Otonomi Berdasarkan Undang-undang No 18 Tahun 1965

Top PDF Otonomi Berdasarkan Undang-undang No 18 Tahun 1965:

BAB I PENDAHULUAN. Berdasarkan Undang-Undang mengenai Otonomi Daerah, yakni Undang-Undang

BAB I PENDAHULUAN. Berdasarkan Undang-Undang mengenai Otonomi Daerah, yakni Undang-Undang

dan pendapatan, memperkokoh persatuan, dan kesatuan, serta mengenal budaya bangsa. Seperti yang telah diamanatkan dalam Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN) tahun 1999, bahwa mengembangkan pariwisata, melalui pendekatan sistem yang utuh dan terpadu bersifat interdisipliner dan partisipatoris dengan menggunakan kriteria ekonomi, teknis, argonomis, sosial budaya, hemat energi, melestarikan alam dan tidak merusak lingkungan. (TAP MPR No.IV/MPR/1999). Sektor pariwisata dan industri kreatif menjadi potensi daerah yang banyak dikembangkan masyarakat Indonesia. Melimpahnya kekayaan alam Indonesia dan uniknya budaya lokal yang dimiliki, memberikan daya tarik tersendiri bagi para wisatawan domestik maupun turis mancanegara. Sehingga sampai sekarang ini sektor pariwisata Indonesia menjadi salah satu penyumbang dana yang cukup besar bagi Pendapatan Daerah di seluruh penjuru nusantara. Telah terjadi pergeseran negara tujuan wisata internasional dari ke negara maju ke negara- negara di Asia. Hal ini menjadi peluang besar bagi pengembangan pariwisata Indonesia dan terbukti dengan urutan ranking pariwisata dan ekonomi di kawasan Asia.
Show more

15 Read more

Vol.2 No.2 Juli PENINGKATAN KAPASITAS DESA BERDASARKAN PADA UNDANG-UNDANG NO. 6 TAHUN 2014 (Sebuah kajian tentang Otonomi Desa)

Vol.2 No.2 Juli PENINGKATAN KAPASITAS DESA BERDASARKAN PADA UNDANG-UNDANG NO. 6 TAHUN 2014 (Sebuah kajian tentang Otonomi Desa)

level administrasi atau bawahan daerah tetapi sebaliknya sebagai “Independent Community” yaitu desa dan masyarakatnya berhak berbicara atas kepentingan masyarakat sendiri. Desa diberi kewenangan untuk mengatur desanya secara mandiri termasuk bidang sosial, politik dan ekonomi. Dengan adanya kemandirian ini diharapkan akan dapat meningkatkan partisipasi masyarakat desa dalam pembangunan sosial dan politik. Bagi desa, otonomi yang dimiliki berbeda dengan otonomi yang dimiliki oleh daerah propinsi maupun daerah kabupaten dan daerah kota. Otonomi yang dimiliki oleh desa adalah berdasarkan asal-usul dan adat istiadatnya, bukan berdasarkan penyerahan wewenang dari Pemerintah. Desa atau nama lainnya, yang selanjutnya disebut desa adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki kewenangan untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat berdasarkan asal-usul dan adat-istiadat setempat yang diakui dalam sistem Pemerintahan Nasional dan berada di Daerah Kabupaten. Landasan pemikiran yang perlu dikembangkan saat ini adalah keanekaragaman, partisipasi, otonomi asli, demokrasi, dan pemberdayaan masyarakat. Pengakuan otonomi di desa, Taliziduhu Ndraha (1997:12) menjelaskan sebagai berikut :
Show more

8 Read more

Politik Hukum Otonomi Desa Berdasarkan Undang-undang Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Desa

Politik Hukum Otonomi Desa Berdasarkan Undang-undang Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Desa

