• Tidak ada hasil yang ditemukan

A.1. Kredibilitas, Transferabilitas (Generalisasi),

Dalam dokumen Pemafaan pada Korban Perkosaan (Halaman 57-66)

BAB III METODE PENELITIAN

III. A.1. Kredibilitas, Transferabilitas (Generalisasi),

(Reliabilitas), dan Konfirmabilitas (Obyektivitas) dalam Pendekatan

Kualitatif

a. Kredibilitas

Istilah kredibilitas digunakan untuk menjelaskan validitas penelitian kualitatif yang dimaksudkan untuk merangkum bahasan menyangkut kualitas

penelitian kualitatif. Kredibilitas studi kualitatif terletak pada keberhasilannya mencapai maksud mengeksplorasi masalah atau mendeskripsikan setting, proses, kelompok sosial atau pola interaksi yang kompleks (Poerwandari, 2001).

Menurut Sarantoks (dalam Poerwandari, 2001) ada empat jenis validitas yang digunakan dalam pendekatan kualitatif yaitu:

1). Validitas kumulatif

Validitas kumulatif dicapai bila temuan dari studi-studi lain mengenai pemaafan pada korban perkosaan menunjukan hasil yang kurang lebih serupa. 2). Validitas komunikatif

Validitas komunikatif didapatkan melalui dikonfirmasikannya kembali data dan analisis pada responden penelitian. Data dan hasil analisis yang diperoleh akan dikonfirmasikan kembali pada sampel penelitian.

3). Validitas argumentatif

Validitas argumentatif tercapai bila presentasi temuan dan kesimpulan dapat diikuti dengan rasional, serta dapat dibuktikan dengan melihat kembali ke data mentah

4). Validitas ekologis

Validitas ekologis menunjukan pada sejauh mana studi dilakukan pada kondisi alamiah dari partisipan yang diteliti, sehingga justru kondisi ‘apa adanya’ dan kehidupan sehari-hari menjadi konteks penting penelitian.

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan keempat jenis validitas guna meningkatkan kualitas penelitian. Adapun beberapa cara yang peneliti gunakan

untuk meningkatkan kredibilitas penelitian ini adalah sesuai dengan yang dikemukan oleh Patton (dalam Poerwandari, 2001), yaitu:

1). Mencatat hal-hal penting serinci mungkin, mencakup catatan pengamatan objektif terhadap setting, partisipan ataupun hal-hal yang terkait. Peneliti juga perlu menyediakan catatan khusus yang memungkinkan menuliskan berbagai alternatif konsep maupun skema yang terkait dengan data. Catatan ini sangat penting dalam memudahkan mengembangkan analisis dan interpretasi.

2). Mendokumentasikan secara lengkap dan rapi data yang terkumpul, proses pengumpulan data dan strategi analisisnya.

3). Memanfaatkan langkah-langkah dan proses yang diambil peneliti-peneliti sebelumnya sebagai masukan bagi peneliti untuk melakukan pendekatan terhadap penelitiannya dan menjamin pengumpulan data yang berkualitas untuk penelitianya sendiri.

4). Menyertakan rekan yang dapat berperan sebagai pengkritik yang memberikan saran-saran dan pembelaan (‘devil advocate’) yang akan memberikan pertanyaan-pertanyaan kritis terhadap analisis yang dilakukan peneliti.

5). Melakukan pengecekan dan pengecekan kembali (checking dan rechecking) data, dengan usaha menguji kemungkinan dugaan-dugaan yang berbeda, peneliti perlu mengembangkan pengujian-pengujian untuk mengecek analisis, dengan mengaplikasikannya pada data, serta mengajukan pertanyaan tentang data.

b. Transferabilitas (Generalisasi)

Penelitian kualitatif dianggap lemah dalam validitas eksternal. Pada dasarnya dalam penelitian apapun generalisasi sangat sulit dicapai, generalisasi hanya dapat dicapai bila obyek studi dapat dilepaskan sepenuhnya dari pengaruh konteks dimana penelitian dilakukan(Poerwandari, 2001). Selanjutnya Cronbach (dalam Poerwandari, 2001) menyatakan bahwa fenomena sosial sangat bervariasi dan terikat pada konteks untuk memungkinkan tercapainya generalisasi empiris, adalah sah bahwa peneliti mengamati situasi khusus karena memberi prioritas pada upaya memahami setting dan situasi khusus tersebut, dengan kata lain, meneliti efek-efek dalam konteksnya.

