45 | Jurnal Kybernan, Vol. 15, No. 2, 2023
INTERAKSI ANTARA KOMUNIKASI DAN PENGAWASAN TERHADAP MOTIVASI KERJA APARATUR SIPIL NEGARA (ASN)
INTERACTION BETWEEN COMMUNICATION AND SUPERVISION OF THE WORK MOTIVATION OF THE STATE CIVIL APPARATUS (ASN)
Fadhilah 1, Rusham2, Joko Pramono 3
1Program Studi Ilmu Pemerintahan, Universitas Islam “45” Bekasi
2,3Program Studi Manajemen, Universitas Islam “45” Bekasi
Abstrak
Penelitian tentang komunikasi dan pengawasan pada kinerja karyawan hasilnya masih beragam. Hasil yang beragam ini kemungkinan dikarenakan penelitian tersebut tidak memperhatikan kondisi struktur organisasi dari organisasi yang diteliti. Penelitian ini menggunakan tiga hipotesis, pengaruh komunikasi pada motivasi, pengaruh pengawasan pada motivasi dan pengaruh interaksi antara komunikasi dan pengawasan pada motivasi kerja karyawan. Desain penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan analisis regresi berganda. Lokasi penelitian di Bappeda Kota Bekasi. Hasil penelitian ini menyebutkan komunikasi dan pengewasan masing-masing berpengaruh positif signifikan pada motivasi, sementara interaksi antara komunikasi dan pengawasan berpengaruh negatif signifikan.
Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa di lingkungan karyawan Bappeda yang diperlukan adalah efektifitas komunikasi dan pengawasan. Dari hasil penelitian ini disarankan pengembangan efektifitas pengawasan dan komunikasi ini, dan bagi peneliti lain disarankan untuk mengkonfimasi di lokasi lain dengan memperhatikan struktur organisasinya.
Kata kunci: Komunikasi, pengawasan, motivasi, koordinasi Abstract
Research on communication and supervision on employee performance results are still mixed. These mixed results may be because the study did not pay attention to the condition of the organizational structure of the organization studied. This study uses three hypotheses, the influence of communication on motivation, the influence of supervision on motivation, and the influence of interaction between communication and supervision on employee work motivation. The design of this study is quantitative research with multiple regression analysis. The research location is in Bappeda Bekasi City. The results of this study stated that communication and supervision each had a significant positive effect on motivation, while the interaction between communication and supervision had a significant negative effect. The results of this study can be concluded that in the environment of Bappeda employees what is needed is effective communication and supervision. From the results of this study, it is recommended to develop the effectiveness of this supervision and communication, and for other researchers, it is recommended to confirm in other locations by paying attention to the organizational structure.
I. Pendahuluan
Berkembangnya tehnologi informasi saat ini merubah praktek proses pengelolaan setiap organisasi termasuk organisasi pemerintah yang berkewajiban memberikan pelayanan publik. Saat ini proses kegiatan yang ada dalam setiap organisasi harus menyesuaikan diri, supaya setiap anggota organisasi dapat berkinerja tinggi. Menurut Gibson et. Al (2012), Robin & Ivanicevic (2013), Luthan (2011) menyebutkan bahwa motivasi adalah faktor penting yang akan menentukan besarnya kinerja karyawan. Para ahli tersebut juga menyebutkan bahwa proses komunikasi dan pengawasan kerja akan menentukan besarnya motivasi kerja karyawan tersebut.
Komunikasi adalah kegiatan seseorang sewaktu menyampaian pesan pada orang lain dengan menggunakan alat media komunikasi tertentu. Komunikasi ini merupakan gegiatan penting pada sebuah organisasi. Pesan yang mereka sampaikan akan merupakan bahan dalam melakukan koordinasi dan pengawasan. Dengan demikian bentuk proses komunikasi ini dapat menentukan struktur organisasi yang ada.
Pada struktur organisasi yang datar komunikasi akan merupakan proses koordinasi dari para karyawan untuk menyelesaikan tugas yang menjadi tanggung jawabnya. Sebaiknya pada organisasi birokratis proses komunikasi akan merupakan bentuk pengawasan dan usulan dari hubungan antara karyawan dan pimpinannya. Dengan demikian proses komunikasi adalah proses penting dalam organisasi dalam rangka membangun kinerja karyawan.
Penelitian pengaruh komunikasi terhadap kinerja telah banyak dilakukan, tetapi hasilnya tidak konsisten. Dari sejumlah penelitian tersebut memberikan hasil yang tidak konsisten. Husnaina Mailisa Safitri, Amri, M. Shabri (2012), Sri Utami & Hartarto (2010) yang dilakukan di lingkungan PNS hasilnya komunikasi berpengaruh tidak signifikan pada kinerja. Brahmasari & Siregar (2009), Purwanto (2013) yang meneliti di perusahaan swasta hasilnya komunikasi berpengaruh positif signifikan pada kinerja organisasi. Penelitian Jessica Gani (2014) di lingkungan perusahaan swasta hasilnya negatif signifikan.
