kesombongan etnosentrisme. 27 Piper melanjutkan bahwa semua manusia te- lah diciptakan sama menurut gambar Allah dan semua manusia telah jatuh dalam dosa karena kejatuhan manusia pertama.28 Tetapi Allah menciptakan kembali manusia baru dalam penebusan Kristus melalui pemilihan tanpa syarat dan pembenaran hanya melalui iman, tanpa memandang warna kulit mere- ka.29 Bagi Piper, perlawanan gereja melawan rasisme merupakan aplikasi dari Injil, yaitu dengan bertobat dari dosa rasisme, mem- bangun cinta dan persekutuan dalam per- bedaan rasial, tanpa membeda-bedakan.30 Sampai sejauh ini, Bradford, DeYoung, dan Piper dapat digolongkan dalam pandangan injili yang umum tentang rasisme, sekalipun terdapat perbedaan nuansa dalam mema- hami dan merespons rasisme di antara me- reka. Dan lagi, seperti yang dikatakan Piper bahwa sebenarnya penekanan personal pada istilah rasisme tidak selalu mengecualikan ekspresi dosa rasisme secara struktural.31 Dengan kata lain, pandangan injili yang umum ini tidak selalu berarti anti terhadap rasisme struktural, meskipun penulis mengamati hal tersebut kurang ditekankan, apalagi secara eksplisit.

coalition.org/blogs/kevin-deyoung/thinking-theologically- about-racial-tensions-sin-and-guilt/.

26John Piper, Bloodlines: Race, Cross, and the Christian (Wheaton: Crossway, 2011), 18.

27Piper, Bloodlines, bab 7.

28Piper, Bloodlines, 135, 153.

29Piper, Bloodlines, 142–144, bab 8–10.

30Piper, Bloodlines, bab 12–13.

31Piper, Bloodlines, 19.

Mengimajinasikan (Kembali) Natur Ganda Rasisme sebagai Seorang Injili

Untuk mengimajinasikan kembali natur ganda rasisme, pertama-tama penulis perlu mendefinisikan terlebih dulu apa itu imaji- nasi dan alasan diperlukannya sebuah imaji- nasi baru.

Imajinasi adalah suatu istilah yang saat ini sering dipakai di dalam zaman pascamodern yang mengacu pada kapasitas manusia untuk membangun suatu metode dan juga kon- struksi teologis.32 Menurut John Frame, ima- jinasi telah mendapatkan reputasi yang bu- ruk di beberapa kalangan Kristen, terutama Reformed, sebab terfokus pada penggunaan istilah ini dalam Alkitab secara negatif, se- perti di dalam Yeremia 3:17 (King James Version). Pada kenyataannya, Alkitab tidak melarang penggunaan imajinasi secara posi- tif. Lebih jauh, imajinasi adalah organ etis manusia yang penting, selain perasaan, peng- alaman, dan seterusnya, yang diciptakan Allah supaya manusia dapat merefleksikan karya kreatif Allah dan juga bekerja dengan rencana yang imajinatif. Dengan kata lain, imajinasi dapat sebagai respons terhadap suatu peristiwa yang telah terjadi atau juga mengkonseptualisasikan sesuatu yang akan terjadi atau dilakukan. Frame melanjutkan dengan menegaskan bahwa imajinasi tidak bertolak belakang dengan organ etis lainnya tersebut, melainkan memprasuposisikan akal budi, pengalaman, dan hati nurani. Lagi pula, imajinasi juga dapat ditebus dengan dikorek- si oleh sabda Allah dan di bawah pengaruh rahmat-Nya.33

32Risye Yulika Rieuwapassa, “Rahim Mandul Allah:

Suatu Konstruksi Imajinatif yang Menginterpretasi Reali- tas Chaotic Penciptaan bagi Pengalaman Perempuan Mandul,” BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual 4, no. 2 (2021): 335–352, https://doi.org/10.

34307/b.v4i2.304; Abel K. Aruan, “Apologetika Imajinatif:

Sebuah Proposal bagi Apologetika dalam Konteks Pasca- modern,” Veritas: Jurnal Teologi dan Pelayanan 20, no. 1 (2021): 1–20, https://doi.org/10. 36421/veritas.v20i1.357.

33John M. Frame, The Doctrine of Christian Life, vol. 3 (Phillipsburg: P&R, 2008), 369–370.

(7)

Sejalan dengan pemahaman Frame bahwa imajinasi adalah suatu organ etis manusia, Jennings mendefinisikan imajinasi sebagai sebuah capacity to redefine the social, to claim, to embrace, to join, to desire.”34 De- ngan daya imajinasi ini, menurut Jennings, teologi Kristen di Barat hidup dan bergerak dalam diseased social imagination yang dite- mukan di jemaat gereja maupun di sekolah teologi. Diseased social imagination ini me- nyebabkan ketidakmampuan teologi Kristen untuk mencermati kinerja intelektual dan pedagogis dalam merefleksikan dan mema- hami masalah rasial.35 Untuk lebih jelasnya, diseased social imagination yang dimaksud- kan oleh Jennings di sini adalah imajinasi yang “enclosed in racial and cultural differ- ence, inconsequentially related to its geography, often imaginatively detached from its sur- roundings of both people and spaces, but one yet bound to compelling gestures of connection, belonging, and invitation.”36 Oleh karena itu, Jennings juga berpendapat bahwa jalan ke- luar dari diseased social imagination adalah mengimajinasikan kembali imajinasi sosial secara teologis, yakni “more faithful to the God whose incarnate life established and es- tablishes the contours, character, and content of Christian theology.”37 Dalam bagian ketiga yang berjudul “Intimacy” dari bukunya, Jennings mengelaborasi imajinasi baru ten- tang sebuah hubungan yang menegaskan ke- bergabungan (joining) yang mendalam, ke- terbukaan kehidupan satu sama lain dalam cinta dan hasrat, yang pada intinya mem- butuhkan hubungan antara doktrin pencip- taan dan penebusan Kristen untuk imajinasi baru tersebut.38

Sejauh ini, dapat dikatakan bahwa imajinasi merupakan organ etis yang berperan penting dalam mengonsepkan atau memahami natur

34Jennings, The Christian Imagination, 6.

