PEMAKALAH WEBINAR
5. Jumlah Daun per tunas
56 Kebutuhan jenis dan konsentrasi ZPT yang diperlukan untuk regenerasi kalus, tunas, atau akan in vitro ini telah dilaporkan oleh banyak peneliti pada beragam tanaman yang berbeda (Yusnita, 2015).
Menurut Mahadi et al., 2016) perbedaan dalam hasil pertumbuhan juga dipengaruhi oleh faktor genetis, jenis tumbuhan, lingkungan dan kemampuan jaringan dalam menyerap unsur hara dalam media kultur.
Sesuai dengan pendapat Lestari, (2011); Fadilah et a.,( 2014) Proses morfogenesis langsung dengan menggunakan eksplan tunas pucuk dan buku dapat terjadi dengan baik dengan pemberian zat pengatur tumbuh yang dapat merangsang pertumbuhan tunas, merangsang pembelahan sel, dan mengatur morfogenesis.
57 Hasil penelitian Rahayu et al (2013) pada eksplan biji jarak pagar menghasilkan daun sebanyak 3,89 yang ditanam pada media MS dengan kombinasi 5 mg/l BAP dan 0,5 mg/l IAA. Menurut Haeria (2012) Daun merupakan organ vegetatif yang pertumbuhannya dipengaruhi oleh kandungan nitrogen dalam media.
Aprilia (2011) juga melaporkan bahwa daun digunakan sebagai indikator pertumbuhan dan data penunjang untuk menjelaskan proses pertumbuhan yang terjadi pada eksplan. Semua perlakuan dapat memacu terbentuknya daun walaupun belum terbuka sempurna pada 35 hari setelah tanam.
Santoso dan Nursandi (2002) juga melaporkan n bahwa sitokinin diketahui berperan dalam menunda senescence daun dengan jalan menghambat penguraian protein. Semakin banyak jumlah daun yang bisa dipertahankan tentu akan meningkatkan aktivitas fotosintesis yang pada akhirnya akan meningkatkan hasil tanaman pule pandak. Pada umur 180 HST, adanya perlakuan berpengaruh tidak nyata terhadap jumlah daun. Tidak terdapat interaksi antara kedua faktor perlakuan terhadap jumlah daun.
Sitokinin sebagai salah satu zat pengatur pertumbuhan berpengaruh”sangat luas pada proses-proses fisiologis tumbuhan, dengan aktivitas utama mendorong pembelahan sel. Sesuai dengan pernyataan Manurung et al. dalam Suryaningsih (2004) bahwa pemberian zat pengatur tumbuh akan efektif bila digunakan pada fase pertumbuhan tertentu, dengan kondisi yang tepat dan pada kondisi lingkungan tertentu.
Hasil ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Kumaria et al. (2012) pada B. rubroveniavar. meisneri bahwa peningkatan multiplikasi tunas sejalan dengan peningkatan jumlah daun.
KESIMPULAN
Dari hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat interaksi pemberian konsentrasi BAP (Benzil amino purine) dan Aksesi Rimbo Binuang, situak dan Tombang terhadap Jumlah tunas per eksplan namun pada variabel lainya tidak terdapat interaksi namun kedua faktor tunggal memperlihatkan perbedaan yang nyata terhadap persentase eksplan hidup, persentase eksplan membentuk kalus, persentase eksplan membentuk tunas dan jumlah daun per eksplan.
58 Pemberian BAP 0,5 ppm pada Aksesi rimbo Binuang menghasilkan Jumlah Tunas Per eksplan (17,33 buah), persentase eksplan hidup (82,22%), Persentase Eksplan Berkalus (77,78 %), Persentase Eksplan membentuk tunas ( 77,78 % ) , Jumlah Daun Per Tunas (5,33 helai ) dan pada Aksesi yang terbaik terdapat pada aksesi rimbo binuang yaitu persentase eksplan hidup (51,11%), Persentase Eksplan Berkalus (48,89 %), Persentase Eksplan membentuk tunas (48,89 %) dan Jumlah Daun Per Tunas (3,33 helai ).
Saran
Untuk induksi tunas pada tanaman nilam sebaiknya mengunakan zat pengatur tumbuh BAP (Benzil amino purine) dengan konsentrasi 0,5 ppm karena dengan hanya memberikan BAP tunggal tanpa di kombinasikan dengan Zpt lainya sudah mampu menghasilkan tunas dan planlet pada ketiga aksesi tanaman nilam.
