• Tidak ada hasil yang ditemukan

اوُلوُق

Dalam dokumen Prof. Dr. Ris'an Rusli (Halaman 63-96)

membutuhkan kebutuhan kodrati seperti halnya kebutuhan ingin mencintai dan dicintai oleh Allah.82 Allah telah menjelaskan di dalam QS. al-A’raf [7]: 172 tentang potensi manusia untuk mengabdi kepada-Nya, sebagaimana firman-Nya:

ِنَِب ْنِم َكُّبَر َذَخَأ ْذِإَو

َ ت ْنَأَنَْدِهَش ٰىَلَ ب اوُلاَق ْمُكِ بَرِب ُتْسَلَأ ْمِهِسُفْ نَأٰىَلَع ْمُهَدَهْشَأَو ْمُهَ تَّ يِ رُذ ْمِهِروُهُظ ْنِم َمَدآ

taat, kepatuhan atau ta’abud (penghambaan) yang mempunyai persamaan arti dengan attanasuk (pengabdian).84

Dari pengertian sadar dan ibadah, maka penulis menyimpulkan kesadaran akan beribadah, yakni perbuatan atau usaha mendekatkan diri kepada Allah dengan cara melakukan shalat dan menjalankan perintah serta menjauhi larangan-Nya yang dilakukan seorang hamba secara sadar.

Kesadaran akan ibadah merupakan suatu kewajiban hamba yang sangat fundamental bagi setiap manusia yang sudah baligh. Artinya, mereka sudah tahu mana benar dan mana salah, kewajiban manusia bukan hanya sadar akan ibadah akan tetapi itulah bentuk ketaatan kecintaan hamba kepada Allah SWT.

Agama berarti teks atau kitab suci dan diartikan sebagai tuntunan.

Menurut bahasa Arab, kata Din berarti menguasai, menundukan, patuh, hutang, balasan, kebiasaan. Selain kata diatas (agama atau Din), ada juga yang disebut religi yang berasal dari bahasa latin asal kata “relegere” yang berarti mengumpulkan dan membaca. Menurut pendapat lain kata tersebut berasal dari “religare” yang berarti mengikat.85 George Herbert Mead menyatakan teori tentang manusia disebut dengan Mead. Teori Mead berkembang dalam konteks alam pikiran dari teori Darwin (pencetus teori evolusi). Manusia adalah mahluk yang sangat rasional dan menyadari keberadaan dirinya. Tiap tindakan yang dilakukan oleh manusia benar-benar disadari dan dimengerti oleh manusia.

Manusia pasti menginginkan hubungan yang positif dengan orang lain.

Tidak ada seorang pun yang ingin dikucilkan dalam masyarakat. Wiliam Schutz, sebagaimana yang dikutip Jalaluddin Rakhmat, merinci kebutuhan sosial ini kedalam tiga hal: inclusion, control, affection. Kebutuhan sosial adalah kebutuhan untuk menumbuhkan dan mempertahankan hubungan yang memuaskan dengan orang lain dalam interaksi dan asosiasi (inclusion), pengendalian dan kekuasaan (control), serta cinta dan kasih sayang (affection).

Dengan demikian, penulis akan mengkaji fenomena pelaksanaan ibadah pada masyarakat Muslim, yang dikhususkan pada shalat fardhu dan shalat jum’at di desa Suka Damai kecamatan Talang Ubi kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir. Selain alasan karena belum ada penelitian yang membahas

