Efektivitas Biaya Penggunaan Antibiotik

Top PDF Efektivitas Biaya Penggunaan Antibiotik:

Analisis Efektivitas Biaya Penggunaan Antibiotik pada Pasien Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK)Eksaserbasi Akut yang di Rawat Inap di Rumah Sakit Paru Jember

Analisis Efektivitas Biaya Penggunaan Antibiotik pada Pasien Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK)Eksaserbasi Akut yang di Rawat Inap di Rumah Sakit Paru Jember

Obat yang digunakan untuk pengobatan PPOK eksaserbasi akut meliputi bronkodilator, antiinflamasi, antibiotika, antioksidan, mukolitik, antitusif. Banyaknya jenis antibiotik menyebabkan sulitnya pemilihan antibiotik yang efektif dari segi efek terapi dan biaya yang dikeluarkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran dan efektivitas biaya penggunaan antibiotik serta besar efektivitas biaya total perawatan pada pasien PPOK eksaserbasi akut rawat inap di RS Paru Jember. Penelitian ini menggunakan metode cross sectional dan deskriptif non-eksperimental. Sampel yang digunakan adalah pasien PPOK eksaserbasi akut pada instalasi rawat inap di RS Paru Jember periode 1 Januari-31 Desember 2011 yang memenuhi kriteria. ACER (average cost effectivness ratio) adalah metode yang digunakan untuk menganalisis efektifitas biaya dan menghitung besar biaya yang harus dikeluarkan. Dihitung berdasarkan jumlah biaya antibiotik yang dikeluarkan dibagi dengan efektivitas (lama pasien dirawat). Hasil penelitian ini dari 39 pasien ada yang tidak menggunakan antibiotik 7,69%, yang menggunakan antibiotik levofloksasin 5,13%, seftriaskson 46,15% dan sefotaksim 28,21%. Antibiotik yang cost-effective adalah sefotaksim 1g karena mempunyai nilai ACER terendah. Nilai ACER 23.202,00 /hari. Biaya total pengobatan pada masing-masing ruang perawatan berbeda. Pada ruang perawatan mawar, dahlia, anggrek dan utama penggunaan antibiotik yang cost-effective adalah seftriaskon. Biaya total pengobatan pada ruang mawar Rp.575.000,00, dahlia Rp. 766.333,00, anggrek Rp. 892.426,00 dan utama 923.000,00. Sedangkan di ruang VIP antibiotik yang cost-effective adalah sefotaksim 1 g biaya total Rp. 772.200,00.
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

ANALISIS EFEKTIVITAS BIAYA PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN PENYAKIT PARU OBSTRUKTIF KRONIS (PPOK) EKSASERBASI AKUT YANG DI RAWAT INAP DI RUMAH SAKIT PARU JEMBER

ANALISIS EFEKTIVITAS BIAYA PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN PENYAKIT PARU OBSTRUKTIF KRONIS (PPOK) EKSASERBASI AKUT YANG DI RAWAT INAP DI RUMAH SAKIT PARU JEMBER

eksaserbasi akut.............................................................................. 26 Tabel 4.2 Harga per satuan antibiotik yang digunakan.................................... 26 Tabel 4.3 Analisis efektivitas biaya penggunaan antibiotik............................. 27 Tabel 4.4 Analisis efektivitas biaya total pengobatan berdasarkan ruang

15 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  Analisis Efektivitas Biaya Penggunaan Antibiotik Pada Anak Penderita Demam Tifoid Di Rsud Sukoharjo 2016.

PENDAHULUAN Analisis Efektivitas Biaya Penggunaan Antibiotik Pada Anak Penderita Demam Tifoid Di Rsud Sukoharjo 2016.

