Sedikit saja saya tambahkan apa yang disampaikan Saudara Totok.
Pada prinsipnya PAN berpandangan bahwa Undang-undang No. 12 tahun 2003 sudah cukup baik untuk dipertahankan dan itu sudah dibuktikan, adanya sistem Pemilu yang damai, lancar dan sukses, dan dipuji oleh banyak Negara-negara.
Pada prinsipnya sebenarnya seluruh Rancangan Undang-undang ini sedikit saja yang dirubah, hanya dalam Pasal-pasal yang penting saja, tetapi Undang-undang No. 12 itu sebanyak mungkin harus dipertahankan seperti dengan alasan yang kami sampaikan tadi, antara lain mengenai ET.
Diluar itu kami PAN sangat bersimpati kepada Partai-partai yang menghendaki threshold yang lebih rendah, artinya usulan kita 3% itu tidak terlalu kaku, kami masih bisa fleksibel dan masih bisa membahas lebih lanjut kemungkinan untuk mendukung threshold yang lebih rendah.
ltu dari PAN, dan saya kira ukuran pemilihan umum itu kalau kita keberatan dengan istilah lebih maju atau lebih baik, kita gunakan saja, ukuran lebih efektif dan lebih efisien, saya kira itu yang bisa kita pakai untuk ukuran-ukuran ini.
T erima kasih.
DR. SYARIEF HASAN, SE, ME, MBA/F-PD:
Terima kasih Pimpinan,
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Pertama-tama, kami sangat memahami apa yang disampaikan oleh rekan-rekan terdahulu dari PBR, BPD dan PDS. lni adalah merupakan suatu kenyataan bahwa kita juga harus mendorong demokrasi yang terbuka, yang sebenarnya, namun disini lain kami juga merasa setuju bahwa adanya suatu peningkatan kualitas demokrasi itu sendiri dan bahwa angka kuantitatif itu bukan suatu hal yang belum merupakan satu-satunya hal yang merupakan satu patokan untuk meningkatkan demokrasi.
Kedua, kami juga menyadari apa yang sudah diputuskan dalam Undang-undang No. 12 tersebut, adalah sesuatu yang terbaik selama ini, maka kami mempunyai suatu pandangan bahwa yang terbaik saat ini adalah minimal, bertahan tetap pada Undang-undang No. 12 tersebut.
sehingga tidak memberatkan pada partai-partai lain dan juga merupakan suatu, mempertahankan azas demokrasi menuju yang lebih baik yang akan datang.
Saya pikir demikian Pimpinan, Terima kasih,',
Assalamau'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
PASTOR SAUT M. HASIBUAN/F·PDS:
Mau Tanya saja, apakah Partai Demokrat sudah turut memutuskan pada waktu itu.
KETUA RAPAT:
Maksudnya bertanya apa ?
PASTOR SAUT M. HASIBUAN/F·PDS:
Beliau mengatakan tadi bahwa adalah baik kalau kita mengikuti Undang-undang No. 12, itulah yang saya tanya, apakah Partai Demokrat telah ikut memutuskan hal itu.
KETUA RAPAT:
Belum ada, luar biasa, terima kasih.
F-PPP.
ORA. HJ. LENA MARY ANA MUKTI/F·PPP:
Terima kasih Pimpinan,
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Sebagaimana kembali saya ingin mengingatkan bahwa pada pendapat awal F-PPP pada prinsipnya kami menganggap bahwa Undang-undang No. 12 tahun 2003 itu banyak hal yang masih bisa diterapkan, termasuk menyangkut soal electoral threshold kalau kita mengacu pada Pemilu 1999 diterapkannya ET 2%, kita menghasilkan enam partai yang lolos dari 46 partai, kemudian Pemilu tahun 2004 dengan ET3% kita menghasilkan tujuh partai yang lolos dari 24.
Bagi kami angka 3% ini terbukti signifikan untuk menyederhanakan perserta Pemilu dan itu merupakan angka yang moderat yang selama ini juga sudah terbukti, ini bisa menyeleksi partai-partai yang memang mendapatkan kepercayaan dari masyarakat maupun partai-partai-partai-partai yang belakangan harus menyimpan atau menambah lagi energinya untuk bisa memperoleh kepercayaan dari masyarakat.
