• Tidak ada hasil yang ditemukan

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA"

Copied!
31
0
0

Teks penuh

(1)

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA

RISALAH RAPAT PANITIA KHUSUS

RUU TENTANG PEMILIHAN UMUM ANGGOTA DEWAN PERWAKILAN RAKYAT, DEWAN PERWAKILAN DAERAH, DAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH &

T ahun Sidang Masa Persidangan Jenis Rapat Rapat Ke Sifat Rapat Dengan Hari I Tanggal Pukul

T em pat Rap at Ketua Rapat Sekretaris Rapat Acara

Anggota yang hadir Nama Anggota

Pimpinan Pansus Pemilu:

2007-2008 I

Rapat Kerja VI (Enam) Terbuka

Menteri Dalam Negeri, Menteri Sekretaris Negara & Menteri Hukum dan HAM

Sen in, 24 September 2007 14.00 WIB- selesai

Ruang Rapat Komisi II DPR Rl (KK.III/Gd. Nusantara) Drs. Ferry Mursyidan Baldan I Ketua Pans us Pemilu Suroso, SH/Kabagset Pansus Pemilu

Pembahasan DIM RUU Tentang Pemilihan Umum Anggota DPR, DPD, dan DPRD

43 dari 50 orang anggota Pansus Pemilu 7 orang ljin

1. Drs. Ferry Mursyidan Baldan/F-PG/Ketua 2. DR. Yasona H. Laoly, SH, MS/F-PDIP/Waket 3. DR. H.B. Tamam Achda, M,Si /F·PPP/Waket 4. Ignatius Mulyono/F·PD/Waket

5. DR. lr. Hj. Andi Yuliani Paris, M.Sc/F-PAN/Waket

Fraksi Partai Golkar : Fraksi Kebangkitan Bangsa :

6. Drs. Agun Gunandjar Sudarsa 35. Prof. DR. Moh. Mahfud MD 7. Drs. H.A. Mudjib Rochmat 36. Hj. Badriyah Fayumi, Lc 8. Mustokoweni Murdi, SH

9. Dr. Mariani Akib Baramuli, MM 10. Ora. Chairun Nisa, MA

11. Drs. TM. Nurlif

12. Drs. Simon Patrice Morin 13. H. Hardisoesilo

14. H. Asep Ruchimat Sudjana 15. Rambe Kamarul Zaman, M.Sc.

(2)

Fraksi POl Perjuangan : 16. Tjahjo Kumolo, SH 17. DR. Sutradara Gintings 18. Alexander Litaay 19. Pataniari Siahaan

20. Jacobus Mayong Padang 21. Nursuhud

22. lrmadi Lubis 23. Drs. Eka Santosa

24. Hj. Tumbu Saraswati, SH

Fraksi Partai Persatuan Pembangunan : 25. Drs. H. Hasrul Azwar, MM

26. Ora. Hj. Lena Maryana Mukti 27. Lukman Hakim Saifuddin Fraksi Partai Demokrat :

28. DR. Syarief Hasan, SE, ME, MBA 29. DR. Benny Kabur Harman, SH 30. lr. Agus Hermanto, MM

Fraksi Partai Amanat Nasional : 31. Patrialis Akbar, SH

32. H. Totok Daryanto, SE 33. Abdillah Toha, SE 34. lr. Tjatur Sapto Edy, MT

Anggota yang berhalangan hadir (ljin) : 1. H. Muhammad Sofhian Mile, SH, MH 2. Drs. H. Akhmad Muqowam

3. Drh. Jhonny Allen

Fraksi Partai Keadilan Sejahtera : 37. Agus Purnomo, S.IP

38. Drs. Almuzzammil Yusuf 39. Mustafa Kamal, SS 40. H. Jazuli Juwaini, MA

Fraksi Bintang Pelopor Demokrasi : 41. Prof. DR. M. Ryaas Rasyid, MA

Fraksi Partai Bintang Reformasi : 42. H. Bachrum R. Siregar, SE

Fraksi Partai Damai Sejahtera : 43. Pastor Saut M. Hasibuan

4. Drs. H. Ali Masykur Musa, M.Si 5. H.A. Effendy Choirie, M.Ag. MH 6. Drs. H. Saifullah Ma'Shum, M.Si 7. Drs. Ali Mochtar Ngabalin, M.Si

KETUA RAPAT (Drs. FERRY MURSYIDAN BALDAN):

umum.

Yang terhormat Saudara Menteri;

Bapakllbu sekalian yang saya hormati.

Skorsing rapat saya cabut dan Rapat Pansus dinyatakan dilanjutkan dan terbuka untuk

(SKORS RAPAT DICABUT PUKUL 14.25 WIB)

Yang terhormat Saudara Menteri Dalam Negeri dan segenap jajarannya;

Yang terhormat Bapakllbu Pansus Rancangan Undang-Undang Pemilu DPR, DPD dan DPRD.

Tadi kita sudah menskors rapat pada pukul 14.08 WIB dan untuk dimulai lagi 14.30 WIB.

Rapat hari ini adalah kita ingin melanjutkan tentang materi yang ada DIM dan kita bersepakat dulu, kita akan akhiri rapat ini pukul17.00 WIB.

(RAPAT: SETUJU) lbu dan Bapak sekalian,

Saya kira kita sudah mencoba mengklasifikasikan dari materi-materi yang ada, dari seluruh DIM yang merupakan DIM substantif itu kita masukan ke dalam beberapa kategori. Hari ini

(3)

saya kira kita akan memulai dari yang relatif tidak terlalu berat khususnya bagaimana syarat ikut pemilu. Syarat ikut pemilu, saya kira ada di DIM 65, 67, Bab IX sampai kemudian di DIM 1300. Nah khusus DIM ini, DIM 1374, 1375 dan 1376 itu adalah substansi peletakannya yang ada di dalam peralihan. Memang kalau melihat dari rangkaian apa yang tertuang di dalam DIM ini, saya kira cukup panjang. Ada sekitar 65 DIM, tetapi kalau dilihat kategorinya sebetulnya karena ini adalah syarat ikut pemilu yang mengatur beberapa hal. Pertama, syarat bagi Parpol untuk Pemilu DPR · dan DPD dan juga Pemilu untuk Anggota DPD atau perseorangan di Rancangan Undang-Undang.

Keikutsertaan atau syarat Partai Politik ikut pemilu, Pemerintah mengajukan 2 kategori. Ada syarat umum dan syarat khusus. Syarat umum itu, saya kira yang kita kenai pengurus dan sebagainya.

syarat khusus, dimasukanlah apa yang kita kenai selama ini soal electoral threshold. Karenanya di dalam pembahasan atau Dim Fraksi-fraksi juga kita menemukan ketentuan pada electoral threshold yang baik ada di DIM 81 kemudian di DIM 155.

Kalau dijinkan, saya akan mengajak Bapak/lbu sekalian. Pertama, melihat bagaimana pengaturan Rancangan Undang-Undang ini terhadap syarat ikut pemilu bagi partai politik. Artinya, bukan electoral threshold karena salah satu halnya adalah saya kira bagaimana syarat partai politik baru untuk ikut pemilu. Kemudian, kita akan masuk pembahasan untuk ... (rekaman terputus).

Kembali ke materi. Jadi, hari ini kita akan membahas persyaratan untuk ikut pemilu yang berkaitan dengan syarat bagi partai politik terlebih dahulu, yakni tentu ini adalah hal-hal yang mengatur tentang bagaimana syarat bagi partai-partai politik baru untuk ikut pemilu karena setidaknya ada 3 jalan untuk ikut pemilu. Pertama, Partai Politik baru. Kemudian, Partai Politik yang memenuhi electoral threshold dan Partai Politik yang tidak memenuhi electoral threshold.

Nah hari ini, saya kira di DIM-DIM ini (75) yang nanti akan kita mulai pada DIM 69 itu Pasal 8 itu adalah syarat partai politik untuk ikut pemilu.

Saya persilahkan secara sekaligus dari DIM 69 sampai dengan DIM 79, sekaligus beberapa syarat. Ada yang namanya syarat pengurus, syarat keanggotaan dan sebagainya, perwakilan, kantor tetap dan sebagainya. Judul, saya kira nanti ini. ltukan terkait dengan apa yang disampaikan PPP tadi.

Baik, saya persilahkan dari Fraksi Partai Golkar.

Ora. CHAIRUN NISA, MAIF-PG:

Terima kasih Ketua.

Untuk DIM 69, Fraksi Partai Golkar mengusulkan adanya perubahan substansi dimana ada akhir kalimat ditambahkan kata persyaratan sehingga setelah perubahan rumus itu menjadi Partai Politik dapat menjadi peserta pemilu setelah memenuhi persyaratan. Sebagai keterangan bahwa persyaratan ini berlaku untuk partai politik yang belum mengikuti pemilu atau partai politik baru.

KETUA RAPAT:

Ya, DIM-DIM lainnya mau ditambahkan?

DIM No. 69, itu yang mengatur. Kemudian, sampai dengan ada persyaratan umum. Ya, DIM No. 75 sampai dengan DIM No. 79 khususnya.

Ora. CHAIRUN NISA, MAIF·PG:

Untuk DIM No. 70, persyaratan umum ini dihapus. Jadi, Fraksi Partai Golkar tidak mengkategorikan adanya persyaratan umum dan khusus sehingga persyaratan umum itu setelah perubahan itu dihapus. Kemudian, persyaratan khusus pada DIM No. 79, persyaratan khusus ini juga dihapus. Kemudian, DIM No. 72 juga dihapus. Kemudian DIM No. 73 "Persyaratan Umum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 huruf a meliputi:", Fraksi Partai Golkar juga mengusulkan untuk dihapus. Kemudian DIM No. 74 A "Berstatus badan hukum sesuai dengan Undang-undang tentang Partai Politik", Fraksi Partai Golkar mengusulkan tetap. Kemudian DIM No. 75 8 "Memiliki kepengurusan lengkap di seluruh provinsi", Fraksi Partai Golkar mengusulkan adanya perubahan substansi sehingga rumusan setelah perubahan berbunyi "Memiliki kepengurusan lengkap di 75%

dari jumlah provinsi". Ya, saya kira cukup.

