• Tidak ada hasil yang ditemukan

E. Tabel analisa Pola Asuh Antar Subjek

BAB IV. HASIL ANALISA DATA

IV. E. Tabel analisa Pola Asuh Antar Subjek

Tabel 3. Analisa Pola Asuh Antar Subjek

KETERANGAN RESPONDEN I (PAK M) RESPONDEN II (PAK S) RESPONDEN III (IBU SH) RESPONDEN IV (IBU A) Kebudayaan Masyarakat Pesisir 1. Mengajarkan anak-anak membaca Al-Qur’an sejak usia dini. Dan mempercayakan anaknya untuk diajarkan membaca Al-Qur’an pada pak S. 2. Ketika anaknya tidak

pandai membaca Al-Qur’an maka pak M akan merasa malu dan berdosa karena menurut beliau orang yang beragama Islam

haruslah bisa membaca Al-Qur’an

serta paham akan ajaran agamanya. 3. Ketika waktu sholat

tiba, maka pak M pun

1. Mengajarkan anak-anak membaca Al-Qur’an, sholat serta ajaran agama Islam dari usia 5 tahun.

2. Memilki pemikiran, pendidikan agama anak-anaknya adalah nomor satu tidak dengan pendidikan sekolah anak-anaknya. karena menurut beliau percuma disekolahin tinggi-tinggi karena pada akhirnya juga akan melaut.

3. Karena beliau suku Melayu, dan beliau beranggapan bahwa suku Melayu adalah

1. Para nelayan termasuk suami ibu SH pergi melaut sesudah sholat shubuh dan kembali sebelum dzuhur.

2. Ibu SH mengatakan bahwa budaya Melayu adalah budayanya orang-orang Islam maka dari itu beliau mendidik anak serta beraktivitas dekat dengan nilai-nilai keislaman.

3. Jika waktu sholat sudah tiba maka beliau pun

akan langsung mengerjakan sholat dan jika lagi beraktivitas maka wajib

1. Nelayan setempat pergi melaut sesudah shubuh dan kembali sebelum dzuhur. Hal itu juga terjadi pada suami beliau.

2. Menurut beliau budaya Melayu adalah identik dengan agama Islamnya, maka dari itu beliau pun beraktivitas serta mendidik anaknya juga dekat dengan nilai Islamnya

3. Anak disuruh belajar mengaji dari usia 4

tahun, beliau mempercayai

aktivitasnya dan beralih mengerjakan sholat. Setelah sholat barulah melanjutkan aktivitas yang sempat tertunda.

4. Pergi melaut jam 6 shubuh dan kembali sebelum sholat dzuhur dikarenakan supaya dapat mengerjakan sholat dzuhur secara berjemaah. 5. Mengajak anak lelakinya untuk ikut membantu ekonomi keluarga dengan cara melaut bersama ketika anak lelakinya tersebut lagi libur sekolah.

6. Menikahkan anak dengan cepat merupakan cara untuk mengurangi

Islam maka dari itu beliau pun beraktivitas serta mendidik anak-anaknya dengan nilai-nilai keislaman.

4. Mengajak anak untuk ikut melaut bersama beliau ketika hari libur sekolah

5. Pergi melaut jam 6 shubuh setelah selesai sholat shubuh dan kembali sebelum dzuhur. 6. Ingin menikahkan anaknya agar mengurangi beban tanggung jawabnya sebagai orangtua. 7. Mengatakan bahwa masyarakat sekitarnya memiliki kebiasaan dalam mengasuh anak tetangga. Hal tersebut merupakan bentuk dari tolong menolong antar

menundanya terlebih dahulu nanti ketika sudah selesai sholat barulah melanjutkan

aktivitas atau pekerjaan yang sempat

tertunda

4. Ketika waktu sholat tiba tidak hanya beliau saja yang sibuk untuk melaksanakan sholat namun anak-anak beliau pun ikut bersiap jika waktu sholat telah tiba. Dan anak-anak beliau tidak ada yang bermain lagi, nanti ketika sudah sholat barulah mereka menlanjutkan

bermainnya.

5. Anak-anak diajarkan tentang agama sejak usia lima tahun, dan beliau

mempercayainya pada

pada pak S

4. Menurut beliau pendidikan agama jauh lebih penting daripada pendidikan umum karena menurut beliau percuma disekolahin tinggi-tinggi karena pada akhirnya akan melaut juga.

