33
PERAN ETIKA WANITA JAWA DALAM BERUMAH TANGGA (KAJIAN TERHADAP SERAT CENTHINI)
Roro Ajeng Apriyana, Rachmatsyah, Madhan Anis [email protected]
Pendidikan Sejarah, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Samudra
ABSTRACT
Serat Centhini atau Suluk Tambangraras,is a complete encyclopedia of the world in Javanese society. Javanese women are women who were raised with Javanese values. Javanese women are also known as women who are smooth, calm, and should not exceed men. Therefore, Javanese women must be able to accept everything that has become their nature. This study aims to examine the ethics of Javanese women in the household and examine the relevance of Serat Centhini to the ethics of Javanese women the in the household. The method used is the Historical method, so the steps used in this study include heuristics, source criticism, interpretation and historiography. Based on the result of the study, it was concluded that the ethics of Javanese women in the household stated that the ethics of Javanese women could be divided into spirituality, sociality and personality. In the spiritual realm, Serat Centhini teaches women’s relationship with God as a religious teaching. In the field of sociality, teaching women about relationships with the community. Finally, women must comply with ethical norms, such as ethics towards parents, family, and society. Along with the changing times, the ethical relevance of Javanese women then and now has undergone a significant change. The current woman, can be said to have been very advanced. This is due to the culturalization of culture, which resulted in many people abandoning the old teachings. The noble values in Serat Centhini are now a mirror of life for the community. In addition to adding knowledge, it is also a lesson for Javanese women’s behavior that deserves to be an example for women today.
Keyword: Serat Centhini, ethics, Javanese women
ABSTRAK
Serat Centhini atau Suluk Tambangraras, merupakan ensiklopedi mengenai dunia dalam masyarakat Jawa yang komplit. Wanita Jawa adalah wanita yang dibesarkan dengan nilai-nilai Jawa. Wanita Jawa juga dikenal sebagai wanita yang halus, tenang, kalem, dan tidak boleh melebihi laki-laki. Oleh sebab itu wanita Jawa harus dapat menerima segala sesuatu yang telah menjadi kodratnya. Penelitian ini bertujuan mengkaji etika wanita Jawa dalam berumah tangga dan mengkaji tentang relevansi Serat Centhini terhadap etika wanita Jawa dalam berumah tangga. Metode yang digunakan adalah metode Historis, sehingga langkah-langkah yang digunakan dalam penelitian ini meliputi heuristik, kritik sumber, interpretasi dan historiografi. Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa etika wanita Jawa dalam berumah tangga menyatakan bahwa etika wanita dapat dibagi menjadi spiritualitas, sosialitas dan kepribadian. Di alam spiritual, Serat Centhini mengajarkan hubungan wanita dengan Tuhan sebagai ajaran agama. Di bidang sosialitas, mengajarkan wanita tentang hubungan dengan lingkungan masyarakat. Terakhir, wanita haruslah mematuhi norma etika, seperti etika terhadap orangtua, keluarga dan masyarakat. Seiring perubahan zaman, relevansi etika wanita Jawa dulu dan sekarang telah mengalami perubahan yang cukup signifikan. Wanita saat ini, dapat dikatakan sudah sangat maju. Hal ini dikarenakan adanya kulturalisasi budaya, yang mengakibatkan banyak masyarakat yang meninggalkan ajaran-ajaran lama. Nilai-nilai luhur dalam Serat Centhini kini menjadi cermin kehidupan bagi masyarakat.
Selain menambah ilmu pengetahuan juga menjadi pembelajaran untuk perilaku wanita Jawa yang pantas dijadikan contoh untuk wanita pada masa sekarang.
Kata kunci : Serat Centhini, etika, wanita Jawa
Author correspondence
Email: [email protected]
Available online at http://ejurnalunsam.id/index.php/jsnbl/index
34 I. PENDAHULUAN
Serat Centhini atau Suluk Tambangraras merupakan naskah sastra Jawa yang istimewa, baik dari segi ketebalannya maupun kandungan isinya. Serat Cethini disusun pada tahun 1814- 1823. Serat ini mengisahkan petualangan tiga anak Sunan Giri, yaitu Syekh Amongraga, Jayengraga/Jayengsari dan seorang putri bernama Ken Rancangkapti. Kandungan isi Serat Centhini tersebut mengungkap banyak persoalan kehidupan masyarakat Jawa kala itu.
