• Tidak ada hasil yang ditemukan

A. 1. Observasi, wawancara, dan interpretasi partisipan I

Dalam dokumen Harga Diri Remaja Yatim Piatu (Halaman 45-69)

BAB IV. ANALISA DAN INTERPRETASI DATA

IV. A. 1. Observasi, wawancara, dan interpretasi partisipan I

Wawancara dilakukan sebanyak tiga kali di Panti Asuhan X dan dilakukan pada: Rabu, 12 September 2007 pukul 16.30 – 17.30; Selasa, 11 Maret 2008 pukul 16.15 – 17.30; Senin, 7 April 2008 16.30 – 17.45.

Tabel 1. Data Diri Partisipan I

No Dimensi Partisipan

1 Inisial Rudi

2 Usia 14 tahun

3 Pendidikan Kelas I – V SD di Samosir Kelas VI SD di Medan

Kelas VII-sekarang di SMP Medan Putri 4 Alamat Panti asuhan X

7 Urutan dalam keluarga Anak tunggal 8 Pekerjaan Ayah sebelum

meninggal

Nelayan 9 Pekerjaan Ibu sebelum

meninggal

Pedagang

Rudi adalah seorang anak tunggal. Rudi lahir dan besar di Samosir, sebuah kabupaten di tengah-tengah Danau Toba. Ketika Ayah Rudi masih hidup, Ayah Rudi bekerja di Sibolga sebagai seorang nelayan sedangkan Rudi dan Ibunya tinggal di Samosir bersama kedua Opungnya.

Rudi ditinggal oleh Ayahnya yang menutup usia ketika Rudi masih bayi. Sejak ditinggalkan oleh Ayah Rudi, Ibu Rudi membesarkan Rudi bersama kedua opungnya dan Ibu Rudi meninggal dunia ketika Rudi duduk di bangku kelas III SD. Setelah kepergian kedua orang tuanya, Rudi tinggal dan diasuh di rumah kedua Opung dari Ibu Rudi.

Ketika Rudi memasuki bangku kelas VI SD, atas permintaan dari kedua Opungnya Rudi dikirimkan ke Panti Asuhan X. Rudi dipindahkan ke panti asuhan ini dengan alasan agar Rudi bisa menjadi orang yang lebih disiplin dan mendapat kesempatan untuk memperoleh pendidikan yang lebih baik. Menurut kedua opungnya Rudi adalah anak yang sulit diurus.

Kegiatan Rudi dipanti mengikuti aturan yang telah ditetapkan oleh pengurus panti. Rudi bersekolah di pagi hari dan harus pulang ke panti dengan jadwal yang telah ditetapkan kecuali ada alasan tertentu seperti kerja kelompok, tugas sekolah, menjenguk teman dan alasan lain. Rudi memiliki tanggung jawab seperti anak panti lain yaitu membersihkan ruangan-ruangan tertentu dari panti asuhan. Ketika hari menjelang malam Rudi harus menyelesaikan pekerjaan rumah

dari sekolah, makan malam, membersihkan diri, dan belajar bersama anak-anak panti yang lain.

Seperti anak panti lain yang berusia lebih tua dari Rudi, Rudi diminta untuk mengisi waktu dengan kegiatan yang positif yaitu melalui kelompk brass band yang dimiliki panti. Kelompok brass band di panti memiliki jadwal latihan yang reguler dan kelompok brass band ini juga mempunyai program kerja yang sangat banyak diantaranya mengadakan konser dan mengisi acara jika ada undangan yang mereka terima dari luar.

Keperluan sehari-hari termasuk juga biaya sekolah dan pendidikan Rudi ditanggung oleh pimpinan panti. Saat ini Rudi bersekolah di salah satu SMP swasta yang ada di kota Medan dan duduk di bangku kelas VIII. Di sekolah Rudi dikenal sebagai anak yang pendiam dan pemalu. Walaupun begitu Rudi senang membuat teman-temannya tertawa melalui lelucon-lelucon yang disampaikan Rudi.

Rudi belum memiliki kegiatan ekstrakurikuler di sekolah. Walaupun di sekolah ada beberapa organisasi siswa, Rudi tidak ingin mengikuti salah satu organisasi tersebut. Hari-hari Rudi lebih banyak dilalui dengan bermain.