84 Yusuf Qardhawi, Konsep Ibadah dalm Islam, (Surabaya: Cental Media, 2000), h. 22.

85 M. Ali Hasan, Studi Islam Al-Qur’an dan Sunnah, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2000), h. 19.

tentang fenomena tersebut di desa Suka Damai, juga karena masyarakat setempatnya sangat jarang yang melaksanakan ibadah shalat fardhu dan shalat jum’at di masjid, padahal dalam ajaran Islam, kedua ibadah tersebut menjadi tonggak utama sehingga menjadi sebuah kewajiban untuk dilaksanakan, terutama shalat jum’at di masjid.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini merupakan penelitian lapangan dengan metode kualitatif, yaitu penelitian yang lebih mendasarkan pada hal-hal bersifat diskursif, seperti transkrp dukumen, catatan lapangan, hasil wawancarA, dukumen tertulis dan data nondiskursif.86 Jenis penelitian ini menggunakan desain riset penelitian studi kasus, sehingga penelitian harus terjun langsung kelapangan untuk melihat, mengamati objek penelitian ini untuk mengetahui, menjelaskan atau memeparkan dan menguraikan hasil dari penelitian yang dilakukan di Desa Suka Damai Kecamatan Talang Ubi Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir.

Adapun sumber data yang digunakan adalah data primer dan sekunder.

Sedangkan teknik pengumpulan datanya menggunakan observasi, wawancara dan dokumentasi. Teknik analisa dalam penelitian ini adalah deskriptif analisis, yaitu mendeskripsikan dan menganalisis semua hal yang menjadi fokus dalam penelitian ini, Cara ini berangkat dari fakta atau peristiwa-peristiwa khusus yang terjadi di lapangan, kemudian ditarik kesimpulan secara umum.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Gambaran Umum dan Sejarah Desa Suka Damai

Desa Suka Damai merupakan daerah hasil pemekaran dari Desa Sukajadi. Secara Administrasi, ia masuk ke dalam kecamatan Talang Ubi, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir. Wilayahnya dimulai dari Perbatasan Palembang-Penukal Abab Lematang Ilir, di km 12 hingga ke km 17-18 dekat Kuburan Serong. Berbatasan langsung dengan kota Palembang membuat kawasan ini berkembang pesat. Desa Suka Damai memiliki batasan-batasan antara lain:

a. Sebelah Utara: Kecamatan Sumbawa

86 Pawito, Penelitian Komonikasi Kualitatif, (Yogyakarta: LKIS Pelangi Aksara, 2007), h. 37.

b. Sebelah Selatan: Kota madya Palembang c. Sebelah Barat: Kecamatan Rantau Bayur d. Sebelah Timur: Kecaatan Tamjumg Lago

Berdasarkan letak Geografisnya, desa Suka Damai ini dikelilingi oleh beberapa kecamatan, dengan Luas Wilayah ± 300 KM2 ( 30.000 Ha ), dan Orbitasi Jarak dari Pusat Pemerintahan yakni Jarak dari Pemerintah Kecamatan bekisar 19 KM dan Jarak dari Kabupaten Kota berkisar 36 KM.87

Pada awalnya, desa Suka Damai itu bermula dari desa Tembirai, terdiri dari 4 kampung. Pada saat itu terdapat kepala dusunnya yang disebut sebagai ketua talang, itu talang sebelum berdirinya Desa, karena kondisi keadaan masalah pendidikan dan masalah pemerintahan sangatlah jauh dari desa Suka Damai. Setelah itu lanjut ke talang akar, bergabung dengan talang akar pada tahun lebih kurang tahun 90-95. Setelah tahun 2003 seluruh warga dusun dari 4 dusun tersebut mengajukan permohonan ke pemerintahan desa talang akar untuk menjadi desa persiapan. Jadi pada tahun 2004, desa Suka Damai berdiri, menjadi desa persiapan. Selanjutnya lebih kurang 1 tahun desa Suka Damai menjadi desa sendiri, dan langsung melakukan pemilihan kepala desa pada tahun 2004, dan Desa Suka Damai tergabung menjadi 4 kampung yang terdiri dari 3 Dusun. Dusun 1 sungai emang, Dusun 2 lebung kuring, Dusun 3 nya Suka menanti dan talang biru.”88

Kewajiban Shalat menurut Masyarakat Desa Suka Damai

Dalam memahami ibadah shalat, hal yang paling utama dilakukan adalah memahami terlebih dahulu apa itu shalat. Hal tersebut merupakan sebuah landasan utama yang mencakup rangkaian shalat, jika belum mengerti pengertian shalat artinya ia belum mengerti dan paham tentang artian shalat yang sesungguhnya. Dari penelitian yang dilakukan mengenai pemahaman tentang ibadah shalat, maka penulis berpendapat bahwa banyak di antara masyarakat desa Suka Damai yang belum memahami artian shalat sesungguhnya. Hal ini dapat dilihat dari beberapa hasil wawancara yang dilakukan kepada beberapa masyarakat desa Suka Damai.

