• Tidak ada hasil yang ditemukan

Aang Nugraha Romdhona tujuan untuk menilai capaian luaran program/

Dalam dokumen Pemerintah telah membentuk Badan (Halaman 63-68)

kegiatan, menilai efisiensi penggunaan sumber daya penelitian (sumber daya manusia dan biaya) dalam menghasilkan luaran program/kegiatan Satuan Kerja, dan memberikan rekomendasi untuk meningkatkan kinerja Satuan Kerja di Lingkungan LIPI. Dengan demikian, implementasi VFM audit yang dilakukan oleh Inspektorat LIPI merupakan salah satu wujud peningkatan peran sebagai quality assurance terhadap kegiatan penelitian yang dilakukan di lingkungan LIPI. Konsep Value For Money (VFM)

Value for money merupakan konsep pengelolaan organisasi sektor publik yang mendasarkan pada tiga elemen utama, yaitu ekonomis, efisiensi, dan efektivitas. Ekonomi untuk membandingkan perolehan input pada kualitas dan kuantitas tertentu dengan harga yang terendah (perbandingan input dengan input value dalam satuan moneter). Efisiensi untuk membandingkan pencapaian output yang maksimum dengan penggunaan input yang terendah dalam mencapai mencapai output tertentu (perbandingan output/input yang dikaitkan dengan standar kinerja atau target yang telah ditetapkan). Efektivitas untuk membandingkan tingkat pencapaian hasil program dengan target yang telah ditetapkan (perbandingan outcome dengan output) . Hubungan tiga elemen tersebut dapat dilihat dalam bagan berikut:

IMPLEMENTASI AUDIT KINERJA DENGAN KONSEP VFM

Audit kinerja penelitian di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia dilaksanakan dalam tiga tahapan, yaitu: 1) Perencanaan; 2) Pelaksanaan; dan 3) Pelaporan audit. Proses audit pada setiap tahapan sama dengan audit pada umumnya yaitu: 1. Pada tahapan perencanaan terdiri dari

penyusunan Program Kerja Pengawasan Tahunan (PKPT), penetapan tim audit, penetapan kriteria audit, penyusunan program kerja audit dan pemahaman auditi; 2. Pada tahapan pelaksanaan terdiri dari entry

meeting, audit efektivitas, audit efisiensi, penyusunan Kertas Kerja Audit (KKA), dan perumusan simpulan serta rekomendasi; 3. Pada tahapan pelaporan terdiri dari penyusunan

Laporan Hasil Audit (LHA) kinerja penelitian, dan pendistribusian LHA kinerja penelitian.

Gambar 1. Value For Money Sumber : Mardiasmo (2009)

ARTIKEL PENGAWASAN

ARTIKEL PENGAWASAN

Perbedaan audit kinerja dengan metode VFM dengan metode BSC yang diterapkan sebelumnya terletak pada proses penentuan kriteria audit (tahapan perencanaan), dan adanya audit efektivitas serta audit efisiensi (pada tahapan pelaksanaan) yang dijelaskan sebagai berikut. Penentuan kriteria audit

Penentuan kriteria audit dalam audit kinerja dengan metode VFM lebih spesifik mengacu pada Peraturan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia nomor 14 Tahun 2018 tentang Petunjuk Teknis Jabatan Fungsional Peneliti dan Peraturan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia nomor 11 Tahun 2019 tentang Penilaian Capaian Kinerja Pegawai di Lingkungan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Berdasarkan peraturan tersebut, maka kriteria audit ditetapkan sebagai berikut: 1. Target output/kinerja penelitian mengacu

pada Peraturan Kepala LIPI Nomor 11 Tahun 2019 tentang Penilaian Capaian Kinerja Pegawai di Lingkungan LIPI, yang secara sederhana dapat digambarkan sebagai berikut:

Gambar 2.2. Target Output/Keluaran Penelitian LIPI Sumber : LIPI (2019)

2. Peraturan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia nomor 14 Tahun 2018 tentang Petunjuk Teknis Jabatan Fungsional Peneliti, yang dijadikan sebagai dasar pembobotan angka kredit keluaran untuk kegiatan penelitian. Sinkronisasi antara kedua peraturan yang dijadikan sebagai kriteria ini dapat dilihat dalam tabel berikut:

Tabel 1. Kategori Keluaran Kerja Minimal dan Bobot Angka Kreditnya

Pelaksanaan audit - audit efektivitas

Audit efektivitas (audit program) kegiatan penelitian di lingkungan LIPI bertujuan untuk menilai capaian luaran penelitian pada level Satuan Kerja, keltian, dan individu. Penilaian efektivitas dimulai dari level individu, keltian, dan Satuan Kerja. Pada level individu, penilaian efektivitas dapat dihubungkan dengan Penilaian Prestasi Kerja (PPK) yang telah diberikan oleh Pejabat Penilai dari SDM Iptek. SDM Iptek yang dimaksud tidak hanya peneliti, namun termasuk jabatan lain yang telah ditetapkan sebagai SDM Iptek sesuai ketentuan yang berlaku. Secara singkat, rumusan audit efektivitas dapat dilihat sebagai berikut:

