ISSN 2302-4283 (print) ISSN 2580-9571 (online)
Online di https://jurnal.poltekkes-soepraoen.ac.id DOI: 10.47794/jkhws
34 | Jurnal Kesehatan Hesti Wira Sakti; Volume 11 Nomor 01, April 2023
HUBUNGAN ASUPAN MAKANAN (PROTEIN) TERHADAP KEJADIAN STUNTING PADA BALITA
Jumrah Sudirman1, Hasriani Saleng2, Nurjannah Supardi3, Rahayu Eryanti Kusniyanto4
1,2,3,4Prodi Kebidanan, Fakultas Keperawatan dan Kebidanan, Universitas Megarezky
(Korespondensi: [email protected])
ABSTRAK
Pendahuluan: Stunting adalah gangguan pertumbuhan akibat kekurangan gizi kronis yang ditunjukkan dengan z-score tinggi badan menurut usia (PB/A) di bawah -2 SD. Deformitas dapat didiagnosis dengan indeks antropometri tinggi-untuk-usia, yang mencerminkan pertumbuhan linier jangka panjang sebelum dan sesudah lahir karena malnutrisi dan nutrisi yang tidak memadai.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan asupan protein dengan kejadian stunting pada balita. Metode: Jenis penelitian yang digunakan adalah survey analitik dengan cross sectional study. Sampel pada penelitian ini berjumlah 40 yang didapatkan dengan teknik purposive sampling. Penelitian ini dilakukan pada Maret-Agustus 2021. Pengumpulan data dilakukan melalui pengukuran tinggi badan, Berat badan, wawancara kuesioner dan lembar food recall. Analisis data dilakukan dengan uji chi-square. Hasil:
Penelitian menunjukkan analisis uji statistik nilai p=0,039 < α= 0.05 yang berarti terdapat hubungan yang signifikan. Olehnya itu, adanya pengaruh bermakna antara asupan protein dengan kejadian stunting pada balita. Kesimpulan: Hasil dari penelitian ini menyarankan agar masyarakat untuk menerapkan pola makan gizi seimbang dan mendapatkan pendidikan yang layak untuk meningkatkan kesejahteraan.
Kata kunci: Asupan Protein, Stunting.
THE RELATIONSHIP OF FOOD (PROTEIN) INTAKE ON STUNTING INCIDENCE IN TODDLERS
ABSTRACT
Introduction: Stunting is a growth disorder due to chronic malnutrition, as indicated by a z- score for height for age below -2 SD. The deformity can be diagnosed by a high-for-age anthropometric index, which reflects long-term linear growth before and after birth due to malnutrition and inadequate nutrition. This study aims to determine the relationship between protein intake and the incidence of stunting in toddlers. Methods: The type of research used is an analytic survey with a cross-sectional study. The sample in this study amounted to 40 obtained by purposive sampling technique. The researcher conducted this research in March- August 2021. This collected data by measuring height, and weight, questionnaire interviews, and food recall sheets. The result performed data analysis with the chi-square test. Results:
The results showed that the statistical test analysis showed that the value of p = 0.039 < α = 0.05 means a significant relationship. Therefore, there is a substantial influence between protein intake and the incidence of stunting in toddlers. Conclusion: The results of this study suggest that people adopt a balanced nutritional diet and get proper education to improve their welfare
Keywords: Protein Intake, stunting
35 | Jurnal Kesehatan Hesti Wira Sakti; Volume 11 Nomor 01, April 2023 PENDAHULUAN
Stunting merupakan gangguan pertumbuhan karena malnutrisi kronis, yang ditunjukkan dengan nilai z-score panjang badan menurut umur (PB/U) kurang dari -2 SD. Stunting dapat didiagnosis melalui indeks antropometri tinggi badan menurut umur yang mencerminkan pertumbuhan linear yang dicapai pada pra dan pasca persalinan dengan indeks kekurangan gizi dan jangka panjang, akibat dari gizi yang kurang memadai (Windra et al., 2021).