35Jennings, The Christian Imagination, 6-7.

36Jennings, The Christian Imagination, 4.

37Jennings, The Christian Imagination, 10.

38Jennings, The Christian Imagination, 248.

dari rasisme, seperti yang dikatakan Frame,39 dan karena pintu masuk masalah rasisme terletak pada imajinasi yang keliru, maka ja- lan keluarnya juga terletak pada imajinasi ba- ru untuk menyelesaikannya, seperti yang di- katakan Jennings.40 Oleh karena itu, penulis mengelaborasi bagaimana mengimajinasikan kembali natur ganda rasisme di bawah ini.

Pertama, kepekaan terhadap apa yang penulis sebut situasi yang rasis. Kepekaan ini dicapai dengan memperhatikan dan mempelajari se- jarah, politik, dan sosial suatu bangsa, bahkan melalui mendengarkan suara-suara dari me- reka yang mengalami penindasan dan ke- tidakadilan rasial (data-data ekstrabiblikal).41 Masalahnya adalah kepe- kaan kaum injili terhadap situasi yang rasis tampaknya lebih lemah daripada pengeta- huan mereka terhadap teks-teks Alkitab yang berbicara tentang rasisme sebagai dosa (walaupun cenderung memandangnya seba- gai dosa individual).42 Dalam wawancaranya, Esau McCaulley menjelaskan bahwa keba- nyakan orang Injili-konservatif-kulit putih di AS selalu bergumul untuk memahami orang kulit hitam di sana, bahkan tak jarang suara- suara orang kulit hitam dikooptasi oleh mereka. Oleh sebab itu, menyuarakan serta mendengarkan suara-suara dari mereka yang menjadi korban rasisme, meskipun bisa saja ada ketidaksepakatan, adalah hal yang di- butuhkan saat ini.43 Itulah sebabnya, dengan peka terhadap situasi yang rasis, kita diperli- hatkan apa yang paling dibutuhkan oleh para korban rasisme serta alasan mengapa mereka mengalaminya, tentunya disertai juga dengan penerangan Alkitab serta mencoba

39Frame, The Doctrine of Christian Life, 369–370.

40Jennings, The Christian Imagination, 240–241.

41Frame, The Doctrine of Christian Life, 164.

42Emerson dan Smith, Divided by Faith, 81, berpen- dapat bahwa salah satu konsekuensi dari individualisme di kalangan injili adalah menjadi ahistoris, sehingga mereka tidak meyadari berbagai kasus rasisme yang menghiasi sejarah.

43Emma Green, “The Vortex of White Evangelical- ism,” The Atlantic, Juli 2021, diakses 25 Januari 2022, https://www.theatlantic.com/politics/archive/2021/07/esau- mccaulley-black-christianity/619371/.

(8)

mengaplikasikan teks-teks Alkitab yang me- nentang prasangka serta sistem yang rasis dalam situasi tersebut.44

Berdasarkan studi historis, politik, dan sosial yang telah dipublikasikan oleh banyak sarja- na di AS, rasisme jelas merupakan dosa indi- vidual dan struktural.45 Di Indonesia sendiri, rasisme ternyata bukan hanya kebencian se- seorang terhadap ras yang berbeda atau menganggap satu ras lebih unggul dari yang lain, tetapi juga berupa masalah struktural atau sistemik. Sebagai contoh, terdapat kri- minalisasi di antara beberapa aktivis papua yang memperjuangkan keadilan sosial dan rasial, data peningkatan jumlah tahanan po- litik Papua yang berdemonstrasi melawan ra- sisme setelah peristiwa rasisme di Surabaya, dan peningkatan keamanan secara intensif kepada orang-orang Papua dengan kecemas- an yang berlebihan.46

Kedua, menafsirkan Alkitab dengan melibat- kan kebajikan untuk memahami serta me- lawan rasisme. Dalam hal ini, Alkitab, seba- gaimana yang ditegaskan oleh Richard Hays, adalah wahyu ilahi yang menjadi transposisi paradigma untuk pembuatan metafora de- ngan menempatkan kehidupan kita secara imajinatif dalam dunia yang diartikulasikan oleh teks-teks Alkitab.47 Oleh sebab itu, se- orang penafsir perlu melibatkan kebajikan interpretatif yang berada pada dirinya dalam menafsirkan Alkitab.48 Hal ini supaya daya

44Frame, The Doctrine of Christian Life, 239–240.

45Sebagai contoh, lih. Emerson dan Smith, Divided by Faith; Wallis, America's Original Sin; Tisby, The Color of Compromise.

46Rosyadi dan Villarian Burhan, Rasisme di Papua, 3–

10.

47Richard B. Hays, The Moral Vision of the New Testa- ment: A Contemporary Introduction to New Testament Ethics (Ediburgh: T&T Clark, 1996), 298–299.

48Kebajikan interpretatif merupakan suatu istilah yang digunakan untuk merujuk pada sikap seorang penafsir, seperti kebiasaan melihat, merasakan, memikirkan, dan melakukan dalam kaitan dengan interpretasi. Berkaitan dengan sikap seorang penafsir, pembahasan tentang her- meneutika tidak bisa hanya sekadar mempertanyakan metode interpretasinya saja, tetapi juga yang dianggap penting adalah sikap seorang penafsir di dalam menaf-

imajinasi penafsir terbuka untuk meng- imajinasikan kembali pokok-pokok pemba- hasan Alkitab yang berkaitan dengan isu ra- sisme saat ini, seperti kemartabatan manusia sebagai gambar dan rupa Allah (Kej. 1:27;

Yak. 3:9); dosa individual dan struktural, ter- masuk rasisme, yang berakar pada narasi ke- jatuhan Adam dan Hawa (Kej. 3); penting- nya rekonsiliasi (Mat. 5:43–44; Rm. 12:10;

1Yoh. 4:7, 21) dan keadilan (Ul. 24:22; Ams.