Pada penelitian yang dilakukan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Prof. Dr. Margono Soekarjo periode Januari 2008-Desember 2009 menjelaskan bahwa hasil penelitian dengan pendekatan cost-effective dari pengobatan demam tifoid anak menggunakan sefotaksim dan kloramfenikol yaitu total biaya yang dikeluarkan oleh pasien dengan terapi kloramfenikol lebih kecil dibandingkan dengan terapi sefotaksim. Hal ini dapat disebabkan, direct medical cost dipengaruhi oleh lamanya perawatan. Semakin lama hari perawatan, maka semakin banyak juga biaya yang dikeluarkan oleh pasien. Pasien yang memperoleh terapi kloramfenikol hanya memerlukan rata-rata 4 hari sedangkan pada pasien yang memperoleh terapi sefotaksim memerlukan rata-rata 6 hari, hal ini disebabkan efektivitas kloramfenikol lebih besar dari sefotaksim dalam menurunkan gejala demam pada pasien demam tifoid anak (Ine and Eman, 2011).
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

ANALISIS EFEKTIVITAS BIAYA PENGGUNAAN ANTIBIOTIK EMPIRIS SEFTRIAKSON DAN SEFOTAKSIM PADA PASIEN PNEUMONIA DI RUMAH SAKIT PARU JEMBER TAHUN 2015

ANALISIS EFEKTIVITAS BIAYA PENGGUNAAN ANTIBIOTIK EMPIRIS SEFTRIAKSON DAN SEFOTAKSIM PADA PASIEN PNEUMONIA DI RUMAH SAKIT PARU JEMBER TAHUN 2015

Untuk terapi pneumonia aspirasi, perhatian diberikan pada support pernafasan dan koreksi cairan dan elektrolit. Namun jika pasien terkena pneumonia aspirasi sesudah 3 hari dirawat di rumah sakit maka pemberian antibiotik empirik perlu dipertimbangkan, terutama pada pasien lansia. Bakteri yang dominan adalah bakteri anaerob, pilihan terapi untuk pneumonia aspirasi adalah clindamycin. Metronidazol tunggal biasanya digunakan dalam terapi infeksi pleuropulmonary, namun hasilnya masih belum jelas sebab metronidazole efektif terhadap bakteri anaerob-gram negatif seperti Bacterioides fragilis dan Prevotella sp namun tidak efektif terhadap bakteri anaerob fakultatif seperti Peptococcus sp. dan Peptostreptococcus sp. Terapi lain yang bisa digunakan adalah kombinasi metronidazol dan penisilin atau inhibitor beta laktamase (Koda- Kimble et al., 2008).
Baca lebih lanjut

73 Baca lebih lajut

ANALISIS EFEKTIVITAS BIAYA PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA ANAK PENDERITA DEMAM TIFOID   Analisis Efektivitas Biaya Penggunaan Antibiotik Pada Anak Penderita Demam Tifoid Di Rsud Sukoharjo 2016.

ANALISIS EFEKTIVITAS BIAYA PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA ANAK PENDERITA DEMAM TIFOID Analisis Efektivitas Biaya Penggunaan Antibiotik Pada Anak Penderita Demam Tifoid Di Rsud Sukoharjo 2016.

Alhamdulillah, puji syukur kehadirat Allah SWT Maha Pengasih dan Maha penyayang, yang senantiasa memberikan petunjuk sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul “Analisis Efektivitas Biaya Penggunaan Antibiotik Pada Anak Penderit a Demam Tifoid Di RSUD Sukoharjo 2016” . Skripsi ini dimaksudkan untuk melengkapi salah satu syarat mencapai gelar Sarjana Farmasi (S. Farm.) Program Studi Farmasi di Fakultas Farmasi Universitas Muhammadiyah Surakarta.

13 Baca lebih lajut

ANALISIS EFEKTIVITAS BIAYA PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA ANAK PENDERITA DEMAM TIFOID DI RSUD X 2016  Analisis Efektivitas Biaya Penggunaan Antibiotik Pada Anak Penderita Demam Tifoid Di Rsud Sukoharjo 2016.

ANALISIS EFEKTIVITAS BIAYA PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA ANAK PENDERITA DEMAM TIFOID DI RSUD X 2016 Analisis Efektivitas Biaya Penggunaan Antibiotik Pada Anak Penderita Demam Tifoid Di Rsud Sukoharjo 2016.

