• Tidak ada hasil yang ditemukan

It means interpersonal communication and work motivation simultaneously affect the performance of employees at the Attorney General’s Office in South Sulawesi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "It means interpersonal communication and work motivation simultaneously affect the performance of employees at the Attorney General’s Office in South Sulawesi"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS KOMUNIKASI INERPERSONAL DAN MOTIVASI KERJA TERHADAP KINERJA PEGAWAI

(STUDI KASUS PADA KEJAKSAAN TINGGI SULAWESI SELATAN)

Katrina Via1, Harry Yulianto2, Dyan Fauziah Suryadi3

1,2,3Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi YPUP Makassar

1[email protected], 2[email protected], 3[email protected]

ABSTRACT

This research aims to find out the effect of interpersonal communication and work motivation on employee performance at the Attorney General’s Office in South Sulawesi. This research was a quantitative research. The population and sample of this research were 50 employees. The data collection methods used were questionnaires and documentation. The data analysis technique used was validity test and reliability test, multiple linear regression analysis test. The analysis method used SPSS analysis. The results showed that there was a positive and significant influence between interpersonal communication and work motivation on the performance of employees at the Attorney General’s Office in South Sulawesi of 0.729 or 72.9%. This shows that there is a positive relationship to the dependent variable, the influence of the independent variable on the dependent variable is 72.9%, which means that employee performance is influenced by interpersonal communication and work motivation while the rest 27.1% can be explained by other factors. Based on the F test, it was obtained that T test > T table. It means interpersonal communication and work motivation simultaneously affect the performance of employees at the Attorney General’s Office in South Sulawesi.

Keywords: Interpersonal Communication, Work Motivation, and Employee.

PENDAHULUAN

Pada dasarnya manusia adalah sebagai mahluk individu yang unik berbeda antara satu dengan lainnya. Secara individu juga manusia ingin memenuhi kebutuhannya masing- masing, manusia adalah mahkluk hidup yang hidup dalam kelompok atau populasi, manusia disebut juga dengan mahkluk sosial karena manusia membutuhkan individu lain untuk menunjang kehidupannya. Manusia membutuhkan interaksi untuk segala aktivitasnya, seperti aktivitas untuk makan dan aktivitas sosial lainnya.

Manusia dapat dikatakan mahkluk sosial karena pada dirinya terdapat dorongan untuk berhubungan atau berinteraksi dengan orang lain, dimana terdapat kebutuhan untuk berteman dengan orang lain yang sering didasari atas kesamaan ciri atau kepentingan masing-masing. Manusia dapat dikatakan mahkluk sosial karena pada dirinya terdapat dorongan untuk berhubungan atau berinteraksi dengan orang lain, dimana terdapat kebutuhan untuk berteman dengan orang lain yang sering

didasari atas kesamaan ciri atau kepentingan masing-masing. Dalam kehidupan sehari-hari setiap individu membutuhkan komunikasi untuk berinteraksi antara satu individu dengan individu lainnya, komunikasi berasal dari bahasa latin communis yang berarti “membuat kesamaan” atau membuat dua kebersamaan atau lebih. Akar kata communis adalah communico yang artinya berbagi, yang dimaksud berbagi dalam pengertian yang telah diuraikan adalah pemahaman bersama antara komunikator dan komunikan melalui pertukaran pesan.

Organisasi merupakan kesatuan sosial yang dikoordinasikan secara sadar dengan sebuah batasan yang reaktif dapat diidentifikasikan bekerja secara terus menerus untuk mencapai tujuan. Suatu organisasi tidak dapat berjalan kalau tidak ada manusia didalamnya karena suatu organisasi merupakan kelompok manusia dari berbagai latar belakang berbeda baik kepribadian, pendidikan, lingkungan, status ekonomi dan sebagainya disatukan dengan satu tujuan yang sama dalam sebuah perusahaan. Dalam setiap

(2)

organisasi atau perusahaan komunikasi sanagtlah dibutuhkan agar tidak terjadi miss communication antara anggota atau pegawai, interaksi dilakukan melalui komunikasi baik secara verbal maupun non-verbal, baik lisan maupun tulisan.

Kelompok-kelompok manusia dimanapun juga selalu hidup bersama dan bekerja secara kooperatif diberbagai bidang kehidupan untuk mencapai tujuan tertentu.