87 Dokumentasi Kantor Desa SukaDamai, Sejarah Desa Suka Damai, Tahun 2019.

88 Wawancara Tokoh Masyarakat, Bapak Gunawan pada tanggal 24 Januari 2020.

Di antara wawancara penulis dengan masyarakat setempat adalah dengan bapak Radianto, usia 46 tahun, seorang petani karet, ia menyatakan:

“Shalat kalau menurutku itu dilakukan oleh orang Islam, dan sebagai seorang Muslim harus melaksanakan shalat karena merupakan tiang agama yang paling utama”89

Senada dengan bapak Radianto, bapak Rianto Rusli, umur 54 tahun, kepala Desa Suka Damai yang bermata pencarian sebagai petani karet juga menyatakan;

“Shalat itu ya memang kewajibannya sebagai seorang Muslim, karena shalat merupakan salah satu perintah dari Allah SWT. Dalam satu hari, kita itu wajib melaksanakan shalat sebanyak 5 kali, yaitu Subuh, Dzuhur, Ashar, Magrib, dan Isya, tapi shalat itu alangkah lebih baiknya lagi apabila dikerjakan di masjid dan lebih baik di lakukan secara berjamaah.”90

Sama halnya dengan yang dikatakan bapak Asuan, umur 34 tahun sebagai seorang pegawai swsta, dan juga merupakan salah satu anggota masyarakat Desa Suka Damai, ia mengutarakan:

“Ya memang shalat fardhu itu hukumya wajib dilakukan bagi seorang Muslim, shalat Jum’at juga adalah sebuah ibadah yang dilakukan oleh seorang laki-laki dan dilaksanakan secara berjamaah di masjid.”91

Penyebab Masyarakat Muslim Desa Suka Damai Engggan Melaksanakan Shalat Fardhu dan Shalat Jumat di Masjid

Menurut hasil wawancara dan pengamatan yang telah dilakukan penulis di Desa Suka Damai, yaitu kami menemukan beberapa faktor yang menjadi penyebab kurangnya jamaah pada saat shalat fardhu dan shalat Jum’at di Masjid. Hal ini di kemukakan oleh tokoh Agama, bapak Zainuddin selaku Imam masjid di desa Suka Damai, antara lain:

a. Rendahnya kesadaran umat. Hal tersebut merupakan hasil dari penelitian yang dilakukan pada saat shalat fardhu bahkan shalat Jum’at sekalipun, shaf shalat yang ada dalam Masjid tidak lebih dari 1/2 baris, dan yang sedemikian tersebut terkadang juga tidak sepenuhnya.

89 Hasil wawancara bapak Radianto, 24 Desember 2020.

90 Hasil wawancara bapak Rianto Rusli, 24 Desember 2020.

91 Hasil Wawancara bapak Asuan, 24 Desember 2020.

b. Kurangnya fungsi manajemen Masjid dan alat media yang terkadang tidak berfungsi seperti mic dan lain-lain.

c. Kurangnya dorongan dan pengetahuan dari pada ahli agama seperti ustaz sehingga mereka menganggap hal itu seperti hal biasa saja.

d. Belum mendapatkan hidayah dari Allah SWT.92

Dari hasil wawancara dan data yang diperoleh, penulis dapat menyimpulkan bahwa banyak di antara masyarakat yang kurang tertarik untuk shalat berjamaah di Masjid. Hal itu karena kurangnya dorongan dan perhatian khusus dari tokoh agama dan pemerintah Desa dalam memberikan pemahaman tentang pentingnya shalat secara berjamaah di Masjid. Selain itu, bayak di antara mereka yang lebih mementingkan kehidupan dan kesenangan dunia, dibandingkan berbondong-bondong untuk mengejar akhirat.

