Efektivitas Biaya Penggunaan Antibiotik

Top PDF Efektivitas Biaya Penggunaan Antibiotik:

ANALISIS EFEKTIVITAS BIAYA PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN PENYAKIT PARU OBSTRUKTIF KRONIS (PPOK) EKSASERBASI AKUT YANG DI RAWAT INAP DI RUMAH SAKIT PARU JEMBER

ANALISIS EFEKTIVITAS BIAYA PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN PENYAKIT PARU OBSTRUKTIF KRONIS (PPOK) EKSASERBASI AKUT YANG DI RAWAT INAP DI RUMAH SAKIT PARU JEMBER

Obat yang digunakan untuk pengobatan PPOK eksaserbasi meliputi bronkodilator, antiinflamasi, antibiotika, antioksidan, mukolitik dan antitusif. Banyaknya jenis antibiotik menyebabkan sulitnya pemilihan antibiotik yang efektif dari segi efek terapi dan dari segi biaya yang dikeluarkan. Perawatan PPOK eksaserbasi akut membutuhkan waktu terapi yang lama dan berkepanjangan sehingga membutuhkan biaya perawatan yang besar. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran dan efektivitas biaya penggunaan antibiotik serta besar efektivitas biaya total perawatan pada pasien PPOK eksaserbasi akut rawat inap di RS Paru Jember, melalui CEA (cost effectivness analysis).
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

ANALISIS EFEKTIVITAS BIAYA PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA ANAK PENDERITA DEMAM TIFOID   Analisis Efektivitas Biaya Penggunaan Antibiotik Pada Anak Penderita Demam Tifoid Di Rsud Sukoharjo 2016.

ANALISIS EFEKTIVITAS BIAYA PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA ANAK PENDERITA DEMAM TIFOID Analisis Efektivitas Biaya Penggunaan Antibiotik Pada Anak Penderita Demam Tifoid Di Rsud Sukoharjo 2016.

Alhamdulillah, puji syukur kehadirat Allah SWT Maha Pengasih dan Maha penyayang, yang senantiasa memberikan petunjuk sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul “Analisis Efektivitas Biaya Penggunaan Antibiotik Pada Anak Penderit a Demam Tifoid Di RSUD Sukoharjo 2016” . Skripsi ini dimaksudkan untuk melengkapi salah satu syarat mencapai gelar Sarjana Farmasi (S. Farm.) Program Studi Farmasi di Fakultas Farmasi Universitas Muhammadiyah Surakarta.

13 Baca lebih lajut

Analisis Efektivitas Biaya Penggunaan Antibiotik pada Pasien Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK)Eksaserbasi Akut yang di Rawat Inap di Rumah Sakit Paru Jember

Analisis Efektivitas Biaya Penggunaan Antibiotik pada Pasien Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK)Eksaserbasi Akut yang di Rawat Inap di Rumah Sakit Paru Jember

Obat yang digunakan untuk pengobatan PPOK eksaserbasi akut meliputi bronkodilator, antiinflamasi, antibiotika, antioksidan, mukolitik, antitusif. Banyaknya jenis antibiotik menyebabkan sulitnya pemilihan antibiotik yang efektif dari segi efek terapi dan biaya yang dikeluarkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran dan efektivitas biaya penggunaan antibiotik serta besar efektivitas biaya total perawatan pada pasien PPOK eksaserbasi akut rawat inap di RS Paru Jember. Penelitian ini menggunakan metode cross sectional dan deskriptif non-eksperimental. Sampel yang digunakan adalah pasien PPOK eksaserbasi akut pada instalasi rawat inap di RS Paru Jember periode 1 Januari-31 Desember 2011 yang memenuhi kriteria. ACER (average cost effectivness ratio) adalah metode yang digunakan untuk menganalisis efektifitas biaya dan menghitung besar biaya yang harus dikeluarkan. Dihitung berdasarkan jumlah biaya antibiotik yang dikeluarkan dibagi dengan efektivitas (lama pasien dirawat). Hasil penelitian ini dari 39 pasien ada yang tidak menggunakan antibiotik 7,69%, yang menggunakan antibiotik levofloksasin 5,13%, seftriaskson 46,15% dan sefotaksim 28,21%. Antibiotik yang cost-effective adalah sefotaksim 1g karena mempunyai nilai ACER terendah. Nilai ACER 23.202,00 /hari. Biaya total pengobatan pada masing-masing ruang perawatan berbeda. Pada ruang perawatan mawar, dahlia, anggrek dan utama penggunaan antibiotik yang cost-effective adalah seftriaskon. Biaya total pengobatan pada ruang mawar Rp.575.000,00, dahlia Rp. 766.333,00, anggrek Rp. 892.426,00 dan utama 923.000,00. Sedangkan di ruang VIP antibiotik yang cost-effective adalah sefotaksim 1 g biaya total Rp. 772.200,00.
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