Sehubungan dengan hal itu perlu untuk menjaga komunikasi dalam suatu organisasi agar bisa mengenal satu sama lain dan menciptakan sebuah keharmonisan agar terjalin kerja sama yang baik untuk mencapai tujuan bersama. Kenali khalayakmu adalah prinsip dasar dalam berkomunikasi. Karena mengetahui dan memahami karakteristik penerima berarti salasatu peluang untuk mencapai keberhasilan komunikasi.

Komunikasi interpersonal adalah komunikasi antar dua orang atau lebih dalam suatu perusahaan atau organisasi yang mencakup seluruh aliran informasi diantara semua pegawai yang berada dalam organisasi.

Komunikasi interpersonal pada Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan bagian pembinaan sangat baik, harus jelas dan ektif sehingga terjadi arus informasi dan arus komunikasi yang baik, dan akan memberikan kekuatan pada pegawai untuk bekerja lebih maksimal dan menghasilkan kinerja yang baik.

salah satu faktor yang mendukung peningkatan kinerja pegawai adalah dengan cara menjalin hubungan yang baik (good relationship) dan komunikasi. Komunikasi merupakan aktivitas dasar manusia, dengan berkomunikasi manusia dapat saling berhubungan satu sama lain.

Kinerja yang baik bisa dilihat dari kemampuan, tanggung jawab dan prestasi yang tercapai oleh pegawai.

Pegawai merupakan salah satu aset terpenting bagi instansi untuk menjamin tercapainya tujuan. Pada saat seseorang akan memasuki lingkungan kerja maka secara otomatis pegawai akan terikat dan mengikatkan diri pada perjanjian yang ada, perjanjian tersebut berupa lisan dan juga tulisan, sehingga pegawai diwajibkan untuk mematuhi perjanjian yang telah disepakati bersama. Sehubungan dengan hal ini maka pembinaan pegawai harus terus menerus diupayakan, agar timbul suatu motivasi kerja yang tinggi dan adanya rasa tangung jawab atas tugas yang diemban oleh pegawai itu

sendiri sehingga berpengaruh terhadap peningkatan kinerja pegawai.

Untuk menjaga nama baik instansi dalam hal ini bagian pembinaan pada Kejaksaan tinggi Sulawesi Selatan melaksanakan pembinaan atas manajemen, perencanaan, pembangunan prasarana dan prasarana, pengelolaan pegawai, keuangan, perlengkapan organisasi, dan tata laksana pengelolaan. Kinerja pegawai negeri sipil (PNS) bagian pembinaan pada Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan selalu memberikan pelayanan maksimal kepada masyarakat.

Pembinaan yang dilakukan kepada pegawai seperti, sopan santun dan kedisiplinan sangat berpengaruh terhadap kinerja pegawainya serta mendorong pegawai dalam menjalankan tugas dan tanggu jawab yang diemban. Berdasarkan uraian maka penulis tertarik melakukan penelitian dengan judul “Analisis Komunikasi Interpersonal dan Motivasi Kerja Terhadap Kenerja Pegawai (Studi Kasus pada Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan)”

Rumusan masalah dalam penelitian ini Yaitu: 1) Apakah komunikasi interpersonal berpengaruh terhadap kinerja pegawai pada Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan? 2) Apakah Motivasi kerja berpengaruh terhadap kinerja pagawai pada Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan? 3) Apakah komunikasi interpersonal dan motivasi kerja berpengaruh secara simultan terhadap kinerja pegawai pada Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan?

Tujuan dari penelitian ini adalah: 1) Untuk mengetahui pengaruh komunikasi interpersonal dan motivasi kerja terhadap kinerja pegawai pada Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan. 2) Untuk mengetahui pengeruh motivasi kerja terhadap kinerja pegawai pada Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan. 3) Untuk mengetahui pengaruh komunikasi interpersonal dan motivasi kerja secara simultan terhadap kinerja pegawai Pada Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan.

TINJAUAN LITERATUR

Komunikasi memiliki posisi sentral dalam organisasi, sebab struktur organisasi dan lingkup organisasi ditentukan oleh teknik komunikasi. Komunikasi merupakan inti organisasi tanpa komunikasi tidak akan terdapat aktivitas organisasi (Uha, 2017).

Budyatna dalam Diana (2020) menyebutkan komunikasi interpersonal meliputi melibatkan

(3)

paling sedikitnya dua orang, adanya umpan balik, tidak harus bertatap muka, tidak harus bertujuan, menghasilkan beberapa pengaruh.

