• Tidak ada hasil yang ditemukan

webinar nasional series - Repository PPNP

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "webinar nasional series - Repository PPNP"

Copied!
484
0
0

Teks penuh

PENGARUH KOMPOSISI MEDIA YANG BERBEDA TERHADAP INDUKSI LAPANGAN Tanaman Nilam (Pogostem on cablin Benth). RESPON PERTUMBUHAN DAN TAHUN JAGUNG MANIS (Zea Mays Sacchara ta Sturt) TERHADAP KONSENTRASI DAN. RESPON TANAMAN CABAI (Cap sicum annum L.) TERHADAP BEBERAPA JENIS MULL DAN DOSIS BOKASHI JERAM PADA PADI.

EX SPLORASI DAN ANALISIS KELOMPOK TANAMAN MORINGA (Moringa oleifera La m.) DI ATERA BARAT. PENGARUH MEDIA BIOFERTILIZER LARUTAN FO-SFAT TERHADAP KEBERADAAN BAKTERI GEN ENDO DAN BAKTERI RHIZO-SPHERE PADA TANAMAN JAGUNG. RESPON PERTUMBUHAN DAN TAHUN SORGHUM MANIS (Sorg hum bico lor L.) TERHADAP PUPUK ORGANIK DI TANAH KERING.

PENGARUH PUPUK NPK 16:16:16 DAN PENGATUR PERTUMBUHAN HORMON TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI TANAMAN SELERI (Apium Graveolens L.). Pengendalian hama Plutella xylostella pada kubis (Brassica o lera cea Var. Cap ita). RESPON FISIOLOGIS PERKEBUNAN KEDELAI TERHADAP LINGKUNGAN PERTUMBUHAN (Budidaya Kedelai di Tengah Pandemi Co-19).

INTEGRASI SAPI PO TO NG BERBASIS PADI (Rice Sativa) DI KOTA ALAM PAGAR PROVINSI SUM ATER SELATAN.

PEMAKALAH WEBINAR

  • Isolasi Bahan Eksplan
  • Sterilisasi Lingkungan kerja
  • Pembuatan Media Tanam
  • Sterilisasi bahan dan Penanaman
  • Pemeliharaan
  • Pengamatan Induksi Kalus 1. Persentase (%) Eksplan Hidup
  • Persentase (%) Eksplan Membentuk Kalus
  • Persentase Eksplan Membentuk Tunas
  • Jumlah daun Per Tunas
  • Persentase Eksplan Hidup (%)
  • Persentase Eksplan Membentuk Kalus (%)
  • Jumlah Daun per tunas
  • Pembuatan Media
  • Perkecambahan Benih Gambir Secara In Vitro
  • Penanaman Eksplan
    • Metode Penelitian
    • Jumlah Daun (helai)
    • Jumlah Anakan (batang)
    • Diameter Batang Sejati (mm)
  • Persiapan Lahan dan Pembuatan Petakan
  • Penyediaan Bokashi Jerami Padi
  • Persiapan Bibit
  • Pemberian Label
  • Pemberian Perlakuan
  • Pemasangan Mulsa
  • Penanaman
  • Pemeliharaan a.Penyulaman

89 RESPON TANAMAN SITRUS WANGI (Andropogon nardus L.) TERHADAP PENAMBAHAN MYCORRHIZAE Glomus sp.1 DAN BERBEDA TINGKAT APLIKASI AIR. Pemberian mikoriza Glomus sp.1 lebih baik terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman serai wangi dibandingkan tanpa mikoriza Glomus sp.1. Dari Tabel 1 terlihat bahwa pemberian mikoriza Glomus sp.1 menghasilkan rata-rata tinggi tanaman serai wangi.

Tinggi Tanaman Sereh Diberikan Mikoriza dan Ketinggian Air Berbeda Pada 12 MST. Pertumbuhan tinggi tanaman sereh wangi yang terkena aplikasi mikoriza pada level pemberian air dapat dilihat pada Gambar 1. Dari gambar tersebut diketahui bahwa dibandingkan dengan perlakuan tanpa mikoriza Glomus sp.1 terdapat perbedaan hasil pertumbuhan tinggi tanaman serai wangi. tanaman serai wangi.