REFERENSI
Abidin, Z 1983. Dasar – dasar pengetahuan tentang Zat Pengatur Tumbuh. Bandung:
Angkasa.
Aprilia, K. 2011. Pembentukan Tunas Lengkeng Dataran Rendah (DimorcarpuslonganLour) pada Berbagai Konsentrasi IBA dan Kinetin Secara in Vitro. Skripsi Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret, Surakarta.
Astuti dan Andayani. 2007. Pengaruh Pemberian BAP dan NAA terhadap Pertumbuhan Krisan (Chrysanthemum morifolium, Ram.) . Jurnal Kultur Jaringan Biota,X(3): 31-35
Bakti, C. 2005. Embriogenesis Somatik Jahe (Zingiber officinale Rosc.) Pada Berbagai Zat Pengatur Tumbuh. Tesis. Pascasarjana IPB. Bogor.
Budiarti, C. 2017. Pengaruh Teknik Sterilisasi Dan Zat Pengatur Tumbuh 2,4-D (2,4- Diklorofenoksiasetat), BAP (Benzil Amino Purin) Terhadap Induksi Kalus Nilam (Pogostemoncablinbenth) Secara In Vitro. [Skripsi]. Bandung. Fakultas Sains dan Teknologi. Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati.
Caiger, S. 2016. Essential Oil andOleoresins, MarketInsider April 2016 Report.
http://www.intracen.org/uploadedFiles/intracenorg/Content/Exporters/Market_
Data_and_Information/Market_information/Market_Insider/Essential_Oils/Mo nthly%20Report%20April%20%202016.pdf. [viewed 28th October 2016].
Daniel, A. 2012. Prospek Bertanam Nilam. Yogyakarta: Pustaka Baru Press.
Direktorat Jendral Perkebunan. 2016. Nilam (Patchouli). Statistik Perkebunan Indonesia 2015-2017.
Direktorat Jenderal Perkebunan. 2016. Statistik Perkebunan Indonesia Komoditas Nilam 2015-2017. Jakarta. Kementerian Pertanian.
59 Febriyetty, L. 2018. Identifikasi Karakteristik Morfologis, Anatomis dan Mutu Minyak Atsiri Tanaman Nilam (PogostemoncablinBenth) di Kabupaten Pasaman Barat [Tesis]. Padang. Program Pascasarjana Universitas Andalas.
George, E.F and Sherrington, P.D. 1984. Plant Propagation by Tissue Culture Exegetics Limited. England.
Hadipoentyanti, E. 2010. Perbanyakan Benih Nilam Veritas Unggul Sidikalang (Produksi Minyak ≥ 300 kg/ha), Sehat dan Murah Hasil Kultur Jaringan (30 % dari BiayaStandar). Balai Penelitian Tanaman Obatdan Aromatik. BogorBent) Production Buol District. J. Akad. Kim. 3(2): 79-85.
Haeria. 2012. Organogenesis Tanaman Jarak Pagar (JatrophacurcasL) pada Medium MS dengan Penambahan Berbagai Konsentrasi BAP dan NAA. Skripsi.
Fakultas MIPA Universitas Tadulako. Palu. .
Idris, A., M. Ramajura, I. Said. 2014. Quality Analysis of Patchouli Oil (Pogostemon cablin.
Indah, P. N. & Erma vitalini, D. 2013. Induksi Kalus Daun Nyamplung (Calophylluminophylum Linn.) pada Beberapa Kombinasi Konsentrasi 6- Benzylaminopurine (BAP) dan 2,4-Dichlorophrnoxyacetic (2,4-D). Jurnal Sains dan Seni Pomits. 2(1), pp. 2337-3520.Indria 2017.
Kumaria, S., M. Kehie, S. Shekhar Das Bhowmik, M. Singh, & P. Tandon. 2012. In vitro regeneration of Begonia rubrovenia var. meisneri C.B. Clarke: A rareandendemic ornamental plant of Meghalaya, India. Indian Journal of Biotechnology. 11: 300303.
Lestari, E. G., 2011. Peranan Zat Pengatur Tumbuh Dalam Perbanyakan Tanaman Melalui Kultur Jaringan. Jurnal AgroBiogen. Vol 7 No 1.
Lizawati. 2012. Induksi Kalus Embrionik dari Eksplan Tunas Apikal Tanaman Jarak Pagar (Jatropha curcas L.) dengan Penggunaan 2,4-D dan TDZ. Menara Perkebunan Fakultas Pertanian Universitas Jambi 1 (2) : 75-87.