Upaya yang Dilakukan Tokoh Agama Desa Suka Damai untuk Meningkatkan Kesadaran Berjamaah

Adapun upaya yang akan dilakukan oleh para tokoh agama desa Suka Damai dalam meningkatkan kesadaran jamaahnya untuk melaksanakan sholat berjama’ah di Masjid ialah seperti membuat spanduk, mengadakan ceramah dan diskusi agama, memberi contoh kepada jamaah dengan memulai dari struktur lapisan masyarakat terkecil yaitu keluarga, dalam hal ini keluarga sangat perlu memberikan perhatian dan pembelajaran lebih terhadap anggota keluarganya terkait keagamaan dan pendidikan agama kepada anak-anak, serta meningkatkan kerjasama dengan masyarakat, memberi materi sholat, pembelajaran praktek, memberi perhatian, membentuk kelompok yasinan, meningkatkan pelayanan kebersihan Masjid.

a. Membuat spanduk. Membuat spanduk merupakan salah satu cara yang dilakukan para tokoh agama dan pemerintah Desa untuk mengajak masyarakat agar melaksanakan sholat secara berjamaah, dengan memasang spanduk di pinggir jalan yang betuliskan ajakan dalam melakukan shalat berjamaah atau juga menuliskan hadis-hadis keutamaan sholat berjamaah di Masjid.

b. Mengadakan ceramah dan diskusi agama. Dengan adanya diskusi agama atau ceramah dapat memberikan pengahuan lebih kepada masyarakat, tidak

92 Hasil Observasi penulis, pada 23 Januari 2020.

hanya perihal shalat namun hal-hal lain yang akan membuat masyarakat tertarik untuk datang ke Masjid.

c. Pengurus masjid dan para pemerintah desa memberikan contoh kepada jamaah dengan datang setiap hari dan setiap waktu shalat dan melaksanakan shalat secara berjamaah. Dalam hal ini, Bapak Rudi mengatakan: “selaku pengurus Masjid tentulah saya wajib datang setiap hari. Ini dilakukan sebagai rasa tanggungjawab sebagai pengurusn maupun sebagai orang Muslim. Selain dari pada kami sebagai pengurus masjid, ada baiknya jika pemerintah desa juga ikut mengajak masyarakat disini untuk shalat berjamaah dimasjid, dengan dimulai dari pribadi masing-masing.

Shalat berjama’ah itu merupakan kewajiban untuk memenuhi kebutuhan dan sekaligus ibadah kalau dilakukan dengan ikhlas. Dengan demikian, harapan dari semua yang dilakukan bermuara kepada keberkahan dari tugas yang dilaksanakan (mardhatillah) dan telah menjadi contoh bagi penerapan bagi pengurus masjid”.93

d. Meningkatkan kebersihan Masjid bersih, akan meningkatkan minat masyarakat dalam beribadah. Karena dengan adanya masjid yang bersih akan membuat jamaah beribadah dengan nyaman, baik itu dari segi kebersihan lantai, sajadah, halaman, maupun WC atau toilet.

PENUTUP

Dari penelitian yang penulis lakukan, maka dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan ibadah baik itu shalat fardhu berjamaah maupun shalat Jum’at yang dilakukan secara rutin setiap minggunya sangatlah memprihatinkan. Hal ini disebabkan oleh berbagai persoalan-persoalan seperti persoalan ekonomi, lingkungan, perhatian, serta rendahnya tingkat pendidikan yang ada di desa tersebut. Masyarakat Desa Suka Damai lebih cenderung memilih suatu kegiatan yang menghasilkan uang dari pada berbondong-bondong untuk pergi ke Masjid untuk melaksanakan ibadah sholat berjamaah.