Komunikasi manusia adalah suatu proses melalui mana individu dalam hubungannya dalam kelompok, dalam organisasi dan dalam masyarakat menciptakan, mengirimkan, dan menggunakan informasi untuk mengkoordinasi lingkungannya dan orang lain (Arni, 2019). Komunikasi antarpribadi (interpersonal communication) pada dasarnya merupakan jalinan hubungan interaktif antara seorang individu dan individu lain dimana lambang-lambang pesan secara efektif digunakan, terutama lambang-lambang bahasa. Penggunaan lambang-lambang bahasa verbal terutama yang bersifat lisan, di dalam kenyataan kerapkali disertai dengan bahasa isyarat terutama gerak atau bahasa tubuh (body laguange) seperti senyum, tertawa dan menggeleng atau menganggukkan kepala (pawito dalam Daryono, 2017).

Persoalan penilaian hubungan (the evaluation of relationship) merupakan persoalan lain yang penting dalam komunikasi antarpribadi. Dalam hubungan ini dicakup setidaknya enam tahap atau rangkaian hubungan (Martin, 2018). 1) Iinitiation

Pada tahap ini setiap partisipan saling membuat kalkulasi atau menaksir-naksir satu dengan lain, dan mencoba mengupayakan penyesuaian. Wujud dari penyesuaian misalnya tersenyum, menganggukkan kepala, saling memperkenalkan diri dan mengucapkan kata yang bersifat sopan santun atau basa-basi.

Hubungan akan dilanjutkan ataukah tidak akan tergantung pada situasi yang berkembang kemudian. 2) Eksplorasi Pada tahap ini partisipan saling berusaha mengetagui karakter orang lain misalnya minat, motif dan nilai- nilai yang dipegang. Wujud dari eksplorasi ini misalnya, partisipan saling mengajukan pertanyaan rentan kebiasaan, pekerjaan, atau mungkin tempat tinggal. 3) Intensifikasi Pada tahap ini partisipan saling bertanya kepada diri sendiri apakah jalinan komunikasi diteruskan atau tidak. Kendatipun intensifikasi ini pada umumnya sulit diamanti, namun yang menentukan apakah jalinan komunikasi diteruskan atau tidak adalah keyakinan akan manfaat dari jalinan komunikasi yang terbentuk atau setidaknya aktivitas komunikasi yang berlangsung. Semakin diyakini manfaat yang diperoleh maka akan semakin berlanjut jalinan hubungan atau komunikasi yang

sedang berlangsung. 4) Formalisasi pada tahap ini partisipan saling sepakat mengenai hal-hal tertentu yang kemudian terformalisasikan kedalam berbagai tingkahlaku misalnya, berjanji untuk bertemu lagi, menandatangani kontrak bisnis. Sampai sejauh ini jalinan hubungan berjalan lancer dan humoris. 5) Redefinisi pada tahap ini jalinan hubungan dan komunikasi yang ada dihadapkan pada persoalan-persoalan baru dan silih berganti seiring dengan perjalanan waktu.

Kecenderungan kembali saling menaksir- naksir satu dengan lain, membuat kalkulasi- kalkulasi baru tentang hubungan yang telah berjalan menjadi dominan. Hasil dari kalkulasi ulang ini akan menentukan apakah hubungan yang harmonis selama ini akan tetap harmonis ataukah justru akan menghadapi persoalan yang semakin berat. 6) Hubungan yang memburuk (deterioration) Gejala semakin memburuknya hubungan kadang kala tidak disadari sepenuhnya oleh partisipan komunikasi. Penyesuaia-penyesuaian telah senantiasa dicobah untuk diupayakan namun, didalam kenyataan tidak selalu berhasil. Hal demikian terutama dikarenakan adanya perubahan struktur-struktur kepentingan, power, dan orientasi partisipan yang saling berinteraksi dengan situasi eksternal.

Menurut Suryadi (2018) Motivasi adalah kunci dari organisasi yang sukses untuk menjaga kelangsungan pekerjaan dalam organisasi dengan cara dan bantuan yang kuat untuk bertahan hidup. .Motivasi memberikan bimbingan yang tepat atau arahan, sumber daya dan imbalan agar mereka terinspirasi dan tertarik untuk bekerja dengan cara yang anda inginkan. Motivasi adalah proses membangkitkan perilaku, mempertahankan kemajuan perilaku, dan menyalurkan perilaku tindakan yang spesifik. Dengan demikian, motif (kebutuhan, keinginan) mendorong karyawan untuk bertindak. Motiv tidak dapat diamati secara langsung tetapi dapat diinterprestasikan dalam tingkah lakunya berupa rangsangan, dorongan, atau pembangkit tenaga munculnya satu tingkah laku tertentu (Uno, 2016). Motivasi adalah proses atau kekuatan yang ada dalam diri seseorang yang digerakkan oleh kebutuhan fisiologis atau psikologis. Kebutuhan ini tercipta ketika terjadi ketidakseimbangan fisiologis dan psikologis (Kaswan, 2017).