Hasil penelitian yang tidak konsisten ini diteliti oleh Pramono (2018), yang menghipotesiskan komunikasi akan berpengaruh signifikan pada kinerja. Untuk karyawan di lingkungan organisasi swasta responnya berbeda dengan di lingkungan PNS. Hasil penelitiannya ini memunjukkan bahwa komunikasi berpengaruh signifikan pada kinerja dan terdapat indikasi bahwa antara karyawan ASN (PNS) dan swasta terdapat perbedaan respon, walaupun belum sampai merubah arah respon.
Pada hasil penelitian yang tidak konsisten ini menarik untuk diteliti motivasi kerja karyawan. Motivasi kerja adalah kondisi psikologi karyawan untuk bekerja mencapai tujuan organisasi (Handoko, 2009), dimana menurut para ahli diatas akan menentukan kinerja karyawan. Hasil penelitian Haris Dwi Rukmana (2018) menyebutkan bahwa motivasi akan berpengaruh positif signifikan pada kinerja karyawan, sementara komunikasi kerja akan berpengaruh positif signifikan pada motivasi kerja.
Pengawasan pegawai yang baik, tentu harus diimbangi dengan komunikasi yang baik antar pimpinan dengan pegawai, sebab komunikasi yang baik sangat penting bagi seluruh fungsi organisasi, karena sistem operasional dan manajemen digerakkan oleh komunikasi. Pada kenyataannya masih ada yang belum dapat berkomunikasi dengan baik di lingkungan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Bekasi meskipun telah lama bekerja dan telah memberikan kinerja sebaik mungkin. Masalah komunikasi di Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Bekasi ini seperti kurang saling tegur sapa antara atasan dengan bawahan, ada pegawai yang tidak masuk selama beberapa hari tanpa keterangan, tetapi pihak atasan tidak menegur sesuai aturan organisasi, seharusnya bawahan mengkomunikasikan alasan kenapa tidak masuk kerja kepada atasan, agar tidak terjadi kesalah pahaman antara atasan dengan bawahan. Disinilah pentingnya atasan mengawasi kinerja para pegawainya, termasuk tingkat kehadiran pegawai. Tentu hal ini akan mempengaruhi motivasi para pegawai lainnya dalam bekerja, Oleh sebab itu, bila pihak atasan kurang mengawasi para pegawainya dan pihak atasan kurang dapat berkomunikasi dengan baik terhadap bawahannya. Hal ini membuat motivasi para pegawainya menurun dan akan mempengaruhi hasil kinerjanya.
Berdasarkan uraian diatas menunjukan bahwa pelaksanaan pengawasan dan komunikasi dapat mempengaruhi tinggi rendahnya motivasi pegawai. Memperhatikan hal tersebut, penulis tertarik untuk melakukan penelitian lebih lanjut tentang masalah pengawasan dan komunikasi dalam pengaruhnya terhadap motivasi dengan judul interaksi antara komunikasi dan pengawasan karyawan pada motivasi kerja ASN, Bappeda Kota Bekasi.
Tujuan penelitian ini adalah:
1. Untuk mengetahui pengaruh pengawasan terhadap motivasi kerja pegawai Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Bekasi.
2. Untuk mengetahui pengaruh komunikasi kerja terhadap motivasi kerja pegawai Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Bekasi.
3. Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh interaksi pengawasan dan komunikasi kerja terhadap motivasi kerja pegawai Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Bekasi.
Pengawasan (controlling) merupakan fungsi manajerial yang keempat setelah perencanaan, pengorganisasian, dan pengarahan. Sebagai salah satu fungsi manajemen, mekanisme pengawasan di dalam suatu organisasi memang mutlak diperlukan.
Pelaksanaan suatu rencana atau program tanpa diiringi dengan suatu sistem pengawasan yang baik dan berkesinambungan, jelas akan mengakibatkan lambatnya atau bahkan tidak tercapainya sasaran dan tujuan yang telah ditentukan.
Pengawasan memegang peranan yang sangat penting, karena dengan pengawasan dapat mencegah terjadinya penyimpangan atau penyelewengan dalam pelaksanaan pekerjaan pegawai sehingga upaya perbaikan dan penyempurnaan dapat dilakukan sedini mungkin. Pengawasan yang baik dan efektif dapat menjamin pekerjaan
pegawai dilaksanakan sesuai dengan rencana, aktivitas kerja berjalan tertib dan lancar yang pada akhirnya dapat meningkatkan kinerja pegawai dalam upaya mencapai tujuan organisasi. Menurut siagian (2007:125), “Pengawasan adalah proses pengamatan dari seluruh kegiatan organisasi guna lebih menjamin bahwa semua pekerjaan yang sedang dilakukan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan atau ditentukan sebelumnya”.