10–12); karya Kristus untuk meruntuhkan tembok pemisah seperti rasisme dan menya- tukan yang berbeda di dalam Dia (Gal. 3:28;

Ef. 2:14; Kol. 3:11); dan Allah sebagai pem- bebas (Kel. 5:1; Luk. 4:18).49

Dengan mengadaptasi apa yang diuraikan Vanhoozer, penulis berpendapat bahwa ke- bajikan-kebajikan interpretatif yang diperlu- kan oleh penafsir Alkitab adalah sebagai berikut. Pertama, kejujuran, yaitu penafsir dengan jujur mengakui prioritas, komitmen, dan prapemahaman sebelum menafsirkan Alkitab. Kedua, keterbukaan, yaitu pembaca yang berpikiran terbuka, bersedia mende- ngarkan dan mempertimbangkan ide-ide pembaca lain, termasuk yang bertentangan dengan penafsirannya sendiri, tanpa pra- sangka dan kebencian. Ketiga, perhatian, yaitu penafsir yang bijak, jauh dari egoisme, dan fokus pada teks. Keempat, ketaatan, ya- itu penafsir yang taat mengikuti petunjuk teks daripada keinginannya sendiri.50

Sebagai contoh, Timothy Keller dengan si- kap keterbukaan pada suara-suara dari ke- lompok Kristen yang beragam dan juga me- naruh perhatian pada isu-isu sosial seperti rasisme dan ketidakadilan, ia berpendapat bahwa Alkitab menyatakan rasisme adalah dosa struktural dan individual, sebab memang

sirkan Alkitab. Lih. Stephen E. Fowl, “Virtue,” dalam Dictionary for the Theological Interpretation of the Bible, ed.

Kevin J. Vanhoozer (Grand Rapids: Baker Academic, 2005), 837–838.

49Untuk mengetahui lebih jauh pokok-pokok pemba- hasan dalam Alkitab yang digunakan untuk merespons rasisme, lih. McCaulley, Reading While Black, bab 2–7.

50Vanhoozer, Is There a Meaning in This Text, 377.

(9)

dosa meliputi tanggung jawab individual mau- pun korporat. Dalam argumentasinya, Keller merujuk pada dua kisah dalam Alkitab. Per- tama, Daniel yang bertobat atas dosa nenek moyangya (Dan. 9). Kedua, keluarga Akhan yang dihukum karena dosa pribadi Akhan yang mencuri barang rampasan (Yos. 7), se- hingga menunjukkan bahwa Alkitab meng- akui karakter dan tindakan seseorang bukan- lah semata-mata hasil dari pilihan pribadi ki- ta. Karakter seseorang sebagian besar justru ditempa oleh keluarga dan masyarakat di se- kitarnya. Bagi Keller, Alkitab mendukung gagasan bahwa ada masalah seperti struktur sosial yang tidak adil. Keller merujuk pada kitab Amsal 10–12 yang menunjukkan bahwa kurangnya tanggung jawab individual dapat membawa seseorang ke dalam kemiskinan (Ams. 10:4; 12:17). Namun, Keller juga me- rujuk pada Amsal 13:23 yang menunjukkan bahwa ketidakadilan yang menyebabkan ke- miskinan. Keller berargumen bahwa Alkitab menunjukkan dua sisi dari kemiskinan dan ketidakadilan, baik pada tindakan serta pilih- an individu maupun struktur sosial. Alkitab juga mencela sistem peradilan yang berpihak pada orang kaya daripada orang miskin, dan praktik bisnis yang memanipulasi harga pasar.51

Dalam merespons rasisme, Keller mengusul- kan penerapan keadilan yang murah hati, yang termasuk upaya pembangunan individu, pembangunan masyarakat, rekonsiliasi rasial, dan reformasi sosial yang dupayakan dalam ruang publik.52 Singkatnya, Keller menilai bahwa rekonsiliasi dan keadilan adalah dua gagasan yang memiliki relasi tak terpisah- kan.53 Dalam artikelnya, Keller mengelabo- rasi dan menyelaraskan gagasan keadilan yang murah hati dengan keadilan biblikal, daripada berbagai alternatif teori keadilan

51Timothy Keller, “The Sin of Racism,” Gospel in Life, Juni 2020, diakses 25 Januari 2022, https://quarterly.

gospelinlife.com/the-sin-of-racism/. Untuk lebih lengkap- nya, lih. Timothy Keller, Generous Justice: How God's Grace Makes Us Just (New York: Dutton, 2010), bab 2-3.

52Keller, Generous Justice, bab 6–7.

53Keller, Generous Justice, 139.

sekuler seperti libertarian, liberal, utilitarian, dan pascamodern. Keller mengelaborasikan lima garis besar keadilan biblikal sebagai berikut: (1) komunitas: orang lain memiliki klaim atas kekayaan atau kepemilikan saya, jadi saya harus memberi secara sukarela (Ul.

24:17–22); (2) kesetaraan: setiap orang harus diperlakukan sama dan bermatabat (Ul.

24:22); (3) tanggung jawab korporat: saya terkadang bertanggung jawab dan terlibat dalam dosa orang lain (Yos. 7; 2Sam. 21); (4) tanggung jawab individu: saya akhirnya ber- tanggung jawab atas semua dosa saya, tetapi tidak untuk semua yang saya hasilkan (Kel.