Menurut Hasibuan (2018), motivasi dalam manajemen hanya ditujukan pada

(4)

sumber daya manusia umumnya dan bawahan khususnya. Motivasi mempersoalkan bagaimana caranya mengarahkan daya dan potensi bawahan, agar mau bekerja sama secara produktif berhasil mencapai dan mewujudkan tujuan yang telah ditentukan.

Adapun tujuan-tujuan dari motivasi kerja dalam memberikan motivasi terhadap yaitu: 1) Meningkatkan moral dan kepuasan kerja pegawai 2) Meningkatkan produktivita spegawai 3) Mempertahankan kestabilan pegawai perusahaan 4) Meningkatkan kedisiplinan pegawai 5) Mengefektifkan keadaan pegawai 6) Menciptakan suasana dan hubungan kerja yang baik 7) Meningkatkan loyalitas, kreatifitas, dan partisipasi pegawia 8) Meningkatkan tingkat kesejahteraan pegawai 9) Mempertinggi rasa tanggung jawab pegawai terhadap tugas-tugasnya 10) Meningkatkan efisiensi penggunaan alat-alat dan bahan baku

Kinerja menurut Mangkunegara (2017), kinerja karyawan/pegawai (prestasi kerja) adalah hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seseorang karyawan/pegawai dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya. Kinerja menurut Prawirisentono (2015), adalah merupakan hasil kerja yang dapat dicapai oleh seseorang atau kelompok orang dan organisasi bersangkutan secara legal, tidak melanggar hukum dan sesuai dengan moral dan etika.

Adapun Faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja pegawai yaitu (Mahmuddi dalam Samsuddin, 2018): 1) Faktor personal (individu) meliputi:

pengetahuan, kemampuan, kepercayaan diri dari motivasi dan komitmen yang dimiliki oleh setiap individu. 2) Faktor kepemimpinan meliputi: kualitas dalam memberikan dorongan, semangat arahan dan dukungan yang diberikan pemimpin atau team lader 3) Faktor team meliputi: kualitas dukungan dan semangat yang diberikan oleh rekan satu tim, kepercayaan terhadap sesame anggota tim, kesertaan dan kekompakan anggota tim. 4) Faktor sistem meliputi: sistem kerja, fasilitas kerja, atau infrastruktur yang diberikan organisasi, proses organisasi dan kultur kerja dalam organisasi.

Berdasarkan rumusan masalah yang dikemukakan sebelumnya maka rumusan hipotesis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

H1: Komunikasi Interpersonal berpengaruh terhadap kinerja pegawai

H2: Motivasi kerja berpengaruh terhadap kinerja pegawai

H3: Komunikasi interpersonal dan motivasi kerja secara simultan berpengaruh terhadap kinerja pegawai.

Gambar 1. Model Penelitian

Sumber: Setiawan (2015), dan Utami (2018) METODE PENELITIAN

Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif karena data yang digunakan umumnya berupa angka/numeric/statistik.

Dengan metode ini diharapkan dapat mempermudah penelitian dalam mengukur dan mengelolah data mengenai pengaruk komunikasi interpersonal dan motivasi kerja terhadap kinerja pegawai.

Penelitian ini dilakukan pada Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan yang beralamat di jalan urip sumoharjo km.4 no.244, sinrijala.

Panakukang, kota Makassar Sulawesi Selatan.

penelitian ini dilakukan kurang lebih dua bulan.

Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu data kuantitatif dan data kualitatif adapun sumber data dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder

Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah : 1) kuessioner atau angket, kuesioner merupakan metode pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawab (Yulianto,2017). Dalam penelitian ini peneliti menggunakan kuesioner/angket

Komunikasi Interpersonal

X1

Motivasi kerja X2

Kinerja pegawai

Y H1

H2

H3

(5)

tertutup, dimana responden hanya memilih jawaban yang tersedia dengan pilihan jawaban menggunakan skala likert. 2) menurut Yulianto (2017), dokumentasi adalah metode pengumpulan data yang tidak ditujukan langsung kepada subyek penelitian namun meneliti berbagai macam dokumen yang berguna sebagai bahan hasil.