Istilah komunikasi atau dalam bahasa inggris communication berasal dari kata latin communication, dan bersumber dari kata communis berasal dari sama. Sama disini maksudnya adalah sama makna. Komunikasi merupakan salah satu bagian penting dalam kehidupan organisasi, untuk menciptakan kesanaan pemahaman atas informasi yang disampaikan satu sama lain. Fungsi manajemen dari mulai perencanaan, pengorganisaisan, pengarahan sampai dengan pengawasan semuanya melibatkan komunikasi. Komunikasi membantu para anggota organisasi untuk mencapai tujuan individu maupun tujuan organisasi, merespon dan mengimplementasikan perubahan organisasi, mengkoordinasi aktivitas organisasi, serta berperan dalam semua tindakan yang relevan. Komunikasi yang efektif juga membantu organisasi dalam mencapai sasaran atau tujuannya.
Setiap pemimpin selalu berhubungan dengan proses komunikasi. Pemimpin yang berhasil adalah mereka yang dapat menjalankan komunikasi dengan baik dan efektif, yaitu dapat menjadi penerima sekaligus komunikator yang efektif. Komunikasi dikatakan efektif apabila ada umpan balik serta mendapat respon yang diharapkan dari audience. Komunikasi yang efektif merupakan pemahaman bersama antara individu yang menyampaikan pesan dengan individu yang menerima pesan.
Motivasi berasal dari kata latin, Mavere yang berarti dorongan atau daya penggerak. Motivasi ini hanya diberikan kepada manusia, khususnya kepada para bawahan atau pengikut. Motivasi mempersoalkan bagaimana carannya mendorong gairah kerja bawahan, agar mereka mau bekerja keras dengan memberikan semua kemampuan dan keterampilannya untuk mewujudkan tujuan organisasi.
Menurut Hasibuan (2014:143), “Motivasi adalah pemberian daya penggerak yang menciptakan kegairahan kerja seseorang agar mereka mau bekerja sama, bekerja efektif, dan terintegrasi dengan segala daya upayanya untuk mencapai kepuasan”
Sedangkan menurut Mangkunegara (2014:93), berpendapat bahwa “motivasi adalah kondisi yang menggerakan pegawai agar mampu mencapai tujuan dari motifnya.”
Menurut Wibowo (2010:379), “Motivasi merupakan dorongan terhadap serangkaian proses perilaku manusia pada pencapaian tujuan. Sedangkan elemen yang terkandung dalam motivasi meliputi unsur membangkitkan, mengarahkan, menjaga, menunjukkan intesitas, bersifat terus menerus dan adanya tujuan.”
Pentingnya motivasi karena motivasi adalah hal yang menyebabkan, menyalurkan, dan mendukung perilaku manusia, supaya mau bekerja giat dan antusias mencapai hasil yang optimal. Motivasi semakin penting karena manajer membagikan pekerjaan pada bawahannya untuk dikerjakan dengan baik dan terintegritas kepada tujuan yang diinginkan.
Dari beberapa definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa motivasi kerja adalah suatu dorongan yang timbul dalam diri seseorang di dalam usaha memenuhi keinginan dan kebutuhannya baik secara materi maupun nonmateri, mengharapkan kepuasan hasil kerja, dan menyalurkan perilaku individu tersebut ke arah pencapaian suatu tujuan dan mendapatkan hasil kinerja yang optimal dan efektif.
II. Metode Penelitian
Dalam penelitian ini penulis melakukan penelitian terhadap Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Bekasi. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Metode deskriptif adalah penelitian yang dilakukan untuk mendesripsikan suatu keadaan atau fenomena-fenomena apa adanya. Penggunaan metode deskriptif ini diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai hubungan pengawasan dan komunikasi terhadap motivasi kerja pada Badan Perencanaan Pembangunan Daerah kota Bekasi. Metode ini dimulai dengan mengumpulkan data, menganalisis data dan menginterprestasikannya. Sugiyono (2007:14), menyatakan bahwa statistik deskriptif adalah statistik yang digunakan untuk menganalisa data dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan data yang telah terkumpul sebagaimana adanya.
Berdasarkan data yang ada dan memberikan interprestasi secara rasional untuk memperoleh makna dan implikasi dari masalah yang ingin dibahas dalam penelitian ini.
Metode analisis secara statistik diperlukan untuk membuktikan kebenaran suatu hipotesis dalam penelitian
Penelitian ini di desain sebagai penelitian kuantitatif. Menurut Cooper, Donald R.; Schindler Pamela S. (2014), desain penelitian kuantitatif dimulai dari proses perumusan masalah, kemudian dilanjutkan dengan perumusan kerangka pemikiran dan hipotesis, dan kemudian membuktikan hipotesis tersebut signifikan atau tidak. Dalam desain penelitian tersebut, setiap variabel harus dirumuskan indicator dan factor- faktornya supaya didapatkan kualitas data yang baik dan bentuk hipotesis yang benar.
