MASYARAKAT MUSLIM INDONESIA
Ahmad Ihsan Syarifuddin, Armiya Nur Lailatul Izzah, M.Pd [email protected], [email protected]
Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Dosen PGMI STAI Khozinatul Ulum Blora
Abstract
Art and literature are important elements in the history of the spread of Islam, especially in Indonesia, but the reality is that there are many differences among ulama, fuqaha, and among intellectuals about art and literature. In the perspective of Islamic Sufism, art is associated with Belief in God values, while literature as a medium for the spread of Islam which has beauty values. The absence of a definite instrument regarding Literature and Art causes arts and literature in Muslim society to be isolated and unable to develop. This paper will focus on researching literature, art and Islam in general, and how the journey of literature and art in the development of Islam, as well as seeing the extent to which literature and art can be called Islamic. This research uses descriptive analysis method. The paper ends with the conclusions that this paper is not meant to provide halal and haram or good and bad laws regarding literature and arts, but this article simply wants to describe the reality of the relationship between literature and art in the Islamic paradigm in Indonesia.
Keywords: Literature, Art, Indonesian Islam Abstrak
Seni dan sastra adalah elemen penting dalam sejarah penyebaran Islam khususnya di Indonesia, namun realita yang terjadi masih banyak perdebatan panjang di kalangan ulama, fuqaha, maupun di kalangan para intelektual tentang kesenian dan kesusastraan. Jika melihat dari kalangan dunia sufisme Islam melihat kesenian memiliki kaitan dengan nilai ketuhanan, dan kesusastraan sebagai media penyebaran Islam yang memiliki nilai keindahan. Tidak adanya instrument yang pasti mengenai Sastra dan Seni menyebabkan kesenian dan kesusastraan di masyarakat muslim menjadi seolah terkucilkan dan tidak mampu berkembang. Tulisan ini akan fokus untuk melihat sastra, seni dan Islam secara umum, dan bagaimana perjalanan sastra dan seni dalam perkembangan Islam, serta melihat sampai pada batasan mana sastra dan seni bisa disebut Islami. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analisis.
Hingga sampai pada kesimpulan bahwa tulisan ini tidak untuk memberikan hukum halal dan haram atau baik dan buruk mengenai sastra dan seni, tetapi tulisan ini sekedar ingin menggambarkan realita keterkaitan sastra dan seni dalam paradigma Islam di Indonesia, yang ternyata keduanya mempunyai peran dan pengaruh besar dalam sejarah perkembangan Islam Indonesia hingga saat ini.
Kata kunci: Sastra, Seni, Islam Indonesia
A. PENDAHULUAN
Jauh sebelum Islam diturunkan di Jazirah Arab, sastra telah berkembang pesat di masyarakat Arab Jahiliyah. Menurut John L. Esposito dalam Oxford Encyclopedia, kesusastraan Jahiliyah merupakan bagian dari budaya Badui dan didominasi oleh puisi/
syair. Pada zaman pra-Islam, penyair sering kali berfungsi sebagai orang bijak dalam suatu suku. Bentuk kesenian utamanya adalah kasidah dan ode.1 Menurut Alm. Prof. Taufiq Ahmad Daldiri, guru besar Fakultas Adab UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Para penyair di era Jahiliyah biasanya mendapat inspirasi untuk menggubah ode setelah melihat jejak binatang yang yang mengisyaratkan adanya perkemahan yang telah ditinggalkan. Sebelum agama Islam yang dibawa Nabi berkembang di dunia Arab, masyarakat setempat sudah lama memiliki tradisi sastra yang kuat. Saat itu banyak penyair dan seniman yang ambil bagian, terutama yang bergenre puisi. Jadi, bisa dikatakan puisi merupakan salah satu karya sastra tertua dan paling familiar masyarakat Arab.
Islam sendiri dalam penyebarannya telah mengalami banyak peristiwa sejarah, mulai dari kisah Nabi Adam dan Istrinya, Nabi Ibrahim, Nabi Ismail dengan keajaiban air zam-zamnya, Nabi Yusuf dengan pesonanya, hingga Nabi Muhammad SAW sebagai sampulnya dari para nabi dan rosul. Cerita-cerita tersebut merupakan prosa non imajinatif, yaitu karya sastra berdasarkan kisah nyata di masa lalu yang telah menjadi sejarah (2007:
15), dan masih sangat menarik untuk diceritakan kepada anak-anak sebagai pengantar sebelum terlelap tidur yang mengandung banyak pelajaran berharga.
Islam memiliki keterkaitan dengan karya sastra yang penuh dengan unsur keindahan dan mafaat di dalamnya, seperti yang dituturkan oleh Renne Wellek dan Austin Werren (1986: 25-26), esensi dari karya sastra adalah dulce et utile (menyenangkan dan bermanfaat).
Contoh di atas merupakan karya sastra karena mengandung manfaat atau hikmah dan juga menyenangkan untuk diceritakan. Selain dalam bentuk prosa seperti kisah nabi dan rosul, sastra puisi juga ada dalam Islam yaitu puisi yang ditulis dalam doa nabi, puisi religi dan lirik lagu Islami.
