• Tidak ada hasil yang ditemukan

ZAKAT MELALUI BADAN AMIL ZAKAT NASIONAL (BAZNAS) KOTA MALANG

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "ZAKAT MELALUI BADAN AMIL ZAKAT NASIONAL (BAZNAS) KOTA MALANG "

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEPUTUSAN MASYARAKAT DALAM MENYALURKAN

ZAKAT MELALUI BADAN AMIL ZAKAT NASIONAL (BAZNAS) KOTA MALANG

(Studi Pada Masyarakat Kecamatan Blimbing Kota Malang)

JURNAL ILMIAH

Disusun oleh :

Qurratul Aini 175020501111015

JURUSAN ILMU EKONOMI FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG

2021

(2)

Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Keputusan Masyarakat Dalam Menyalurkan Zakat Melalui Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kota Malang

(Studi Pada Masyarakat Kecamatan Blimbing Kota Malang) Qurratul Aini1

Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Brawijaya Email: [email protected]

ABSTRAK

Adanya lembaga resmi yang dibentuk pemerintah dalam mengelola zakat menjadi solusi bagi para muzakki untuk dpat menyalurkannya di lembaga resmi yaitu BAZNAS. BAZNAS merupakan lembaga resmi yang dibentuk oleh pemerintah dan telah diatur dalam Undang-Undang tentang pengelolaan zakat. Dengan demikian, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi masyarakat dalam menyalurkan dana zakat ke BAZNAS Kota Malang. Zakat yang dimaksud dalam penelitian ini adalah zakat fitrah dan zakat maal. Pendekatan penelitian ini merupakan pendekatan kuantitatif. Sumber data dalam penelitian ini menggunakan data primer dengan menyebarkan kuesioner kepada masyarakat kecamatan Blimbing kota Malang yang membayar zakat ke BAZNAS dan data sekunder melalui data dari BAZNAS Kota Malang. Adapun metode analisis data yang digunakan adalah analisis regresi logistik. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa keputusan masyarakat dalam membayar zakat dipengaruhi oleh altruisme, amil, dan prosedur. Hal ini dikarenakan, seseorang mempunyai peluang lebih besar membayar zakat ketika dorongan sosial yang terjadi di sekitar.Seseorang mememutuskan untuk menyalurkan zakat ketika suatu organisasi atau lembaga amil zakat cakap dalam melayani muzakki, transparan, jujur, tanggung jawab ketika mengelola dana zakat yang masuk dan memiliki fungsi yang jelas membuat masyarakat membayar zakat melalui BAZNAS. Prosedur atau tata cara yang dibuat atau di tetapkan oleh sebuah lembaga amil zakat memiliki tata cara yang mudah dan dapat dipahami oleh muzakki membuat masyarakat membayar zakat melalui BAZNAS. Sedangkan religiusitas tidak berpengaruh terhadap keputusan membayar zakat di BAZNAS Kota Malang.

Dalam hal ini pemahaman agama setiap individu berbeda-beda dan memiliki nilai yang mereka anut sendiri.

Sehingga akan memotivasi untuk bertingkah laku sesuai dengan ketaatan individu terhadap agamanya.

Kata kunci: BAZNAS Kota Malang, Keputusan Masyarakat, Zakat Maal, Zakat Fitrah

A. PENDAHULUAN

Untuk melaksanakan tujuan nasional, Indonesia terus bekerja keras untuk mencapai pembangunan material dan spiritual. Perwujudan cita-cita tersebut meliputi pembangunan bidang keagamaan, antara lain melahirkan keadaan yang penuh iman dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dalam kehidupan beragama, akhlak mulia yang meningkat, membangun hidup beragama yang rukun dan dinamis berdasarkan kesatuan etnis, serta integritas dan peningkatan partisipasi warga. Indonesia sedang dalam pembangunan sosial (Sari, 2006)

Menurut Akhmad (2007) dalam ajaran Islam yang ditujukan untuk mengatasi ketimpangan dan keresahan sosial di masyarakat salah satunya adalah zakat. Zakat adalah rukun Islam, kewajiban para pemeluknya, dan mengemban misi untuk memperbaiki ikatan antar manusia. Jadi, secara keseluruhan hal itu dapat mengurangi gejolak yang disebabkan oleh ketidaksetaraan hidup mereka. Tidak hanya itu, zakat dapat pula mempererat jalinan antara Allah SWT dengan manusia, sebab dalam Islam, zakat ialah wujud dedikasi (ibadah) kepada Tuhan Yang Maha Esa (Barkah, Azwari, Saprida, & Umari, 2020)

Zakat sendiri merupakan salah satu bidang penting dalam Islam. Selain sebagai komitmen bagi setiap muslim yang mampu membayar zakat (muzakki), membayar zakat dapat dimanfaatkan pula untuk menyucikan harta muzakki yang akan disalurkan kepada penerima zakat (mustahiq). Sehingga zakat bukan sekedar mampu membantu ekonomi para mustahiq, namun dapat pula menjadi alat yang dapat mengatur keuangan masyarakat. Pada dasarnya, alasan mendasar zakat dalam jangka panjang adalah menjadikan mustahiq menjadi muzakki.

Dalam bukunya Didin Hafidhudin mengatakan bahwa zakat sebagai instrument perwujudan ekonomi yang merata belum berfungsi dengan baik begitu pula penghimpunan zakat belum ideal dalam organisasi penghimpun zakat. Hal ini karena informasi masyarakat tentang sumber-sumber yang harus diberikan zakat hanya terpaku pada sumber-sumber tradisional, padahal hal tersebut sudah jelas dikatakan dalam Al-Qur'an dan Hadits bahwa dengan prasyarat khusus. Dengan minimnya pengetahuan masyarakat tentang zakat, maka akan berdampak pada

(3)

penghimpunan dana zakat di lembaga-lembaga amil. Sehingga perlu adanya peran lembaga atau badan amil dalam membantu masyarakat tersebut.