Populasi merupakan keseluruhan individu yang dijadikan sasaran dalam penelitian ini. Populasi dalam penelitian ini adalah pegawai bagian pembinaan pada Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan yang berjumlah 50 orang oleh karena itu jumlah populasi dalam penelitian ini akan disesuaikan dengan perhitungan responden pegawai.

Sampel adalah sebagian jumblah dalam karakteristik yang dimiliki oleh populasi.

Metode yang digunakan dalam pengambilan sampel adalah jenis sampling jenuh pada nonprobability sampling. Nonprobability sampling adalah tekni pengambilan sampel yeng tidak memberi peluang/kesempatan yang sama bagi setiap unsur atau anggota populasi untuk dipili menjadi sampel. Untuk itu sampel dalam penelitian ini disesuaikan dengan jumlah populasi yang berjumlah 50 orang.

Penelitian ini terdiri dari dua variabel. 1) variabel independen yaitu komunikasi interpersonal (X1) dan motivasi kerja (X2) variabel independen adalah variabel yang mempengaruhi atau sebab timbulnya variabel terikat (dependen). sedangkan 2) variabel dependen dalam pelam penelitian ini adalah kinerja pegawai (Y). Variabel dependen yaitu variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi sebab akibat adanya variabel bebas.

Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah: analisis deskriptif Teknik Analisis deskriptif. Teknik analisis deskriptif adalah metode yang bertujuan untuk mendeskripsikan atau memberi gambaran tentang data yang telah terkumpul tanpa melakukan generalisasi. Analisis Regresi linear berganda dilakukan untuk mengetahui sejauh mana hasil pengukuran tetap konsisten, jika dilakukan pengukuran dua kali atau lebih terhadap gejala dengan gejala yang sama . regresi linear berganda adalah hubunga secara linear dengan variabel dependen (Y) antara variabel independen (X1 dan X2 ).

menganalisis dengan menggunakan program SPSS. Persamaan Linear berganda dirumuskan sebagai berikut:

Y= a + b1X1 + b2X2 + e

Keterangan : Y = Kineja pegawai A = Nilai konstan

b1 = Koefisien regresi kominikasi interpersonal b2 = Koefisian regresi motivasi kerja

X1 = Komunikasi interpersonal X2 = Motivasi kerja

E = Eror

HASIL DAN PEMBAHASAN

Validitas merupakan derajat ketetapan antara data yang terjadi pada objek penelitian dengan daya yang dapat dilaporkanoleh peneliti. Uji validitas bertujuan untuk mengetahui ketetapan dan kecermatan suatu alat ukur dalam melakukan fungsi ukurnya.

Dalam penelitian ini, uji validitas menggunakan analisis butir item peryataan yakni dengan mengkorelasikan skor tiap item dengan skor per konstruk dan skor total seluruh item pertayaan. Untuk menguji apakah korelasi dalam penelitian ini valid atau tidak, maka hasil uji R hitung dibandingkan dengan R

tabel dengan taraf signifikansi 0,05. Bila R hitung

> R tabel berarti item peryataan dapat dikatakan valid dan sebaliknya

Uji Reabilitas bertujuan untuk melihat sejauh mana hasil suatu pengukuran dapat dipercaya. Uji reliabilitas kuesioner dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui konsistensi derajat ketergantungan dan stabilitas alat ukur.

Uji reliabilitas dalam penelitian ini menggunakan pengukuran derajat konsistensi tanggapan responden dengan koefisien Cronbach Alpha dari setiap variabel dengan standar 0,6 jika nilai Cronbach Alpha > 0,6 maka kuesioner dinyatakan konsistensi.

Tabel 1. Analisis Regresi Linier Berganda

Coefficientsa

Model Unstandardized Coefficients

Standardized Coefficients

t S

ig.

B Std.