22:21-27); (5) advokasi: kita harus memiliki kepedulian khusus terhadap masyarakat yang malang dan termarjinalisasi.54

Ketiga, berintrospeksi secara kritis posisi kita terhadap rasisme. Karena sebagaimana yang dikatakan Jennings bahwa setiap kita berada di dalam suatu negara, yang berarti teologi kita juga terletak dalam konfigurasi kon- struksi dari imajinasi sosial negara itu yang mungkin sedang sakit (diseased social imagi- nation).55 Maka, kita memerlukan beberapa pertanyaan reflektif-kritis berikut: Apakah kita sedang mengabaikan atau menyadari fe- nomena rasisme di sekeliling kita? Apakah kita sedang melawan rasisme atau berdiam sambil menikmatinya? Apakah kita setuju dengan pernikahan antarras? Sebab peno- lakan terhadap pernikahan antarras sama sekali tidak berdasarkan pengajaran Alkitab, melainkan prasangka yang rasis dan etnosen- trisme.56

54Timothy Keller, “A Biblical Critique of Secular Jus- tice and Critical Theory,” Gospel in Life, Agustus 2020, diakses 25 Januari 2022, https://quarterly.gospelinlife.

com/a-biblical-critique-ofsecular-justice-and-critical- theory. Lih. juga, Timothy Keller, “Justice in the Bible,”

Gospel in Life, September 2020, diakses 25 Januari 2022, https://quarterly.gospelinlife.com/justice-in-the-bible/.

55Jennings, The Christian Imagination, 6–7, 233.

56Ken Ham dan A. Charles Ware, One Race One Blood: A Biblical Answer to Racism (Green Forest: Mas- ter Books, 2010), 126.

(10)

Pertanyaan-pertanyaan di atas ini penting untuk kita renungkan karena bertujuan untuk memantik, sekaligus melanjutkan per- cakapan dan imajinasi tentang rasisme. Per- cakapan ini tentu juga melibatkan penafsiran kita terhadap Alkitab dan kepekaan pada situasi yang rasis untuk memberikan respons yang holistis terhadap rasisme.57 Inilah me- tode imajinatif yang penulis tawarkan dalam artikel ini. Dengan keterkaitan antara diri, Alkitab, dan situasi, berintrospeksi secara kritis posisi kita terhadap rasisme tidak jatuh pada perangkap individualisme. Melakukan introspeksi ini menuntun kita untuk meratap, mengakui, dan bertobat atas kemungkinan keterlibatan kita dalam rasisme, sebagai prasyarat bagi seseorang dalam melawan rasisme.58

Gereja Injili Melawan Rasisme: Rekonsiliasi Rasial dan Keadilan Rasial

Dalam merespons dosa rasisme yang indivi- dual dan struktural ini, penulis berpendapat bahwa kaum injili perlu melawannya, bukan- nya berdiam diri. Gereja injili perlu melawan rasisme dengan mengupayakan keseimbang- an antara rekonsiliasi rasial dan keadilan rasial, bukannya malah mempertentangkan keduanya. Tanpa keseimbangan antara re- konsiliasi rasial dan keadilan rasial, tidak mungkin bagi kaum injili untuk melawan rasisme secara efektif. Jika kaum injili hanya menekankan rekonsiliasi rasial karena rasis- me hanyalah dosa individual, maka akan me- langgengkan ketidakadilan rasial dan cende- rung menjadi perangkat ideologis untuk memfasilitasi negosiasi kekuasaan.59 Di sisi lain, jika kaum injili hanya menekankan ke- adilan rasial karena rasisme hanyalah dosa

57Contoh pertanyaan lain dapat dilihat di McCaulley, Reading While Black, 165-166.

58Lih. Soong-Chan Rah, Prophetic Lament: A Call for Justice in Troubled Times (Downers Grove: InterVarsity Press, 2015), 23; Christina Edmondson dan Chad Brennan, Faithful Antiracism: Moving Past Talk to Systemic Change (Downers Grove: InterVarsity Press, 2022), 32.

59Emerson dan Smith, Divided by Faith, 58; Jennings, The Christian Imagination, 10.

struktural atau hanya kesalahan dari sistem yang impersonal, maka tidak akan ada relasi yang terjalin dan pengampunan di antara dua pribadi atau pihak-pihak yang berselisih, dan juga tidak akan ada kemurahan hati yang diungkapkan.60 Oleh sebab itu, imaji- nasi kaum injili dalam merespons masalah rasisme perlu bersifat lebih holistis dengan menjadi peka pada situasi yang rasis, menaf- sirkan Kitab Suci dengan penuh kebajikan, dan mampu mengintrospeksi diri, daripada dikotomis.

Rekonsiliasi Rasial

Rekonsiliasi rasial adalah salah satu gagasan, selain gagasan keadilan rasial, yang tetap perlu digunakan gereja injili untuk melawan rasisme. Sebenarnya, banyak penulis injili telah menulis tentang rekonsiliasi rasial, jadi penulis tidak ingin mengelaborasikannya panjang lebar, baik secara historis maupun biblikal.61 Namun, apa yang penulis perlihat- kan di sini adalah gagasan teologis-praktis rekonsiliasi rasial yang tidak hanya bersifat individual, tetapi juga komunal, dan melibat- kan keadilan, bukan meniadakannya.

Secara definisi, rekonsiliasi rasial mengacu pada menyatukan dua orang atau kelompok melalui pengampunan, setelah berjauhan, terpisah, atau berkonflik.62 Untuk definisi le- bih panjang oleh McNeil dan yang juga dise- tujui penulis adalah sebagai berikut: “Recon- ciliation is an ongoing spiritual process in- volving forgiveness, repentance and justice that restores broken relationships and systems to reflect God’s original intention for all creation

60Thaddeus J. Williams, Confronting Injustice without Compromising Truth: 12 Questions Christians Should Ask About Social Justice (Grand Rapids: Zondervan, 2020), 110–111.

61Lih. mis. Emerson dan Smith, Divided by Faith, 63.