Saat lulus SMP nanti Rudi ingin melanjutkan sekolah di salah satu Sekolah Menengah Kejuruan. Rudi berencana untuk dapat membuka bengkel setelah tamat SMK nanti.

a. Observasi Umum

Wawancara dengan Rudi dilakukan sebanyak tiga kali di ruang kantor panti asuhan X. Peneliti dikenalkan kepada Rudi melalui Kak Susi (kakak Panti). Setiap wawancara direkam dengan menggunakan alat perekam setelah mendapatkan izin dari Rudi.

Rudi memiliki kulit berwarna coklat, mempunyai rambut pendek yang hitam dan berbadan kurus. Rudi memiliki tinggi sekitar 1,4 m. Selama beberapa kali pertemuan, Rudi selalu menggunakan celana pendek jeans dan kaos. Rudi jarang melakukan kontak mata dengan peneliti ketika berbicara. Ketika bercerita tentang kesulitan-kesulitan sebagai anak yatim piatu, Rudi tidak melakukan kontak mata, nada bicaranya menurun dan Rudi sering menundukkan kepala sambil memegang rambutnya.

Selama wawancara berlangsung lokasi wawancara dilewati oleh beberapa penghuni panti yang lain. Ketika penghuni panti yang lain lewat, Rudi memelankan suara dan kembali menguatkan suara ketika penghuni panti yang lain berlalu dari tempat wawancara. Peneliti selalu membawa makanan ringan selama proses wawancara untuk membantu mencairkan suasana pada saat topik yang satu telah selesai ditanyakan. Peneliti selalu melakukan wawancara di sore hari setelah Rudi selesai melakukan tugas rumah harian yang diberikan oleh pengurus panti.

Proses wawancara dimulai dengan proses perkenalan antara peneliti dengan partisipan. Pada wawancara pertama peneliti menjelaskan maksud kedatangannya untuk meminta kesediaan Rudi menjadi partisipan dalam

penelitian yang dilakukan oleh peneliti. Setelah Rudi menyatakan kesediaannya, wawancara segera dilakukan.

b. Hasil Wawancara 1) Sejarah hidup

Rudi lahir di Kabupaten Samosir. Setelah ayah Rudi meninggal, Rudi tinggal dengan Ibu dan kedua Opungnya di Samosir. Ketika Ibu Rudi meninggal dunia pada saat Rudi duduk di bangku kelas III SD, Rudi tinggal sementara bersama kedua Opung Rudi di Samosir hingga kelas VI SD.

Ketika duduk di bangku Sekolah Dasar, Rudi bersekolah di salah satu Sekolah Dasar yang ada di Samosir. Rudi bersekolah di sana hingga kelas V SD dan pindah ke salah satu Sekolah Dasar yang ada di Medan pada saat memasuki awal ajaran tahun ketika Rudi duduk di kelas VI SD. Rudi pindah bersekolah di Medan setelah kedua opungnya meminta Rudi untuk tinggal dan belajar di panti asuhan X.

Saat ini Rudi bersekolah di SMP Medan Putri dan duduk di kelas VIII. Rudi memiliki prestasi yang tidak baik dalam bidang akademis. Rudi juga pernah tinggal kelas di kelas VIII dikarenakan catatan prestasi dan perilaku yang tidak baik, seperti absen dari sekolah.

Rudi adalah seorang anak tunggal di dalam keluarga. Ibu Rudi memiliki tujuh orang saudara yang berdomisili di Medan, Samosir dan di Pulau Jawa. Rudi lebih banyak melakukan komunikasi dengan mereka daripada dengan saudara dari

Ayah. Hal ini dikarenakan Ayah Rudi lebih dahulu meninggal dunia sehingga komunikasi dengan keluarga dari Ayah berkurang.

“Orang Mama 8 bersaudara. Mama yang paling besar. Nomor 2 Tulang yang di Samosir kerjanya jualan, nomor 3 di Jakarta supir bus sekolah, nomor 4 tante di Medan jualan di pajak, nomor 5 di Binjai supir angkot, nomor 6 di Solo Tulang kerjanya nebang pohon, nomor 7 masih kuliah dan nomor 8 Tante kerja di pabrik selop.”

(P1. V.2/L. 123-131/p.3)

“… Soalnya Ayah duluan meninggal. Jadi aku lebih banyak berkomunikasi dengan saudara dari Mama”

(P1. V.2/L. 133/p.3)

Walaupun saat ini Rudi tinggal dipanti asuhan dan biaya hidupnya ditanggung oleh panti asuhan, tetapi keluarga dari Ibu Rudi juga tetap mau memberikan bantuan. Tulang Rudi yang tinggal di Binjai menjadi wali Rudi setiap kali ada pertemuan yang diadakan oleh panti asuhan.