Mahadi I, Syafi’i W, & Sari Y.2016. Induksi Kalus Jeruk Kasturi (Citrusmicrocarpa) Menggunakan Hormon 2,4-D dan BAP dengan Metode In vitro.Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia 21 (2): 84-89.
Mashluhah. K. 2018. Pengaruh kombinasi naa dan bap terhadap induksi tunas aksilar jambang (Syzygium cumini L.). Skripsi. Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang.
Mayerni, Syarif dan Hidayat. 2018. Potensi dan Pengembangan Tanaman Nilam Sumatera Barat.
Mendi YY, Curuk P, Kocaman E, Unek C, Eldogan S, Gencel, Cetiner S. 2009.
Regenerationof begonia plantlets by direct organogenesis. Afric. J. Biotech.
8(9):1860-1863.
60 Nuryani, Y,Hobir dan Syukur, C. 2003. Status pemuliaan Tanaman Nilam
(Pogostemoncablin Benth). Perkembangan Tekhnologi TRO XV, 2 : 56-57.
Rahayu S, Yulidar, Dwimahyanti I, 2013. Pengaruh BAP Terhadap Pertumbuhan Biji Jarak Pagar ( Jatropha Curcas,L) Hasil Iradiasi Sinar Gamma. Didalam Proseding Seminar Nasional Sains dan Teknologi Nuklir. Bandung, 4 Juli 2013.Jakarta. Pusat Aplikasi Teknologi Isotop dan Radiasi, Badan Tenaga Nuklir Nasional. Hlm343-347.
Sandra, E., 2013. Cara Mudah Memahami dan Menguasai Kultur Jaringan. Bogor.
Kanisius.
Santoso, U. dan F. Nursandi. 2002. Kultur Jaringan Tanaman. UMM Pres. Malang.
Santoso dan Nursandi. 2003. Kultur Jaringan Tanaman. Malang. Universitas Muhammadiyah. Malang.
Suryaningsih, E. 2004. Pengaruh Macam Zat Pengatur Tumbuh dan Media Tanaman terhadap Pertumbuhan Stek Lada (Piper nigrum L.). Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret. Surakarta. (Skripsi S1).
Swamy M.K., S. Balasubramanya, M. Anuradha. 2010. In vitro multiplication of Pogostemoncablin Benth. Through direct regeneration. African J. Biotech. Vol.
9(14): 2069-2075.
Tiwari, S.K., K.P. Tiwari, and E.A. Siril. 2002. An improved micropropagation protocol for teak. Plant Cell, Tissue, and Organ Culture 71:1-6.
Palupi, A.D., Solichatun dan S.D. Marliana. 2004. Pengaruh Asam 2,4 D (Dichlorophenoxyacetic) dan BA (Benzin Adenin) Terhadap Kandungan Minyak Atsiri kalus Daun Nilam (Pogostemon cablin Benth). BioSMART : Volume 6. Nomor 2. Hal 99-103.
Wahyudi A., Ermiati. 2012. Prospek Pengembangan Industri Minyak Nilam di Indonesia. Bunga Rampai Inovasi Tanaman Atsiri Indonesia.Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat. Bogor. Hal 1-6.
Yelnititis dan T.E. Komar. 2010. Upaya Induksi Kalus Embriogenik dari Potongan Daun Ramin. ,QGRQHVLD¶V Work Programme for 2008 ITTO CITES Project dan PPPHKA Badan Litbang Kehutanan. Bogor
Yusnita Y. 2015. Kultur Jaringan Tanaman : Sebagai Teknik Penting Bioteknologi UntukMenunjang Pembangunan Pertanian. Universitas Lampung. Bandar Lampung. 69 p..
Zulkarnain H (2011 ) Kultur Jaringan Tanaman: Solusi perbanyakan tanaman budi daya. Bumi Aksara, Jakarta.