62Diane J. Chandler, “Spiritual Formation: Race, Ra- cism, and Racial Reconciliation,” Journal of Spiritual Formation and Soul Care 13, no. 2 (November 2020): 158, https://doi.org/10.1177/1939790920960540.

(11)

to flourish.”63 Dalam definisi ini, rekonsiliasi rasial bukan hanya sekadar metode, tetapi laku spiritual yang menekankan pada “per- buatannya” (doing) daripada “keberadaan- nya” (being) dan juga melibatkan keadilan daripada meniadakannya.64 Dengan pema- haman rekonsiliasi rasial seperti ini, rekonsi- liasi rasial dimaksudkan menjadi gaya hidup atau spiritualitas orang percaya dalam kehi- dupan sehari-hari ketika ia berjumpa dengan yang lain.

Gagasan rekonsiliasi rasial sebenarnya ber- akar pada karya ekonomi Allah Trinitas yang dikerjakan di dalam dan melalui karya Kris- tus yang datang, mati, bangkit, dan naik ke surga untuk merekonsiliasi manusia dengan Allah (2Kor. 5:18–19) dan juga merekonsi- liasi satu sama lain (Gal. 3:28; Ef. 2:14; Kol.

3:11). Di sisi lain, juga melalui karya Roh Kudus yang dicurahkan pada hari pantekosta yang mengerjakan pekerjaan rekonsiliasi an- tara Allah dan manusia, serta antara sesama dengan mempersatukan orang-orang yang berbeda ras di dalam Kristus (1Kor. 12:12–

13).65 Karena itu, rekonsiliasi rasial tidak boleh diabaikan untuk melawan rasisme de- ngan mengupayakan kesatuan serta keda- maian setelah berkonflik.

Rekonsiliasi rasial sejatinya mengaktua- lisasikan karya rekonsiliasi Allah yang dite- ruskan kepada umat-Nya untuk saling men- cintai dan merengkuh satu sama lain, bahkan musuh. Mencintai dan merengkuh musuh, seperti yang dikatakan Volv, adalah satu- satunya respons yang tepat untuk kasih Allah di atas kayu salib. Alasannya karena kita dan musuh kita sama-sama telah dicintai dan direngkuh oleh Allah.66 Setelah direngkuh oleh Allah, umat-Nya juga harus memberi

63Brenda Salter McNeil, Roadmap to Reconciliation:

Moving Communities into Unity, Wholeness, and Justice (Downers Grove: InterVarsity Press, 2015), 22.

64McNeil, Roadmap to Reconciliation, 21.

65Chandler, “Spiritual Formation,” 161-164.

66Miroslav Volf, Exclusion and Embrace: A Theological Exploration of Identity, Otherness, and Reconciliation (Nashville: Abingdon, 1996), 129.

ruang bagi orang lain dan menyambut me- reka.67 Jadi, rekonsiliasi rasial perlu dimulai dari cinta kepada Allah dan sesama (Mat.

23:37–40). Rekonsiliasi rasial juga dimam- pukan oleh Allah melalui Roh Kudus yang berdiam dalam diri orang percaya (1Kor.

3:16) untuk bertindak karena kasih terhadap semua orang dalam perjalanan kehidupan- nya yang menyuarakan pesan rekonsiliasi.68 Dalam kehadiran Allah ini, Allah Trinitas mendambakan kesatuan dalam perbedaan rasial, sebab perbedaan adalah pemberian dan rencana Allah dalam penciptaan dan dilestarikan dalam ciptaan baru melalui penebusan.69

Dalam langkah-langkah praktis, rekonsiliasi rasial tidak hanya memerlukan pengakuan dan pertobatan atas dosa individu untuk dosa rasisme, tetapi juga pengakuan dan pertobatan bersama. Selain itu, perlu juga untuk mendengar dan belajar dari mereka yang menjadi korban rasisisme. Mendengar dan belajar dari yang lain menolong untuk melihat dari perspektif yang lain.70 Menurut penulis, langkah lain yang diperlukan untuk berdampak pada praksis keadilan adalah mencintai dengan cinta sahabat (Yun. philos;

Yoh. 15:13) kepada yang lain, dengan cara rela mengorbankan diri dan membela saha- batnya yang menjadi korban rasisme.

Keadilan Rasial

Keadilan rasial adalah gagasan lain, selain rekonsiliasi rasial, yang perlu digunakan gereja injili untuk melawan rasisme secara efektif. Menurut Tisby, keadilan rasial

67Volf, Exclusion and Embrace, 129.

68Douglas A. Foster, “Reclaiming Reconciliation: The Corruption of 'Racial Reconciliation' and How It Might Be Reclaimed for Racial Justice and Unity,” Journal of Ecumenical Studies 55, no. 1 (2020): 65, https://doi.org/

10.1353/ecu.2020.0015.

69Hal ini senada dengan dokumen “The Cape Town Commitment: A Confession of Faith and A Call to Action,” International Bulletin of Missionary Research 35, no. 2 (April 2011): 64, https://doi.org/10.1177/23969393 1103500202.

70Chandler, “Spiritual Formation,” 172.

(12)

mengacu pada tindakan tegas terhadap sifat struktural rasisme di mana terdapat sistem dalam budaya yang tidak adil serta diskri- minatif.71 Dalam hal keadilan sosial, ter- masuk keadilan rasial, kebanyakan orang in- jili sepertinya cukup tertinggal dari kelom- pok kekristenan lainnya. Sebagaimana yang ditunjukkan Harris, ketertinggalan ini dise- babkan oleh kekhawatiran kaum injili pada gagasan dan istilah keadilan sosial.72 Padahal, Alkitab sama sekali tidak mengabaikan ga- gasan mengenai keadilan. Oleh sebab itu, kaum injili perlu mencermati titik temu atau relasi yang integral antara keadilan sosial, termasuk keadilan rasial dan keadilan dalam Alkitab.