Pada dasarnya pesannya kami disini adalah sama seperti PAN, pertama kami berketetapan hati untuk kembali kepada Undang-undang No. 12 tahun 2003, tetapi tidak menutup kemungkinan bahwa suara mayoritas menginginkan bahwa ET ini diturunkan menjadi 2%.
T erima kasih Pimpinan.
KETUA RAPAT:
Terima kasih, Selanjutnya dari F-PDIP.
DR. SUTRADARA GINTINGS/F·PDIP:
Saudara-saudara sekalian,
Pertama, saya memahami bahwa partai-partai yang ikut tahun 2004 Pemilihan Umum sudah memahami bahwa dia ikut itu sesuai dengan Undang-undang No. 12 tahun 2003 , didalam Undang-undang No. 12 dikemukakan bahwa partai yang tidak lolos electoral threshold 3% lalu kemudian tidak ikut Pemilu, jadi kalau sebelum ikut Pemilu menyetujui syarat itu, setelah ikut Pemilu meminta revisi syarat itu, saya kira boleh-boleh saja, tetapi lain kali tentunya tidak demikian.
Kalau tahun 2009 kita sepakati syaratnya, kita tidak memenuhi syarat itu kita tidak boleh meminta syarat itu diubah setelah pertandingan berlangsung, syarat harus dibuat sebelum pertandingan bertangsung dan ketika kita ikut pertandingan itu, dengan syarat yang kita sepakati, jangan kemudian setelah pertandingan ini selesi, lalu kita minta syarat itu diubah.
Menurut hemat saya, ini perlu dipikirkan, bukan Cuma soal apa-apa, tetapi soal bagaimana kita membangun azas pemilihan yang saya kemukakan berikut ini. jadi untuk tahun 2009 menurut hemat kami, persyaratan yang 3% itu sudah berlaku, karena memang itulah Undang-undang yang dipakai, ketika melakukan Pemilu tahun 2009, jadi bagaimana berikutnya.
Khusus untuk DIM ini, kami memang mengatakan 5% ini terlalu tinggi, 3% cukup tetapi walaupun dibuat 20%, kalau seperti konsep yang sekarang itu tidak ada gunanya, tidak akan melakukan apa-apa, bisa dirubah namanya, bisa macam-macam, tidak akan pernah menyelesaikan soal. Dulu tahun 1999 dipakai konsep yang khas Indonesia karena kita baru awal Reformasi, supaya semua terwakili, oleh sebab itu, kami mengusulkan agar supaya electoral threshold tetap 3% saja.
Saudara Ryaas Rasyid betul, melihat variasi dari berbagai Negara memang tidak ada angka yang standar, ada yang lebih tinggi dari 3% ada yang dibawah 2%, tetapi yang jelas tidak ada electoral threshold seperti kreatifitas ktia yang salah kaprah ini. itu yang harus kembali, kalau khas Indonesia saya setuju tetapi basic teorynya harus ada, semua yang anomaly dan aneh disebut khas Indonesia, lama-lama kita jadi aneh, tidak bisa.
Oleh sebab itu khusus untuk tahun 2009, kita tetap pakai Undang-undang No. 12 itu karena itu adalah kesepakatan kita sebelum permainan dimulai. Untuk berikutnya maka kami memang mengusulkan disini, electoral threshold yang tidak terlalu tinggi 3%, bahkan kami mengatakan 2% boleh, tetapi dalam pengertian yang benar, bahwasannya partai yang tidak memperoleh angka tertentu itu kemudian tidak boleh mengirimkan wakilnya, kecuali bilamana dia ingin melakukan pengabungan lebih besar dengan hal lain dalam satu kesepakatan, disitu letak daripada kristalisasi kepartaian akan terjadi, tanpa menghilangkan.
Jadi kalau kemudian pada DIM No. 1049, kemudian diteliti usulan F-PDIP itu memang sama dengan Golkar, ada kemiripannya, walaupun mungkin formulanya nanti kita pikirkan sama-sama. Tetapi kita tetap beranggapan tingkatkan 5%, 10%, 15% tidak akan ada gunanya kalau konsep electoral threshold yang khas tanpa dasar teoritik ini, diteruskan setelah masa transisi selesai, kita perlu ekmbali kepada electoral threshold yang lazim dipakai dan sudah dipakai dimana-mana, bisa melakukan penyederhanaan kepartaian. Dengan satu catatan yang saya juga atau PDIP memberikan apresiasi terhadap apa yang dikemukakan oleh Saudara Ryaas Rasyid ini, bahwasannya Jerman itu dia pakai mix system sebagian proporsional, sebagian distrik , dia juga memakai electoral threshold. Kenapa kemudian kita khawatir kalau kita masyarakat pluralistic nanti akan pemberontakan, kalau dengan electoral threshold ada yang benar. Menurut kami tidak demikian, kalau suaranya tidak memperoleh itu, sejak awal kita dapat lakukan bagian dari partai, bersama partai-partai yang lain dengan kristalisasi kepartaian.
