• Tidak ada hasil yang ditemukan

A.3.a. Gambaran Kebudayaan Masyarakat Pesisir

BAB IV. HASIL ANALISA DATA

IV. A.3.a. Gambaran Kebudayaan Masyarakat Pesisir

Pak M adalah salah satu dari masyarakat pesisir setempat yang memiliki pekerjaan sebagai nelayan. Pak M yang tidak memiliki perahu pribadi di karenakan harganya yang mahal membuat beliau harus menyewa perahu pada tengkulak. Oleh karena itu pak M menyebut dirinya sebagai “buruh nelayan atau buruh tengkulak”. Tengkulak yang disebut pak M mempunyai arti orang yang memiliki banyak perahu dan disewakannya kepada para nelayan yang tidak mampu membeli perahu, ia juga menyebutnya sebagai toke ikan karena para nelayan yang menyewa perahunya akan menjualkan hasil ikan yang di dapat padanya. Sedangkan buruh nelayan menurut pak M memiliki arti yaitu orang yang menyewa perahu dari para tengkulak, mereka para nelayan termasuk pak M harus membayar lima ratus ribu perbulannya kepada para tengkulak, satu perahu biasanya disewa oleh lima orang nelayan. Lima orang nelayan ini lah yang

nantinya akan patungan membayar uang sewa perahunya. Hasil dari melautnya akan diberikan pada tengkulak dan mereka akan membagi hasilnya secara merata.

“...disini kebiasaannya ya nangkap ikan la... namanya juga nelayan...” (R.1/W.1/b.29-30/h.2)

“...nah, kalo kami yang gak punya perahu sendiri nih, biasanya dibilang kami ni buruhnya tengkulak lah gitu nak.. buruh nelayan... hahahaha... karena gak punya perahu sendiri nak...”

(R.1/W.2/b.329-336/h.14)

“...iyalah nak nyewa sama tengkulaknya perbulannya bayar lima ratus ribu...”

(R.1/W.2/b.305-307/h.13)

“...sama kawan-kawan bapak, bapak gak punya perahu... jadi yang punya perahu tuh ya para-para tengkulak nak. Nti kalo’ dah dapat ikannya yah kami kasih ke tengkulak kan, nah upahnya ntu di bagi-bagilah nak...” (R.1/W.2/b.292-300/h.13)

“...tengkulak tuh kalo masyarakat sini artinya tuh orang yang punya perahu trus disewakan sama kami, orang kaya toke ikan gituh. Jadi kami bekerja lah sama dia kalo kami-kami yang gak mampu beli perahu...” (R.1/W.2/b.341-348/h.15)

Kondisi ekonomi pak M sangat memprihatinkan, beliau memiliki pendapatan perharinya berkisar sepuluh sampai lima belas ribu, beliau sangat mensyukuri pendapatan tersebut. Pendapatan yang sangat kecil itupun tidak rutin beliau dapatkan setiap harinya dikarenakan beliau juga harus melihat kondisi cuaca jika ingin pergi melaut, seperti mendung, ombak besar, atau hujan yang mengakibatkan beliau tidak pergi melaut karena beliau memikirkan nasib istri dan anak-anaknya nanti jika terjadi sesuatu dengan diri beliau.

“...susah la hidup ni... penghasilan lima belas ribu nak itupun belum tentu dapat nak...”

“...kalo ombak, angin lagi besar gak bisa bapak melaot... ini ja bapak udah dua hari gak melaot.. kalo bapak paksakan melaot nanti terjadi apa-apa kan.. anak-anak, istri hidupnya gimana...”

(R.1/W.1/b.141-146/h.6-7)

Memiliki pendapatan sepuluh sampai lima belas ribu inilah yang membuat beliau dan istrinya sering tidak makan, jika persediaan makanan tidak ada maka beliau dan istrinya pun akan berpuasa, beliau beranggapan bahwa jika berpuasa maka akan dapat pahala ibadah. Maka dari itu keluarga beliau pun ikut andil dalam membantu mencari pendapatan tambahan agar mereka dapat makan, dan anak-anaknya dapat sekolah misalnya istri dan anak perempuannya bekerja borongan mengupas kulit udang dengan upah sepuluh ribu persetengah hari namun pekerjaan tersebut tidak setiap hari juga bisa di dapatkan oleh istri dan anak perempuannya, sedangkan anak laki-lakinya diajak untuk ikut melaut bersamanya.