Village setting during this applies is no longer appropriate with the times, especially concern problem the position of customary law community, democracy and equitable development, Cousing the gap between regions which can interfere the integrity of the country. After the enactment of Law No. 6 2014 about the village, the position and authority of the village is based on the principle of autonomy that leads to the village form of independence. The principle above referred to the recognition principle and subsidiarity. Village honored in full by the supra-village as a legal entity, which was given the authority to megambil policy in the locality scale.The problems in this research are How legal political setting about the village by statute No.6 2014 about the village. How The Position of Village by statute No.6 2014 about the village. This study uses a type of normative juridical approach or also called doctrinal legal research. Called doctrinal legal research because research is done or directed only at the written regulations or materials other law. Methods and means of collecting legal materials is to use secondary data, that is data that has been established by previous researchers, or often referred to as a legal matter, the primary legal materials, secondary and tertiary.From the research results,that Law No.6 2014 about the village has given more power autonomy from the previous rules, that the village can the organization of village based culture and authenticity of the village without the intervention from government there on top. The position of village in this rules still be District or Town but the village not anymore is subordinate from District or Town. Village to District or Town only limited report responsibility the organization of village.
Show more

15 Read more

PEMAHAMAN OTONOMI DAERAH DALAM PERSFEKTIF UNDANG-UNDANG DASAR 1945 PASAL 18 TERHADAP KEUTUHANNKRI

PEMAHAMAN OTONOMI DAERAH DALAM PERSFEKTIF UNDANG-UNDANG DASAR 1945 PASAL 18 TERHADAP KEUTUHANNKRI

Berdasarkan hasil analisis Penulis bahwa peningkatan Pendapatan Asli Daerah Sementara (PADS) dan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) tiap Daerah Kabupaten/Kota di Wilayah III Cirebon ada peningkatan secara signifikan dari setiap Tahun anggaran. Hal ini didasarkan atas adanya pelayanan dasar yang merupakan urusan pemerintahan yang bersifat wajib bagi daerah Kabupaten/Kota meliputi: Peningkatan Pendidikan dasar, Penyelenggaraan Kesehatan, Pemenuhan kebutuhan hidup minimal, serta daya beli, dan Prasarana lingkungan dasar. Sedangkan urusan pemerintahan yang bersifat pilihan terkait dengan potensi unggulan dan kekhasan daerah Kabupaten/Kota. Sehingga menurut UU Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dapat memberikan harapan baru bagi daerah Kabupaten/Kota, dimana dengan pelaksanaan otonomi ini diharapkan potensi-potensi daerah
Show more

29 Read more

PENGARUH UNDANG-UNDANG NO. 6 TAHUN 2014 TENTANG DESA TERHADAP OTONOMI DESA ADAT DI BALI

PENGARUH UNDANG-UNDANG NO. 6 TAHUN 2014 TENTANG DESA TERHADAP OTONOMI DESA ADAT DI BALI

104 ini mengatur pelaksanaan kewenangan berdasarkan asal-usul serta kewenangan berskala lokal ini berarti secara tegas pemerintah memberikan Desa Adat otonomi dalam menjalankan Adat itu sendiri. Hal ini juga diatur dalam pasal 105 menyatakan Pelaksanaan kewenangan yang ditugaskan dan pelaksanaan kewenangan lain dari pemerintah, pemerintah Daerah Provinsi, atau Pemerintah Kabupaten/ kota sebagai mana dimaksud dalam pasal 19 huruf c dan huruf d diurus oleh desa adat. Sedangkan apa yang menjadi tugas Desa adat, terdapat dalam pasal 106 disebutkan: (1). Penugasan dari Pemerintah dan /atau Pemerintah Daerah kepada Desa Adat meliputi penyelenggaraan Pemerintahan Desa Adat, pelaksanaan Pembangunan Desa Adat, pembinaan kemasyarakatan Desa Adat, dan pemberdayaan masyarakat Desa Adat. (2). Penugasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disertai dengan biaya. Pada bagian ketiga Pemerintahan Desa Adat terutama serperti apa yang diatur dalam pasal 107 dinyatakan Pengaturan dan penyelenggaraan Pemerintahan Desa Adat dilaksanakan sesuai dengan hak asal usul dan hukum adat yang berlaku di Desa adat yang masih hidup serta sesuai dengan perkembangan masyarakat dan tidak bertentangan dengan asas penyelengaraan Desa Adat dalam prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dalam pasal 108 Desa Adat diberikan hak sepenuhnya menyelenggarakan musyawarah Desa Adat yang mana hal ini telah dilaksanakan di masyarakat Bali sejak jaman dahulu kala sejak nenek moyang orang Bali. Hal ini lagi dipertegas pada pasal 108 sebagai berikut: Pemerintah Desa Adat menyelenggarakan fungsi permusyawaratan dan musyawarah Desa Adat sesuai dengan susunan asli Desa Adat atau dibentuk baru sesuai dengan prakarsa masyarakat Desa Adat. Sesuai dengan pasal ini berarti Desa Adat diberikan kewenangan membentuk baru bila masyarakat itu belum memiliki lembaga permusyawaratan / tatanan musyawarah Desa Adat. Mengenai susunan dan kelembagaan dan pengisian jabatan juga diberikan kepada Desa Adat mengatur sendiri seperti yang diatur dalam pasal 109 yaitu Susunan kelembagaan, pengisian jabatan, dan masa jabatan Kepala Desa Adat berdasarkan hukum adat ditetapkan dalam peraturan daerah Provinsi. Ini berarti peraturan mengenai kelembagaan dan pengisian jabatan itu dikuat dengan peraturan provinsi.
Show more

