• Tidak ada hasil yang ditemukan

View of PROBLEM MENDASAR PENERAPAN BEA PEROLEHAN HAK ATAS TANAH DAN/ATAU BANGUNAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "View of PROBLEM MENDASAR PENERAPAN BEA PEROLEHAN HAK ATAS TANAH DAN/ATAU BANGUNAN"

Copied!
30
0
0

Teks penuh

Selain minimnya informasi yang diterima masyarakat, permasalahan mendasar pengaturan BHTB dalam UU No. 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Pajak Daerah (UUPDRD) terlihat dari ketentuan Pasal 87 yang berbunyi: Dari sini Notaris/PPAT melakukan tindakan membangun pasar berdasarkan Word of Mouth (WOM) atau diartikan dengan word of mulut membawa informasi berharga kepada Notaris/PPAT tanpa biaya komunikasi. Terjadi dari mulut ke mulut bahwa “dia” menawarkan harga jasa yang kompetitif, jelas. Ada bukti bahwa seseorang yang mendapat manfaat dari suatu akta perolehan hak atas tanah dan/atau bangunan dan dalam cara komunikasinya dianggap jujur ​​sebagai laju hukum berada dalam kondisi ketidakpastian. Buku II KUH Perdata tentang tanah, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya, kecuali ketentuan-ketentuan mengenai hipotek yang masih berlaku pada saat berlakunya undang-undang ini. 16.

“Dengan berlakunya undang-undang ini, Ordonansi Staatsblad tentang pengalihan hak milik tahun 1924 Nomor 291 beserta segala perubahannya mengenai pajak pengalihan hak milik atas pengalihan harta tetap berupa tanah dan/atau atau bangunan. batal.” (Vide; Pasal 27). Hal ini didasarkan pada perubahan Undang-Undang Nomor 21 Tahun 1997 dengan disetujuinya Undang-undang Nomor 20 Tahun 2000 tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 21 Tahun 1997 tentang Biaya Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan. Bahwa untuk lebih meningkatkan kepastian hukum dan keadilan, serta terciptanya sistem perpajakan yang sederhana tanpa mengabaikan pengawasan dan pengamanan pendapatan negara agar pembangunan nasional dapat terlaksana secara mandiri dan mewadahi terselenggaranya kegiatan usaha yang terus berjalan. untuk dikembangkan dalam bidang perolehan hak atas tanah dan bangunan, perlu dilakukan perubahan terhadap Undang-Undang Nomor 21 Tahun 1997 tentang Biaya Perolehan Hak Atas Tanah dan Konstruksi.” 17.

Pengaturan BPHTB yang berlaku saat ini, struktur hukumnya dimulai pada tingkat hukum dasar yaitu Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, pada Pasal 23A disebutkan “Pajak dan pungutan lain yang bersifat memaksa untuk keperluan negara diatur dengan undang-undang.”18 Selanjutnya , Pemerintah mengambil kebijakan delegasi. Hal itu diwujudkan dengan diundangkannya Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Kompensasi Daerah (UUPDRD). Hadirnya UUPDRD adalah untuk mencabut Undang-Undang Nomor 21 Tahun 1997 tentang Biaya Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2000 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 21 Tahun 1997 tentang Biaya Perolehan Hak dan tidak berlaku lagi. Lapangan dan infrastruktur.

Hubungan Informasi Publik dengan BPHTB

Secara umum negara-negara di dunia mempunyai peraturan perundang-undangan mengenai hak atas informasi, yang secara umum mengatur tentang perlindungan hak atas informasi dan tata cara masyarakat meminta dan menerima informasi.23 Indonesia sebagai negara aktif dalam meratifikasi hak-hak masyarakat. , termasuk Konvensi internasional Hak Sipil dan Politik, mengatur informasi publik melalui produk legislatif yaitu Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik (UU KIP). Informasi Publik adalah informasi yang dihasilkan, disimpan, ditatausahakan, dikirim dan/atau diterima oleh suatu badan publik yang berkaitan dengan penyelenggaraan dan penyelenggaraan negara dan/atau penyelenggaraan dan tata usaha badan publik lainnya sesuai dengan Undang-undang ini serta informasi lain yang berkaitan dengan hal tersebut. kepentingan publik. 25. BPHTB yang berada pada tataran norma perundang-undangan dalam ketentuan ketatanegaraan suatu undang-undang yang ditetapkan oleh Dewan Perwakilan Rakyat bersama-sama dengan Presiden dan disahkan oleh Presiden dan selanjutnya ditetapkan oleh Pemerintah, selalu disertai dengan penerbitan undang-undang tersebut dalam lembaran negara.