Dalam Alkitab, keadilan berasal dari kata kata mishpat (Kej. 18:19; Ul. 24:17; 27:19), yang berarti memperbaiki keadilan, terma- suk menghukum pelaku kesalahan dan me- rawat korban ketidakadilan. Tetapi keadilan juga dapat berasal dari akar kata yang sama dengan kebenaran, yaitu tsedaqah (Ul. 33:21;

Ayb. 8:3; 37:23) yang berarti menjadi benar dan juga menjadi adil. Keadilan (tsedaqah) merujuk pada kehidupan sehari-hari di mana seseorang melakukan segala hubungan da- lam keluarga dan masyarakat dengan keadil- an, kemurahan hati, dan kesetaraan (Kej.

30:33; Kel. 23:7; Ul. 16:20). Itulah mengapa kata keadilan-kebenaran (tsedaqah) dan ke- adilan (mishpat) seringkali digunakan ber- barengan dalam Alkitab (Kej. 18:19; Ul. 32:4;

Ayb. 29:14; Mzm. 33:5).73

Lebih lanjut, Wolterstorff menunjukkan bah- wa ada dua elemen dasar keadilan dalam Alkitab.74 Pertama, apa yang ia sebut keadil- an primer (primary justice), yakni ketika se- gala sesuatu berjalan sebagaimana mestinya.

Dalam Kejadian, ketika Allah menciptakan

71Tisby, The Color of Comprimise, 194.

72Harris, Is Christianity the White Man’s Religion?, 123–

124.

73Keller, Generous Justice, 10–11.

74Nicholas Wolterstorff, Justice: Rights and Wrongs (Princeton: Princeton University Press, 2008).

dan menyatakan bahwa ciptaan-Nya itu baik, ciptaan-Nya itu adalah sesuai dengan ren- cana penciptaan-Nya. Sampai hari ini pun contoh keadilan primer masih terlihat, se- perti cinta seorang ibu kepada anaknya.75 Kedua, keadilan restoratif (restorative justice) yang mengacu pada semua tindakan dan upaya yang dilakukan untuk memperbaiki yang rusak, bengkok, atau relasi yang me- nyeleweng di dunia ini. Keadilan restoratif dipandang sebagai pekerjaan yang mengem- balikan kembali segala sesuatu seperti yang Allah inginkan atau sebagaimana mestinya.

Dalam praktiknya, keadilan restoratif sebe- narnya tidak meniadakan tindakan rekonsi- liasi rasial, sebab keadilan restoratif juga mencakup semua yang diperlukan untuk membangun dan memelihara relasi yang be- nar dalam masyarakat atau yang disebut keadilan sosial.76 Yesus bahkan adalah agen keadilan restoratif melalui karya penebusan- Nya yang merekonsiliasi antara Allah dan ma- nusia, relasi yang semestinya terjalin antara Allah dan manusia.77 Karena itu, keadilan yang sejati justru perlu dimotivasi oleh cinta kepada Allah dan sesama yang telah ber- damai, serta bersifat relasional dengan meng- upayakan keadilan bagi kepentingan bersama dalam relasi dengan sesama.78

Keadilan rasial perlu juga dimotivasi dan diprakarsai oleh cinta kepada dan dari Allah, dan kemudian cinta kepada sesama yang terlihat dalam praktik kehidupan sehari-hari.

Dalam langkah-langkah praktis, keadilan ra- sial dapat dicapai dengan tindakan seperti menggalang dana untuk kelompok yang ter- pinggirkan,79 hingga memprotes serta mere- strukturisasi sistem-sistem yang tidak adil dan diskriminatif di berbagai area seperti ekonomi, politik, keamanan, pendidikan, dan gereja untuk menegakkan keadilan dan

75Wytsma, Myth of Equality, 108.

76Wytsma, Myth of Equality, 109.

77Wytsma, Myth of Equality, 113.

78Jemar Tisby, How to Fight Racism: Courageous Christianity and the Journey toward Racial Justice (Grand Rapids: Zondervan, 2021), 5.

79Wytsma, Myth of Equality, 146.

(13)

kesetaraan. Dengan demikian, gereja tidak mengekslusi sesama berdasarkan ras, me- lainkan juga melakukan kebajikan keterbu- kaan dalam kasih dan keadilan di ruang publik.80

KESIMPULAN

Artikel ini menunjukkan bahwa, secara umum, baik tertulis atau tidak, kaum injili belum memiliki imajinasi dan respons yang holistis terhadap masalah rasisme. Penulis telah membahas beberapa orang injili yang masih buta terhadap rasisme struktural, atau setidaknya kurang secara eksplisit menegas- kan rasisme struktural dalam imajinasi me- reka. Untuk itu, penulis mengelaborasikan tiga perspektif yang saling terkait untuk mengimajinasikan kembali natur rasisme.

Pertama, kepekaan terhadap situasi yang rasis. Kedua, menafsirkan Alkitab dengan melibatkan kebajikan untuk memahami serta melawan rasisme. Ketiga, secara kritis meng- introspeksi posisi kita terhadap rasisme.

Dengan mengimajinasikan kembali menurut triperspektif ini, rasisme bukan hanya di- pandang sebagai dosa individual, tetapi juga dosa struktural, sebab rasisme adalah semua pola mengeksklusi, memarginalisasi, dan bahkan mendehumanisasi orang lain ber- dasarkan ras.

Kenyataannya, dosa rasisme dimanifestasi- kan dalam struktur yang melibatkan sistem dalam budaya serta setiap individu dan ke- lompok di dalamnya. Karena sifat ganda ra- sisme ini, gereja injili perlu memberikan porsi yang seimbang antara rekonsiliasi rasial dan keadilan rasial. Merentangkan cakra- wala panggilan gereja injili untuk melawan rasisme dengan menyeimbangkan antara

80Tentang kebajikan-kebajikan etis yang diharapkan penulis dipraktikkan gereja di ruang publik yang pluralistik, lih. Hendra Winarjo, “Etika Kebajikan Kristen di Ruang Publik: Keterbukaan, Kejujuran, dan Keberanian,” Jurnal Abdiel: Khazanah Pemikiran Teologi, Pendidikan Agama Kristen dan Musik Gereja 6, no. 2 (Oktober 2022): 163-178, https://doi.org/10.37368/ja.v6i2.