Termasuk di dalamnya adalah persoalan yang menyangkut berbagai ilmu pengetahuan seperti agama, tasawuf, obat-obatan, etika dan lain-lainnya, bahkan sampai pada pengetahuan tentang senggama (Wahyudi, 2015: v-vi).
Wanita Jawa adalah wanita yang dibesarkan dengan nilai-nilai Jawa. Wanita Jawa juga dikenal sebagai wanita yang halus, tenang, kalem, dan tidak boleh melebihi laki-laki. Oleh sebab itu wanita Jawa harus dapat menerima segala sesuatu yang telah menjadi kodratnya.
Dengan nilai-nilai luhur tersebut menjadikan wanita mempunyai pengetahuan baik dan buruk yang disebut kesadaran moral atau moralitas (Poedjawijatna, 1983: 130).
Nilai-nilai Jawa yang telah ada sejak dahulu, menjadi contoh cerminan bagi wanita Jawa lainnya. Seperti yang telah dikatakan, wanita Jawa haruslah mengingat kodratnya sebagai sejatinya wanita Jawa. Sikap nerima akan segala sesuatu yang menjadi takdirnya, menjadikan seseorang tersebut lebih mengerti akan arti kehidupan. Namun bila dikaji, sikap nerima tidak mungkin bisa tetap ada di kalangan wanita era modern masa kini yang telah tercampur oleh pergaulan akan budaya asing.
Konstruksi masyarakat Jawa yang masih memandang wanita hanya sebelah mata tentu saja menjadikan lelaki sebagai seseorang yang mengatur wanita dalam persoalan seksualitas.
Salah satu implikasinya adanya ungkapan yang pada saat itu menganggap wanita hanyalah sebatas sumur, kasur dan dapur. Seperti halnya pada kewajiban seorang istri selalu melayani suami untuk tidur bersama dan tidak boleh menolak permintaan suami apabila suami menginginkan tidur bersamanya. Sehingga akan menjadi suatu perbuatan dosa apabila menolak ajakan suami untuk tidur bersama walaupun istri dalam keadaan sibuk.
35 II. METODE PENELITIAN
Dalam tulisan yang berjudul peran etika wanita Jawa dalam berumah tangga (kajian terhadap Serat Centhini), ini mengkaji tentang bagaimana etika wanita Jawa dalam berumah tangga dan bagaimana Relevansi Serat Centhini terhadap etika wanita Jawa dalam berumah tangga. Untuk menjawab pertanyaan diatas maka penulis mengkaji permasalahan ini menggunakan metode sejarah (historis). Metodelogi membahas kerangka-kerangka pemikiran (frameworks) tentang konsep-konsep, kategori-kategori, model-model, hipotesis-hipotesis dan prosedur-prosedur umum yang dipakai dalam penyusunan teori dan testing (Sjamsuddin, 2019:
12-13). Dalam metodelogi sejarah, untuk dapat menghasilkan tulisan yang baik penulis harus setidaknya memiliki 4 tahapan dalam mengkaji peristiwa sejarah, yaitu heuristik atau pengumpulan sumber, kritik sumber atau verifikasi, interpretasi atau penafsiran, dan penulisan atau biasa disebut dengan historiografi.
Penelitian yang penulis tetapkan adalah Perpustakaan Umum dan Arsip Daerah Kota Langsa, Perpustakaan Umum dan Arsip Daerah Kabupaten Aceh Timur dan Perpustakaan Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh. Sumber data dalam penelitian ini adalah literatur, buku, catatan-catatan, arsip, dan lain sebagainya. Dalam penelitian ini, data dikumpulkan dengan studi keperpustakaan, yakni dengan mengumpulkan berbagai sumber data sejarah terkait dengan judul Peran Etika Wanita Jawa dalam Berumah Tangga (Kajian Terhadap Serat Centhini). Dalam penelitian ini teknik yang digunakan untuk mengumpulkan informasi adalah Teknik kepustakaan dilakukan dengan pengumpulan data keperpustakaan (Library Research).