Ketentuan akhir suatu undang-undang memuat kalimat: “Sebagaimana diketahui setiap orang, memerintahkan pengundangan undang-undang ini dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia.” Artinya, frasa “supaya setiap orang mengetahui” mengandung arti bahwa setiap orang mengetahui ketentuan yang diatur dalam undang-undang. Oleh karena itu, sosialisasi masih dalam tahap perancangan suatu undang-undang, dan belum dalam tahap implementasi. Sebaliknya, diperlukan kearifan dari pemerintah untuk memperjelas esensi suatu standar dalam suatu undang-undang, karena tidak semua orang dapat memahami isi undang-undang yang mengikatnya.

Pada dasarnya peraturan di bidang perpajakan pada tingkat tarif perundang-undangan sangat minim diinformasikan kepada masyarakat, informasi yang dominan diberikan kepada masyarakat hanya pada kewajiban pembayaran dan kepatuhan pembayaran melalui pamflet atau pembagian tabel, bahkan bernuansa. kebijakan kepentingan daerah agar pimpinan daerah mendapat dukungan masyarakat. Pada dasarnya pentingnya hubungan BPHTB dengan informasi publik tidak dapat dipisahkan, karena hakikatnya adalah peran aktif masyarakat untuk ikut serta dalam pembangunan daerah melalui pajak yang dibayarkannya. Penting juga bahwa sebagian besar informasi publik dikendalikan oleh Badan Publik, sehingga pengelolaannya memerlukan dokumentasi yang baik dan kejelasan tentang informasi apa yang terbuka dan apa yang dikecualikan.

Kategori kelima di atas tidak disebutkan secara eksplisit, namun dijelaskan dalam Pasal 52 UU KIP, yaitu “informasi publik diberikan atas dasar permintaan sebagaimana diatur dalam Undang-undang ini”.26 Dari kategori informasi di atas, kategorisasinya adalah Informasi publik dapat dibagi menjadi tiga kategori utama, yaitu informasi yang diumumkan (berkala dan segera) dan informasi yang disediakan. Dengan masuk dalam kategori informasi yang harus tersedia setiap saat, yang secara definisi berarti 'informasi yang wajib disediakan oleh Badan Publik dan tersedia secara mudah sehingga dapat diberikan langsung kepada Pemohon Informasi Publik untuk tujuan tersebut berdasarkan permintaan. informasi publik". Namun tidak menutup kemungkinan bahwa otoritas publik dapat lebih proaktif dalam mengungkapkan informasi tertentu yang harus selalu tersedia bagi publik jika tersedia fasilitas yang memadai, seperti situs resmi.

Tindakan proaktif ini akan mengurangi beban otoritas publik itu sendiri dalam menanggapi setiap permintaan informasi yang bersifat publik.” Artinya tidak kaku dimana otoritas publik juga mempunyai kewajiban untuk memberi informasi tanpa adanya permintaan informasi. Meningkatnya informasi BPHTB, ada kemungkinan pejabat publik enggan memberikan informasi rinci tentang berapa nilai Barang Kena Pajak itu karena rumitnya tata cara penghitungannya sehingga sulit disederhanakan bahasanya, hal ini sebuah tantangan yang harus diatasi oleh otoritas publik dalam memberikan informasi kepada publik. Tidak jarang dokumen yang dikuasai oleh otoritas publik, tersedia mentah dalam bentuk aslinya, yang terkadang hanya dapat dibaca oleh mereka yang memiliki pengetahuan dan keterampilan teknis tertentu.

Oleh karena itu, badan publik yang diberi tugas dan wewenang untuk memungutnya hendaknya membuat petunjuk tata cara penghitungan sebagaimana diberikan.

Regresi Dasar Nilai Perolehan Objek Pajak BPHTB

Penafsiran ini dapat dianalisis melalui Pasal 17 huruf g Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2016... tentang larangan notaris untuk “secara serentak memegang jabatan sebagai pejabat hak milik tanah dan/atau kantor lelang kelas II di luar lokasi notaris”. Kemudian, dengan merujuk kepada UUPDRD, ia dinyatakan dalam artikel 91, perenggan 34 Ini bermakna pembayaran cukai BPHTB adalah syarat "mutlak" bagi PPAT/Notari untuk menyelesaikan pemindahan hak ke atas tanah dan/atau bangunan. Selepas penyerahan, timbul persoalan: Adakah tindakan menurunkan harga transaksi jualan berdasarkan arahan PPAT/Notari kelak membawa akibat undang-undang.