9 Read more

EKSITENSI BUMDes DARI ASPEK OTONOMI BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NOMOR 32 TAHUN 2004 - Repository UNRAM

EKSITENSI BUMDes DARI ASPEK OTONOMI BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NOMOR 32 TAHUN 2004 - Repository UNRAM

PENDAHULUAN 1. LATAR BELAKANG Pemerintahan Daerah diberikan kewenangan penuh dalam hal mengurus sendiri rumah tangganya berdasarkan asas otonomi daerah dan tugas pembantuan dan dijalankankan oleh pemerintah daerah, pemerintah daerah menjalankan urusan pemerintahan daerah sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang terdiri dari Gubernur, Bupati, dan Wali Kota untuk menjalankan pemerintahan di Provinsi, Kabupaten dan Kota.

21 Read more

Kebijakan Politik Otonomi Daerah Berdasarkan Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945

Kebijakan Politik Otonomi Daerah Berdasarkan Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945

Politik hukum otonomi terjadi atau ditentukan oleh beberapa hal yaitu UUD yang mendasari pengaturan otonomi dan kecenderungan kebijaksanaan umum kearah sentralisasi atau desentralisasi. Dari penjelasan ini dapat ditangkap bahwa otonomi luas secara intrinsic mengandung ancaman tertentu terhadap keutuhan Negara kesatuan. Sayangnya tidak pernah ada kejelasan mengenai bagaimana sesungguhnya isi otonomi yang dikehendaki UUD 1945 dan apakah mungkin menyebut otonomi seluas- luasnya mengandung bahaya, sedangkan hal tersebut belum pernah dilaksanakan atau ada pengalaman lain yang dapat dipengunakan sebagai petunjuk.
Show more

9 Read more

IMPLEMENTASI OTONOMI KHUSUS DI PROVINSI ACEH BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NOMOR 11 TAHUN 2006 *) ABSTRACT

IMPLEMENTASI OTONOMI KHUSUS DI PROVINSI ACEH BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NOMOR 11 TAHUN 2006 *) ABSTRACT

keistimewaan, akan diwujudkan dalam bentuk pelaksanaan Syariat Islam bagi pemeluknya dalam Provinsi Aceh. Dalam penjelasan Pasal 4 ayat (2) dijelaskan arti “mengembangkan dan mengatur penyelenggaraan kehidupan beragama” yaitu mengupayakan dan membuat kebijakan daerah untuk mengatur kehidupan masyarakat yang sesuai dengan ajaran Islam serta meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT. Kehidupan masyarakat yang sesuai dengan ajaran Islam akan diatur dan dikembangkan dengan Qanun dan Peraturan Gubernur dengan jaminan bahwa pemeluk agama lain, tetap mempunyai hak dalam melaksanakan ibadah sesuai dengan agamanya dan keyakinan masing- masing. Jaminan seperti itu dapat dilihat ketentuan Pasal 127 Ayat (2) UU Nomor 11 tahun 2006 yang bunyinya: ”Pemerintahan Aceh dan pemerintahan kabupaten/kota menjamin kebebasan, membina kerukunan, menghormati nilai-nilai agama yang dianut oleh umat beragama dan melindungi sesama umat beragama untuk menjalankan ibadah sesuai dengan agama yang dianutnya”.
Show more