Lincoln dan Guba (dalam Poerwandari, 2001) mengusulkan istilah generalisasi dengan istilah transferabilitas yaitu sejauh mana suatu penelitian yang dilakukan pada suatu kelompok tertentu dapat diaplikasikan pada kelompok yang lain dengan memperhatikan parameter teoritis yang digunakan.

Penelitian ini diharapkan mampu menggambarkan hasil dari penelitian yaitu berupa dampak dari pemaafan yang dilakukan oleh korban perkosaan kepada pelaku seperti dampak bagi kesehatan fisik maupun psikologis si korban, dimana hasil ini bisa diaplikasikan pada korban perkosaan yang lain yang tidak menjadi subjek penelitian ini.

c. Dependability (Reliabilitas)

Sarantoks (dalam Poerwandari, 2001) mengusulkan hal-hal yang dianggap penting yang dapat meningkatkan reliabilitas dalam penelitian kualitatif, yaitu:

1). Koheresi

Metode koheresi dipilih guna mencapai tujuan yang digunakan. Peneliti menganggap bahwa pendekatan kualitatif tepat digunakan dalam penelitian karena sesuai dengan tujuan penelitian, yaitu untuk mengatahui bagaimanakah pemaafan pada korban perkosaan beserta bentuk kombinasi yang terjadi atau sampai tahap kombinasi manakah pemaafan yang terjadi pada korban perkosaan.

2). Keterbukaan

Keterbukaan menunjukan sejauh mana peneliti bisa membuka diri dengan memanfaatkan metode yang berbeda untuk mencapi tujuan.

3). Diskursus

Diskursus menunjukan sejauh mana dan seintensif apa peneliti mendiskusikan temuan dan analisanya dengan orang lain.

d. Konfirmabilitas (Obyektivitas)

Dalam penelitian kualitatif konsep objektivitas diganti dengan konfirmabilitas yang menekankan bahwa temuan penelitian dapat dikonfirmasikan. Penelitian kualitatif mengembangkan pemahaman yang berbeda tentang objektivitas, objektivitas dapat diartikan sebagai sesuatu yang muncul (emergent) dari hubungan subjek-subjek yang berinteraksi, oleh karena itu objektivitas dilihat sebagi konsep inter subjektivitas, terutama dalam kerangka ‘pemindahan’ dari data yang subjektif kearah generalisasi (data objektif).

Selain itu, bagi peneliti kualitatif yang lebih penting adalah objektivitas dalam pengertian transparansi, yakni kesedian peneliti mengungkapkan secara terbuka proses dan elemen-elemen penelitiannya, sehingga memungkinkan pihak lain melakukan penilaian. Di sisi lain peneliti kualitatif melihat objektivitas dalam kerangka ‘kesamaan pandangan atau analisis’ terhadap objek atau topik yang diteliti. Dalam hal ini objektivitas ditampilkan melalui sejauh mana diperolehnya kesetujuan diantara peneliti-peneliti mengenai aspek yang dibahas (Sarantoks dalam Poerwandari, 2001).

Penelitian ini akan menggunakan konsep objektivitas dengan cara melakukan transparansi dan terbuka dalam proses penelitiannya melalui dosen pembimbing sebagai penilai dan para peneliti lainnya yang sama-sama sedang meneliti tentang pemaafan dengan menggunakan kesamaan pandangan dan analisis.

III.B. Subjek, Informan dan Lokasi Penelitian

Pada suatu penelitian, populasi dan sampel adalah hal yang harus diperhatikan. Populasi adalah semua individu untuk siapa kenyataan-kenyataan yang diperoleh dari sampel penelitian akan digeneralisasi. Sampel adalah sebahagian dari populasi yang dikenakan langsung dalam penelitian. Sampel harus bersifat representatif, yaitu dapat mewakili atau menggambarkan dengan jelas karakteristik populasinya(Hadi, 1999).

III.B.1. Karakteristik Partisipan Penelitian

Sesuai dengan tujuan peneliti ini maka karakteristik subjek yang dipilih adalah korban perkosaan.

III.B.2. Teknik Sampling

Agar mendapatkan subjek penelitian sesuai dengan karakteristik subjek penelitian yang telah disebutkan sebelumnya, teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah pengambilan sampel bola salju/berantai. Pengambilan sampel dilakukan secara berantai dengan meminta informasi pada orang yang telah diwawancarai atau dihubungi sebelumnya, demikian seterusnya (Poerwandari, 2001).

III.B.3. Jumlah Partisipan Penelitian

Menurut Patton (dalam Poerwandari, 2001), desain kualitatif memiliki sifat yang luwes, oleh sebab itu tidak ada aturan yang pasti dalam jumlah sampel yang harus diambil untuk penelitian kualitatif. Jumlah sampel sangat tergantung pada apa yang dianggap bermanfaat dan dapat dilakukan dengan waktu dan sumber daya yang tersedia.