“...kalo bapak sama ibuk seringnya kami gak makan tapi anak-anak harus lah makan, kasian kan... kadang kami sama ibuk ni puasa la kami karena gak da yang mau dimakan... hahaha tapi gak apalah kan itung amal ibadah juga kan berpuasa...”

(R.1/W.1/b.154-161/h.7)

“...istri bapak ni alhamdulillah dapat la borongan ngupas udang kan di tengkulak itu... upahnya sepuluh ribu sampe’ siang hari sebelum zuhur... yah dari situ la kami makan nak..”

(R.1/W.1/b.150-154/h.7)

“...kadang-kadang iya nak, kalo dia gak sekolah misalnya kan tah liburnya dia kan, nah itu bapak ajak lah dia melaot... kan lumayan tuh nak, uangnya dia tabung lah tuh kan ntuk nambah biaya sekolahnya kalo’ gak kayak gituh mana sanggup bapak nyekolahin dia...”

(R.1/W.1/b.169-176/h.8)

Pak M mengatakan, kebiasaan yang terjadi di lingkungannya yaitu pergi melaut jam enam pagi setelah usai sholat shubuh dan kembali sebelum sholat

dzuhur tiba. Mereka selalu sholat berjemaah dan tepat waktu di musholla yang kecil. Karena kebiasaan yang terjadi seperti itu maka beliau pun melakukan hal yang sama seperti yang ada di lingkungannya tersebut.

“…disini, namanya juga mayoritas islamkan jadi kami kalo sudah adzan sholat la.. masyarakatnya pada ke mushola itulah yang kecil tu...” (R.1/W.1/b.35-38/h.2)

“…kalo bapak ke laot pun waktu habis sholat shubuh barulah ke laot nanti pulangnya sebelum zuhur entah jam dua belasan gitulah biar dapat sholat berjemaah…”

(R.1/W.1/b.43-47/h.2)

Pak M mengatakan masyarakat setempatnya memiliki kebiasaan mengajarkan kepada anak-anaknya tentang pendidikan agama, seperti mengaji, belajar sholat, berpuasa. Masyarakat setempat menyekolahkan anak-anaknya belajar mengaji pada pak S. Karena memilki kebiasaan seperti itu di lingkungan beliau maka tidak heran jika beliau melakukan hal yang sama pada anak-anaknya, pak M sendiri akan merasa berdosa, jika anak-anaknya tidak pandai mengaji, dan sholat karena menurut beliau dengan cara menyuruh anak-anaknya belajar agama, nantinya hal itu akan menjadi amalan akhirat.

“...orang disini anak itu harus pande mengaji, dan sholat dulu sejak kecil... orang-orang sini biasanya disekolahkan ngajinya di tempat pak S...”

(R.1/W.1/b.55-59/h.3)

“...saya merasa berdosa kalo anak-anak saya tidak pande ngaji dan sholat karena itu amalan dia untuk akhirat...”

(R.1/W.1/b.81-84/h.3)

Jika anak-anak pak M malas mengaji karena asyik bermain dengan teman-temannya, maka beliau akan menyuruh secara baik-baik namun jika anak-anaknya masih nakal juga maka beliau akan “keras” dalam menghadapi anak-anaknya yang tidak mau mengaji.

“...kalo’ dia gak mau ngaji ya saya suruh dengan baek-baek la dulu kan tapi kalo dia masih maen juga terkadang sapu lidi tu saya ambil satu saya pukulkan ke dia...”

(R.1/W.1/b.94-98/h.5)

“...kalo masih maen juganya dia, pukulkan lagi.. dibilang baek-baek gak bisa kan yawdah dipukul lah...”