Gizi buruk merupakan suatu keadaan yang terjadi ketika bahan makanan yang masuk kedalam tubuh tidak cukup mengandung nutrisi (zat gizi) sesuai dengan yang diperlukan oleh tubuh. Gizi buruk merupakan factor penting yang berkontribusi terhadap keadaan sakit dan kematian terutama di Negara miskin dan berkembang,. Gizi buruk yang didapat selama kanak-kanak dapat berpengaruh terhadap gangguan pertumbuhan dan resiko kesakitan dan kematian (Sari et al., 2016).
Angka kejadian stunting tinggi yaitu sekitar 36 % dengan prevalensi kejadian tinggi berada dikawasan Asia Selatan.
Setengah dari jumlah total anak dibawah 5 tahun mengalami stunted, dimana sekitar 61 juta dari jumlah anak dibawah 5 tahun yang mengalami stunted terjadi di India (Bandyopadhyay, Shivakumar and Kurpad, 2020).
Sekitar 7,8 juta anak mengalami stunting di Indonesia, data ini berdasarkan laporan yang dikeluarkan oleh UNICEF dan memposisikan Indonesia masuk ke dalam 5 besar negara dengan jumlah anak yang mengalami stunting tinggi. Hasil Riskesdas 2010, secara nasional prevalensi kependekan pada anak umur 2-5 tahun di Indonesia adalah 35,6 % yang terdiri dari 15,1 % sangat pendek dan 20 % pendek (Agus Kundarwati et al., 2022).
Secara garis besar penyebab stunting dapat dikelompokkan ke dalam tiga tingkatan yaitu tingkatan masyarakat, rumah tangga (keluarga) dan individu(de Kok et al., 2022). Pada tingkat rumah tangga (keluarga), kualitas dan kuantitas makanan yang tidak memadai, tingkat pendapatan, pola asuh makan anak yang tidak memadai, pelayanan kesehatan dasar yang tidak memadai menjadi faktor penyebab stunting,
INFO ARTIKEL Riwayat Artikel:
Diterima: 8 Januari 2023 Disetujui: 1 Maret 2023
Tersedia secara online: 30 April 2023
Alamat Korespondensi:
Nama:Jumrah Sudirman Afiliasi:Universitas Megarezky
Alamat:Jalan Antang Raya No. 43 Makassar Email:[email protected]
36 | Jurnal Kesehatan Hesti Wira Sakti; Volume 11 Nomor 01, April 2023 dimana faktor-faktor ini terjadi akibat faktor
pada tingkat masyarakat (De Vries-Ten Have et al., 2020).
Menurut penelitian Wellina et.al.
(2016) tentang Faktor Resiko Kejadian Stunting Pada Anak Usia 12-24 Bulan, Asupan zat gizi yang menjadi faktor risiko terjadinya stunting adalah asupan protein.
Anak dengan asupan protein rendah berisiko 8 kali (OR=7,65) untuk terjadi stunting. Hal ini dimungkinkan terjadi karena meskipun asupan karbohidrat, lemak, seng dan kalsium mencukupi kebutuhan, namun kekurangan protein lebih berpengaruh terhadap kejadian stunting pada anak.
Kejadian stunting pada anak dapat terjadi karena kekurangan atau rendahnya kualitas protein yang mengandung asam amino esensial (Budge et al., 2019).
Pertumbuhan tulang dimulai oleh sintesis kartilago, yang kemudian mengalami osifikasi. Sintesis kartilago membutuhkan sulfur dalam jumlah yang besar, karena salah satu penyusunan utamanya adalah sulfur. Tubuh memperoleh sebagian besar sulfur melalui katabolisme asam amino, maka diperlukan asupan protein yang adekuat untuk proses pertumbuhan anak (Givens, 2020).
Konsekuensi defisiensi zat gizi makro selama masa anak - anak sangat berbahaya.
Salah satu zat gizi makro adalah protein yang berfungsi untuk Menyusun berbagai jaringan tubuh, serta menghasilkan enzim
dan hormon. Kekurangan protein murni pada stadium berat dapat menyebabkan kwashiorkor pada anak - anak dibawah lima tahun. Kekurangan protein juga sering ditemukan secara bersamaan dengan kekurangan energi yang menyebabkan kondisi yang dinamakan marasmus (Arndt et al., 2019). Protein sendiri memiliki banyak fungsi, diantaranya membentuk jaringan tubuh baru dalam masa pertumbuhan dan perkembangan tubuh, memelihara jaringan tubuh, memperbaiki serta mengganti jaringan yang rusak atau mati, menyediakan asam amino yang diperlukan untuk membentuk enzim pencernaan dan metabolism (Angelin et al., 2021).