Penelitian ini menggunakan 4 variabel, variabel dependennya adalah Motivasi kerja karyawan. Variabel independennya Pengawasan, Komunikasi kerja serta interaksi antara variabel Pengawasan dan Komunikasi Kerja tersebut. Adapun model penelitiannya adalah:
Y = a + 𝛽₁X₁ + 𝛽₂X₂ + 𝛽3 X₁*X₂ + e Dimana:
Y : Variabel Motivasi kerja Karyawan X1 : Variabel Pengawasan
X2 : Variabel Komunikasi kerja a : Konstanta
𝛽₁ : Koefisien regresi Pengawasan 𝛽₂ : Koefisien regresi Komunikasi Kerja
𝛽3 : Koefisien regresi interaksi antara Pengawasan dan komunikasi kerja
Pengolahan data dalam membuktikan hipotesis, pada penelitian ini akan digunakan rig regretion, dari analisis regresi berganda. Fase pertama akan dihitung analisis regresi tanpa memasukkan variabel interaksi antara kepemimpinan dan lingkungan kerja, kemudian fase kedua dengan memasukkan interaksi kedua variabel tersebut. Dengan pengolahan seperti ini diharapkan didapatkan pengaruh bersih dari dimasukkannya variabel interaksi dari kepemimpinan dan lingkungan kerja tersebut.
Telah dijelaskan bahwa pengaruh komunikasi dan pengawasan pada kinerja karyawan masih belum stabil, hasil penelitian yang satu tidak konsisten dengan hasil penelitian lain. Ada penelitian yang menghasilkan komunikasi dan pengawasan berpengaruh positif terhadap kinerja karyawan. Bila pengaruh komunikasi dan pengawasan pada kinerja ini masih beragam, maka pengaruhnya pada motivasi juga akan beragam.
Bila pengaruh komunikasi pada kinerja karyawan ini masih beragam, dan demikian pula pengaruh pada motivasi kerja karyawan juga akan beragam. Pengaruh komunikasi dan pengawasan ini pada motivasi kerja karyawan juga akan lebih banyak berpengaruh positif. Bersadarkan alasan ini maka dapan dihipotesiskan bahwa pengaruhnya juga akan positif. Berdasarkan alasan ini dapsi disusun hipotesis seperti dibawah:
Hipotesis 1: Pengawasan berpengaruh positif terhadap motivasi kerja pegawai Hipotesis 2: Komunikasi berpengaruh positif terhadap motivasi kerja pegawai Pada penelitian model penelitiannya menggunakan model struktural, dengan memodelkan sebagai hubungan intervening. Hasil penelitiannya menyebutkan bahwa hubungan intervening ini signifikan. Hasil penelitian ini merupakan salah satu jawaban mengapa hasil penelitian pengaruh komunikasi dan pengawasan yang dilakukan dengan model fungsional biasa, tidak model struktural hasilnya beragam. Pada penelitian ini akan digunakan model fungsional struktural dengan model hubungan interaksinya, yaitu bagaimana bila pengawasannya bervariasi dipadukan dengan komunikasi yang juga bervariasi. Hubungan dengan pola interaksi ini diduga akan berpengaruh signifikan.
Hipotesis 3: Interaksi antara Pengawasan dan Motivasi Berpengaruh pada Kinerja
Dari tiga hipotesis diatas dapat disusun kerangka pemikiran seperti diagram dibawah. Pada kerangka pemikiran ini terhadap pola hubungan fungsional biasa. Pola hubungan ini dicantumkan sebagai hipotesis pertama dan kedua. Tetapi variabel komunikasi dan pengawasan ini secara bersama-sama akan membentuk pola bubungan interaksi dan dibentuk pola hubungan Hipotesis III.
Gambar 1. Alat Pikir Pengaruh Pengawasan dan Komunikasi terhadap Motivasi Kerja
Komunikasi (X2) Komunikasi Vertikal Komunikasi Horizontal Komunikasi Diagonal
Sumber: Handoko, (2009:280)
III. Hasil Penelitian dan Pembahasan
Badan Perencanaan Pembangunan Daerah kota Bekasi (BAPPEDA) merupakan lembaga teknis daerah dibidang penelitian dan perencanaan pembangunan daerah yang dipimpin oleh seseorang kepala badan yang berada dibawah dan bertanggungjawab kepada bupati melalui sekretaris daerah, badan ini merupakan tugas pokok membantu bupati dalam penyelenggaraan pemerintah daerah dibidang penelitian dan perencanaan pembangunan daerah.