Error Beta

1 (Constant) 4.719 1.816 2

.598

. 012

X1 .465 .108 .502 4

.298

. 000

X2 .372 .107 .407 3

.482

. 001 a.DependentVariab : Y

Sumber: Data primer diolah (2020) Berdasarkan hasil pengolahan data seperti terlihat pada tabel dalam kolom Unstandardized Coefficients diperoleh

(6)

persamaan regresi linier berganda sebagai berikut:

Y= 4.719+ (0,465)X1 + (0,372)X2

Berdasarkan persamaan tersebut dapat diuraikan sebagai berikut: 1) Konstanta (a) = 4.719. Ini menunjukkan konstan, yaitu jika variabel komunikasi interpersonal (X1) dan motivasi kerja (X2) sama dengan nol (0), maka kinerja pegawai pada Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan tetap sebesar 4.719. 2) Koefisien X1 (b1) = 0,465. Hal Ini menunjukkan bahwa, Jika variabel komunikasi interpersonal ditingkatkan sebesar satu satuan, maka kinerja pegawai pada Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan akan bertambah sebesar 0,465. 3) Koefisien X2 (b2) = 0,372. Hal Ini menunjukkan bahwa, Jika variabel motivasi kerja ditingkatkan sebesar satu satuan, maka kinerja pegawai pada Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan akan bertambah sebesar 0,372.

Tabel 2. Uji T Hitung

Model T Sig.

1 (Constant) 2.598 .012 Komunikasi

Interpersonal (X1)

4.298 .000 Motivasi Kerja (X2) 3.482 .001 Sumber: Data primer diolah (2020)

Berdasarkan tabel tentang uji t (parsial) dapat diuraikan sebagai berikut:1) Variabel komunikasi intrpersonal (X1) berpengaruh terhadap kinerja pegawai pada Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan. Hal ini terlihat dari nilai signifikan (0,000) lebih kecil dari 0,05 dan nilai t-hitung 4.298 > t-tabel 1.677. 2) Variabel motivasi kerja (X2) berpengaruh terhadap kinerja pegawai pada Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan. Hal ini terlihat dari nilai signifikan (0,001) lebih kecil dari 0,05 dan nilai t-hitung 3.482 > t-tabel 1.677

Tabel 3. Uji F

ANOVAb Model Sum of

Squares df Mean

Square F Sig.

1 Regression 560.570 2 280.285 63.088 .000a Residual 208.810 47 4.443

Total 769.380 49 a. Predictors: (Constant), X2, X1 b. Dependent Variable: Y

Sumber: Data primer diolah (2020)

Berdasarkan tabel 3 yang menjelaskan bahwa nilai F-hitung sebesar 63.088 dengan tingkat signifikansi 0,000. Oleh karena itu, pada kedua perhitungan yaitu F-hitung > F- tabel (63.088> 3.200) dan tingkat signifikansinya 0,000 < 0,05. Oleh karena itu, variabel indevenden yang terdiri dari komunikasi interpersonal dan motivasi kerja berpengaruh secara bersama-sama terhadap knerja pegawai pada Kantor Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan.

Tabel 4. Koefisien Determinasi Model Summary

Model R R

Square

Adjusted R Square

Std. Error of the Estimate 1 .854a .729 .717 2.10779 a. Predictors: (Constant), X2, X1

Sumber: Data primer diolah (2020) Berdasarkan Tabel 4 dapat diketahui nilai R Square sebesar 0,729 yang berarti 72,9% kinerja pegawai dapat dijelaskan oleh variabel komunikasi interpersonal dan motivasi kerja. Sedangkan sisanya 27,1 % dapat dijelaskan oleh faktor-faktor lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini.

Berdasarkan hasil analisis yang telah diuraikan diketahui bahwa, komunikasi interpersonal berpengaruh terhadap kinerja pegawai. Hal ini dapat dilihat dari hasil analisis yang diperoleh signifikan. Dimana H1 diterima. Dengan demikian komunikasi interpersonal dikatakan berpengaruh secara parsial terhadap kinerja pegawai. Pada penelitian terdahulu menyatakan komunikasi interpersonal adalah suatu kemampuan yang diharapkan dapat memepertahankan hubungan positif yang efektif agar keinginan kedua bela pihak tercapai (utami, 2015).

Hal ini didukung oleh penelitian dari Afrianti, (2016) hasil analisis data dan pembahasan didapatkan bahwa komunikasi interpersonal berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja dimana semakin tinggi komunikasi interpersonal, maka kinerja akan semakin meningkat. Sebaliknya semakin rendak komunikasi interpersonal, maka kinerja akan menurun. Pendapat tersebut mengemukakan sangat penting komunikasi interpersonal bagi kinerja pegawai.