Tidak dapat dipungkiri bahwa pemahaman masyarakat selama ini yang berkembang menganai konsep zakat merupakan ibadah yang wajib dikerjakan muslim yang memiliki komitmen untuk membayar zakat, menyalurkan zakat secara langsung teruntuk para penerima zakat (mustahiq/), tanpa melalui perantara amil. Hal semacam inilah yang saat ini masih berkembang dikalangan masyarakat. Pada dasarnya menyalurkan zakatnya secara langsung kepada mustahiq tidak ada larangan, namun jika dilihat dari misi zakat yakni sebagai upaya mengentaskan kemiskinan menjadi tidak terwujud. Dampaknya penyaluran zakat semacam ini hanya akan bersifat jangka pendek, sehingga tujuan utama zakat untuk mewujudkan mustahiq menjadi muzakki akan sulit untuk dapat dicapai. Dengan demikian, menyalurkan zakat melalui amil menjadi sangat penting, agar selaras dengan visi dan misi zakat untuk dapat mensejahterakan umat.

Menurut Profesor Syekh. Dr. Wahbah pada tafsir Al-Wajiz terhadap ayat 103 pada surah At-Taubah, bahwa Allah SWT mensyariatkan Rasulnya dan kepada para pemimpin untuk untuk memerintahkan orang-orang mukmin dan menyempurnakan iman mereka dengan mengambil zakat dari harta mereka. Karena zakat dapat menyucikan dosa dan akhlak yang keji. Kemudian Nabi melaksanakan perintah Allah SWT, memerintahkan mereka untuk bersedekah, dan mengutus amil-amil untuk mengambilnya. Dalam hal ini, amil zakat itu ditunjuk dan diangkat oleh penguasa atau pemerintah. Sehingga tidak sembarang orang dapat menjadi amil, beberapa syarat yang harus dimiliki oleh amil, yakni muslim, baligh, jujur, amanah, mengetahui fiqih zakat, dan memiliki kekuatan fisik serta mobilitas yang tinggi (Rizqia, 2020)

Di Indonesia sendiri, pendistribusian dan penghimpunan zakat dari berbagai pihak dikelola dan disalurkan secara merata dengan kerjasama pemerintah dan lembaga penyaluran zakat. Hal ini mengacu pada UU No. 38 mengenai Pengelolaan Zakat pada tahun 1999, yang akhirnya diubah menjadi Undang-Undang No. 23 mengenai Pengelolaan Zakat pada tahun 2011. Alasan mengapa undang-undang ini harus dirubah lantaran tidak memenuhi kebutuhan kemajuan hukum sosial, sehingga perlu diganti (BAZNAS, 2011)

Dalam UU No.23 Tahun 2011 Tentang Pengelolaan Zakat, pemerintah membentuk Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) dan Lembaga Amil Zakat (LAZ). Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) merupakan pengelola zakat yang berwewenang melaksanakan pengelolaan zakat dalam lingkup nasional. Pada Undang-Undang tersebut, lembaga nonstructural yaitu BAZNAS dinyatakan sebagai lembaga yang mandiri dan bertanggung jawab terhadap Presiden melalui Menteri Agama. Fungsi pelaksanaan, perencanaan, pelaporan, pengendalian dan pertanggung jawaban atas pendayagunaan, pengumpulan, dan pendistribusian zakat, juga sosial keagamaan merupakan fungsi dari Badan Amil Zakat Nasional. Sedangkan LAZ (Lembaga Amil Zakat) adalah lembaga yang dibangun oleh masyarakat yang bertugas mendukung BAZNAS dalam pendistribusian, pendayagunaan dan pengumpulan zakat. Pemerintah membentuk BAZNAS dan LAZ sebagai institusi resmi untuk mengelola zakat dan diharapkan mampu merealisasikan masyarakat yang dan mengentaskan kemiskinan. Dengan demikian, peran pemerintah sebagai pengawas dan pengawas dalam pengelolaan zakat dapat dikatakan sebagai tuntutan hukum masyarakat.

Potensi dari zakat di Indonesia sangatlah besar, menurut Arifin Purwanto sebagai Direktur Utama BAZNAS dalam live bersama IDN Times (15 Juni 2020) mengatakan bahwa potensi zakat sebesar Rp.330 Triliun.

Potensi ini dapat dicapai ketika didukung dengan aksi secara nyata dari masyarakat wajib zakat untuk memberikan zakat ataupun infaq dan juga shaaqahnya kepada BAZNAS ataupun LAZ selaku lembaga resmi yang dibentuk oleh pemerintah. Namun pada kenyataannya hingga Mei 2020 zakat yang diterima sebesar Rp.10 Triliun. Ketika diamati dari potensi zakat, bahwa realisasi dari penghimpunan dana zakat di Indonesia terbilang masih sangat kecil.

Menurut Kementerian Agama Republik Indonesia, terdapat hal-hal yang dapat menghalangi belum maksimalnya pengelolaan zakat, beberapa di antaranya adalah pemahaman fiqh zakat, minimnya kesadaran masyarakat dalam membayar zakat, dan kurang baiknya pelaksanaan zakat. Peraturan tentang pengelolaan zakat belum yang ada dalam undang-undang belum disosialisasikan dengan baik, kemampuan organisasi belum menjadi pengelola zakat yang terbaik, dan masyarakat kurang mempercayai organisasi pengelola zakat (Mirawati, Tanjung,

& Arif, 2019). Kemudian ditambah dengan adanya lembaga-lembaga yang bermuculan sebagai lembaga pengelola zakat pada saat bulan ramadhan. Dengan demikian, butuh adanya simpul yang bisa mengkoordinir serta mengkoordinasikan pengelolaan, menciptakan gerakan solidaritas, menghindari tumpang tindih rencana kerja, dan mengoptimalkan otorisasi dan pemanfaatan dana zakat (Aflah & Tanjung, 2006)