Berbagai macam upaya yang dilakukan para tokoh agama dan masyarakat Desa Suka Damai dalam meningkatkan kembali minat masyarakat dalam melaksanakan shalat berjamaah baik itu sholat fardhu maupun sholat Jum’at di masjid, di antaranya dengan memulai dari struktur lapisan masyarakat terkecil yaitu keluarga, dalam hal ini keluarga sangat perlu

93 Wawancara bapak Rudi, pada tanggal 25 Desember 2020.

memberikan perhatian dan pembelajaran lebih terhadap anggota keluarganya terkait keagamaan serta memberikan pendidikan Agama kepada anak-anak.

Selanjutnya memasang spanduk yang berisikan ajakan untuk menunaikan shalat berjamaah di masjid, mengadakan kegiatan keagamaan seperti majelis maupun ceramah-ceramah agama, memberikan contoh kepada masyarakat yang dimulai dari pengurus masjid dan pemerintah desa untuk melaksanakan sholat berjmaah di masjid, dan meningkatkan kebersihan masjid agar jamaah terasa nyaman saat beribadah.

DAFTAR PUSTAKA

Hasan, M. Ali. Studi Islam al-Qur’an dan Sunnah, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2000.

Pawito. Penelitian Komonikasi Kualitatif. Yogyakarta: LKIS Pelangi Aksara, 2007.

Qardhawi, Yusuf. Konsep Ibadah dalm Islam. Surabaya: Cental Media, 2000.

Satrio, Adi. Kamus Ilmiah Populer, Visi 7, 2005.

Susanti, Dian. Upaya Guru PAI dalam Meningkatkan Ketaatan Ibadah Siswa di SMP Negeri 2 Kecamatan Seputih Agung Kabupaten Lampung Tengah Tahun Pelajaran 2017-2018. Lampung: Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Metro, 2017.

Wawancara

Wawancara Tokoh Masyarakat, Bapak Gunawan pada tanggal 24 Januari 2020.

Wawancara bapak Radianto, 24 Desember 2020.

Wawancara bapak Rianto Rusli, 24 Desember 2020.

Wawancara bapak Asuan, 24 Desember 2020.

Wawancara bapak Rudi, pada tanggal 25 Desember 2020.

BAGIAN LIMA

PENGHAYATAN KAUL KETAATAN BAGI BIARAWATI DALAM MENJALANI HIDUP PADA ERA MODERN KONGREGASI SUSTER

SANTO FRANSISKUS CHARITAS PALEMBANG Oleh:

Trya Muharo Islam, Nur Fitriana, Nugroho Prodi Studi Agama-Agama

Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Abstrak

Dalam agama Katolik, saat ini biarawati memfokuskan dirinya kepada suatu panggilan, di mana ia diharuskan untuk mengikat janji dengan ketiga kaul yaitu, kaul kemiskinan, kemurnian, dan ketaatan. Penelitian ini fokus terhadapt Kaul ketaatan bagi Biarawati dalam menjalani hidup pada era modern saat ini. Dengan menganalisis data menggunakan pendekatan data reduction, data display, dan conclusion drawing, penelitian ini menunjukkan bahwa kaul ketaatan dimaknai oleh biarawati sebagai sebuah perpanjang tangan dari Tuhan, hidup setia, terbuka dan melakukan kehendak Tuhan melalui pelayanan dan ketaatan serta hidup seturut Injil Tuhan Yesus Kristus.

Kaul ketaatan merupakan suatu kurban yang sungguh-sungguh untuk diwujudkan dalam iman. Para biarawati mengimplementasikan kaul ketaatan antara lain dengan menjalankan tugasnya dengan hati yang ikhlas, berkurban secara intensif untuk diwujudkan dalam iman, mampu mengikuti perkembangan zaman, adanya keterbukaan antara para anggota biarawati dengan pemimpin, serta pemimpin menugaskan biarawati sesuai dengan kemampuan yang dimiliki.