2) Sejarah menjadi yatim piatu

Rudi menjadi anak yatim ketika Rudi masih bayi. Ayah Rudi meninggal karena penyakit yang diderita akibat dampak dari pekerjaan sebagai seorang nelayan. Menurut cerita-cerita yang sering Rudi dengar dari orang-orang, Ayah Rudi sakit karena sering menyelam.

“ Bapak meninggal ketika aku masih bayi bang. Bapak meninggal karena sakit tetapi aku gak tahu Bang penyakit apa pastinya. Kata orang karena nyelam. Bapak kan nelayan.”

(P1. V.2/L. 14-22/p.1)

Ketika Rudi duduk di bangku kelas III SD, Rudi menjadi seorang yatim piatu. Penyebab kematian Ibu Rudi adalah karena dibunuh oleh seorang pencuri. Ibu Rudi memiliki sebuah kios kecil yang dijadikan sebagai sumber mata

pencaharian bagi keluarga mereka. Kios Ibu Rudi sudah beberapa kali dibongkar oleh orang lain dan Ibu Rudi menduga ini adalah perbuatan dari pemuda yang ada di sekitar rumah mereka. Karena kesal dengan pembongkaran yang sering terjadi di kios mereka, Ibu Rudi mengancam akan memakai bantuan orang pintar untuk mencari tahu siapa orang yang menjadi pelaku pembongkaran kios itu. Pelaku merasa terancam dengan perkataan Ibu Rudi dan kemudian membunuh Ibu Rudi.

“Di Samosir kan kami ada kedai. Sering dibongkar orang. Mama bilang sama orang sana mau panggil dukun biar ketahuan siapa yang maling. Jadi malingnya bunuh Mama karena ketakutan.”

(P1. V.2/L. 346-349/p.1)

Setelah kedua orang tua Rudi meninggal, Rudi sempat diasuh oleh kedua Opung dari keluarga Ibu Rudi di Samosir. Opung Rudi berusaha untuk menyekolahkan dan membesarkan Rudi. Menurut kedua opung Rudi, Rudi adalah anak yang nakal, sering berkelahi dan susah diatur. Karena alasan inilah maka mereka memutuskan untuk mengirimkan Rudi ke panti asuhan yang ada di kota Medan dengan harapan agar Rudi bisa lebih teratur dan disiplin dalam menjalani hidup. Mereka mendapatkan informasi tentang panti asuhan ini dari salah seorang warga di Samosir yang sebelumnya sudah menjadi salah satu penghuni panti asuhan.

3) Orang-orang yang penting dalam kehidupan Rudi

Rudi memiliki beberapa orang-orang yang penting dalam kehidupan Rudi. Mereka adalah Opung, pengurus panti ( Bapak Ibu Mayor, Kapten), dan kakak-kakak pengasuh yang ada di panti asuhan X. Rudi menganggap mereka sebagai

orang-orang yang paling penting dalam kehidupan Rudi karena mereka sangat perhatian terhadap Rudi dan juga memenuhi kebutuhan Rudi.

“Orang-orang yang terpenting daam hidupku adalah Opung, Mayor, Kapten, dan Kakak pengasuh. Mereka penting buat aku Karena merekalah yang memperhatikan sekolahku dan semua kebutuhan hidupku mereka yang penuhi.”

(P1. V.2/L. 155-159/p.4)

Ada hal-hal positif yang diperoleh Rudi dari orang-orang yang dianggap penting dalam kehidupan Rudi. Rudi menerima rasa kasih sayang dari mereka. Menurut Rudi Mayor adalah orang yang suka bercanda sehingga dapat menghadirkan suasana yang hangat dan menyenangkan. Kak Susi adalah orang yang sangat penyayang, dan Kapten selalu dapat memberikan rasa semangat di dalam diri Rudi.

Bapak Mayor adalah salah satu pengurus panti yang sangat dikagumi oleh Rudi. Rudi sangat mengagumi Bapak Mayor karena sifatnya yang sangat penyabar dan mudah membaur dengan anak-anak kecil yang ada di panti. Sifat yang sangat berbeda dengan sifat Rudi ini sangat ingin dimiliki oleh Rudi karena menurut Rudi saat ini dia kurang begitu disukai oleh orang-orang yang ada di sekitarnya.