(4)

KETUA RAPAT:

Cukup?

Selanjutnya, Fraksi PDI Perjuangan silahkan.

JACOBUS MAYONG PADANG/F·PDIP:

Baik, Pimpinan.

Bapakllbu sekalian yang kami hormati.

Dari PDI Perjuangan, sebagian besar dari DIM yang kita bah as pad a saat sekarang adalah tetap. Kecuali, ada beberapa pain antara lain misalnya persyaratan mengenai penyebaran kepengurusan dan kami usulkan ada perubahan-perubahan. Pimpinan, minta diteruskan dulu ke yang lain.

KETUA RAPAT:

Tidak, saya kira DIM No. 69 bagus itu argument yang bisa disampaikan. Oke, silahkan Fraksi PPP .

... /F-PPP:

Terima kasih Ketua.

Kami mengusulkan sebaiknya putaran pertama diberikan kesempatan kepada fraksi-fraksi yang mengusulkan perubahan. Dalam hal ini, PPP tidak mengusulkan perubahan. Jadi, kita ingin mendengarkan dulu secara keseluruhan fraksi-fraksi yang mengusulkan perubahan. Lalu, alasan pemerintah. Misalnya, kenapa harus dibagi umum dan khusus dan seterus. Dari situ, baru diberikan kesempatan kepada fraksi untuk menanggapi.

Terima kasih.

KETUA RAP AT:

Ya, saya kira hampir semuanya hampir ada juga bagian-bagian yang inde. Baik, saya persilahkan dari Partai Demokrat.

lr. AGUS HERMANTO, MM/F·PD:

Terima kasih Pimpinan.

Dari Demokrat, hampir semuanya banyak yang tetap. Ada perubahan yang di DIM No. 78, yaitu Memifiki anggota sekurang-kurangnya 1.000 orang atau sekurang-kurangnya 111000 dari jumlah penduduk pada setiap kepengurusan Parpol sebagaimana dimaksud pada huruf b huruf c yang dibuktikan dengan kepemilikan kartu tanda anggota, Partai Demokrat mengusulkan untuk dihapus. Yang Jain, mengikuti pembahasan selanjutnya.

KETUA RAPAT:

Terima kasih.

Kemudian, dari Fraksi PAN.

lr. TJATUR SAPTO EDY, MT./F·PAN:

Terima kasih Ketua.

Fraksi PAN dalam hal persyaratan mengikuti pemilu ini, banyak yang tetap. Namun, ada beberapa hal yang kita usulkan penyempurnaan.

Yang pertama, Dim No. 74. lni hanya sedikit, penambahan saja. lni berstatus badan hukum sesuai dengan Undang-undang No. ini Tahun 2007 tentang Partai Politik. Jadi, nomornya, Tahun 2007 Undang-undang ini nanti akan disahkan, dicantumkan disitu.

Yang kedua, DIM No. 77. Usul Pemerintah memperhatikan keterwakilan perempuan pada kepenguruan partai sekurang-kurangnya 30%. PAN mengusulkan memperhatikan digantikan dengan mengupayakan dengan sungguh-sungguh. lni menjadi mengupayakan dengan sungguh- sungguh keterwakilan perempuan pada kepengurusan partai sekurang-kurangnya 35%. Jadi, 1/3 lebih sedikit.

Yang berikutnya, Dim No. 78. Kita menambahkan dengan partai yang bersangkutan pada akhir usulan pemerintah. Jadi, ditambahkan memiliki anggotanya sekurang-kurangnya 1 .000 orang atau sekurang-kurangnya 1/1.000 dari jumlah penduduk mana yang lebih tinggi pada setiap

(5)

kepengurusan parpol sebagaimana dimaksud pada huruf b,c dan d yang dibuktikan dengan kepemilikan kartu tanda anggota partai yang bersangkutan.

Saya kira yang substantif itu Ketua. Yang lain, kita akan mengikuti pembahasan

selanjutnya. ·

Terima kasih.

KETUA RAPAT:

Ya, dari F-KB.

Tidak ada, selanjutnya dari F-PKS.

INTERUPSI:

Pak Ketua.

Sedikit, ini kita bicara tidak dibatasi DIM. Sebab saya dengar Ketua, sampai DIM No. 75.

Jadi, sampai DIM berapa kita bicara ini.

KETUA RAPAT:

DIM-nya itu mulai DIM No. 69 sampai dengan DIM No. 79. DIM No. 79 ada persyaratan.

Oke, silahkan PKS . .... /F-PKS:

Terima kasih Pimpinan.

Kami sampai DIM No. 79 tetap, tidak ada perubahan. Nanti komentar kami setelah ada diskusi tentang berbagai hal yang diubah oleh fraksi lain.

T erima kasih.

KETUA RAPAT:

Selanjut, Fraksi BPD.

PROF. DR. M. RYAAS RASYID, MAIF-BPD:

Terima kasih Pimpinan.

BPD hanya mengingatkan bahwa Pemilu ini seharusnya semakin membuka diri bagi kemudahan-kemudahan pelaksanaan hak-hak demokrasi partai dan rakyat. Kita seyogyanya jangan mempersulit keikutsertaan dalam pemilu mengingat 2 perkembangan terakhir yang kita catat, adanya keluasaan membuat partai lokal di Aceh dan dalam Pilkada akan berlaku di seluruh Indonesia, bisa hadirnya calon independen sehingga menjadi tidak adil jika di 1 provinsi atau nanti ada juga di Papua dimungkinkan ada partai lokal dimana hak-hak politik setempat dijamin untuk bisa membentuk suatu partai hanya partai lokal, lalu untuk tingkat nasional dipersulit keikutsertaan dalam pemilu. Oleh karena itu, BPD untuk DIM No. 71 mengusulkan:

1. Untuk pengurus provinsi, 75%; dan 2. Untuk kabupaten, cukup 50%.

Yang lain, konsisten dengan itu. Lalu, saya kira di DIM No. 76. Lalu, menyangkut persyaratan keanggotaan. Soal 1.000 anggota, ini juga sudah kita jalani Tahun 2004 sebenarnya.

Sebab pertanyaannya itu apakah kita memang lebih membicarakan keabsahan suatu partai itu berdasarkan keanggotaan terdaftar atau ada pertimbangan lain? Karena kalau harus ada 1.000 anggota, bisa saja direkayasa dan diperjuangkan, tetapi yang ikut pemilu kan partai sebenarnya.

Kepengurusan dalam partai itu mesti cukup mencerminkan eksensi dari sebuah partai dan tidak harus ada anggota dan itu tidak ada di dalam perintah UUD itu mengenai persyaratan keanggota sebagai breakdown dari keikutsertaan suatu partai politik dalam pemilu dan itu akan menimbulkan persoalan untuk partai-partai baru yang baru diresmikan menjelang pemilu. Lalu, logikanya sudah harus ada anggotanya. Lalu, terjadilah transaksi-transaksi pembelian kartu atau perekayasaan untuk menjadi anggota partai walaupun partainya belum tentu dipahami oleh masyarakat. Jadi, kita terlalu mengikat pada formalitas. Kalau seandainya bisa, ya keanggotaan ini tidak usah masuk dalam persyaratan dan yang penting adalah ada pengurusnya. Karena toh itu hanya menambah pekerjaan saja. Semua partai akan berusaha mendapatkan itu. Sepanjang kita ketahui dalam seleksi KPU 2004, gugurnya partai politik sebagai peserta pemilu itu bukan karena anggota tidak ada melainkan pengurus tidak cukup. Coba dibuka kembali dokumen di KPU, mengapa dari sekian

(6)

banyak partai ikut mendaftar di KPU ada setengah yang gagl. ltu gagalnya bukan karena keanggotaan, tetapi tidak punya pengurus seperti yang dipersyaratan. Bahkan dalam DIM kami sebelumnya, kita juga mengusulkan supaya dipersyaratkan adanya kantor. Daripada itu, lebih bagus/lebih penting. Jadi, untuk menunjukan eksistensi dari sebuah partai. Harus mempunyai kantor dalam DIM No. 71 yang kita ajukan. Jadi, ada kantor tetap dan dibuktikan dengan berbagai macam formalitas kepemilikan atau penyewaan atau kontrak, itu menu rut kami lebih tepat daripada membicarakan mengenai keanggotaan. Bagi partai-partai yang sudah mapan, bahkan itu tidak ada masalah, tetapi bagi partai baru dan mereka harus membuktikan lagi ada anggota padahal sebetulnya belum ada kegiatan sebagai partai. Dia baru diresmikan menjelang pemilu.

Saya kira itu saja Pimpinan.

Terima kasih.

KETUA RAPAT:

Terima kasih BPD.

Selanjutnya, PBR.

H. BACHRUM R. SIREGAR, SE/F-PBR:

Terima kasih Pimpinan.

Assalamu'alaikum Warrahmatullahi Wabarakaatuh.

Yang kami hormati Pimpinan;

Rekan-rekan Anggota Pansus;

Bapak Menteri serta seluruh jajaranya yang mewakili Pemerintah.