Pikiran kami adalah bagaimana menciptakan system multi party secara demokratis dengan kristalisasi kepartaian, bukan pengurangan jumlah partai. Pada sewaktu-waktu dengan masyarakat majemuk itu kita lebih realistis kalau kita punya sedikit partai berbagai fraksi didalamnya sebagai LOP dsb, itu yang perlu kita pikirkan. Oleh sebab itu kami mengusulkan kongkritnya untuk tahun 2009 kita memakai aturan main yang dulu kita pakai, sebelum kita bertanding, siapapun dari kita perlu mendidik bangsa ini untuk mengubah aturan main setelah kita melakukan pertandingan.
Kedua, untuk tahun berikutnya kami tetap dengan electoral threshold dalam kalimat popular yang disebut parlementary threshold sekarang, jumlahnya itu 3% saja, lebih rendah dari juga tidak apa-apa. Dengan catatan yang tidak lolos itu tidak kami buang suaranya, seperti kami kemukakan pada DIM No. 1049 tetapi dikaitkan dengan kristalisasi kepartaian, sehingga tahap demi tahap kita bisa memperoleh partai-partai yang besar. Sekarang ini yang besar besok bisa kecil, yang kecil bisa besar, tetapi akan lebih terjamin kalau sistem itu melakukan rekayasa dalam pengertian positif terhadap itu.
Orang Indonesia ini berangkat dari Soekarno-Hatta itu buang sampah dimana-mana, begitu sampai di Singapura dia tertib dimana-mana, dia pulang, dia kumat lagi. Artinya didalam konsep system building maka system building can the behavior a patent of policy. T etapi itu dilakukan secara demokratik, bukan melarang dsb. ltulah pikiran kami tentang DIM No. 82, DIM No. 83. sebab dengan sistem kristalisasi ini maka partai-partai besar harus punya kelapangan dada untuk dapat menerima yang punya satu platform. Salah satu contoh PDIP menyatakan dirinya sebagai rumah besar kaum nasionalis, karena dalam ultra multi partai tidak ada satu Partai yang dapat memperoleh 51% untuk memenangkan perstiwa ini, oleh karena itu dia harus membuka dirinya , begitu juga kristalisasi kepartaian terjadi. Tetapi kalau memang tidak memperoleh dukungan cukup dari rakyat, demokrasi itu juga harus lebih presentatif. Sehebat-hebatnya orang, kalau satu orang lari kemana-mana, luar biasa, kita terlalu banyak membutuhkan superman. Oleh sebab itu kita butuhkan lebih banyak orang dalam satu kelompok yang dapat mewakili berbagai aspirasi dan itulah yang kami sebut kristalisasi dan penyederhanaan kepartaian.
Bukan kristalisasi by force tetapi kristalisasi dengan cara-cara yang demokratis yang membesarkan kita semua dari partai besarpun sewaktu-waktu tidak akan lagi menjadi partai monolitik untuk dirinya sendiri, tetapi bisa menerima yang lain dalam mekanisme demokratik diantara mereka sendiri.
T erima kasih.
DR. MARIANI AKIB BARAMULI, MM/F-PG:
Terima kasih Pimpinan,
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Dari F-PG kami disini untuk DIM No. 81, mengusulkan suatu substansi menjadi substansi pasal baru dengan pertimbangan atau keterangan sebagai berikut. Jadi pada prinsipnya F-PG berkenaan dengan ketentuan ET 5%, menyetujui tetapi tidak pada pemilihan umum 2009. untuk tahun 2009 Partai Politik yang telah mengikuti Pemilu berikutnya tetap mengikuti persyaratan ET 3%. Sejalan dengan ini maka pengaturan selanjutnya berkenaan dengan Undang-undang ini, F-PG juga menginginkan ada didalam ketentuan ini, selain ketentuan ET juga sebagai persyaratan untuk Pemilu berikutnya, juga tidak perlu dirumuskan ketentuan parlementary threshold sebagai persyaratan untuk bisa duduk di DPR.