Jumlah Karyawan Bappeda Kota Bekasi berjumlah 69 orang, dimana semua karyawan ini dijadikan sampel penelitian. Adapun karakteristik karyawan tersebut diuraikan berikut. Jenis kelamin diperoleh jumlah responden dengan jenis kelamin laki- laki adalah 28 orang atau (41%) dan sebanyak 41 orang atau (59%) merupakan responden perempuan. Untuk umur diperoleh jumlah responden dengan umur antara 25-35 tahun sebanyak 22 orang atau (32%), berumur antara 36-45 tahun sebanyak 36 orang atau (52%), dan sebanyak 11 orang atau (16%) merupakan responden yang berumur >45 tahun. Pendidikan diperoleh jumlah responden dengan tingkat pendidikan SLTA adalah 10 orang atau (14%), pada tingkat pendidikan Diploma (DI-III) adalah sebanyak 42 orang atau (61%), dan jumlah responden yang memiliki latar belakang pendidikan S1 (S-1/S-2) adalah 17 orang atau (25%). Masa kerja diperoleh jumlah responden dengan masa kerja 5-15 tahun adalah 28 orang atau (41%), pada masa kerja 16-25 tahun sebanyak 31 orang atau (45%), dan masa kerja >25 tahun adalah 10 orang atau (14%). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa karyawan Bappeda umumnya terdiri dari karyawan yang senior, dengan pendidikan yang cukup tinggi.
Pengawasan (X1) Penetapan Standar
Penentuan ukuran kegiatan Pengukuran kegiatan Kegiatan dan standar Tindakan Koreksi
Sumber: Handoko (2009:362)
Motivasi Kerja (Y) Prestasi kerja Tanggung jawab Pengembangan potensi Pengakuan
Pekerjaan itu sendiri
Sumber: Hasibuan (2014:143)
X2
X3
Tabel 1. Data Karakteristik Karyawan Bappeda
No Uraian Jumlah Persentase (%)
Jenis Kelamin
1 Laki-laki 28 41%
2 Perempuan 41 59%
Jumlah 69 100%
Umur
1 25-35 tahun 22 32%
2 36-45 tahun 36 52%
3 >45 tahun 11 16%
Jumlah 69 100%
Pendidikan
1 SLTA 10 14%
2 Diploma (DI-III) 42 61%
3 Sarjana (S-1/S-2) 17 25%
Jumlah 69 100%
Masa Kerja
1 5-15 tahun 28 41%
2 16-25 tahun 31 45%
3 >25 tahun 10 14%
Jumlah 69 100%
Demikian pula jika dilihat dari kepangkatan mereka. Kepangkatan ini dapat dilihat dari Tabel 2. Dari tabel ini terlihat bahwa 64% adalah golongan III, dan 19 % golongan IV. Golongan II sedikit dan golongan I tidak ada. Dari data ini dapat disimpulkan bahwa karyawan di Bappeda ini terdiri dari mereka yang kepangkatannya sudah cukup tinggi. Kepangkatan yang sudah cukup tinggi dan pengalaman dan masa keja yang lama, hal ini tentu akan memiliki pengaruh pada perilaku mereka.
Tabel 2. Kepangkatan Pegawai Negeri Sipil Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Bekasi
Golongan Populasi
Orang Prosentase
Golongan IV 13 19%
Golongan III 44 64%
Golongan II 12 17%
Golongan I - -
Jumlah 69 100%
Sumber: Bappeda Kota Bekasi
Deskripsi tentang komunikasi karyawan, persepsi tentang pengawasan dan motivasi kerja mereka digambarkan pada tabel berikut. Dari 69 responden yang diwawancarai menyebutkan bahwa motivasi kerja mereka sangat tinggi (nilai 4,2 dari 5 yang dianggap sempurna). Demikian pula komunikasi kerja yang terjadi dan persepsi terhadap pengawan kerja pada mereka. Nilainya diatas 3,5 (dari 5 yang dianggap sempurna).
Tabel 3. Descriptive Statistics Mean Std. Deviation N Motivasi 4.2657 .42661 69 Komunikasi 3.7657 .71818 69
P_awas 3.6335 .33456 69
Kom_awas 13.7167 3.07593 69
Pada penelitian ini, ingin diteliti pengaruh pengawasan dan komunikasi pada motivasi kerja. Dengan motivasi kerja yang tinggi diharapkan kinerja mereka juga akan tinggi. Penelitian ini didapatkan nilai korelasi korelasi sebesar 0,58 dan koefisien determinasi 0,339. Bila diuji pengaruh dari variasi komunikasi dan pengawasan ini dapat menerangkan dengan signifikan variasi motivasi kerja dari karyawan Bappeda ini.
Tabel 4. Model Sumary
Model R R Square Ajudted R
Square
Std Error of
Estimatr
1 .582a .339 .309 .35470
Dari tabel Anova berikut dapat kita lihat bahwa F hitung akan sebesar 11,123 dengan tingkat signifikan 0,00 ini berarti model penelitian yang disusun telah fit, dan uji t bisa dilakukan untuk menguji hipotesis yang disusun. Penelitian ini menggunakan tiga variabel independen, yaitu Variabel komunikasi, variabel Pengawasan dan variabel interaksi antara komunikasi dan pengawasan. Uji F yang signifikan menjelaskan bahwa masing-masing variabel yang digunakan yang tergabung dalam sebuah model fungsional berpengaruh signifikan pada variabel terikannya, variabel mitivasi.
