• Tidak ada hasil yang ditemukan

1. Analisis Proksimat, yang perlu diketahui antara lain :

2.2. Abu Terbang Sebagai Pupuk

Disamping mengandung unsur beracun, fly ash juga mengandung unsur hara yang dibutuhkan tanaman. Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa fly ash dapat digunakan sebagai sumber dari kalium, fosfor, kalsium, magnesium, sulfur dan beberapa unsur hara makro seperti silika (Adriano dkk, 1980). Tanah yang diberi campuran abu fly ash memberikan peningkatan hasil pada pertumbuhan tanaman, sehingga dapat dikatakan bahwa fly ash memiliki potensi untuk pemanfaatan pada bidang pertanian yaitu sebagai pupuk ( Wong, 1997).

Pupuk merupakan kunci dari kesuburan tanah karena berisi satu atau lebih unsur untuk menggantikan unsur yang habis terisap tanaman. Jadi, memupuk berarti menambah unsur hara ke dalam tanah (pupuk akar) dan tanaman (pupuk daun). Ada tiga hal yang harus dipahami bila ingin benar-benar menguasai liku-liku memupuk, yaitu tanah, tanaman, dan pupuk (Lingga,2000).

Tanah sebagai media tumbuh tanaman mempunyai fungsi menyediakan air-udara dan unsur-unsur hara untuk pertumbuhan tanaman, namun demikian kemampuan tanah menyediakan unsur hara sangat terbatas. Hal terbukti dengan pemakaian tanah yang terus menerus secara intensif tanpa penambahan unsur hara mengakibatkan merosotnya produktifitas tanah, menurunnya hasil panenan dan rusaknya sifat fisik, kimiawi dan biologi tanah (kesuburan tanah) (Damanik,2010).

Unsur hara dalam tanah terdiri dari unsur hara makro dan unsur hara mikro. Dalam hal ini kita akan membahas unsur hara mikro. Unsur hara mikro merupakan unsur hara penunjang yang hanya esensial atau dibutuhkan oleh

tanaman tertentu atau tidak berlaku umum, malahan lain dapat menjadi unsur toksik. Unsur-unsur ini kadangkala mempunyai karakter penyediaan dan penyerapan mirip unsur mikro, yaitu tanpa zona serapan mewah sehingga dalam kadar sedikit berlebihan sudah menjadi racun (misalnya Al), sedangkan yang lain mirip unsur makro dengan zona serapan mewah (misal Si).

Silika merupakan unsur penyusun lithosfer kedua terbesar (27,61%) setelah oksigen (46,46%); 60% dari bebatuan basalt dan granit tersusun oleh SiO ; serta 5 dari 7 kelompok mineral primer (kecuali kelompok fosfat dan karbonat) mengandung Si; dan Si merupakan penyusun lempeng pada struktur liat silikat. Mineral silikat(SiO ) yang kristalin meliputi kuarsa, tridimit dan kristobalit, sedangkan yang nonkristalin adalah opalin silika yang terbentuk secara biologis dari proses selefikasi dari rerumputan dan bagian pohon deciduous

(Hanafiah,2007 ).

Silikon merupakan unsur yang tidak penting untuk tanaman. Anehnya, hampir semua tanaman yang mengandung Si dalam kadar yang berbeda-beda dan sering sangat tinggi. Si dapat menaikkan produksi tanaman karena dapat memperbaiki sifat fisik tanaman dan berpengaruh terhadap kelarutan P dalam tanah. Pengaruh Si yang lain adalah menyebabkan resistensi tanaman terhadap serangan hama/penyakit dan mengurangi transpirasi. Pemberian Si dapat menyebabkan kenaikan ketersediaan P. Sebab Si mampu mengganti P yang tersemat (fixed), sehingga P yang tidak tersedia oleh tanaman berubah menjadi tersedia karena digantikan oleh Si. Pemberian Si dapat mengurangi aktivitas Al, Fe, Mn, dan anion silikat dapat menggantikan anion fosfat pada sisi sematan,

sehingga P tersemat menjadi tersedia untuk tanaman. Pemupukan Si akan meningkatkan penyerapan P oleh tanaman (Rosmarkam, 2002).

2.3 Kolorimetri

Kolorimetri adalah suatu teknik pengukuran yang berdasarkan diabsorbsinya cahaya oleh zat berwarna baik warna yang berasal dari zat itu sendiri maupun warna yang terbentuk akibat reaksi dengan zat lain (Khopkar,2007).

Variasi warna suatu sistem berubah dengan berubahnya konsentrasi suatu komponen, membentuk dasar yang disebut analisa kolorimetrik oleh ahli kimia. Warna biasanya disebabkan oleh pembentukan suatu senyawa berwarna dengan ditambahkannya reagensia yang tepat, atau warna itu dapat melekat dalam penyusun yang diiginkan itu sendiri. Intensitas warna kemudian dapat dibandingkan dengan yang diperoleh dengan menangani kuantitas yang diketahui dari zat itu dengan cara yang sama.