Dari PBR, untuk DIM No. 74 itu mengajukan agar penunjukan terhadap Undang-undang dalam Partai Politik itu dicantumkan nomor berapa. Dalam hal ini PBR menyarankan agar tetap merujuk kepada Undang-undang No. 31 Tahun 2002 tentang Partai Politik dan bukan kepada Undang-undang yang sedang dibahas oleh Rekan-rekan Pansun yang mungkin paralel juga membahas Undang-undang ini. Karena apabila nanti pada saat pengesahannya bersama-sama kelihatan rujukan itu tidak persis sehingga konkritnya PBR mengajukan berstatus badan hukum sesuai dengan Undang-undang No. 31 Tahun 2002 tentang Partai Politik , karena masih cukup relevan untuk dicantumkan.

Kedua, DIM No. 75 Memiliki keputusan lengkap di seluruh provinsi. PBR mengajukan cukup di sekurang-kurangnya di 2/3 provinsi. Jadi, tidak 100%. Demikian juga untuk kabupaten/kota mengajukan 2/3 dari jumlah kabupaten di setiap provinsi.

Selanjutnya, DIM No. 78. Saya tetap dari PBR. DIM No. 79 juga tetap.

Saya rasa demikian, sementara sampai dengan DIM No. 79.

Terima kasih.

Wassalamu'alaikum Warrahmatullahi Wabarakaatuh.

KETUA RAPAT:

Terima kasih PBR.

Selanjutnya, PDS.

PASTOR SAUT M. HASIBUAN/F-PDS:

Memang saya mau sampaikan bahwa surat kami baru masuk bahwa ada perubahan DIM dan ini resmi kami sampaikan kepada Pimpinan Pansus dan juga kepada Bapak Menteri Dalam Negeri, Bapak Menteri Sesneg dan MenkumHAM. lni semua ada di hadapan Ketua Pansus. Ketua Pansus, saya kira bisa membagikan kami punya. Ada tembusan kepada semua yang berkepentingan.

Maksud saya, apa sekretariat atau Ketua Pansus. Mana sekretariat ini? Katanya Sekretariat sudah memberikan semua kepada Ketua Pansus. Bu Airin, oh sudah. Artinya, sudah jadi itu karena kita percayakan semua di tangan Ketua Pansus.

Penyampaian kami adalah apa yang disampaikan oleh Saudara saya dari BPD, itu mempunyai dasar yang baik. Mengapa saya mengatakan demikian? Bahwa itu semua dalam rangka peneguhan dan perkuatan partai politik, bukan diukur daripada hal-hal yang keanggotaan semata. Sebab keanggotaan itu dalam prakteknya itu bisa berpindah-pindah. Tahun yang lalu,

(7)

PDIP lebih besar partainya daripada Golkar. Sekarang Tahun 2004, Partai Golkar lebih besar daripada PDIP. Nah itu keanggotaannya, karena itu jumlah anggota di DPR Rl. Jadi, kursi-kursi di DPR ini pada pemilihan sebelum 2004, PDIP lebih besar kursi daripada Golkar dan Tahun 2004, Golkar lebih besar kursinya daripada PDIP. Artinya, anggota-anggotanya itu berpindah-pindah.

Nanti Tahun 2009, PAN. Dengan cara bagaimanapun harus memperoleh kursi 100 contoh.

Oleh karena itu, sangat beralasan yang dikemukakan oleh Prof. Ryaas Rasyid tadi. Jadi, kalau belum lengkap DIM kami menyatakan itu, ya dicatat saja disitu bahwa apa yang dikemukakan oleh Pak Professor adalah benar adanya.

Terima kasih.

KETUA RAPAT:

Bukan apa-apa Pak Pastor. Pimpinan sampai tidak berani, karena usul perbaikannya pun tetap (tidak ada perubahan), tetapi yang disampaikan berubah dalam bilangan menit itu yang mesti kurangi, tetapi kita hargai itu.

PASTOR SAUT M. HASIBUAN/F-PDS:

Karena pembicaraan tempo hari bahwa dari PAN mengusulkan seperti itu, yaitu Pak Abdillah Toha "apabila ada perkembangan yang terjadi pada rapat pansus ini, dimungkinkan inspirasi itu berkembang". ltu harus kita terima sebagai suatu yang baik. Untuk hal yang baik, harus kita dukung. ltu maksudnya.

Terima kasih Pimpinan.

KETUA RAPAT:

Ya-ya. Saya cuma ingin menegaskan kenapa Pimpinan tidak berani? Karena Pak Pastor menyampaikan PDS ada perbaikan, perbaikan ini bunyinya tetap, tetapi itu saja saya kira supaya tidak Pimpinan yang dimarahi.

Baik, kita akan perbanyak. Selanjutnya, dari PDIP.

JACOBUS MAYONG PADANG/F-PDIP:

Terima kasih Pimpinan.

Diskusi yang berkembang di masyarakat atau di berbagai forum, sangat memasyarakat soal-soal ini dan dikaitkan dengan penyederhanaan partai. Kenapa kami usulkan tetap disini?

Karena bagi PDIP adalah sebuah proses yang tentunya yang kita harapkan dari proses ini adalah hasil akhir. Oleh karena itu, bagi PDIP hasil akhir yang diharapkan adalah sebuah pemerintahan yang efektif dan pemerintahan yang efektif bisa melaksanakan kegiatannya yang kemudian bisa berbuah untuk kesejahteraan rakyat. ltu yang kami harapkan. Oleh karena itu, kalau kami usulkan disini tetap jangan sampai timbul tafsiran bahwa penyederhanaan yang kami harapkan itu penyederhanaan yang model seperti orde baru. Kami pikir itu sangat berbeda sekali. Karena itu, kami cantumkan kepada Pak Puin yang kiranya menjadi perhatian kita yaitu bahwa usulan tetap kami agar kemudian pemilu itu bisa betul-betul berlangsung secara efektif. Antara lain biaya yang dikeluarkan tidak terlalu banyak, masyarakat tidak menjadi bingung dalam menentukan pilihan.

Kemudian, demokrasi yang dihasilkan lebih efektif dan produktif serta sistem presidensial yang dianut dalam sistem pemerintahan Indonesia dapat berjalan lebih efektif. Kami pikir masyarakat semua berharap bahwa pemerintahan ini bisa betul-betul efektif dalam mengendalikan pembangunan. Kalau tidak efektif, pasti hasil akhir yang diharapkan yaitu pembangunan yang bisa membawa kesejahteraan pasti tidak akan tercapai. Oleh karena itu, disinilah pentingnya kita melihat. Jadi, jangan kita melihat hanya proses awal itu tetapi kita harus menitikberatkan pada hasil akhir yang ingin kita capai. ltu yang menjadi penekanan dari kami, kemudian menyetujui usulan itu untuk tetap.

Kemudian, Dim No. 76. PDI Perjuangan juga mengusulkan peru bah an redaksi, yaitu kata 75% kiranya dig anti menjadi 50%. Kemudian, kata tiap diantara kata di dan kata .... (rekaman terputus)

Pasal di DIM Nomor 77, pada butir D kami usulkan ·supaya itu menjadi butir e, yaitu

"memperhatikan dengan sungguh-sungguh keterwakilan perempuan pada kepengurusan partai sekurang-kurangnya 30%". Jadi ada kemajuan dari apa yang kita lakukan pada masa sebelumnya yaitu hanya memberikan penekanan "memperhatikan" sekarang kalau bisa kita melangkah lebih

(8)

maju lagi, agar ada upaya yang sungguh-sungguh, keseriusan dari setiap kepengueusan partai.

Kemudian setelah kata "memperhatikan" maka itulah kami usulkan kata "secara sungguh-sungguh.

Kemudian DIM Nomor 78, kami usulkan supaya ada perubahan redaksi pad a butir e yaitu menjadi butir f "memiliki sekurang-kurangnya 1000 orang atau sekurang-kurangnya 1/1000 (seperseribu) dari jumlah penduduk pada setiap kepengurusan partai politik sebagaimana dimaksud pada huruf c yang dibuktikan dengan kepemilikan kartu tanda anggota". Kemudian kata

"huruf b" dihapus, disesuaikan dengan undang-undang nomor 12 Tahun 2003. kemudian kami usulkan, ada substansi baru yaitu "sesuai dengan fungsinya sebagai wadah pendidikan politik bagi rakyat, maka Parpol harus lebih dekat dengan rakyat, kemudian anggota ini juga akan berfungsi sebagai saksi bagi parpol bersangkutan saat pelaksanaan pemilu. ltulah pentingnya bukti otentik dari keanggotaan.

Kemudian DIM Nomor 79, butir f. Kami usulkan perubahan redaksi butir f menjadi butir h.

Yaitu "pengurus sebagaimana dimaksud pad a huruf b dan huruf c harus mempunyai kantor tetap".

ltulah beberapa usul waktu dari PDI Perjuangan, terima kasih pada Bapak dan lbu Pimpinan serta saudara sekalian.

H. IRMADI LUBIS/F-PDIP:

Pimpinan boleh tambah sedikit dari PDI Perjuangan.

Melengkapi yang tadi disampaikan oleh Pak Yacobus, saya kira yang paling substansi dari Faksi PDI P adalah DIM Nomor 75 dan DIM Nomor 76. artinya dari Pemerintah yang b itu

"memiliki kepengurusan lengkap dari Provinsi". Artinya untuk menggambarkan partai politik itu bersifat nasional ya, kita setuju, untuk penyederhanaan sistem kepartaian, kami juga setuju. Akan tetapi kata-kata lengkap, atau 100% itu artinya kami tidak dapat menyetujui,. Karena ada hal-hal nanti yang terjadi mengurangi sedikit saja membuat suatu pasrtai tidak dapat mengikuti Pemilu dan ini sangat menyulitkan. Umpamanya aa soal pembekuan, ada provinsi yang baru terbentuk, belum sempat kita untuk melakukan pembentukan kepartaian, sehingga membuat cacat dan tidak dapat mengikuti pemilu.