Tabel 5. ANOVAb
Model Sum of
Squares df Mean Square F Sig.
1
Regression 4.198 3 1.399 11.123 .000a
Residual 8.178 65 .126
Total 12.376 68
a. Predictors: (Constant), Kom_awas, P_awas, Komunikasi b. Dependent Variabel: Motivasi
Seperti kita ketahui uji t akan digunakan untuk menguji signifikasi masing- masing variabel. Seperti telah dijelaskan penelitian ini mengajukan tiga hipotesis, yaitu:
Hipotesis 1: pengaruh variabel pengawasan terhadap motivasi kerja pegawai (X1).
Hipotesis 2: pengaruh variabel komunikasi terhadap motivasi kerja pegawai (X2).
Hipotesis 3: Interaksi antara Pengawasan dan Motivasi Berpengaruh pada Kinerja Tabel 6. Coefficientsa
Model Unstandardized Coefficients Standardized
Coefficients t Sig.
B Std. Error Beta
1 (Constant) -6.077 2.750 -2.210 .031
Komunikasi 2.211 .731 3.722 3.024 .004
P_awas 2.742 .751 2.151 3.651 .001
Kom_awas -.579 .199 -4.177 -2.914 .005
a. Dependent Variabel: Motivasi
Y = -6.077 + 2.211 X₁ + 2.742 X₂ - 0.579 X₁*X₂ + e
Untuk Hipotesis I yang menganalisis pengaruh komunikasi pada motivasi kerja, perhitungan nilai t mendapatkan angka 3.024 dengan tingkat signifikan 0,004. Dari hasil ini Hipotesis I dapat dinyatakan berpengaruh positif signifikan. Dengan demikian hipotesis I diterima.
Untuk hipotesis II yang menganalisis pengaruh pengawasan kerja pada motivasi pegawai, perhitungan nilai t didapatkan nilai 3.651 dengan tingkat signifikasi 0,001 yang artinya pengeruh pengawasan kerja tersebut berpengaruh positif signifikan. Dengan demikian hipotesis II diterima.
Untuk Hipotesis III yang menganalisis pengaruh interaksi antara komunikasi dan pengawasan pada motivasi didapatkan angka nilai t hitung sebesar -4.177 dengan tingkat signifikasi 0.005. Dengan hasil perhitungan ini dapat disimpulkan bahwa hipotesis III juga diterima.
Pembahasan
Hasil penelitian ini menyebutkan bahwa komunikasi dan pengawasan kerja akan berpengaruh positif pada motivasi kerja karyawan. Tetapi interaksi antara komunikasi dan pengawasan justru akan berpengaruh negatif. Komunikasi dan pengawasan akan berkaitan dengan proses koordinasi dalam melakukan proses kerja.
Komunikasi dan pengawasan akan meningkatkan motivasi kerja artinya motivasi kerja karyawan akan bertambah baik tatkala komunikasi kerja berjalan baik, dan karyawan diawasi oleh pimpinan dalam melakukan kerja sehingga karyawan yakin pekerjaannya tidak ada kesalahan.
Menurut Gibson et. Al (2012), Robin & Ivanicevic (2013), Luthan (2011) bentuk motivasi kerja karyawan ditentukan oleh kondisi pekerja, dimana konsepnya akan konsisten dengan teori X atau Y dari McGregor. Dari konsep ini, bentuk pengawasan kerja yang diberikan akan struktur organisasinya. Pada konsep teori X, pengawasan kerjanya tinggi diperlukan untuk mendorong motivasi kerja karyawan. Konsep teori X ini bila diterapkan akan mendorong munculnya struktur organisasi birokrasi.
Sebaliknya pada konsep teori Y, pengawasan yang diperlukan untuk mendorong kinerja karyawan hanya pada taraf tertentu, mereka harus diberikan otonomi untuk mengatur tugasnya. Dengan demikian kadar komunikasi yang diperlukan akan berbeda-beda, tergantung struktur organisasi yang disusun, organisasi birokratis kebutuhan komunikasi terutama bentuk komunikasi perintah dari atasan kuat, dan struktur organisasi dengan otonomi tidak banyak diperlukan. Perbedaan struktur organisasi akan berkaitan dengan kebutuhan komunikasi supaya didapatkan motivasi kerja karyawan yang tinggi.
Penelitian ini dilakukan di lingkungan Aparatur Sipil Negara (ASN). Pada lingkungan ASN dimana struktur organisasi cukup birokratis, maka karyawan akan senang bila pengawasan pimpinan dilakukan efektif. Demikian pula proses komunikasi yang merupakan inti pelaksanaan koordinasi dilakukan dengan baik akan mendorong motivasi kerja. Pada struktur organisasi yang birokratis akan membentuk struktur organisasi yang mekanistik, dimana ciri utamanya adalah proses pengawasan dibutuhkan terlihat dari hasil penelitian ini.