ANALISIS EFEKTIVITAS BIAYA PENGGUNAAN ANTIBIOTIK EMPIRIS SEFTRIAKSON DAN SEFOTAKSIM PADA PASIEN PNEUMONIA DI RUMAH SAKIT PARU JEMBER TAHUN 2015

ANALISIS EFEKTIVITAS BIAYA PENGGUNAAN ANTIBIOTIK EMPIRIS SEFTRIAKSON DAN SEFOTAKSIM PADA PASIEN PNEUMONIA DI RUMAH SAKIT PARU JEMBER TAHUN 2015

Untuk terapi pneumonia aspirasi, perhatian diberikan pada support pernafasan dan koreksi cairan dan elektrolit. Namun jika pasien terkena pneumonia aspirasi sesudah 3 hari dirawat di rumah sakit maka pemberian antibiotik empirik perlu dipertimbangkan, terutama pada pasien lansia. Bakteri yang dominan adalah bakteri anaerob, pilihan terapi untuk pneumonia aspirasi adalah clindamycin. Metronidazol tunggal biasanya digunakan dalam terapi infeksi pleuropulmonary, namun hasilnya masih belum jelas sebab metronidazole efektif terhadap bakteri anaerob-gram negatif seperti Bacterioides fragilis dan Prevotella sp namun tidak efektif terhadap bakteri anaerob fakultatif seperti Peptococcus sp. dan Peptostreptococcus sp. Terapi lain yang bisa digunakan adalah kombinasi metronidazol dan penisilin atau inhibitor beta laktamase (Koda- Kimble et al., 2008).
Baca lebih lanjut

73 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  Analisis Efektivitas Biaya Penggunaan Antibiotik Pada Anak Penderita Demam Tifoid Di Rsud Sukoharjo 2016.

PENDAHULUAN Analisis Efektivitas Biaya Penggunaan Antibiotik Pada Anak Penderita Demam Tifoid Di Rsud Sukoharjo 2016.

Salmonella typhi sama dengan Salmonela yang lain yaitu bakteri Gram- negatif, mempunyai flagella, tidak berkapsul, tidak membentuk spora, fakultatif anaerob. Salmonella typhi mempunyai antigen somatik (O) yang tediri dari oligosakarida dan flagelar antigen (H) yang terdiri dari protein dan kapsul antigen dan (K) yang terdiri dari polisakarida. Bakteri tersebut mempunyai makromolekular lipopolisakarida kompleks yang membentuk lapis luar dari dinding sel dan dinamakan endotoksin. Salmonella typhi juga dapat memperoleh plasmid faktor-R yang berkaitan dengan resistensi terhadap multipel antibiotik (Soedarmo, 2008).
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

ANALISIS EFEKTIVITAS BIAYA PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA ANAK PENDERITA DEMAM TIFOID DI RSUD X 2016  Analisis Efektivitas Biaya Penggunaan Antibiotik Pada Anak Penderita Demam Tifoid Di Rsud Sukoharjo 2016.