Saya kira saya juga meminta kepada Pemerintah dan rekan-rekan untuk memperhatikan, artinya mempunyai sedikit keluwesan mengenai b ini. Jadi menurut kami memiliki kepengurusan lengkap sekurang-kurangnya 75% dari seluruh Provinsi. Sedangkan DIM Nomor 76 "memiliki kepengurusan lengkap sekurang-kurangnya 75%" saya kira ini memberatkan untuk partai-partai politik yang baru terbentuk untuk dapat menajdi peserta Pemilu. Kami kira, jadi kita tidak boleh menghambat persyaratan soal kepengurusan yang harus 75% tetapi 50% menurut kami sudah cukup. Yang menjadi masalah nanti pembuktiannya apakah partai-partai tersebut dapat meraih electoral treshold. Bukan dari sejak awal kita sudah melakukan suatu hambatan. Terima kasih Pimpinan.

DRS. CHAIRUN NISA, MAIF·PG:

lnterupsi Ketua, karena tadi Fraksi Partai Golkar belum membacakan DIM Nomor 77 sampai dengan DIM Nomor 79, boleh dibaca.

Baik.

Jadi, saya lanjutkan dengan DIM Nomor 77, untuk Fraksi Partai Golkar kita menginginkan kepada kita sekalian khususnya kepada Pemerintah, lni tentunya perlu disinkronkan pembahasan dengan RUU Partai Politik. Juga pertanyaan kami adalah apakah ketentuan ini sudah berlaku sebagai persyataran untuk mengikuti Pemilu 2009. jadi ini pertanyaan.

Kemudian DIM Nomor 78, Partai Golkar ada perbaikan substansi yaitu kalimat "sekurang- kurangnya 1000 orang" atau dan kata "huruf b dan" dihapus sehingga menjadi "memiliki anggota sekurang-kurangnya 1/1000 (seperseribu) dari jumlah penduduk pada setiap kepengurusan parpol sebagaimana dimaksud pad a huruf c yang dibuktikan dengan kepemilikan Kartu T and a Anggota."

Kemudian DIM Nomor 79 yaitu mengenai persyaratan "harus mempunyai kantor tetap, disini kami Partai Golkar berkantor tetap ini paling tidak 5 (lima) tahun tetapi dalam pengertian berkantor tetap setidaknya untuk 5 tahun tidak dalam pengertian harus memiliki tetapi cukup dengan surat kontrak atau sewa, atau surat izin untuk menempati, tidak harus memiliki tetapi dia bisa kontrak atau sewa. Saya kira itu saja Ketua, terima kasih.

(9)

KETUA RAPAT:

Baik, ada lagi Fraksi yang masih ingin menambahkan, cukup.

Saya persilahkan dari Pemerintah untuk merespon menanggapi usulan-usulan dari apa yang disampaikan dari draft, mulai dari persyaratan umum, persyaratan khusus, kemudian jumlah kepengurusan di level provinsi, keanggotaan, kemudian keterwakilan Perempuan ada yang 30%, ada yang 35% dan sebagainya. Saya persilahkan.

PEMERINTAH:

T erima kasih.

Dari Pemerintah setelah mendengarkan beberapa tanggapan-tanggapan dari Bapak dan lbu sekalian dari Fraksi, pada prinsipnya Pemerintah juga mempunyai pemikiran bahwa tentu Pansus ini tidak terlepas dengan Pansus Pembentukan Partai Politik yang sekarang sedang dibahas, kebetulan Pemerintah juga ikut didalamnya dan masih berlangsung. Dengan demikian ada didalam pemikiran kita pembentukan partai politik dan keikutsertaan partai politik dalam pemilu tentu harus ada pembedaan. Pembedaan persyaratan-persyaratan yang diberikan kepada tahun 2003.

Pada pembentukan awal didalam rangka budaya partai politik membentuk dirinya untuk menjadi badan hukum, tentu persyaratannya itu kita bisa memberi saran lebih diperingan untuk memberikan kebebasan masyarakat untuk berserikat dan berkumpul. T eta pi kembali setelah masuk dalam konteks keikutsertaan pemilu, memang banyak pemikiran-pemikiran yang bagaimana teknisnya atau caranya supaya keikutsertaan pemilu ada peningkatan persyaratan. lni sebagai gambaran umumnya dahulu.

Kalau pengurus boleh dikatakan setiap provinsi ada, sebetulnya pemikiran kai kalau pengurus itu harus ada dahulu, kemudian setelah itu baru keanggotaannya. Kalau dalam kategori nasional tentunya di masing-masing provinsi diharapkan ada kepengurusan itu. lni pemikiran kami kepengurusan yang berada di setiap provinsi, sedangkan Kabupaten/kota itu yang kami usulkan.

Penyebarannya nanti baru dilengkapi berapa porsen yang ada didalamnya.

Kemudian masalah keterlibatan perempuan, memang banyak tafsir dari kata-kata

"memperhatikan", memperhatikan ini lebih kami sampaikan bahwa sudah satu atensi bahwa kita memberikan kesempatan pada perempuan itu sendiri, tetapi kalau kita eksplisit 30% didalamnya, tentu yang lebih banyak berkutat Bapak-bapak dan lbu Anggota dan Partai Politiknya sendiri. Jadi Pemerintah memang tidak langsung eksplisit. Tetapi kata-kata yang eksplisit misalnya kata-kata anggota partai 1000 orang, itu persyaratan yang wajar dan umum biasanya. Kantor tetap juga kami tidak memberikan pengertian kantor tetap adalah suatu tempat dimana kita bisa berkomunikasi baik sesama partai politik maupun partai politik dengan Pemerintah, apakah itu kantor yang sifatnya milik partai politik atau kontrak dalam batas waktu tertentu, itu masalah yang lain.

Jadi pemahaman kami seperti itu, namun kami melihat bahwa semuanya akan sulit kita putuskan dalam satu forum yang seperti ini, karena beda tentunya kemampuan dari masing- masing partai dan beda antisipasi dari daerah dan masing-masing.

Dengan demikian setelah kami memberikan gambaran secara umum tadi, memang akalau tidak bisa disepakati dalam kata-kata prosentasi, tidak bisa disepakati dengan kata-kata

"penyebarannya" itu juga tentu akan bisa dibahas dalam forum yang lebih lagi. Terima kasih Pak.

KETUA RAPAT:

Baik, kita sudah mendengar tanggapan dan respon dari Pemerintah, khususnya yang berkaitan dengan beberapa hal yang dimunculkan sebagai usulan dari apa yang di rancangan undang-undang tentang kepengurusan yang tidak 100%, kemudian keanggotaan juga yang seharusnya tidak perlu mengatur keanggotaan sebagai syarat partai ikut Pemilu, kemudian undng- undang partai yang dirujuk adalah undang-undang 31, tidak undang-undang yang sedang dibahas, kemudian keterwakilan perempuan, kemudian yang berkaitan dengan persebaran. Dari 75%

menjadi 25% atau 50%, persebarannya ada yang 50% ada yang 25%. lni juga yang menajdi catatan-catatan.

Pemerintah juga menawarkan bahwa ini belum bisa kita masukan sekaligus ketika kita belum mengexcercise lebih jauh. Apakah ada tanggapan atau respon. Saya persilahkan.

(10)

PROF. DR. M. RYAAS RASYID, MAIF·BPD:

T erima kasih Bapak Pimpinan Bapak Menteri yang saya hormati,

Saya kira kita tidak menyusun undang-undang ini sekedar dengan logika atau standar kewajaran yang sangat relatif. Jadi apa yang kita anggap wajar belum tentu dianggap wajar secara konstitusional. Saya melihat ada inkonsistensi kalau ini diteruskan. Kalau persyaratan pengurus harus 100% diseluruh provinsi maka itu persyaratan lebih besar daripada harapan untuk hasil.

Formulasi demokrasi sendiri memberikan kita toleransi abhwa seseorang itu bisa menang dengan 50% plus satu. ltu toleransi dalam demokrasi. Jadi yang dimaksud dengan mayoritas itu adalah 50% plus satu sebenarnya, bukan 100%. Kalau persyaratan kita patok 100%, sementara hasilnya kita toleransi 50% plus satu itu saya kira menjadi aneh.

Pemilihan Presiden saja, Presiden akan memimpin Indonesia secara nasional, tetapi dia tidak harus menang di seluruh provinsi, dia bisa saja kalah di 10 provinsi misalnya saja, dan dia adalah pemimpin nasional. Jadi ukuran nasional itu bukan pad a angka-angka kehadiran 100%

sebagaimana yang kita lihat dalam draft ini. Saya pikir perlu toleransi dan ini belum pernah terjadi selama ini. Kalau tujuannya mengurangi jumlah partai peserta pemilu, saya sarankan jangan seperti ini, pakai saja sistem distrik. Pemerintah sudah pernah mengusulkan tahun 1999 sistem distrik, anda di sistem distrik pemilu tahun berikutnya pasti sedikit partai yang ikut Pemilu, karena the winner take all, dan itu bukan 1 00% tetapi 50% plus satu. And a di sistem distrik say a kira yang paling banyak 5 partai lagi untuk pemilu berikutnya, itu pasti kalau pakai sistem distrik. Sekarang Pemerintah berani atau tidak pakai sistem distrik.

ltu sudah pendapat Pemerintah tahun 1999, tetapi Golkar, PDI dan PPP waktu itu menolak. Saya ketua Tim Pemerintah waktu itu. Karena itu usulan pemerintah ditolak di hari pertama, tidak sempat didiskusikan langsung ditolak, buka kembali catatan DPR. Sekarang, pikiran kita sistem penyederhanaan kepartaian, dengan sistem presidensial waktu itu. Jadi kita mengharapkan tidak banyak partai, karena itu kita berikan treshold. Belum kita bahas treshold.

