Kewenangan Antara Pengawasan Internal dan Komisi

Top PDF Kewenangan Antara Pengawasan Internal dan Komisi:

PROBLEMATIKA KEWENANGAN KOMISI YUDISIAL DALAM PENGAWASAN HAKIM AGUNG DI INDONESIA SKRIPSI

PROBLEMATIKA KEWENANGAN KOMISI YUDISIAL DALAM PENGAWASAN HAKIM AGUNG DI INDONESIA SKRIPSI

iii ABSTRAK Komisi Yudisial (KY) merupakan satu-satunya lembaga negara yang diatur dalam UUD 1945 tepatnya dalam Pasal 24B UUD 1945. Dimana KY sebagai pengawas Eksternal yang bertugas dan berwenang secara preventif. Salah satu diamandemennya UUD 1945 yakni terciptanya sistem penyelenggaraan kekuasaan kehakiman yang akuntabel dengan berdirinya lembaga baru yang bernama KY. Komisi ini tentu menjadi bagian dari upaya memperbaiki institusi peradilan yang senantiasa diharapkan terjaga kemandirian dan akuntabilitasnya dalam menegakkan hukum dan keadilan di Indonesia. untuk mewujudkan cita-cita luhur tersebut sekaligus mendukung keabsahan adanya lembaga KY maka diberlakukannya UU Nomor 22 Tahun 2004 yang sekarang menjadi UU No 18 Tahun 2011 tentang Komisi Yudisial. Hadirnya KY belum serta merta dapat menyelesaikan masalah yang ada khususnya dalam pengawasan Hakim Agung, dewasa ini lembaga pelaksanaan kekuasaan kehakiman yang dimiliki Indonesia dengan semua kewenangannya ternyata belum bisa melaksanakan tugas dengan maksimal. Adapaun masalah yang hadir yakni laporan masyarakat yang menganggap pengawasan oleh KY tidak efektif dengan adanaya rekomendasi KY yang tidak ditindaklanjuti oleh Mahkamah Agung (MA) dan tentu juga terhalang kewenangan KY dalam bidang pengawasan pasca munculnya keputusan MK. No. 005/PUU-IV/2006. Dengan melihat masalah diatas maka penyusun tertarik untuk meneliti bagaimana kewenangan KY yang ideal dalam mengawasi Hakim Agung. Dalam meneliti persoalan diatas maka penulis menggunakan metode penelitian library reseach, yang bersifat deskriptif-analitik yakni dengan mendeskripsikan pokok-pokok permasalahan yang muncul pada kewenangan yang dimiliki KY apakah telah sesuai dengan UUD 1945 atau belum dan mengenai pengawasan Komisi Yudisial sudah Ideal atau belum.
Show more

48 Read more

Kewenangan pengawasan hakim oleh mahkamah agung dan komisi yudisial menurut fiqih siyasah

Kewenangan pengawasan hakim oleh mahkamah agung dan komisi yudisial menurut fiqih siyasah

Hasil Penelitian menyimpulkan bahwa kewenangan pengawasan hakim yang dilakukan oleh Mahkamah Agung sebagai pengawas tertinggi berdasarkan pasal 24A ayat (1) UUD NRI 1945 dan diatur dalam UU Kekuasaan Kehakiman 1970jo. UU Kekuasaan Kehakiman 2004jo. Pasal 32 UU Mahkamah Agung 1985 dan UU Mahkamah Agung 2004. Pengawasan yang dilakukan oleh Mahkamah Agung belum bisa mewujudkan peradilan bersih dan hakim berintegritas. Maka pada masa reformasi dan amademen UUD 1945 terbentuklah lembaga baru yaitu Komisi Yudisial sebagai pengawas internal hakim yang independen dan mandiri berdasarkan amanat UUD NRI 1945 dan Undang-Undang No.18 Tahun 2011 tentang Perubahan atas Undang-Undang No.22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial. Dalam perjalannya terbentuknya Komisi Yudisial membuat Mahkamah Agung tidak menunjukkan check and balances karena dalam format kelembagaan diperlukan pengawasan sebagai bentuk langkah penegakan hukum. Permasalahannya pengawasan hakim yang dilakukan oleh Mahkamah Agung dan Komisi Yudisial menimbulkan pandangan overlepping dalam kewenangan pengawasan hakim. Dalam tinjauan fiqih siyasah terhadap pengawasan hakim tidak menyebutkan secara khusus akan tetapi dalam fiqih siyasah dalam kelembagaannya ada kesamaan dalam kewenangan dalam mengawasai hakim yaitu qodhi al qudhat kewenangannya hampir sama dengan Mahkamah Agung dan Komisi Yudisial pengawasan etika dan moral sehingga dalam sistem pengawasan dalam konsepan fiqih siyasah sesuai dengan perintah Allah dalam al- Qur’an surat an-Nisa’ ayat 1 bahwa Allah selalu menjagamu dan mengawasimu , sehingga hakim seorang wakil tuhan tidak sampai terlena dengan jabtannya karena hakim juga seorang manusia sedikit banyaknya lupa, maka demi mewujudkan peradilan yang baik demi menjaga marwah seorang hakim.
Show more