Allah SWT menururnkan agama Islam kepada semua manusia yang berasal dari Al-Qur’an dan Sunnah, dan Islam merupakan agama yang mempunyai rasa, keinginan, nafsu,peasaan, sifat dan intelektual, dan merupakan agama yang nyata dan sesuai dengan fitrah manusa. Di dalam hati nurani, perasaan dan keinginan manusia tertanam sebuah cinta kasih untuk sebuah keindahan, dimana keindahan adalah seni. Keindahan di sini adalah sesuatu yang bisa menggugah jiwa, keintiman, bisa menimbulkan rasa kasihan, bahkan kesenangan bisa menimbulkan kebencian, dendam dan sebagainya. Seni adalah penjelmaan rasa indah yang ada pada jiwa manusia, diciptakan menggunakan perantara indera komunikasi ke pada bentuk yang bisa di rasa oleh alat/indera pendengar (seni suara),
1 Sajak lirik untuk menyatakan pujian terhadap seseorang, benda, peristiwa yang dimuliakan, dan sebagainya.
penglihatan (seni lukis), atau dilahirkan dengan perantaraan gerak (seni tari, drama).2 Dari sini pemakalah ingin melihat lebih dalam bagaimana paradigma transformasi sastra dan seni dalam perspektif masyarakat muslim di Indonesia. Masih adanya perdepatan tanpa batas dan kontroversi yang belum tuntas terhadat seni dan sastra dalam kehidupan masyarakat Muslim, menjadikan belum adanya konsep baku dalam pandangan Islam yang belum disepakati secara keseluruhan dan belum matangnya paradigma dalam menyoal tentang realita seni dan sastra.
B. PEMBAHASAN
Fenomena tentang kesenian dan kesusastraan yang ada pada Islam acapkali diperdebatkan dengan surah as Syuara mengenai penyair yang tidak beriman berada pada bisikan jin. Sebenarnya ayat tadi mempunyai maksud supaya nilai-nilai estetika punya konteks yang kentara dengan realitas sebagai bentuk keharmonisan dalam kehidupan.
Dalam hal ini, esensi estetika seharusnya selalu pada kadar dan poin yang sejalan dengan al-Qur’an dan Hadist supaya sempurna dan sejalan menggunakan perspektif Pendidikan.
Entitas itulah yang penting untuk dipahami supaya teks tidak mengandung warta dan berita yang penuh dengan kebohongan belaka.3
1. Sastra dan Islam
Karya sastra memiliki peranan yang penting dalam sejarah Islam.4 Mengacu pada wahyu al-Qur’an, pada saat itu di Bahasa Arab berada di puncak permainan kata.
Siapapun itu mampu membuat karya sastra dianggap sebagai “intelektual”. Mereka berlomba-lomba menulis karya terhebat. Oleh karena itu, Alquran diturunkan dengan tingkat estetika dan etika yang melampaui karya sastra Arab yang terkenal pada masa itu, yaitu tingkat kebenaran ruang dan waktu. Berdasar pada fenomena ini, untuk memahami ranah simbolik yang ada di dalam al-Qur’an juga dapat ditinjau dari aspek bahasa yang puitis.5 Bahasa dalam Alquran yang masih dipahami secara simbolis oleh umat Islam terkadang dipuji karena keindahannya dalam bentuk sastra. Perubahan dalam dunia Islam sendiri, kandungan dan isi dari al-Qur’an membuat banyak ulama, pemikir dan bahkan seniman terinspirasi untuk membuat sebuah karya atau menulis kita-kitab.6
Realita kehidupan spiritual yang dialami oleh penulis yang bedasarkan hubungan dengan Sang Pencipta akan menjadi pengetahuan yang mana pengetahuan in akan mampu memberikan pencerahan bagi seorang pembaca untuk turut menyelami sebuah kehidupan. “Seorang penulis Muslim yang betul-betul paham tentang sebuah keindahan Islam akan paham bahwa estetika tertinggi yang ingin dicapai dalam karyanya adalah terkait dengan pengalaman spiritualnya”.7
Murata dan Chittick8 menyebutkana bahwa al-Qur’an mempunyai tujuh strata makna, yaitu mulai dari yang mudah dipahami oleh orang biasa, sampai pada tingkatan
2 Van Hoeve, Ensiklopedi Indonesia, (Jakarta: PT. Ikhtiar Baru), 3080 - 3081
3 Suznhaji, Sastra dalam Tradisi Pendidikan Islam, Jurnal Kebudayaan Islam, Vol. 13 No. 1, 2015, 49- 50.
4 Ismal Raji al Faruqi. Seni Tauhid: Esensi dan Ekspresi Estetika Islam terj. Hartono Hadikusumo (Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya, 1999), 5.
5 Sachiko Murata dan William C. Chittick, The Vision of Islam terj. Suharsono. (Yogyakarta: Suluh Press, 2005), xx-xxii.
6 Ibid., 7.
7 Abdul Hadi W.M., Hermenetika, Estetika, dan Religiusutas; Esai-esai Sastra Sufistik dan Seni Rupa, (Jakartra; Paramadina, 2014), 207-208.
8 Sachiko Murata dan William C. Chittick, The Vision, 5.
teratas yang bahkan Nabi pun tidak tahu (hanya dipahami oleh Allah, seperti lafadz Alif Lam Mim). Di dalam al-Qur’an terdapat keindahan, metafora, maupun alegori yang membutuhkan pemaknaan. Konsep pemaknaan itu dilakukan dengan tafsir ataupun juga dengan ta’wil yang membutuhkan pemahaman terhadap konteks, baik konteks ruang, waktu, maupun pada ranah kontekstualisasi dengan kehidupan masa kini.