Treshold relevannya dengan sistem distrik mengurangi jumlah partai. Kalau sistem proporsional, besar dan kecil itu harus diakomodasi, itu namanya proporsional. Sekecil apapun itu representasi itu harus diakui, karen a itu rakyat dan kita sepakat mengambil sistem proporsional.

Jadi proporsional itu bukan anti minoritas politik. Saya memberikan catatan pada kawan- kawan dari PDI P yang dalam DIM nomor 69 ini juga agak menyinggung itu, saya sependapat mengurangi jumlah partai .. Tetapi mengurangi jumlah partai saran saya sistemnya yang kita ubah.

Kalau dikatakan misalnya, ini versi kawan-kawan PDI P, dikatakan bahwa terlalu banyak partai rakyuat akan bingung itu tidak terbukti secara empirik. Justru tahun 1999 ketika partai 48 peserta pemilu, PDI P bisa menang berarti rakyat tidak bingung, dia tahu mana yang harus dipilih. Sesudah itu partai hanya 24 tahun 2004, indikasi kebingungan itu saya tidak lihat, tetap saja rakyat cukup cerdas untuk memilih partai yang pas, mana yang tidak. Jadi kita juga jangan terlalu banyak mempatronasi rakyat kita, saya kira mereka juga paham itu.

Jadi saya mohon dengan hormat kepada Pemerintah, jangan sampai 100% dipaksakan sebagai satu persyaratan, sementara untuk hasilnya kita mentoleransi 50% plus satu. ltu terlalu berat. Kalau niatnya mengurangi jumlah partai peserta pemilu seperti disampaikan kawan PDI P, satu saja partai bermasalah di provinsi langsung tidak dapat ikut Pemilu karena tidak memenuhi syarat. Satu saja.

ltu bisa saja direkayasa di KPU, kalau ada yang mau main. Kita tidak pernah percaya kalau semua 100% semua jujur, kita realistis saja. Tahun 2004 ini Menteri Dalam Negeri juga tahu beritanya di Jawa Tengah, dan tahun 2004 kita tahu bagaimana pembelian suara di KPU, tetapi tidak bisa dibuktikan secara hukum dan cerita itu beredar dimana-mana.

Jadi hal-hal seperti ini saya kira kita buat fleksibel saja, dengan 75% sudah cukup berat untuk partai baru, kalau maksudnya hanya itu saja. Kepada kawan-kawan partai besar tahun 2004, Pemerintah juga terdiri dari orang-orang partai, saya hanya mengingatkan saja, jangan terlalu menyudutkan partai-partai yang kecil ini. Pada waktunya anda akan butuh koalisi dengan mereka.

Anda tidk akan maju sendiri, apabila kalau persyaratan Presiden semakin berat. Saya kira perlu ada toleransi, kita berjuang sama-sama, apalagi kembali sistem demokrasi proporsional ini.

Minoritas harus punya hak untuk terakomodasi didalam sistem proporsional. Kalau anda anti proporsional, kita buat sistem distrik. Semua minoritas all out, the winner take all. Kalau kita berani mengambil resiko itu, saya pro pada itu kalau mau. Terima kasih.

(11)

HARDISOESILO/F-PG:

Terima kasih Saudara Ketua.

Saudara Menteri dan para Anggota Pansus yang terhormat,

Sebetulnya Fraksi Partai Golkar ingin sederhana saja menyampaikannya.

Yang pertama kami sepakat dengan pemerintah, bahwa dalam menentukan persyaratan ini kita perlu mendiskusikan lebih dalam, tadi ditawarkan bukan dalam forum rapat kerja, jadi ada forum apakah Panja nanti, atau lobby dan sebagainya untuk kita menetapkan ini. Tetapi ada hal prinsip yang saya kira dikemukakan yang sudah menjadi kesepakatan umum saya kira. Yang pertama adalah perbedaan antara penetapan masyarakat membentuk sebuah partai politik dengan partai politik peserta Pemilu.

Saya kira yang sudah disepakati adalah kita ingin mewujudkan apa yang kita sebut sebagai multipartai sederhana. lni tercermin didalam para peserta pemilu. Sehingga persyaratan untuk peserta pemilu wajar kalau lebih berat daripada pembentukan partai politik. Sehingga disini juga fraksi partai Golkar menyatakan pendapat tidak perlu 100%, 75% dengan berbagai pertimbangan saya kira sudah. Dan ini Pemerintah saya kira tidak terlalu mengatakan tetapi bisa dikatakan di forum lain.

Akan tetapi ada satu yang perlu kami tambahkan penjelasan sehubungan dengan DIM Nomor 69. kalau Pak Lukman dan lbu Lena mempertanyakan, Fraksi Partai Golkar menegaskan bahwa persyaratan peserta pemilu itu tidak perlu dibagi dengan persyaratan umum dan persyaratan khusus, karena seperti terkesan kalau persyaratan itu untuk partainya Pak Ryaas Rasyid, yang umum itu untuk partainya Pak Sutradara Gintings misalnya. Jadi fraksi partai Golkar mengusulkan untuk kita hilangkan kata-kata umum dan khusus, dan kemudian disana nanti untuk peserta pemilu baru dan sebagainya kita atur.

Sekali lagi kami ingin menyampaikan bahwa untuk persyaratan peserta ini kita bicarakan didalam forum yang lebih bisa menekuni tetapi dengan prinsip-prinsip yang tadi kami sampaikan pengertian multi partai sederhana itu harus tercermin didalam peraturan ini, termasuk didalam hal- hal yang berkaitan ketentuan undang-undang lain, misalnya keterwakilan kepengurusan wanita kai sepakat biar ini mengikuti apa yang diputuskan oleh RUU Partai Politik, karena ini tidak sangat substansial didalam rangka kesertaan didalam Pemilu. Yang substansiaal adalah bagaimana Perempuan itu bisa 30% menjadi calon bukan anggota-anggota DPR, calon saja dahulu.

T erima kasih saudara Ketua.

Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh.

KETUA RAPAT:

Saya persilahkan Pak Sutradara Gintings dari Fraksi PDI P.

DR. SUTRADARA GINTINGS/F-PDIP:

Apa yang dikemukakan Anggota yang terhormat Ryaas Rasyid saya kira menjangkau hal yang lebih luas dan tadi saya ingin sebetulnya menyampaikan itu ketika kita bicara tentang DIM 80 keatas. Tetapi supaya proposisi-proposisi yang dikemukakan PDI P disini tidak salah, karena memberi responnya menurut hemat saya tidak dalam sistem berpikir kami, maka ada baiknya saya ingin coba perkaya itu sebagai berikut:

Perlama, demokrasi itu bukan hanya untuk demokrasi, saya selalu mengatakan demokrasi tanpa pemerintahan efektif itu adalah olok-olok, pemerintahan efektif tanpa demokrasi itu monster. Oleh karena itu sekali kita memilih sistem presidensil maka padanan dari sistem presidensil itu adalah simple multiparly, multi partai sederhana. T etapiu penyederhanaan kepartaian itu bukan dilakukan melalui suatu mekanisme by power, tetapi dia by democracy, instrumen juga. Bagaimana bentuknya.

Kedua, yang kami kemukakan, penyederhanaan sistem kepartaian itu bukan berarti yang kecil tidak boleh menjadi besar, bahkan bisa mendorong yang kecil bisa menjadi lebih besar, dan penyederhanaan itu bisa dilakukan melalui berbagai sistem, bisa dilakukan dengan sistem distrik, bisa juga dilakukan dengan sistem proporsional.

Saya ingin membacakan bagaimana kekeliruan yang sudah kita lakukan. Pada tahun 1999, sebetulnya did unia ini tidak ada isitilah electoral treshold seperti yang kita pakai. Saya kebetulan anggota KPUketika itu, karena untuk eforia supaya semua dapat tempat. Tetapi pengertian yang sebenarnya dari electoral treshold itu dimanapun adalah, yang sering disebut- sebut oleh saudara parliamentary treshold itu. Yang tidak memenuhi jumlah tertentu itu tidak boleh

(12)

mengirimkan wakilnya ke parlemen. Jadi baik sistem distrik maupun sistem proporsional dengan pengertian electoral treshold yang benar sesuai dengan apa yang ada didalam literatur itu bisa melakukan penyederhanaan.

Dengan demikian persoalannya adalah bahwa electoral treshold yang kita artikan selama ini bahwa suatu partai kalau tidak memenuhi ambang tertentu tidak boleh mengikuti pemilihan umum sehingga orang mengganti nama partai dan seterusnya, itu adalah pengertian yang tidak benar. Kami pada yang berikutnya nanti akan mengembalikan itu pada pengertian yang benar, yang lazim, yang fakta-faktanya akan kami kemukakan nanti yang pada saatnya bagaimana itu dilaksanakan di hampir semua negara.

Jadi mengembalikan electoral treshold didalam sistem proporsional pada pengertian sesungguhnya bahwa yang tidak memenuhi persyaratan tertentu tidak boleh mengirimkan wakilnya ke parlemen karena tidak akan efektif, dan dia bisa bergabung dengan yang lain akan merupakan bentuk penyederhanaan partai politik yang demokratis bilamana kita juga memakai sistem proporsional. Saya bisa memahami bahwa sistem distrik itu dapat secara drastis melakukan penyederhanaan tetapi juga ada kita temui dalam sistem proporsional yang nanti bisa kita buktikan contoh-contohnya dari pemilu ke pemilu pada setidak-tidaknya 22 negara yang ada didalam apa yang bisa kita baca bersama-sama.