Selanjutnya untuk DIM No: 84 juga ini F-PG menghendaki tetap, tetapi bahwa perlu penambahan Pasal yang memuat pengaturan prosedur dan mekanisme pengabungan Parpol, jadi bukan kursi. Peserta Pemilu tahun 2009 yang tidak mencapai bilangan ET untuk bisa mengikuti Pemilu 2014. Bentuk pengabungan tersebut apakah bisa berbentuk aviliasi ataupun konfederasi, tanpa melalui mekanisme verfikasi yang pada prinsipnya tidak menghilangkan eksistensi masing-masing Parpol yang bersangkutan. Terkait dengan pengaturan ini, perlu dibuat pengaturan yang menegaskan bahwa Parpol yang tidak memenuhi electoral threshold tidak dapat sekedar berganti baju, mungkin baju biru menjadi baju putih, atau baju putih berganti baju merah. Dengan menggunakan tokoh pendiri misalnya atau Pimpinan Parpol bahkan infrastruktur Parpollama untuk mendaftarkan diri sebagai Parpol baru.
Demikian pendapat dari F-PG.
KETUA RAPAT:
Terima kasih, memang hal-hal yang berkaitan dengan angka, memang angka electoral threshold, memang kalau asal muasalnya pada waktu itu Prof. Ryaas menyampaikan threshold pada waktu itu, tidak lengkap barangkali pada waktu itu. Threshold-nya saja yang kita atur sedangkan electoralnya tidak. ltu tiga serangkai Bapak Andi Malarangeng, Bapak Sarwan dan Prof. Ryaas.
Silahkan Pemerintah.
PEMERINTAH:
Pimpinan yang kami hormati,
Kami tetap tadi menyimak beberapa masukan-masukan dan tanggapan ternan-ternan dari Fraksi. Berangkat dari suatu pemikiran yang sama, yang tadi disampaikan oleh Wakil Pemerintah yang terdahulu, bahwa dalam rangka pelaksanaan birokrasi yang kita lakukan Pemilu itu, kita memang selalu ingin ada suatu peningkatan, peningkatan dalam arti kata dari Partai itu sendiri maupun eksistensi partai ini dalam kegiatan kepemerintahan. Jadi kami juga tidak menutup, apa istilahnya dari Bapak Pastor, kami juga kawan yang baik, kawan yang setia, jadi tidak ada istilah bagi kami untuk meninggalkan partai politik itu untuk mengkesempingkan amanat-amanat dari Bapak-bapak sekalian, tetapi melihat ini semuanya menjadi satu kesatuan politik.
Kalau istilah dari rekan kami yang mewakili Pemerintah tadi, Bapak Hatta ada suatu peningkatan yang gradual, kedepan kita akan lebih maju, tentu kami akan sependapat, kami dengan istilah lain bertahap, bertingkat dan berlanjut, itu merupakan suatu hal yang akan kita capai bersama. Dengan demikian kalau kita sudah menyimak tahun 1999 ET itu hanya 2%, kemudian 2004 disepakati 3%, nanti juga di tahun 2009 disepakati 3%, dan nanti 2014 ET 5%, adalah suatu wujud, dimana kita ingin mencoba mengangkat legitimasi dari Partai ini. Dasar pemikiran kami adalah demikian.
Sedangkan dasar lain yang terkait dengan masalah penyempurnaan ET itu sendiri, berapa persen yang pasti itu adalah kami tidak ada suatu ukuran yang fix, ini rumusan dari mana. Waktu kami melakukan Dengar Pendatan dari beberapa Perguruan Tinggi memang banyak mengatakan yang ET itu nanti akan ada peningkatan pada masanya nanti 2014. tetapi dengan demikian yang fix itu dasarnya apa, kembali masalah angka itu paling sulit untuk kita memberikan penjelasan, tetapi yang jelas bahwa ini lebih baik dari target 3%, nanti harus maju meningkat lebih dari 3%.
Dengan demikian kami memang dari Pemerintah tetap menyampaikan bahwa rumusan-rumusan pasti ET itu berapa persen, ini harus dibahas dalam bentuk Panja. Tetapi kami
sependapat bahwa semakin maju, semakin mantap bagi Partai Politik arus kita dorong bersama.
Demikian jawaban dari Pemerintah.
