Wayang Calonarang

Top PDF Wayang Calonarang:

Perancangan Buku Wayang Calonarang.

Perancangan Buku Wayang Calonarang.

Adapun gaya visual yang digunakan pada ilustrasi ini adalah naturalis dengan media tradisional yaitu cat minyak dan cat air serta media penunjang yaitu pensil warna. Gaya lain yang dipakai penulis adalah dari aliran impresionisme, dengan menampilkan kesan-kesan pada suatu objek dengan cara yang lebih dramatis untuk mendukung sisi emosi yang ditampilkan pada penokohan karakter. Perancangan ini nantinya akan menjadi sebuah bentuk visualisasi dalam media dua dimensi berupa desain buku yang berisikan visualisasi dari adegan cerita dalam cerita wayang Calonarang. Memvisualisasikan cerita wayang dalam bentuk artwork menjadi tantangan bagi penulis agar dapat menciptakan sebuah rancangan visual yang dapat menarik masyarakat banyak dan memberikan minat kepada mereka untuk melestarikan budaya wayang di Indonesia.
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

Struktur Estetika Pertunjukan Wayang Calonarang

Struktur Estetika Pertunjukan Wayang Calonarang

Penampilan merupakan keindahan yang bersifat indrawi dimana keindahan mampu memberikan kesenangan pada mata dalam melihat dan telinga dalam mendengar. Pada keindahan yang bersifat indrawi yang dilihat adalah penampilan pisik, hal ini dapat dilihat pada salah satu penampilan yang ada, misalnya pada tabuh iringannya terbuat bahan pilihan, berukir dan dicat prada sehingga sangat indah dipandang mata. Dari segi rasa estetik tabuh iringan Wayang Calonarang lakon Kautus Rarung dimainkan oleh penabuh yang mempunyai ketrampilan/skill dibidangny masing-masing, sehingga tabuh yang dihasilkan bagus. Dari pakaian (costume) penabuh yang dilihat dari bentuk dan warnanya sangat harmonis. Dari
Baca lebih lanjut

4 Baca lebih lajut

Simbolisme Dan Mistikisme Pertunjukan Wayang Calonarang Lakon Kautus Rarung Oleh Dalang Ida Bagus Sudiksa

Simbolisme Dan Mistikisme Pertunjukan Wayang Calonarang Lakon Kautus Rarung Oleh Dalang Ida Bagus Sudiksa

Diantara pertujukan Wayang Calonarang yang penulis pernah saksikan, cerita yang diangkat hampir sama, timbulnya konflik karena Diah Ratna Menggali batal dipinang oleh Raja Kediri, menyebabkan ibu Diah Ratna menggali bernama Walu Nateng Dirah merasa tersinggung dan sakit hati, karena martabatnya direndahkan oleh Raja Kediri. Karena tidak terima dengan perlakuan prabu Kediri, maka Walu Nateng Dirah mengadakan penyerangan ke Kerajaan Kediri, dengan menggunakan ilmu hitam ( pengeleakan ). Hal itu terlihat pada adegan ke tiga yaitu pada adegan pengundangan, yang sering diwakilkan oleh tokoh punakawan Twalen sebagai wakil dari dalang, menantang langsung orang yang mempelajari pengeleakan atau pelaku ilmu hitam, untuk mengadu kemampuan di lapangan, bahkan di saat emosinya sang dalang sedang me luap- luap, tidak segan- segan mengatakan ciri-ciri orang yang melakukan ilmu hitam apabila
Baca lebih lanjut

177 Baca lebih lajut

Sarana Pertunjukan Wayang Calonarang Lakon Kautus Rarung Dalang Ida Bagus Sudiksa - ISI Denpasar

Sarana Pertunjukan Wayang Calonarang Lakon Kautus Rarung Dalang Ida Bagus Sudiksa - ISI Denpasar

