Penelitian aktif sesar merupakan bagian dari penelitian geologi gempa (earthquakegeology) dengan tujuan untuk memahami kemungkinan terjadinya gempa bumi di masa yang akan datang (Pantosti, Schwartz & Okumura, 2000). Peristiwa gempa bumi dapat menyebabkan patahan permukaan sebagai kelanjutan dari kerak bumi (Scholz, 1990) atau mungkin tidak menyebabkan patahan permukaan. Hal ini terlihat jelas pada kejadian gempa Liwa tahun 1994 yang menyebabkan patahan tersebut.
Sesuai dengan peraturan pemerintah no. 21 Tahun 2007, bangunan yang dibangun di perkotaan yang sangat rawan terhadap gempa bumi adalah bangunan beton tidak bertulang dengan kepadatan bangunan tinggi dan sedang. Bangunan di perkotaan dengan kerawanan gempa sedang adalah bangunan beton bertulang dengan kepadatan bangunan sedang dan rendah. Bangunan di perdesaan yang mempunyai kerawanan gempa sedang adalah bangunan beton bertulang, bangunan semi permanen dan bangunan tradisional.
Akibat pergerakan sesar batuan, pergerakan sesar tersebut dapat mengakibatkan gempa tektonik dan tanah longsor. Gempa bumi ini terjadi akibat besarnya energi yang dihasilkan oleh tekanan antar lempeng batuan di dalam perut bumi. Gempa ini merupakan jenis gempa yang paling sering dirasakan khususnya di Indonesia. Besar kecilnya dan luas kerusakan akibat gempa bumi kira-kira berkaitan dengan besarnya energi yang dilepaskan.
Gempa bumi adalah guncangan yang terjadi di bumi akibat pelepasan energi kerak bumi secara tiba-tiba/seketika, yang dipancarkan dalam bentuk gelombang seismik. Karena gempa bumi biasanya terjadi di bawah permukaan, maka posisi gempa harus ditentukan dari titik pengamatan dimana getaran gempa dirasakan. Misalnya kita mempunyai rekaman gempa (seismogram) dari seismometer yang dipasang 100 km dari pusat gempa, amplitudo maksimumnya adalah 1 mm, maka besaran gempa log (10 pangkat 3 mikrometer) sama dengan 3, 0 pada skala Richter.
Analisis Resiko Bencana
Misalnya gempa dengan intensitas 7 mempunyai getaran 10x lebih besar dan energi yang dikeluarkan 30x dari gempa dengan intensitas 6, getaran 100x lebih besar dan energi 900x lebih besar dibandingkan gempa dengan intensitas skala 5; 1000x lebih besar dari skala 4, dan seterusnya. Berdasarkan kedua definisi di atas, maka dapat disimpulkan bahwa risiko bencana di suatu daerah harus ditentukan terlebih dahulu. Analisis risiko: Suatu proses yang melibatkan identifikasi ancaman yang paling mungkin terjadi pada objek penelitian, serta menganalisis kerentanan yang terkait dengan ancaman bencana tersebut.
Penilaian risiko: suatu proses yang mencakup evaluasi kondisi fisik dan lingkungan, serta penilaian kapasitas sehubungan dengan potensi ancaman bencana. Untuk memudahkan pembahasan dalam tulisan ini, penulis akan menggunakan istilah International Strategy for Disaster Reduction (ISDR) yang mendefinisikan analisis risiko bencana sebagai metode penentuan risiko melalui analisis ancaman bencana dan evaluasi terhadap kondisi yang ada. Ada beberapa metode yang dapat digunakan untuk melakukan analisis risiko bencana, antara lain sebagai berikut.
Metode yang digunakan untuk memilih suatu opsi adalah dengan menyeimbangkan biaya setiap opsi dengan keuntungan/manfaatnya. Secara umum, biaya untuk menghadapi risiko yang ada setidaknya harus diimbangi dengan keuntungan yang diperoleh jika Anda menggunakan suatu opsi. Keunggulan metode ini adalah adanya upaya untuk memastikan investasi pemerintah tersalurkan secara tepat dalam pemilihan peluang/kegiatan yang memberikan manfaat sebesar-besarnya.