Kota Malang yang merupakan kota terbesar kedua di Jawa Timur setelah Surabaya dengan jumlah penduduk mencapai 843.810 jiwa (BPS, 2021) dengan mayoritas penduduk kota Malang beragama islam, diikuti dengan agama Kristen Protestas, Katolik, Hindu, Budha dan Kong Hu Chu. Sekitar 80% penduduk kota malang adalah beragama islam mencapai 811.073 jiwa (BPS, 2019). Di Kota Malang terdapat Badan Amil Zakat Nasional yang dibentuk oleh Pemerintah Kota Malang dengan Keputusan Walikota Malang Nomor

(4)

188.45/221/35.73.112/2018. Terdapat lima kecamatan di Kota Malang yaitu Sukun, Kedungkandang, Klojen, Lowokwaru dan Blimbing. Dari kelima kecamatan tersebut kecamatan Blimbing dipilih karena di kecamatan tersebut terdapat UPZ (Unit Pengumpul Zakat) yang paling banyak di kota Malang, sehingga hal ini menjadi acuan peneliti dalam melaksanakan penelitian lebih jauh di daerah tersebut.

BAZNAS Kota Malang pada tahun 2019 telah berhasil menghimpun dana zakat sebesar Rp. 758 miliar.

Penghimpunan dana zakat yang diterima BAZNAS Kota Malang terbilang cukup besar. Namun, sebagian besar dari penerimaan zakat tersebut berasal dari Aparat Sipil Negara (ASN) yang berada dalam lingkup Pemerintahan Kota Malang. Sedangkan penerimaan zakat dari masyarakat sendiri terbilang masih kurang, padahal dengan adanya BAZNAS yang merupakan lembaga resmi yang dibentuk pemerintah harusnya masyarakat lebih bisa melilih BAZNAS untuk dapat menghimpun zakatnya.

Persoalan yang terjadi di masyarakat yakni minimnya pemahaman tentang badan amil zakat yang ada dan rendahnya kepercayaan masyarakat mengenai lembaga amil, bahwa lembaga yang dibentuk ini bertujuan untuk menghimpunan dana zakat bagi seluruh kalangan baik itu masyarakat ataupun Aparatur Sipil Negara (ASN).

Sehingga seluruh masyarakat wajib zakat bisa menyalurkan zakatnya di BAZNAS. Maka dari itu, masih terdapat banyak kasus muzakki menyerahkan zakatnya langsung kepada mustahik. Badan Amil Zakat sebagai organisasi pengelola zakat memiliki peran penting untuk dapat memberikan motivasi agar masyarakat menyalurkan zakatnya ke BAZNAS. Hal ini sangat ditentukan oleh bagaimana amil dapat merebut hati masyarakat, sehingga peranan Badan Amil Zakat disebut sebagai financial intermediary dapat berjalan dengan baik. Hal itu tidak lepas dari cara- cara yang dilaksanakan Badan Amil Zakat sudah terealisasi dengan baik dan memuaskan. Jika organisasi sudah dilaksanakan secara professional dan transparan serta dapat memberikan berbagai kemudahan bagi para muzakki, maka masyarakat akan lebih mempercayai BAZNAS sebagai tempat menyalurkan zakat.

Hal ini telah dibuktikan pada penelitian Mukhlis dan Beik (2013) yang sudah dilaksanakan sebelumnya bahwa alasan wajib zakat (muzakki) membayarkan langsung zakatnya kepada mustahik adalah karena faktor kepuasan menjadi alasan utama para muzakki menyalurkan zakatnya langsung kepada mustahik. Dengan perbandingan yang terbilang jauh yaitu 67% muzakki merasa puas ketika menyalurkan zakatnya secara langsung kepada penerima zakat. Dengan demikian, diperlukan perbaikan dalam hal organisasi di BAZNAS agar dapat memotivasi masyarakat agar dapat menyalurkan zakatnya.

Dengan demikian, religiusitas, altruisme, amil, dan prosedur merupakan faktor muzakki dalam menentukan untuk menyalurkan zakatnya di BAZNAS. Berdasarkan penjelasan di atas, maka penulis ingin melaksanakan penelitian tentang pengaruh religiusitas, altruisme, amil, dan prosedur untuk menyalurkan zakat di BAZNAS.

Penelitian yang akan dilakukan berjudul “Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Keputusan Masyarakat Dalam Menyalurkan Zakat Melalui Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kota Malang (Studi Masyarakat Kecamatan Blimbing Kota Malang)”.

B. TINJAUAN PUSTAKA Zakat dan Kewajibannya Dalam Islam

Definisi dari zakat menurut Al-Mu’jam Al-Wasith, berasal dari kata zakâ–yaskû–zakâ’an yang artinya bersih dan baik. Sedangkan zakat menurut bahasa berarti tumbuh, suci, berkah, baik dan bersihnya sesuatu.

Kemudian pengertian zakat menurut syara’ adalah perhitungan tertentu dari harta dan sejenisnya yang diwajibkan untuk dikeluarkan dan diberikan kepada orang-orang fakir, miskin, dan yang termasuk dalam delapan asnaf dengan syarat–syarat (Arifin, 2011)

Secara umum zakat terbagi menjadi dua macam, yaitu zakat jiwa (nafs)/zakat fitrah dan zakat harta/zakat maal (Sari, 2006):

a) Zakat jiwa (nafs)/zakat fitrah

Besaran zakat fitrah bagi perorangan adalah Sha’ (2,5 kg/3,5 liter) dari bahan makanan untuk membersihkan puasa dan mencukupi kebutuhan orang-orang miskin di hari raya.

b) Zakat harta/zakat maal

Jenis harta yang wajib zakat antara lain (DR. KH. M. Hamdan Rasyid & El-Sutha, 2016) a. Emas dan perak

b. Hewan ternak, seperti kambing,unta, kerbau, sapi.