ANALISIS EFEKTIVITAS BIAYA PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA ANAK PENDERITA DEMAM TIFOID DI RSUD X 2016 Analisis Efektivitas Biaya Penggunaan Antibiotik Pada Anak Penderita Demam Tifoid Di Rsud Sukoharjo 2016.

ICER didefinisikan sebagai rasio perbedaan biaya dari 2 alternatif dengan perbedaan efektivitas antara 2 alternatif.Meskipun analisis dengan ACER telah memberikan informasi yang bermanfaat, ciri khas dari analisis efektivitas biaya adalah analisis dengan menggunakan ICER (Andayani, 2013).Perhitungan analisis efektivitas biaya menggunakan ICER dilakukan untuk memberikan beberapa pilihan alternatif yang dapat diterapkan. Pemilihan alternatif jenis perawatan dapat disesuaikan dengan pertimbangan dana atau tersedia tidaknya jenis alternatif tersebut. Analisis efektivitas biaya dengan menggunakan metode ICER dapat diketahui besarnya biaya tambahan untuk setiap perubahan satu unit efektivitas biaya.Selain itu, untuk mempermudah pengambilan kesimpulan alternatif mana yang memberikan efektivitas biaya terbaik (Depkes RI, 2013).
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

STUDI EFEKTIVITAS BIAYA ANTIBIOTIK PADA PASIEN COMMUNITY-ACQUIRED PNEUMONIA DI RSUD DR.SOETOMO SURABAYA

STUDI EFEKTIVITAS BIAYA ANTIBIOTIK PADA PASIEN COMMUNITY-ACQUIRED PNEUMONIA DI RSUD DR.SOETOMO SURABAYA

Community-acquired pneumonia adalah peradangan akut pada parenkim paru yang didapat di masyarakat, yang diterapi dengan antibiotik.Penggunaan antibiotik yang tidak tepat akan menimbulkan dampak negatif, yaitu peningkatan biaya pelayanan kesehatan. Hal ini akan merugikan penderita secara ekonomi karena kehilangan produktivitas serta biaya perawatan akan menjadi tinggi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas biaya penggunaan antibiotik pada pasien CAP di RSUD Dr. Soetomo Surabaya periode Januari-Desember 2016. Pengumpulan data dilakukan secara retrospektif dengan menggunakan data yang lalu berdasarkan rekam medik. Penelitian dilakukan pada 18 pasien dengan pengobatan antibiotik yang berbeda. Studi efektivitas biaya dilakukan dengan menghitung nilai ACER dan ICER. Hasil perhitungan ICER didapatkan, jika digunakan ceftazidim untuk mendapatkan efektivitas berupa pengurangan 1 hari LOSar dan 1 hari bebas demam dibutuhkan biaya tambahan sebesar Rp. 410.407,00. Hasil perhitungan ICER untuk levofloxacin dan ceftriaxone dengan nilai ICER LOS Rp. 779.848,00 yang berarti jika digunakan ceftriaxone dibutuhkan biaya tambahan Rp. 779.848,00 untuk mendapat pengurangan LOS selama 1 hari. Nilai ICER LOSar Rp. 1.169.772,00, jika digunakan ceftriaxone dibutuhkan biaya tambahan sebesar Rp.1.169.772,00 untuk mendapatkan pengurangan LOSar selama 1 hari. Dan nilai ICER hari bebas demam Rp. 2.339.545,00 yang berarti jika digunakan ceftriaxone dibutuhkan biaya tambahan sebesar Rp. 2.339.545,00 untuk mendapat pengurangan 1 hari bebas demam. Dari hasil perhitungan tersebut, antibiotik yang lebih cost-effective dan dapat menjadi pilihan utama dalam penelitian ini adalah levofloxacin.
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

Analisis Efektivitas Biaya (Cost-Effectiveness Analysis) Penggunaan Antibiotik Profilaksis dan Terapi Bentuk Tunggal dan Kombinasi pada Pasien - Ubaya Repository