Persentase efektivitas terapi dihitung berdasarkan jumlah pasien yang pada saat keluar dari rumah sakit mencapai target penurunan suhu setelah mengkonsumsi antibiotik dibandingkan dengan keseluruhan jumlah pasien yang dikelompokkan berdasarkan golongan antibiotik yang digunakan.Penggunaan antibiotik seftriakson dan kloramfenikol di ruang anggrek menunjukkan efektivitas 100% karena dari total jumlah pasien yang mendapatkan antibiotik seftriakson dan kloramfenikol yang dirawat diruangan tersebut seluruhnya menunjukkan penurunan suhu mencapai normal. Sedangkan di ruang mawar penggunaan antibiotik seftriakson juga menunjukkan efektivitas yang lebih tinggi dibanding sefotaksim yaitu 80% dari 5 pasien yang mencapai target penurunan suhu normal terdapat 4 pasien. Dari penggunaan antibiotik seftriakson dari kedua ruang hanya menunjukkan selisisih 20%. Sehingga antibiotik yang paling efektif digunakan dari ruang perawatan anggrek adalah seftriakson dan kloramfenikol dengan rata-rata lama rawat masing- masing 2,25 hari dan 2 hari. Namun pemberian kloramfenikol selama puluhan tahun dapat menimbulkan resistensi yang disebut multi drug resistant Salmonella typhi (MDRST) (Sidabutar and Satari, 2010).Selain menimbulkan MDRST, kloramfenikol juga mengakibatkan tidak dapat tertanggulanginya kasus demam berat, sehingga dapat berakibat fatal pada anak.Pemakaian kloramfenikol juga mempunyai efek samping terhadap penekanan sumsum tulang dan dapat menyebabkan anemia aplastik (Rampengan, 2013).Sehingga penggunaan seftriakson dapat dipertimbangkan untuk pengobatan demam tifoid pada anak di instalansi rawat inap RSUD Sukoharjo dibanding kloramfenikol.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

STUDI EFEKTIVITAS BIAYA ANTIBIOTIK PADA PASIEN COMMUNITY-ACQUIRED PNEUMONIA DI RSUD DR.SOETOMO SURABAYA

STUDI EFEKTIVITAS BIAYA ANTIBIOTIK PADA PASIEN COMMUNITY-ACQUIRED PNEUMONIA DI RSUD DR.SOETOMO SURABAYA

Community-acquired pneumonia adalah peradangan akut pada parenkim paru yang didapat di masyarakat, yang diterapi dengan antibiotik.Penggunaan antibiotik yang tidak tepat akan menimbulkan dampak negatif, yaitu peningkatan biaya pelayanan kesehatan. Hal ini akan merugikan penderita secara ekonomi karena kehilangan produktivitas serta biaya perawatan akan menjadi tinggi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas biaya penggunaan antibiotik pada pasien CAP di RSUD Dr. Soetomo Surabaya periode Januari-Desember 2016. Pengumpulan data dilakukan secara retrospektif dengan menggunakan data yang lalu berdasarkan rekam medik. Penelitian dilakukan pada 18 pasien dengan pengobatan antibiotik yang berbeda. Studi efektivitas biaya dilakukan dengan menghitung nilai ACER dan ICER. Hasil perhitungan ICER didapatkan, jika digunakan ceftazidim untuk mendapatkan efektivitas berupa pengurangan 1 hari LOSar dan 1 hari bebas demam dibutuhkan biaya tambahan sebesar Rp. 410.407,00. Hasil perhitungan ICER untuk levofloxacin dan ceftriaxone dengan nilai ICER LOS Rp. 779.848,00 yang berarti jika digunakan ceftriaxone dibutuhkan biaya tambahan Rp. 779.848,00 untuk mendapat pengurangan LOS selama 1 hari. Nilai ICER LOSar Rp. 1.169.772,00, jika digunakan ceftriaxone dibutuhkan biaya tambahan sebesar Rp.1.169.772,00 untuk mendapatkan pengurangan LOSar selama 1 hari. Dan nilai ICER hari bebas demam Rp. 2.339.545,00 yang berarti jika digunakan ceftriaxone dibutuhkan biaya tambahan sebesar Rp. 2.339.545,00 untuk mendapat pengurangan 1 hari bebas demam. Dari hasil perhitungan tersebut, antibiotik yang lebih cost-effective dan dapat menjadi pilihan utama dalam penelitian ini adalah levofloxacin.
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  Aktivitas Antibakteri Kombinasi Ekstrak Etanol Daun Sirih (Piper betle L.) dan Siprofloksasin Terhadap Bakteri Escherichia coli dan Escherichia coli Multiresisten.

PENDAHULUAN Aktivitas Antibakteri Kombinasi Ekstrak Etanol Daun Sirih (Piper betle L.) dan Siprofloksasin Terhadap Bakteri Escherichia coli dan Escherichia coli Multiresisten.