Berdasarkan kajian tersebut, peneliti tertarik melakukan penelitian untuk mengetahui Pengaruh Asupan Makanan (Protein) terhadap Kejadian stunting pada balita”. Pada penelitian ini dilakukan pada sampel yang berbeda dari penelitian sebelumnya yaitu pada balita usia 25-60 bulan.
METODE PENELITIAN
Jenis penelitian yang digunakan adalah survey analitik dengan cross sectional study. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh Balita dengan jumlah 68 orang. Sampel pada penelitian ini berjumlah 40 yang didapatkan dengan tekhnik purposive sampling dengan kriteria Balita berusia 25 - 60 bulan dan memiliki
37 | Jurnal Kesehatan Hesti Wira Sakti; Volume 11 Nomor 01, April 2023 KMS serta tidak memiliki Riwayat
Penyakit infeksi. Penelitian ini dilakukan pada Maret-Agustus 2021. Pengumpulan data dilakukan melalui pengukuran tinggi badan, Berat badan ,wawancara, kuesioner dan lembar food recall. Analisis data dilakukan dengan uji chi-square. Penelitian ini telah melalui etik penelitian LPPM Universitas Megarezky dengan nomor etik penelitian 002.E/07.091056/XII/2020
Validitas Instrumen dilakukan dengan uji korelasi Pearson Product, dimana dilakukan pada 20 responden dengan signifikansi sebesar 5% maka didapat nilai r tabel sebesar 0,4444.
Pertanyaan pada instrument dikatakan valid apabila hasil r hitung lebih besar dari r tabel. Untuk Reliabilitas Instrumen dinyatakan reliable apabila nilai Cronbach Alpha ≥ 0,6. Hasil uji pertanyaan dari variabel yang diuji reliabilitas nilai Cronbach Alpha ≥ 0,6 sehingga dinyatakan reliable.
HASIL PENELITIAN
1.Distribusi Responden Berdasarkan karakteristik:
Berdasarkan tabel 1 diatas jenis kelamin laki-laki dan perempuan masing- masing 50%. Umur balita paling banyak umur 25-36 bulan yaitu 24 anak (60%).
Pendidikan ibu paling banyak SMA yaitu 17 orang (42.6%). Status ekonomi paling
banyak kategori rendah yaitu 32 orang (80%).
Tabel 1. Distribusi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin, Umur, Pendidikan Ibu dan status Ekonomi
Variabel n %
Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan
20 20
50 50 Umur (bulan)
25 – 36 37 – 49 50 - 60
24 7 9
60 17.5 22.5 Pendidikan ibu
SMP SMA PT
12 17 11
30.9 42.6 27.5 Status Ekonomi
Tinggi Rendah
8 32
20 80
Total 40 100
Sumber : Data Primer
2. Hubungan asupan makanan (Protein) terhadap Kejadian Stunting.
Tabel 2. Hubungan Status Kehamilan dengan Stres Ibu Hamil
Asupan Makanan
(Protein)
Stunting Jumlah
Ya Tidak Nilai P
n % n % N %
Baik 7 63,6 4 36,4 11 100 0,039 Buruk 27 93,1 2 6,9 29 100 Jumlah 34 85.0 6 15,0 40 100
*uji Chi Square
Tabel 2 di atas menunjukkan bahwa anak yang mendapatkan asupan protein yang baik, terdapat 7 anak (63.6%) yang
38 | Jurnal Kesehatan Hesti Wira Sakti; Volume 11 Nomor 01, April 2023 mengalami stunting dan 4 anak (36.4%)
yang mengalami stunting. Sementara, dari 29 anak yang mendapatkan asupan protein yang buruk, terdapat 27 anak (93.1%) yang mengalami stunting dan 2 anak (6.9%) yang tidak mengalami stunting. Nilai p- value = 0,039 < 0,05, hal ini berarti terdapat hubungan antara asupan makanan (protein) terhadap kejadian stunting.
