BAB III : DESKRIPSI PROSES PELAKSANAAN UPACARA DALO’ SUKU DAYAK
3.2.3 Acara Penutup Upacara DaLo’ Suku dayak Uud Danum
hal menuba ikan dan lebih penting lagi itu dilakukannya seorang diri dan ikannya mati dari hulu sampai ke muara sungai yang di tubanya. Si pembuka Boram PaLi’ akan menjawab dengan menceritakan pengalamannya di dalam menuba ikan di sungai dan setelah dia menceritakan, maka biasanya dia menyumpah Boram PaLi’ itu dengan kata-kata kurang lebih sebagai berikut: “Ndoi baLik non jo konohavat kuri, tavah havoi mba’ kahit kolob boram tuh, ndoi non co’ konohavat kuri tuu’ havoi mba’ danum konyong yo’ nain (jika apa yang telah kukatakan itu adalah suatu kebohongan maka tuak ini nanti akan tawar seperti air kencing kura-kura, tetapi apabila benar maka tuak ini nanti akan berbisa seperti Konyong)”. Perlu dijelaskan bahwa konyong itu adalah sejenis racun untuk mata anak sumpit.
Biasanya kita akan tahu apakah kata-kata orang yang membuka Boram PaLi’ itu benar atau tidak adalah dari rasa Boram PaLi’ itu. Sebab jika kata-katanya bohong, maka Boram (tuak) itu akan tawar, tetapi kalau tidak bohong maka tuak itu akan menjadi Mohari’ (berbisa) sekali sehingga bagi mereka yang meminumnya meskipun dalam jumlah yang tidak terlalu banyak, tetapi bisa mengakibatkan mabuk.
3.2.3 Acara Penutup Upacara DaLo’ Suku Dayak Uud Danum 3.2.3.1 Lanon TaLoh
TaLoh adalah istilah untuk menyebutkan arwah yang telah meninggal dunia itu, sedangkan kalau mayatnya masih ada di dalam rumah maka dia di sebut Otu’. Bagi masyarakat suku Dayak Uud Danum, jika di rumah masih ada mayat, maka itu harus di jaga dan orang-orang yang berada di dalam rumah itu sebaiknya tidak tidur semalam suntuk untuk jangka waktu mayat masih ada di dalam rumah.
Jadi jika seandainya mayat itu di simpan selama seminggu di dalam rumah, maka selama seminggu itu pada malam harinya orang tidak boleh tidur. Demikian juga halnya terhadap TaLoh, maka orang-orang pun tidak boleh tidur selama semalam.
Perbedaan dari Lanon TaLoh dengan Lanon Pahtoi (mayat masih ada di rumah) adalah pada waktu Lanon TaLoh maka yang dilakukan adalah Hokunying (saling mengarangi dengan jelaga atau lainnya yang berwarna hitam). Sedangkan pada waktu Lanon Pahtoi, maka masyarakat suku Dayak Uud Danum pada malam harinya harus main api. Permainan api ini bisa menggunakan bermacam-macam media, seperti misalnya buah kelapa tua yang di rendam dengan minyak tanah selama sehari penuh atau kayu gabus yang di rendam dengan minyak tanah selama sehari penuh, kemudian di bakar dan setelah apinya hidup maka dijadikan bola kaki. Bola api yang sudah menyala besar ini di tendang kesana-kemari, baik di dalam rumah maupun di halaman rumah tempat kematian.
Selain menggunakan bola api, masyarakat juga biasanya membuat api dari kulit Korat (kayu kepua’) dan kemudian dibakarkan pada tangan atau kaki orang lain. Ada juga yang lebih ganas lagi, yaitu dengan membakar alat penggoreng nasi yang terbuat dari besi sampai menyala dan disentuhkan pada anggota tubuh orang lain sehingga melepuh.
Masih banyak lagi yang dilakukan, seperti membakar buah cabe rawit, mengambil Hongasch (kayu gatal), mengambil buah enau yang gatal, menaburkan sarang semut api dan lain sebagainya kekerumunan orang banyak. Semua orang yang menerima perlakuan seperti itu tidak boleh marah, sebab ini sudah menjadi tradisi masyarakat suku Dayak Uud Danum. Dewasa ini bagi yang tidak mau
sebaiknya pada malam hari tidak datang mengunjungi tempat orang mati, sebab tradisi ini hanya dilakukan pada malam hari saja.
3.2.3.2 Marung Ngitot Liou
Marung Ngitot Liou adalah sebuah kegiatan secara gaib mengantar arwah orang yang telah meninggal dunia itu ke alam orang mati. Karena menurut kepercayaan masyarakat suku Dayak Uud Danum (yang merupakan cikal bakal agama Kohoringan), sebelum dilakukan Marung Ngitot Liou maka arwah yang sudah meninggal itu belum tahu jika dirinya telah meninggal dunia.
Biasanya Marung Ngitot Liou ini dilakukan oleh dua orang, karena ada semacam tanya jawab dan tawar menawar nantinya dan juga untuk saling mengingatkan agar tidak tersesat. Sebab kalau sampai perjalanan spiritual ini sampai salah atau tersesat, bukan saja akan membuat arwah yang di antar itu juga tersesat, tetapi juga akan membuat roh orang yang mengantar arwah itu akan tersesat juga dan membuatnya sakit dan bahkan sampai meninggal dunia.
Orang yang biasanya di percaya untuk melaksanakan Morung Ngitot Liou ini adalah mereka yang pandai Marung, sudah berusia lanjut dan yang terpenting adalah tahu perjalanan spiritual ke sana. Jadi wajarlah jika orang yang melakukan Marung ini di penuhi persyaratannya seperti Sirou Sahki’, Surung, dan Bahtui. Sirou Sahki’ terdiri dari gelang batu semi mulia, besi penguat roh, darah ayam, beras pencari semangat dan kemenyan yang di bakar. Surung terdiri dari beras padi dan beras pulut, piring, kain panjang, celana, baju dan lainnya. Sedangkan Bahtui adalah besarnya bayaran yang harus diberikan dan biasanya sebesar Jihpon empat, yang mana satu Jihpon itu bernilai kurang lebih seratus ribu rupiah.
3.2.3.3 Ngitot TaLoh
Ngitot TaLoh adalah mengantarkan semua perlengkapan arwah yang masih tersisa itu ke dalam Kodiring dan pada upacara DaLo’ ini adalah semacam rumahnya di atas kuburannya. Yang di antarkan di sini adalah semua peralatan dan pakaiannya yang pernah dia pakai semasa dia hidup, yang sesungguhnya kalau ada Kodiring adalah tulangnya lah yang di antarkan ke dalam Kodiring.
3.2.3.4 Nombok Torasch
Torasch itu sebenarnya adalah sebatang kayu belian yang telah di bentuk sedemikian rupa dengan ujung agak membulat runcing dan bagian bawahnya sampai ke bagian yang menyentuh tanah di buat bulat.
Pada bagian bawah di dekat tanah kira-kira tidak tersentuh babi jika dia berdiri di dekatnya. Di buat sebuah bentuk yang di sebut Taha’ Tovu’, yaitu bagian di bentuk menyerupai bentuk tebu yang sudah di kupas kulitnya dengan parang. Bagian ini biasanya di buat sebanyak tiga buah berdekatan dan kalau bisa, biasanya di buat tujuh buah berderetan.
Torasch ini dimaksudkan bahwa rumah yang ada memasang Torasch ini sudah melaksanakan upacara NyoLat, karena Torasch ini adalah sebagai pertanda bahwa di situ telah dilaksanakan upacara NyoLat.