131 Read more

IMPLIKASI PEMBATALAN KEWENANGAN KOMISI YUDISIAL DALAM PENGAWASAN HAKIM KONSTITUSI TERHADAP PRAKTIK JUDICIAL CORRUPTION

IMPLIKASI PEMBATALAN KEWENANGAN KOMISI YUDISIAL DALAM PENGAWASAN HAKIM KONSTITUSI TERHADAP PRAKTIK JUDICIAL CORRUPTION

Selanjutnya Putusan MK Nomor 1-2/PUU-XII/2014 yang membatalkan keseluruhan isi UU Penetapan Perppu berarti mebatalkan kewenangan Komisi Yudisial untuk terlibat kembali dalam pengawasan, baik preventif maupun represif terhadap Hakim Konstitusi. Sebelumnya dalam UU Penetapan Perppu Komisi Yudisial diberikan kewenangan untuk terlibat kembali dalam pengawasan Hakim Konstitusi. Bentuk keterlibatan tersebut antara lain adalah dalam pembentukan panel ahli untuk rekrutmen Hakim Konstitusi, penyusunan dan penetapan KEPPH, serta pembentukan MKHK. Mahkamah Konstitusi menggunakan penafsiran berdasarkan original intent, tekstual, dan gramatikal. Mahkamah Konstitusi juga mendasarkan pendapatnya pada kebebasan dari kekuasaan kehakiman yang mana setiap campur tangan terhadap kekuasaan kehakiman dari lembaga negara apa pun akan menyebabkan tidak bebasnya kekuasaan kehakiman dalam menjalankan fungsinya dan mengancam prinsip negara hukum. Selain itu, UU Penetapan Perppu MK merupakan bentuk penyelundupan hukum karena bertentangan dengan Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 005/PUU-IV/2006 yang telah menegaskan secara konstitusional bahwa Hakim Konstitusi tidak terkait dengan Komisi Yudisial yang mendapatkan kewenangan berdasarkan Pasal 24B UUD NrI 1945.
Show more

10 Read more

Tinjauan Hukum Kewenangan Pengawasan Internal  Pemerintah Antara Badan Pengawasan Keuangan Dan  Pembangunan (BPKP) Dan Inspektorat di Propinsi  Sulawesi Selatan

Tinjauan Hukum Kewenangan Pengawasan Internal Pemerintah Antara Badan Pengawasan Keuangan Dan Pembangunan (BPKP) Dan Inspektorat di Propinsi Sulawesi Selatan

144 Permasalahan yang sering muncul adalah kewenangan yang dilekatkan oleh peraturan perundang-undangan tersebut (ius constitutum) baik sebagian maupun seluruhnya belum di implementasikan pada kenyataannya (ius operatum) sehingga titik keidealan pengawasan internal ke depannya (ius constituendum) belum tercapai. Ketidaksesuaian antara hukum secara normatif dan yang berlaku empiris terjadi karena adanya ketidakjelasan hukum (distorsi hukum). Ketidakjelasan hukum tersebut dapat timbul apabila tidak ditentukan sama sekali dalam peraturan dan tidak dijelaskan secara tegas dalam peraturan. Dalam hal ini, kewenangan pengawasan internal antara Perwakilan BPKP dan Inspektorat Propinsi Sulawesi Selatan tidak dijelaskan secara tegas dalam peraturan perundang-undangan. Penegasan tersebut diartikan sebagai ruang lingkup (mekanisme, objek, pelaporan pengawasan, dan koordinasi) yang tidak secara frontal ditegaskan dalam peraturan perundang- undangan.
Show more

