• Tidak ada hasil yang ditemukan

FAKTOR STRATEGI INTERNAL Kuat Sedang Lemah

5 A jelas lebih penting dari B 7 A sangat jelas lebih penting dari B

9 A Mutlak lebih penting dari B

2,4,6,8 Nilai antara dua nilai pertimbangan yang berdekatan

Nilai perbandingan A dengan B adalah 1 (satu) dibagi dengan nilai perbandingan B dengan A.

3) Penentuan/penetapan prioritas

Setelah kriteria dan alternatif dilakukan dengan matriks perbandingan berpasangan (pairwise comparisons), kemudian diolah untuk menentukan peringkat relatif dari seluruh alternatif. Baik kriteria kualitatif maupun

23 kuantitatif dapat dibandingan sesuai dengan judgement yang telah ditentukan untuk menghasilkan bobot dan prioritas. Bobot atau prioritas dihitung dengan manipulasi matriks atau penyelesaian dengan persamaan matematik.

4) Konsistensi logis

Semua elemen dikelompokkan secara logis dan diperingkatkan secara konsisten sesuai dengan suatu kriteria yang logis. Persoalan yang memiliki konsistensi tinggi sangat dibutuhkan untuk dasar pengambilan keputusan agar hasil keputusannya menjadi lebih akurat.

Penyelesaian persoalan metode AHP yang digunakan untuk menentukan prioritas alternatif strategi pengembangan usaha dari PT XYZ ini menggunakan software Super Decisions versi 2.4.0 yang dapat menampilkan hasil yang lebih menarik secara grafis dan mudah dimengerti. Perhitungan metode AHP dengan bantuan aplikasi sistem pendukung keputusan akan lebih cepat dibandingkan dengan perhitungan secara manual sehinga bisa lebih efisien dan tingkat keakuratan data sudah mendekati sempurna (Darmanto et al. 2014). Penggunaan Software Super Decisions ini diawali dengan menyusun sebuah hierarki dari persoalan yang ada, kemudian menentukan nilai perbandingan berpasangan antara kriteria dan alternatif yang ada sesuai dengan kuesioner AHP yang telah diisi oleh pakar dibidang bisnis minyak atsiri. Dalam analisis dengan AHP digunakan CR (Concistency Ratio) sebagai dasar untuk mengetahui konsistensi isian kuesioner dari para pakar, seharusnya nilai konsistensi tidak lebih dari 0,10 (Marimin 2008).

Struktur rancangan hierarki AHP yang disusun untuk memilih strategi pengembangan usaha industri minyak atsiri ditampilkan pada Gambar 3.

Langkah-langkah dalam penyelesaian persoalan menggunakan metode AHP adalah sebagai berikut:

1) Mendefinisikan persoalan secara rinci dan menentukan solusi yang diinginkan.

2) Membuat struktur hierarki dari persoalan yang telah diuraikan agar lebih detail dan terstruktur.

3) Menyusun matriks perbandingan berpasangan (pairwise comparisons) yang menggambarkan pengaruh setiap elemen terhadap tujuan/kriteria pada level diatasnya.

4) Melakukan pendefinisian perbandingan berpasangan sehingga diperoleh jumlah penilaian seluruhnya sebanyak n x [(n-1)/2] buah, dengan n adalah banyaknya elemen yang dibandingkan.

5) Menghitung nilai eigen dan menguji konsistensinya.

6) Mengulangi langkah 3, 4, dan 5 untuk seluruh tingkat hirarki.

7) Menghitung vektor eigen dari setiap matriks perbandingan berpasangan 8) Mengevaluasi konsistensi untuk seluruh hierarki

24

25

4

HASIL DAN PEMBAHASAN

Gambaran Umum Penelitian

Perkembangan Industri Minyak Atsiri

Indonesia memiliki potensi yang sangat besar dalam pengembangan industri minyak atsiri. Potensi bahan baku yang dimiliki oleh petani di Indonesia cukup besar, dan sampai saat ini pengolahannya belum maksimal. Hasil dari industri minyak atsiri ini dibutuhkan dalam beberapa industri antara lain untuk industri makanan, kebutuhan rumah tangga, farmasi dan obat-obatan. Selain itu minyak atsiri juga memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi produk derivatif lain seperti pestisida nabati yang dapat menjadi bahan substitusi pestisida kimia sintetik (Hartati, 2012).