Siprofloksasin merupakan antibiotik golongan florokuinolon. Siprofloksasin 500 mg efektif untuk diare yang disebabkan oleh bakteri Shigella, Salmonella, Escherichia coli toksigenik atau Campylobacter (Katzung, 2004). Escherichia coli O517:H7 sensitif terhadap siprofloksasin dengan menghasilkan diameter zona hambatan sebesar 26 mm pada konsentrasi 20 µg/disk (Karmegam dkk, 2008). Nurdin (2005) membuktikan uji pola kepekaan Escherichia coli pada penderita infeksi saluran kemih terhadap antibiotik golongan florokuinolon dan didapatkan hasil 54,5% Escherichia coli peka terhadap antibiotik siprofloksasin. Hasil penelitian Bahrami dan Ali (2010) mengungkapkan adanya efek sinergis antara kombinasi ekstrak etanol daun Scrophularia striata dan antibiotik doksisiklin serta ofloksasin terhadap bakteri Staphylococcus aureus dengan FICI ( Fractional Inhibitory Concentration Index ) berturut-turut sebesar 0,314 µg mL -1 dan 0,43 µg mL -1 menggunakan metode mikrodilusi.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

PROFIL PENGGUNAAN ANTIBIOTIK DAN PENGARUHNYA TERHADAP BIAYA PENGOBATAN ISPA DI PUSKESMAS I KEMBARAN PURWOKERTO

PROFIL PENGGUNAAN ANTIBIOTIK DAN PENGARUHNYA TERHADAP BIAYA PENGOBATAN ISPA DI PUSKESMAS I KEMBARAN PURWOKERTO

Infeksi saluran pernafasan atas (ISPA) merupakan 10 penyakit terbanyak di Rumah Sakit, Puskesmas dan pelayanan kesehatan lainnya dan masih merupakan penyebab utama kesakitan dan kematian balita di Indonesia yaitu sebesar 28%. Penelitian ini merupakan penelitian Analitik Observasional dengan menggunakan pendekatan Cross Sectional. Pengambilan data dilakukan dengan cara random sampling. Bahan penelitian adalah resep dan catatan rekam medik pasien ISPA yang tercatat pada instalasi rawat jalan di Puskesmas I Kembaran Purwokerto periode Maret – April 2016. Hasil dari penelitian ini yaitu 1) tidak ada pengaruh profil penggunaan antibiotik terhadap direct Medical Cost pada pengobatan ISPA. Jenis antibiotik yang digunakan dalam terapi ISPA di Puskesmas I Kembaran menggunakan antibiotik tunggal yaitu amoxicylin (85,5%), Cotrimoxazol (13,2%), danCefixim (0,87%). 2) tidak ada pengaruh pemberian antibiotik terhadap biaya pengobatan ISPA di Puskesmas I Kembaran, hal ini disebabkan adanya PERBUP (Peraturan Bupati Kabupaten Banyumas No. 39 tahun 2014 tentang Tarif Pelayanan Kesehatan pada Badan Layanan Umum Daerah/ Unit Pelaksanaan Teknis Dinas Kesehatan Kabupaten Banyumas). 3) Biaya pengobatan ISPA di Puskesmas I Kembaran Purwkerto yaitu sebesar (Rp.5000,-) untuk semua jenis obat yang diberikan. Biaya pemeriksaan Laboratorium Rp. 10.000,- per jenis pemeriksaan.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

ANALISIS EFEKTIVITAS BIAYA ANTIBIOTIK EMPIRIS SEFTRIAKSON DAN KOMBINASI GENTAMISIN-SEFOTAKSIM PADA PASIEN PNEUMONIA ANAK DI RUMAH SAKIT PARU JEMBER TAHUN 2013-2015

ANALISIS EFEKTIVITAS BIAYA ANTIBIOTIK EMPIRIS SEFTRIAKSON DAN KOMBINASI GENTAMISIN-SEFOTAKSIM PADA PASIEN PNEUMONIA ANAK DI RUMAH SAKIT PARU JEMBER TAHUN 2013-2015