H. BACHRUM R. SIREGAR, SE/F-PBR:
Terima kasih,
Saya agak tergelitik untuk memberikan suatu pendalaman a a yang disampaikan oleh Saudara Sutradara Ginting menarik sekali dan tadi juga dari F-PG. J di ini barangkali ini untuk dibahas khusus pada Panja nanti. Tadi dikatakan kalau tidak mem nuhi ET, maka Partainya tersebut harus melakukan kristalisasi atau pengabungan partai, sehingga dia mencapai ET-nya dan dia dimungkinkan untuk bisa ikut lagi dalam Pemilu. Bukannya Part i tersebut katakanlah bisa berbentuk lagi dengan merubah warna dari putih menjadi biu.
Saya kira ini sesuatu yang sangat esensial, dimana kita bagaimana memecahkan persoalan yang menurut pandangan kami memang cukup kompleks dan menyita energi yang cukup luar biasa, baik bagi para pengamat, media massa, maupun pol tisi itu sendiri. Bagaimana memecahkan supaya tidak ada kesan, bahwa Partai tersebut tetap bis berulang-ulang mengikuti Pemilu hanya menganti-ganti warnanya saja. lni bukan pandangan Pe erintah, tetapi saya ingin mendalami pemikiran dari F-PDIP dan F-PG. Kalau misalkan kita aga dalami persoalan ini, ini sangat menarik, untuk kita carikan suatu solusi dalam kerangka kita dal m mencari suatu kualitas Pemilu kita ini kedepan bagaimana. Partisipasi Partai Politik untuk tetap ada, dan tentunya partisipasi ini kita menginginkan lebih banyak dan juga representasi ini tidak harus kecil-kecil tapi banyak. Kita inginkan representasi ini banyak tetapi terwakili multi partai yang sederhana, yang mewakili seluruh kelompok yang minoritas, maupun mayority, yang tercermin dari Prulisme kita ini.
Jadi, kalau ini memungkinkan ini menarik sekali untuk kita mencari pemecahan kedepan.
T erima kasih.
KETUA RAPAT:
Baik terima kasih Pemerintah,
Jadi saya kira memang threshold ini saya kira prinsipnya adalah tidak kemudian menjadi factor yang menghilangkan eksistensi partai politik, itu saya kira prinsipnya. Berkaitan dengan pengaturan electoral threshold yang katakanlah ternyata itu salah terhadap pengertian, tetapi itulah sudah digunakan sebagai rumusan Undang-undang saya kira, apapun caranya, tetapi saya tidak boleh menghilangkan eksistensi, kita ganti jadi apapun namanya, tetapi jangan angkanya. Menu rut saya kita tidak hanya sekedar bicara lima, empat, tiga atau dua dari F-PDS. Tetapi kita ingin melihat bagaimana kita menata kepesertaan Pemilu ini dengan sebuah aturan yang kita sebutkan, apakah kita sekaligus membenahi atau apakah kita menegaskan dengan awalan tadi parlementary threshold. Juga kami tawarkan bagaimana soal ketidakhilangan eksistensi terhadap suatu proses Pemilu, itu juga saya kira penting digambarkan. Sebenarnya ini bukan soal angka ini, tetapi ketika kita merangkai dalam konstruksi sebuah system, mau ini partai syarat mau ikut Pemilu seperti ini.
Pencapaiannya seperti ini, tidak terdapat ini dsb, berkaitan dengan banyak hal yang saya kira menarik.
Karena kita ingin memberikan kesempatan, menambah putaran, saya kira saya balik lagi, dari F-PG dulu baru ini.
H. HARDISOESILO/F·PG:
Sebelum putaran, bisa lnterupsi, berupa klarifikasi. Sebelum putaran.
KETUA RAPAT:
lni ada Pimpinan Rapat, ada Pimpinan prosentase.
H. HARDISOESILO/F-PG:
Saya mau klarifikasi apa yang disampaikan oleh Bapak Sutradara Ginting, kemudian tadi dirumuskan oleh Pemerintah, pemahaman saya agak berbeda.
Terima kasih Bapak Menteri, Para Anggota yang kami hormati,
Sebetulnya pemikiran F-PG dalam rangka threshold ini ingin berangkat daripada konsistensi berpikir. Kedua, juga mensikapi kondisi obyektif pelaksanaan kegiatan di DPR ini setelah kita mengalami Pemilu tahun 2004. konsistensi pertama kita sepakat bahwa untuk tahun 2009 ini electoral threshold tetap 3%, itu saya rasa tidak bisa kita rubah lagi, kecuali ada yang tidak in consisten untuk itu.