(R.1/W.1/b.103-106/h.5)

Menurut pak M pola pikir masyarakat pesisir setempat yaitu memandang betapa pentingnya pendidikan agama yaitu pelajaran mengenai sholat lima waktu, bagaimana cara membaca Al-Qur’an, berpuasa. Pentingnya pendidikan agama bagi mereka namun pendidikan sekolah formal tidak begitu penting dan tidak harus dicapai setinggi-tingginya. Ketika tidak sanggup untuk menyekolahkan anak-anak lagi maka tidak masalah bagi mereka, lain hal dengan sekolah agama yang harus mereka perjuangkan. Seperti pak M yang terus berjuang untuk menyekolahkan agama anak-anaknya walaupun beliau sering tidak makan tapi beliau tetap harus berjuang demi pendidikan agama anak-anaknya. Namun lain hal dengan pendidikan formal anaknya, jika beliau tidak sanggup untuk menyekolahkan anaknya atau anaknya yang tidak mau sekolah lagi, beliaupun hanya pasrah serta tidak menjadi masalah bagi beliau.

“...disini masih ada kebiasaan masyarakat disini berpikir ngapain disekolahin tinggi-tinggi anak-anak nanti jatuh-jatuhnya jadi nelayan juga nya...”

(R.1/W.1/b.59-63/h.3)

“...kalo mampu orangtuanya ya disekolahkan la dia sampe’ aliyah tapi kalo gak sanggupnya orangtuanya paling juga diajak anaknya untuk ke laot cari uang kan.. orang disini anak itu harus pande mengaji, dan sholat dulu sejak kecil...”

(R.1/W.1/b.51-57/h.3)

“...anak saya ni, saya ngajikan dia... saya merasa kalo’ nanti misalnya saya gak sanggupnya menyekolahkannya yawdah mau di bilang apa lagi kan,

tapi diusahakan lah supaya dia sekolah tapi kalo ngaji dia mau gimanapun haruslah dia pande ngaji dan sholat...”

(R.1/W.1/b.72-79/h.4)

Hal-hal tersebut diatas yang merupakan gambaran singkat tentang bagaimana kebudayaan serta kebiasaan masyarakat pesisir menurut pak M.

IV.A.3.b. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Pola Asuh Orangtua IV. A.3.b.1. Pendidikan

Pak M merupakan orangtua yang tidak memiliki pendidikan , beliau tidak pernah sekolah. Hal ini mengakibatkan beliau tidak pernah menanyakan bagaimana pelajaran anak-anaknya disekolah, ranking atau juara si anak dikarenakan faktor tidak pernah sekolah tersebut.

“...kalo soal pelajarannya, rangkingnya atau juara gitu bapak gak tau menau nak.. bapak ja gak pernah makan bangku sekolahan, ibuk jugak gituh jadi kami gak tau menau lah nak...”

(R.1/W.1/b.249-253/h.11)

“...kalo soal rangking atau pelajarannya gitu gak pernah dia cerita, kami pun tak pernah nanyak ke dia nak.. hahaha namanya juga bapak tak tau apa-apa nak...”

(R.1/W.1/b.256-260/h.11)

Pendidikan orangtua dalam merawat anak akan mempengaruhi persiapan orangtua dalam menjalankan pengasuhan. Seperti yang terjadi pada pak M, beliau tidak siap dalam hal pendidikan anak-anaknya dikarenakan beliau yang tidak memiliki pengalaman tentang dunia sekolah.

IV. A.3.b.2. Lingkungan

Pak M mengatakan bahwa di lingkungannya, anak-anak pesisir harus bisa membaca Al-Qur’an jika anak-anak mereka tidak bisa membaca Al-Qur’an, maka orangtuanya akan merasa malu dan jika anak-anak mereka yang umurnya rata-rata dengan anak SMP belum bisa membaca Al-Quran, maka masyarakat disekitar akan menggosipin anak yang belum bisa membaca Al-Qur’an tersebut. Oleh karena itu untuk menghindari hal tersebut masyarakat mengajarin anak-anaknya secara lebih dini membaca Al-Qur’an dengan pak S

“...ya, di ajarin dia mengaji nak, kayak gitulah cara mengasuh anaknya... karena disini kan islam semua jadi masyarakat disini bisa malu kalo anaknya gak pande baca kur’an dan sholat nak...”