229 Read more

Rekonstruksi Kewenangan Konstitusional Komisi Yudisial

Rekonstruksi Kewenangan Konstitusional Komisi Yudisial

Salah satu kewenangan konstitusional Komisi Yudisial yang dinyatakan dalam Pasal 24B UUD 1945 adalah mengusulkan pengangkatan hakim agung. Kewenangan Komisi Yudisial tersebut mengusulkan calon hakim agung kepada Dewan Perwakilan Rakyat yang kemudian bila menyetujui calon tersebut diserahkan kepada Presiden untuk ditetapkan sebagai hakim agung. 18 Mekanisme penjaringan terhadap calon hakim agung tersebut merupakan perwujudan dari sistem negara demokrasi, yaitu sistem seleksi hakim agung yang melibatkan masyarakat secara transparan. Dalam negara demokrasi, sistem pemilihan dan rekrutmen pejabat negara, termasuk hakim agung, idealnya harus melibatkan masyarakat dalam seleksi penentuan pejabat negara tersebut. Ketentuan dalam Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman yang pada pokoknya menyatakan, hakim adalah pejabat negara yang melakukan kekuasaan kehakiman. Makna kata “hakim” tersebut menurut ketentuan umum dalam Undang-Undang a quo adalah hakim pada Mahkamah Agung dan hakim pada badan peradilan yang berada di bawahnya . Oleh karena hakim secara umum adalah pejabat negara maka mekanisme rekrutmen hakim dapat dilakukan sistem yang sama dalam rekrutmen hakim agung. Mekanisme tersebut dapat dilakukan antara lain, dengan mengumumkan setiap jabatan yang lowong di lingkungan peradilan, mempublikasikan nama dan latar belakang calon, proses seleksi dan kriteria pemilihan, serta mengundang masyarakat untuk memberi masukan dan menanggapi kualifikasi calon. Di samping itu harus ada pemisahan secara tegas antara lembaga yang bertanggung jawab menyeleksi dan mengusulkan calon hakim, dengan lembaga yang bertanggung jawab memilih dan mengangkatnya, yang sekarang ini oleh UUD 1945 diberikan kewenangan tersebut kepada Komisi Yudisial.
Show more

16 Read more

REKONSTRUKSI KEWENANGAN KONSTITUSIONAL KOMISI YUDISIAL

REKONSTRUKSI KEWENANGAN KONSTITUSIONAL KOMISI YUDISIAL

Salah satu kewenangan konstitusional Komisi Yudisial yang dinyatakan dalam Pasal 24B UUD 1945 adalah mengusulkan pengangkatan hakim agung. Kewenangan Komisi Yudisial tersebut mengusulkan calon hakim agung kepada Dewan Perwakilan Rakyat yang kemudian bila menyetujui calon tersebut diserahkan kepada Presiden untuk ditetapkan sebagai hakim agung. 18 Mekanisme penjaringan terhadap calon hakim agung tersebut merupakan perwujudan dari sistem negara demokrasi, yaitu sistem seleksi hakim agung yang melibatkan masyarakat secara transparan. Dalam negara demokrasi, sistem pemilihan dan rekrutmen pejabat negara, termasuk hakim agung, idealnya harus melibatkan masyarakat dalam seleksi penentuan pejabat negara tersebut. Ketentuan dalam Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman yang pada pokoknya menyatakan, hakim adalah pejabat negara yang melakukan kekuasaan kehakiman. Makna kata “hakim” tersebut menurut ketentuan umum dalam Undang-Undang a quo adalah hakim pada Mahkamah Agung dan hakim pada badan peradilan yang berada di bawahnya . Oleh karena hakim secara umum adalah pejabat negara maka mekanisme rekrutmen hakim dapat dilakukan sistem yang sama dalam rekrutmen hakim agung. Mekanisme tersebut dapat dilakukan antara lain, dengan mengumumkan setiap jabatan yang lowong di lingkungan peradilan, mempublikasikan nama dan latar belakang calon, proses seleksi dan kriteria pemilihan, serta mengundang masyarakat untuk memberi masukan dan menanggapi kualifikasi calon. Di samping itu harus ada pemisahan secara tegas antara lembaga yang bertanggung jawab menyeleksi dan mengusulkan calon hakim, dengan lembaga yang bertanggung jawab memilih dan mengangkatnya, yang sekarang ini oleh UUD 1945 diberikan kewenangan tersebut kepada Komisi Yudisial.
Show more