Pada penilaian efektivitas ini, auditor harus mampu menilai apakah individu SDM Iptek telah efektif dalam melaksanakan kegiatan penelitian; Menganalisis penyebab tidak tercapainya target kinerja sesuai yang ditetapkan; Menganalisis hal-hal positif yang dilakukan oleh SDM Iptek sehingga capaian kinerjanya dinilai jauh lebih besar melampaui target kinerja; Menganalisis apakah pejabat penilai SDM Iptek telah memberikan Penilaian Prestasi Kerja (PPK) sesuai dengan kinerja SDM iptek tersebut dan menganalisis dan menghubungkan apakah pembayaran tunjangan kinerja SDM Iptek telah sesuai dengan capaian kinerjanya. Penilaian efektivitas pada level Satker menjadi dasar untuk dilakukannya audit efisiensi. Jika kinerja pada level Satker telah tercapai, maka auditor dapat melakukan audit efisiensi. Alur pelaksanaan audit efektivitas dapat terlihat dalam gambar berikut:

Audit efisiensi SDM dilakukan untuk menilai seberapa besar take home pay yang digunakan untuk menghasilkan setiap satu Angka Kredit (AK). Audit efisiensi SDM dimulai dari level individu, Keltian, dan Satker. Audit efisiensi biaya dilakukan untuk menilai seberapa besar dana Iptek yang digunakan untuk menghasilkan setiap satu Angka Kredit (AK). Dana Iptek yang diperhitungkan meliputi seluruh dana (DIPA dan non DIPA) yang digunakan dan dapat diatributkan langsung ke dalam kegiatan penelitian. Audit efisiensi biaya dilakukan pada level Satker dan Keltian. Gambar dibawah ini adalah alur pelaksanaan audit efisiensi biaya.

Pelaksanaan audit - audit efisiensi

Audit efisiensi bertujuan untuk menilai efisiensi penggunaan sumber daya penelitian (sumber daya manusia dan biaya) dalam menghasilkan output program/kegiatan dengan rumusan kriteria sebagai berikut:

ARTIKEL PENGAWASAN

ARTIKEL PENGAWASAN

Kelebihan dan Kekurangan

Dalam implementasi audit kinerja penelitian dengan metode VFM pada beberapa satuan kerja yaitu Kedeputian Ilmu Pengetahuan Teknik (2020), Kedeputian Ilmu Pengetahuan Hayati (2021), dan Kedeputian Ilmu Pengetahuan Kebumian (2021) dapat disimpulkan beberapa kelebihan dari penerapan metode ini diantaranya, dapat mengetahui capaian output baik level SDM, Keltian termasuk analisisnya yang akan memberikan pengaruh terhadap capaian kinerja Satker dalam pencapaian tujuan organisasi. Kelebihan lainnya adalah dapat mengetahui berapa nilai moneter yang dibutuhkan untuk mencapai satu output dalam kegiatan penelitian, yang dalam jangka panjang dapat dijadikan sebagai dasar pengambilan keputusan untuk penentuan anggaran riset. Disisi lain, penggunaan metode VFM ini memiliki kelemahan yaitu hasil output penelitian belum tentu dihasilkan dari periode tahun berjalan karena sifat penelitian yang bersifat kontinuitas, belum dapat dipastikan apakah output tahun ini diperoleh dari kegiatan penelitian dalam tahun yang sama. Keterbatasan lainnya dari metode VFM ini adalah dalam menilai efisiensi biaya tingkat Keltian, karena sifat penelitian yang dapat bersifat lintas Keltian maupun lintas Satuan Kerja, maka perlu tracing biaya riset yang jelas untuk setiap kegiatan penelitian yang digunakan oleh masing-masing Keltian. Hal ini merupakan unsur yang harus diperhatikan dalam pengembangan metode audit kinerja penelitian selanjutnya. Refrensi:

1. Keputusan Presiden Nomor 103 Tahun 2001 tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi dan Kewenangan, Susunan Organisasi, dan Tata Kerja Lembaga Pemerintah Non Departemen. 2. Mardiasmo. 2009. Akuntansi Sektor

Publik. Yogyakarta : Penerbit Andi. 3. Peraturan Kepala LIPI Nomor 14

Tahun 2018 tentang tentang Petunjuk Teknis Jabatan Fungsional Peneliti. 4. Peraturan Kepala LIPI Nomor 11

Tahun 2019 tentang Penilaian Capaian Kinerja Pegawai di Lingkungan LIPI. 5. Peraturan Presiden Nomor 33 Tahun 2021

AGILE AUDIT INTERN

Dalam dokumen Pemerintah telah membentuk Badan (Halaman 63-68)