Dengan kaidah-kaidah sastrawi yang berada dalam al-Qur’an, maka itu memungkinkan proses ijtihad dengan memahami unsur-unsur intrinsik (seperti memahami teks sastra) sebelum membahas pada ranah ruang dan waktu untuk dikontekstualisasikan dengan kehidupan sehari-hari. Dalam Al-Qur’an apabila ada sedikit saja Bahasa yang diubah atau hilang maka akan sangat berpengaruh pada maksud dan maknanya, karena al- Qur’an memiliki ketatasan bahasa.9
Isi dalam sebuah karya sastra dan kitab berdasarkan kebenaran Alquran dan Hadis, jadi keimanan Islam lambat laun berkembang dan diterima dalam ranah budaya masyarakat tanpa menggunakan pedang atau kekerasan. Esensi keindahan dan informasi dalam literatur para sastrawan muslim membuka mata batin mereka dan menjadikan Allah SWT adalah yang paling layak disembah. Dunia sastra Islam selalu membawa segalanya ke puncak segala sesuatu adalah Allah dalam setiap aliran emosi, maka pembaca akan dibawa untuk menemukan esensi dari penemuan Tuhan yang sejati dalam hidup, melalui karya-karya sastra mereka.10
Al-Quran dengan nilai sakral seperti itu akan terjaga keasliannya. Quran ditulis menggunakan Arab dan tidak akan beralih. Bahkan jika al Quran diterjemahkan ke bahasa lainpun, masih menyertakan bahasa aslinya. Dengan kata lain, orang masih bisa merujuk dalam bentuk aslinya. Faktanya, Nabi Muhammad SAW masih menggunakan al Quran dalam teks aslinya sebagai penjelasan saat berdakwah. Penafsiran atau penjelasa dar nabi tentang al Quran sendiri disebut dengan Hadits. Karena itu, para ulama dan pemikir Islam yang hendak mentransformasikan al-Qur’an ke dalam kehidupan yang dialami dan juga masyarakat sekitar, tulisannya disebut kitab (sebagai esai tentang kehidupan yang beresensi Islam). Adanya kita tidak menjadikan al Qur’an sebagai bacaan utama. Orang boleh mempelajari kitab jika sudah menguasai al Qur’an.11
Dalam budaya Arab sendiri, Sastra mampu menjadi entitas budaya yang sudah barang tentu merepresentasikan perasaan dan pikiran masyarakat Arab atas segala kekurangan dan kelebihannya. Dalam konteks kelebihannya, bangsa Arab pernah sampai pada pencapaiaan kedigdayaan peradaban kebudayaan dan kesusastraan yang bisa menunjukkan nilai-nilai khas dan otentik dari pencapaiaan kesusastraan Arab.
puisi mendominasi dan menjadi bentuk karya khas dari bangsa Arab sehingga ini yang mampu menjdai pembeda dari bangsa lain. Pembahasan ini juga dibenarkan dengan adanya impak yang luar biasa dari sastra Arab pada struktus dan fungsi sastra lain, seperti sastra Persia, Indostik, Turki dan pada kesusastraan Grogorian sastra Obrani Abad pertengahan (kususnya puisi), meskipun tidak bersentuhan secvara langsung.dan bahkan sastra Arab mampu meninggalkan pengaruhnya dalam tradisi puisi-puisi era Romawi.12
9 Sunhaji, Sastra dalam Tradisi, 51.
10 Ibid., 48.
11 Ibid., 51.
12 Fadil Munawwar Manshur, Sejarah Perkembangan Kesusastraan Arab Kalsik dan Modern, Prosiding dari Seminar Internasional Bahasa Arab dan Sastra Islam: Persoalan Metode dan Perkembangannya.di Universitas Pendidikan Indoneisa, Bandung 23-25 Agustus 2007, 1.
2. Seni dan Islam
Islam merupakan agama yang universal, abadi dan sempurna, Melalui Nabi Muhammad yang diutus oleh Allah untuk memberikan petunjuk dan rahmat bagi seluruh umat manusia berperan dalam hidup untuk mendapatkan ketentraman dan kebahgiaan di dunia ini dan di akhirat kelak. Dari perspektif Islam, peran manusia tidak lebih dari Khalifatullah (wakil Allah) yang ditugaskan ke bumi dan membawa pesan yang terkandung dalam Islam yaitu rahmatan lil’alamin dan Abdullah. Yang secara garis besar, harus mejalankan perintah-Nya dan menjauhi segala larangan- Nya, yang memiliki makna dan identic dengan sebuah aktivitas batin ataupun fisik manusia dalam rangka habluminAllah, hablumannas ataupun hablumminalalamin.
Tuhan menciptakan manusia dengan memberinya akal untuk melakukan apa yang bisa disebut seni dan budaya. Manusia juga memiliki perasaan dan sensasi untuk berfikir dan merasakan sesuatu. Pikiran manusia memiliki kekuatan akal dan perasaan, pikiran manusia terbentuk dari pengetahuan yang terkonsep, dan manusia tercipta dengan anggota tubuh yang sempurna, serta pikiran dan tubuh secara estetis dapat menciptakan bentuk-bentuk karya seni yang menyenangkan.13
Menurut H.A.R. Gibb menuturkan bahwa Islam tidak hanya sekedar menyoal tentang system teologi semata, namum juga meliputi tentang kebudayaan yang transcendental. Demikian juga Sidi Gazalba mengatakan bahwa Agama Islam tidak sekedar tentang ibadah mahdhah saja, namun juga meliputi kebudayaan. Terkait hal tadi, bahwa Islam meliputi dua dimensi, yaitu dimensi vertikah (Ibadah mahdhah) dan ada dimensi horizontal (muamalah, kebudayaan).14 Dalam karakteristik seni Islam ialah kreatifitas yang erat kaitannya dengan estetika, dan sangat terikat dengan kesadaran pribadi seniman. Dalam karya seni, kreatifitas dan estetika adalah syarat mutlak, seehingga selain telak membuat sebuah karya seni yang indah dan bermanfaat, seorang seniman Muslim juga sekaligus menjalankan ibadahnya.