“Aku sangat senang dengan sifat Bapak Mayor yang sangat penyabar dan mudah membuat orang senang. Aku juga ingin bisa memiliki sifat Bapak ini karena saat ini aku lebih sering membuat orang lain jengkel denganku.” (P1. V.3/L. 360-377/p.8-9)

Selain para pengurus panti Rudi juga memiliki sahabat karib yang ada di panti yang juga merupakan kelahiran Samosir, yaitu Tio Sigalingging. Tio Sigalingging adalah seorang anak laki-laki yang duduk di bangku SMA. Rudi sangat mempercayai Tio dan selalu membagi cerita dan beban yang dia rasakan

kepada Tio. Rudi bahkan menganggap bahwa Tio adalah teman selamanya dalam kehidupan Rudi.

“Tio Sigalingging. Dia anak Samosir juga Bang. Kami akrab, sering main-main bersama. Aku juga lebih sering curhat dengan dia daripada dengan orang lain.”

(P1. V.2/L. 165-172/p.5-6)

Rudi juga memiliki teman-teman terdekat di sekolah. Teman-teman Rudi yang terdekat disekolah adalah Dedi Kaloko, Meki Sinurat dan Sihar Simbolon. Rudi sering belajar, bermain dan pulang ke panti bersama mereka. Dedi adalah seorang remaja yang menjadi salah satu penghuni panti asuhan X juga. Rudi mulai sering berteman dengan Dedi sejak Rudi tinggal kelas di kelas VIII. Sihar teman yang satu marga dengan Rudi memiliki orang tua yang bekerja di pajak yang berada di dekat panti asuhan X. Sihar biasa pulang bersama Rudi dan Dedi ke arah panti, lalu Sihar meminta ongkos terlebih dahulu dari orang tuanya untuk pulang ke rumhanya. Rudi juga sering belajar bersama Dedi dan Sihar ketika ada pelajaran yang sulit. Rudi juga terkadang dibantu oleh Sihar ketika Rudi kesulitan dalam masalah keuangan. Sihar pernah membayarkan uang foto Rudi ketika Rudi tidak memiliki uang lagi. Rudi jugasering diajak makan oleh Sihar.

Selain memiliki orang-orang yang penting dalam kehidupan, Rudi juga memiliki seorang tokoh idola di bidang musik yang sangat digemari. Rudi sangat mengidolakan Ahmad Dani dari band Dewa. Menurutnya Ahmad Dani adalah seorang musisi yang sangat hebat karena mampu menciptakan lagu yang bagus dalam selang waktu yang singkat. Rudi ingin memiliki kemampuan seperti Ahmad Dani.

4) Harga diri partisipan I a) Perasaan diterima

Komunitas kehidupan Rudi melibatkan tiga komunitas kehidupan. Yang pertama adalah keluarga besar Simbolon dan Marbun yaitu keluarga dari Ayah dan Ibu Rudi. Komunitas yang kedua adalah komunitas lingkungan SMP Medan Putri. Dan terakhir adalah komunitas panti asuhan X tempat Rudi tinggal dan mempelajari banyak hal di luar sekolah.

Saat ini Rudi tidak tinggal bersama salah satu saudara kandung dari pihak Ayah maupun Ibu Rudi. Hal ini dikarenakan Rudi adalah seorang anak yang sulit diurus dan suka berkelahi. Beberapa keluarga Rudi ada yang tinggal di Medan yaitu Tulang yang ada di Binjai dan Inanguda yang bekerja di salah satu pasar yang ada di kota Medan tetapi Rudi tidak tinggal bersama salah atu dari mereka. Rudi hanya bertemu dengan keluarga kandung pada saat libur Natal dan Tahun Baru. Tulang Rudi yang tinggal di Binjai datang untuk menjadi wali bagi Rudi jika ada pertemuan orang tua yang dilaksanakan oleh panti asuhan. Rudi juga berkomunikasi dengan keluarga ketika Rudi membutuhkan untuk memenuhi keperluan.

“Sebelumnya aku tinggal dengan Opung. Tapi aku diminta tinggal di panti asuhan karena aku susah diurus. Katanya kalau di sini aku bisa lebih teratur dan terlatih. Aku bandel dan sering berantem jadi saudara-saudara pun malas ngurus aku.”