426.

“kedua tangan” tersebut adalah respons yang tepat agar melawan rasisme secara efektif.

PERNYATAAN PENULIS

Kontribusi dan Tanggung Jawab Penulis Penulis menyatakan telah memberikan kon- tribusi substansial untuk perancangan dan penulisan hasil penelitian. Penulis bertang- gung jawab atas analisis, interpretasi dan diskusi hasil penelitian. Penulis telah mem- baca dan menyetujui naskah akhir.

Konflik Kepentingan

Penulis menyatakan tidak memiliki konflik kepentingan apa pun yang dapat memenga- ruhinya dalam penulisan artikel ini.

REFERENSI

Aruan, Abel K. “Apologetika Imajinatif:

Sebuah Proposal bagi Apologetika dalam Konteks Pascamodern.” Veritas:

Jurnal Teologi dan Pelayanan 20, no. 1 (2021): 1–20. https://doi.org/10.36421/

veritas.v20i1.357.

Bradford, Carl. “A Gospel-Centered Ap- proach to the Issue of Racism: Race, Ethnicity, and the Gospel’s Influence towards Racial Reconciliation.” South- western Journal of Theology 63, no. 2 (2021): 101–117.

Butler, Anthea. White Evangelical Racism:

The Politics of Morality in America.

Chapel Hill: University of North Carolina Press, 2021.

Chandler, Diane J. “Spiritual Formation:

Race, Racism, and Racial Reconcilia- tion.” Journal of Spiritual Formation and Soul Care 13, no. 2 (November 2020): 156–175. https://doi.org/10.1177/

193979092096050.

Christena, Cleveland. Disunity in Christ: Un- covering the Hidden Forces That Keep Us Apart. Downers Grove: InterVarsity Press, 2013.

(14)

DeYoung, Kevin. “10 Reasons Racism Is Offensive to God.” The Gospel Coali- tion, Juni 2015. https://www.thegospel coalition.org/blogs/kevin-deyoung/10- reasons-racism-is-offensive-to-god/

———. “Racial Reconciliation: What We (Mostly, Almost) All Agree On, and What We (Likely) Still Don’t Agree On.” The Gospel Coalition, April 2018.

https://www.thegospelcoalition.

org/blogs/kevin-deyoung/racial- reconciliation-mostly-almost-agree- likely-still-dont-agree/.

———. “Thinking Theologically About Racial Tensions: Sin and Guilt.” The Gospel Coalition, Juli 2020. https://

www.thegospelcoalition.org/blogs/kevin -deyoung/thinking-theologically-about- racial-tensions-sin-and-guilt/.

DiAngelo, Robin. White Fragility: Why It’s So Hard for White People to Talk about Racism. Boston: Beacon, 2018.

Edmondson, Christina dan Chad Brennan.

Faithful Antiracism: Moving Past Talk to Systemic Change. Downers Grove:

InterVarsity Press, 2022.

Emerson, Michael O. dan Christian Smith.

Divided by Faith: Evangelical Religion and the Problem of Race in America.

Oxford: Oxford University Press, 2001.

Foster, Douglas A. “Reclaiming Reconcili- ation: The Corruption of ‘Racial Reconciliation’ and How It Might Be Reclaimed for Racial Justice and Unity.” Journal of Ecumenical Studies 55, no. 1 (2020): 63–81. https://doi.

org/10.1353/ecu.2020.0015.

Fowl, Stephen E. “Virtue.” Dalam Dictionary for the Theological Interpretation of the Bible, diedit oleh Kevin J. Vanhoozer, 837–838. Grand Rapids: Baker Aca- demic, 2005.

Frame, John M. The Doctrine of Christian Life. Vol. 3. Phillipsburg: P&R, 2008.

Gasaway, Brantley W. Progressive Evange- licals and the Pursuit of Social Justice.

Chapel Hill: University of North Carolina Press, 2014.

Green, Emma. “The Vortex of White Evan- gelicalism.” The Atlantic, Juli 2021.

https://www.theatlantic.com/politics/arc hive/2021/07/esau-mccaulley-black- christianity/619371/.

Grudem, Wayne. Christian Ethics: An Intro- duction to Biblical Moral Reasoning.

Wheaton: Crossway, 2018.

Ham, Ken dan A. Charles Ware. One Race One Blood: A Biblical Answer to Racism.

Green Forest: Master Books, 2010.

Harris, Antipas L. Is Christianity the White Man’s Religion?: How the Bible Is Good News for People of Color. Downers Grove: InterVarsity Press, 2020.

Hays, Richard B. The Moral Vision of the New Testament: A Contemporary Intro- duction to New Testament Ethics. Edin- burgh: T&T Clark, 1996.

Jennings, Willie James. The Christian Imagi- nation: Theology and the Origin of Race.

New Heaven: Yale University Press, 2010.

Keller, Timothy. Generous Justice: How God’s Grace Makes Us Just. New York:

Dutton, 2010.

———. “The Sin of Racism.” Gospel in Life,

Juni 2020. https://

quarterly.gospelinlife.com/the-sin-of- racism.

———. “A Biblical Critique of Secular Justice and Critical Theory.” Gospel in Life, Agustus 2020. https://

quarterly.gospelinlife.com/a-biblical- critique-of-secular-justice-and-critical- theory/.

———. “Justice in the Bible.” Gospel in Life, September 2020. https://

quarterly.gospelinlife.com/justice-in- the-bible/.