(R.1/W.2/b.552-559/h.22)

“...hmmm iyalah nak, masak orang Islam gak pande membaca kur’an dan sholat. Nanti kalo misalnya anaknya sudah es m pe belum pande baca kur’an ntu nanti jadi bahan pembicaraan orang-orang kampung nak. Yah jadi gosip-gosip gituh lah.. hahahaha...”

(R.1/W.2/b.573-583/h.22)

“...orang disini anak itu harus pande mengaji, dan sholat dulu sejak kecil... orang-orang sini biasanya disekolahkan ngajinya di tempat pak S...”

(R.1/W.1/b.55-59/h.3)

Di lingkungan pak M sangat menjunjung tinggi nilai agama maka dari itu cara pengasuhan terhadap anak pun harus ada unsur agamanya. Seperti pak M yang melakukan hal yang sama di lingkungannya terhadap anak-anaknya yang ditanamkan nilai agama sejak usia dini. Namun tidak hanya nilai agama saja yang mempengaruhi gaya pengasuhan pak M, cara pandang beliau tentang pernikahan pun akan mempengaruhi gaya pengasuhannya. Menurut pak M pernikahan anak adalah salah satu cara untuk mengurangi beban tanggung jawab sebagai orangtua. Oleh karena itu, beliau akan senang jika anak-anaknya cepat menikah.

“...iya nak, bapak juga berpandangan seperti itu. Jika anak menikah cepat maka akan mengurangi beban orangtua lah nak.. apalagi kalo anak kita perempuan kan berarti bukan tanggungan kita lagi kan, dah tanggungan sama suaminya lah kan...”

(R.1/W.2/b.629-638/h.24-25)

Orangtua seperti halnya pak M akan menyiapin anak-anaknya untuk cepat menikah dini dengan cara mengajak anaknya ke laut khususnya anak laki-laki. Karena menurut beliau, jika anak-anaknya sudah pandai mencari uang maka anak siap untuk dinikahkan. Seperti pak M yang mengatakan jika anak pertamanya sudah selesai sekolahnya dan ia juga sudah pandai melaut ia akan siap dinikahkan oleh pak M

“...anak bapak yang pertama ni kalo dah siap dia sekolah dan sudah pande dia kan melaut yang selama ni bapak ajak dia yaudah mau nikah dia silahkan. Anak bapak yang perempuan ni, kalo gak mau ngelanjutin sekolah dia, dianya mau menikah yaudah bapak nikahkan. Daripada dia berbuat yang enggak-enggak diluar sana bagus bapak nikahkan ja kan. Bapak gak pusing mikirin dia lagi.. hahahaha... gitulah nak kehidupan orang susah...”

(R.1/W.2/b.638-655/h.25)

Seperti itulah yang terjadi di masyarakat pesisir setempat, lingkungan membentuk pola asuh yang menyiapin anak-anak agar lebih cepat dewasa. Dan menikah di usia dini.

IV. A.3.b.3. Budaya

Pak M mengikuti cara-cara kebiasaan yang dilakukan oleh masyarakat sekitar dalam mengasuh anak, seperti budaya masyarakat pesisir sangat menjunjung tinggi pendidikan agama buat anak-anak mereka. Pendidikan agama anak-anak sangat penting bagi mereka. Begitu juga dengan pak M yang mengajarkan anak-anaknya untuk bisa sholat serta membaca Al-Qur’an. Beliau

serta masyarakat setempat mempercayai anak-anak mereka pada pak S untuk diajarkan agama. Pak M akan merasa berdosa jika anak-anaknya tidak pandai membaca Al-Qur’an, hal ini dikarenakan budaya yang melekat di lingkungan pesisir yaitu budaya yang memegang nilai-nilai keislaman.

“...orang disini anak itu harus pande mengaji, dan sholat dulu sejak kecil...”

(R.1/W.1/b.55-57/h.3)

“...kalo disekolahin biasa ntu kan gak dapatnya pelajaran agama ntu kayak baca kur’an dan cara sholat, nah kalo disini anak-anak itu harus diajarin dari kecil nak.. yah kayak bapak bilang itu, biasanya orang sini anak-anaknya sama pak S belajarnya...”