Musik mempunyai peran yang sangat penting, sehingga diperlukan seorang yang bertanggung jawab penuh atas keberadaan musik iringan tersebut. Dengan diperdengarkan musik, penonton akan bertambah tertarik dan terpengaruh imajinasinya. Musik yang baik dan tepat bisa membantu aktor membawakan warna dan emosi peranannya dalam adegan. 4 Begitu pula halnya dengan pertunjukan Wayang Calonarang lakon Kautus Rarung, tabuh iringannya mampu mempengaruhi suasana pertunjukan. Instrumwn yang digunakan dalam pertunjukan Kautus Rarung yang dimainkan oleh musisi yang mempunyai kemampuan sesuai dengan bidangnya. Mengingat pentingnya tabuh iringan dalam pertunjukan Wayang Calonarang lakon Kautus Rarung oleh dalang Ida Bagus Sudiksa mempercayakan garapan tabuh iringan kepada salah seorang seniman karawitan Bali yang merupakan alumnus ISI Denpasar, yaitu I Wayan Pustaka Alit S.Sn. Musik/tabuh mempunyai peranan yang sangat penting dalam pertunjukan wayang. Musik yang baik akan mampu membuat orang terhanyut pada keadaan yang dipentaskan dalam wayang. Penonton akan dibawa hanyut ke dalam pertunjukan. Harmonisasi dalam musik/tabuh iringan dengan gerak wayang akan mengangkat suasana pertunjukan. Tabuh iringan yang digunakan dalam pertunjukan wayang bermacam-macam seperti; Gender Wayang, Bebatelan, Angklung, Semaradahana, Semar Pegulingan dan sebagainya. Tabuh iringan yang digunakan dalam pertunjukan Wayang Calonarang lakon Kautus Rarung adalah barungan Gong Semaradahana. Alasan dalam pertunjukan tersebut menggunakan tabuh Semaradahana menurut informan dalang adalah karena iringan tabuh tersebut sangat tepat dengan pementasan Wayang Calonarang terutama untuk tabuh bebarongan, pengelinangkara Rangda (tunjang Rangda), dan tunjang Rarung, tabuh juga akan membangkitkan aura mistik dalam pertunjukan Wayang Calonarang, lebih-lebih pada saat ngereh yang dilakukan di Pemuwunan Setra (kuburan). 5 Dalam tabel di bawah ini akan dijelaskan barungan semaradahana beserta nama-nama para penabuh yang mengiringi
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

Struktur Pertunjukan Wayang Calonarang Lakon Kautus Rarung Dalang Ida Bagus Sudiksa

Struktur Pertunjukan Wayang Calonarang Lakon Kautus Rarung Dalang Ida Bagus Sudiksa

Struktur pertunjukan Wayang Calonarang persembahan dalang ida Bagus Sudiksa tidak mengalami perubahan, karena masih mengikuti struktur pertunjukan tradisional, seperti tari kayonan I, nyejer , tari kayonan II ( ngabut kayonan ), petangkilan , penyacah kanda , pengalang ratu (bebaturan), angkat-angkat , dan siat . Pertunjukan Wayang Calonarang ini kalau dilihat dari fungsinya termasuk seni balih-balihan, karena merupakan tontonan di luar jalannya upacaya, dan bebas dinikmati oleh siapapun yang ingin menonton pertunjukan tersebut. Begitu pula wayang Calonarang dipentaskan di luar pura, yaitu di Pemuwunan Setra Pura Dalem Desa Kerobokan, lokasinya ada di pinggir jalan utama. Tempatnya dapat dijangkau dan dinikmati oleh penonton masyarakat umum, tidak terikat dengan aturan-aturan pakaian adat seperti layaknya orang ke Pura, Esensi atau makna pertunjukan ini ada kesucian (sakral), karena mengungkap mistikisme kehidupan tokoh yang berperan penting (tokoh antagonis) di dalam ceritera Calonarang.
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