Mamahit, Ferry Y. “Globalisasi, Gereja Injili dan Transformasi Sosial.” Veritas: Jur- nal Teologi dan Pelayanan 6, no. 2 (2005): 255–278. https://doi.org/10.364 21/veritas.v6i2.151

McCaulley, Esau. Reading While Black: Afri- can American Biblical Interpretation as

(15)

an Exercise of Hope. Downers Grove:

InterVarsity Press, 2020.

McCaulley, Esau. “The Cross is God’s Answer to Black Rage.” Christianity Today, Desember 2020. https://www.

christianitytoday.com/ct/2021/january- february/esau-mccaulley-reading-while- black-rage-cross.html.

McNeil, Brenda Salter. Roadmap to Recon- ciliation: Moving Communities into Unity, Wholeness, and Justice. Downers Grove: InterVarsity Press, 2015.

Oyakawa, Michelle. “Racial Reconciliation as a Suppressive Frame in Evangelical Multiracial Churches.” Sociology of Religion: A Quarterly Review 80, no. 4 (2019): 496–517. https://doi.org/10.10 93/socrel/srz003.

Liou, Jeff. “Racism.” Dalam Discerning Ethics: Diverse Christian Response to Divisive Moral Issues. Diedit oleh Hak Joon Lee dan Timothy Dearborn, 239–

258. Downers Grove: InterVarsity Press, 2020.

Rah, Soong-Chan. Prophetic Lament: A Call for Justice in Troubled Times. Downers Grove: InterVarsity Press, 2015.

Resane, Kelebogile T. “White Fragility, White Supremacy, and White Norma- tivity Make Theological Dialogue on Race Difficult.” In die Skriflig 55, no. 1 (Januari 2021): 1–10. https://doi.org/

10.4102/ids.v55i1.2661.

Rieuwapassa, Risye Yulika “Rahim Mandul Allah: Suatu Konstruksi Imajinatif yang Menginterpretasi Realitas Chaotic Penciptaan bagi Pengalaman Perem- puan Mandul.” BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual 4, no. 2 (2021): 335–352. https://doi.org/10.343 07/b.v4i2.304.

Rosyadi, Ahmad Fanani, dan Villarian Bur- han. Rasisme di Papua: Tinjauan Pe- langgaran Hak Asasi Manusia pasca Ka- sus Rasisme Surabaya. Jakarta: Lem- baga Studi dan Advokasi Masyarakat, 2021.

Piper, John. Bloodlines: Race, Cross, and the Christian. Wheaton: Crossway, 2011.

Smith, Andrea. Unreconciled: From Racial Reconciliation to Racial Justice in Chris- tian Evangelicalism. Durham: Duke University Press, 2019.

Tisby, Jemar. The Color of Compromise: The Truth about the American Church’s Complicity in Racism. Grand Rapids:

Zondervan, 2020.

Tisby, Jemar. How to Fight Racism: Coura- geous Christianity and the Journey to- ward Racial Justice. Grand Rapids:

Zondervan, 2021.

Tseng, Timothy. “Race.” Dalam The Oxford Handbook of Evangelical Theology. Di- edit oleh Gerald R. McDermott, 465–

480. Oxford: Oxford University Press, 2010.

Vanhoozer, Kevin J. Is There a Meaning in This Text?: The Bible, The Reader, and the Morality of Literary Knowledge.

Grand Rapids: Zondervan, 1998.

Vanhoozer, Kevin J. dan Daniel J. Treier.

Theology and the Mirror of Scripture: A Mere Evangelical Account. Downers Grove: InterVarsity Press, 2015.

Volf, Miroslav. Exclusion and Embrace: A Theological Exploration of Identity, Otherness, and Reconciliation. Nashville:

Abingdon, 1996.

Vyhmeister, Nancy Jean dan Terry Dwain Robertson. Quality ResearchPapers: For Students of Religion and Theology.

Grand Rapids: Zondervan 2020.

Wallis, Jim. America’s Original Sin: Racism, White, Privilege, and the Bridge to a New America. Grand Rapids: Brasoz, 2016.

Williams, Thaddeus J. Confronting Injustice without Compromising Truth: 12 Ques- tions Christians Should Ask About So- cial Justice. Grand Rapids: Zondervan, 2020.

Winarjo, Hendra. “Etika Kebajikan Kristen di Ruang Publik: Keterbukaan, Keju- juran, dan Keberanian.” Jurnal Abdiel:

Khazanah Pemikiran Teologi, Pendidik- an Agama Kristen dan Musik Gereja 6,

(16)

no. 2 (Oktober 2022): 163–178, https://

doi.org/10.37368/ja.v6i2.426.

Winarjo, Hendra. “Menuju Satu Tubuh de- ngan Berbagai Anggota: Sikap Kaum Injili untuk Memediasi Konflik yang Berpotensi Muncul Akibat Keragaman Demonimasi Gereja di Indonesia.” Jur- nal Amanat Agung (September 2021):

255–283. https://doi.org/10.47754/jaa.

v16i2.495.

Wytsma, Ken. The Myth of Equality: Uncover- ing the Roots of Injustice and Privilege.

Downers Grove, 2017.

Yosia, Adrianus. “Merupa Wujud Evangeli- kalisme di Indonesia: Suatu Usulan Awal.” Veritas: Jurnal Teologi dan Pela- yanan 19, no. 1 (Mei 2020): 85–95.

https://doi.org/10.36421/veritas.v19i1.339.

Referensi

Dokumen terkait

Here Maudy Ayunda started her utterance using Indonesian language by saying “Aku pun masih banyak pertanyaan soal apa sih yang aku mau apa sih passion aku sebenernya.”, then after a

karena dengan belajar dalam kelompok siswa cenderung mampu mengungkapkan tentang suatu hal Prasetya, 2013 Dari hasil observasi, diperoleh informasi bahwa di SMP SLUB Saraswati 1