BAB III METODE PENELITIAN
IV. A.2 Observasi Umum Partisipan I
Tabel 2
Waktu Wawancara Partisipan I
No Partisipan Hari/Tanggal
Wawancara
Waktu Wawancara
Tempat Wawancara 1 Bakti Senin, 11 Februari 2008 13.30-16.10 Rumah Sakit Adam
Malik
2 Bakti Senin, 18 Februari 2008 14.00-16.40 Rumah Sakit Adam Malik
3 Bakti Rabu, 20 Maret 2008 14.00-15.45 Di ruang tamu rumah Bakti
Peneliti mengenal Bakti dari seorang dokter yang menangani pasien stroke yang melakukan fisioterapi di Rumah Sakit Adam Malik. Dokter tersebut bersedia untuk memperkenalkan salah satu pasien yang ditanganinya untuk diwawancarai oleh peneliti. Pada pertemuan pertama sebagaimana telah dijanjikan oleh peneliti, Bakti bersedia untuk bertemu dengan peneliti. Pertemuan ini adalah upaya peneliti untuk membangun rapport dan juga menjelaskan dari kedatangan peneliti. Peneliti juga ingin memastikan apakah Bakti sesuai dengan karakteristik subjek penelitian yang telah ditetapkan peneliti sebelumnya dan setelah peneliti memperhatikan bahwa Bakti sesuai dengan karakteristik sampel tersebut, maka Bakti menandatangani surat pernyataan kesediaan menjadi sampel penelitian.
Pertemuan pertama ini dilakukan pada tanggal 3 Februari 2008 pukul 13.00- 13.30 WIB. Bakti datang ke Rumah Sakit Adam Malik untuk mengikuti fisioterapi yang akan dilakukan di rumah sakit. Pada pertemuan ini Bakti mengenakan kemeja putih dengan celana panjang coklat. Pada saat itu peneliti di temani oleh putrinya yang kedua. Mengingat pertemuan pertama ini hanya untuk meminta kesediaan Bakti menjadi subjek penelitian, sehingga peneliti membangun rapport dengan partisipan. Peneliti menjelaskan tentang penelitian ini, apa tujuannya dan bagaimana Bakti akan terlibat dalam penelitian ini. Setelah itu, Bakti bersedia untuk diwawancarai, lalu peneliti dan partisipan menentukan jadwal pertemuan untuk mengadakan wawancara pertama. Tidak ada gangguan pada saat wawancara awal dilakukan dan mengingat ini adalah wawancara awal maka peneliti tidak menggunakan tape recorder untuk merekam hasil wawancaranya.
Wawancara pertama yang merupakan pertemuan kedua diadakan 11 Februari 2008 pada pukul 13.00-16.10 WIB di Rumah Sakit Adam Malik. Lebih jelasnya waktu wawancara yang telah dilakukan dapat di lihat pada tabel 2 di atas. Kali ini Bakti mengenakan pakaian kemeja biru tua dengan celana berwarna abu-abu. Saat itu Bakti ditemani oleh cucunya yang berusia 13 tahun yang duduk di kelas II SLTP. Wawancara awal dilakukan di kursi panjang yang berwarna putih yang terletak trotoar rumah sakit, dan kursi panjang tersebut menghadap taman yang ada dibelakang Rumah Sakit Adam Malik. Lantai trotoar dari rumah sakit tersebut berwarna putih dan cat dinding yang juga berwarna putih. Di hadapan kursi panjang tersebut terdapat taman yang ditanami dengan berbagai bunga dan pohon-pohon, dan di taman tersebut terdapat beberapa kain kain putih yang dijemur di atas tikar. Bakti duduk dengan memegang tongkatnya yang berfungsi untuk membantunya saat berjalan.
Beberapa kali Bakti terdiam beberapa saat, ketika akan memulai pembicaraannya. Beberapa kali Bakti menggigit bibirnya saat menceritakan pembunuh putrinya yang pertama, dan mulai mengusap dadanya saat menceritakan bahwa partisipan telah memaafkan pembunuh putrinya tersebut. Terkadang Bakti mengerutkan keningnya saat akan melanjutkan pembicaraannya. Bakti mencubit tangan kirinya yang lumpuh untuk menunjukkan pada peneliti bahwa tangan kirinya telah mati rasa ketika dicubit olehnya.