Struktur Pertunjukan Wayang Calonarang Lakon Kautus Rarung Dalang Ida Bagus Sudiks1

Struktur Pertunjukan Wayang Calonarang Lakon Kautus Rarung Dalang Ida Bagus Sudiks1

Adegan petangkilan dalam pewayangan Bali sering disebut dengan istilah peguneman, yang mempunyai makna persidangan atau bermusyawarah. Tokoh-tokoh wayang yang akan pergi ke persidangan diiringi oleh gending yang disesuaikan dengan irama musik iringan (tabuh gamelan). Nardayana mengatakan bahwa, motif gending petangkilan dalam Wayang Kulit Bali ada tiga jenis, yaitu alas harum, rundah dan candi rebah. Alas harum adalah gending yang dipakai oleh dalang untuk mengiringi wayang-wayang yang berkarakter halus ke persidangan, misalnya: Tokoh Darmawangsa, Kresna, Kunti. Rundah adalah gending yang dipakai oleh dalang untuk mengiringi wayang-wayang yang berkarakter keras atau dadeling (bermata bulat) pergi ke persidangan, misalnya tokoh Duryodana dan Dursasana. Sedangkan candi rebah adalah gending yang dipakai oleh dalang untuk wayang- wayang yang berkarakter raksasa, misalnya tokoh Rahwana, Kumbakarna dan lain-lain. 7 Tabuh gamelan pada iringan musik pewayangan Ramayana ada perbedaan dengan tabuh gamelan iringan musik pewayangan Calonarang. Di dalam pertunjukan Wayang Calonarang lakon Kautus Rarung oleh dalang Ida Bagus Sudiksa, tokoh-tokoh yang terlibat di petangkilan atau musyawarah adalah: Prabu Erlangga, Patih Madri, Twalen dan Mredah
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

Struktur Nilai Simbolisme dan Mistikisme Pertunjukan Wayang Calonarang - ISI Denpasar

Struktur Nilai Simbolisme dan Mistikisme Pertunjukan Wayang Calonarang - ISI Denpasar

Upakara (bebantenan) kalau dilihat dari bentuk sudah jelas merupakan lambang, akan tetapi kalau ditinjau dari segi fungsinya adalah mistik, karena upakara merupakan sarana untuk memanggil (pengaradan), maka berbeda dari bentuk upakara, berbeda pula fungsinya. Unsur mistik yang terkandung pada upakara (bebantenan) pada pementasan Wayang Calonarang lakon Kautus Rarung, merupakan sarana untuk memanggil (ngarad) guna diberikan suguhan atau upah. Upakara atau bebantenan yang diperlukan sudah jelas jauh lebih besar dari pementasan wayang biasa (selain Wayang Calonarang). Seperti halnya dalam rangka kegiatan upacara agama, kemudian mengundang beberapa pemuka beserta jajarannya, maka patut dipersiapka segala sesuatu untuk menyambut para undangan. Bukan hanya pemuka tertentu saja yang disuguhkan hidangan, melainkan jajarannyapun mesti ikut serta dapat menikmati menu (hidangan yang perlu dipersiapkan) oleh tuan rumah. Begitu pula halnya dengan pertunjukan Wayang Calonarang sajian ida Bagus Sudiksa, karena begitu banyaknya para undangan merupakan rencang-rencang (pengikut) Betari Dalem yang diundang oleh sang dalang, untuk ikut serta menyaksikan pertunjukan, bahkan ikut ambil bagian di dalam pertunjukan tersebut, maka dari itu harus disediakan makanan, minuman kesukaan para undangan. Adapun upakara yang disajikan sebagai berikut:
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

