• Tidak ada hasil yang ditemukan

اًفوُرْعَم

Dalam dokumen Prof. Dr. Ris'an Rusli (Halaman 57-63)

“Wahai istri-istri Nabi! Kamu tidak seperti perempuan-perempuan lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk (melamah-lembutkan suara) dalam berbicara sehingga bangkit nafsu orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik.”

Pada ayat di atas dijelaskan, bahwa berbicara lemah-lembut kepada lelaki bukan mahrom merupakan perkara yang diharamkan, karena dengan melemah-lembutkan suara dapat menimbulkan syahwat dan dapat menyebabkan keinginan terhadap diri perempuan. Menjaga pandangan dari lelaki yang bukan mahrom juga merupakan hal untuk menghindari diri dari fitnah.

Sedangkan motivasi eksternal responden berbeda-beda, diketahui motivasi eksternal terjadi berdasarkan dorongan-dorongan dari luar. Dari hasil wawancara dapat disimpulkan motivasi eksternal responden lebih banyak berdasarkan faktor lingkungan pengajian. Menurut responden lingkungan pengajian memberikan aura positif karena selain menjadi taman surga, lingkungan pengajian juga menjadi tempat silahturahmi. Selain faktor lingkungan pengajian, faktor lingkungan teman juga merupakan motivasi eksternal responden, di mana responden banyak termotivasi melihat temannya yang menutup aurat dengan baik.

Pengalaman Mahasiswi Bercadar di Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam dalam Memakai Cadar

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, pengalaman diartikan sebagai sesuatu yang pernah dialami (dijalani, dirasai, ditanggung) dalam suatu peristiwa. Pengalaman merupakan suatu hal yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia dalam kesehariannya. Bagi setiap manusia pengalaman sangat berharga dan pengalaman juga dapat diberikan kepada orang lain untuk digunakan dan menjadi pedoman serta pembelajaran manusia. Sama halnya dengan mahasiswi Fakultas Ushuluddin yang memakai cadar, setiap mahasiswi mempunyai pengalaman tersendiri, seperti pengalaman menyenangkan bahkan tidak menyenangkan.

Berdasarkan hasil wawancara, setiap responden memiliki pengalaman tersendiri baik pengalaman yang menyenangkan maupun tidak menyenangkan. Perihal pengalaman menyenangkan hampir seluruh responden mempunyai pengalaman lebih terjaga semenjak memakai cadar.

Terjaga yang dimaksud yaitu penjagaan diri baik secara lahir maupun batin bagi penggunanya. Dengan memakai cadar, responden menjaga dirinya untuk tidak melakukan hal buruk dalam bersikap dan bertingkah laku.

Makna lain dari terjaga yaitu menjauhkan diri dari pandangan lelaki bukan mahrom, seperti yang terkandung dalam QS. al-Nur [24]: 31;

َّنُهَجوُرُ ف َنْظَفَْيَُو َّنِهِراَصْبَأ ْنِم َنْضُضْغَ ي ِتاَنِمْؤُمْلِل ْلُقَو

“Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya.”

Dalam ayat ini, Allah memerintahkan kaum Mukminah untuk menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan, sebagaimana Allah juga memerintahkan hal itu kepada Mukminin (lelaki). Tujuannya sebagai perlindungan bagi mereka dari sebab-sebab fitnah, serta sebagai dorongan bagi mereka untuk mengambil sebab-sebab iffah dan keselamatan. Selain merasa lebih terjaga, pengalaman responden yang mereka alami yaitu meningkatnya ketaatan dalam beribadah. Cadar menurut responden merupakan pengingat diri agar menjadi pribadi lebih baik dengan selalu menjalankan amar ma’ruf, selain juga agar cadar menjadi pengingat untuk menjauhkan perbuatan munkar.

Sedangkan pengalaman tidak menyenangkan yang dialami delapan responden, yaitu dinilai negatif oleh orang lain. Karena cadar selalu di identikan dengan teroris sehingga responden selalu mendapatkan pengalaman tidak menyenangkan itu. Selain diidentikkan sebagai teroris responden, juga dibilang mengikuti aliran sesat, terlalu fanatik dalam berhijab dan dibilang sok baik.