Pertemuan agama dengan seni sebenarnya sudah ada sejak zaman dahulu kala, bahkan sebelum turunnya agama samawi, ritual keagamaan dan doa-doa diiringi dengan tarian-tarian, irama, lagu dan musik untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah. Ibadah ritual sendiri adalah sebuah wujud dari seni (seni yang bernafaskan keislaman), selain bacaan yang dilafadzkan. Landasan pemikirannya yaitu niat untuk ibadah dan ketakwaan kepa Sang Pencipta, yang mengandung nilai-nilai kearifan lokal. Setelah proses pemahaman alam semesta dan pembacaan al-Qur’an, pelaku senu didasarkan pada kreatifitas dan rasa estetika, logika, etika dan prinsip kebermanfaan.
Sehingga terwujudnya sebuah karya seni dirumuskan melalui gagasan dan konsep serta pertimbangan teknis pelaksanaannya. Kemudian dihasilkannya sebuah ekspresi seni yang penuh rasa syukur dan dzikir sebagai bentuk rahmatan lil alamin. Di samping ada beberapa buah pikiran yang mencoba menggambarkan seni Islam, berikut pandangan dari M. Quraish Shihab15 sebagai berikut:
“Kesenian-kesenian Islam tidak harus selalu menyoal mengenai Islam, dan tidak harus berupa petuah langsung, atau anjuran berbuat kebaikan, bukan pula men- genai akidah. Seni yang islami merupakan seni yang bisa mendeskripsikan wujud ini, menggunakan ‘Bahasa’ yang elok dan singkron dengan cetusan fitrah, seni Islam merupakan aktualisasi diri mengenai estetika wujud berdasarkan sisi pandangan
13 Abdurrahman al-Baghdadi, Seni dalam Pandangan Islam, ( Jakarta; Gema Insani Press, 2004), 13-14.
14 M. Asy’ari, Islam dan Seni, Jurnal Hunafa, Vol. 4, No. 2, 2007, 169.
15 Quraish Shihab. Wawasan Al-Qur’an. (Bandung: Mizan, 1996), 389.
Islam mengenai Islam, manusia dan hidup yang nantinya mengantarkan menutu pertemuan paripurna antara keabsahan dan estetika.”
Dalam agama Islam, seni memang masih menjadi polemic atar disiplin keilmuan.
Bahkan antar ahli fiqh (Fuqhaha) juga menuai dialog berkepanjangan sapai pada ranah halal dan haram. Adapaun beberapa fuqhaha yang cenderung membatasi bahkan menentang adalah Imam Abu Hanifah, Malik ibn Anas. Dan sebagian ulama yang punya tendensi dalam kesenian akan lebih inklusif, diantaranya seperti imam as Syatibi (dengan konsep maqashid asSyariah nya), imam an-Nabulsi, dan ulama kontemporer Mahmud Syaltut.16
3. Sastra dan Seni Muslim di Indonesia
Dalam paradigma sastra, seni dan Islam, dalam perspektif Islam, konsep standar sastra dan seni belum sepenuhnya dikenal. Dari perspektif Islam, ketidakdewasaan paradigma sastra disebabkan oleh polemic dan dialog berkepanjangan yang tiada henti mengenai sastra dan seni dari sudut pandang Islam. Di satu sisi, sebagian besar Muslim berpendapat bahwa Islam tidak menentangnya, apalagi melarang sastra dan seni. Padahal, menurut Sayyed Nasr Hosen, sastra merupakan analisis esensial untuk menginterpretasikan relasi antara seni dan ruh Islam. Karena ajaran Islam berlandaskan pada firman Tuhan yang diwahyukan sebagai kitab suci, sastra menempati tempat utama dan khusus di antara berbagai bentuk seni yang ada di hampir semua masyarakat Islam.
Sebagian dari mereka yang setuju dengan seni dan sastra akan menjelaskan dengan dengan berbagai sumber dalil, baik aqliyah; bahwa al-Qur’an sendiri memiliki tingginya kandungan nilai artistic, historis; bahwa sampai saat ini khat/kaligrafi dan tiltawah al-Qur’an beredar secara luas, pun juga dengan dalil naqliyah; semacam hadis yang menjelaskan bahwa Allah itu indah dan menyukai keindahan. Akan tetapi di sisi lain sejarah menjadi saksi bahwa umat Islam belum pernah memiliki lembaga sekecil apapun yang secara formal dan sistematis guna melakukan kajian tentang seni secara utuh. Oleh karena itu sampai sekarang kita masih belum menemukan konsep yang baku dan dapat relevan dalam bidang ini, baik secara teoritis (sejarah, struktur dan klasifikasi;
tentang adanya sebi Islam atau hanya ada seni Muslim), filosofis (filsafat islam, estetika, yang merumuskan Batasan keindahan sesuai syariat Islam), praktis (kajian tentang teknik perbidang), maupun apresiatif (kritik seni yang mendalami perkembangan seni Islam dalam keterkaitannya dengan perkembangan masyarakat muslim).