Unsur Mistik Pada Pertunjukan Wayang Calonarang Bagian II

Unsur Mistik Pada Pertunjukan Wayang Calonarang Bagian II

1). Simbol dari pohon sebagai hiasan panggung pertunjukan Wayang Calonarang adalah pohon gedang renteng, pohon kenyongnyong,dan pohon sukun. Gedang renteng adalah pohon pepaya yang berbuah kecil-kecil dan banyak, pohon kenyongnyong menyerupai pohon pule, tetapi daunnya lebih lebar dan panjang, dan pohon sukun menyerupai pohon timbul hanya buahnya tidak berduri. Ketiga pohon di atas sangat disenangi sebagai tempat perubahan wujud dan tempat bersenang-senang (tongos meselikuan) oleh pelaku mistik (ngeleak). 7 Pohon kenyongnyong dan pohon sukun jarang dipakai sebagai hiasan panggung panggung, baik panggung pertunjukan Wayang Calonarang maupun panggung teater Drama Tari Calonarang, karena pohon keduanya itu besar, agak sulit dipindahkan. 2). Simbol dari tempat pementasan di tempat pembakaran mayat (Pemuwunan
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

Unsur Mistik Pada Pertunjukan Wayang Calonarang Bagian I

Unsur Mistik Pada Pertunjukan Wayang Calonarang Bagian I

Kata unsur artinya; bagian, elemen. Mistik yang dapat diartikan; kandungan sebagai penyebab olah rasa secara spontanitas mengalami perubahan. Jadi unsur-unsur mistik adalah bagian-bagian atau elemen-elemen yang mengandung sebagai penyebab olah rasa pada seseorang secara spontanitas mengalami perubahan disaat menyaksikan pertunjukan. Perubahan perasaan tersebut terdapat pada bagian-bagian tertentu di dalam pertunjukan Wayang Calonarang lakon Kautus Rarung yang meliputi :

7 Baca lebih lajut

Perancangan Buku Visual Wayang Calonarang.

Perancangan Buku Visual Wayang Calonarang.

Adapun gaya visual yang digunakan pada ilustrasi ini adalah naturalis dengan media tradisional yaitu cat minyak dan cat air serta media penunjang yaitu pensil warna. Gaya lain yang dipakai penulis adalah dari aliran impresionisme, dengan menampilkan kesan-kesan pada suatu objek dengan cara yang lebih dramatis untuk mendukung sisi emosi yang ditampilkan pada penokohan karakter. Perancangan ini nantinya akan menjadi sebuah bentuk visualisasi dalam media dua dimensi berupa desain buku yang berisikan visualisasi dari adegan cerita dalam cerita wayang Calonarang. Memvisualisasikan cerita wayang dalam bentuk artwork menjadi tantangan bagi penulis agar dapat menciptakan sebuah rancangan visual yang dapat menarik masyarakat banyak dan memberikan minat kepada mereka untuk melestarikan budaya wayang di Indonesia.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

Penggunaan Bahasa Dalam Wayang Calonarang Lakon Kautus Rarung Dalang Ida Bagus Sudiksa - ISI Denpasar

Penggunaan Bahasa Dalam Wayang Calonarang Lakon Kautus Rarung Dalang Ida Bagus Sudiksa - ISI Denpasar

Gumeter...gatinikang Pertiwitala, Apah, Teja, Bayu, Akasa, Wintang Trenggana muang ikang Surya Candra. Umerep ri sahinganing premana, swasta ya paripurna tan kecawuhing pangila-ila muang tekang sosot sapa. Antyanta menggalaning sembahing ulun ri padana sira Hyang. Mijil...! Sanghyang Ringgit ya ta molah cara, wet tinuduh denira Sanghyang Perama Kawi, ekanira Sanghyang Guru Reka, paran ri sapretingkahira ya iketa maka manggeh Dang Guru Carita, purwa ikang krama wada, Mpu Beradah mangarcana ketatwaning carita, Pengiwa lawan Penengen, Aweci lawan Dharma, ya ta matemahan Carita Calonarang, ah...ah....ah...! hoh...hoh... hoh...! leyak mai-mai Mapupul sedaya, ya ta panungguning setra matunggalan lawan sariranku. Pamurtyaning Betari, Candi Kusuma mungguh ring Jejeleg, Krak Kumuda ring Papusuhan, belah Sanghyang Ibu Pertiwi..! mijil Pamurtyaning leak gundul, kita dadi petapakan suku kiwa-tengen, mai...mai...mai...! ah...ah...ah...! hoh...hoh...hoh...! Saksana mijil...! Sanghyang Kawi Swara Murthi amunggel punang carita. Mara sadanira sira Nateng Kediri Pura nora ana waneh, sedeng ahum agendu rasa ana marikanang sabha, iniring tekap kriana patih, ndatan doh cerakanira maka ruang siki. Samangkana.... pamurwaning carita.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