c. Hasil dari pertanian, yang meliputi padi, jagung dan gandum, termasuk juga buah-buahan dan biji-bijian yang meliputi anggur dan kurma

d. Harta perdagangan

(5)

e. Hasil tambang f. Harta karun

Pada dasarnya, harta atau hasil dari usaha dan kerja keras seorang muslim di dalamnya terdapat hak dari sebagian muslim lainnya. Sebagian dari harta tersebut harus diberikan kepada golongan yang membutuhkan, dengan arti lain harta tersebut harus dikelurkan zakatnya. Terdapat beberapa syarat harta yang terkena kewajiban zakat antara lain (Andriani, Mairijani, & Ainun, 2020)

1) Milik penuh 2) Berkembang 3) Cukup senisab

4) Lebih dari kebutuhan biasa 5) Bebas dari hutang

6) Berlalu satu tahun (haul)

Mustahik (penerima zakat) terbagi menjadi delapan asnaf (golongan) sesuai dengan ketentuan yang ada di Al-Qur’an surat At-Taubah ayat 60 yang artinya:

“Sesungguhnya zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang miskin, amil zakat, yang dilunakkan hatinya (mualaf), untuk (memerdekakan) hamba sahaya, untuk (membebaskan) orang yang berutang, untuk jalan Allah dan untuk orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai kewajiban dari Allah. Allah Maha Mengetahui, Mahabijaksana.” (Terjemahan Kemenag, 2002)

Keputusan dalam Menyalurkan Zakat

Proses pengambilan keputusan dimulai dengan kebutuhan yang harus dipenuhi. Pemenuhan kebutuhan tersebut terkait dengan beberapa pilihan alternatif, sehingga perlu dilakukan evaluasi untuk mendapatkan pilihan terbaik dari persepsi konsumen. Dalam proses membandingkan ini, konsumen membutuhkan informasi yaitu besarnya dan tingkat kepentingannya tergantung pada kebutuhan konsumen dan situasi yang mereka hadapi. Kotler dan Keller (2007) menjelaskan bahwa proses pengambilan keputusan merupakan proses psikologis dasar yang berperan penting dalam memahami bagaimana konsumen sebenarnya mengambil keputusan (Firmansyah, 2018) BAZNAS Sebagai Pengelola Zakat

Keikutsertaan pemeritah dalam pengelolaan zakat telah dibuktikan dengan adanya regulasi yang membahas mengenai pengelolaan zakat yaitu Undang-Undang Nomor 38 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Zakat, kemudian diperbaharui dengan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat. Pengelolaan zakat adalah sebuah kegiatan perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, pengawasan terhadap pengumpulan dan pendistribusian serta pendayagunaan zakat (Djuanda, 2006). Selain itu, dengan adanya peraturan pemerintah yang mendukung pelaksanaan undang-undang ini, maka pelaksanaan pengelolaan zakat semakin diperkuat. Sehingga terbentuklah lembaga/organisasi yang menaungi zakat secara profesional yaitu Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS). BAZNAS merupakan lembaga pengelola zakat yang memiliki tugas utama pengelolaan zakat secara nasional. BAZNAS merupakan lembaga yang dibentuk oleh pemerintah, sehingga pemerintah memiliki wewenang dalam mengatur berbagai ketentuan mengenai pengelolaan zakat.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Muzakki dalam Mengeluarkan Zakat Melalui BAZNAS

a) Religiusitas, merupakan tingkat konsepsi agama seseorang dan tingkat komitmen seseorang terhadap agamanya (Yazid, 2017). Agama mengajarkan kepada umatnya untuk selalu menjadi manusia yang lebih baik. Semakin tinggi tingkat religiusitas seseorang, semakin ia melakukan segala hal sesuai dengan ajaran islam. Zakat adalah wajib, sehingga semakin besar religiusitas seseorang ma keputusan untuk menyalurkan zakat semakin besar

b) Altruisme, perilaku altruisme merupakan tindakan sukarela yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang untuk membantu sesama tanpa mengharapkan imbalan apapun kecuali perasaan

(6)

melakukan suatu kebaikan

(

Sears dalam Zahra, 2014). Ketika altruisme dalam diri seseorang besar, maka akan mempengaruhi keputusan untuk menyalurkan zakat

c) Amil, merupakan perseorangan atau lembaga yang mengelola zakat dan shadaqah dengan cara mengumpulkan, mencatat, membagikan, atau mendistribusikan kepada yang berhak menerima barang sesuai dengan syariat islam (Shihab, 2002). Dalam suatu organisasi memiliki kinerja yang baik, akan menjadikan masyarakat membayar zakat di lembaga tersebut

d) Prosedur, merupakan tata cara atau langkah-langkah yang ditetapkan oleh sebuah perusahaan/organisasi untuk dapat menyelesaikan pekerjaan dengan waktu yang telah ditentukan (Drs. H.M. Sugeng Hidayat &

Jumiatin, 2016)

.

Dengan adanya prosedur yang baik dan mudah untuk dilaksanakan serta dibuat oleh lembaga/organisasi pengelola zakat yang ada, maka akan mempengaruhi keputusan masyarakat membayar zakat

Teori Perilaku Konsumen

Teori perilaku konsumen mengarah kepada proses dimana individu atau kelompok konsumen memilih, membeli, menggunakan atau membuang suatu produk untuk dapat memenuhi kebutuhan dan kepuasan mereka (Solomon dalam Febriani & Dewi, 2019). Konsumen harus mempertimbangkan beberapa hal ketika memilih, membeli dan menggunakan barang dan jasa yang sesuai dengan preferensi mereka sendiri, seperti jumlah uang/pendapatan yang dimilikinya, dan keyakinan, hukum, moral, serta nilai-nilai sosial dan budaya mereka (Hoetoro, 2018)

C. METODE PENELITIAN

Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif dengan menggunakan pendekatan deskriptif.