PEMBAHASAN
Pengaruh asupan makanan (protein) dengan stunting pada balita
Protein merupakan zat pengatur dalam tubuh manusia. Pada balita protein dibutuhkan untuk pemeliharaan jaringan, perubahan komposisi tubuh, dan untuk sintesis jaringan baru. Selain itu, protein juga dapat membentuk antibody untuk menjaga daya tahan tubuh (Fandiño et al., 2019).
Asupan makanan berkaitan dengan kandungan nutrisi (zat gizi) yang terkabdung didialam makanan yang dimakan. Dikenal dua jenis nutrisi yaitu makro nutrisi dan mikronutrisi.
Makronutrisi merupajan nutrisi yang digunakkan kalori atau energy, diperlukan untuk pertumbuhan, metabolisme dan fungsi tubuh lainnya (Sebastiani et al., 2019). Makronutrisi diperlukan tubuh dalam jumlah yang besar, terdiri dari karohidrat, protein dan lemak. Nutrisi (zat gizi) merupakan bagian yangb penting dari
kesehatan dan pertumbuhan. Nutrisi yang baik berhubungan dengan peningkatan kesehatan bayi, anak dan ibu, system kekebalan yang kuta, kehamilan, kelahiran yang aman, resiko rendah terhadap penyakit tidak menular seperti diabetes dan penyakit jantung, dan umur yag lebih Panjang (McKeating, Fisher and Perkins, 2019).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahwa dari 29 responden yang mempunyai asupan makanan (protein) buruk terdapat 27 responden (93.1) yang mngalami stunting, dan 2 responden (6,9
%) yang tidak mengalami stunting.
Sedangkan 11 responden yang mempunyai asupan makanan (protein) baik mengalami stunting sebanyak 7 responden (63,6 %), dan yang tidak stunting sebanyak 4 responden (36,4%).
Dengan pengujian tekhnik chi_square didapatkan ρ = 0,039<α:0,05, ini berarti Ho ditolak dan Ha diterima.
Dengan demikian ada pengaruh antara asupan makanan (protein) dengan stunting pada balita.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Paramita Anisa (2012) dengan judul “Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Stunting Pada Balita Usia 25-60 Bulan di Kelurahan Kalibaru Depok Tahun 2012” menunjukkan adanya hubungan yang bermakna antara asupan protein dengan kejadian stunting pada
39 | Jurnal Kesehatan Hesti Wira Sakti; Volume 11 Nomor 01, April 2023 balita dikelurahan kalibaru, hal ini dapat
dilihat dari nilai p = 0,011 (p < 0,05).
Begitu pula dengan penelitian yang dilakukan oleh Asrar Hadi & boediman (2009) pada balita di suku Nuaulu Kabupaten Maluku tengah menyebutkan hal yang sama dengan penelitian ini dimana menunjukkan bahwa proporsi balita pendek lebih banyak terjadi pada balita yang asupan proteinnya kurang dari pada balita yang asupan proteinnya cukup.
Berdasarkan hasil penelitian diatas, peneliti berasumsi bahwa bahwa dari 11 responden yang memiliki asupan makanan (protein) baik terdapat 7 (63,6 %) responden yang mengalami stunting.
Banyak factor yang menyebabkan kejadian stunting termasuk pola asuh yang dipengaruhi oleh Pendidikan ibu, adanya penyakit infeksi pada anak, juga dipengaruhi oleh sanitasi lingkungan dengan sanitasi dan kebersihan yang pada penelitian ini belum dilakukan pengkajian mendalam terkait factor lainnya (Bandyopadhyay, Shivakumar and Kurpad, 2020). Dari 29 responden yang mengalami asupan protein buruk ada 2 (6,9%) responden yang tidak mengalami stunting yang disebabkan karena balita mendapatkan imunisasi yang baik dimana imunisasi merupakan proses yang menjadikan seseorang kebal atau dapat melawam terhadap penyakit infeksi.