Permasalahan utama dalam pengembangan industri minyak atsiri di Indonesia terletak pada mutu produk yang dihasilkan oleh perusahaan-perusahaan yang bergerak dibidang ini. Menurut Salviana (2012) industri minyak atsiri sulit berkembang karena dipengaruhi oleh proses produksi minyak atsiri yang masih menggunakan teknologi yang tidak efisien, pemasaran belum maksimal dan pengelolaan manajemennya masih sederhana serta belum sinerginya antara pelaku industri minyak atsiri dengan pemerintah. Selain itu permasalahan lain adalah soal harga bahan baku dan harga jual yang masih fluktuatif, disini peran pemerintah sangat dibutuhkan untuk mengatur harga.

Menurut penelitian Wahyudi dan Ermiyati (2012) tentang prospek pengembangan minyak nilam di Indonesia, fluktuasi harga bahan baku dan harga jual komoditi minyak atsiri dapat meningkatkan tingkat resiko kerugian baik dalam pembudidayaan bahan baku maupun pengembangan industri minyak atsiri di Indonesia, hal ini tentu tidak hanya berlaku hanya pada komoditi minyak nilam, akan tetapi juga berlaku pada komoditi jenis atsiri yang lain.

Industri pengolahan minyak atsiri di Indonesia sebagian besar perkem- bangannya baru ada di pulau Jawa dan Sumatera, sedangkan di pulau lain belum berkembang pesat, dan sebagian besar dikuasai oleh perusahaan-perusahaan yang sudah mapan dan telah menguasai sektor bisnis industri ini baik mulai dari bahan baku sampai pengolahan menjadi barang setengah jadi maupun barang jadi yang siap dijual. Akan tetapi perusahaan tersebut belum bisa menjawab semua kebutuhan yang ada di Indonesia. Seperti dijelaskan pada pendahuluan, Nilai perdagangan ekspor minyak atsiri Indonesia dari tahun 2012 - 2013 mengalami penurunan sedangkan dari tahun 2013 – 2014 mengalami peningkatan, nilai perdagangan impor dari tahun 2012 - 2013 mengalami peningkatan sedangkan dari tahun 2013 – 2014 sedikit mengalami penurunan. Total nilai perdagangan ekspor minyak atsiri lebih besar dari pada nilai perdagangan impor. Nilai perdagangan ekspor turunan minyak atsiri dari tahun 2012 – 2014 cenderung meningkat. Nilai perdagangan impor turunan minyak atsiri dari tahun 2012 – 2013

26

mengalami peningkatan, sedangkan dari tahun 2013 – 2014 sedikit menurun. Total nilai perdangan impor turunan minyak atsiri jauh lebih besar dari nilai perdagangan ekspor

Kondisi Umum Perusahaan

PT XYZ merupakan salah satu tenant dari Balai Inkubator Teknologi yang diinkubasi sejak akhir tahun 2014. PT XYZ dengan nama perusahaan yang lain sebenarnya sudah diinkubasi sejak tahun 2011 akan tetapi pada perjalanannya perusahaan ini sempat mengalami pergantian investor dan akhirnya berubah nama dan diinkubasi/dibina kembali pada tahun 2014.

PT XYZ merupakan IKM yang bergerak dibidang agroindustri dalam pengolahan bahan baku minyak atsiri (minyak kasar) menjadi minyak turunan atsiri. Berdasarkan Peraturan Menteri Perindustrian No. 136/M-IND/PER/10 /2009, kegiatan usaha yang dijalankan oleh PT XYZ digolongkan dalam kelompok industri antara, karena melakukan pengolahan lebih lanjut terhadap minyak kasar menjadi produk turunan minyak atsiri.

PT XYZ memiliki visi untuk menjadi produsen minyak atsiri dan turunannya dengan reputasi yang sangat baik di pasar internasional dengan memberikan jaminan dan kualitas produk dari sumber alami terbaik. Sedangan misi PT XYZ adalah untuk menjadi mitra bisnis yang dapat dipercaya dan diandalkan dan berkomitmen untuk menyajikan produk dari minyak atsiri dan turunannya yang terbaik dan berbasiskan ilmu pengetahuan.

Sebelum diinkubasi penanggung jawab dari PT XYZ merupakan keluaran dari salah satu perusahaan besar yang bergerak di industri minyak atsiri. Datang ke Balai Inkubator Teknologi untuk diseleksi menjadi tenant dengan hanya membawa konsep yang dikuasainya dalam produksi minyak atsiri. Setelah diterima menjadi tenant, BIT memberikan dukungan dalam bidang produksi untuk membantu menyarankan teknologi/peralatan yang digunakan yaitu teknologi fraksinasi, pengadaan bahan baku untuk skala uji produksi dan pelatihan-pelatihan untuk perusahaan start-up baik dibidang manajemen perusahaan, pemasaran dan produksi.