Analisis Efektivitas Biaya (Cost-Effectiveness Analysis) Penggunaan Antibiotik Profilaksis dan Terapi Bentuk Tunggal dan Kombinasi pada Pasien - Ubaya Repository

Telah dilakukan penelitian non-eksperimental mengenai analisis efektivitas biaya (cost-effectiveness analysis) penggunaan antibiotik profilaksis dan terapi bentuk tunggal dan kombinasi pada pasien pasca seksio sesarea di Rumkital Dr. Ramelan Surabaya selama bulan Juni 2006-Desember 2006. Metode penelitian yang digunakan adalah metode retrospektif dan dianalisis secara deskriptif. Sebagai bahan penelitian utama adalah data rekam medis pasien dengan diagnosis keluar pasca seksio sesarea yang telah menjalani rawat inap di Rumkital Dr. Ramelan Surabaya selama bulan Juni 2006-Desember 2006, yaitu sebanyak 71 rekam medis. Kelompok usia pasien pasca seksio sesarea yang paling banyak melahirkan dengan seksio sesarea adalah 26-30 tahun (25 pasien/35,21%). Lama perawatan pasien pasca seksio sesarea terbanyak adalah 3-5 hari (63 pasien/88,73%). Penggunaan antibiotik profilaksis dan terapi yang paling banyak digunakan adalah bentuk tunggal (47 pasien/66,2%). Biaya antibiotik rata-rata pasien pasca seksio sesarea rawat inap dengan menggunakan antibiotik bentuk kombinasi (Rp 142.714,-) lebih besar dibandingkan dengan antibiotik bentuk tunggal (Rp 112.984,-). Berdasarkan perhitungan ACER (Average Cost-Effectiveness Ratio) pengobatan pasien pasca seksio sesarea rawat inap menggunakan antibiotik profilaksis dan terapi bentuk tunggal lebih cost-efektif dibandingkan dengan menggunakan antibiotik bentuk kombinasi. Berdasarkan perhitungan ICER (Incremental Cost-Effectiveness Ratio) pengobatan pasien pasca seksio sesarea rawat inap dengan menggunakan antibiotik profilaksis dan terapi bentuk kombinasi diperlukan penambahan biaya berdasar biaya antibiotik sebesar Rp 1.524.615,- dan berdasar biaya obat total sebesar Rp 1.443.487,-. Biaya obat total lebih ditentukan oleh obat-obat yang digunakan oleh pasien pasca seksio sesarea, antara lain penggunaan antibiotik bentuk kombinasi atau tunggal, rute pemberian, dan lain sebagainya.
Baca lebih lanjut

1 Baca lebih lajut

Analisis Efektifitas Biaya (Cost Efetiveness Analysis) Pengobatan Antibiotik Tunggal dan Kombinasi Pada Pasien Pneumonia Anak Rawat Inap Di Rumah Sakit Umum Haji Surabaya Se Januari-Desember 2006 - Ubaya Repository

Analisis Efektifitas Biaya (Cost Efetiveness Analysis) Pengobatan Antibiotik Tunggal dan Kombinasi Pada Pasien Pneumonia Anak Rawat Inap Di Rumah Sakit Umum Haji Surabaya Se Januari-Desember 2006 - Ubaya Repository