Pada Tabel 2 terlihat bahwa pemberian mikoriza Glomus sp.1 dengan kadar air 50% menunjukkan jumlah daun tanaman serai wangi paling banyak. Pertumbuhan jumlah daun tanaman serai wangi yang diberi mikoriza pada ketinggian pemberian air dapat dilihat pada Gambar 2. Jumlah daun tanaman serai wangi yang diberi mikoriza Glomus sp.1 dan tanpa mikoriza pada ketinggian air Aplikasi .

Tanaman serai wangi dengan perlakuan mikoriza Glomus sp.1 pada kapasitas lapang 50% menunjukkan jumlah daun terbanyak sebanyak 96 helai daun. Jumlah Anakan Tanaman Sereh Wangi yang Diberi Mikoriza dan Kadar Air Berbeda pada 12 MST. Diameter Tanaman Sereh Diberikan Mikoriza dan Kadar Air Berbeda Pada 12 MST.

Berat kering akar serai wangi di bawah mikoriza dan tingkat pengairan yang berbeda pada 12 MST. Bobot tajuk tanaman serai wangi terhadap mikoriza dan perbedaan tingkat pengairan pada umur 12 MST. Glomus sp.1 menunjukkan berat kering pucuk serai wangi tertinggi pada CL 100%, 75% dan 50%, berbeda nyata tanpa mikoriza.

Dari hasil penelitian yang dilakukan dengan pemberian mikoriza dan tingkat penyediaan air terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman serai wangi dapat disimpulkan bahwa Penerapan Glomus sp.1 terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman serai wangi lebih baik dibandingkan tanpa Glomus sp. .1 mikoriza.

Grafik  2.  Hasil  Analisis  kandungan  P-tersedia  dan  P-Potensial  tanah  Agrowisata    Beken  Jaya  Kabupaten Kuantan Singingi
Grafik 2. Hasil Analisis kandungan P-tersedia dan P-Potensial tanah Agrowisata Beken Jaya Kabupaten Kuantan Singingi

Variabel Pengamatan 1) Tinggi Tanaman (cm)

Hasil percobaan tinggi tanaman cabai menunjukkan tidak terdapat interaksi antara jenis mulsa yang berbeda dengan takaran strobokashi padi. Pemberian mulsa jenis ini dan dosis strobokashi padi yang berkali-kali memberikan pengaruh terhadap tinggi tanaman cabai. Hasil percobaan jumlah cabang dikotomis tanaman cabai menunjukkan tidak terdapat interaksi antara perbedaan jenis mulsa dan takaran jerami padi bokashi.

Sedangkan pemberian dosis ganda jerami padi bokashi tidak berpengaruh terhadap jumlah cabang dikotomis tanaman cabai. Hasil percobaan panen cabai menunjukkan tidak terdapat interaksi antara perbedaan jenis mulsa dengan takaran bokashi jerami padi. Sedangkan pemberian bokashi dosis ganda dengan jerami padi tidak berpengaruh terhadap umur panen tanaman cabai.

Hasil uji coba panjang buah cabai menunjukkan tidak terdapat interaksi antara beberapa jenis mulsa dengan takaran bokashi jerami padi. Penerapan mulsa jenis ini dan beberapa dosis jerami padi bokashi memberikan pengaruh terhadap panjang buah tanaman cabai. Hasil pengukuran diameter buah tanaman cabai menunjukkan tidak terdapat interaksi antara perbedaan jenis mulsa dan takaran bokashi jerami padi.

Sedangkan pemberian bokashi jerami padi yang bervariasi tidak berpengaruh terhadap diameter buah tanaman cabai. Hasil percobaan jumlah tanaman cabai menunjukkan tidak terdapat interaksi antara berbagai jenis mulsa dengan takaran bokashi jerami padi. Sedangkan pemberian bokashi jerami padi beberapa dosis tidak berpengaruh terhadap jumlah tanaman cabai.

Hasil percobaan berat buah per tanaman cabai menunjukkan tidak terdapat interaksi antara beberapa jenis mulsa dengan takaran bokashi jerami padi. Sedangkan hal tersebut tidak mempengaruhi berat buah per tanaman cabai memberi beberapa dosis bokashi dengan jerami padi. Berat buah tanaman cabai per pembagian pada beberapa dosis jenis mulsa dan dosis bokashi jerami padi.

Berat buah per hektar tanaman cabai pada beberapa takaran jenis mulsa dan takaran jerami padi bokashi. Tidak terdapat pengaruh terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman cabai antara jenis mulsa dan dosis jerami padi bokashi yang berbeda.