(R.1/W.2/b.559-568/h.22)

“...saya merasa berdosa kalo anak-anak saya tidak pande ngaji dan sholat karena itu amalan dia untuk akhirat...”

(R.1/W.1/b.81-84/h.3)

“...anak saya ni, saya ngajikan dia... saya merasa kalo’ nanti misalnya saya gak sanggupnya menyekolahkannya yawdah mau di bilang apa lagi kan, tapi diusahakan lah supaya dia sekolah tapi kalo ngaji dia mau gimanapun haruslah dia pande ngaji dan sholat... kalo’ pun dia gak tamat sekolah setidaknya dia mengenal Tuhannya.. saya merasa berdosa kalo anak-anak saya tidak pande ngaji dan sholat..”

(R.1/W.1/b.72-83/h.4)

Pak M pun berjuang untuk membuat anaknya pintar dalam hal membaca Qur’an dan sholat, lain hal dengan pendidikan umum anak-anaknya ketika beliau tidak sanggup untuk menyekolahkannya maka beliau pun putus asa tidak mau memperjuangkan nasib anaknya.

Selain memiliki kebiasaan yang melekat dengan nilai-nilai keislamannya, ada budaya yang juga turun temurun dari keluarga pak M yaitu pengasuhan secara “keras”. Menurut beliau pengasuhan secara “keras” adalah benar yaitu membuat anak supaya takut dan hormat padanya. Beliau mengaku bahwa pengasuhan

secara “keras” tersebut ia dapatkan dari orangtuanya terdahulu yang juga secara “keras” mengasuh beliau, oleh karena itu beliau turunkan pada anaknya pengasuhan tersebut. Beliau juga berharap agar nantinya ketika anak-anaknya berumah tangga dan mempunyai anak maka anaknya juga mendidik anak-anaknya secara “keras” juga.

“...bapak sih keras mengasuh anak nak, bapak tuh mendidik anak secara keras supaya anak-anak bapak tuh gak da yang melawan sama orangtua..” (R.1/W.2/b.406-411/h.17)

“...ya nak, dulu orangtua bapak keras kali ngedidik bapak. Bapak dulu kalo nakal-nakal ngelawan orangtua di cambuk bapak pake tali pinggang orangtua bapak. Makanya bapak diajarin sama orangtua bapak supaya jangan lah melawan sama orangtua. Dulu bapak di didik keras kayak gitu kan supaya tau pentingnya orangtua. Yah kayak gitulah cara dia menunjukkan kasih sayangnya sama bapak dulu.. hahahaha makanya bapak turunkan ke anak-anak bapak...”

(R.1/W.2/b.507-525/h.20-21)

“...makanya bapak turunkan ke anak-anak bapak, anak-anak bapak ni juga bapak kerasin supaya gak melawan...”

(R.1/W.2/b.523-527/h.21)

“...iya nak, menurut bapak benar kali pun. Karena bapak ngerasa anak-anak tuh kalo dikerasin dia, dia hormat sama orangtuanya tapi kalo dimanjain dia, di biarin dianya ooouhhh dah tah kayak mana la tuh tingkahnya, kayak raja lah tuh tingkahnya.. makanya anak-anak tuh di didik secara keras...”

(R.1/W.2/b.535-546/h.21-22)

“...bapak berharap Nanti dia juga buat sama anak-anaknya seperti itu, kalo memang gak baik melawan-lawan sama orangtua. Bapak dulu di didik kayak gituh, keras nak. Makanya bapak buat ke anak-anak bapak. Karena dulu bapak memang gak da melawan-lawan sama orangtua bapak kalo bapak dikerasin sama orangtua bapak...”

(R.1/W.3/b.846-859/h.32-33)

Faktor budaya mewarnai gaya pengasuhan pak M terhadap anak-anaknya. Mulai dari budaya yang identik dengan Islam sampai budaya yang turun temurun

mendidik anak secara “keras”. Hal tersebut beliau berikan pada anak-anaknya dengan harapan anak-anaknya menjadi orang yang baik.

IV.A.3.c. Gambaran pola asuh orangtua pada masyarakat pesisir pantai

Dokumen terkait