(P1. V.2/L. 47-55/p.2)

Sihar, Meki dan Dedi adalah orang-orang terdekat Rudi di sekolah. Rudi sering bermain dan mengerjakan tugas dari sekolah bersama mereka. Walaupun hubungan mereka berempat cukup dekat tetapi sampai saat ini Rudi masih merasa

tidak nyaman untuk berbagi cerita dan keluh kesah kepada Romi dan Dedi yang menjadi teman dekat di sekolah karena menurutnya mereka tidak bisa menjaga rahasia. Menurutnya Sihar, Meki dan Dedi tidak dapat dipercaya dalam menjaga suatu rahasia. Rudi lebih mempercayai Tio dalam menjaga rahasia yang dimilikinya. Menurut Rudi, walaupun Sihar, Meki dan Dedi adalah teman terdekat di sekolah tetapi mereka bukanlah teman selamanya, mereka mungkin saja sudah dilupakan oleh Rudi ketika tamat sekolah nanti.

Menurut Rudi, Rudi kurang disukai oleh teman-temannya di sekolah karena sifatnya yang tidak baik seperti suka mengejek, kelewatan ketika bermain, memilih-milih teman dan hal lainnya. Rasa tidak suka dari teman-temannya bahkan terkadang ditunjukkan melalui perbuatan.

“Aku kurang disukai teman-teman disekolah mungkin karena sering ngejek-ngejek. Kadang mereka tunjukkan kalau mereka gak suka. Misalnya kalau aku pinjam pulpen tidak dikasih mereka. Padahal ada.” (P1. V.3/L. 386-391/p.10)

Penghuni panti yang lain juga kurang menyukai sikap dan perilaku Rudi. Hal ini dikarenakan terhadap penghuni panti yang lebih muda Rudi suka memerintah. Teman-teman panti yang sebaya atau lebih tua dari Rudi sering mengatakan bahwa Rudi adalah orang yang suka berlebihan dalam berperilaku dan bergaya. Mereka sangat tidak menyukai gaya Rudi yang sering memakai celana terlalu turun.

Rudi adalah seorang yang sulit untuk mencari teman baru. Rudi malu untuk berkenalan dengan orang-orang baru. Pada wawancara terakhir Rudi mengatakan bahwa dia tidak mengetahui alasan mengapa dia malu untuk

berkenalan dengan orang-orang baru, tetapi pada pertemuan sebelumnya Rudi mengatakan kalau Rudi malu berteman dengan orang baru karena kondisinya sebagai anak yatim piatu.

“Aku pun gak tahu Bang. Karena mau cari kenalan baru pun malu... Gak tau Bang.”

(P1. V.3/L. 258-260/p.6)

“... Pernah juga Bang aku merasa minder. Karena anak panti. Gak ada duitnya, gak pernah jajan. Serba kurang.”

(P1. V.2/L. 213-216/p.6)

b) Perasaan Berharga

Rudi mempunyai perasaan malu sebagai anak yatim piatu karena menurutnya orang-orang memiliki pandangan bahwa anak panti selalu mempunyai masalah keuangan. Menurut Rudi, kondisi dimana dia jarang jajan membuat dia tidak sebanding dengan teman-teman yang lebih baik kondisi keuangannya. Rudi sering menjadi malu sendiri dengan keadaan yang dialami Rudi padahal teman-teman Rudi tidak pernah mengejek Rudi. Walaupun Rudi memiliki perasaan malu sebagai seorang yatim piatu, di dalam hati Rudi merasa bersyukur dengan keadaan yang dialami Rudi saat ini. Rudi membandingkan keadaannya dengan anak-anak yang sering mengamen atau mengemis di pinggir jalan. Menurutnya kondisi saat ini jauh lebih baik daripada anak-anak itu.

“Pernah juga aku merasa malu Bang. Karena aku menganggap orang berpikir bahwa anak panti itu gak ada duitnya, gak pernah jajan, serba kurang. Padahal teman-teman biasa aja Bang. Aku sendiri yang malu.” (P1. V.3/L. 213-216/p.6)

“... Tapi aku bahagia juganya Bang dengan kondisiku saat ini walalupun susah. Karena gak harus seperti pengamen atau pengemis yang tidak lagi bisa berskolah.”