Proses komunikasi sebenarnya diperlukan pada struktur organisasi organik, karena proses komunikasi adalah proses yang dilakukan pada pemberian otonomi pada karyawa, struktur organisasi organik. Dari deskripsi Bappeda dijelaskan, pegawai Bappeda terdiri dari mereka yang memiliki jabatan golongan ruang yang cukup tinggi, dan tingkat pendidikannya juga tinggi, maka mereka dapat dikatakan golongan karyawan yang memiliki ketrampilan tinggi. Golongan ini dalam bekerja lebih menuntut otonomi, dan proses koordinasi efektif. Tuntutan otonomi ini terlihat dalam penelitian ini yang menyebutkan pengaruh motivasi terhadap motivasi berpengaruh signifikan.
Tuntutan otonomi ini juga dapat dilihat dari interaksi antara pengawasan dan komunikasi justru berpengaruh negatif signifikan. Pengawasan yang disertai dengan proses komunikasi akan merupakan proses pengawasan yang mendalam. Proses pengawasan yang terlalu mendalam inilah yang tidak disukai oleh karyawan yang membutuhkan proses otonomi. Kebutuhan otonomi inilah yang kemungkinan menyebabkan interaksi antara pengawasan dan komunikasi justru berpengaruh negatif terhadap motivasi kerja.
Pada bagian awal telah dijelaskan bahwa penelitian pengaruh komunikasi pada kinerja karyawan saat ini masih belum stabil. Pada satu penelitian menghasilkan pengaruh komunikasi pada kinerja karyawan. Hasil penelitian yang tidak konsisten ini kemungkinan dihasilkan dari motivasi kerja yang juga tidak konsisten. Hasil penelitian yang tidak konsisten ini kemungkinan pada penelitian tersebut tidak
mempertimbangkan struktur organisasi dalam penelitian mereka. Dengan demikian disarankan penelitian tentang pengawasan dan komunikasi ini dilakukan dengan mempertimbangkan struktur organisasi yang ada.
IV. Kesimpulan
Penelitian ini menyimpulkan bahwa pengaruh komunikasi dan pengawasan kerja perpengaruh pada motivasi kerja karyawan. Tetapi sebaliknya interaksi antara pengawasan dan komunikasi justru berpengaruh negatif signifikan. Hasil penelitian ini sejalan dengan kondisi lokasi penelitian yang dilakukan di lingkungan Bappeda Kota Bekasi. Sebagai salah satu lembaga di lingkungan ASN membutuhkan proses pengawasan yang cukup. Pada sisi lain karena profesionalisme karyawan cukup tinggi maka dibutuhkan proses otonomi yang cukup.
Berdasarkan kesimpulan ini maka disarankan pada lembaga ini (Bappeda) untuk mengelola proses otonomi kerja yang media, pengawasan dan komunikasi seimbang. Ukuran seimbang ini adalah proses otonomi yang diberikan optimal.
Sementara pada peneliti lain untuk melakukan konfirmasi hasil penelitian ini dengan memperhatikan struktur organisasi supaya penelitian yang meneliti pengaruh komunikasi dan pengawasan menghasilkan hasil penelitian yang konsisten.
Referensi
Aczel, Amir D. (1999). Complete Business Statistik (fourth edition). Irwin/McGraw-Hill Adisasmita, Raharjo. (2011). Pengelolaan Pendapatan & Anggaran Daerah. Penerbit
Graha Ilmu: Yogyakart
Amirullah dan Haris Budiyono. (2004). Pengantar Manajemen. Edisi kedua. Yogyakarta.
Graha Ilmu.
Brahmasari, Ida Ayu & Peniel Siregar. (2009). Pengaruh budaya organisasi, kepemimpinan situasional dan pola komunikasi terhadap disiplin kerja dan kinerja karyawan pada pt central proteinaprima tbk. JURNAL APLIKA MANAJEMEN 7 (1).
Dua. Jakarta: Bumi Aksara.
Gani, J. (2014). Pengaruh hambatan komunikasi terhadap kinerja karyawan hotel midtown surabaya. JURNAL E-KOMUNIKASI. Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Kristen Petra, Surabaya 2.(1).
Handoko, Hani. (2009). Manajemen. BPFE Jogyakarta.
Handoko, T. Hani. 2014. Manajemen Personalia dan Manajemen Sumber Daya Manusia.
Edisi 2. Yogyakarta: BPFE
Hasan, M iqbal. (2008). Pokok-pokok Materi Statistik 2 (statistic inferenshif) Edisi
Hasan, Muh dan Rifky Setiawan. (2023). Komunikasi Organisasi Dan Pengawasan Sdm Terhadap Produktivitas Kerja Pt. Xyz Di Tangerang. JURNAL COMPARATIVE:
EKONOMI DAN BISNIS, 5 (1) 2023, hal 78-92
Hasibuan, Malayu SP. (2014). Manajemen Sumber Daya Manusia. Edisi Revisi, Jakarta: PT Bumi Aksara.