5. Menikahkan anaknya diusia enam belas tahun. Hal ini karena di lingkungannya anak-anak menikah di usia empat belas sampai delapan belas tahun. Ketika anak usia delapan belas tahun belum menikah juga maka disebut sebagai “perawan tua”

6. Ibu A mengatakan, walaupun masyarakat

beban kehidupan orangtua. 7. Lebih mementingkan pendidikan agama anak-anak daripada pendidikan sekolah anak-anak. warga. pak S 6. Ingin menikahkan anaknya dengan cepat,

karena beliau beranggapan

menikahkan anak adalah salah satu cara untuk mengurangi beban tanggungan beliau sebagai orangtua.

7. Pendidikan agama anak jauh lebih penting daripada pendidikan sekolah anak-anak.

8. Mengajak anak untuk

ikut membantu perekonomian keluarga

dari anak usia 6 atau 7 tahun.

9. Mengasuh anak tetangga adalah bentuk

dari rasa tolong menolong masyarakat pesisir.

di lingkungannya merupakan orang-orang yang susah namun rasa tolong menolong tetap ada pada mereka hal ditunjukkan dari kebiasaan dalam mengasuh anak tetangga yang masih banyak tanggungan anak-anaknya.

Faktor Yang Mempengaruhi

Pola Asuh Orangtua:

a. Pendidikan

1. Tidak memiliki latar belakang pendidikan sekolah 2. Tidak pernah menanyakan bagaimana pelajaran anak-anaknya disekolah, ranking atau juara si anak dikarenakan faktor tidak pernah sekolah tersebut.

1. Memiliki latar belakang pendidikan sekolah hanya sampai Sekolah Dasar

2. Mengenai pendidikan sekolah anak-anak, pak S tidak pernah peduli kepada pendidikan sekolah anak-anaknya. Beliau menganggap bahwa beliau tidak mengetahui tentang pendidikan sekolah.

1. Tidak memiliki latar belakang pendidikan. 2. Karena beliau tidak

pernah sekolah maka dari itu beliau tidak pernah menanyakan bagaimana

perkembangan

anaknya disekolah. Beliau menyerahkan segala urusan sekolah pada anak-anaknya.

1. Tidak memiliki latar belakang pendidikan 2. Karena beliau tidak

pernah sekolah maka dari itu mengenai pendidikan sekolah anak-anak, ibu A tidak pernah peduli. Beliau tidak mengetahui tentang pendidikan sekolah

b. Lingkungan 1. Mengajak anak

lelakinya melaut sedangkan

perempuannya

membantu pekerjaan rumah tangga ibunya atau jika ada borongan mengupas kulit udang maka anak perempuannya juga ikut andil dalam borongan tersebut. 2. Mengajarkan kepada

1. Mengajak anak lelakinya untuk melaut

ketika libur sekolah dan

menyuruh anak perempuannya yang masih kecil untuk ikut bersama istrinya dalam borongan mengupas kulit udang.

2. Mengajarkan

anak-anaknya sholat, membaca Qur’an serta

ajaran agama dari usia

1. Beliau sangat

menginkan anak pertamanya untuk menikah, jika anak pertamanya menikah diusia 20 tahun maka akan disebut sebagai perawan tua. Beliau tidak mau hal itu terjadi pada anaknya.

2. Anak lelaki di lingkungan beliau jika sudah bisa mencari

1. Beliau menikahkan anaknya disia 16 tahun karena di lingkungan beliau anak-anak usia 15-18 tahun sudah menikah. Jika anak yang belum menikah usia 18 tahun maka akan disebut sebagai “perawan tua”

2. Di lingkungan beliau diharuskan anak-anak

anak-anak untuk bisa sholat, membaca Al-Qur’an serta ajaran agama Islam. Hal ini pak M mempercayainya pada pak S.

3. Ketika anak-anak usia setara dengan usia anak SMP belum bisa membaca Al-Qur’an maka akan menjadi bahan gosipan para warga.

4. Memilki pandangan menikahkan anak adalah cara untuk mengurangi beban tanggung jawab orangtua

5 tahun.

3. Jika anaknya sudah meminta untuk dinikahkan maka beliau

pun akan menikahkan anak lelakinya. Karena di lingkungan beliau anak lelaki yang sudah bisa mencari uang sendiri maka sudah bisa ia menikah sedangkan perempuan harus melewati masa balighnya terlebih dahulu jika sudah baligh barulah bisa

dinikahkan oleh orangtuanya.

uang sendiri maka sudah bisa lah ia dinikahkan oleh orangtuany, jika anak perempuan maka ia harus melewati masa baligh dahulu.