Jumlah responden dalam penelitian ini adalah dua orang korban perkosaan yang akan diwawancarai. Alasan utama pengambilan jumlah sampel tersebut adalah adanya keterbatasan dari peneliti sendiri baik itu waktu, biaya maupun kemampuan peneliti.

III.B.4. Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Medan, pengambilan daerah penelitian tersebut adalah dengan alasan kemudahan untuk mendapatkan sampel penelitian, karena rumah peneliti berada di daerah tersebut. Lokasi penelitian dapat berubah sewaktu-waktu dn disesuaikan dengan keinginan responden penelitian agar responden penelitian merasa nyaman.

III.C. Metode Pengumpulan Data

Sesuai dengan sifat penelitian kualitatif yang terbuka dan luas, metode pengambilan data kualitatif sangat beragam. Menurut Poerwandari (2001), metode pengambilan data dalam penelitian kualitatif sangat beragam, disesuaikan dengan masalah, tujuan penelitian serta sifat objek yang diteliti. Metode pengambilan data dalam penelitian kualitatif antara lain: wawancara, observasi, diskusi kelompok terfokus, analisa terhadap karya (tulis, film dan karya seni lain), analisa dokumen, analisa catatan pribadi, studi kasus, studi riwayat hidup dan sebagainya.

Lofland dan Lofland (dalam Moleong, 2005) menyatakan bahwa sumber data utama dalam penelitian kualitatif adalah kata-kata atau tindakan, selebihnya adalah data tambahan seperti dokumen dan lain-lain. Namun dalam penelitian ini, metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara.

III.C.1.Wawancara

Wawancara adalah proses komunikasi interaksional antara dua pihak, dimana paling tidak salah satu pihak memiliki tujuan tertentu dan di dalamnya

terdapat pertanyaan dan menjawab pertanyaan (Stewart & Cash, 2000). Wawancara kualitatif dilakukan bila peneliti bermaksud untuk memperoleh pengetahuan tentang makna-makna subyektif yang berkenaan dengan topik yang diteliti dan bermaksud melakukan eksplorasi terhadap isu tersebut, suatu hal yang tidak dapat dilakukan melalui pendekatan lain (Banister dkk, 1994).

Aspek yang ingin diungkap dari wawancara ini adalah reaksi terhadap perkosaan, bagaimanakah proses pemaafan pada korban perkosaan atau jika ada pemaafan sampai kombinasi manakah pemaafan yang mungkin dimiliki oleh subjek penelitian, yakni kombinasi hallow forgiveness, silent forgiveness, total forgiveness, dan no forgiveness sesuai dengan klasifikasi kombinasi pemaafan yang dikemukakan oleh (Baumester, Exline & Sommer, 1998).

Jenis wawancara yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara mendalam (in-depth interview). Banister (1994) menjelaskan bahwa wawancara mendalam adalah wawancara yang tetap menggunakan pedoman wawancara, namun penggunaannya tidak sekedar wawancara terstruktur. Pedoman wawancara berisi “open-ended question” yang bertujuan agar arah wawancara tetap sesuai dengan tujuan penelitian (Poerwandari, 2001). Pedoman wawancara dalam penelitian ini dibuat berdasarkan pada dimensi pemaafan dan kombinasi pemaafan yang terbentuk yang dikemukakan oleh Baumester, Exline & Sommer, 1998.

Pedoman wawancara ini juga digunakan untuk mengingatkan peneliti mengenai aspek-aspek yang harus dibahas, sekaligus menjadi daftar pengecek (check list) apakah aspek-aspek yang relevan tersebut telah dibahas atau ditanyakan. Dengan pedoman yang demikian, peneliti harus memikirkan

bagaimana pertanyaan tersebut akan dijabarkan secara konkrit dalam kalimat tanya, sekaligus menyesuaikan pertanyaan dengan konteks aktual saat wawancara berlangsung (Poerwandari, 2001).

Saat wawancara berlangsung, peneliti juga akan melakukan observasi dan mencatat bahasa non verbal dari subjek penelitian.

III.D. Alat Bantu Pengumpulan Data

Menurut Poerwandari (2001) bahwa yang menjadi alat terpenting dalam penelitian kualitatif adalah peneliti sendiri. Namun untuk memudahkan pengumpulan data, peneliti membutuhkan alat bantu, seperti alat perekam (tape recorder), pedoman wawancara dan catatan lapangan.

Dalam dokumen Pemafaan pada Korban Perkosaan (Halaman 57-66)

Dokumen terkait