Kata Kunci: Biarawati, kaul ketaatan, modernisasi, Kongregasi Suster Santo Fransiskus

PENDAHULUAN

Setiap profesi pasti memiliki bermacam ragam konsukuensi yang dihadapi. Seorang sekretaris mempunyai konsekuensi melindungi rahasia industri. Seseorang designer mempunyai konsekuensi kerja lembur tanpa upah bonus. Seseorang dokter mempunyai konsekuensi dipanggil dikala malam buat pembedahan darurat ataupun dikala penderita kritis. Demikian pula

seseorang biarawati pula mempunyai konsekuensi.94 Konsekuensi hidup selaku biarawati merupakan hidup seturut profesi yang dijanjikan-nya, ialah ketiga kaul, kaul kemurnian, kaul ketaatan, serta kaul kemiskinan. Untuk mereka, hidup membaktikan kepada Allah serta sesama dengan tidak menyampingkan kekayaan, jabatan, kebebasan serta mempunyai tanggung jawab buat hidup miskin tanpa kepunyaan serta hidup murni.

Seseorang biarawati merupakan seseorang wanita yang tinggal di biara yang secara sukarela meninggalkan kehidupan duniawi serta fokus pada hidup yang dibaktikan kepada Allah serta sesama. Ada pula sejak awal mula Gereja terdapat laki-laki serta perempuan, yang dengan mengamalkan nasihat-nasihat Injil bermaksud menjajaki Kristus secara lebih leluasa, serta meneladan- Nya dengan lebih setia. Dengan cara mereka masing-masing, mereka menghayati hidup yang dibaktikan kedapa Allah.95

Kaul ataupun prasetia yang berisi tiga nasihat Injili, ialah; kemiskinan, Kemurnian serta ketaatan yang diikrarkan oleh anggota- anggota Ordo/kongregasi dengan menjabat (kata Profesio=pekerjaan, persembah diri, penghayatan, kaul) mereka mempersembahkan dirinya kepada Allah lewat Gereja serta mencampurkan diri dengan sesuatu lembaga hidup bakti.96 Kaul kemurnian sendiri berarti seorang biarawati hidup selibat, tidak menikah demi kerajaan Surga. Sebaliknya kaul kemiskinan berarti seseorang biarawati hidup tanpa kepunyaan. Kaul ketaatan berarti seseorang biarawati wajib taat pada otoritas yang terdapat di dalam Gereja.97

Taat kepada konstitusi serta ketentuan hidup selama membiara menyangkut pula ketaatan kepada pemimpin yang diakui serta ditetapkan olehgereja. Setia sepenuh hati pada para pembesar dan mempercayai mereka selaku perlengkapan ditangan Tuhan hendak bisa meningkatkan inspirasi timbal balik buat terus menjadi baiknya hidup membiara.98 Oleh karena itu, penelitian ini penting untuk dilakukan dengan fokus penghayatan kaul ketaatan biarawati Kongregasi Santo Fransiskus Charitas Palembang.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui makna dan implementasi

94 Charlys, Makna Hidup Biarawati, Jurnal Psikologi Voleme 1, No.1, Desember 2007, h. 34.

95 Terj. R. Hardawiryana, Dokumen Konsili Vatikan, (Jakarta: Penerbit Obor (anggota IKAPI), 2009), h. 255-256.

96 Adolf Heuken, Ensiklopedi Gereja – jilid IV: K-KI, h. 57.

97 Charlys, Makna Hidup Biarawati, Jurnal Psikologi Voleme 1, No.1, Desember 2007, h. 3.

98 Joyce Ridick, Kaul Harta Melimpah dalam Bejana Tanah Liat, Terj. F. Mardi Prasentyo, Mudji Sutrisno dan Sugiono (Yogyakarta: Penerbit KANISIUS, 1987), h. 166.

penghayatan kaul ketaatan pada biarawati Santo Fransiskus Charitas Palembang di zaman modern.