16 Read more

NILAI KEMASLAHATAN KEWENANGAN KOMISI YUDISIAL DI INDONESIA

NILAI KEMASLAHATAN KEWENANGAN KOMISI YUDISIAL DI INDONESIA

12 Ketiga, Penelitian yang dilakukan oleh Fandi Saputra, dengan judul Jurnal, Kedudukan Komisi Yudisial Sebagai Lembaga Negara, dalam penelitian tersebut merumuskan satu pokok masalah yaitu “Apakah kedudukan dan fungsi Komisi Yudisial bertentangan dengan prinsip kemandirian dan kebebasan hakim” dalam pendeskripsi pembahasannya mengatakan bahwa Dalam melaksanakan tugas, Komisi Yudisial diberikan kewenangan sebagaimana ditentukan dalam Pasal 24B ayat (1) UUD 1945 yaitu bahwa Komisi Yudisial bersifat mandiri yang berwenang mengusulkan pengangkatan hakim agung dan mempunyai wewenang lain dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan, keluhuran martabat, serta prilaku hakim. Dari hasil penelitiannya mengungkapkan bahwa Dari segi kedudukan Komisi Yudisial sebagai lembaga negara bantu yang mempunyai kewenangan dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan, keluhuran martabat, serta prilaku hakim tidak bertentangaan dengan prinsip kemandirian dan kebebasan hakim, tetapi justru bermaksud memperkuat dan meningkatkan kepecayaan masyarakat terhadap lembaga peradilan. Sedangkan dari segi fungsi Komisi Yudisial dalam melakukan pengawasan hanya menerima laporan masyarakat tentang perilaku hakim, meminta laporan secara berkala kepada badan peradilan berkaitan dengan perilaku hakim, melakukan pemeriksaan terhadap dugaan pelanggaran perilaku hakim. 20
Show more

48 Read more

Sistem Pengawasan Internal Gaji dan Upah Pegawai Pada Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Labuhan Batu Utara

Sistem Pengawasan Internal Gaji dan Upah Pegawai Pada Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Labuhan Batu Utara

Mengingat masalah gaji dan upah merupakan masalah yang sensitif, maka instansi perlu mengadakan pengawasan gaji dan upah para pegawai. Sistem gaji dan upah yang baik adalah sistem yang dibantu dengan pengawasan yang baik oleh pihak manajemen perusahaan dengan dapat merancang motivasi kerja karyawan melalui pemberian gaji dan upah yang sesuai, tunjangan, bonus dan lain sebagainya. Melihat begitu pentingnya suatu sistem pengawasan gaji dan upah, maka penulis tertarik membuat tugas akhir ini dengan judul “ Sistem Pengawasan Internal Gaji Dan Upah Pegawai Pada Komisi Pemilihan Umum ( KPU ) kabupaten Labuhan Batu Utara”.
Show more

48 Read more

Jurist-Diction. Volume 3 No. 5, September Kewenangan Komisi Aparatur Sipil Negara Dalam Pengawasan Sistem Merit

Jurist-Diction. Volume 3 No. 5, September Kewenangan Komisi Aparatur Sipil Negara Dalam Pengawasan Sistem Merit