III. PEMBAHASAN
1. Etika Wanita Jawa dalam Berumah Tangga
Etika merupakan dasar yang sangat utama dalam bertingkah laku dan menjadi landasan penting bagi sebuah peradaban untuk generasi selanjutnya. Khususnya wanita Jawa, etika bukan hanya sekedar penampilan raga, lebih dari itu dengan etika kita dapat mengetahui dan melihat apakah orang tersebut sudah memiliki prilaku yang baik atau belum.
Karakter wanita menjadi suatu hal penting dalam sastra Jawa dengan tujuan membina budi pekerti dan tata susila. Bagi masyarakat Jawa pergaulan yang baik wajib senantiasa bersandarkan atas perilaku yang pada hakikatnya berlandaskan nilai-nilai religius serta moral.
Sebutan seperti sing ngerti suba sita lan duga watara menggambarkan betapa berartinya nilai- nilai tersebut dicermati baik dalam keluarga ataupun dalam masyarakat (Sunoto, 1989: 19).
36
Wanita pada umumnya memiliki sifat ulas asih dan lemah lembut terhadap siapapun.
Hal ini disebabkan didikan orangtua mereka yang sejak kecil menanamkan sifat budi luhur dalam dirinya. Orang Jawa dahulu, memiliki banyak ungkapan nasihat yang mempunyai makna sangat mendalam. Seperti halnya yang telah disinggung di atas, sing ngerti suba sita lan duga watara dapat diartikan “haruslah mengerti sopan santun dan mengira watak batin”. Ungkapan ini memiliki arti penting karena masyarakat Jawa menganggap bahwa sopan santun dalam bertingkah laku menjadi syarat penting yang harus dimiliki demi tercapainya etika moral dalam kehidupan.
Kehadiran seorang anak tentu hal yang sangat dinanti-nanti oleh setiap orangtua.
Seperti kata pepatah bahwa anak adalah kunci kebahagiaan orang tua. Seorang anak memiliki tempat yang penting di hati orang tuanya karena memiliki ikatan batin yang kuat dengan orang tuanya. Dalam bahasa Jawa juga diterangkan, anak iku dadi ganthelaning ati (anak selalu di hati orang tuanya). Oleh sebab itu, berbakti kepada orang tua adalah kewajiban setiap anak, khususnya anak perempuan. Kepribadian seorang wanita telah dijelaskan dalam Serat Centhini di bawah ini yang menggambarkan bagaimana peran setiap anak harus bersikap berdasarkan garis keturunannya.
Ingkang dhingin darah bangsaning ngawirya, ing tegese trahing para luhur Jawa, ingkang misih, kadrajatan uripira.
Kang kapindho darahe agama mulya, tegesira terahe para ngulama, ingkang alim, ahli kitab trusing rahsa.
Kaping telu darahing wong maratapa, ing tegese trahing kang para pandhita, ingkang ulah pepujabrata lekasana.
Ping pat darah sujana ing tegesira, trah linangkung ulah pangawikan budya, kalantipan, lan marang kawicaksanan.
Kaping lima yeku darahing aguna, ing tegese pinter samubarang karya, ingkang ulah kalimpadan kabangkitan.
Kaping nenem darahe para prawira, tegesira trahing prajurit kang ulah kawentaran, kasub ing kasudiranira.
Kaping sapta darahing janma supatya, teges ingkang trah para tani, ingkang wekel mantep sarta tyase tuhu setya.