61 PENGARUH BEBERAPA KONSENTRASI BAP DAN SUMBER EKSPLAN TERHADAP INDUKSI TUNAS GAMBIR (Uncaria gambir (Hunter) Roxb)
Fitriawati, Aswaldi Anwar, Aprizal Zainal
Program Studi Agroteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Andalas Korespodensi : [email protected]
ABSTRAK
Gambir merupakan tanaman unggulan yang mengandung senyawa katekin dan tanin yang bernilai ekonomis. Ekstrak gambir banyak dimanfaatkan sebagai bahan baku industri farmasi, industri makanan, kosmetik, penyamakan kulit, dan pewarna. Namun, ketersediaan gambir mengalami penurunan produksi. Oleh karena itu, perlu dilakukan perbanyakan bibit unggul dalam waktu relatif singkat secara in vitro. Penggunaan zat pengatur tumbuh dan sumber eksplan pada in vitro dapat mempengaruhi pertumbuhan eksplan tanaman. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh interaksi konsentrasi BAP dan sumber eksplan terhadap pembentukan tunas gambir. Selain itu juga untuk mendapatkan konsentrasi BAP dan sumber eksplan terbaik terhadap induksi tunas gambir. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) Faktorial yang terdiri 6 perlakuan dan masing-masingnya diulang sebanyak 5 kali. Faktor pertama yaitu konsentrasi BAP, ada 3 taraf ( 2 ppm, 4 ppm, 6 ppm) dan faktor kedua yaitu sumber eksplan, ada 2 taraf (nodus pertama dan nodus ketiga dari pucuk). Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum pemberian konsentrasi BAP dan sumber eksplan mampu membentuk tunas 100%. Terdapat interaksi nyata antara konsentrasi BAP dan sumber eksplan terhadap waktu muncul tunas dengan waktu muncul tunas tercepat 3,8 hari pada konsentrasi 2 ppm BAP pada nodus ketiga. Perlakuan 6 ppm BAP merupakan perlakuan yang terbaik untuk multiplikasi tunas dan jumlah daun gambir.
Kata kunci: BAP, eksplan, gambir, in vitro, tunas
ABSTRACT
Gambir is a superior plant that contains catechins and tannins which are economically valuable. Gambir extract is used for pharmaceutical industry, food industry, cosmetics, leather tanning, and dyes. However, the availability of gambir is decreasing.
Therefore, it is necessary to multiply superior seeds in a relatively short time through in vitro culture The use of growth regulators and explant sources at in vitro can affect the growth of plant explants. The objective of this research was to determine the interaction effect of BAP concentration and explant sources toward the formation of gambir shoots, to obtain the best BAP concentrations and explant sources on the induction of gambir shoots.
This study used a Completely Randomized Design (CRD) factorial consisting of 6 treatments and each of which was repeated 5 times. The first factor is the concentration of BAP, there are 3 levels (2 ppm, 4 ppm, 6 ppm) and the second factor is the source of explants, there are 2 levels (the first node and the third node from the shoot). The results showed that the concentration of BAP and source of explants was able to form shoots 100%. There was a significant interaction between BAP concentration and explant source on shoot emergence time with the fastest shoot emergence time was 3.8 days at concentration 2 ppm BAP at the third node. The 6 ppm BAP treatment was the best treatment for the shoot multiplication and number of gambir leaves.
62 Keywords: BAP, explant, gambir,in vitro, shoot
PENDAHULUAN
Tanaman gambir (Uncaria gambir (Hunter) Roxb) merupakan tanaman unggulan hasil perkebunan rakyat yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Produk gambir yang biasa dikenal masyarakat adalah getah dari hasil kempaan daun dan ranting muda karena mengandung senyawa katekin dan tannin yang bernilai ekonomis. Ekstrak gambir ini dimanfaatkan sebagai bahan baku industri farmasi, kosmetik, penyamakan kulit, pewarna, dan industri makanan (Andre, 2013).
Berbagai potensi ekstrak gambir inilah yang menempatkan gambir sebagai komoditas yang memiliki prospek pengembangan yang besar sebagai salah satu penghasil devisa negara dan sebagai sumber mata pencarian petani.
Berdasarkan data Pembangunan Perkebunan Sumatera Barat (2018) menunjukkan bahwa produksi dan produktivitas gambir yang dicapai pada tahun 2016 sebesar 17.391 ton dan 775 kg/ha, pada tahun 2017 mengalami penurunan sebesar 17.057 ton dan 712.07 kg/ha. Masalah utama pengembangan tanaman gambir adalah rendahnya produktivitas dan kualitas benih yang digunakan. Penyebab rendahnya produktivitas gambir ditingkat petani Sumatera Barat adalah teknik budidaya, konservasi dan pengolahan lahan yang digunakan masih tradisional. Oleh karena itu, untuk mengatasi masalah tersebut dapat dilakukan melalui teknik perbanyakan vegetatif secara kultur jaringan yang mampu memenuhi pengembangan bibit unggul dan ketersediaannya yang memadai dalam waktu relatif singkat dengan cara menginduksi tunas gambir secara in vitro menggunakan eksplan nodus dari hasil perkecambahan biji gambir.