Telah dilakukan penelitian non-eksperimental dengan rancangan deskriptif analisis yang bersifat retrospektif mengenai analisis efektivitas biaya (cost-effectiveness analysis) pengobatan antibiotik tunggal dan kombinasi pada pasien pneumonia anak rawat inap di Rumah Sakit Umum Haji Surabaya selama 1 Januari-31 Desember 2006. Sebagai bahan penelitian utama adalah data rekam medis pasien pneumonia anak yang menjalani rawat inap dan memenuhi kriteria inklusi, yaitu sebanyak 46 rekam medis. Kelompok usia pasien pneumonia anak yang paling banyak adalah 3 bulan-5 tahun (39 pasien/43,48%), jumlah pasien laki-laki (24 pasien/52,17%) sedikit lebih banyak daripada pasien perempuan (22 pasien/47,83%). Lama perawatan pasien pneumonia anak terbanyak adalah 3-6 hari (34 pasien/73,91%). Pengobatan antibiotik yang paling banyak digunakan adalah kombinasi (30 pasien/65,22%). Biaya antibiotik rata-rata pasien pneumonia anak rawat inap dengan menggunakan antibiotik tunggal (Rp 38.297,-) lebih besar daripada antibiotik kombinasi (Rp 20.312,-). Efektivitas pengobatan dengan antibiotik tunggal lebih besar dibanding dengan antibiotik kombinasi. Berdasarkan perhitungan ACER (Avarage Cost- Effectiveness Ratio) pengobatan pasien pneumonia anak rawat inap menggunakan antibiotik kombinasi lebih cost-effective daripada menggunakan antibiotik tunggal. Biaya obat total lebih ditentukan oleh obat-obat yang digunakan oleh pasien pneumonia anak antara lain penggunaan antibiotik tunggal atau kombinasi, jenis antibiotik, rute pemberian dan lain sebagainya.
Baca lebih lanjut

1 Baca lebih lajut

ANALISIS EFEKTIVITAS BIAYA ANTIBIOTIK EMPIRIS SEFTRIAKSON DAN KOMBINASI GENTAMISIN-SEFOTAKSIM PADA PASIEN PNEUMONIA ANAK DI RUMAH SAKIT PARU JEMBER TAHUN 2013-2015

ANALISIS EFEKTIVITAS BIAYA ANTIBIOTIK EMPIRIS SEFTRIAKSON DAN KOMBINASI GENTAMISIN-SEFOTAKSIM PADA PASIEN PNEUMONIA ANAK DI RUMAH SAKIT PARU JEMBER TAHUN 2013-2015

Pola bakteri patogen penyebab pneumonia biasanya berbeda sesuai dengan distribusi umur pasien (Correa dan Starke, 1998). Penyebab tersering pada bayi usia 2-12 bulan yaitu bakteri gram positif (Streptococcus pneumoniae, Staphylococcus aureus, A. streptococcus) sedangkan balita usia 13-60 bulan atau lebih penyebab tersering yaitu bakteri gram positif dan bakteri gram negatif (Pseudomonas, Mycoplasma pneumonia). Guideline Infectious Disease Society of America (IDSA) merekomendasikan pemilihan obat antibiotik sebagai terapi empiris pada pasien pneumonia usia 2-12 bulan yaitu ampisilin dan untuk pasien pneumonia usia 13-60 bulan atau lebih yaitu golongan sefalosporin generasi kedua dan ketiga (Smith et al., 2012). Setelah guideline dari IDSA dipublikasikan secara nasional untuk pneumonia pada anak, penggunaan sefalosporin generasi ketiga mulai menurun sedangkan penggunaan ampisilin meningkat sesuai rekomendasi pedoman terapi. Namun, besar dan kecepatan perubahan resep tersebut bervariasi di setiap rumah sakit dan lebih substansial di lembaga-lembaga yang proaktif menyebarluaskan rekomendasi pedoman terapi. Pengembangan studi tambahan diperlukan untuk mengidentifikasi strategi paling efektif di rumah sakit dalam memfasilitasi secara cepat pelaksanaan pedoman terapi (Williams et al., 2015).
Baca lebih lanjut

64 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  Analisis Biaya Dan Efektivitas Penggunaan Antibiotik Pada Pasien Demam Tifoid Anak Rawat Inap Di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Surakarta Tahun 2010.

PENDAHULUAN Analisis Biaya Dan Efektivitas Penggunaan Antibiotik Pada Pasien Demam Tifoid Anak Rawat Inap Di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Surakarta Tahun 2010.