Metode penelitian kuantitatif adalah jenis penelitian yang spesifikasinya sistematis, terencana dengan matang, dan mempunyai struktur yang jelas dari awal desain penelitian hingga rumusannya. Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah masyarakat muslim kota Malang yang berada di daerah kecamatan Blimbing yakni sebesar 182 089 jiwa. Pengambilan sampel dilakukan dengan menyebarkan kuesioner kepada 55 reponden yang disebar dalam beberapa kelurahan yang ada di kecamatan Blimbing Kota Malang. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan sekunder. Data primer yang diperoleh berasal dari sumber data yakni dengan memberikan kuesioner kepada para responden. Dengan cara peneliti mendatangi UPZ yang ada di tiap kelurahan yang ada di kecamatan Blimbing Kota Malang untuk diberikan kuesioner. Sedangkan data sekunder didapat dari dokumen BAZNAS Kota Malang. Instrument penelitian yang digunakan adalah uji validitas dan uji reabilitas. Dalam penelitian kuantitatif, baik atau tidaknya suatu intrumen penelitian ditentukan oleh validitas dan reabilitas. Metode analisis data yang digunakan adalah analisis regresi logistik. Regresi logistik adalah metode statistik yang digunakan untuk menggambarkan hubungan antara variabel respon dengan dua atau lebih kategori dan variabel penjelas dengan satu atau lebih kategori atau rentang interval. Yang dimaksud dengan variabel kategori, yaitu variabel yang berupa data nominal dan data ordinal (Pramesti, 2013)

D. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Analisis Data

Berdasarkan hasil uji validitas didapat hasil bahwa rHitung > rTabel pada tiap-tiap pertanyaan, sehingga dapat dikatakan bahwa item pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat digunakan untuk mengukur variabel penelitian.

Sedangkan untuk uji reliabilitas pada seluruh variabel nilainya > 0,6. Maka bisa dikatakan bahwa seluruh variabel yang digunakan dalam penelitian ini reliabel.

Uji Keseluruhan Model (Overall Model Fit)

Berdasarkan hasil uji keseluruhan model nilai -2 Log Likelihood awal adalah sebesar 49,677. Selanjutnya, setelah dimasukkan ke dalam empat variabel independen, maka nilai -2 Log Likelihood akhir mengalami penurunan menjadi 30,201. Penurunan yang terjadi menunjukkan bahwa model regresi fit dengan data.

Dalam menguji hipotesis penelitian untuk melihat signifikansi pada variabel religiusitas, altruisme, amil, dan prosedur terhadap keputusan masyarakat membayar zakat dapat dilihat dengan cara membandingkan nilai Omnibus Test Of Model Coefficient. Nilai omnibus test of model coefficient yaitu dengan melihat nilai peluang chi- square hitung dengan nilai alpha 5% (α=0,05).

(7)

Tabel 1 Omnibus Test Perbandingan Model

Omnibus Tests of Model Coefficients

Model Chi-Square df Sig.

Step 18.820 4 .001

Block 18.820 4 .001

Model 18.820 4 .001

Sumber data: data hasil olahan peneliti menggunakan SPSS 26

Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa nilai chi-square sebesar 18,820 dengan df 4 dan nilai signifikansi yaitu 0,001<0,05. Hasil yang di dapat membuktikan bahwa variabel religiusitas, altruisme, amil, dan prosedur mempunyai pengaruh secara simultan terhadap keputusan masyarakat membayar zakat atau dapat dikatakan bahwa dugaan hipotesis dalam penelitian diterima.

Koefisien Determinasi (Nagelker’s R Square)

Besarnya koefisien determinasi pada model regresi logistik dapat dilihat pada nilai Nagelker’s R Square.

Berikut merupakan data hasil uji Cox and Snell’s R Square dan Nagelker’s R Square:

Tabel 2 Hasil Uji Cox and Snell’s R Square dan Nagelker’s R Square Step -2 Log

likelihood

Cox & Snell R Square Nagelkerke R Square

1 30.201 0.290 0.491

Sumber data: data hasil olahan peneliti menggunakan SPSS 26

Berdasarkan tabel di atas, dapat diketahui bahwa nilai Nagelker’s R Square sebesar 0,491 hal itu berarti kemampuan variabel religiusitas, altruisme, amil, dan prosedur mampu menjelaskan variabel keputusan membayar zakat sebesar 0,491 atau 49,1%. Sedangkan sisanya sebesar 50,9% dijelaskan oleh variabel-variabel lain di luar model penelitian.

Uji Kelayakan Model (Hosmer and Lemeshow’s)

Untuk menguji kelayakan pada model regresi dapat dinilai menggunakan uji Hosmer and Lemeshow’s Goodness of Fit. Berikut merupakan hasil uji Hosmer and Lemeshow’s Goodness of Fit:

Tabel 5 Hasil Uji Hosmer and Lemeshow’s Goodness of Fit Hosmer and Lemeshow Test

Step Chi-square df Sig.

1 3.399 7 0.846

Sumber data: data hasil olahan peneliti menggunakan SPSS 26

Pada tabel di atas dapat diketahui bahwa nilai Chi-Square adalah sebesar 3,399 dengan signifikansi sebesar 0,846. Berdasarkan hasil tersebut, maka dapat dikatakan bahwa model mampu memprediksi nilai observasinya karena nilai signifikansinya >0,05.