Tantangan dan Hambatan Mahasiswi Bercadar di Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam dalam Memakai Cadar

Pada dasarnya, memakai cadar merupakan pilihan rasional yang diambil oleh mahasiswi fakultas Ushuluddin. Cadar merupakan potongan kain yang menutupi wajah, namun ada sebagian pelaku kejahatan yang memakai cadar.

Seperti tragedi bom bunuh diri yang dilakukan oleh teroris, sehingga citra cadar menjadi buruk akibat kejadian itu. Sehingga banyak orang awam yang mengklaim buruk tentang cadar dan sulit diterima dikalangan masyarakat. Hal ini merupakan salah satu tantangan mahasiswi fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam dalam memakai cadar.

Berdasarkan hasil wawancara dengan responden, dapat disimpulkan bahwa tantangan yang banyak dialami responden yaitu kurangnya dukungan dari orang tua dan keluarga, bahkan sempat ditentang oleh keluarga. Maka dari itu, responden merasa tantangan terberatnya bagaiamana agar bisa terus menjalankan Sunnah walaupun kurangnya dukungan orang tua dan keluarga.

Dalam hal ini, tidak mudah untuk menjalankan Sunnah, dan seluruh responden harus melewati tantangan itu semua. Setiap manusia akan diberi ujian oleh Allah. Namun setiap ujian dan tantangan yang Allah berikan selalu dimudahkan jika mengahadapi semuanya dengan sabar, seperti firman Alah

dalam QS. al-Baqarah [2]: 153:

َنيِرِباَّصلا َعَم ََّللَّا َّنِإ ِة َلََّصلاَو ِْبَّْصلِبِ اوُنيِعَتْسا اوُنَمآ َنيِذَّلا اَهُّ يَأ َيَ

“Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.

Dalam ayat ini, perjuangan menegakkan kebenaran harus diiringi dengan kesabaran dan memperbanyak shalat sehingga menjadi ringan segala kesukaran dan cobaan, karena Allah senantiasa bersama orang-orang yang sabar. Dia akan menolong, menguatkan dan memenangkan orang-orang yang bejuang menegakkan kebenaran agamanya.

Sedangkan hambatan merupakan sesuatu yang dapat menghalangi kemajuan atau pencapaian suatu hal. Pada penelitian ini faktor yang menghambat mahasisiwi bercadar fakultas Ushuluddin dan Pemiiran Islam salah satunya yaitu dukungan dari orang tua. Dari hasil wawancara tersebut, dapat disimpulkan jika yang sedikit menghambat mahasiswi fakultas Ushuluddin dalam memakai cadar adalah hambatan dukungan orang tua sedangkan hambatan untuk berinteraksi dengan yang lain memang mahasiswi bercadar membatasi diri untuk tidak terlalu dekat dengan laki- laki yang bukan mahrom.

PENUTUP

Dari hasil pembahasan yang telah dipaparkan sebelumnya, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut; pertama, motivasi responden melilih memakai cadar yaitu berdasarkan faktor niat, hal ini berkaitan dengan teori tindakan rasional yang bersifat instrumental yaitu tindakan menutup aurat dengan sempurna diupayakan sendiri oleh mahasiswi untuk pencapaian tujuan-tujuan yaitu menjadikan pribadi agar lebih taat dan menjalankan Sunnah. Kemudian motivasi ekstrnal tujuh dari sepuluh responden adalah faktor lingkungan pengajian dan tiga dari sepuluh responden berdasarkan lingkungan teman.

Kedua, menurut mahasiswi bercadar fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, pengalaman yang mereka dapatkan setelah memakai cadar tentu ada yang menyenangkan dan tidak menyenangkan. Sedangkan tantangan yang dihadapi mahasiswi FUSHPI berbeda-beda, namun banyak mahasiswi yang memiliki tantangan yaitu tidak mendapatkan izin dan dukungan dalam

memakai cadar. Walaupun mereka terhambat restu orang tua, menurut mereka cadar tidak menghambat kegiatan lainnya mereka seperti biasa aktif dalam kelas, berteman dengan sesama tetapi menjaga jarak dengan teman bukan mahrom.