Aparatur Sipil Negara (ASN) yang terdiri dari Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) sebagai profesi yang memiliki tujuan pengabdian pada negara melalui peran penyelenggaraan pelayanan publik dengan mengedepankankan profesionalitas dan integritas dalam melaksanakan tugas dan fungsinya serta bersifat netral dan bebas dari intervensi politik. Undang-Undang Kepegawaian dengan perubahan terbaru diatur dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara dengan diamanatkan pula Sistem Merit sebagai sistem yang mendasari pengisian jabatan tinggi secara terbuka dan pelaksanaan sistem tersebut pada seluruh instansi. Dengan adanya Sistem Merit, dibentuklah Komisi Aparatur Sipil Negara (KASN) yang memiliki wewenang untuk mengawasi penerapan Sistem Merit dalam kebijakan dan manajemen ASN, juga terhadap pelaksanaan norma dasar, kode etik, dann kode perilaku ASN berdasarkan perolehan kewenangan secara delegasi dari Presiden melaui undang-undang dengan tanggung jawab berada pada penerima delegasi.
Show more

16 Read more

Eksistensi Kewenangan Komisi Yudisial dalam Pengawasan Hakim Menurut Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945

Eksistensi Kewenangan Komisi Yudisial dalam Pengawasan Hakim Menurut Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945

Abstrak, Salah satu tujuan amandemen UUD 1945 yaitu menjadikan kekuasaan kehakiman sebagai lembaga yang mandiri dan independen. Upaya awal yang dilakukan adalah melakukan reformasi birokrasi yang ada dalam lingkungan kekuasaan kehakiman. Selain itu, aspek pengawasan hakim juga perlu diperhatikan, sehingga dibentuklah Komisi Yudisial menurut Pasal 24B UUD NRI Tahun 1945. Kewenangan utama dari KY sendiri adalah menjaga dan menegakkan kehormatan dan keluhuran martabat hakim. Namun, dalam realitanya pengaturan mengenai pelaksanaan pengawasan hakim telah diuji materil melalui MK dengan membatalkan UU No. 22 Tahun 2004, sehingga diubah dengan UU No. 18 Tahun 2011. Akan tetapi, aspek pengawasan hakim oleh KY masih sangat kurang sebagaimana amanah UUD 1945.
Show more

14 Read more

KEWENANGAN KOMISI PEMILIHAN UMUM DALAM MENGAKTIFKAN KEMBALI ANGGOTA KOMISI PEMILIHAN UMUM

KEWENANGAN KOMISI PEMILIHAN UMUM DALAM MENGAKTIFKAN KEMBALI ANGGOTA KOMISI PEMILIHAN UMUM

Berdasarkan uraian dalam pembahasan di atas, maka dalam bab Penutup ini, terdapat simpulan yang menjawab permasalahan yang ada dalam bab pendahuluan. Bahwa terkait terkait dengan Putusan PTUN No. 82/G/2020/PTUN.JKT yang Membatalkan Kepres No. 34/P Tahun 2020 hal ini jelas sudah diluar dari keweangan PTUN. Karena Kepres No. 34/P Tahun 2020 sejatinya hanya menjalankan hasil Putusan DKPP dalam hal ini Putusan DKPP Nomor 317-PKE-DKPP/X/2019 yang pada pokoknya menjatuhkan sanksi pemberhentian tetap terhadap Evi Novida Ginting Manik (Komisioner KPU RI). Ketika muncul Putusan PTUN No. 82/G/2020/PTUN.JKT hal ini justru menurut pembahasan dalam penulisan ini merupakan produk hukum yang justeru menimbulkan ketidakpastian hukum. Dengan demikian terkait kewenangan Komisi Pemilihan Umum dalam menerbitkan Surat Keputusan KPU No. 663/SDM.13- SD/05KPU/VII2020 dalam rangka pengaktifan kembali anggota KPU dari sisi hukum administrasi negara, hal ini juga tidak sesuai dengan kewenangannya, apalagi jika menggunakan persepsi argumentum a contrario, maka sebetulnya tidak ada kewenangan KPU untuk itu. Sebagai seorang pejabat Tata Usaha Negara penting kiranya Ketua KPU selalu mengambil langkah yang sesuai dengan koridor hukum dan peraturan perundang- undangan.
Show more

19 Read more

SENGKETA KEWENANGAN PENGAWASAN ANTARA MAHKAMAH AGUNG DAN KOMISI YUDISIAL - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR) Prim Fahrur Razi

SENGKETA KEWENANGAN PENGAWASAN ANTARA MAHKAMAH AGUNG DAN KOMISI YUDISIAL - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR) Prim Fahrur Razi