METODE PENELITIAN

Jenis penelitian yang digunakan penulis adalah Field Research. Sedangkan jenis data yang digunakan adalah kualitatif, yaitu data yang tidak bisa diukur atau dinilai dengan cara angka secara langsung. Sumber data dalam penelitian ini adalah data primer dan sekunder. Data primer diperoleh dari sumber utama biarawati Santo Fransiskus Charitas Palembang dan data sekunder diperoleh dari data primer yang didapat melalui buku-buku, dokumen dan artikel yang membahas tentang penelitian ini. Adapun teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi, wawancara dan dokumentasi.

Sementara teknik analisis data menggunakan beberapa pendekatan yaitu data reduction yaitu merangkum, memilih hal-hal yang pokok, data Display penyajian data dalam bentuk uraian, dan conclusion drawing adalah kesimpulan.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Kaul atau juga disebut dengan prasetia diartikan sebagai janji untuk memuliakan Tuhan. Seseorang berjanji secara sadar serta rela untuk melakukan segala sesuatu demi Kemuliaan Tuhan. Seorang biarawati rela melepaskan semua yang dimiliki dan mengabdikan diri mereka hanya pada Tuhan melaui gereja dan masyarakat.99 Kaul kekal diikrarkan oleh seorang anggota biarawati atau lembaga religius dengan ketiga kaul yakni, kemiskinan, kemurnian, dan ketaatan seumur hidup. Tugas perutusan tersebut semisal berkarya dalam misi, merawat orang sakit, dan lain-lain sesuai dengan lembaga yang bersangkutan.100

Kaul secara singkat dan umum dapat diartikan sebagai sebuah janji yang diucapkan secara teguh oleh seorang anggota biarawati. Hal ini disampaikan juga oleh suster Carolisa yang menjelaskan bahwa “kaul atau profesi merupakan pengakuan iman dengan mengucapkan kesediaan untuk

99 Adolf Heuken, Ensiklopedi Gereja – jilid IV: K-KI, (Jakarta: Yayasan Cipta Loka Caraka, 2005), h. 57

100 Adolf Heuken, Ensiklopedi Gereja – jilid IV: K-KI, h. 57

mengikuti Yesus dalam sebuah kongregasi.”101 Ada tiga kaul dalam hidup religius yakni, kemurnian, kemiskinan, dan ketaatan. Pada kaul kemurnian ini, biarawati memilih hidup selibat serta tidak menikah. Dalam pengertian khusus, kaul kemurniaan merupakan sikap yang wajar terhadap seksualitas sesuai dengan status yang berkangkutan. Biarawati yang dengan setia menjalani hidup yang religius, menjalani hidup selibat dan mengabdikan diri demi keselamatan.102

Pada kaul kemiskinan berarti biarawati memilih untuk hidup miskin, baik dalam hal kenyataan serta dalam semangat, hidup kerja dengan kesederhanaan serta jauh dari kekayaan duniawi. Kaul kemiskinan yang diajarkan oleh Injil adalah agar biarawati secara total dalam kehidupannya dapat menyerahkan diri kepada Tuhan dan tidak tergoda pada kekayaan duniawi. Biarawati yang mengikrarkan kaul kemiskinan tidak boleh memiliki barang berharga, tanpa izin pimpinan kongregasi. Kemiskinan yang dipilih oleh kaum religius dengan rela termasuk kedalam wujud dan tanda iman akan arti dari kekayaan yang sesungguhnya yang sifatnya bukan duniawi.103

Pada kaul ketaatan, anggota biarawati harus taat dan setia pada peraturan yang ada di dalam gereja. kaul ketaatan juga diartikan sebagai kesetiataan mereka pada persekutuan, kepada cita-cita tarekat, serta kepada tujuan bersama yang akan dicapai. Dengan mengucapkan kaul ketaatan, biarawati mempersembahkan diri mereka kepada Allah, untuk seluruh kehendak dan hidup mereka. Dengan kata lain, secara lebih pasti mereka menyatukan diri dengan kehendak Allah yang akan menyelamatkan. Dalam hal ini mereka akan mengikuti teladan atau ajaran Yesus Kristus, yang datang bertujuan untuk melaksanakan kehendak Bapa-Nya.