Husnaina Mailisa Safitri, Amri, M. Shabri. (2012). Pengaruh gaya kepemimpinan, kerjasama tim, dan gaya komunikasi terhadap kepuasan kerja serta dampaknya terhadap kinerja pegawai pada sekretariat daerah kota sabang. JURNAL ILMU MANAJEMEN PASCASARJANA UNIVERSITAS SYIAH KUALA, 1 (2), 1- 17.
James L. Gibson, John M. Ivancevich, James H. Donnelly, Jr., & Robert Konopaske. (2012).
ORGANIZATIONS: BEHAVIOR, STRUCTURE, PROCESSES, FOURTEENTH EDITION.
McGraw-Hill, New York, USA
Lawasi, Eva Silvani dan Boge Triatmanto. (2017). PENGARUH KOMUNIKASI, MOTIVASI, DAN KERJASAMA TIM TERHADAP PENINGKATAN KINERJA KARYAWAN. JURNAL MANAJEMEN DAN KEWIRAUSAHAAN · Vol 5 No. 1 June 2017
Luthans, Fred. (2011). Organizational Behavior: An Evidence-Based Approach. Twelfth Edition. McGraw-Hill/Irwin, USA
Mangkunegara, Anwar Prabu. (2014). Evaluasi Kinerja SDM. Cetakan ketujuh. Bandung:
PT Remaja Revika Aditama.
Nursan, Fakhri Kahar. (2019). Pengaruh Pengawasan Terhadap Kinerja Pegawai (Studi Di Kantor Badan Perencanaan Pembagunan Daerah Kabupaten Gowa).
BIROKRAT: JURNAL ILMU ADMINISTRASI PUBLIK ISSN: 2354-5925 Volume 8, No.
2 Agustus 2019 37
Pramono, Joko, Fadhilah, dan Rusham. (2018). Perbedaan Komunikasi Kerja Dari Karyawan PNS Dan Swasta (Survey Mahasiswa Pekerja Di Unisma Bekasi).
OPTIMAL: Jurnal Ekonomi dan Kewirausahaan Vol.12 No.2 2018
Pramono, Joko. (2015). Kapabilitas organisasi sekolah dalam meluluskan siswa: Kasus Kelulusan UN di sekolah “SMA Mahanaim Bekasi” paradigma. XXI (01)
Pramono, Joko. (2017). Pengaruh Kepemimpinan Transaksional Dan Tranformasional Terhadap Kinerja Dari Karyawan Struktural Dan Fungsional (Dosen) (Budaya Organisasi)(Survey Di Unisma). Jurnal LPPM: Paradigma, 2017, 16 (2)
Rampengan, Briando L; Bernhard Tewal; dan Greis M. Sendow. (2019). Pengaruh Komunikasi, Pengawasan Dan Kualitas Kehidupan Kerja Terhadap Kinerja Karyawan Hotel Aryaduta Manado The Effect Of Communication, Supervision And Quality Of Work Life On Employee Performance Of Hotel Aryaduta Manado Oleh:
Clief Jurnal EMBA Vol.7 No.3 Juli 2019, Hal. 2999 – 3008
Siagian, Sondang, P. (2014). Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta: Bumi Aksara.
Sri Utami, Setyaningsih & Agus Hartanto. (2010). Pengaruh Kepemimpinan, Motivasi, Komunikasi Dan Lingkungan Kerja Terhadap Kinerja Pegawai Kecamatan Jumantono Kabupaten Karanganyar. JURNAL MANAJEMEN SUMBERDAYA MANUSIA. 4 (1) 58 – 67.
Sugiyono. (2007). Statistik Untuk Penelitian. Cetakan Kedua Belas (Edisi Revisi).
Bandung: Alfabeta
Sugiyono. (2013). Metode Penelitian Bisnis. Bandung: Alfabeta
Sugiyono. (2014). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan Kombinasi (Mixed Methods). Bandung: Alfabeta
Suseno, Krishna Santosa Yusat. Pengaruh Komunikasi, Pengawasan Terhadap Kinerja Guru Dan Karyawan SMP Negeri 2 Jatilawang. STIE Satria, Purwokerto. JURNAL ORIENTASI BISNIS DAN ENTREPRENEURSHIP. Vol 3, No 2 (2022) DESEMBER 2022. https://academicjournal.yarsi.ac.id/index.php/jobs DOI:
https://doi.org/10.33476/jobs.v3i2.2912 97
Usman, Husaini. (2013). Manajemen Teori, Praktik, dan Riset Pendidikan. Cetakan Empat.
Jakarta: PT Bumi Aksara.
Wibowo. (2014). Manajemen Kinerja. Jakarta
Widanarto, Agustinus. (2012). Pengawasan Internal, Pengawasan Eksternal Dan Kinerja Pemerintah. JURNAL ILMU ADMINISTRASI NEGARA, Volume 12, Nomor 1, Juli 2012: 1 – 73