Komunikasi interpersonal dapat membangun hubungan yang baik antar sesama pegawai pada Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan bagian pembinaan. karena merupakan

(7)

komunikasi dua arah atau lebih sehingga umpan balik dapat diketahui yang didasari oleh polah interaksi dalam organisasi yang mengalir dari para pimpinan kepada bawahan komunikasi interpersonal pada Kejaksaan Tinggi Sulawesi Telatan digunakan untuk menyampaikan pesan, perintah atau m engarahkan, sehingga tujuan dalam organisasi dapat dicapai dan

Berdasarkan hasil analisis yang telah diuraikan diketahui bahwa, motivasi kerja berpengaruh terhadap kinerja pegawai. Hal ini dapat dilihat dari hasil analisis yang diperoleh signifikan. Dimana H2 diterima. Pada penelitian terdahulu menyatakan kesediaan atau motivasi kerja masing-masing karyawan level pelaksanaan akan memberikan suatu dorongan atau arahan terhadap tingkahlaku yang akan dikeluarkannya selama bekerja, motivasi kerja yang dimiliki oleh seorang karyawan level pelaksanaan akan mengalami perubahan sebagai hasil interaksi antara karyawan dengan kondisinya (Setiawan, 2015).

Hal ini didukung oleh penelitian dari Sutrischastini dan Riyanto, (2015) hasil analisis data dan pembahasan didapatkan bahwa motivasi terbentuk dari sikap dalam menghadapi situasi kerja merupakan energi yang menggerakkan diri mereka yang bertujuan mencapai tujuan organisasi. Sikap positif terhadap situasi kerja itulah yang memperkuat motivasi kerjanya untuk mencapai kinerja maksimal.

Motivasi didapatkan ketika seseorang memiliki suatu tujuan, baik itu tujuan dalam organisasi maupun tujuan hidup masing- masing individu. Upaya yang dilakukan Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan dalam memotivasi pegawai seperti memberikan imbalan, jabatan dan kenyamanan, hal ini menjadi salah satu faktor yang sangat mempengaruhi kinerja pegawai.

Dalam meningkatkan kinerja pegawai banyak cara yang dapat dilakukan oleh instansi naumun, beberapa dari pegawai yang hanya mementingkan diri sendiri sehingga dapat merugikan pegawai lainnya.

Pada dasarnya pegawai selalu berharap mendapatkan perlakuan yang sama dan memperoleh hak yang seharusnya tetapi sebagian pegawia yang tidak mendapatkan haknya tidak menuntut dan lebih memilih untuk tidak menyampaikan pendapatnya. Hal

seperti ini dapat menurunkan kinerja pegawai sehingga kinerja pegawai tidak tercapai.

Berdasarkan hasil analisis yang telah diuraikan diperoleh bahwa terdapat pengaruh secara simultan antara komunikasi interpersonal dan motivasi kerja terhadap kinerja pegawai. Hal ini, didukung pada hasil pengujian uji F yang menjelaskan bahwa nilai F-hitung sebesar 63.088 dengan tingkat signifikansi 0,000. Oleh karena itu, pada kedua perhitungan yaitu F-hitung > F-tabel (63.088>

3.200) dan tingkat signifikansinya 0,000 <

0,05. Oleh karena itu, variabel indevenden yang terdiri dari komunikasi interpersonal dan motivasi kerja berpengaruh secara simultan terhadap knerja pegawai pada Kantor Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan.

PENUTUP

Berdasarkan hasil penelitian, pembahasan dan hipotesis yang telah diuraikan sebelumnya, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: 1) Komunikasi Interpersonal berpengaruh terhadap kinerja pegawai pada Kantor Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan. 2) Motivasi kerja berpengaruh terhadap kinerja pegawai pada Kantor Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan. 3) Komunikasi interpersonal dan motivasi kerja secara simultan berpengaruh terhadap kinerja pegawai pada Kantor Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan.

Pimpinan instansi sebaiknya selalu memperhatikan tata cara berkomunikasi yang baik kepada pegawai agar tidak cepat salah paham dalam berbica demi meningkatkan kualitas dan kuantitas kerja. Oleh karena itu intensitas komunikasi interpersonal harus ditumbuhkembangkan karena secara positif sangat berpengaruh dalam suatu organisasi agar kepentingan dan keinginan antara pimpinan dan bawahannya dapat tercapai.

Sangat penting untuk mengupayakan motivasi kerja terhadap pegawai di dalam sebuah instansi, seperti memberikan reward, mempererat kekeluargaan sesama pegawai, mengenali kelebihan dan kekurangan pegawai.

Sehingga dapat memberikan dampak kinerja yang baik di dalam instansi itu sendiri. Oleh karena itu, penting bagi suatu instansi untuk mempertimbangkan keinginan dan harapan para pegawai. Hal ini dapat dilakukan dengan memberikan semangat dan dorongan kepada pegawai dalam peningkatan kinerja kedepan.