Atas dorongan Roh Kudus tersebut, anggota biarawati harus merendahkan diri dalam iman kepada para pemimpin mereka sebagai wakil Allah. Melalui para pemimpin itu mereka akan dibimbing ke arah pelayanan terhadap semua saudara-saudara dalam Kristus. Sama halnya seperti Kristus serdiri menaati Allah Bapa-Nya, dengan melayani sesama manusia serta memberikan nyawa-Nya sebagai tebusan untuk orang banyak. Demikian biarawati lebih akan terlibat dalam hal pelayanan Gereja dan semua itu dami

101 Sr. Carolisa, Penasihat Kongregasi Biarawi Santo Fransiskus Charitas (FCh) Palembang, wawancara, Palembang, 1 Februari 2021

102 Adolf Heuken, Ensiklopedi Gereja – jilid IV: K-KI, h.139

103 Adolf Heuken, Ensiklopedi Gereja – jilid IV: K-KI, h. 139

kebutuhan keselamatan manusia.104 Kaul ketaatan sendiri bisa disebut sebagai ibu dari kedua kaul/profesi sebelumnya yaitu, kaul kemurnian dan kemiskinan. Karena kaul ketaatan lebih menekankan kepada kehendak Tuhan, serta berjuang mencari kehendak Allah dari pada kehendak pribadi. Oleh karena itu dikatakan kaul ketaatan adalah kaul/profesi yang paling penting untuk memengaruhi kaul lainnya.

Berdasarkan uraian di atas, dapat dipahami bahwa ketiga kaul dalam hidup religius yakni, kemurnian, kemiskinan, dan ketaatan saling bersinergi.

Meskipun demikian, kaul/profesi ketaatan adalah kaul yang paling penting untuk memengaruhi kedua kaul/profesi lainnya.

Makna Kaul Ketaatan

Manusia memiliki hak yang sangat berharga ialah suatu kebebasan serta kemerdekaan. Usaha yang hendak dicoba orang buat memperjuang-kan serta mempertahankan kebebasannya dengan kaul ketaatan, orang yang memutuskan untuk hidup taat seperti Kristus. “Jika seorang mengasihi aku, ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia. Barang siapa tidak mengasihi aku, ia tidak menuruti firman-Ku;dan firman yang kamu dengar itu bukanlah dari pada-Ku, melainkan dari bapa yang mengutus aku.” (Yohanes 14: 23-24).105 “Melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampa mati di kayu salib.” (Filipus 2: 7-8).106 Meletakkan kehendaknya di bawah kehendak pembesar demi kerajaan Allah.107

Dengan mengucapkan kaul ketaatan, seorang religius mempersembahkan bakti kehendak mereka yang sepenuhnya bagaikan kurban diri kepada Allah. Maka, menurut teladan Yesus, yang datang untuk melaksanakan kehendak Bapa. “Makanan-ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.” (Yohanes 4:34).108

104 Adolf Heuken, Ensiklopedi Gereja – jilid IV: K-KI, h. 197.

105 Lembaga al-Kitab Indonesia, Alkitab, (Jakarta: Percetakan Lembaga Indonesia, 2009), h.

153.

106 Lembaga al-Kitab Indonesia, Akitab, h. 275.

107 http://katakandenganbuku.blogspot.com/2019/10/normal-0-false-false-false-in-x-none-x.html?m=1, diakses tanggal 8 Maret 2021, pukul 19.19 WIB.

108 Lembaga Al-Kitab Indonesia, Alkitab, h. 114

Dalam dokumen Prof. Dr. Ris'an Rusli (Halaman 63-96)

Dokumen terkait