Pola bakteri patogen penyebab pneumonia biasanya berbeda sesuai dengan distribusi umur pasien (Correa dan Starke, 1998). Penyebab tersering pada bayi usia 2-12 bulan yaitu bakteri gram positif (Streptococcus pneumoniae, Staphylococcus aureus, A. streptococcus) sedangkan balita usia 13-60 bulan atau lebih penyebab tersering yaitu bakteri gram positif dan bakteri gram negatif (Pseudomonas, Mycoplasma pneumonia). Guideline Infectious Disease Society of America (IDSA) merekomendasikan pemilihan obat antibiotik sebagai terapi empiris pada pasien pneumonia usia 2-12 bulan yaitu ampisilin dan untuk pasien pneumonia usia 13-60 bulan atau lebih yaitu golongan sefalosporin generasi kedua dan ketiga (Smith et al., 2012). Setelah guideline dari IDSA dipublikasikan secara nasional untuk pneumonia pada anak, penggunaan sefalosporin generasi ketiga mulai menurun sedangkan penggunaan ampisilin meningkat sesuai rekomendasi pedoman terapi. Namun, besar dan kecepatan perubahan resep tersebut bervariasi di setiap rumah sakit dan lebih substansial di lembaga-lembaga yang proaktif menyebarluaskan rekomendasi pedoman terapi. Pengembangan studi tambahan diperlukan untuk mengidentifikasi strategi paling efektif di rumah sakit dalam memfasilitasi secara cepat pelaksanaan pedoman terapi (Williams et al., 2015).
Baca lebih lanjut

64 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  Pengaruh Penambahan Berbagai Konsentrasi Ekstrak Kulit Buah Naga Merah (Hylocereus lemairei (Hook.) Britton & Rose) Pada Antibiotik Terhadap Peningkatan Hambatan Pertumbuhan Bakteri Fusobacterium nucleatum Dominan Periodontitis in vitro.

PENDAHULUAN Pengaruh Penambahan Berbagai Konsentrasi Ekstrak Kulit Buah Naga Merah (Hylocereus lemairei (Hook.) Britton & Rose) Pada Antibiotik Terhadap Peningkatan Hambatan Pertumbuhan Bakteri Fusobacterium nucleatum Dominan Periodontitis in vitro.

1. Apakah penambahan berbagai konsentrasi ekstrak kulit buah naga merah (Hylocereus lemairei (Hook.) Britton & Rose) pada antibiotik dapat meningkatkan hambatan pertumbuhan bakteri Fusobacterium nucleatum dominan periodontitis in vitro?

Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  Tingkat Pengetahuan Tentang Antibiotik Pada Masyarakat Kecamatan Pringkuku Kabupaten Pacitan.

PENDAHULUAN Tingkat Pengetahuan Tentang Antibiotik Pada Masyarakat Kecamatan Pringkuku Kabupaten Pacitan.

Usaha untuk meminimalisir resistensi antibiotik meliputi diantaranya mendidik masyarakat tentang pengetahuan antibiotik. Beberapa negara telah melakukan kampanye nasional untuk mengubah kesalahpahaman masyarakat terkait pengetahuan antibiotik, dan untuk mempromosikan penggunaan antibiotik yang sesuai serta mencegah perkembangan resistensi antibiotik (Sun et al ., 2011). Pemahaman pengetahuan pasien dan sikap terhadap penggunaan antibiotik akan memfasilitasi komunikasi antara dokter dan pasien. Hal ini tentunya menjadi media untuk mendidik pasien dan masyarakat umum tentang penggunaan antibiotik yang benar (Eng et al. , 2003).
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

GAMBARAN PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN DEMAM TIFOID DI INSTALASI RAWAT INAP RUMAH SAKIT R.A KARTINI JEPARA TAHUN 2009.

GAMBARAN PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN DEMAM TIFOID DI INSTALASI RAWAT INAP RUMAH SAKIT R.A KARTINI JEPARA TAHUN 2009.

Pemakaian antibiotik yang terlalu sering tidak dianjurkan karena dapat menggangu keseimbangan flora usus. Dalam usus normal tumbuh kuman yang membantu pencernaan dan pembentukan vitamin K, selain itu di beberapa bagian tubuh terdapat kuman yang tidak menggangu, namun bermanfaat. Terlalu sering minum antibiotik berarti membunuh kuman jinak yang bermanfaat bagi tubuh, sehingga keseimbangan mikroorganisme tubuh bisa terganggu (Gunawan, 2007).

Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  Tinjauan Pengetahuan, Sikap, dan Perilaku Penggunaan Antibiotik pada Mahasiswa Kesehatan dan Non Kesehatan di Universitas Muhammadiyah Surakarta.

PENDAHULUAN Tinjauan Pengetahuan, Sikap, dan Perilaku Penggunaan Antibiotik pada Mahasiswa Kesehatan dan Non Kesehatan di Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Penyakit infeksi menjadi salah satu masalah kesehatan yang penting bagi masyarakat, khususnya di negara berkembang seperti Indonesia. Obat yang sering diresepkan oleh dokter dan digunakan untuk mengatasi masalah tersebut antara lain antibakteri atau antibiotik, antifungi, antivirus, antiprotozoa.Sebagian besar masyarakat menggunakan antibiotik secara tidak rasional. Hal ini menjadi salah satu penyebab terjadinya resistensi antibiotik terhadap bakteri (Deurink et al, 2007), (Suaifan et al, 2012).

7 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  Analisis Biaya Dan Efektivitas Penggunaan Antibiotik Pada Pasien Demam Tifoid Anak Rawat Inap Di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Surakarta Tahun 2010.

PENDAHULUAN Analisis Biaya Dan Efektivitas Penggunaan Antibiotik Pada Pasien Demam Tifoid Anak Rawat Inap Di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Surakarta Tahun 2010.

Analisis cost-effectiveness adalah tipe analisis yang membandingkan biaya suatu intervensi dengan beberapa ukuran non-moneter, dimana pengaruhnya terhadap hasil perawatan kesehatan. Analisis cost-effectiveness merupakan salah satu cara untuk memilih dan menilai program yang terbaik bila terdapat beberapa program yang berbeda dengan tujuan yang sama tersedia untuk dipilih. Kriteria penilaian program mana yang akan dipilih adalah berdasarkan discounted unit cost dari masing-masing alternatif program sehingga program yang mempunyai discounted unit cost terendahlah yang akan dipilih oleh para analisis atau pengambil keputusan (Tjiptoherijanto dan Soesetyo, 1994).
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

PERBEDAAN EFEKTIVITAS ANTIBIOTIK PADA TE

PERBEDAAN EFEKTIVITAS ANTIBIOTIK PADA TE

Pemberian seftriakson dalam pengobatan demam tifoid di rumah sakit lebih dianjurkan dibandingkan kloramfenikol. Seftriakson lebih cepat menunjukkan waktu bebas panas sehingga lama terapi lebih singkat, efek samping lebih ringan dan angka kekambuhan yang lebih rendah dibandingkan kloramfenikol (Sidabutar dan Satari, 2010). Namun, pada pengobatan demam tifoid di Puskesmas Bancak Kabupaten Semarang seftriakson jarang digunakan. Seftriakson digunakan sebagai alternatif apabila bakteri sudah resisten terhadap antibiotik lainnya, seperti amoksisilin, kloramfenikol, sefotaksim dan ampisillin. Sefotaksim merupakan antibiotik yang paling banyak digunakan pada pengobatan demam tifoid pasien rawat inap di Puskesmas Bancak Kabupaten Semarang. Seftriakson dan sefotaksim merupakan antibiotik golongan sefalosporin generasi ketiga yang memiliki spektrum kerja yang sangat luas dan sangat efektif terhadap bakteri Gram negatif. Namun, harga seftriakson lebih mahal dibandingkan sefotaksim, sehingga hal ini yang mungkin menjadi salah satu penyebab jarang digunakannya seftriakson pada pengobatan demam tifoid di Puskesmas Bancak Kabupaten Semarang.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