Kolorimetri dikaitkan dengan penetapan konsentrasi suatu zat dengan mengukur absorpsi relatif cahaya sehubungan dengan konsentrasi tertentu zat tersebut. Kolorimetri terbagi menjadi dua, yakni : kolorimetri visual dan kolorimetri fotolistrik. Dalam kolorimetri visual, cahaya putih alamiah ataupun buatan umumnya digunakan sebagai sumber cahaya, dan penetapan biasanya dilakukan dengan suatu instrumen sederhana yang disebut kolorimeter atau pembanding warna. Sedangkan kolorimetri fotolistrik biasanya digunakan dengan cahaya yang dibatasi dalam jangka panjang gelombang yang relatif sempit dengan melewatkan cahaya putih melalui filter-filter, yakni bahan dalam bentuk

lempengan berwarna yang terbuat dari kaca, gelatin, dan sebagainya, yang meneruskan hanya daerah spektral terbatas.

Keuntungan utama metode kolorimetri adalah metode ini memberikan cara sederhana untuk menetapkan kuantitas zat yang sangat kecil. Kebanyakan pengukuran kolorimetri terdiri dari pembandingan warna yang dihasilkan oleh zat dalam kuantitas yang tak diketahui dengan warna yang sama yang dihasilkan oleh kuantitas yang diketahui dari zat yang akan ditetapkan tersebut.

2.3.1 Hukum yang mendasari Kolorimetri

Metode kolorimetri yang digunakan untuk penentuan kuantitatif suatu zat warna dari kemampuannya untuk mengabsorpsi cahaya. Hukum yang mengatur absorpsi itu biasanya dikenal dengan hukum Lambert dan hukum Beer, dan dikenal sebagai hukum Beer-lambert.

Hukum Lambert, hukum ini menyatakan bahwa bia cahaya monokromatik melewati medium tembus cahaya, laju berkurangna intensitas oleh bertambahnya ketebalan, berbanding kurus dengan inetnsitas cahaya. Ini setara dengan menyatakan bahwa intensitas cahaya yang dipancarkan berkurang secara eksposional dengan bertambahnya ketebalan medium yang menyerap. Atau dengan menyatakan bahwa lapisan dari manapun dari medium itu yang tebalnya sama akan menyerap cahaya masuk kepadanya dengan fraksi yang sama. Hukum ini dapat dinyatakan oleh persamaan diferensial :

T =

�� = 10 ̵ ͣ ˡ

A = log �� = al

Dimana : Io = intensitas cahaya yang masuk pada larutan I = intensitas cahaya yang diteruskan larutan l = tebal medium

a = konstanta untuk partikel larutan T = transmitansi dari larutan

100T = persentase transmisi dari larutan A = absorbansi

Hukum Beer, hukum ini menyatakan bahwa intensitas cahaya monokromatik berkurang secara eksponensial dengan bertambahnya konsentrasi zat penyerap secara linear. Ini dapat ditulis dalam bentuk :

T =

�� = 10 ̵ ͣ ̓ ͨ

A = log

�� = a’cl

Ini adalah persamaan fundamental dari kolorimetri. Nilai a akan bergantung pada cara menyatakan konsentrasi. Jika c dinyatakan mol dm ־³ dan I dalam sentimeter, maka a diberi lambang dan disebut koefisien absorpsi molar.

Kriteria untuk analisis kolorimetri yang memuaskan :

1. Kespesifikan reaksi warna. Sangat sedikit reaksi yang khas untuk suatu zat tertentu, tetapi banyak reaksi menghasilkan warna untuk sekelompok kecil zat yang sehubungan saja, artinya reaksi-reaksi itu selektif. Dengan memanfaatkan peranti seperti memasukkan senyawa pembentuk kompleks lain, dengan mengubah keadaan kondisi, dan pengendalian pH, seringkali dapat dicapai pendekatan ke kespesifikan itu.

2. Kesebandingan antara warna dan konsentrasi. Untuk kolorimeter visual pentinglah bahwa intensitas warna hendaknya meningkat secara linier dengan naiknya konsentrasi zat yang akan ditetapkan.

3. Kestabilan warna. Warna yang dihasilkan hendaknya cukup stabil untuk memungkinkan pengambilan pembacaan yang tepat.

4. Kedapatulangan (reprodusibilitas). Prosedur kolorimetri harus memberi hasil yang dapat diulang pada kondisi eksperimen yang khas.

5. Kejernihan larutan. Larutan haruslah bebas dari endapan jika dibandingkan dengan standar yang jernih.

6. Kepekaan tinggi. Bila zat dengan kuantitas yang sangat kecil maka reaksi itu sangat cepat (Basset, 1994).

2.3.2 Prinsip Kolorimetri

Indikator adalah sejenis molekul organik yang akan berwarna dalam keadaan yang tertentu. Jika keadaan berubah, warna indikator ikut berubah. Ada indikator yang peka terhadap reaksi dengan salah satu logam, dan ada beberapa indikator yang peka terhadap nilai pH. Kalau pH larutan lebih besar (larutan bersifat basa) dari nilai pH yang ditentukan untuk sejenis indikator, warna “basa” terlihat, sedangkan kalau di bawah nilai pH tersebut warna “asam” terlihat (Alaerts, G, 1984).

BAB I PENDAHULUAN

Dokumen terkait