Akibatnya, kini pertumbuhan seni dalam dunia Islam seakan terkucilkan dari perkembangan masyarakat, disebabkan belum adanya instrument yang digunakan untuk berdialog tentang hal ini. sementara berbeda dengan yang terjadi di Barat, post art yang notabenya baru muncul dalam dasa warsa 60-an telah bisa tumbuh dan berkembang dengan estetika, konsep ataupun apresiasi secara sistematis, bahkan sudah menciptakan diversifikasi semacam feminist art (seni perempuan) tahun 70-an yang berupaya menyebarkan wacana feminist art, dan menginjak era 80-an multiculturalist art yang memperjuangkan seni kelompok pinggiran dan masyarakat tertindas.17
Saat ini, makna sastra dapat ditempatkan secara proporsional. Di kalangan Muslim sendiri, literatur sastra sekali lagi diterima dan menjadi konsumsi sehari- hari untuk tujuan hidup dan kepentingan dakwah. Partisipasi ulama dalam kegiatan
16 Sumarjoko dan Hidayatun Ulfa, Pandangan Islam Terhadap Seni Musik; Diskursus Pemikiran Fiqih dan Tasawuf. Jurnal Syariati, Vol. IV No. 02, November 2018. 208-209.
17 Ismail Raji al Faruqi. Seni…, vii.
kesusastraan bukanlah fenomena baru. Fenomena ini sudah ada di Indonesia bahkan sejak awal era Wali Songo. Lain daripada karya sastra, seni juga berkaitan erat dengan Islam, terutama pada masa proses menyebarnya Islam di Jawa. Seni pertunjukan wayang kulit merupakan seni pertunjukan dengan media yang terbuat dari kulit hewan yang dilakukan sepanjang malam, dan ada penokohan dalam cerita tersebut, contohnya empat pemuka agama seperti Semar, Petruk, Bagong dan Gareng, serta tokoh Pandawa yang selama ini menjadi berhala, dan karakter tokoh-tokoh lainnya.
Seorang yang memainkannya disebut dengan dalang. Sunan Kalijaga adalah salah satu ulama yang menggunakan budaya dan kesenian Jawa sebagai sarana dakwah dan mengajak masyarakat Jawa untuk memeluk agama Islam. Pertama, penontonnya untuk membasuh muka sebelum menonton pertunjukan, lalu membasuh tangan, dahi sampai kaki persis seperti gerakan dalam berwudhu. Perlahan namun pasti cara tersebut mampu mengajak masyarakat untuk memeluk Islam tanpa harus melepas budaya mereka.
Sejarah Islam di Nusantara merupakan Islamisasi yang membutuhkan proses yang sangat panjang. Masyarakat Nusantara sebelum masuknya Islam terkait erat dengansistem kepercayaan animism dan dinamisme serta Hindu-Budha. Kemudian keyakinan mereka secara bertahap melalui proses akulturasi dan asimilasi dengan Islam. Pada masa proses Islamisasi Nusantara, pola agama dan kepercayaan lama tidak langsung terkikis dan digantikan oleh budaya baru yang sesuai dengan ajaran Islam, namun kemudian melebur dan membentuk budaya yang bercorakkan Islam Nusantara sehingga melahirkan budaya Islam baru yang unik. Bukan hanya membentuk kesatuan budaya kuno dengan Islam, tetapi juga setiap daerah di Nusantara memiliki corak Islam yang berbeda dan berkarakter. Ada beberapa aspek dalam kombinasi ini, seperti praktik keagamaan. Satu hal yang terlihat jelas dalam bentuk integrasi budaya ini adalah seni.18
Mengutip dari Sumber Belajar Kemdikbud RI, penyebaran Islam di Nusantara memicu pengaruh yang kuat akulturasi antara budaya pra-Islam dengan unsur Islam di dunia seni, sastra dan aksara. Tampak dari mulai digunakannya huruf arab di Indonesia, seperti digunakannya dalam bidang seni ukir, serta yang terkait dengan kemajuan seni kaligrafi. Perkembangan sastra di zaman madya19 dipengaruhioleh sastra Islam dan Persia, berserta unsur sastra sebelumnya. Sampai pada terjadinya akulturasi sastra Islam dan sastra pra-Islam. Bentuk akulturasi seni sastra budaya Islam dengan budaya pra-Islam antara lain: hikayat, babad, syair, suluk dan kitab-kitab.
Dalam bidang seni musik contohnya, para wali membuat langgam yang berirama Islami dan menjadi salah satu bentuk seni suara yang menjadi sentaja jitu para wali untuk media penyebaran agama Islam. Lain halnya dalam seni pertunjukan,Sunan Kalijaga menggunankan media wayang kulit untuk sedikit demi sedikit disisipi dengan ajran-ajaran dan syariat Islam, yang kita tahu bahwa wayang adalah salahsatu kesenian yang sudah begitu popular di masa pra-Islam.20
Dalam penyebaran Islam di Nusantara sangat erat kaitannya bersinggungan dengan budaya lokal, dengan ini maka para ulama dan para tokoh penyebar Islam memakai atau memasukkan unsur sastra dan seni dalam media dakwahnya, karena memang sastra dan seni sudah berkembang dan dirasa sangat cocok pada saat itu.