Tatapan mata partisipan tetap tertuju kepada peneliti ketika bercerita, walaupun sesekali ia melihat ujung tongkatnya atau melihat ke lantai saat
menceritakan hal-hal yang membuatnya sedih yaitu saat menceritakan kesedihan atas kehilangan putri sulungnya. Terkadang Bakti terlihat menerawang melihat ke atas dan beberapa kali Bakti melihat ke arah taman saat mencoba mengingat peristiwa yang dialaminya. Bakti yang tidak menyilangkan tangannya pada saat bercerita, dan tangan kanan Bakti secara leluasa bergerak untuk membantunya untuk menerangkan sesuatu. Pada saat akhir wawancara pertama, Bakti terlihat tersenyum saat menceritakan tujuan hidupnya kepada peneliti.
Wawancara kedua dilakukan seminggu kemudian setelah wawancara pertama selesai dilakukan dan waktu tersebut telah disepakati bersama oleh peneliti dan partisipan. Pertemuan ini berlangsung pada tanggal 18 Februari 2008 pukul 14.00- 16.40 WIB. Pada pertemuan ini, Bakti ditemani cucu yang sama saat wawancara pertama. Wawancara juga dilakukan di tempat yang sama dengan wawancara pertama yaitu di kursi panjang trotoar Rumah sakit Adam Malik, karena tempat tersebut merupakan tempat wawancara yang cukup kondusif dan nyaman bagi peneliti dan partisipan untuk melakukan wawancara. Saat wawancara kedua ini, Bakti mengenakan kemeja putih bergaris kuning dengan celana abu-abu, memegang tongkat. Pada saat wawancara ini, ada beberapa hal yang mengganggu yaitu ketika petugas kebersihan yang akan membersihkan lantai trotoar sehingga wawancara sempat dihentikan kira-kira tiga menit, dan saat itu ada perawat yang mendorong kursi roda seorang penderita stroke, sehingga hal ini mengalihkan perhatian Bakti saat wawancara, namun hal itu bisa di kontrol oleh peneliti dengan melanjutkan wawancara.
Pada saat wawancara kedua, Bakti menggeleng-gelengkan kepala saat menceritakan perbuatannya di masa lalu dan kondisi keluarganya yang berantakan. Bakti juga tetap menggerakkan tangan kanannya saat menjelaskan sesuatu. Bakti meneteskan air matanya saat menceritakan bagaimana keluarganya merawat dan mengasihinya ketika dalam kondisi kelumpuhan yang berat. Kemudian Bakti mengusap air mata di pipinya dengan sapu tangannya, dan hal itu sempat membuat wawancara terhenti sebentar. Beberapa kali, Bakti memandang ke arah taman saat bercerita, namun tetap memelihara kontak mata dengan peneliti. Bakti kembali tersenyum saat menceritakan betapa dia mengasihi keluarganya.
Pertemuan keempat yang merupakan wawancara ketiga, dilakukan di ruang tamu rumah Bakti yang berada di Pancur Batu. Pertemuan ini berlangsung pada tanggal 20 Maret 2008 pukul 14.00-15.40 WIB. Waktu peneliti datang, Bakti sedang menonton TV di ruang tamu bersama cucunya yang masih kecil yang berusia 4 tahun. Ruang tamu tersebut berukuran 4 x 4 m
²
, dan terdapat tiga sofa berwarna merah sebagai kursi tamu. Pada wawancara ini, Bakti tetap memelihara kontak mata dengan peneliti. Pada akhir wawancara ketiga ini, terdengar teriakan cucu Bakti yang sedang bermain di ruang tamu dan menjatuhkan buku-buku di rak sehingga wawancara sempat terhenti. Partisipan akhirnya meminta cucunya bermain di teras rumahnya. Saat wawancara akan berakhir, Bakti menunjukkan ladang yang ditanami berbagai jenis pepohonan seperti pohon jeruk, pohon jambu dan pohon mangga kepadapeneliti. Saat itu, partisipan menceritakan bagaimana hari-harinya diladangnya dan bagaimana dia menikmati keindahan alam di sekitarnya.