3. Anak lelakinya pergi melaut bersama suaminya ketika libur sekolah sedangkan anak perempuannya harus menjaga toko baju ketika sudah pulang dari sekolahnya sedangkan anaknya yang paling kecil yang masih kelas lima SD diajaknya ketika borongan mengupas kulit udang.

4. Mengajarkan

anak-anaknya sholat, membaca Qur’an serta

ajaran agama dari usia 5 tahun.

untuk bisa membaca Qur’an maka dari itu beliau pun menyuruh anak-anaknya untuk belajar Qur’an serta agama pada pak S

3. Beliau juga

menyuruuh anak-anaknya untuk bisa menghasilkan uang juga seperti anak lelakinya yang masih kelas lima SD pun beliau bawa dalam borongan mengupas kulit udang demi mendapatkan upah Rp10.000

5. Pendidikan agama anak-anaknya jauh lebih penting daripada pendidkan sekolah anak-anaknya.

c. Budaya 1. Mengajarkan anaknya

membaca Al-Qur’an, sholat serta ajaran agama Islam karena menganggap orang Islam harus memilki kemampuan tersebut. Dan jika anaknya tidak menguasai kemampuan tersebut maka beliau pun akan merasa malu dan berdosa

2. Karena budaya yang melekat dengan nilai keislaman tersebut pak M pun akan berjuang untuk membuat anaknya pintar dalam hal membaca Qur’an dan

1. Beliau mengatakan karena beliau bersuku Melayu dan suku Melayu itu adalah beragama Islam maka dari itu beliaupun beraktivitas serta mendidik anaknya juga berdasarkan nilai islam yang ada.

2. Beliau mengajari anak utuk bisa membaca Qur’an, sholat, serta ajaran agama Islam merupakan bentuk dari menanamkan nilai islam pada anak-anaknya.

1. Menjunjung tinggi nilai agama karena bersuku

Melayu. Beliau beranggapan orang yang bersuku Melayu adalah orang Islam. Maka dari itu beliau mendidik anak serta berprilaku sesuai dengan nilai-nilai Islam.

2. Beliau mengajari anak utuk bisa membaca Qur’an, sholat, serta ajaran agama Islam merupakan bentuk dari menanamkan nilai islam pada anaknya sejak anak-anak usia 5 tahun. 3. Jika waktu sholat tiba

maka beliau serta

anak-1. Lingkungan disekitar ibu A adalah beragama Muslim, maka dari itu beliau mendidik anak-ana dengan nilai-nilai keislaman.

2. Menyuruh anak untuk belajar mengaji di usia 4 tahun 3. Memandang pendidikan agama adalah pendidikan nomor satu sedangkan pendidikan

yang lainnya menjadi nomor sekian dan bahkan dianggap tidak penting bagi beliau.

sholat. anaknya harus mengerjakan sholat

Gaya Pola Asuh Orangtua :

a. Authoritari

an

1. Menunjukkan kasih sayang dengan cara mendidik anak dengan “keras” yaitu

memukul atau menampar dengan harapan agar si anak tidak melawan pada orangtua

2. Pak M adalah figur ayah yang ditakuti oleh anaknya dan pak M pun menyenangi hal tersebut.

3. Komunikasi yang terjalin antara pak M dengan anaknya hanya sebatas “jika ada perlunya saja” 4. Memberi hukuman

secara fisik yaitu memukul atau

1. Menunjukkan rasa kasih sayang pada anak-anaknya dengan cara mendidik

anak-anaknya secara “keras”.

2. Menghukum anak-anaknya secara fisik seperti memukul, menampar bahkan menendang.

3. Ketika anak dihukum oleh beliau, beliau tidak ada memberikan

alasan mengapa anaknya mendapatkan

hukuman. Karena menurut beliau anaknya pasti sudah mengetahui alasan kenapa dihukum.

4. Pak S selalu

1. Menunjukkan rasa kasih sayang dengan cara mendidik anak dengan hukuman.

2. Menghukum anak secara fisik yaitu mencubit atau menarik telinga anaknya. Ibu SH beranggapan bahwa hukuman yang diberikannya adalah hukuman sederhana

3. Tidak ada memberi alasan pada anak ketika anak mendapatkan hukuman. Karena beliau mengatakan anaknya pasti sudah tahu alasannya kenapa ia diberi hukuman seperti itu karena jika ia tidak melakukan

5. Tidak ada memberi alasan mengapa anak di beri hukuman secara fisik karena pak M menganggap anak-anaknya sudah mengetahui alasannya. 6. Tidak memberi kesempatan anak untuk menjelaskan menagapa anak melakukan kesalahan

lelakinya dengan cara fisik di depan anak perempuannya yang masih duduk di kelas lima SD. Ketika anaknya melihat pak S menghukum anak lelakinya, beliau mengatakan pada anak

perempuannya kalau tidak ingin seperti abangnya maka jangan berbuat nakal seperti abangnya.