(P1. V.2/L. 413-418/p.10)

Kalau berbicara tentang fisik, Rudi sangat mengagumi kedua tangannya. Dia menyukai kedua tangan karena dapat bergerak bebas sehingga bisa digunakan untuk banyak hal. Selain itu Rudi juga menyukai tangan karena kedua tangan Rudi terlihat lebih kekar dan sehat dibandingkan bagian tubuh lain seperti kaki yang sering luka kalau bermain bola. Diantara semua bagian tubuh yang Rudi miliki, Rudi paling tidak menyukai bagian perut. Terdapat sebuah luka bekas operasi yang besar di perut Rudi akibat operasi usus buntu yang dialami diakhir tahun 2007. Menurut Rudi, bekas luka itu sangat jelek dan memalukan. Teman-teman panti yang tahu bekas luka itu juga sering mengejek bekas luka itu. Selain bekas luka di perut, bagian tubuh lain yang kurang disukai oleh Rudi adalah wajah. Walaupun teman-teman Rudi sering mengejek bagian-bagian dari tubuhnya, secara umum Rudi menyukai tubuh yang dimilikinya karena menurut Rudi itu semua adalah milik Rudi yang diberikan oleh Tuhan.

Rudi adalah orang yang pemilih dalam hal mencari teman baik di panti maupun di sekolah. Kriteria teman yang baik menurut Rudi adalah orang yang mau memberikan contoh kepada Rudi dalam mengerjakan tugas, orang yang memiliki banyak uang, dan kalau teman wanita adalah teman yang cantik. Bila ada orang lain yang tidak memenuhi sifat ini tetap boleh menjadi teman Rudi tetapi hubungannya tidak bisa terlalu dekat.

“Teman yang baik menurutku adalah teman yang mau membantu mengerjakan PR, yang punya banyak duit. Kalau teman cewek yang cantik.”

“Kalau sekedar berkawan aja aku mau. Tapi gak pala dekat kali lah mungkin.”

(P1. V.3/L. 328-329/p.8)

Rudi merasa bahwa dia memiliki sifat yang nakal dan pemalas sehingga sering membuat orang-orang yang ada di sekitar menjadi kurang menyukainya. Rudi tidak suka ketika orang lain meminta bantuan dari Rudi dan dia cenderung menolak permintaan tersebut. Rudi sering berlebihan ketika bermain dengan teman-teman. Dimulai dari saling mengejek sesama teman, Rudi sering melakukan pemukulan kepada teman walau dia menganggap hal itu hanya bercanda. Rudi sering mendapatkan kritik dari teman-teman tentang sifat yang negatif ini, tetapi Rudi lebih sering bersifat cuek terhadap kritik yang diberikan oleh teman-teman walaupun dia sebenarnya sadar harus merubah kebiasaan buruk itu secara perlahan.

“Aku rasa lebih banyak orang-orang yang tidak menyukai aku. Di panti atau pun di sekolah. Kalau sama anak kecil yang dipanti aku suka nyuruh-nyuruh. Kalau sama yang orang besarnya mereka suka main-main sama aku, apalagi main bola. Tapi ada juga yang gak suka. Menurut mereka aku banyak gaya, celananya diturun-turuni. Kalau di sekolah aku kurang disukai karena suka mengejek-ejek.”

(P1. V.3/L. 365-386/p.8-9)

Selain sifat negatif, Rudi juga merasa memiliki kelebihan. Rudi senang dengan dirinya yang bisa memiliki keterampilan di bidang musik dan olahraga. Kelebihan pada dua bidang inilah yang membuat Rudi merasa kalau teman-teman mau bermain dengannya. Selain keterampilan di bidang musik dan olah raga, Rudi juga memiliki rasa humor yang tinggi. Rasa humor ini dipercayai oleh Rudi dapat menyenangkan hati teman-teman.

Selain rasa humor yang tinggi, Rudi juga mengaku bahwa kerajinannya membantu kedua Opungnya dalam menyangkul dan membantu Opungnya bertani dan beternak sering mendapatkan pujian dari kedua Opungnya.

Walaupun Rudi juga merasa memiliki beberapa kelebihan di dalam dirinya, tetapi saat ini Rudi merasa bahwa dia memiliki lebih banyak kekurangan daripada kelebihan di dalam dirinya.

“Kurasa saat ini aku lebih banyak memiliki kelemahan dibandingkan

Dalam dokumen Harga Diri Remaja Yatim Piatu (Halaman 45-69)

Dokumen terkait