28 Read more

Aktualisasi Asas Otonomi dalam Undang-undang Nomor 23 Tahun 2014 Tentang Otonomi Daerah

Aktualisasi Asas Otonomi dalam Undang-undang Nomor 23 Tahun 2014 Tentang Otonomi Daerah

memasuki masa reformasi yaitu Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 merupakan salah satu undang- undang yang mengatur tentang Pemerintahan Daerah. Undang- undang ini disahkan pada tanggal 15 Oktober tahun 2004. Dalam Pasal 239 dengan tegas menyatakan bahwa dengan berlakunya undang-undang ini, undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah dinyatakan tidak berlaku lagi. Undang-Undang baru ini memperjelas dan mempertegas hierarki antara kabupaten dan provinsi, antara provinsi dan pemerintah pusat berdasarkan asas kesatuan administrasi dan kesatuan wilayah. Pemerintah pusat berhak melakukan koordinasi, supervisi, dan evaluasi terhadap pemerintahan di bawahnya, demikian juga provinsi terhadap kabupaten/kota. Disamping itu, hubungan kemitraan dan sejajar antara kepala daerah dan DPRD semakin di pertegas dan diperjelas. 30
Show more

14 Read more

PEMAHAMAN OTONOMI DAERAH DALAM PERSFEKTIF UNDANG-UNDANG DASAR 1945 PASAL 18 TERHADAP KEUTUHAN NKRI

PEMAHAMAN OTONOMI DAERAH DALAM PERSFEKTIF UNDANG-UNDANG DASAR 1945 PASAL 18 TERHADAP KEUTUHAN NKRI

4 Kab. Majalengka - 5 Kab. Indramayu 541.080.331.938 Sumber data: Dispenda Kab/Kota Berdasarkan hasil analisis Penulis bahwa peningkatan Pendapatan Asli Daerah Sementara (PADS) dan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) tiap Daerah Kabupaten/Kota di Wilayah III Cirebon ada peningkatan secara signifikan dari setiap Tahun anggaran. Hal ini didasarkan atas adanya pelayanan dasar yang merupakan urusan pemerintahan yang bersifat wajib bagi daerah Kabupaten/Kota meliputi: Peningkatan Pendidikan dasar, Penyelenggaraan Kesehatan, Pemenuhan kebutuhan hidup minimal, serta daya beli, dan Prasarana lingkungan dasar. Sedangkan urusan pemerintahan yang bersifat pilihan terkait dengan potensi unggulan dan kekhasan daerah Kabupaten/Kota.
Show more

26 Read more

BAB I PENDAHULUAN. untuk menyelenggarakan otonomi daerah. Dalam pasal 18 Undang-Undang Dasar

BAB I PENDAHULUAN. untuk menyelenggarakan otonomi daerah. Dalam pasal 18 Undang-Undang Dasar

Setelah proklamasi RI berdasarkan surat keputusan Gubernur Militer Sumatera Tengah nomor : 10/GM/STE/49 tanggal 9 November 1949, Kabupaten Kampar merupakan salah satu Daerah Tingkat II di Provinsi Riau terdiri dari kawedanaan Pelalawan, Pasir Pangarayan, Bangkinang dan Pekanbaru Luar Kota dengan Ibu Kota Pekanbaru. Kemudian berdasarkan Undang-Undang No. 12 Tahun 1956 ibu kota Kabupaten Kampar dipindahkan ke Bangkinang dan baru terlaksana tanggal 6 Juni 1967 dengan alasan Bangkinang terletak di tengah- tengah daerah Kabupaten Kampar, yang dapat dengan mudah untuk melaksanakan pembinaan di seluruh wilayah kecamatan dan sebaliknya.
Show more

21 Read more

PENYELENGGARAAN OTONOMI DAERAH BIDANG PENDIDIKAN BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NOMOR 23 TAHUN 2014 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH

PENYELENGGARAAN OTONOMI DAERAH BIDANG PENDIDIKAN BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NOMOR 23 TAHUN 2014 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH

Mengingat bahwa Indonesia adalah negara Kesatuan, maka Otonomi daerah dapat dikatakan sebagai sebuah instrument untuk memelihara negara kesatuan berdasarkan hukum untuk mewujudkan pemerataan kesejahteraan, dan keadilan di berbagai bidang di seluruh daerah di Indonesia. Selain itu pula, dengan otonomi daerah, pelaksanaan demokrasi dapat diperluas dimana setiap wilayah yang berada di Indonesia dapat secara mandiri mengatur dan mengurus rumah tangganya. Hal tersebut sangat penting untuk menunjukkan bahwa kehadiran daerah tetap penting walaupun terdapat tuntutan kesatuan negara Indonesia. Serta dengan adanya otonomi, kesejahteraan umum dapat diwujudkan secara lebih efektif dan efisien pada setiap daerah, mengingat bahwa dalam mewujudkan kesejahteraan umum tentu akan dihadapkan dengan keadaan-keadaan yang berbeda dari setiap daerah, dan mengikuti dinamika dari kebutuhan masyarakat daerah setempat. 7
Show more

11 Read more

Undang - undang No. 18 Tahun 2003

Undang - undang No. 18 Tahun 2003

Dalam usaha mewujudkan prinsip¬prinsip negara hukum dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara, peran dan fungsi Advokat sebagai profesi yang bebas, mandiri dan bertanggung jawab merupakan hal yang penting, di samping lembaga peradilan dan instansi penegak hukum seperti kepolisian dan kejaksaan. Melalui jasa hukum yang diberikan, Advokat menjalankan tugas profesinya demi tegaknya keadilan berdasarkan hukum untuk kepentingan masyarakat pencari keadilan, termasuk usaha memberdayakan masyarakat dalam menyadari hak¬hak fundamental mereka di depan hukum. Advokat sebagai salah satu unsur sistem peradilan merupakan salah satu pilar dalam menegakkan supremasi hukum dan hak asasi manusia.
Show more

23 Read more

Undang Undang No 18 Tahun 2013

Undang Undang No 18 Tahun 2013

Hutan Indonesia merupakan salah satu hutan tropis terluas di dunia sehingga keberadaanya menjadi tumpuan keberlangsungan kehidupan bangsa-bangsa di dunia, khususnya dalam mengurangi dampak perubahan iklim global. Oleh karena itu, pemanfaataan dan penggunaannya harus dilakukan secara terencana, rasional, optimal, dan bertanggung jawab sesuai dengan kemampuan daya dukung serta memperhatikan kelestarian fungsi dan keseimbangan lingkungan hidup guna mendukung pengelolaan hutan dan pembangunan kehutanan yang berkelanjutan bagi kemakmuran rakyat. Hal itu sesuai dengan ketentuan Pasal 33 ayat (3) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang menyatakan bahwa bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Dengan demikian, hutan sebagai salah satu sumber kekayaan alam bangsa Indonesia dikuasai oleh negara.
Show more

92 Read more

PEMBERIAN BANTUAN HUKUM CUMA-CUMA OLEH ADVOKAT BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NO. 18 TAHUN 2003 TENTANG ADVOKAT

PEMBERIAN BANTUAN HUKUM CUMA-CUMA OLEH ADVOKAT BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NO. 18 TAHUN 2003 TENTANG ADVOKAT

advokat merupakan profesi yang mulia. Dikatakan mulia karena advokat dapat menjadi mediator bagi pihak yang bersengketa tentang suatu perkara, baik berkaitan dengan perkara pidana, perdata, maupun tata usaha negara. Selain itu seorang advokat dapat juga menjadi fasilitator dalam mencari kebenaran dan menegakkan keadilan untuk membela hak asasi manusia dan memberikan pembelaan hukum yang bersifat bebas dan mandiri. Frans Hendra Winarta mengemukakan bahwa profesi advokat sesungguhnya sangat sarat dengan idealisme. Sejak profesi ini dikenal secara universal sekitar 2000 tahun yang lalu, advokat sudah dijuluki sebagai profesi mulia. Profesi advokat itu mulia karena advokat mengabdikan dirinya kepada kepentingan masyarakat dan bukan kepada dirinya sendiri, serta berkewajiban untuk menegakkan hak asasi manusia. Di samping itu advokat bebas dalam membela, tidak terikat pada perintah, order klien dan tidak pilih bulu siapa lawan kliennya, apakah golongan kuat, pejabat, penguasa, dan sebagainya. 7
Show more

22 Read more

UNDANG-UNDANG. Oleh: PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. Nomor: 17 TAHUN 1965 (17/1965) Tanggal: 23 AGUSTUS 1965 (JAKARTA) Sumber: LN 1965/79; TLN NO.