Tenaga kerja yang dimiliki oleh PT XYZ berjumlah 11 orang terdiri dari 6 karyawan tetap dan 5 karyawan tidak tetap, dengan tingkat pendidikan dilevel manajemen tingkat atas dan menengah adalah seorang sarjana, sedangkan tingkat bawah (operator produksi) adalah lulusan SMK. Sumber Daya Manusia merupakan aset perusahaan yang sangat penting, karena SDM merupakan penggerak utama jalannya sebuah perusahaan, dan faktor SDM inilah yang akan berpengaruh akan kearah mana perusahaan tersebut dijalankan.

Saat ini pemasaran yang dilakukan oleh perusahaan masih bersifat monoton melalui telepon dan email, penjualannya hanya mengandalkan jaringan yang dimiliki oleh pimpinan perusahaan sehingga sangat terbatas karena masih terbatasnya tenaga kerja dibidang pemasaran. Akan tetapi kondisi tersebut masih cukup untuk menjalankan roda perusahaan untuk menghidupi perusahaan, baik untuk keberlanjutan produksi dan gaji tenaga kerja. Selain itu kegiatan promosi

27 perusahaan dilakukan melalui kegiatan pameran-pameran dan mulai memanfaatkan teknologi informasi melalui website, akan tetapi perusahaan perlu pelatihan lagi untuk memaksimalkan penggunaan teknologi informasi untuk melakukan promosi/pemasaran dan penjualan produk.

Kondisi keuangan PT XYZ tergolong cukup baik sebagai perusahaan startup yang baru berjalan, akan tetapi perusahaan masih merasa kurang permodalan untuk mengembangkan dan memperbesar usahanya. Sumber permodalan yang digunakan untuk menjalankan perusahaan pada awal-awal berasal dari modal sendiri dan investor dengan sistem bagi hasil, dengan modal awal sebesar 2 milyar rupiah dan rataan omzet perbulan sekitar 200 juta rupiah, perusahaan bisa menghidupi jalannya roda usaha sampai sekarang. Beberapa aset yang dimiliki oleh perusahaan selain aset SDM yang kompeten walaupun masih belum merata kemampuannya, aset lain yaitu peralatan yang memperkuat bidang produksi seperti peralatan fraksinasi, tangki reaksi, GC (Gas Chromatography), refractrometer, peralatan laboratorium dan peralatan pendukung lain.

Struktur Organisasi

Struktur organisasi merupakan pembagian, pengkoordinasian pekerjaan yang dilakukan oleh perusahaan secara formal, dalam struktur organisasi pembagian-pembagian pekerjaan dilakukan secara jelas dan terstruktur berdasarkan tugas, wewenang, tanggung jawab dan spesialisasi yang dimiliki oleh masing-masing bagian.

PT XYZ dipimpin langsung oleh seorang direktur utama yang bertanggung jawab terhadap keberlangsungan perusahaan, dengan membawahi seorang manajer pemasaran, manajer keuangan dan manajer produksi. Manajer pemasaran bertanggung jawab atas pemasaran dari produk-produk yang dihasilkan oleh perusahaan, manajer keuangan bertanggung jawab atas bidang keuangan perusahaan, manajer produksi membawahi operator produksi dan Research and Development (R&D) dan bertanggung jawab terhadap bidang produksi, penelitian dan pengembangan produk.

28

Lokasi dan Tata Letak

PT XYZ berlokasi di Gedung 410 Kawasan PUSPIPTEK Serpong Tangerang Selatan, lokasi perusahaan berada di kawasan PUSPIPTEK karena PT XYZ ini merupakan tenant inwall yang sedang dibina oleh Balai Inkubator Teknologi – Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BIT–BPPT). Di Gedung BIT PT XYZ menempati 3 ruangan (1 ruang kantor dan 2 ruang laboratorium) dan 1 area workshop tempat perusahaan ini melakukan produksi dan terletak di area luar Gedung BIT. Lokasi perusahaan tergolong strategik karena di PUSPIPTEK terdapat puluhan Laboratorium berstandar nasional yang dimiliki oleh BPPT, LIPI, BATAN yang dapat dimanfaatkan oleh perusahaan, selain itu lokasi ini juga cukup dekat dengan kawasan industri dan pergudangan baik di Bogor maupun Tangerang Selatan yang dapat dimanfaatkan oleh perusahaan untuk memasarkan dan mengembangkan bisnisnya.