(8)

Penelitian ini dilakukan pada objek yang bersifat privasi oleh karena itu sebaiknya penelitian yang sejenis selanjutnya dilakukan pada objek lain yang bersif public sehingga dapat diketahui adanya perbedaan maupun kesamaan. Disarankan juga kepada peneliti kedepannya untuk mengembangkan penelitian ini dengan menambah variabel yang relevan dengan komunikasi interpersonal dan motivasi kerja terhadap kinerja pagawai.

DAFTAR PUSTAKA

Afrianti, F. (2016). Pengaruh Motivasi Dan Komunikasi Interpersonal terhadap Kinerja Guru Pada Sman 6 Kerinci Kecamatan Danau Kerinci. Tesis UPI YPTK Padang Arni, M. (2019). Manajemen Sumber Daya

Manusia. Jakarta: Bumi Aksara

Daryono. (2017). Komunikasi Antar Pribadi Pustakawan Dengan Pepustaka Dalam Memberikan Layanan Jasa Di Perpustakaan. Jurnal Kepustakawanan Dan Masyarakat Membaca

Diana, R. (2020). Pengaruh Motivasi Kerja dan Komunikasi Interpersonal Terhadap Kinerja Guru. Jurnal Pendidikan Tambusa.

Universitas PGRI Palembang

Hasibuan, M. S. P. (2019). Manajemen Sumber Daya Manusia. Cetakan Kedua Puluh Tiga. Jakarta: PT. Bumi Aksara.

Kaswan. (2017). Manajemen Kinerja. Jakarta:

PT. Raja Grafindo Persada.

Martin. (2018). Taktik pengembangan individual. Jakarta: Gaung Persada Press.

Mangkunegara, A.P. (2017). Manajemen Sumber Daya Manusia Perusahaan.

Bandung: Rosdakarya.

Prawirosentoso, S. (2015). Manajemen Sumber Daya Manusia “Kebijakan Kinerja Karyawan”. Yogyakarta: BPFE.

Samsuddin, H. (2018). Kinerja Karyawan.

Edisi Pertama. Sidoarjo: Indo Media Pustaka.

Setiawan, K. C. (2015). Pengaruh Motivasi Kerja Terhadap Kinerja Karyawan Level Pelaksanaan di Divisi Operasi PT. Pusri Palembang. Jurnal Psikologi islami.

Fakultas Ushuluddin Pemikiran Islami Universitas Islam Negeri Raden Fatah Pelembang.

Suryadi, D. F. (2018). Pengaruh Motivasi Dan Lingkungan Kerja Terhadap Kinerja Pegawai Pada Pt. Xyz. EQUITY: Jurnal Ekonomi, Manajemen dan Akuntansi. 2549-

6182. 13 (1). Diakses tanggal 09 Februari

2021 melalui Website

https://scholar.google.com/scholar?hl=id&a s_sdt=0%2C5&q=dyan+fauziah+suryadi&

oq=#d=gs_qabs&u=%23p%3DfvYuwQ8Vj V0J

Sutrischastini, A., & Riyanto, A. (2015).

Pengaruh Moticasi Kerja Terhadap Kinerja Pegawai Kantor Sekretariat Daerah Kabupaten Gunungkidul. Jurnal Kajian Bisnis STIE Widya Wiwaha Yogyakarta Uno, H.B., dan Lamatenggo, N. (2016). Teori

Kinerja Dan Pengukurannya. Jakarta: PT.

Bumi Aksara.

Uha, I. N. (2017). Budaya Organisasi Kepemimpinan Dan Kinerja. Cetakan Ketiga. Depok: Kencana

Utami, S. P. (2015). Pengaruh Kepemimpinan, Motivasi Dan Komunikasi Interpersonal Terhadap Kinerja karyawan Pada Perjalanan Wisata Panen Tour. Jurnal STIA Yappan.

Yulianto, H. (2017). Statistik 1. Cetakan ke 3.

Yogyakarta: Lembaga Ladang Kata.

Referensi

Dokumen terkait

Undang-undang Nomor20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional; 2.Undang-undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi; 3.Peraturan Pemerintah Nomor 4 Tahun 2014 tentang

2 APLIKASI PENGENDALIAN METODE APLIKASI No TAHAPAN KONSENTRASI/DOSIS CARA APLIKASI Larutkan 300-600 ml Insektisida sintetis b.a Abamectin/Imidakloprid ke dalam 300 L air, tambahkan