37 Terjemahan :
Garis keturunan bangsawan ngawirya, maksudnya : keturunan bangsawan atau pemuka yang masih terpandang keluarganya
Garis keturunan ulama mulya, ialah anak cucu kaum ulama atau ahli kitab yang menghayati dan mengamalkan ajaran-ajaran kenabian
Garis keturunan wong mratapa, ialah keturunan mereka yang mempunyai darah pertapa. Suka berlaku semedi pujabrata
Garis keturunan kaum sujana, ialah anak-anak orang pandai, terkenal di kalangan para cendekiawan. Cerdas dan masih terus meningkatkan ilmu pengetahuannya serta kebijaksanaan
Garis keturunan kaum aguna, ialah yang pandai dalam segala bidang, baik yang bersifat lahir batin
Garis keturunan para prawira, ialah mereka yang datang dari keluarga yang berkiprah dalam bidang keprajuritan yang mengutamakan ulah kawanteran, berani membela kebenaran dan keadilan
Garis keturunan janma supatya, ialah mereka yang berwatak dan bersikap tegas, yakin dalam segala perbuatan, setia dalam kata dan tindak-tanduknya (Purwadi, 2011:12).
Cerminan sikap di atas berdasarkan masing-masing garis keturunan yang telah ada dalam diri mereka tentu menjadi suatu beban tanggungjawab yang senantiasa dibawa sampai akhir hayatnya. Layaknya keturunan janma supatya, haruslah berwatak dan bersikap tegas, yakin dalam segala perbuatan, setia dalam kata dan tindak-tanduknya. Pada saat itu, tentulah kita dapat membayangkan betapa pentingnya suatu etika yang harus ada dalam setiap diri.
Bahkan cara bersikap pun sampai dijelaskan secara rinci ditulis agar kehidupan mereka selalu tertuju hal-hal yang baik berdasarkan perintah Tuhan-Nya. Meskipun pada waktu itu banyak bermunculan istilah penyebutan nama keturunan yang diwarisi untuk anak generasi mereka, namun perlu dicatat perbedaan garis keturunan mereka tetap berdasarkan sikap perbuatan menuju hal-hal kebaikan antar sesamanya.
Etika seorang wanita (istri) terhadap suami sebagaimana telah djelaskan umumnya wanita hanya diibaratkan sebagai sumur, dapur dan kasur. Ungkapan ini sangat sesuai tentunya bagi wanita yang hanya terkungkung di dalam rumah. Meskipun begitu, wanita Jawa juga diakui akan didikan orangtuanya tentang bagaimana beretika yang baik dalam meniti kehidupannya. Arti ungkapan Sumur, ditujukan bahwa wanita (istri) haruslah pandai mencuci pakaian dan membersihkan rumah. Sedangkan Dapur, memiliki arti yang ditujukan pada wanita (istri) haruslah pintar memasak. Makna Kasur, memiliki pemahaman bahwa wanita haruslah pandai melayani serta merawat suaminya.
38
Kehadiran Serat Centhini, menjadi satu hal yang sangat bermanfaat apabila kita rajin membacanya. Banyak sekali ilmu pengetahuan yang dapat kita gali di dalamnya untuk menambah pengetahuan dan wawasan. Bahkan mengenai cara beretika sekalipun dikupas oleh Serat Centhini. Misalkan saja kita dapat menemukan bagaimana tata cara etika berumah tangga yang telah dituturkan dalam pupuh 34 Maskumambang (2011: 188-189), sebagai berikut :
Ngati-yati nastiti gemi ing wadi, Tan kirang tuladha,
Utaminipun pawestri, Ngulad panengen pangiwa.
Ingkang lebda dudugi lawan prayogi, Watara riringa,
Siang dalu kang kaesthi, Anut tuduhing sudarma.
Bilih saged kadya ingkang ulun angling, Winiwitan mangkya,
Sinau wisma pribadi, Piniha ngladosi priya.
Terjemahan :
Hati-hati, teliti, dan pandai menyimpan rahasia, Tidak kekurangan teladan,
Pada keutamaan perempuan, Menoleh ke kiri dan kanan, Pandai-pandailah mengira, Bagaimana baiknya,
Siang dan malam yang kita turut, Adalah nasehat orang tua.
Bila bisa sebagai yang aku katakan, Dimulai dari sejak dini,
Belajar di rumah sendiri,
Bagaikan kau melayani suamimu.