BAB I  MUSEUM WAYANG KULIT DI YOGYAKARTA.

BAB I MUSEUM WAYANG KULIT DI YOGYAKARTA.

Di Indonesia baru memiliki empat museum Wayang. Salah satu dari museum Wayang Kulit adalah Padepokan Pak Bei Tani, lokasinya berada di Wuryantoro, JL.Wonogiri-Pracimantoro, Km 13,Wonogiri, Jawa Tengah. Bangunannya didirikan M.Ng.Prawirowihardjo yang menjadi Mantri Tani di daerah Wuryantoro pada tahun 1987. Museum ini meyimpan Wayang buatan dari daerah Surakarta dan Yogyakarta. Padepokan ini dibangun diatas tanah seluas 631 m 2 , dulunya dikelola Keluarga Cendana (Jakarta) dan Dalem Kalitan (Solo) kemudian diserahkan kepada Pemerintah Daerah Wonogiri. Selain dijadikan museum tempat ini juga untuk berlatih Seni Karawitan. Pada tanggal 1 September 2004, Museum Wayang Indonesia Wonogiri diresmikan Presiden Megawati Soekarno Putri. Museum ini sepi pengunjung karena jauh dari jalur wisata dan terletak diluar kota sehingga kurang dikenal. Selain faktor jarak juga bangunannya berupa padepokan rumah Joglo Jawa yang bisa terlihat dari luar bangunan.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

Hari Wayang 2016 “Wayang Cermin Kehidupan” | ISI Solo

Hari Wayang 2016 “Wayang Cermin Kehidupan” | ISI Solo

Kegiatan ini dimaksudkan untuk memperkenalkan berbagai jenis dan gaya pertunjukan wayang kepada masyarakat pemerhati wayang. Jenis dan ragam gaya pertunjukan wayang nusantara yang akan dipentaskan meliputi: wayang kulit purwa berbagai gaya (antara lain gaya Surakarta, Yogyakarta, Banyumasan, Jawa Timuran, gaya Bali), wayang golèk berbagai gaya (antara lain gaya Sunda, Kebumen, Tegal), wayang Palembang, wayang Banjar, wayang Sasak, wayang madya, wayang gedhog, wayang klithik, wayang bèbèr, wayang wahyu, wayang warta, wayang sadat, wayang suluh, wayang kampung sebelah, dan wayang kroncong.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

IMPLEMENTASI AJARAN ATHARVAVEDA DALAM PEMENTASAN DRAMATARI CALONARANG DI PURA DALEM GEDE DESA SUKAWATI KECAMATAN SUKAWATI (PerspektifPendidikan Agama Hindu) Oleh I Wayan Darmajaya Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar Wayandarmajaya11gmail.com Abstrak - I

IMPLEMENTASI AJARAN ATHARVAVEDA DALAM PEMENTASAN DRAMATARI CALONARANG DI PURA DALEM GEDE DESA SUKAWATI KECAMATAN SUKAWATI (PerspektifPendidikan Agama Hindu) Oleh I Wayan Darmajaya Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar Wayandarmajaya11gmail.com Abstrak - I