Ketua Pengurus Pusat Ikatan Hakim Indonesia (IKAHI), Hakim Agung Abdul Kadir Mapong dan H. Soeparno, SH. (sekretaris umum) menyatakan : Kita berharap tugas Komisi Yudisial tidak akan bersinggungan dengan kebebasan hakim dalam memeriksa dan memutus perkara. IKAHI menghargai dan menjunjung tinggi kemandirian dan mendukung upaya pengawasan yang dilakukan Komisi Yudisial sesuai dengan kewenangan yang diatur dalam Undang- Undang Nomor 22 Tahun 2004, PP IKAHI menilai dampak negative akan terjadi apabila terjadi pelampauan batas kewenangan. Tidak menutup kemungkinan dimanfaatkan pencari keadilan yang tidak puas terhadap putusan pengadilan, hendak menempuh jalan pintas tanpa melalui upaya hukum. 2 Secara terpisah ; Ketua Komisi Yudisial Muh. Busyro Muqoddas menyatakan :
Show more

138 Read more

Kewenangan Komisi Pemberantas Korupsi dalam Melakukan Penuntutan Money Laundering

Kewenangan Komisi Pemberantas Korupsi dalam Melakukan Penuntutan Money Laundering

SLGDQD DVDOµ DGDODK SHMDEDW GDUL LQVWDQVL yang oleh undang-undang diberi kewenangan untuk melakukan penyidikan, yaitu Kepolisian Negara Republik Indonesia, Kejaksaan, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Badan Narkotika Nasional (BNN), serta Direktorat Jenderal Pajak dan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan Republik Indonesia. Penyidik tindak pidana asal dapat melakukan penyidikan tindak pidana Pencucian Uang apabila menemukan bukti permulaan yang cukup terjadinya tindak pidana Pencucian Uang saat melakukan penyidikan tindak
Show more

19 Read more

Kewenangan Komisi Yudisial Dalam Kaitannya Dengan Kemerdekaan Kekuasaan Kehakiman Berdasarkanuud 1945.

Kewenangan Komisi Yudisial Dalam Kaitannya Dengan Kemerdekaan Kekuasaan Kehakiman Berdasarkanuud 1945.

vi ABSTRAK Disertasi ini merupakan hasil penelitian dan kajian terhadap Kewenangan Komisi Yudisial dalam kaitannya dengan kemerdekaan kekuasaan kehakiman. Masalah – masalah yang dijadikan objek penelitian berkenaan dengan dua masalah pokok yang terdiri dari” pertama, apakah kewenangan Komisi Yudisial tidak bertentangan dengan independensi kekuasaan kehakiman. Kedua, bagaimana wewenang lain Komisi Yudisial dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan, keluhuran martabat, serta perilaku hakim.

2 Read more

Politik Hukum Penguatan Kewenangan Komisi Pemberantasan Korupsi dalam Sistem Ketatanegaraan

Politik Hukum Penguatan Kewenangan Komisi Pemberantasan Korupsi dalam Sistem Ketatanegaraan

Komisi Pemberantasan Korupsi dibentuk berdasarkan amanat reformasi 1998 yang menginginkan adanya penyelenggaraan negara yang bersih dari korupsi, kolusi dan nepotisme. Sejak dibentuk dengan Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 jo. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Korupsi dan Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, telah banyak kasus korupsi yang terselesaikan baik dalam skala sedang maupun skala besar. Namun, dengan berjalannya waktu sejak pembentukannya perlu peninjauan ulang pengaturan KPK mengingat semakin banyaknya pengujian undang-undang di Mahkamah Konstitusi terkait dengan kedudukan dan kewenangan KPK. Terlebih, sebagai peserta penandatangan dan peratifikasi UNCAC, sudah seharusnya mengakomodir kedua intrumen tersebut. Dalam penelitian ini akan dibahas mengenai bagaimana politik hukum penguatan kewenangan KPK dalam sistem ketatanegaraan. Metode penelitian yang digunakan adalah yuridis normatif dengan pendekatan kasus dan perbandingan. Hasil penelitian yang didapatkan adalah perlunya revisi UU tipikor dengan menyesuaikan pada putusan pengujian undang-undang di MK dan ketentuan yang ada dalam UNCAC, seperti perampasan aset, perekrutan penyidik mandiri, dan memasukkan KPK sebagai organ konstitusi.
Show more