UNDANG-UNDANG. Oleh: PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. Nomor: 17 TAHUN 1965 (17/1965) Tanggal: 23 AGUSTUS 1965 (JAKARTA) Sumber: LN 1965/79; TLN NO.

Pelaksanaan ekonomi terpimpin mengharuskan Pemerintah memegang pimpinan dalam bidang ekonomi, dimana Perusahaan-perusahaan Negara harus diperkembangkan hingga mencapai kedudukan komando, yang kesemuanya itu menjamin perkembangan revolusi dari tahap nasional demokratis untuk memasuki tahap sosialisme Indonesia. Semuanya ini mengharuskan adanya suatu sistim pemeriksaan dan pengawasan yang dapat berkerja secara represip maupun preventip, serta adanya suatu aparatur Negara yang sebagai alat revolusi berkewajiban pula menyelamatkan, mempertahankan dan melanjutkan revolusi Indonesia dengan meniadakan hambatan-hambatan seperti birokratisme, mis-administration dan korupsi, serta mencegah pemborosan-pemborosan yang merugikan Negara. Kalau hal-hal yang bertalian dengan tindakan-tindakan pemeriksaan dan pengawasan yang, dilakukan oleh Urusan Pengawasan Keuangan pada Departemen Anggaran Negara, yang bekerja secara pemeriksaan dan pengawasan intern dalam lingkungan kekuasaan eksekutip sudah diatur dengan Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 29 tahun 1963 tentang Pengawasan Keuangan Negara, maka kedudukan dan wewenang aparatur Negara yang diberi tugas untuk melaksanakan pemeriksaan yang bekerja secara pemeriksaan yang bekerja secara pemeriksaan dan pengawasan extern itu kini perlu ditinjau kembali.
Show more

18 Read more

b) Undang Undang No. 18 Tahun 1999 tentang Jasa Konstruksi; c) Undang Undang No. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah;

b) Undang Undang No. 18 Tahun 1999 tentang Jasa Konstruksi; c) Undang Undang No. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah;

Berdasarkan Keputusan Menteri Kimpraswil No. 257/KPTS/M/2004, tanggal 29 April 2004, tentang Standard an Pedoman Pengadaan Jasa Konstruksi, maka pengguna jasa atau Pinpro/Pinbagpro diharuskan untuk mengadakan Rapat Persiapan Pelaksanaan Kontrak (Pre Construction Meeting) dengan melibatkan unsur-unsur yang terkait sesuai petunjuk yang tertera dalam surat Bapak Dirjen Bina Marga No. UM.02.05-Db/514 tanggal 19 Maret 1990, sebagai berikut:

27 Read more

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 1965 TENTANG POKOK-POKOK PEMERINTAHAN DAERAH PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 1965 TENTANG POKOK-POKOK PEMERINTAHAN DAERAH PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Adapun yang mengenai Jakarta, Pemerintah telah menetapkan status "istimewa", bukan saja karena kedudukannya sebagai Ibukota Negara, akan tetapi juga karena Jakarta merupakan kota pelabuhan yang penting sekali, lagi pula karena merupakan suatu kota teladan dan kota internasional yang mengingat luas dan jumlah penduduknya telah tumbuh kearah suatu kota metropolitis. Untuk menaikkan kedudukannya sebagai tempat yang sering harus menyelenggarakan bermacam kegiatan internasional, dan agar dapat memenuhi syarat-syarat istimewa sebagai kota teladan dan kota modern, begitu pula untuk menjunjung tinggi nama dan kehormatan Bangsa Indonesia, maka di Daerah ini harus dilaksanakan pembangunan secara besar-besaran yang intensif sekali. Maka karena itu, untuk mencapai efisiensi kerja yang cepat dan lancar menurut satu garis komando langsung yang tegas, bagi Daerah ini masih berlaku Penetapan Presiden No.2 tahun 1961, yang memberikan dasar dari pada status istimewa bagi Jakarta.
Show more

62 Read more

Show all 10000 documents...