Nilai Tattwa dalam pementasan dramatari Calonarang ditonjolkan melalui Yadnya yang dilakukan dari tahap awal pementasan hingga pada akhir pementasan.Yadnya yang dilakukan dalam pementasan ini merupakan rasa sujud Bhakti masyarakat Desa Sukawati terhadap Sungsungan yang berstana di Pura Dalem dengan tulus ikhlas tanpa pamrih.Seperti halnya dalam ajaran agama Hindu mengamanatkan untuk mengembangkan yadnya dan cinta kasih ini sebagai sujud bhakti kehadapan Tuhan, sebab kehidupan akan berlangsung dengan seimbang bila dilandasi dengan yajnya dan cinta kasih. Bhakti adalah salah satu ajaran yang sangat ditekankan oleh Hindu sebagai aktivitas mendekatkan diri dan mohon perlindungan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa serta manifestasinya.
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

Komodifikasi Si Tektekan Calonarang Di Desa Baturiti Kerambitan Tabanan

Komodifikasi Si Tektekan Calonarang Di Desa Baturiti Kerambitan Tabanan

Implikasinya pada peningkatan keyakinan pelaku dan masyarakat setempat terhadap kekuatan magis barong dan rangda tersebut, peningkatan animo pasar, yang tentu berimplikasi pada peningkatan pendapatan ekonomi pelaku, masyarakat setempat. Komodifikasi Tektekan Calonarang juga berimplikasi terhadap pembentukan citra dan identitas pertunjukan Calonarang yang dimiliki desa tersebut. Seringnya Tektekan Calonarang tersebut dipentaskan berimplikasi terhadap konservasi, keberlangsungan Tektekan Calonarang itu, meningkatnya kuantitas pertemuan warga, yang secara tidak langsung berfungsi sebagai pengikat solidaritas sosial masyarakat setempat.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

PUPPET SKIN GLOW IN THE DARK

PUPPET SKIN GLOW IN THE DARK

Wayang Purwa memiliki kaitan dengan kegiatan berbudaya dan memiliki dua fungsi utama dalam pertunjukannya. Pertama adalah berfungsi sebagai sarana pengungkap kreatifitas seni dan yang kedua berfungsi sebagai sarana komunikasi dalam berbagai kepentingan, (Mutiyoso, 1997: 132). Fungsi ganda tersebut akhirnya dimanfaatkan oleh para ahli dalam berbagai hal tanpa menimbulkan masalah di masyarakat luas. Dengan adanya keberhasilan ini munculah berbagai wayang kreasi baru ciptaan para seniman wayang, baik kreasi dalam cerita/ lakon yang diangkat maupun bentuk gubahan rupa wayang yang keluar dari jalur (pakem). Wayang kontemporer mulai ada dan dikenal masyarakat sejak tahun 1920, lewat wayang ciptaan R.M. Sutarto Harjowahono yang diberi nama Wayang Wahana. Kemudian munculah Wayang Kancil (1925), Wayang Pancasila (1948), dan diikuti wayang-wayang kontemporer lainnya sampai dengan saat ini.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

SPESIFIKASI DAN KARAKTERISTIK WAYANG WAH (1)

SPESIFIKASI DAN KARAKTERISTIK WAYANG WAH (1)

Pergelaran Wayang Wahyu adalah proses tranformasi nilai yang menitikberatkan pada substansi dogmatis lewat media adaptif sebagai strategi alternatif dalam fenomena komunal; di mana nilai-nilai tersebut diterjemahkan dalam bahasa panggung lewat konflik kontemplatif. Wayang Wahyu mencoba membabarkan nilai-nilai moralitas kemanusia- an, etika dogmatis, antara kesesatan dan kebenaran religiusitas, spirituali- tas, keimanan, ritual psikologis, cinta kasih dan ketuhanan. Pementasan lakon Wayang Wahyu adalah pemaparan dan perenungan kembali tentang kebenaran hakiki dari kisah/sejarah masa lalu yang dipilih Tuhan un- tuk menjadi cermin dan bahan pendidikan untuk umat manusia sepanjang zaman. Oleh karena itu lakon-lakonnya tidak mengikuti hasrat dramatis penontonnya, melainkan mengusung nilai-nilai filsafat religius yang ber- muatan kontemplatif untuk membuka kesadaran moralitas beragama se- bagai bagian dari pendalaman iman.
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

PERANAN PRODUSER TERHADAP PRODUKSI PROGRAM DOKUMENTER “BUDAYA SEMATA WAYANG”.