DAFTAR PUSTAKA

Al-Shabuni, Ali, Terjemahan Tafsir ayat al-Ahkam 3, Surabaya: PT. Bina Ilmu, 2003.

Muhammad, Husein. Islami Agama Ramah Perempuan Yogyakarta: LKIS, 2004.

Muthahhari. Gaya Hidup Wanita Islam. Terj. Agus Efendi dan Alwiyah Abdurrahman. Bandung: Mizan, 1990.

Ratri, Lintang. “Cadar, Media dan Identitas Perempuan Muslim”, Forum: Jurnal Pengembangan Ilmu Sosial, Vol. 39, No. 2, 2011.

Sukmadinata, Nana Syaodih. Landasan Psikologi Proses Pendidikan, Bandung: PT Rosda karya, 2005.

Syuqqah, Abdul Halim A. Kebebasan Wanita, Jilid 4, Terj. As’ad Yasin, Jakarta:

Gema Insani Press, 1997.

Winkel, W. S. Psikologi Pengajaran, Yogyakarta: Media Abadi. 2007.

BAGIAN EMPAT

FENOMENA PELAKSANAAN IBADAH PADA MASYARAKAT MUSLIM

(STUDI KASUS PELAKSANAAN SHALAT FARDHU DAN SHALAT JUM’AT DESA SUKA DAMAI KECAMATAN TALANG UBI

KABUPATEN PENUKAL ABAB LEMATANG ILIR) Oleh:

Muslim Sultan Ansyori, Wijaya, Nugroho Prodi Studi Agama-Agama

Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Abstrak

Artikel ini mengupas tentang fenomena pelaksanaan ibadah pada masyarakat Muslim dengan fokus pada shalat fardhu dan shalat jum’at di desa Suka Damai kecamatan Talang Ubi kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir. Dengan menggunakan metode deskriptif analitis, didapatkan kesimpulan bahwa masyarakat Muslim di desa Suka Damai tidak ke masjid ketika sholat fardhu berjamaah dan sholat Jum’at karena beberapa faktor, yaitu: faktor ekonomi, faktor lingkungan atau pergaulan, faktor pendidikan, dan faktor kurangnya kesadaran dalam diri masyarakat. Adapun upaya yang sudah dilakukan oleh tokoh Agama desa Suka Damai dalam membangkitkan kembali kesadaran masyarakat dalam beragama serta beribadah di antaranya yaitu: dimulai dari keluarga, membuat spanduk yang berisikan ajakan untuk melaksanakan sholat berjamaah, mengadakan pengajian atau ceramah-ceramah agama, memberikan contoh kepada masyarakat yang dimulai dari pengurus masjid dan para pemerintah setempat, meningkatkan kebersihan masjid sehingga membuat masyarakat akan lebih nyaman saat beribadah.

Kata kunci: Fenomena, ibadah shalat, masyarakat Muslim, desa Suka Damai

PENDAHULUAN

Potensi beragama sudah ada sejak manusia dilahirkan. Potensi yang ada dalam diri manusia ada banyak, termasuk potensi untuk mengabdi dan taat kepada Allah. Kebutuhan manusia juga bukan hanya sebatas makan, minum, berpakaian, kenikmatan akan segala hal saja, akan tetapi manusia juga

membutuhkan kebutuhan kodrati seperti halnya kebutuhan ingin mencintai dan dicintai oleh Allah.82 Allah telah menjelaskan di dalam QS. al-A’raf [7]: 172 tentang potensi manusia untuk mengabdi kepada-Nya, sebagaimana firman-Nya:

ِنَِب ْنِم َكُّبَر َذَخَأ ْذِإَو

َ ت ْنَأَنَْدِهَش ٰىَلَ ب اوُلاَق ْمُكِ بَرِب ُتْسَلَأ ْمِهِسُفْ نَأٰىَلَع ْمُهَدَهْشَأَو ْمُهَ تَّ يِ رُذ ْمِهِروُهُظ ْنِم َمَدآ

Dalam dokumen Prof. Dr. Ris'an Rusli (Halaman 57-63)

Dokumen terkait