Ketiga adalah persyaratan ikut pemilihan umum memang menurut kami perlu lebih berat dari persyaratan membentuk partai, tetapi kita harus m,enghindari absolutisme struktural dalam konteks ini. Kalau kita mengatakan 100%, maka pada dasarnya kita asumsikan partai itu tidak ada masalah apa-apa. Oleh sebab itu memang tingkatannya perlu dicari antara kepengurusan absolut dan kepengurusan yang mudah itu, pada titik mana nanti.

Ada satu hal yang perlu kita hindarkan dari absolutisme struktural ini, harus diakui dan akan kami bawakan pada DIM-DIM berikutnya bahwa biaya politik kita harus lebih kecil. Demokrasi liberal itu saudara kandungnya adalah kapialisme politik dan itulah yang sekarang terjadi. Kalau kita tidak mereduksi biaya politik maka tidak usah pers dan lainnya kalau para politisi kita harus melakukan fund rising dengan cara macam-macam.

Kalau biaya politik tidak menurun maka yakinlah apa yang di katakan Kelvin itu, Saudara Ryaas, the welt of democracy is politic of democracy. Kekayaanlah yang akan menentukan demokrasi pada waktu yang akan datang. Oleh karena itu political cost harus menurun. Salah satu bentuknya bahwa absolutisme struktural dalam bentuk kepengurusan dan sebagainya kita berikan ambang tertentu yang lebih berat dari kepengurusan awal.

Yang keempat atau yang terakhir yang juga nanti akan kami kemukakan adalah bahwa sudah tiba saatnya tidak menganggap bilamana ada pikiran-pikiran baru itu selalu adalah bentuk deprivasi partai yang masih kecil atau belum besar, padahal sewaktu-waktu dia bisa menjadi besar. Apa yang dikemukakan PDS tadi nampaknya salah sebut antara membership dengan vouters, antara pemilih dengan keanggotaan. Maklum beliau tidak bermaksud menyatakan yang salah, salah sebut saja saya kira. Tetapi soal keanggotaan itu menjadi masalah penting bagi suatu partai karena the best of support dari partai itu harus ada. The party itu bukan the presentations the elite of the party, harus juga ada anggotanya, dia nanti hid up dari sana. Jadi kalaupun tidak terlalu besar tetapi requirement membership of the party saya kita perlu dicantumkan sepaca psfilosofis bahwa party not only belong to the leader of the party, ada anggotanya juga disitu.

Saya kira itu penjelasan pertama, nanti pada saat DIM kami kemukakan lebih menyeluruh. Saya kira untuk, saya terima kasih kepada bung Ryaas Rasyid invite saya untuk membicarakan yang mustinya pada poin-poin berikutnya nanti.

KETUA RAPAT:

Saya kira ada porsinya nanti. Saya harus memberikan kepada Fraksi yang lain dahulu, barangkali ada jawaban yang lain.

Saya persilahkan dari PPP.

LUKMAN HAKIM SAIFUDDIN/F-PPP:

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh.

Berkaitan dengan persyaratan peserta pemilu, jadi diskusi kita ini mengingatkan saya pada perdebatan empat tahun yang lalu, mungkin Pak Patiniari dan Pak Ferry masih ingat. Kurang lebih sama, sebenarnya ini yang oleh Pemerintah harusnya lebih dijelaskan. Karena undang-undang 1 Tahun 2003 juga prosesnya seperti ini, perdebatannya juga persis seperti ini, dan itulah

(13)

kesepakatan kita yang dicapai ketika itu dimana menyangkut persyaratan adalah 2/3 untuk partai politik dan seterusnya. Lalu kemudian pemerintah mengusulkan perubahan persyaratan menajdi 75%, lalu ada anggota dan seterusnya. Mungkin bagian ini yang perlu dijelaskan kenapa berubah, karena menurut hemat fraksi kami sejauh tidak ada alasan yang sang at prinsipil maka sebenarnya Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2003 termasuk didalamnya persyaratan sebagai peserta pemilu itu sudah memadai, sudah mengakomodasi dari semua pertimbangan sudut pandang apa yang kita perdebatkan selama ini. Kecuali memang ada alasan yang begitu urgen dari Pemerintah sehingga perlu diubah.

lni yang belum kita dengar, mungkin ada baiknya Pimpinan memberi kesempatan kepada Pemerintah. Kalau tidak terlalu prinsipil menurut saya kembali saja ke undang-undang 12 tahun 2003, demkian terima kasih.

KETUA RAPAT:

Selanjutnya dari Fraksi PAN.

H. TOTOK DARYANTO, SElF-PAN:

Posisi dari fraksi Partai Am a nat Nasional sebetulnya kita con dong kepada tidak 1 00%

kepengurusan tetapi 75%, dan tidak hanya di provinsi tadi teman saya belum menyebutkan bahwa kepengurusan itu juga di kabupaten dan kota itu 75% dari jumlah kecamatan di setiap kabupaten.

Jadi selain yang 75% di provinsi maka di setiap kabupaten itu juga ada 75% di setiap kabupaten.

Kemudian mengenai anggota saya kira tetap bahwa keanggotaan sangat diperlukan dan pada saatnya nanti mungkin yang disampaikan oleh saudara Sutradara Gintings tadi menarik untuk kita bahas bagaimana kita memahami tentang ET, nanti. Terima kasih.

KETUA RAPAT:

Ya, di DIM berikut. Nanti DIM No. 81, 82, 83 dan 84 itu adalah DIM ET, PT dan sebagainya. Baik, selanjutnya saya persilahkan kepada yang lain. Ada lagi dari fraksi-fraksi lain?

PKB? PKS? PD? Baik, silahkan Prof. sebelum saya lempar ke Pemerintah.

PROF. DR. M. RYAAS RASYID, MAIF·BPD:

Terima kasih.

Hanya untuk memperkuat argument saudara saya, Sutradara Gintings. Jadi, saya sependapat dengan anda. Waktu itu, Pemerintah menawarkan tidak ada threshold. Ketika Anggota DPR menolak sistem district dan threshold yang kita pakai tidak ada di dunia lain, itu cuma ada di Indonesia. Memalukan sebenarnya. Yang ada itu adalah electoral threshold dan itu terjadi di Jerman. Waktu itu, kami sempat ke Jerman Tim Depdagri. Tetapi waktu itu kami menyadari bawha kalau sistem jerman itu kita pakai, itu akan ada pemberontakan di Indonesia karena jangankan Partainya Pak Pastor ini, partai saya 1.300 suaranya. Kalau itu tiba-tiba batal masuk, itukan pelecehan terhadap 1 juta lebih, apalagi Partai Pak Pastor, Partai PBR atau PKS pada Tahun 1999. Lalu, dibuka kembali rekor di DPR, Pemerintah tidak pernah setuju dengan threshold, partai yang menginginkan threshold karena masuk dalam draft pemerintah untuk sistem district. Jadi, apa yang Bapak katakan itu bagus untuk direnungkan bahwa threshold yang ada sekarang tidak ada konsepnya. Cuma masalahnya memang, saya lebih cenderung kita pakai district. ltu lebih fair daripada pakai threshold menyiksa orang, sekian juta orang tidak bisa masuk. Kalau district kan fair, kalau dia kalah di district itu dia tidak masuk, selesai dan semua orang jadi saksi kalau dia kalah. Tetapi kalau dibiarkan menang dulu dapat suara sekian juta baru dibatalkan, itu ribut Indonesia. Saya kasih warning saja. Jadi, kalau district selesai di tempat. Dia kalah, dia kalah. Nah ini kalau mau berbicara threshold yang menurut Ketua belum waktunya untuk dibicarakan.

Sekarang soal keanggotaan, kalau memang pada akhirnya saya kalah atau partai kita ini kalah untuk keanggotaan silahkan saja. Cuma pertanyaan saya tidak bisa dijawab, ada atau tidak di perintah konstitusi bahwa harus peserta anggota ikut pemilu, yang ada kan partai politik peserta pemilu. Tidak ada anggota, ini para ahli hukum dari pemerintah juga saya minta mengkaji ini apa dasarnya. Kalau sekedar untuk enak-enaknya ya kita boleh saja sepakat. Toh tahun yang lalu begitu Tahun 2004, cuman inikan kita semakin cerdas hari-hari ini, kita bertanya begitu. Dasarnya konstitusi itu apa itu keanggota itu. Kalau pada umumnya setuju, tidak ada orang yang ribut. Coba harus dipertanyakan supaya bangsa ini semakin pintar dan pemerintah memberikan alasan bukan

(14)

sekedar wajar, berikan argumen politiknya kuat bahwa keanggotaannya penting untuk memberikan syarat bagi peserta pemilu.

Yang terakhir, saya agak berbeda dengan yang lain-lain. Nah ini baru saya kemukakan sekarang. Sebenarnya untuk mengurai kekecewaan partai-partai itu dan keributan di kantor KPU yang terjadi setiap saat mau pemilu, sama kan saja persyaratan pendirian partai dengan peserta dan selesai. Daripada dia dikasihkan harapan dulu, oh dia bisa jadi partai politik sebab itu dia mendaftar di KPU tidak memenuhi syarat, ributlah di KPU. Kalau memang kita ingin lebih stabil, fair dan jujur, buat saja persyaratan untuk peserta pemilu sama dengan persyaratan untuk partai politik. Jadi, tidak kerja 2 kali. ltukan spair waktu juga hilang. Mendaftar dulu partai politik, diverifikasi oleh pemerintah, habis uang berapa, waktu berapa dan setelah itu dia tidak lolos sebagai partai politik. Sudah cukup 1 kali orang kecewa, dia tidak memenuhi syarat jadi partai politik. Sekarang dia memenuhi syarat partai politik, menurut Undang-undang dia adalah partai politik karena memenuhi syarat, verifikasi Departemen Hukum. Setelah itu, dia tidak memenuhi syarat ikut pemilu. Kan kasihan dan pemerintah juga habis waktu lagi. Kalau saya sarankan, simpan saja persyaratan partai politik sama dengan persyaratan peserta pemilu, 1 kali verifikasi.