Produk yang Dihasilkan

Berdasarkan Peraturan Menteri Perindustrian No. 136/M-IND/PER/10 /2009, kegiatan usaha yang dijalankan oleh PT XYZ digolongkan dalam kelompok industri antara, karena melakukan pengolahan lebih lanjut terhadap minyak kasar menjadi produk turunan minyak atsiri.

Produk yang dihasilkan oleh PT XYZ terdiri atas 2 (dua) jenis, yaitu: 1)Essential oil terdiri atas nutmeg oil yang berasal dari buah pala; clove leaf oil

dari daun dan bunga cengkeh; dan patchouli oil dari nilam.

2)Derivative of essential oil terdiri atas Eugenol USP dan Eugenol Asetat yang semuanya merupakan produk turunan dari clove leaf oil.

Akan tetapi fokus produksi dari PT XYZ saat ini baru pada turunan minyak atsiri berupa eugenol USP dan eugenol asetat yang merupakan produk turunan dari minyak cengkeh. Menurut Safrudin et al. (2015), Hasil dari Distilasi dan diidentifikasi dengan alat GC, Eugenol merupakan komponen kimia utama dari minyak cengkeh sebesar 77,53% dibanding dengan komponen kimia yang lain, sedangkan dalam kondisi minyak cengkeh yang sudah jelek kandungan eugenol turun sebesar 72,40%. Produk eugenol USP dan eugenol tersebut baru dipasarkan melalui sistem B to B (Business to Business), karena produk akhir yang dihasilkan merupakan komponen inti dan tambahan dari produk lain.

Analisis Kelayakan Usaha

Analisis kelayakan usaha dilakukan untuk mengetahui layak tidaknya industri minyak atsiri yang dijalankan oleh PT XYZ saat ini atau dimasa yang

29 akan datang, pada analisis ini juga diberikan beberapa asumsi dan proyeksi untuk melengkapi perhitungan analisis yang dilakukan. Analisis kelayakan usaha dilakukan melalui perhitungan terhadap beberapa parameter finansial yang dapat digunakan untuk mengetahui kelayakan sebuah investasi, Analisis kelayakan usaha yang dilakukan terdiri dari 2 (dua) metode yaitu metode Non-Discounted Cash Flow yaitu tanpa mempertimbangkan nilai waktu terhadap uang dengan menggunakan Payback Period (PBP) dan metode Discounted Cash Flow yaitu dengan melihat nilai waktu dari uang dengan menggunakan Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR) dan Benefit Cost Ratio (B/C Ratio) sedangkan untuk analisa keuntungan menggunakan Break Event Point (BEP) untuk mengetahui titik impas dimana usaha industri minyak atsiri dalam kondisi tidak untung maupun rugi.

Perhitungan kelayakan usaha industri minyak atsiri ini didasarkan pada beberapa asumsi-asumsi yang telah ditentukan dan perhitungan analisa keuangan terdapat pada lampiran 4 sampai dengan 15. Asumsi-asumsi tersebut dijelaskan sebagai berikut:

1. Penjualan untuk produk Eugenol USP sebesar 27.000 kg/th dan Eugenol Asetat sebesar 10.000 Kg/th dengan proyeksi pertumbuhan penjualan ditentukan naik sebesar 5% setiap tahun sampai dengan tahun ke 5 2. Biaya bahan baku dan pembantu ditentukan naik sebesar 6,36% setiap

tahun mengikuti rata-rata tingkat inflasi di Indonesia selama 5 tahun terakhir (BPS, 2016)

3. Gaji pegawai ditentukan naik sebesar 6,36% setiap tahun mengikuti rata-rata tingkat inflasi di Indonesia selama 5 tahun terakhir (BPS, 2016) 4. Penyusutan sebesar 20% tiap tahun mengikuti umur ekonomis peralatan

produksi yaitu 5 tahun

5. Tingkat Discount Factor / Faktor Diskonto ditentukan 14%.

Berdasarkan beberapa asumsi di atas, maka dapat disusun hasil analisis kelayakan usaha PT XYZ seperti dijelaskan pada Tabel 7.

Tabel 7 Analisis Kelayakan Usaha PT XYZ No Parameter Analisis

Kelayakan Nilai Kelayakan

1 Payback Period (PBP) 2 tahun 8 bulan 10 hari Layak

Dokumen terkait