18 Nurrohim dan Fitri Sari Setyorini, Analisis Historis terhadap Corak Kesenian Islam Nusantara, Journal of Islamic Studies and Humanities, Vol. 3 No. 1, 2018, 126.
19 Periode dalam perkembangan teknologi manusia.
20 Nurrohim dan Fitri Sari Setyorini, Analisis…, 126.
Contoh Islam yang masuk dalam karya sastra adalah dalam Serat Paramayoga atau Serat Manikmoyo karya Sri Raden Mas Ngabehi Ronggowarsito dari Kasunanan Surakarta.
dari situlah Islam menggunakan para pujangga untuk melegitimasi Islam itu sendiri tanpa ingin diberontak oleh Agama Hindu yang masih kuat. Bahkan pada masa sekarangpun dakwah Islam tidak lepas dari unsur sastra dan seni, bagaimana Syair Tanpo Waton yang dipopulerkan oleh Gus Dur yang sangat erat dengan makna Islami, Nisa Sabyan dengan lagu Qosidah dengan pembawaan modern yang sangat diterima dari semua kalangan, dan banyak musisi pop maupun dangdut yang bahkan setiap menjelang puasa rajin membuat lagu-lagu religi. Serta pada penda’i, kyai dan ulama yang menyisipkan syiir-syiir dan sholawat dalam dakwahnya. Karena memang dengan lagu dan irama, kita sebagai manusia lebih mampu untuk menangkap dan mudah untuk menerimanya.
Seperti halnya Kasidah Barjanji dan Kasidah Burdah, keduanya adalah contoh seni syair yang kandungan isinya mengisahkan kehidupan dan usaha Nabi Muhammad yang begitu popular tentang proses penyebaran agama Islam, keduanya biasa dinyanyikan Ketika perayaan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Beberapa contoh nama sastrawan yang popular dalam menyebarkan Islam di Indonesia seperti diantaranya al-Jauhari, Syamsuddin al-Samatrani, Hamzah Fansuri, Syekh Kuala, Abdul Rauf al Singkili dan masih banyak lagi lainnya. Karya sastra yang diciptakan memakai Bahasa Arab dan Bahasa Melayu yang menggunakan huruf Jawi.
Dari segi kesusastraan dan kesenian, Islam merupakan agama yang indah dalam segala aspek. Hal-hal yang dipaparkan di atas merupakan beberapa contoh kecil hubungan antara sastra dan seni yang ada di sekitar kita. Terutama dalam proses penyebaran syariat Islam, kita mungkin tidak menyadari bahwa ini adalah hubungan yang sangat erat. Selain kisah-kisah di atas, masih banyak kisah lain yang terjadi selama penyebaran dunia Islam. Kisah-kisah ini yang memiliki banyak nilai estetika, meliputi dunia dan kehidupan masa depan. Dalam dunia Islam kenyataannya yang lebih menerima dan terbuka terhadap seni adalah para sufi dan filsuf, banyak dari para filsuf Islam yang menguasai musik dan teorinya, beberapa diantaranya yang mashur adalah al-Farabi dan Ibnu Sina.21 Beberapa tabib muslim bahkan menggunakan musik sebagai media dalam penyembuhan penyakit jasmani maupun rohani. Bagi para sufistik, seni adalah jalan untuk dapat menangkap dimensi intim dalam Islam, karena seni dapat berkaitan langsung dengan ranah spiritual. Imam Ghozali mengatakan bahwa dengan mendengar alunan nada vocal dan instrument yang indah mampu membangkitkan suatu hal dalam hati yang disebut al-Wujud atau kegembiraan hari.22
Sebetulnya, sastra di Indonesia dewasa ini mengalami perkembangan yang begitu pesat, ini dapat dilihat dari mulai maraknya dan mulai membanjiri dunia penerbitan karya buku-buku fiksi yang ada kaitannya dengan Islam, entah berupa buku cetak maupun online. Para remaja mulai menggandrungi karya-karya tulisan novel, cerpen yang bernafaskan Islam, karena hal ini tidak hanya sekedar sebgai hiburan belaka selain sebagai meningkatkan wawasan pengetahuan dalm hal keagamaan dan memberikan manfaat namun juga dirasa mampu memberikan ketenangan dan pencerahan jiwa.23 Adapun biasanya yang menjadi ciri-ciri dari sastra Islam yang paling menonjol ialah
21 Jakob Sumardjo, Filsafat Seni, (Bandung; ITB Press, 2008), 10.
22 Mustofa, Filsafat Islam, (Bandung; CV. Pustaka Setia 1997), 125.
23 Mohammad Anwar Syi’aruddin,Tranformasi Nilai-Nilai Ajaran Islam dalam Karya Sastra, Prosiding Seminar Nasional Bahasa dan Sastra “Bahasa, Sastra, dan Politik di Era Siber” Program Studi Sastra Indonesia Universitas Palembang, 4.
tentang akhlak, etika, moral dan kehidupan kemanusiaan.24 4. Batasan Seni
Dalam Islam, ada beberapa batasan terhadap berbagai kesenian seperti seni patung/pahat. Diantaranya banyak alasan untuk menentang kesenian semacam ini.
Yaitu, pada surah al Anbiya ayat 21, dijelaskan tentang patung yang disembah oleh ayah nabi Ibrahim tersebut dan orang-orangnya. Sikap Alquran terhadap patung-patung ini tidak hanya menolaknya, tetapi juga dianjurkan untuk menghancurkannya. Di sini, Allah berharap patung buatan manusia tidak digunakan ssembahan atau digunakan sebagai berhala sebagai penyembahan atau sebagai wakil dari Pencipta (yaitu Tuhan).