Waktu lebih hemat, biaya lebih hemat, lebih fair daripada kita menggantung-gantung kekecewaan orang. kita mengkikir kekecewaan, dia kecewa ketika tidak memenuhi syarat jadi partai, dia kecewa lagi tidak memenuhi syarat sebagai peserta pemilu. Cukup 1 kali mereka kecewa, tidak memenuhi syarat jadi partai politik harus ada aturan, tidak usah dibedakan. Toh semua partai politik tidak ada mau buat untuk tolak politik saja, semua partai politik itu mau ikut pemilu. Sudah sekaligus saja, waktu sudah mepet.

T erima kasih Pak.

KETUA RAPAT:

Silahkan PDS.

PASTOR SAUT M. HASIBUAN/F·PDS:

Terima kasih Pimpinan.

Bapak Menteri, memang yang dikemukakan oleh Professor ini sangat cerdas menurut hemat kami. Karena kalau kita melihat sekarang ada partai politik lolos di Menkumham, tetapi tidak lolos di KPU. Nah kami menganggap ini sesuatu permainan yang menghabiskan waktu dan uang.

Seperti memancing-mancing saja atau untuk mengejar apa? Apa maksudnya? Kenapa harus dibuat tangga-tangga seperti itu? Kalau sudah lulus di Menkumham, harusnya disebut partai politik. Jadi, definisi partai politik kita ini sedemikian rupa kompleksnya. Apa memang harus kita biarkan Indonesia seperti multi kompleks yang sukar dimengerti. Nah ini saya mendukung hal-hal seperti ini Bapak Menteri supaya kita sederhana berpikir dan bertindak dan lalu cepat majunya negeri ini. Untuk hal yang positif, saya sang at senang.

Terima kasih Bapak Ketua.

KETUA RAPAT:

Sebelum ini, Pak Parin tambahkan?

H. TOTOK DARYANTO, SE/F·PAN:

Ya, tambah sedikit saja. Mengenai pendirian partai politik, menurut saya memang beda dengan syarat ikut pemilu. Kalau mendirikan Parpolnya, justru semangatnya tidak ada pembatasan. Jadi, dipermudah. Mau buat parpol, silahkan dan buat asal ada badan hukum jadilah parpol seperti ormas lain. Menurut saya, tidak ada masalah karena Parpol itu juga mencerminkan kelompok kepentingan dari masyarakat. Jadi, kelompok politik. Yang menjadi masalah ketika mau ikut pemilu. Jadi, saya agak sedikit berbeda dengan Pak Ryaas Rasyid bahwa untuk persyaratan pemilu seharusnya ada syarat-syarat yang tidak setiap orang, setiap kelompok, setiap partai politik bisa dan syarat itu tidak boleh mengada-ngada. Jadi, ada pengurus di 75% dan saya kira tidak mengada-ngada. Kemudian, ada anggota dan saya kira juga tidak mengada-ngada. Memang partainya harus ada anggotanya. Kalau tidak ada anggota, ngapain ikut pemilu. Jadi, sekedar itu saja Pak.

Terima kasih.

(15)

KETUA RAPAT:

Ya, baik. Saya persilahkan Pemerintah.

PEMERINTAH:

Terima kasih Pimpinan.

Pemerintah mengikuti dengan cermat apa yang berkembang dalam pembahasan dari pansus ini dan memang Pak Ryaas, Bapak/lbu sekalian, apa yang menjadi pemikiran saat ini dan adanya mulai perdebatan ini, ini persis mengulang Tahun 1999 dan Tahun 2003 karena saya pun mengikuti persis dan saya pun terlibat dalam proses-proses itu.

Kalau kita membuka file yang lama dan kita perdebatkan ini, maka memang mulai dari studi banding kita lakukan Eropa berbagai macam persoalan dan kemudian kita kembali lagi, maka pada akhirnya yang ingin kita capai dalam proses demokrasi kita ini adalah sesuatu yang pada akhirnya mencapai kualitas demokrasi yang kita inginkan. Nah itu, variabelnya banyak. Tidak hanya kepada partisipasi masyarakat saja, akan tetapi sejauh mana terjadinya kualitas pendidikan politik sehingga pada waktu itu dikatakan ini tidak bisa serta merta kita langsung masuk ke district, tidak bisa serta merta kita harus 1 00%, tidak bisa serta merta 75% keterwakili. Harus gradually sesuai dengan penguatan demokrasi itu sendiri. Dalam konteks itulah maka kita mensepakati sampai-sampai ada threshold. Bahkan pada Undang-undang No. 12 Tahun 2003 kita sudah sepakat dengan berbagai macam masukan-masukan yang ada, akhirnya kita mengatakan kepengurusan itu adalah 2/3. Jadi, tidak sama sekali tidak karena kita menyadari apalah artinya sebuah partai politik tanpa ada kepengurusan. Tidak mungkin partai politik tidak ada pengurus, tetapi kalau pengurus saja tanpa ada anggota apa artinya juga karena partai politik harus ada anggota dan itu harus dicerminkan juga dalam partisipasinya. Oleh sebab itu, dalam Undang- undang No. 12 Tahun 2003 pun telah dicantumkan juga bahwa sekurang-kurangnya 1.000 dari setiap provinsi yang kita kehendaki.

Nah saat ini kita kembali lagi bahwa kita ingin ada suatu kualitas, perbaikan, penguatan dan bukan dalam rangka kita mempersulit karena pada waktu itu juga kita sudah sepakat bahwa pembuatan partai politik menjadi badan hukum partai politik menjadi badan hukum partai politik tidak boleh dihalang-halangi karena itulah esensi hak demokrasi seseorang, tetapi bahwa kita membuat persyaratan, itu boleh-boleh saja. Secara gradually, kita harus lakukan karen a kita sudah sepakat dari awal bahwa kita tidak ingin langsung saja memberikan voni ya harus 100%, tetapi partai politik itu juga mempersiapkan diri sejak 1999 sampai 2004 ini, berkembang terus. Kita tidak ingin misalkan membiarkan besok pemilu, partai politik didirikan disini, otomatis mereka menjadi peserta pemilu. Bagaimana persiapan-persiapan kita melakukan itu, tetapi kita juga tidak ingin mengatakan bahwa kalau mendirikan partai politik harus dipersulit padahal dia hanya ingin menjadi sebuah badan hukum, tidak boleh juga.

Oleh sebab itulah, maka menurut pandangan kami Pemerintah harus ada perbaikan- perbaikan tidak dalam konteks untuk mempersulit. Kalau yang Undang-undang No. 12 T ahun 2003 itu kita sudah berani mengatakan 2/3. Barangkali saat ini jangan kurang dari 2/3, harus ada kualitas kemajuan dari 2/3 untuk kepengurusan di tingkat provinsi dan juga kabupaten/kota dan sebagainya. Oleh sebab itu, dalam persyaratan umum ini pemerintah beranggapan bahwa persoalan-persoalan yang kita perdebatkan ini ada beberapa titik yang harus kita bicarakan bersama, tidak dalam forum seperti ini, tetapi ada beberapa hal yang menyangkut substansi sekali dalam konteks perjalanan pemikiran ketika Tahun 1999, kita harus konsisten juga. Kalau misalnya kita tidak memikirkan lagi thres langsung ke district, itu adalah sesuatu yang kita pikirkan dulu suatu saat kita akan mencapai kesitu ketika kualitas demokrasi kita sudah seperti ini. Artinya,ada sesuatu/keinginan kita menuju kesana.

Kalau bahwa apa dasarnya Pemerintah menentukan 1/1000. Kita dulu pernah melakukan studi, bahkan di Negara-negara mengatakan You ingin mendirikan partai politik sekarang, silahkan.

Persyaratan sangat ringan, dirikan saja. Tetapi ketika you mau ikut pemilu, maka Pemerintah mengatakan ditaruh 2000 pounsterling setiap anggota DPR you yang ikut pemilu. Kalau you kalah tidak memenuhi threshold, maka itu hilang. Kalau you menang, maka dikasih lagi oleh pemerintah sebagai kewajiban pemerintah dan kewajiban anggota untuk memberikan kepada partai politik. ltu ada di negara Eropa tertentu, kita sudah belajar banyak itu. Oleh sebab itu, kami menganggap apa menjadi pemikiran kita secara gradually menuju demokrasi yang lebih solit, demokrasi yang lebih berkualitas harus kita pertahankan Pak. Jadi, ada suatu tahapan-tahapan kemajuan yang kita capai. Barangkali 2020 entah kapan kita mengatakannya we are ready untuk masuk ke sistem

(16)

district ketika sistem politik uang tidak begitu dominan lagi dan sebagainya. Saya kira itu pemikrian Pemerintah.

Oleh sebab itu, mari kita bawa ke dalam 1 forum yang lebih membawa kita untuk lebih discussion mana yang kita lihat, tetapio menurut pandangan pemerintah tetap saja kita harus lebih maju daripada kondisi Undang-undang No. 12 Tahun 2003.

T erima kasih.

Wassa/amu'alaikum Warrahmatullahi Wabarakaatuh.

KETUA RAPAT:

Saya konfirmasi, prinsipnya untuk yang status 100% kepengurusan, Pemerintah bersedia mundur. Kalau itu, saya kira bisa. Berapanya saya kira, 90 kan juga mundur.

... .

Saya kira bukan mundur seperti itu, tetapi forum ini kita bawa ke Panja sehingga kita bisa lebih mencermati argumen-argumen. Pemerintah tetap pada posisinya mempertahankan 100%, karena kalau tidak maka salah. Artinya, kita tidak membawa apa yang diamanatkan oleh Presiden.