Eksplan yang digunakan dalam kultur jaringan adalah eksplan yang mengandung sel-sel yang aktif membelah (meristematik). Nodus merupakan jaringan meristematik yang sangat responsif terhadap induksi tunas secara in vitro. Benzyl Amino Purine (BAP) merupakan zat pengatur tumbuh dari golongan sitokinin paling sering dipakai karena memiliki efektivitas yang tinggi (Yusnita, 2003). Penelitian Ruzic (2008) membuktikan bahwa dari keempat ZPT yaitu IBA, kinetin, 2-Ip dan BAP yang memberikan efek terbaik dalam multiplikasi Prunus avium L adalah BAP.
Penggunaan BAP pada penelitian sebelumnya telah mampu menginduksi tunas tanaman kopi (Coffea arabica L.) dengan menghasilkan 4,6 tunas per eksplan pada
63 pemberian BAP 2 ppm (Ibrahim, 2015). Pada tanaman Jati (Tectona grandis) eksplan nodus yang membentuk jumlah tunas tertinggi terdapat pada perlakuan BAP 4 ppm yaitu 2,375 tunas/eksplan (Yuniastuti, 2003). Kombinasi BAP dan NAA pada penelitian Brassica oleraceae L untuk jumlah tunas terbaik pada perlakuan BAP 5 ppm dan NAA 0,1 ppm menghasilkan rata-rata 2,66 (Tilaar et al. 2013). Hal tersebut menunjukkan bahwa media MS yang dikombinasikan dengan zat pengatur tumbuh BAP mampu menginduksi tunas.
METODE PENELITIAN Waktu dan Tempat
Penelitian ini dilakukan pada bulan Januari sampai Juni 2020 di Laboratorium Kultur Jaringan Fakultas Pertanian, Universitas Andalas, Padang.
Alat dan Bahan
Alat yang digunakan pada penelitian ini adalah laminar air flow cabinet, hot plate, autoklaf, timbangan analitik, plastik wrap, aluminium foil, plastik bening, lakban bening, karet gelang, kertas label, kertas HVS, tisu, petridish, gunting, pipet pasteur, pinset, scalpel, botol kultur, gelas piala, gelas ukur, oven, lampu bunsen, magnetic stirrer, kertas PH, batang pengaduk, hand spayer, alat tulis, rak kultur, dan kamera digital.
Bahan tanaman yang digunakan adalah nodus pertama dan nodus ketiga yang diperoleh dari hasil perkecambahan biji gambir secara in vitro, media MS, BAP (Benzil Adenin Purin) dan NAA (Naphtalene Acetic Acid), bacto agar, sukrosa, HCl 0,1 N, NaOH 0,1 N, GA3 (Giberrelic Acid), ascorbit acid, arang aktif, aquadest steril, alkohol 70%, alkohol 96%, bayclin, fungisida Dithane M-45 80WP, bakterisida Agrept 20WP dan spritus.Rancangan Percobaan
Penelitian ini dilaksanakan dalam bentuk Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial dengan 2 faktor. Faktor pertama adalah konsentrasi BAP dengan penambahan 0,1 ppm NAA (2 ppm, 4 ppm dan 6 ppm) dan faktor kedua adalah sumber eksplan (nodus pertama dan nodus ketiga dari pucuk). Dengan demikian didapatkan 6 kombinasi perlakuan, setiap perlakuan diulang 5 kali, setiap satuan percobaan terdapat 3 sampel botol, sehingga terdapat 90 satuan percobaan. Pada
64 masing-masing botol kultur ditanam 1 eksplan dengan volume media 10 ml/botol, sehingga jumlah eksplan yang dibutuhkan ada 90 eksplan.
Pelaksanaan 1. Sterilisasi Alat
Semua alat seperti botol-botol kultur, petridish, scapel, pinset dan alat lainnya dicuci bersih kemudian direndam selama 24 jam dalam larutan byclin 20% lalu dicuci bersih dengan air steril setelah itu dikeringkan dan disterilkan dengan autoklaf pada tekanan 15 psi dan temperatur dengan suhu 1210C selama 30 menit. Alat-alat yang digunakan setelah sterilisasi disimpan ke dalam oven.