PERANAN PRODUSER TERHADAP PRODUKSI PROGRAM DOKUMENTER “BUDAYA SEMATA WAYANG”.

 Karya dokumenter “Budaya Semata Wayang“ ini mengangkat kisah tentang sebuah kesenian wayang onthel. Perkembangan pesat kota Magelang saat ini tidak bisa dilepaskan oleh suatu budaya kesenian. Kesenian itu menjadi penting untuk membentuk jati diri warga masyarakatnya. Melalui suatu budaya dan kesenian, warga masyarakat juga dapat belajar serta memahami akan pentingnya menjaga, melestarikan dan mengembangkan budaya kesenian yang saat ini telah terlupakan oleh para generasi muda. Dengan mengangkat tema “Kesenian wayang Onthel”, penulis berharap warga masyarakat Indonesia pada umumnya bisa mengetahui Budaya Kesenian Wayang terbaru, yang mungkin bagi sebagian orang atau warga masyarakat belum mengetahuinya. Disusun dengan format, alur cerita dan bahasa serta sarana musik yang berbeda dengan wayang-wayang sebelumnya, wayang onthel ini hadir dengan konsep serta inspiratif yang berbeda, sehingga memunculkan suatu ketertarikan tersendiri bagi para penikmatnya atau generasi muda pada saat ini yang buta akan suatu kesenian tradisional. Program ini ditayangkan setiap hari
Baca lebih lanjut

20 Baca lebih lajut

Produksi Program Dokumenter menelusuri masterpiece budaya dalam `Cerita Dibalik Kantong Potehi`.

Produksi Program Dokumenter menelusuri masterpiece budaya dalam `Cerita Dibalik Kantong Potehi`.

Wayang Potehi merupakan salah satu jenis wayang khas Tionghoa yang berasal dari China bagian Selatan. Wayang ini memang unik dibandingkan jenis-jenis wayang yang ada di Indonesia, seperti wayang golek, wayang purwa, wayang beber, wayang klithik, wayang calon arang, wayang cupak, wayang gambuh, wayang madya, dan wayang gedog yang terbuat dari kulit dan kayu serta dilengkapi alat pemegang berbentuk seperti stik yang terbuat dari kayu, sedangkan wayang potehi terbuat dari kain. Cara memainkannya seperti pada “ boneka Unyil”, yaitu sang dalang
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

WAYANG RUMPUT (WAYANG SUKET) : Studi Visual Wayang Rumput.

WAYANG RUMPUT (WAYANG SUKET) : Studi Visual Wayang Rumput.

Kesenian yang merupakan salah satu bagian dari seni pertunjukan yaitu kesenian wayang. Kesenian wayang banyak didukung oleh bidang kesenian lain, seperti seni peran, seni suara, seni musik, seni tutur, seni sastra, seni lukis, seni pahat, dan juga seni perlambang. Kesenian wayang pada saat ini telah menjadi salah satu warisan dunia, seperti terbukti dengan hak paten yang diberikan UNESCO (United Nations Educational Scientific and Cultural Organization) bahwa wayang Indonesia sebagai Karya Agung Budaya Dunia (Masterpiece of the Oral and Intangible Heritage of Humanity), pada tanggal 7 November 2003 di
Baca lebih lanjut

50 Baca lebih lajut

Show all 1150 documents...