Namun jika melihat sekarang, seni patung juga sangat berkembang pesat di dunia, khususnya di Indonesia. Jadi, Hukum pembuatan patung merupakan masalah yang masih segar untuk menjadi bahan pembahasan hingga saat ini. Masalahnya, patung saat ini memiliki fungsi yang berbeda dengan zaman nabi. Saat itu, patung identik dengan pemujaan. Namun sekarang, patung tidak selalu disembah, tetapi untuk keperluan dekoratif dan sebagai bagian dari seni. Padahal, di beberapa sekolah dan universitas, membuat patung bahkan menjadi studi tersendiri. Prof. Quraish Shihab25 mengatakan, “Ada perbedaan antara patung ddahulu dan patung yang ada sekarang.
Memang terdapat beberapa hadis yang tidak memperbolehkan untuk membuat patung dan gambar makhluk hidup, tetapi tidak lantas hadis tersebut dipahami secara tekstual saja. Sebab terdapat disparitas konteks patung dan gambar masa sekarang dengan yang ada di masa Rasulullah. Hukum itu bisa ada kaitannya dengan ibadah, bisa juga non- ibadah. Kalau ibadah tidak boleh diubah sama sekali dan tidak dapat dilakukan kalau ada perintah. Kalau non-ibadah, bisa dikerjakan selama tidak ada larangan.”
Mengenai seni patung memang ada beberapa dalil yang melarangnya, namun kita harus melihat esensi dan alasan dari larangan tersebut. Apakah masih relevan?
ara ulama mengatakan alasan pelarangan patung atau membuat patung karena dulu patung digunakan untuk penyembahan atau sebagai sesembahan. Prof. Quraish Shihab Kembali menegaskan bahwa jika patung diciptakan untuk tujuan sesembahan orang maka jelas dilarang, akan tetapi jika bertujuan untuk sebuah karya seni, untuk sebuah pengingat atas jasa seseorang dan tidak untuk sesembahan, maka itu menjadi boleh- boleh saja. Seperti halnya patung Jendral Sudirman, tokoh pahlawan yang dibuat untuk mengingatkan Kembali jasa kepahlawanannya kepada bangsa dan negeri. Patung dapat menjadi sebuah karya seni yang tak terbatas nialainya baik karena terkandung nilai sejarah atau seni yang ada.pada patung tersebut.
Selain itu seni musik juga memiliki batasan, seringkali orang lebih menyukai genre musik yang terkadang membuat kita lalai dan menjauhi agama, seperti musik rock yang bernuansa keras, dan seolah jauh dari musik islami. Kemudian ada seni bernyanyi, seperti kasus Inul Daratisda, seni yang ditampilkan bukanlah seni menyanyi, melainkan gerakan-gerakan yang vulgar yang dapat berujung pada penampilan yang buruk. Berbeda dengan musik Islam, yang dapat memberikan semangat kepada pendengarnya.
Selain itu, Batasan dalam pornografi dan porno aksi adalah batasan yang sangat melanggar agama dan juga Negara. Disatu sisi orang memandang itu adalah suatu bentuk seni, tetapi di dalam Islam itu justru menggarah kepada hal-hal yang tidak
24 M. Ahmad, Membumikan Islam di Indonesia, (Gorontalo;Panitia Seminar Nasional, 2003), 7.
25 Tolkshow Quraish Shihab dalam tema Hidup Bersama al-Qur’an. Eps. 8; Patung sebagai Karya Seni, di Kanal Youtube Semua Murid Semua Guru.
baik, haram untuk di kembangkan. Pengaruh dunia barat dalam Islam terhadap seni seperti kasus kartun yang melecehkan Rasulullah SAW. Masih banyak perdebatan tentang hal ini, ada Sebagian LSM atau organisasi yang mengaku sebagai pekerja seni menentang “UU Aksi Anti Pornografi dan Pornografi” dan banyak lagi contoh kasus yang membuat resah masyarakat, hingga menyebabkan terjadinya demonstrasi dalam skala internasional. atas dasar kebebasan berekpresi.26 Sebenarnya Islam tidahlah agama yang hanya memerintahkan orang-orangnya untuk tinggal di kuil dan terus-menerus menunaikan ritual untuk meninggalkan dunia, juga bukan kesadaran yang membawa pengikutnya ke lautan sayhwat tidak ada ujungnya, yang tidak mengetahui batasan halal dan haram, tidak memperdulikan akhlak, serta melakukan kerusakan di mana- mana dengan dalih kebebasan berekpresi.
Syaikh Yusuf al Qardhawi telah menjelaskan sikap Islam terhadap seni. Jika ruh seni adalah perasaan terhadap keindahan maka al-Qur’an sendiri telah menyebutkan dalam surah as Sajadah ayat 7 yang artinya “Yang membuat sebala sesuatu, yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan yang memulai menciptakan manusia dari tanah”. Dan Rasulullah SAW. pernah bersabda, “Sesungguhnya Allah Maha Indah dan menyukai keindahan,” (HR. Muslim).27
C. KESIMPULAN
Penerimaan masyarakat mengenai kesusastraan Islam ditandai dengan pemahaman tentang pokok ajaran Islam, seperti al-Qur’an dan Hadits serta hukum syariat Islam.