Pertanyaan ini mengandung makna suatu tindakan yang diarahkan oleh PPAT/Notaris kepada para pihak untuk menurunkan harga jual beli dengan tujuan mendekati nilai perolehan objek pajak tidak kena pajak. Jika dicermati berapa besaran gaji PPAT/Notaris, mengacu pada Pasal 36 Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris, disebutkan:. Berdasarkan pengamatan yang cermat, apabila PPAT/Notaris benar-benar memerintahkan agar nilai jual beli dikurangi, maka penghasilan PPAT/Notaris tetap sebesar 2,5% dari harga transaksi setelah dikurangi nilai objek tidak kena pajak.

Oleh karena itu, menarik bagi PPAT/Notaris untuk turut serta memberikan nilai wajar harga transaksi jual beli. Bagi PPAT/Notaris, selain persoalan kode etik karena tidak memberikan sesuatu yang baru kecuali yang tertulis (lex scripta), ditegaskan pula akibat logis dari lex certa dan lex scripta pasal 87 ayat (2) dan ayat (3) UUPDRD. Berbeda jika merujuk pada pasal 15 ayat (1) sebelum perubahan yaitu UU No. 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris.

Akta otentik sendiri adalah suatu akta jual beli tanah dan/atau bangunan dimana para pihak ingin memperkecil nilai jual beli tersebut untuk menghindari BPHTB yang tinggi dan hal ini tentunya dapat timbul atas tawaran dari PPAT/Notaris atau atas inisiatif sendiri. oleh para pihak 39 Oleh karena itu, sangat sulit untuk mengaitkan persoalan ini dengan kata-kata dalam pasal yang mengidentifikasinya sebagai pelanggaran. Akhir dari uraian tersebut adalah pertanyaan mengenai keberadaan PPAT/notaris yang terlibat dalam transaksi penurunan harga tanah dan/atau jual beli. Pengenaan bangunan untuk mengurangi besaran BPHTB yang dibayarkan oleh Wajib Pajak tidak mempunyai akibat hukum karena peraturan UUPDRD tidak secara tegas memberikan dasar pengenaan tarif BPHTB, sedangkan peraturan dalam UU PPAT/Notaris sendiri memberikan kepastian bagi PPAT/Notaris dan tidak ada sanksinya. dapat dikenakan, karena tidak ada peraturan hukum yang melarang hal tersebut.

UUPDRD mempunyai nuansa yang memberikan rasa aman dan manfaat kepada kelompok atau kelompok yang berkuasa dalam penguasaan tanah dan Undang-undang Pejabat Notaris juga menjamin kedudukan PPAT/Notaris (Positivis). Terungkap bahwa berdasarkan Pasal 15 ayat (1) Undang-Undang Nomor 02 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Kedudukan Notaris, unsur-unsur yang dirumuskan adalah: “Notaris mempunyai kekuasaan untuk mengambil keputusan yang diinginkan oleh pihak-pihak yang berkepentingan. untuk mengambil". para pihak dalam suatu akta otentik. Akta otentik sendiri adalah suatu akta jual beli tanah dan/atau bangunan dimana para pihak ingin memperkecil nilai jual beli tersebut untuk menghindari BPHTB yang tinggi dan hal ini tentunya dapat timbul atas tawaran dari PPAT/Notaris atau atas inisiatif sendiri. dari para pihak.

Dengan demikian, persoalan adanya PPAT/Notaris yang terlibat dalam penurunan harga transaksi jual beli tanah dan/atau bangunan untuk mengurangi besaran BPHTB yang dibayarkan oleh Wajib Pajak tidak menimbulkan akibat hukum apapun, karena peraturan UUPDRD tidak secara tegas memberikan dasar pengenaan tarif BPHTB, sedangkan ketentuan dalam Akta PPAT/Notaris sendiri memberikan kepastian kepada PPAT/Notaris dan tidak dapat dikenakan sanksi karena tidak ada persyaratan hukum yang melarangnya.

Referensi

Dokumen terkait

Hasil uji F menunjukkan adanya pengaruh yang signifikan antara Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan BPHTB dan Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan PBB-P2 secara