Sedangkan kelemahannya terletak pada proses pengumpulan data dan metode estimasi biaya tidak langsung (intangible cost). Peta bahaya adalah gambaran komunitas atau wilayah geografis yang mengidentifikasi tempat dan bangunan yang mungkin terkena dampak bencana. Keuntungannya adalah teknik ini dapat membantu menentukan bencana yang umum terjadi, mengembangkan kriteria pengambilan keputusan, menyediakan data kejadian bencana yang terjadi, dll.
Proses pemetaan bencana pada suatu wilayah dengan berbagai skala peta, tutupan lahan dan detail lainnya. Sedangkan jika berbagai ancaman bencana tergambar dalam satu peta, maka terlihat rekomendasi mitigasi bencana yang lebih seragam, kawasan yang memerlukan perhatian lebih terkait kerentanannya, dan penentuan tata guna lahan.
Sistem Informasi Geografis (SIG)
Tahapan Kerja SIG
Tahap pertama pekerjaan GIS terdiri dari input data. Ini merupakan tahapan dalam GIS yang dapat digunakan untuk memasukkan data asli dan mengubahnya menjadi bentuk yang dapat diterima oleh komputer. Data yang masuk membentuk database (data dasar) di komputer yang dapat disimpan dan diambil untuk digunakan atau diproses lebih lanjut. Data dasar yang dimasukkan dalam GIS diperoleh dari empat sumber, yaitu data lapangan (wilayah), data peta, data penginderaan jauh, dan data statistik.
Data penginderaan jauh merupakan data yang berupa gambar dan foto udara maupun non foto. Informasi yang terekam pada citra penginderaan jauh berupa foto udara diinterpretasikan (ditafsirkan) terlebih dahulu sebelum diubah ke dalam bentuk digital. Gambar yang diperoleh dari satelit yang sudah dalam bentuk digital digunakan segera setelah dikoreksi.
Data lapangan (teristris), yaitu data yang diperoleh secara langsung melalui pengamatan di lapangan karena data tersebut tidak dicatat dengan alat penginderaan jauh. Misalnya peta geologi atau peta jenis tanah yang akan dijadikan masukan dalam GIS kemudian diubah (diubah) ke dalam bentuk digital. Data statistik (statistik), yaitu data yang dihasilkan dari catatan statistik berupa tabel, laporan, survei lapangan, dan sensus penduduk.
Proses pemasukan data ke dalam GIS diawali dengan pengumpulan dan penyusunan data spasial dan atribut dari berbagai sumber data, baik dari data lapangan, peta, penginderaan jauh, maupun data statistik. Bentuk data yang dimasukkan dapat berupa tabel, peta, catatan statistik, laporan, citra satelit, foto udara dan hasil survei atau pengukuran lapangan. Data tersebut terlebih dahulu diubah ke dalam format data digital agar dapat diterima sebagai data masukan untuk disimpan dalam GIS.
Lapisan peta tematik adalah peta yang digambar pada sesuatu yang bersifat transparan, misalnya plastik transparan.Berbagai fenomena di permukaan bumi dapat dipetakan dalam beberapa lapisan peta tematik, yang masing-masing lapisan mewakili kumpulan objek (fitur) yang mempunyai kesamaan. memiliki . Tahapan manipulasi dan analisis data merupakan tahapan dalam GIS yang berfungsi untuk menyimpan, mengumpulkan, mengambil, memanipulasi dan menganalisis data yang tersimpan di komputer. Tahap keluaran data yaitu tahapan dalam GIS yang berfungsi untuk menyajikan atau menampilkan hasil akhir dari proses GIS dalam bentuk peta, grafik, tabel, laporan dan bentuk informasi digital lainnya yang diperlukan untuk perencanaan, analisis dan penentuan kebijakan suatu wilayah geografis. obyek.