Kedua, didalam perjalan kita di DPR ini, F-PG melihat ada hal-hal yang sebetulnya bisa diperbaiki dalam rangka meningkatkan efektifitas kerja, kinerja daripada DPR nanti. Kami membayankan 10 Fraksi, setiap kita akan Paripurna, setiap akan menyampaikan pandangan umum, Pimpinan selalu 3 menit ya, 5 menit ya, sehingga tampak sekali itu tidak efektif, belum lagi kalau kita berbicara tentang proporsional di Fraksi. Hak Fraksi yang memiliki suara besar kadang-kadang harus pro rata dengan Fraksi-fraksi yang tidak memiliki Anggota yang cukup didalam kegiatan-kegiatannya. Sehingga tadi dalam DIM kami, kami ingin memperkenalkan parlementary threshold. lni bukan berarti kita tidak tau bahwa threshold-threshold yang diputuskan Bapak Ryaas Rasyid dan kawan-kawan tadi, kita tidak memahami itu, kita sangat paham dan kondisi itu justru dunia lnternasional memberikan apresiasi yang kuat bahwa Indonesia akan menjadi Negara Demokrasi setelah Amerika dan India dan seterusnya .
Dengan menyampaikan pandangan awal kami bahwa perlu adanya, bahwa Pemilu ini harus menghasilkan suatu demokrasi yang efektif juga pelaksanaannya di Dewan Perwakilan Rakyat, maka kita mengusulkan untuk mempertimbangkan adanya parlementary threshold. Yaitu Fraksi-fraksi mana yang boleh duduk di DPR, kalau ET itu partai mana yang boleh ikut pada Pemilu yang akan datang. Justru di RUU yang lain kami ingin memperkenalkan apa yang kita sebut dengan operational threshold, di Susduk nanti.
Dengan demikian konsistensi berpikir kita untuk apakah itu benar atau salah, kita tidak tau, tetapi ini mendapatkan apresiasi besar, untuk meningkatkan demokrasi kita dalam bentuk mengefektifkan kegiatan pelaksanaan kegiatan di Lembaga Legislatif, sebagai tujuan daripada adanya Pemilu, saya kira itu merupakan suatu hal yang menurut kami on the right track reformasi kita dibidang politik.
Apabila kita hanya berbicara mengenai ET, saya kira Rapat Kerja ini hanya bisa memutuskan bahwa untuk tahun 2009, kita sepakati sesuai dengan kesepakatan kita diawal melalui Undang-undang No. 12 yaitu 3% dan semangat untuk meningkatkan itu dalam bentuk yang tadi kita lihat dengan berbagai perubahan-perubahan tidak menghilangkan eksistensi partai dsb, maka ET untuk dalam Undang-undang ini yang berlaku pada 2014 bisa ditetapkan 5%, sebagaimana juga persoalan Pemerintah.
Sedangkan untuk usulan-usulan kami mengenai parlementary threshold dsb dan juga pertimbangan-pertimbangan lain dalam rangka memperbaiki baju dsb tadi, kita bicarakan didalam Panja.
Demikian usulan kami Saudara Ketua, Terima kasih,
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh KETUA RAPAT:
Selanjutnya F-PDS ada.
PASTOR SAUT M. HASIBUAN/F-PDS:
Terima kasih Pimpinan,
Untuk putaran kedua ini, memang kami mengakui bahwa kami ikut untuk tahun 2004.
memang kita sepakati hal-hal itu, Undang-undang itu untuk tahun itu. Lalu kalau kita melihat sekarang bahwa Pemerintah mengusulkan 5% ini saya kira untuk tahun 2009 atau untuk 2014.
juga tadi dari Demokrat mengatakan belum pernah tahun 2004 memperbincangkan Undang-undang itu, tetapi dia juga setuju dengan 3%. Jadi memang sah-sah semua, oleh karena itu pengamatan kami didalam ikut serta untuk membangun Undang-undang sekarang ini, sejak kita
tahun 2004 sampai sekarang bahwa kami turut serta untuk membicarakan Undang-undang dan
tahun 2004 sampai sekarang bahwa kami turut serta untuk membicarakan Undang-undang dan