Perkembangan MDR Salmonella typhi begitu cepat di beberapa negara sehingga mengakibatkan mortalitas kasus demam tifoid pada anak meningkat, maka para ahli mencari alternatif pengobatan lain untuk demam tifoid agar demam cepat turun, masa perawatan pendek dan relaps berkurang. Agar mendapatkan antibiotik yang cost-effective dapat dilakukan dengan analisis ekonomi kesehatan yang disebut analisis biaya hasil atau analisis efektivitas biaya (Hadinegoro, 1999).

11 Baca lebih lajut

EVALUASI PENGGUNAAN DAN EFEKTIVITAS PEMBERIAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN DEMAM TIFOID  Evaluasi Penggunaan Dan Efektivitas Pemberian Antibiotik Pada Pasien Demam Tifoid Di Instalasi Rawat Inap RSUD Sukoharjo Pada Periode 1 Oktober – 31 Desember 2015.

EVALUASI PENGGUNAAN DAN EFEKTIVITAS PEMBERIAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN DEMAM TIFOID Evaluasi Penggunaan Dan Efektivitas Pemberian Antibiotik Pada Pasien Demam Tifoid Di Instalasi Rawat Inap RSUD Sukoharjo Pada Periode 1 Oktober – 31 Desember 2015.

Demam tifoid merupakan infeksi sistemik yang disebabkan oleh bakteri Salmonella typhi yang menyerang usus halus dengan gejala demam selama satu minggu atau lebih yang disertai gangguan pada saluran pencernaan. Demam tifoid dapat diterapi menggunakan antibiotik. Penggunaan antibiotik yang tepat dan rasional memberikan dampak efektif dari segi biaya, peningkatan efek klinis, meminimalkan toksisitas obat dan meminimalkan terjadinya resistensi. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengevaluasi serta menilai efektifitas penggunaan antibiotik yang diberikan kepada penderita demam tifoid di Instalasi Rawat Inap RSUD Sukoharjo pada periode 1 Oktober – 31 Desember 2015.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

ANALISIS BIAYA DAN EFEKTIVITAS PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN DEMAM TIFOID ANAK  Analisis Biaya Dan Efektivitas Penggunaan Antibiotik Pada Pasien Demam Tifoid Anak Rawat Inap Di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Surakarta Tahun 2010.

ANALISIS BIAYA DAN EFEKTIVITAS PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN DEMAM TIFOID ANAK Analisis Biaya Dan Efektivitas Penggunaan Antibiotik Pada Pasien Demam Tifoid Anak Rawat Inap Di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Surakarta Tahun 2010.

Alhamdulillah, puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyusun dan menyelesaikan penyusunan skripsi dengan judul “ANALISIS BIAYA DAN EFEKTIVITAS PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN DEMAM TIFOID ANAK RAWAT INAP DI RUMAH SAKIT PKU MUHAMMADIYAH SURAKARTA TAHUN 2010”, yang disusun sebagai syarat untuk memperoleh gelar sarjana strata I (SI) Fakultas Farmasi Universitas Muhammadiyah Surakarta.

18 Baca lebih lajut

EFEKTIVITAS PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PROFILAKSIS PADA PASIEN BEDAH SESAR (SECTIO CAESAREA)  Efektivitas Penggunaan Antibiotik Profilaksis Pada Pasien Bedah Sesar (Sectio Caesarea) Di Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Moewardi Tahun 2013.

EFEKTIVITAS PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PROFILAKSIS PADA PASIEN BEDAH SESAR (SECTIO CAESAREA) Efektivitas Penggunaan Antibiotik Profilaksis Pada Pasien Bedah Sesar (Sectio Caesarea) Di Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Moewardi Tahun 2013.