26 Read more

Kewenangan Komisi Kepolisian Nasional dalam Mewujudkan Tata Kelola Kepolisian Yang Baik

Kewenangan Komisi Kepolisian Nasional dalam Mewujudkan Tata Kelola Kepolisian Yang Baik

“....kewenangan-kewenangan yang dimiliki oleh Kompolnas ini terlalu sederhana bagi sebuah komisi nasional yang bertugas membantu Presiden namun sebaliknya justru terlampau lemah bagi sebuah komisi yang diharapkan menjalankan fungsi pengawasan terhadap POLRI. Kalau hanya menerima saran dan keluhan masyarakat mengenai kinerja kepolisian untuk disampaikan kepada Presiden, hal ini cukup dilakukan oleh kepolisian sendiri, tidak harus oleh sebuah komisi nasional. Sebaliknya, efektivitas pengawasan terhadap POLRI juga diragukan jika Kompolnas hanya sebatas menampung keluhan-keluhan masyarakat mengenai penegakkan hukum, tahap penyelidikan dan/ atau penyidikan tanpa memiliki kewenangan untuk memberi penilaian atas tindakan kepolisian atau diskresi kepolisian. Betapapun pentingnya kepatuhan terhadap norma agama, kesopanan, kesusilaan, maupun berbagai pertimbangan etik lainnya, salah satu kunci bagi penilaian masyarakat atas kinerja Polri adalah kemampuan Polri menjalankan fungsi pelayanan dan penegakan hukum secara adil, konsisten dan konsekuen.
Show more

10 Read more

Kewenangan Komisi Yudisial dan Dewan Perwakilan Rakyat dalam Pengangkatan Hakim Agung

Kewenangan Komisi Yudisial dan Dewan Perwakilan Rakyat dalam Pengangkatan Hakim Agung

Pertama, kewenangan DPR dalam proses pengisian jabatan hakim agung kembali pada kewenangan yang diberikan langsung oleh konstitusi, yakni sebatas memberikan persetujuan terhadap calon Hakim Agung yang diusulkan oleh Komisi Yudisial. MK dalam bagian pertimbangannya mengatakan, dalam risalah pembahasan perubahan UUD 1945, khususnya mengenai pembentukan Komisi Yudisial dapat dibaca dengan jelas bahwa tujuan pembentukan Komisi Yudisial yang mandiri adalah untuk melakukan pengangkatan terhadap Hakim Agung yang akan diusulkan kepada DPR untuk disetujui dan ditetapkan oleh Presiden. Sebagaimana diungkapkan Agung Gunanjar Sudarsana (Anggota PAH 1 BP MPR) dalam Rapat Pleno Ke-38 Panitia Ad Hoc I Badan Pekerja MPR, tanggal 10 Oktober 2001, berdasarkan kata dengan persetujuan DPR, DPR tidak perlu lagi melakukan proses seleksi dan fit and proper test tetapi hanya memberikan persetujuan atau menolak sejumlah Hakim Agung yang diusulkan Komisi Yudisial. MK berpendapat, catatan risalah perubahan tersebut telah menjelaskan dengan sangat gamblang makna Pasal $ D\DW 88' \DQJ PHQ\DWDNDQ ´+DNLP Agung diusulkan oleh Komisi Yudisial kepada Dewan Perwakilan Rakyat untuk mendapatkan persetujuan dan selanjutnya ditetapkan sebagai Hakim Agung oleh Presidenµ Oleh karena itu, posisi DPR dalam penentuan calon hakim agung sebatas memberi persetujuan atau tidak
Show more

22 Read more

Kewenangan Komisi Kepolisian Nasional dalam Mewujudkan Tata Kelola Kepolisian yang Baik

Kewenangan Komisi Kepolisian Nasional dalam Mewujudkan Tata Kelola Kepolisian yang Baik