Uji Signifikansi (Wald)

Uji wald digunakan untuk menguji signifikansi pada setiap variabel apakah terdapat pengaruh secara parsial dari variabel religusitas, altruisme, amil, dan prosedur terhadap keputusan membayar zakat. Untuk mendapatkan hasil tersebut caranya yaitu dengan membandingkan nilai signifikansi dengan alpha 5% (α=0,05). Berikut model regresi logistik yang terbentuk: Hasil pengujian terhdap koefisien regresi logistic menghasilkan model sebagai berikut:

Y = -6,915 + -0,022X1 + 0,767X2 + 0,458X3 + -0,806X4

Dengan model regresi yang terbentuk, hasil dari pengujian terhadap hipotesis dapat di interpretasikan sebagai berikut:

H1 : Variabel religiusitas tidak berpengaruh terhadap keputusan masyarakat membayar zakat

(8)

Variabel religiusitas menghasilkan nilai signifikansi sebesar 0.887. Nilai signifikansi pada variabel prosedur lebih besar dari alpha 5% (α=0,05), artinya H0 diterima atau dengan kata lain, variabel prosedur secara parsial memiliki pengaruh tidak signifikan terhadap keputusan masyarakat membayar zakat.

H2 : Variabel altruisme berpengaruh terhadap keputusan masyarakat membayar zakat

Variabel altruisme menghasilkan nilai signifikansi sebesar 0.009. Nilai signifikansi pada variabel religiusitas lebih kecil dari alpha 5% (α=0,05), artinya H0 ditolak atau dengan kata lain, variabel altruisme secara parsial memiliki pengaruh yang signifikan terhadap keputusan masyarakat membayar zakat.

H3 : Variabel amil berpengaruh terhadap keputusan masyarakat membayar zakat

Variabel amil menghasilkan nilai signifikansi sebesar 0.013. Nilai signifikansi pada variabel religiusitas lebih kecil dari alpha 5% (α=0,05), artinya H0 ditolak atau dengan kata lain, variabel amil secara parsial memiliki pengaruh yang signifikan terhadap keputusan masyarakat membayar zakat.

H4 : Variabel prosedur berpengaruh terhadap keputusan masyarakat membayar zakat

Variabel prosedur menghasilkan nilai signifikansi sebesar 0.015. Nilai signifikansi pada variabel religiusitas lebih kecil dari alpha 5% (α=0,05), artinya H0 ditolak atau dengan kata lain, variabel prosedur secara parsial memiliki pengaruh yang signifikan terhadap keputusan masyarakat membayar zakat.

E. PEMBAHASAN

Penelitian ini memliki tujuan yaitu untuk melihat apa saja faktor yang mempengaruhi keputusan masyarakat dalam membayar zakat melalui BAZNAS Kota Malang. Berikut merupakan pembahasan bagaimana faktor religiusitas, altruisme, amil, dan prosedur mempengaruhi keputusan masyarakat dalam membayar zakat ke BAZNAS Kota Malang.

Pengaruh Religiusitas Terhadap Keputusan Masyarakat Membayar Zakat Melalui BAZNAS Kota Malang Religiusitas tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap keputusan membayar zakat di BAZNAS Kota Malang. Hal ini berarti masyarakat tidak mempertimbangkan faktor religiusitas dalam mengambil keputusan membayar zakat di BAZNAS Kota Malang atau di tempat lain (Bukan BAZNAS). Dengan demikian, dapat diketahui bahwa keputusan masyarakat dalam membayar zakat bukan dari religiusitas seseorang. Religiusitas ini merupakan faktor yang ada pada setiap individu dengan pemahaman yang berbeda-beda dan memiliki nilai yang mereka anut sendiri antara yang satu dengan yang lainnya. Sikap keagamaan seseorang muncul dari dalam dirinya dan akan memotivasi dirinya untuk bertingkah laku yang sesuai berdasarkan ketaatan individu kepada agama mereka. Hal yang menyebabkan religiusitas tidak berpengaruh terhadap keputusan membayar zakat, karena pemahaman setiap individu itu berbeda sehingga cara mengamalkannya pun berbeda pula. Penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Nugroho & Nurkhin (2019) dengan judul “Pengaruh Religiusitas, Pendapatan, Pengetahuan Zakat Terhadap Minat Membayar Zakat Profesi Melalui BAZNAS dengan Faktor Usia Sebagai Variabel Moderasi” bahwa religiusitas tidak mempunyai pengaruh signifikan terhadap minat menyalurkan zakat.

Pengaruh Altruisme Terhadap Keputusan Masyarakat Membayar Zakat Melalui BAZNAS Kota Malang Altruisme berpengaruh secara signifikan dan positif terhadap keputusan masyarakat menyalurkan zakat, maka seseorang mempunyai peluang lebih besar membayar zakat ketika dorongan sosial yang terjadi di sekitar membuat masyarakat membayar zakat melalui BAZNAS atau lembaga lain bukan BAZNAS. Sehingga dalam hal ini berarti masyarakat memperhitungkan faktor altruisme untuk menarik keputusan menyalurkan zakat melalui BAZNAS. Pada dasarnya semua manusia suka membantu, sebagian besar masyarakat memiliki sifat peduli terhadap sesama. Sehingga dengan sifat suka membantu sesama yang ada ada diri manusia ini dapat memotivasi seseorang untuk dapat menyalurkan zakat mereka. Hasil analisis dari penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Muda dkk (2006) dengan judul “Factors Influencing Individual Participation In Zakat Contribution:

Expoloratory Investigation” bahwa altruisme diidentifikasikan sebagai faktor utama yang mempengaruhi individu dalam membayar zakat. Kemudian hasil penelitian ini juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Mukhlis

& Beik (2013) dengan judul “Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Tingkat Kepatuhan Membayar Zakat:

Studi Kasus Kabupaten Bogor” hasilnya yaitu altruisme adalah faktor yang dapat berpengaruh kepada sesorang untuk patuh membayar zakat.

Pengaruh Amil Terhadap Keputusan Masyarakat Membayar Zakat Melalui BAZNAS Kota Malang

Amil memiliki pengaruh secara positif dan signifikan terhadap keputusan masyarakat membayar zakat.