Ikatan berumah tangga di atas, dijelaskan dan diajarkan secara langsung oleh tokoh penting dalam naskah Serat Centhini. Diketahui Jayengresmi kepada Niken Rohkanti. Kalimat ungkapan penuh nasihat di atas apabila kita baca dengan teliti memiliki makna yang begitu dalam yang diperuntukkan untuk wanita, yakni bagaimana selayaknya wanita harus belajar sejak dini tentang cara bersikap dalam mengatur dirinya sendiri bagaikan melayani suaminya suatu hari nanti. Terlihat pesan nasihat yang disampaikan Jayengresmi ialah apabila suatu hari nanti kamu memiliki suami, sebaiknya menjauhi perbuatan cacat. Cacat dalam arti ini dapat kita pahami sebagai perbuatan dosa ataupun tercela yang dilarang oleh perintah Tuhan.
Dapat disimpulkan Serat Centhini mengajarkan kepada kita (wanita) dalam berumah tangga agar dapat menjaga suri tauladan yang dimiliki baik itu sebelum ataupun sesudah
39
menikah. Keluarga merupakan lingkungan sosial yang terpenting bagi perkembangan dan pembentukan karakter khususnya pada nilai edukasi bagi anak.
2. Relevansi Serat Centhini Terhadap Etika Wanita Jawa Dalam Berumah Tangga Mengingat luasnya pengalaman jasmani dan rohani yang dipaparkan dalam Serat Centhini, sudah pantas kita menyebutnya sebagai ensiklopedi kebudayaan Jawa, yang sebagian besar mengandung kenyataan yang masih terdapat pada masyarakat Jawa dewasa ini. Contoh pengetahuan yang masih ada dan digunakan sebagai pedoman masyarakat pada masa itu hingga saat ini adalah konsepsi pengetahuan memilih jodoh.
Realitas kehidupan memilih jodoh pernah diuraikan Ki Ajar Sutikna kepada Cebolang, sebagaimana disebutkan pada pupuh 187, bait 30-32, kata Ki Ajar, “Jika kamu akan memilih wanita yang baik, pantas dijadikan istri, silakan merenungkan makna kata-kata bobot, bebet, dan bibit”. Masing-masing kata tersebut memiliki makna yang berbeda dan selalu dipegang oleh masyarakat Jawa (Sutrisna, 2013: 336).
Kebebasan yang dimiliki oleh wanita sekarang jelas berbanding terbalik dengan wanita yang tertulis dalam Serat Centhini yang harus terkungkung dengan adat yang ada. Watak dasar orang Jawa khususnya wanita Jawa yang semacam itu yang menjadi fondasi sikap nerima atau nrimo (bahasa Jawa). Namun tidak dipungkiri bahwa pada era ini masih banyak masyarakat dalam memilih pasangannya melihat bobot, bebet, dan bibit. Hal ini masih menjadi sangat penting bagi sebagian kalangan masyarakat yang ingin memilih pasangannya agar mendapatkan kehidupan yang bahagia. Meskipun zaman sekarang banyak timbul ungkapan yang sering didengar bahwa “cinta itu buta” yakni tanpa melihat dari sisi bobot, bebet, dan bibit. Hal inilah yang menimbulkan sedikit perbedaan dikarenakan wanita memiliki kebebasan dalam persoalan menentukan pasangannya.
Seiring berkembangnya waktu, era modern saat ini telah membawa perubahan yang cukup signifikan. Terdapat dampak positif dan negatif apabila kita ingin lebih mudah menemukan perbedaan dan persamaan yang mungkin masih bisa kita temukan sekarang ini.
Dampak positif dari perubahan ini adalah wanita sudah bisa menentukan pilihan dalam hidupnya, hal ini tentu cukup sangat dirasakan oleh kaum wanita, karena wanita tidak lagi harus selalu mengikuti pilihan orangtuanya. Tidak hanya itu, kedudukan wanita saat ini sudah bisa dikatakan setara dengan laki-laki.