5. Pak S di takuti oleh anak-anaknya. dan pak S pun merasa senang denga perasaan takut anak-anaknya terhadap beliau karena menurut beliau itu adalah bentuk dari rasa hormat mereka pada beliau.

6. Berkomunikasi pada anak tidak sering

tidak akan menghukum anaknya. maka dari itu beliau beranggapan

tidak perlu memberikan alasan

pada anak mengapa ia dihukum.

4. Tidak memberi kesempatan pada anak

untuk memberikan alasan mengapa anak melakukan kesalahan.

karena faktor dari rasa atakut anak-anak terhadapnya. Oleh karena itu beliau berkomunikasi pada anak-anaknya sebatas “ada perlunya saja”. a. Authoritati

ve

- - 1. Komunikasi yang

terjalin antara beliau dengan anak-anaknya sering karena

anak-anaknya selalu menceritakan masalah

mereka pada ibu SH.

Tidak hanya mendengarkan cerita

anak-anaknya saja ibu SH juga memberi nasihat-nasihat pada anaknya ketika anaknya bercerita padanya. 2. Walaupun anak-anak selalu dihukum oleh ibu SH dengan cara mencubit atau menarik

1. Menunjukkan rasa kasih sayang dengan cara menasehati anak

dengan baik, menyekolahkan anak

ketika masih mampu, menyuruh anak untuk belajar mengaji, serta menasehati anak untuk saling tolong menolong pada sesama.

2. Anak-anak selalu bercerita dengan ibu A. Anak cerita mengenai masalah temannya, pacar ataupun masalah lainnya.

telinga. Anak-anak tidak takut pada beliau

3. Anak-anak dekat dengan beliau. Beliau dan anak-anaknya

selalu bercerita ataupun bercanda ria.

3. Beliau tidak hanya mendengarkan

cerita0cerita si anak saja tapi beliau memberikan nasihat-nasihat pada anaknya

ketika anaknya bercerta pada beliau

4. Anak juga terkadang meminta solusi masalah yang sedang dihadapinya kepada beliau dan beliau pun memberikannya.

5. Tidak pernah

menghukum anaknya secara fisik, ketika anak melakukan kealahan beliau justru menasehati anak-anaknya supaya tidak melakukan kesalahan lagi.

6. Selalu bercanda dengan

menurut beliau bercanda dengan anak-anak membuat letih bekerjanya hilang untuk sesaat.

b. Permissive a. Pak M tidak

mempermasalahkan

anaknya ketika anaknya sudah tidk ingin sekolah lagi.

b. Beliau tidak tahu menau tentang perkembangan

anak-anaknya disekolah. c. Menurut beliau tugas

beliau hanya membiayai anaknya

sekolah sedangkan tentang bagaimana pendidikan anaknya di sekolah beliau tidak mengetahuinya.

1. Tidak pernah peduli dan tidak ingin tahu dengan perkembangan sekolah anak-anaknya, tidak pernah menanyakan keadaan sekolah anak-anaknya. 2. Jika anak-anaknya

meminta untuk libur sekolah maka pak S

pun mengijinkan anaknya untuk libur sekolah tanpa ditanya alasannya, asalkan ketika anaknya libur sekolah maka anaknya harus ikut melaut bersamanya.

1. Ibu SH tidak tahu menau tentang sekolah anak-anaknya. yang beliau tahu hanya membiayai sekolah anak-anaknya untuk urusan yang lain beliau tidak ingin tahu.

2. Tidak pernah peduli dengan perkembangan sekolah anak-anaknya. 3. Beliau juga tidak

pernah menanyakan bagaimana pelajaran sekolah anak-anaknya rangking atau nilai anak-anaknya di sekolah pun beliau tidak ingin tahu.

1. Tidak pernah ingin tahu bagaimana perkembangan

sekolah anak-anaknya,

2. Beliau tidak pernah bertanya bagaimana nilai ataupun rangking anak-anaknya di sekolah.

3. Ibu A merasa sangat

bersyukur jika anaknya masih mampu dan mau bersekolah. Tapi hal

lain yang berhubungan dengan

pelajaran anaknya beliau tidak tahu.

Dokumen terkait