Tetapi di dalam panja, kita akan berdiskusi tentang itu. Lebih senggap pemahaman kita, kenapa ini sampai kesitu? Tadikan meminta. Kenapa Pemerintah harus 1000 atau 1/1000 daro jumlah penduduk yang ada di kabupaten dan provinsi atau kenapa harus ada 1000 itu atau kenapa 100%.

Forum itu tidak mungkin kita debatkan disini. Oleh sebab itu, kami meminta ini dibawa ke panja sehingga kita bisa melakuan lobi-lobi untuk lebih mempertajam soal seperti ini dan bukan dalam konteks pemerintah mundur.

Terima kasih.

KETUA RAPAT:

Saya kira tawaran dari kami adalah lebih sederhana ketika bicara anggota nanti. Maaf, mungkin mundurnya tidak enak tetapi barangkali wise-nya pemerintah. Kira-kira kan kalau disetujui Bapak kan diskusi saja. Ketika semua fraksi menyampai jangan 100%. Kalau yang anggota, nanti kita masih perbincangkan. Tetapi okelah saya tidak akan pernah boleh memaksa.

Yang lebih baik kan memberi buka orang yang puasa. Ada tambahan? Silahkan.

DR. SUTRADARA GINTINGS/F·PDIP:

Konklusi sementara kami adalah bahwa kita semua ingin maju dari posisi sebelumnya, tetapi memang ada beberapa yang perlu kita pikirkan lebih dalam kalau absolute itu sama structural itu, kita aplikasikan. Saya kira itu konklusi sementara yang akan kami bawa ke panja.

PROF. DR. M. RYAAS RASYID, MAIF·BPD:

Pimpinan.

Ada pertanyaan dari PPP yang belum dijawab oleh Pemerintah dan itu mungkin ditunggu sampai Panja baru dijawab, yaitu argumen apa atau alasan apa yang membuat Pemerintah sekarang ini berbeda dengan Undang-undang sebelumnya menyangkut kepengurusan partai di provinsi,karena saya menganggap itu belum dijawab, karena kalau sudah dijawab tidak enak sampai kesimpulan. Karena kualitas tidak diukur dari mempersulit, itu tidak enak saya mengatakan ini karena disuruh ternan ngomong, saya mesti bilang. Jadi, kemajuan demokrasi bukan semacam mempersulit Pak, semakin mempermudah. Pengalaman kita sendiri seperti itu. Apa karena tidak melihat adanya partai lokal di Aceh sebagai satu kemajuan? ltu tanda mempermudah. Jadi, kemajuan itu mempermudah. Calon independen itu mempermudah, itulah demokrasi. Kalau malah semakin mempersulit, itu bukan demokrasi. Tadi ada sedikit kesalahpahaman saya barangkali, tetapi saya tetap memahami begini. Bapak membuka partai politik lebih ringan, tentu dengan asumsi yang juga kita pakai Tahun 1999, dengan asumsi bahwa ada sejumlah orang membuat partai bukan untuk ikut pemilu. Toh tidak semua partai ikut pemilu. Mungkin maunya supaya mempersiapkan diri dulu, pemilu berikutnya baru ikut. Nah konyolnya dalam aturan kita, sesuatu partai yang sudah lolos verifikasi partai sekarang, kalau mau ikut pemilu berikutnya nanti verifikasi lagi. Jangankan partai yang sudah ikut pemilu, yang ikut pemilu pun tetapi tidak lolos threshold yang palsu ini, itupun harus mendaftar memverifikasi lagi. Logikanya adalah kalau persyaratan itu dibedakan, itu berarti kita percaya pada asumsi ini bahwa ada partai yang tidak ikut pemilu karena tidak mau ikut pemilu. Menurut pembacaan saya, semua orang buat partai mau ikut pemilu.

(17)

Kenapa mesti tidak dikasih kesempatan untuk tidak ada lagi dalam verifikasi peserta pemilu. Paling sama-sama Bangsa Indonesia saja kok, kenapa harus bermain dengan tahapan? Menunda kekecewaan. Kalau saya cenderung tetap mengusulkan konsisten sajalah, tentu tidak ada moderatnya.

Yang terakhir, saya ingin mengoreksi asumsi pemerintah seolah-olah sistem district itu adalah suatu tingkatan sistem yang lebih tinggi dari proporsional. ltu tidak ada di teori Pak. Sebab ilustrasi saja, PMJ sudah 20 tahun buat sistem district. Apakah mereka lebih maju dari kita? lni soal pili han politik sebenarnya. Jadi, kalau mau buat sistem district sekarang tidak usah bilang 10 tahun baru cukup, tetapi kalau memang kita tidak mau ya tidak usah dan saya juga tidak memaksakan dan argumennya saja yang dikoreksi. Kalau sebenarnya proporsional ya proporsional saja. Cuman proporsionalnya yang memberikan kemudahan dan bukan semakin mempersulit. Sekali lagi, filosofinya demokrasi itu kemajuan itu mempermudah akses warga negara pada politik dan bukan mempersulit. Kalau mempersulit, bukan demokrasi.

Terima kasih.

KETUA RAPAT:

Ya, langsung saya berikan kepada Pemerintah.

PEMERINTAH:

Saya kira Pemerintah sependapat kita tidak ingin tentu kita semualah disini Pemerintah maupun seluruh partai politik dan anggota dewan terhormat tidak ingin mempersulit, tetapi saya yakin bahwa kita ingin lebih berkualitas dari sebelumnya. Tadi pemerintah berangkat dari pemikiran-pemikiran yang lalu dimana perdebatan ini mengulang dan ada nuansa pada waktu itu bahwa kita secara gradually ingin mencapai sesuatu. Bahkan waktu threshold pun kalau masih ingat pembahasan kita, kita ingin suatu saat itu meningkat terus. Berhubung ini kita belum masuk kesitu, tetapi inilah sesuatu pemikiran yang desetolis. Oleh sebab itu, Pemerintah sudah menjawab apa yang menjadi pertanyaan PPP bahwa memang alasannya adalah kita menginginkan ini terus berkualitas dan lebih baik daripada sebelumnya. Jadi, tidak dalam konteks sama sekali untuk mempersulit. Memang ada pemikiran-pemikiran kenapa kalau sudah menguji di badan hukum politik ya ikut saja dan tidak perlu kumpul persyaratan lagi. Segenap partai politik sepanjang tidak diskriminasi antar partai politik, sepanjang persyaratan yang ditetapkan berlaku seluruhnya, maka saya kira itu bukan dalam konteks menghalang-halangi, tetapi kita menginginkan ketika dia membuat badan hukum memiliki waktu untuk mendirikan partai di tiap daerah, memiliki kepengurusan, kemudian merekrut anggota, karena itulah partai politik sejatinya kalau tidak bisa mendirikan pengurus, tidak lagi merekrut anggota ya bukan lagi menjadi partai politik. Saya kira ini yang dimaksud oleh Pemerintah.

Terima kasih.

KETUA RAPAT:

Baik, terima kasih Pemerintah.

lbu dan Bapak sekalian Anggota Pansus yang saya hormati.

Saya kira sudah 21ebih sedikit putaran. Tentang syarat ikut pemilu ini, memang prinsipnya saya kira sebetulnya kita juga berkehendak bahwa pengaturan ini adalah sesuatu yang bagian daripada bagaimana kita membangun proses berdemokrasi. Bahwa lebih soallebih berat dan lebih ringan, itu yang termasuk akan kita bicarakan. Karenanya, kami menawarkan bahwa untuk DIM- DIM yang berkaitan dengan persyaratan ikut pemilu bagi partai politik baru, yang badan hukum oke, yang belum adalah yang berkaitan dengan syarat kepengurusan dengan syarat keanggotaan.

Hanya itu saja. Kalau rumah kan tadi, yang penting ada status legal formalnya, perempuan 30%

oke, berarti hanya tinggal jumlah kepengurusan dengan jumlah keanggotaan yang menjadi syarat.

Kalau bisa itu, kita bawa ke materi panja. Pemerintah?

{RAPAT: SETUJU)

Berikutnya, masuk ke DIM yang berkaitan dengan electoral threshold. Yang dalam kategori pemerintah adalah masuk menjadi persyaratan khusus bahasanya Rancangan Undang- Undang. Nah ini saya kira dimulai dari DIM No. 81 sampai dengan DIM No. 84. Namun, saya

Referensi

Dokumen terkait

keterangan proses yang menjelaskan waktu dan narasumber wawancara, serta keterangan proses yang menjelaskan sumber studi dokumen. Dengan demikian, maka dapat disimpulkan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa di perairan laut Jayapura ditemukan 52 jenis plankton, 1 diantaranya belum teridentifikasi, yakni dari kelompok

Blok diagram sistem untuk identifikasi karakter seseorang berdasarkan analisis pola sidik jari tangan dengan eskstraksi ciri momen invarian yang dirancang ditunjukkan

minyak olive ( Oleid acid ) selama iradiasi melalui analisis spectrum serapan cahaya dan.

Jika warna favorit kamu hijau, maka kamu adalah tipe yang sangat romantik, menyukai keindahan, menyenangi alam dengan udara yang sejuk.. Kamu adalah seseorang yang selalu

Kriteria yang menjadi pertimbangan orang tua dalam pemilihan SMP yaitu nilai Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional (UAS-BN) anak, jarak sekolah dengan tempat

Puji dan syukur penulis sampaikan ke hadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunia Nya, serta salawat beriring salam penulis sampaikan kepada Nabi Muhammad

Dialog di atas adalah percakapan antara Amin dan Imas, keduanya adalah pembantu kang Bahar, percakapan ini mengandung humor karena ketika Amin melakukan tindak tutur