Antibiotik profilaksis yang diberikan pada pasien bedah sesar di Rumah Sakit “X” tahun 2013 hanya satu jenis antibiotik profilaksis yaitu antibiotik Seftriakson dengan dosis 1 g yang merupakan antibiotik golongan sefalosporin generasi III yang diberikan secara intravena sebelum bedah sesar. Penggunaan antibiotik seftriakson karena antibiotik tersebut mempunyai spektrum yang luas dan memiliki waktu paruh yang lebih panjang dibandingkan sefalosporin yang lain, sehingga cukup diberikan satu kali sehari (Badan POM RI, 2008). Seftriakson bersifat bakterisida terhadap bakteri yang rentan. Aktivitas terhadap stafilokokus lebih sedikit dibandingkan sefalosporin generasi kedua, sedangkan efeknya terhadap patogen gram negatif meningkat, sekalipun untuk organisme yang resisten terhadap agen generasi pertama dan kedua (Vallerand dan Deglin, 1996). Pemberian antibiotik profilaksis tambahan tidak memberikan arti yang bermakna. Dosis profilaksis pascaoperasi akan menimbulkan banyak kerugian antara lain resiko efek samping meningkat, merangsang timbulnya kuman resisten dan beban biaya tambahan untuk pasien (Rachimhadhi dan Wiknjosastro, 2010).
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

EFEKTIVITAS PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PROFILAKSIS PADA PASIEN BEDAH SESAR (SECTIO CAESAREA) DI  Efektivitas Penggunaan Antibiotik Profilaksis Pada Pasien Bedah Sesar (Sectio Caesarea) Di Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Moewardi Tahun 2013.

EFEKTIVITAS PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PROFILAKSIS PADA PASIEN BEDAH SESAR (SECTIO CAESAREA) DI Efektivitas Penggunaan Antibiotik Profilaksis Pada Pasien Bedah Sesar (Sectio Caesarea) Di Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Moewardi Tahun 2013.

Dari 100 pasien yang diteliti diketahui bahwa kejadian bedah sesar paling banyak terjadi pada ibu dengan umur 20-30 tahun (81%), status paritas G Ό P ΋ A ΋ (48%), lama perawatan 3-4 hari (54%), dengan indikasi Ketuban pecah dini (25%) dan pada usia kehamilan aterm (74%). Antibiotik profilaksis yang digunakan pada semua pasien adalah Seftriakson dengan dosis 1 gram yang diberikan secara intravena sebelum operasi. Penggunaan antibiotik profilaksis 17% pasien terbukti efektif tidak terjadi tanda infeksi pasca bedah sesar.

12 Baca lebih lajut

ANALISIS PERBANDINGAN COST-EFFECTIVENESS ANTIBIOTIK PENGOBATAN DEMAM TIFOID ANAK DI RSD dr. SOEBANDI JEMBER

ANALISIS PERBANDINGAN COST-EFFECTIVENESS ANTIBIOTIK PENGOBATAN DEMAM TIFOID ANAK DI RSD dr. SOEBANDI JEMBER

menyatakan dengan sesungguhnya bahwa karya ilmiah yang berjudul: ”Analisis Perbandingan Cost-Effectiveness Antibiotik Pengobatan Demam Tifoid Anak di RSD dr. Soebandi Jember” adalah benar-benar hasil karya sendiri, kecuali kutipan yang sudah saya sebutkan sumbernya, belum pernah diajukan pada institusi mana pun, dan bukan karya jiplakan. Saya bertanggung jawab atas keabsahan dan kebenaran isinya sesuai dengan sikap ilmiah yang harus dijunjung tinggi.