“....kewenangan-kewenangan yang dimiliki oleh Kompolnas ini terlalu sederhana bagi sebuah komisi nasional yang bertugas membantu Presiden namun sebaliknya justru terlampau lemah bagi sebuah komisi yang diharapkan menjalankan fungsi pengawasan terhadap POLRI. Kalau hanya menerima saran dan keluhan masyarakat mengenai kinerja kepolisian untuk disampaikan kepada Presiden, hal ini cukup dilakukan oleh kepolisian sendiri, tidak harus oleh sebuah komisi nasional. Sebaliknya, efektivitas pengawasan terhadap POLRI juga diragukan jika Kompolnas hanya sebatas menampung keluhan-keluhan masyarakat mengenai penegakkan hukum, tahap penyelidikan dan/ atau penyidikan tanpa memiliki kewenangan untuk memberi penilaian atas tindakan kepolisian atau diskresi kepolisian. Betapapun pentingnya kepatuhan terhadap norma agama, kesopanan, kesusilaan, maupun berbagai pertimbangan etik lainnya, salah satu kunci bagi penilaian masyarakat atas kinerja Polri adalah kemampuan Polri menjalankan fungsi pelayanan dan penegakan hukum secara adil, konsisten dan konsekuen.
Show more

10 Read more

Kewenangan Komisi Pemberantasan Korupsi Dalam Penuntutan Tindak Pidana Pencucian Uang

Kewenangan Komisi Pemberantasan Korupsi Dalam Penuntutan Tindak Pidana Pencucian Uang

berbagai hambatan. Untuk itulah diperlukan metode penegakan hukum secara luar biasa melalui pembentukan suatu badan khusus yang mempunyai kewenangan luas independen serta bebas dari kekuasaan manapun dalam upaya pemberantasan tindak pidana korupsi yang pelaksanaannya dilakukan secara optimal, intensif, efektif, propesional serta berkesinambungan. 43 Pembentukan lembaga yang diharapkan mampu memberantas atau paling tidak meminimalisir maraknya kasus korupsi salah satunya adalah dengan pembentukan Komisi Pemberantasan Korupsi. Dalam bagian konsideran huruf a dan b Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi disebutkan, bahwa debentuknya Komisi tersebuat karena di satu sisi realitas korupsi di Indonesia dinilai semakin memperihatinkan dan menimbulkan kerugian besar terhadap keuangan maupun perekonomian Negara sehingga menghambat pembangunan nasional dalam mewujudkan kemakmuran, kesejahteraan dan keadilan masyarakat. Pada sisi lain, upaya pemberantasan korupsi yang telah berjalan selama ini dinilai pula belum terlaksana secara optimal. Karena aparat penegak hukum yang bertugas menangani perkara tindak pidana korupsi dipandang belum dapat berfungsi secara efektif dan effesien. 44
Show more

87 Read more

KEDUDUKAN DAN KEWENANGAN KOMISI YUDISIAL DI BEBERAPA NEGARA EROPA (IRLANDIA, PERANCIS DAN ITALIA)

KEDUDUKAN DAN KEWENANGAN KOMISI YUDISIAL DI BEBERAPA NEGARA EROPA (IRLANDIA, PERANCIS DAN ITALIA)

Dilihat dari historical background Komisi Yudisial di Uni Eropa, didirikannya Komisi Yudisial terinspirasi oleh munculnya gelombang demokrasi di Eropa Timur, yang menuntut terjadinya proses peradilan yang dipercaya oleh publik. Gagasan awal didirikannya Komisi Yudisial di Eropa adalah sebagai penghubung kepentingan pemerintah dan kepentingan peradilan. Selain itu juga untuk memberikan jaminan independensi peradilan. Dalam konteks itu, peran utama Komisi Yudisial di Uni Eropa adalah menjamin sistem peradilan, mengajukan kandidat hakim yang profesional, memberikan pendidikan yang berkualitas kepada hakim, menguji kompetensi hakim, menegakkan kode etik hakim, mengembangkan jaringan publik dan mengambil alih fungsi manajemen peradilan dari tanggung jawab pemerintah. Hal tersebut dijabarkan dengan berbagai kewenangan lanjutan, yaitu ; menyangkut tindakan disipliner, penentuan karir hakim, seleksi hakim, pendidikan hakim, kebijakan umum pada bagian-
Show more

15 Read more

Show all 10000 documents...