Pada masa itu pendidikan hanya dikhususkan untuk laki-laki, sedangkan wanita diharuskan berada dirumah. Namun keadaan kini telah merubah segalanya, wanita yang dulu
40
hanya sebatas memprioritaskan dirinya dirumah, sekarang wanita dapat ikut merasakan adanya pendidikan. Sebaliknya, dampak negatifnya ialah memudarnya etika yang ada pada wanita saat ini. Kurangnya sopan santun terhadap orangtua, keluarga bahkan masyarakat bisa dikatakan cukup mewakili untuk menjelaskan gambaran wanita era sekarang. Bahasa maupun tingkah laku wanita masa ini menjadi perbandingan yang cukup nyata jika kita kembali ke masa lalu.
Contoh kecil yang sering sekali kita lihat ialah ketika orangtua duduk dibawah, sudah jarang kita jumpai ada anak (khususnya wanita) mau membungkuk sambil menundukkan kepalanya ke bawah ketika melewatinya sebagaimana dianggap tanda hormatnya ketika ia ingin permisi untuk melewatinya. Sebenarnya masih banyak sekali hal yang perlu direnungkan apabila kita ingin mencoba mengaitkan kehidupan dulu dengan sekarang. Akan tetapi lebih bagus lagi jika semua pengalaman dahulu dapat dijadikan suatu contoh pembelajaran bagi kita untuk menata hidup yang lebih baik khususnya dalam beretika.
Jika melihat sejarahnya memang peran wanita sejak dahulu lebih dominan pada pekerjaan rumah tangga sedangkan laki-lakilah yang keluar rumah mencari pundi-pundi uang.
Kita dapat melihat dengan jelas, Kartini merupakan pahlawan emansipasi wanita, di zaman modern seperti ini banyak profesi laki-laki yang digeluti oleh seorang wanita. Kartini telah mengajarkan kita, agar para wanita untuk berani berjuang menggapai mimpinya. Kini, berkat dari seorang Kartini semua jenis pekerjaan bisa dilakoni baik laki-laki maupun wanita. Sejak emansipasi ini pula, semakin banyak kesempatan terbuka untuk wanita bisa menekuni pekerjaan yang dulu umumnya dilakukan laki-laki.
IV. KESIMPULAN
Wanita Jawa pada umumnya dikenal dengan karakteristiknya yang sopan santun, tabah, lemah lembut serta tidak putus asa dalam berdoa. Namun apabila kita melihat dengan keadaan zaman sekarang tentu sangat berbeda. Hal ini tidak sedikit dari akibat masuknya budaya asing yang bercampur. Perubahan kedudukan wanita Jawa yang semula tidak seimbang hingga akhirnya kini diposisikan sejajar dan sama dengan laki-laki. Apabila wanita Jawa dahulu memiliki banyak keterbatasan, maka di era modern ini dapat dilihat wanita sudah sangat maju.
Sekarang wanita sudah bisa mengerjakan pekerjaan selayaknya apa yang laki-laki kerjakan.
Perkembangan keadaan dan kondisi masyarakat telah sangat mempengaruhi wanita Jawa dalam mendapatkan hak dan beremansipasi.
41
DAFTAR PUSTAKA
Purwadi. 2011. Konsep Wanita Utama Menurut Serat Centhini. Yogyakarta: Fakultas Bahasa Dan Seni Universitas Negeri Yogyakarta.
Sjamsuddin, Helius. 2019. Metodologi Sejarah. Yogyakarta: Ombak.
Sunoto. 1989. Nilai-nilai Luhur yang Terkandung dalam Ajaran yang Terdapat dalam Keluarga dan Masyarakat Jawa dan Manfaatnya bagi Pembangunan Nasional. Yogyakarta:
Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada.
Wahyudi, Agus. 2015. Serat Centhini 2 (Pengembaraan Cebolang Mencari Jati Diri).
Yogyakarta: Cakrawala.
Wibawa, Sutrisna. 2013. Nilai Filosofi Jawa Dalam Serat Centhini, Jurnal Litera Vol. 12, No.
2, Oktober 2013.