16 Baca lebih lajut

PERBEDAAN EFEKTIVITAS ANTIBIOTIK PADA TE

PERBEDAAN EFEKTIVITAS ANTIBIOTIK PADA TE

Antibiotik yang sering digunakan dalam pengobatan demam tifoid adalah seftriakson. Pemberian seftriakson pada pengobatan demam tifoid lebih dianjurkan daripada kloramfenikol karena seftriakson tidak mudah menyebabkan resistensi, mempunyai efek samping minimal dan telah terbukti efikasinya secara klinis (Sidabutar dan Satari , 2010). Antibiotik yang digunakan pada pengobatan demam tifoid di Puskesmas Bancak kabupaten Semarang tahun 2014 adalah kloramfenikol, amoksisilin, sefotaksim, seftriakson dan ampisillin dengan bentuk sediaan injeksi . Antibiotik yang paling banyak digunakan pada pengobatan demam tifoid di Puskesmas Bancak tahun 2014 adalah sefotaksim. Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Haryanti dkk. (2009) yang menyatakan bahwa sefotaksim merupakan antibiotik yang paling banyak digunakan untuk pengobatan demam tifoid pada pasien anak. Sefotaksim merupakan golongan sefalosporin generasi III yang memiliki spektrum kerja yang sangat luas, aktivitas antibakterinya lebih kuat dan efek sampingnya relatif lebih rendah (Tjay dan Rahardja, 2002 ).
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

PERSEPSI ORANG TUA TERHADAP PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA BALITA DI WILAYAH PUSKESMAS I GAMPING

PERSEPSI ORANG TUA TERHADAP PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA BALITA DI WILAYAH PUSKESMAS I GAMPING

Penyakit infeksi termasuk dalam sepuluh penyakit terbanyak yang menyerang manusia. Penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri dapat disembuhkan dengan antibiotik. Antibiotik merupakan golongan obat keras yang hanya bisa didapatkan dengan resep dokter. Sebagian besar masyarakat menggunakan antibiotik untuk mengatasi masalah infeksi akibat virus dan masih banyak masyarakat yang membeli antibiotik tanpa resep dokter. Hal tersebut dapat menyebabkan bakteri resisten terhadap antibiotik. Data penggunaan antibiotik di DIY yang tidak rasional untuk menangani diare atau penyakit infeksi lainnya sebanyak 58%. Jika pemberian antibiotik yang tidak tepat pada balita akan menimbulkan bakteri resisten terhadap antibiotik karena balita masih rentan terhadap berbagai serangan penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri. Sehingga perlu diketahui bagaimana persepsi orang tua terhadap penggunaan antibiotik pada balita agar tidak terjadi kesalahan dalam penggunaan antibiotik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui persepsi orang tua terhadap penggunaan antibiotik pada balita.
Baca lebih lanjut

113 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  Tinjauan Pengetahuan, Sikap, dan Perilaku Penggunaan Antibiotik pada Mahasiswa Kesehatan dan Non Kesehatan di Universitas Muhammadiyah Surakarta.

PENDAHULUAN Tinjauan Pengetahuan, Sikap, dan Perilaku Penggunaan Antibiotik pada Mahasiswa Kesehatan dan Non Kesehatan di Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Beberapa aspek penting yang harus diperhatikan mengenai antibiotik antara lain; penggunaan secara tepat atau rasional, antibiotik yang dipilih merupakan antibiotik yang tepat untuk kondisi tertentu, hanya digunakan untuk infeksi bakteri, melakukan konseling pada pasien mengenai penggunaan antibiotik, dan menggunakan dosis yang optimal (Mardiastuti, 2007).

7 Baca lebih lajut

ANALISIS PERBANDINGAN COST-EFFECTIVENESS ANTIBIOTIK PENGOBATAN DEMAM TIFOID ANAK DI RSD dr. SOEBANDI JEMBER

ANALISIS PERBANDINGAN COST-EFFECTIVENESS ANTIBIOTIK PENGOBATAN DEMAM TIFOID ANAK DI RSD dr. SOEBANDI JEMBER

Indonesia merupakan salah satu negara endemik demam tifoid. Sedangkan untuk kasus demam tifoid di Kabupaten Jember, berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kabupaten Jember tahun 2010, terdapat 25.996 penderita dan masuk 15 besar kesakitan di Wilayah Kabupaten Jember dan insiden terbesar terjadi pada usia anak – anak. Banyak terdapat pilihan antibiotik yang digunakan untuk pengobatan demam tifoid. Biaya perawatan pada demam tifoid tergolong besar karena masa perawatan yang panjang..

16 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...