Dalam proses penyebaran Islam di masyarakat khususnya Nusantara yang baru saja terlepas dari kekuasaan kerajaan Hindu-Budha peran dari para sastrawan sangatlah penting. Para sastrawan menciptakan karya yang berkisah tentang Nabi Muhammad, para sahabat, wali dan berbagai tokoh Islam yang ceritanya bisa menjadikan masyarakat semakin paham tentang agama Islam. Atas jasa dari karya-karya sastra merekalah bisa dikatakan bahwa para Sastrawan sebagai garda terdepan dalam proses menyebarnya agama Islam di daerah yang masih sangat dominan dengan kebudayaan ajaran Hindu.
Begitupun dengan Seni Islam yang terdapat di Nusantara berbeda dengan seni Islam yang berkembang di beberapa wilayah lain di dunia Islam. Seni Islam Nusantara lebih berasimilasi dan mengakomodasi kesenian lokal yang berkembang sebelumnya. Pasalnya, proses menyebarnya agama Islam di Nusantara berlangsung damai dan mudah berintegrasi dengan penduduk setempat yang sebelumnya sudah terbiasa dengan aliran Hindu dan Budha. Di Nusantara Islam datang tidak dengan kekuatan politik, tetapi diyakini tiba dengan wajah damai dibawa oleh para sufistik dan juga pedagang yang akhirnya dapat berbaur dan membongkar budaya local yang kurang baik serta merubahnya dengan kebudayaan yang Islami.
Corak penyebaran Islam Nusantara akhirnya berpengaruh pada perkembangan seni Islam Nusantara. Hasil kontak budaya ini dalam seni bangunan, sastra, aksara, lukis, ukir maupun seni musik, Islam kembali bersifat akomodatif terhadap seni-seni yang telah berkembang terdahulu. Namun dalam berseni dan bersastra dalam Islam juga tetap ada batasannya, tidak berdalih menggunakan kebebasan berekpresi lantas kita dengan seenaknya berseni dan bersastra tanpa mempertimbangkan madharat yang akan ditimbulkan.
26 Raina Wildan, Seni Dalam Perpektif Islam, Journal Islam Futura, Vol. 6, No. 2, 2007, 87.
27 M. Quraisy Shihab Dkk, Islam dan Kesenian, (Jakarta; Majelis Kebudayaan Muhammadiyah Universitas Ahmad Dahlan Lembaga Litbang PP Muhammadiyah, 1995), 185.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmad, M. Membumikan Islam di Indonesia. Gorontalo;Panitia Seminar Nasional, 2003.
Anwar Syi’aruddin, Mohammad. ,Tranformasi Nilai-Nilai Ajaran Islam dalam Karya Sastra, Prosiding Seminar Nasional Bahasa dan Sastra “Bahasa, Sastra, dan Politik di Era Siber”
Program Studi Sastra Indonesia Universitas Palembang.
Asy’ari, M. Islam dan Seni, Jurnal Hunafa, Vol. 4, No. 2, 2007.
Al-Baghdadi, Abdurrahman. Seni dalam Pandangan Islam, Jakarta; Gema Insani Press, 2004.
Al-Faruqi, Ismal Raji. Seni Tauhid: Esensi dan Ekspresi Estetika Islam, terj. Hartono Hadikusumo, Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya, 1999.
Gazalba, Sidi. Asas Kebudayaan Islam: Pembahasan Ilmu dan Filsafat tentang Ijtihad, Fiqh, Akhlak, Bidang-bidang Kebudayaan, Masyarakat dan Agama. Jakarta: Bulan Bintang, 1978.
Hadi W.M., Abdul. Hermenetika, Estetika, dan Religiusutas; Esai-esai Sastra Sufistik dan Seni Rupa, Jakartra; Paramadina, 2014.
Hoeve, Van. Ensiklopedi Indonesia, Jakarta: PT. Ikhtiar Baru.
Manshur, Fadil Munawwar. Sejarah Perkembangan Kesusastraan Arab Kalsik dan Modern, Prosiding dari Seminar Internasional Bahasa Arab dan Sastra Islam: Persoalan Metode dan Perkembangannya.di Universitas Pendidikan Indoneisa, Bandung 23-25 Agustus 2007.
Murata, Sachiko dan William C. Chittick. The Vision of Islam terj. Suharsono, Yogyakarta:
Suluh Press, 2005.
Mustofa. Filsafat Islam, Bandung; CV. Pustaka Setia 1997.
Nurrohim dan Fitri Sari Setyorini, Analisis Historis terhadap Corak Kesenian Islam Nusantara, Journal of Islamic Studies and Humanities, Vol. 3 No. 1, 2018.
Shihab, Quraish. Wawasan Al-Qur’an. Bandung: Mizan, 1996.
Shihab, Quraisy. Dkk, Islam dan Kesenian. (akarta; Majelis Kebudayaan Muhammadiyah Universitas Ahmad Dahlan Lembaga Litbang PP Muhammadiyah, 1995.
Sumardjo, Jakob. Filsafat Seni, Bandung; ITB Press, 2008.
Sumarjoko dan Hidayatun Ulfa, Pandangan Islam Terhadap Seni Musik; Diskursus Pemikiran Fiqih dan Tasawuf. Jurnal Syariati, Vol. IV No. 02, November 2018.
Sunhaji, Sastra dalam Tradisi Pendidikan Islam, Jurnal Kebudayaan Islam, Vol. 13 No. 1, 2015.
Wildan. Raina, Seni Dalam Perpektif Islam, Journal Islam Futura, Vol. 6, No. 2, 2007.