Dengan begitu, seseorang mempunyai peluang lebih besar dalam menyalurkan zakat ketika suatu organisasi atau

(9)

lembaga amil zakat cakap dalam melayani muzakki, transparan, jujur, tanggung jawab ketika mengelola dana zakat yang masuk dan memiliki fungsi yang jelas membuat masyarakat membayar zakat melalui BAZNAS atau lembaga lain bukan BAZNAS. Sehingga dalam hal ini masyarakat mempertimbangkan faktor amil untuk mengambil keputusan menyalurkan zakat melalui BAZNAS. Untuk menjadi amil atau pengelola zakat harus memiliki sifat yang jujur, amanah, dan paham mengenai hukum-hukum zakat. Ketika suatu lembaga pengelola zakat memiliki sifat tersebut, maka masyarakat akan percaya dan memutuskan untuk menyalurkan zakatnya di lembaga amil yang dimaksud. Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Muda dkk (2006) dengan judul

Factors Influencing Individual Participation In Zakat Contribution: Expoloratory Investigation” bahwa organisasi diidentifikasikan sebagai faktor yang berpengaruh kepada seseorang untuk menyalurkanr zakat. Kemudian hasil penelitian ini juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Kuncananingsih & Ridla (2015) dengan judul

Good Corporate Governance dalam Meningkatkan Kepuasan Muzakki di Badan Amil Zakat Nasional” hasilnya yaitu Good Corporate Governance (GCG) yang terdiri dari transparansi, akuntabilitas, responbility, dan fairness merupakan faktor yang mempengaruhi kepuasan muzakki terhadap BAZNAS. Selanjutnya penelitian yang dilakukan oleh Nadlifah (2015) dengan judul “Pengaruh transparasi dan tanggung jawab (resposibility) terhadap kepatuhan membayar zakat di Lembaga Amil Zakat Kota Malang” hasilnya yaitu transparasi dan resposibilty mempunyai pengaruh signifikan dan positif terhadap kepatuhan membayar zakat.

Pengaruh Prosedur Terhadap Keputusan Masyarakat Membayar Zakat Melalui BAZNAS Kota Malang Prosedur berpengaruh secara signifikan terhadap keputusan masyarakat membayar zakat, artinya seseorang mempunyai peluang untuk membayar zakatnya leboh besar ketika suatu prosedur atau tata cara yang dibuat atau di tetapkan oleh sebuah lembaga amil zakat memiliki tata cara yang mudah dan dapat dipahami oleh muzakki membuat masyarakat membayar zakat melalui BAZNAS atau lembaga lain bukan BAZNAS. Sehingga dalam hal ini masyarakat mempertimbangkan faktor prosedur untuk mengambil keputusan membayar zakat melalui BAZNAS.

Hal ini dikarenakan dalam sebuah perusahaan atau organisasi terdapat prosedur yang harus dijalankan untuk mencapai tujuan. Prosedur yang baik adalah prosedur yang dapat di mengerti dan mudah untuk dilaksanakan oleh orang-orang di dalamnya. Begitu pula pada lembaga amil, ketika lembaga amil dapat membuat prosedur yang baik, mudah dimengerti, dan juga mudah untuk dilakukan. Maka hal itu akan menjadi alasan seseorang memilih lembaga amil sebagai tempat untuk meyalurkan zakat. Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Triyawan & Aisyah (2016) dengan judul “Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Muzakki Membayar Zakat di BAZNAS Yogyakarta” bahwa regulasi diidentifikasikan sebagai faktor yang memberikan pengaruh terhadap minat muzakki dalam membayar zakat. Kemudian hasil penelitian ini juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Rizkia, Arfan dan Shabri (2014) dengan judul “Pengaruh faktor Budaya, Motivasi, Regulasi, dan Pemahaman Tentang Zakat Terhadap Keputusan Muzakki Untuk Membayar Zakat Maal (Studi Para Muzakki di Kota Sabang) “ hasilnya yaitu regulasi berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap keputusan muzakki untuk membayar zakat di Kota Sabang.

F. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan

Kesimpulan yang didapatkan dari hasil analisis regresi logistik pada faktor altruisme, amil, dan prosedur berpengaruh terhadap keputusan masyarakat dalam menyalurkan zakat melalui BAZNAS Kota Malang. Sedangkan faktor religiusitas tidak berpengaruh terhadap keputusan masyarakat dalam menyalurkan zakat melalui BAZNAS Kota Malang. Berdasarkan uji signifikansi menyatakan bahwa faktor-faktor yang dapat berpengaruh secara signifikan terhadap keputusan masyarakat dalam menyalurkan zakat melalui BAZNAS Kota Malang adalah altruisme, amil dan prosedur.

Altruisme berpengaruh secara signifikan terhadap keputusan masyarakat dalam menyalurkan zakat melalui BAZNAS Kota Malang, dimana altruisme yang timbul dari diri manusia karena kepeduliannya terhadap orang lain menjadikan mereka iba sehingga membantu orang-orang yang mengalami kesulitan dalam hidupnya. Dengan sifat suka membantu sesama yang ada ada diri manusia ini dapat memotivasi seseorang untuk dapat menyalurkan zakatnya. Selanjutnya amil berpengaruh secara signifikan terhadap keputusan masyarakat dalam menyalurkan zakat melalui BAZNAS Kota Malang. Lembaga pengelola zakat harus mencangkup transparansi (transpararency), akuntabilitas (accountability), tanggung jawab (responbility), dan kewajaran, kejujuran, keadilan (fairness) serta paham mengenai hukum-hukum zakat. Dengan mencangkup sifat tersebut menjadikan masyarakat percaya dan memutuskan untuk membayar zakat. Selain itu, prosedur yang baik adalah prosedur yang dapat di mengerti dan mudah untuk dilaksanakan oleh orang-orang di dalamnya. Begitu pula pada BAZNAS, dengan membuat prosedur yang baik, mudah dimengerti, dan juga mudah untuk dilakukan yang menjadikan alasan masyarakat untuk

(10)

membayar zakat ke BAZNAS Kota Malang. Religiusitas tidak berpengaruh terhdap keputusan masyarakat dalam menyalurkan zakat melalui BAZNAS Kota Malang. Dalam diri seseorang memiliki nilai dan pemahaman tentang agama yang berbeda-beda. Begitu pula wujud implementasinya mengenai ketaatannya juga berbeda pada masing- masing individu. Dengan pemahanam ini, tidak semua orang membayar zakat ke BANZAS karena bisa diserahkan langsung kepada mustahiq dan lembaga yang lain selain BAZNAS.