BAB II TINJAUAN PUSTAKA - BAB II MELYA MUTARANI FARMASI'16

BAB II TINJAUAN PUSTAKA - BAB II MELYA MUTARANI FARMASI'16

Terapi dengan memberikan rehidrasi yang adekuat. Antidiare dihindari pada penyakit yang parah. Enterotoksigenik E. coli ( ETEC) berespon baik terhadap trimetoprim-sulfametoksazole atau kuinolon yang diberikan selama 3 hari. Pemberian antimikroba belum diketahui akan mempersingkat penyakit pada diare Enteropatogenik E. coli (EPEC) dan diare Enteroagregatif E. coli (EAEC). Antibiotik harus dihindari pada diare yang berhubungan dengan Enterohemoragic E. coli ( EHEC) ( Zein, Sagala dan Ginting, 2004). Diet merupakan salah satu terapi bagi penderita diare. Pasien diare tidak dianjurkan untuk berpuasa, kecuali bila muntah-muntah hebat. Pasien dianjurkan untuk minum minuman sari buah, teh, dan makanan yang mudah dicerna seperti pisang, nasi, keripik, dan sup. Minuman berkafein dan alkohol harus dihindari karena dapat meningkatkan motilitas dan sekresi usus (Kolopaking dan Daldiyono, 2009).
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  Kajian Penggunaan Antibiotik pada Terapi Empiris dengan Hasil Terapi Di Ruang Icu RSUD "X" Periode 2015 Universitas Muhammadiyah Surakarta.

PENDAHULUAN Kajian Penggunaan Antibiotik pada Terapi Empiris dengan Hasil Terapi Di Ruang Icu RSUD "X" Periode 2015 Universitas Muhammadiyah Surakarta.

penggunaan antibiotik untuk menurunkan resistensi bakteri dan penggunaan antibiotik yang terlambat atau tidak signifikan akan meningkatkan angka kesakitan dan kematian (Adisasmito and Tumbelaka, 2006). Sebagian besar pasien yang dirawat di ICU menerima antibiotik, namun ada data tentang durasi pengobatan yang optimal. Data tersebut dikontrol secara ketat termasuk penggunaan antibiotik pada terapi empiris. Sehingga diharapkan terapi empiris dapat signifikan mengurangi pengembangan resistensi tanpa harus merugikan hasil terapi (Cuthbertson et al ., 2004).
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Kajian Peresepan Antibiotik Pada Pasien Pediatrik Rawat Jalan Di Rsud Deli Serdang Lubuk Pakam Periode September 2014 – Desember 2014

Kajian Peresepan Antibiotik Pada Pasien Pediatrik Rawat Jalan Di Rsud Deli Serdang Lubuk Pakam Periode September 2014 – Desember 2014

Penelitian ini dilakukan dengan metode deskriptif yang dilakukan secara retrospektif. Pengumpulan data dilakukan pada bulan Maret 2015. Data yang diambil pada periode September 2014 sampai dengan Desember 2014. Diperoleh populasi sebanyak 458 resep dan dijadikan sebagai sampel sebanyak 150 resep pasien pediatrik yang memenuhi kriteria inklusi. Antibiotik tersebut dianalisis kerasionalannya berdasarkan kriteria 4T yakni tepat indikasi, tepat dosis, tepat frekuensi penggunaan dan tepat durasi penggunaan.

Baca lebih lajut

EFEKTIVITAS PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PROFILAKSIS PADA PASIEN BEDAH SESAR (SECTIO CAESAREA)  Efektivitas Penggunaan Antibiotik Profilaksis Pada Pasien Bedah Sesar (Sectio Caesarea) Di Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Moewardi Tahun 2013.

EFEKTIVITAS PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PROFILAKSIS PADA PASIEN BEDAH SESAR (SECTIO CAESAREA) Efektivitas Penggunaan Antibiotik Profilaksis Pada Pasien Bedah Sesar (Sectio Caesarea) Di Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Moewardi Tahun 2013.

Kejadian ILO disebabkan oleh beberapa hal antara lain kondisi daya tahan tubuh pasien yang menurun, seperti terjadinya malnutrisi, pendarahan, kelelahan, dan pre- eklamsia serta juga dapat terjadi karena alat-alat persalinan yang digunakan yang telah terkontaminasi (Sukarni, 2013). Pemilihan antibiotik profilaksis yang kurang tepat juga memungkinkan terjadinya infeksi yang cukup tinggi, hal ini dapat terjadi karena antibiotik yang dipakai tidak sesuai dengan jenis kuman sehingga dapat menimbulkan terjadinya infeksi pasca bedah sesar (Gunawan, 2007). Penggunaan antibiotik yang tidak tepat dapat menimbulkan masalah resistensi terhadap antibiotik, infeksi serius dan ketoksikan. Dokter perlu melakukan evaluasi dalam meresepkan antibiotik, terutama dalam jenis antibiotik yang digunakan dan waktu pemberiannya.
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...