Pemberian imunisasi diberikan dalam
bentuk vaksin dimana Vaksin merangsang tubuh untuk membentuk system kekebalan tubuh yang digunakan untuk melawan infeksi atau penyakit (Islam et al., 2020).
KESIMPULAN
Sebagai kesimpulan pada penelitian ini didapatkan bahwa asupan protein menjadi salah satu pemicu kejadian stunting pada balita Oleh karena itu, perlunya keluarga terutama ibu dapat memberikan asupan gizi yang adekuat sehing sehingga dapat mengurangi resiko terjadinya stunting pada balita serta pentingnya peran petugas Kesehatan untuk dapat melakukan edukasi terkait pemberian makanan pada anak.
DAFTAR PUSTAKA
Agus Kundarwati, R. et al. (2022)
‘Hubungan Asupan Protein, Vitamin A, Zink, dan Fe dengan Kejadian Stunting Usia 1-3 Tahun’, Jurnal Gizi, 11(1), p. 2022.
Angelin, T.C. et al. (2021) ‘Promoter Genotype in Indonesian School-Age Children’, pp. 0–9.
Arndt, M.B. et al. (2019) ‘Plasma fibroblast growth factor 21 is associated with subsequent growth in a cohort of underweight children in Bangladesh’, Current Developments in Nutrition, 3(5), pp. 1–10.
doi:10.1093/cdn/nzz024.
Bandyopadhyay, S., Shivakumar, N. and Kurpad, A. V. (2020) ‘Protein intakes of pregnant women and children in India—protein quality
40 | Jurnal Kesehatan Hesti Wira Sakti; Volume 11 Nomor 01, April 2023 implications’, Maternal and Child
Nutrition, 16(S3), pp. 1–11.
doi:10.1111/mcn.12952.
Budge, S. et al. (2019) ‘Environmental enteric dysfunction and child stunting’, Nutrition Reviews, 77(4),
pp. 240–253.
doi:10.1093/nutrit/nuy068.
Fandiño, J. et al. (2019) ‘Perinatal undernutrition, metabolic hormones, and lung development’, Nutrients, 11(12). doi:10.3390/nu11122870.
Givens, D.I. (2020) ‘MILK Symposium review: The importance of milk and dairy foods in the diets of infants, adolescents, pregnant women, adults, and the elderly’, Journal of Dairy Science, 103(11), pp. 9681–
9699. doi:10.3168/jds.2020-18296.
Islam, M.S. et al. (2020) ‘Determinants of stunting during the first 1,000 days of life in Bangladesh: A review’, Food Science and Nutrition, 8(9),
pp. 4685–4695.
doi:10.1002/fsn3.1795.
de Kok, B. et al. (2022) ‘Prenatal fortified balanced energy-Protein supplementation and birth outcomes in rural Burkina Faso: A randomized controlled efficacy trial’, PLoS Medicine, 19(5), pp. 1–20.
doi:10.1371/journal.pmed.1004002.
McKeating, D.R., Fisher, J.J. and Perkins, A. V. (2019) ‘Elemental metabolomics and pregnancy outcomes’, Nutrients, 11(1).
doi:10.3390/nu11010073.
Sari, E.M. et al. (2016) ‘Protein, Calcium and Phosphorus Intake of Stunting and Non Stunting Children Aged 24- 59 Months’, Jurnal Gizi Klinik Indonesia, 12(4), pp. 152–159.
Sebastiani, G. et al. (2019) ‘The effects of vegetarian and vegan diet during pregnancy on the health of mothers and offspring’, Nutrients, 11(3), pp.
1–29. doi:10.3390/nu11030557.
De Vries-Ten Have, J. et al. (2020) ‘Protein intake adequacy among Nigerian infants, children, adolescents and women and protein quality of commonly consumed foods’, Nutrition Research Reviews, 33(1),
pp. 102–120.
doi:10.1017/S0954422419000222 Windra, R. et al. (2021) ‘Hubungan
Riwayat Bblr, Asupan Protein, Kalsium, Dan Seng Dengan Kejadian Stunting Pada Balita’, Nutrition Research and
Development Journal,
01(November), pp. 1–12. Available at:
https://journal.unnes.ac.id/sju/index.
php/nutrizione/.