Saran

Berdasarkan kesimpulan yang sudah di paparkan sebelumnya, sehingga saran yang bisa diberikan untuk instansi ataupun bagi pihak-pihak yang lain yaitu memanfaatkan adanya sosial media atau media lain untuk seperti sosialisasi kepada masyarakat yang wajib zakat mengenai pentingnya membayar zakat di BAZNAS. Memberikan pemahaman bahwa penerimaan zakat yang diterima BAZNAS didistribusikan dengan baik dan tepat sasaran kepada para mustahiq serta pendayagunaannya. Kemudian bagi amil, untuk memberikan informasi mengenai dana zakat yang masuk ke BAZNAS. Sehingga masyarakat dapat melihat dan mengetahui perkembangan dari dana zakat yang telah disalurkan ke lembaga tersebut. Selanjutnya bagi pemerintah diharapkan mampu memberikan regulasi yang tegas dalam mengatur pentingnya membayar zakat untuk setiap umat muslim dan menyalurkannya melalui lembaga resmi yang dibentuk pemerintah seperti BAZNAS dan LAZ agar manfaat serta tujuan zakat tercapai. Terakhir, perlu adanya sosialiasasi yang dilakukan BAZNAS kepada masyarakat secara langsung dalam upaya memberikan edukasi kepada masyarakat untuk dapat menyalurkan zakatnya kepada BAZNAS.

DAFTAR PUSTAKA

Aflah, K. N., & Tanjung, M. N. (2006). Zakat dan Peran Negara. Jakarta: Forum Zakat.

Andriani, Mairijani, H., & Ainun, B. (2020). Zakat Perusahaan Di Indonesia. Yogyakarta: Deepublish.

Arifin, G. (2011). Zakat, Infak, Sedekah. Jakarta: Elex Media Komputindo.

Barkah, Q., Azwari, P. C., Saprida, & Umari, Z. F. (2020). Fikih Zakat, Sedekah, dan Wakaf. Jakarta: Prenadamedia Group.

BAZNAS. (2011, November 25). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2011 Tentang Pengelolaan

Zakat. Retrieved Oktober 10, 2020, from Pengelolaan Zakat:

www.pid.baznas.go.id/download/001_Undang-

Undang_Nomor_23_Tahun_2011_Tentang_Pengelolaan_Zakat_FC.pdf

BPS. (2019, Januari 1). Badan Pusat Statistik Kota Malang. Retrieved Oktober 15, 2020, from Jumlah Penduduk di Kota Malang Menurut Kecamatan dan Agama yang Dianut 2017-2018:

https://malangkota.bps.go.id/dynamictable/2019/11/05/76/jumlah-penduduk-di-kota-malang-menurut- kecamatan-dan-agama-yang-dianut-2017-2018.html

BPS. (2021, Januari 1). Badan Pusat Statistik Kota Malang. Retrieved from Jumlah Penduduk di Kota Malang Menurut Kecamatan dan Jenis Kelamin 2011-2020:

https://malangkota.bps.go.id/pressrelease/2021/01/21/254/hasil-sensus-penduduk-2020-kota-malang.html DR. KH. M. Hamdan Rasyid, M., & El-Sutha, S. H. (2016). Panduan Muslim Sehari-hari. Jakarta Selatan: Wahyu

Qalbu.

Drs. H.M. Sugeng Hidayat, M., & Jumiatin, U. (2016). Prosedur Pengelolaan Surat Untuk Memperlancar Proses Penyampaian Informasi Pada Kantor Kecamatan Pamulung. Jurnal Sekretaris, III, 83-115.

Febriani, N. S., & Dewi, W. W. (2019). Perilaku Konsumen Di Era Digital: Beserta Studi Kasus. Malang: UB Press.

Firmansyah, M. A. (2018). Perilaku Konsumen (Sikap dan Pemasaran). Yogyakarta: Deepublish.

Hoetoro, A. (2018). Ekonomi Mikro Islam: Pendekatan Integratif. Malang: UB Press.

(11)

Pramesti, G. (2013). Smart Olah Data Penelitian dengan SPSS 21. Jakarta: Elek Media Komputindo.

Rizqia, L. M. (2020). PENGELOLAAN ZAKAT BERBASIS MASJID PERKOTAAN: Pemahaman Fikih dan Hukum Positif. Tasikmalaya: Edu Publisher.

Sari, E. K. (2006). Pengantar Hukum Zakat dan Wakaf. Jakarta: PT. Grasindo.

Shihab, M. Q. (2002). Tafsir Al-Mishbah: Pesan, Kesan, dan Keserasian Al-Qur'an. Jakarta: Lentera Hati.

Yazid, A. A. (2017). Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Minat Muzakki Dalam Menunaikan Zakat DI Nurul Haya Cabang Jember. Economics: Jurnal Eknomi dan Hukum Islam, 8(2), 175-199.

Referensi

Dokumen terkait

Dalam penelitian ini, penulis akan melihat pengaruh pendapatan, pengelolaan zakat, religiusitas, kualitas layanan terhadap minat seseorang dalam membayar zakat di BAZNAS Kota

S, Fitriani H, “Efektivitas Penerapan Undang-Undang perlindungan Anak Terhadap Perkara Dispensasi Nikah Di Pengadilan Agama Maros Kelas 1 B Studi Kasus Tahun