Tabel 1.   Tinggi tanaman cabai pada beberapa jenis mulsa dan dosis bokashi jerami  padi
Tabel 1. Tinggi tanaman cabai pada beberapa jenis mulsa dan dosis bokashi jerami padi

Pemberian pupuk hayati yang diaplikasikan pada benih dan daun dapat meningkatkan status unsur hara tanaman dan tanah. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat pengaruh media pembawa pupuk hayati pelepas fosfat bakteri terhadap keberadaan bakteri pada tanaman (endogen) dan bakteri di sekitar akar (rizosfer). Penelitian tersebut terdiri dari tahapan produksi pupuk hayati yang dilakukan di Green House dan penerapan pupuk hayati pada tanaman jagung di Kebun Percobaan Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh.

Penelitian penggunaan pupuk hayati menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) faktorial dengan dua faktor perlakuan yang direplikasi sebanyak 3 kali. Pengertian pupuk hayati adalah suatu produk pemupukan yang diformulasikan mengandung satu atau lebih mikroorganisme yang dapat memperbaiki status hara baik dengan menggantikan unsur hara dalam tanah dan atau dengan meningkatkan ketersediaan unsur hara bagi tanaman dan atau dengan meningkatkan hubungan antara tanaman dengan bakteri. (Jacoby, Peukert, Succurro, Koprivova dan Kopriva, 2017). Produksi pupuk hayati memerlukan media pembawa untuk menjaga kelangsungan hidup mikroorganisme, terutama bakteri yang ada di dalamnya.

Media pembawa berperan penting dalam memperlancar kerja bakteri fungsional untuk kepentingan tanah dan tanaman. 185 Bakteri pelarut fosfat (BPF) bersifat multifungsi, baik sebagai pupuk organik maupun sebagai pengurai (Sondang, Anty dan Siregar, 2019). Beberapa peneliti telah melaporkan bahwa pupuk hayati pelarut fosfat juga merupakan pupuk PGPR yang berperan sebagai bioinokulan yang mendorong pertumbuhan dan perkembangan tanaman (Dash, Pahari, dan Dangar, 2017).

Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat pengaruh media pembawa pupuk hayati bakteri larut fosfat terhadap kandungan hara P tanaman dan kinerja bakteri di sekitar akar (rhizosfer). Kombinasi kotoran sapi dan eceng gondok merupakan media pembawa yang baik untuk bioformulasi pupuk hayati yang mengandung bakteri pelarut fosfat. Menurut Mukhtar, Shahid, Mehnaz dan Malik (2017), kombinasi lumpur biogas dan tanah merupakan bahan pembawa terbaik pupuk hayati pelarut fosfat dari genera Bacillus spp untuk tanaman gandum.

Hasil pernyataan penelitian di atas menunjukkan bahwa pembawa organik merupakan media pupuk hayati larut fosfat yang baik. Pemberian POH dengan media pembawa padat kotoran sapi dan eceng gondok yang mengandung bakteri pelarut fosfat dapat meningkatkan kandungan unsur hara P tanaman. Media pembawa pupuk hayati berupa campuran kotoran sapi padat dan eceng gondok merupakan media yang cocok untuk B.

Tabel  2  berikut  menunjukkan  kandungan  hara  P  tanaman  jagung  pada  takaran  dan  frekuensi pemberian POH yang berbeda
Tabel 2 berikut menunjukkan kandungan hara P tanaman jagung pada takaran dan frekuensi pemberian POH yang berbeda

Gambar

Grafik  1.  Hasil  Analisis  Nilai  pH  tanah  pada  lahan  hortikultura  Agrowisata  Beken  Jaya  Kabupaten  Kuantan Singingi
Grafik  2.  Hasil  Analisis  kandungan  P-tersedia  dan  P-Potensial  tanah  Agrowisata    Beken  Jaya  Kabupaten Kuantan Singingi
Grafik 3. Hasil analisis Al-dd pada Lahan Agrowisata Beken Jaya
Grafik  4.  Korelasi  pH  dengan  P-tersedia  pada  tanah  Kelompok  Tani  Beken  Jaya Kabupaten Kuantan Singingi
+7

Referensi

Dokumen terkait

Perlakuan yang diuji meliputi aplikasi biochar sekam padi atau tempurung kelapa pada lubang tanam, penyiraman air rendaman atau MOL batang padi atau sabut kelapa pada 0, 2, 4, 6 MST,