Mitigasi Bencana
Bencana Sesuai dengan keputusan Sekretaris Komite Koordinasi Nasional Penanggulangan Bencana dan Pengungsi no. 2 Tahun 2001 tentang Pedoman Umum Penanggulangan Bencana dan Penanggulangan Pengungsi Bencana adalah suatu peristiwa atau rangkaian peristiwa yang disebabkan oleh alam, manusia dan/atau kedua-duanya sehingga mengakibatkan penderitaan manusia, kerugian harta benda, kerusakan lingkungan hidup, kerusakan prasarana dan sarana umum serta menyebabkan gangguan pada kehidupan dan penghidupan masyarakat. Dari kedua pengertian tersebut jelas bahwa bencana adalah suatu peristiwa yang disebabkan oleh manusia, alam atau gabungan keduanya yang menimbulkan penderitaan manusia dan kerugian harta benda serta merusak suatu sistem kehidupan. Fenomena alam tersebut disebut bencana hanya jika rentan, misalnya gempa bumi yang mengancam wilayah dengan kepadatan penduduk tinggi.
Selanjutnya bencana non alam adalah bencana yang disebabkan oleh hal lain selain alam dan manusia. Bencana yang termasuk dalam kategori ini adalah bencana yang disebabkan oleh kegagalan teknologi dan wabah penyakit. Bencana yang masuk dalam kategori ini antara lain teror bom dan konflik antar kelompok masyarakat.
“Bencana dapat disebabkan oleh peristiwa alam (natural Disasters) atau karena ulah manusia (Man-made Disasters)” (UNDP. Faktor-faktor yang dapat menimbulkan bencana antara lain adalah bencana alam dan bencana yang disebabkan oleh manusia. Hal ini juga berdampak pada peristiwa tsunami yang menyebabkan bencana. bencana yang diakibatkan oleh gempa bumi yang berkekuatan lebih dari enam skala richter yang terjadi sesaat sebelum terjadinya tsunami.Bencana ini menarik simpati dari berbagai belahan dunia, oleh karena itu bencana ini sering disebut dengan bencana kemanusiaan.
Oleh karena itu, diperlukan pengetahuan kebencanaan yang memadai bagi masyarakat mengenai berbagai jenis ancaman bencana yang ada di sekitar tempat tinggalnya. Gempa Yogyakarta juga memicu perdebatan mengenai aktivitas sesar Lembang yang juga aktif dan mengancam aktivitas warga di Kota Bandung dan sekitarnya. Konflik antar suku, antar agama, antar kampung dan tawuran pelajar merupakan contoh bencana sosial.
Biasanya bencana sosial disebabkan oleh kesalahpahaman atau masalah pribadi yang dapat diselesaikan secara kekeluargaan. Bencana lingkungan hidup adalah bencana yang diakibatkan oleh ulah manusia yang mengeksploitasi lingkungan hidup sehingga menimbulkan kerusakan lingkungan hidup yang pada akhirnya menimbulkan bencana. Hal ini dapat disebabkan oleh kualitas bahan yang buruk, proses pembuatan yang buruk atau kurangnya sumber daya manusia.
Definisi Operasional
Selain itu, Kota Bandung mempunyai batuan sedimen danau muda yang belum terkonsolidasi dengan baik sehingga jika terjadi gempa bumi diperkirakan akan merusak infrastruktur Kota Bandung dan menimbulkan banyak korban jiwa akibat tingkat kepadatan penduduk yang sangat padat. Bencana lingkungan sering terjadi karena pelaku industri biasanya tidak mematuhi peraturan yang ditetapkan pemerintah. Keuntungan yang besar menjadi orientasi utama dalam menjalankan kegiatan industri, sehingga faktor sumber daya seringkali diabaikan.