• Tidak ada hasil yang ditemukan

4.6 Gambaran Dukungan Keluarga

4.6.1 Activity of Daily Living (ADL) Klien Paska Stroke

Activity of daily living (ADL) adalah kegiatan melakukan pekerjaan rutin sehari-hari dan merupakan aktifitas

pokok-77 pokok bagi perawatan diri. Activity of daily living (ADL) meliputi antara lain: ke toilet, makan, berpakaian, mandi dan berpindah tempat (Hardywinito & Setiabudi, 2005). Klien paska stroke perlu hidup mandiri demi meningkatkan kualitas hidupnya. Hal-hal yang terkait dengan melatih kemandirian itu perlu juga di ketahui dan dipahami. Kemandirian pemenuhan kebutuhan activity of daily living (ADL) pada penderita paska stroke tidak dapat menjalankan aktivitasnya sehari-hari secara optimal. Penderita paska stroke akan hidup ketergantungan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari seperti saat berjalan, mandi, berpakaian, pergi ke toilet, berpindah tempat, makan, disebabkan kelumpuhan sebagain atau seluruh anggota tubuh. Klien paska stroke perawatanya memerlukan waktu lama, bukan hanya berbulan-bulan tetapi betahun-tahun. Hasil penelitian di Klinik Utama Graha Medika Salatiga menunjukkan ADL penderita stroke yang melakukam kunjungan di Klinik sebagai usaha dalam pemulihan anggota tubuh sebesar 67,21% yang berarti penderita memiliki ADL cukup baik. Penderita paska stroke sebagian besar mampu melakukan kegiatan ADL seperti berpakaian, makan dan ke toliet. Kegiatan yang belum dapat dilakukan maksimal ialah menggunakan alat

78 transportasi. Penderita tidak dapat mengendarai sepeda motor sendiri bahkan beberapa penderita hanya bisa berpindah tempat dengan alat transportasi mobil. Latihan di klinik dapat mempercepat penderita dalam melatih kemandirian ADL. Klinik Utama Graha Medika Salatiga memberikan pelayanan pemeriksaan dan pengobatan rawat jalan, program fisioterapi, dan kegiatan senam stroke (setiap minggu ke-2 dan ke-4 tiap

bulan). Kemampuan mandiri dalam melakukan ADL

dipengaruhi kemauan untuk rajin berobat di rehabilitasi medik dan melatih anggota gerak yang lemah atau lumpuh (Kurnia, 2015). Penelitian ini sejalan dengan penelitian Fadlulloh, (2014) menyebutkan bahwa paling banyak responden yang di teliti memiliki tingkat ketergantungan yang ringan. Kemudian penelitian Karunia (2015) menyatakan bahwa tingginya kemandirian diakibatkan karena responden sering melakukan ADL. Di samping itu, responden juga rajin dan patuh melaksanakan terapi baik dirumah maupun di rehabilitas medik. 4.6.2 Hubungan Dukungan Keluarga dengan activity of daily

living (ADL) klien paska stroke

Dukungan keluarga adalah sebuah proses yang terjadi sepanjang kehidupan, dalam semua tahap siklus kehidupan

79 dukungan keluarga membuat keluarga mampu berfungsi dengan berbagai kepandaian dan akal untuk meningkatkan kesehatan dan adapatasi keluarga dalam kehidupan (Setiadi, 2008). Keluarga juga memberikan pengaruh pada penentuan keyakinan dan nilai, terutama dalam penentuan program pengobatan. Peran keluarga juga berpengaruh pada perkembangan individu.

Hasil analisis korelasi menunjukkan bahwa ada hubungan dukungan keluarga dengan ADL klien paska stroke dengan tingkat korelasi kuat (sig 0,000). Hal ini menerangkan bahwa semakin baik dukungan keluarga terhadap salah satu anggota keluarga yang mengalami masa pemulihan setelah stroke maka activity of daily living (ADL) klien paska stroke akan juga semakin baik. Jika anggota keluarga memberikan semangat, motivasi, memperhatikan klien paska stroke menjadikan activity of daily living (ADL) klien paska stroke akan semakin baik. Dan sebaliknya jika klien paska stroke tidak diperhatikan, tidak diberikan motivasi maka activity of daily living (ADL) akan rendah atau tergolong kurang mandiri. Tabel 4.3. Menunjukkan dukungan keluarga pada penderita paska stroke yang berkunjung di Klinik Graha Medika sebesar 53,28%, yang

80 berarti anggota keluarga memberi dukungan cukup baik. Dukungan keluarga sangat dibutuhkan oleh penderita paska stroke guna mempercepat proses penyembuhan. Setyaningrum & Wakhid (2014) berpendapat bahwa dukungan keluarga akan

menurunkan kemungkinan sakit dan mempercepat

kesembuhan baik secara fisik maupun secara psikologis.

Dukungan ini dapat berupa dukungan penghargaan, instrumental, informasi, dan dukungan emosional. Dukungan

penghargaan ketika anggota keluarga menyatakan

penghargaan maupun penilaian positif kepada penderita (Christine, 2010), seperti memberi motivasi untuk melakukan rehabilitasi. Pada komponen ini, penderita sering mendapatkan pujian untuk penyemangat melakukan pemulihan di klinik. Dukungan instrumental berarti keluarga memberi pertolongan yang praktis dan fasilitas selama masa perawatan. Anggota keluarga ialah perantara antara penderita dengan pelayanan kesehatan misalnya mengantar dan menjemput penderita untuk kontrol dalam pengobatan, kemudian melakukan fisioterapi, menjadi sumber finansial perawatan atau penyedia dana kesehatan karena penderita stroke tidak bisa bekerja. Selain itu hal lain yang dapat dilakukan keluarga adalah membantu

81 penderita apabila mengalami kesulitan dalam melakukan suatu hal. Dukungan emosional dengan memberikan kepercayaan, perhatian, mendengarkan. Sebagian besar penderita mendapat dukungan emosional. Anggota keluarga memerlukan kesabaran untuk menghadapi emosi penderita. Pada dukungan informasi, keluarga bertindak sebagai penyebar informasi, seperti pemberian nasehat, saran, petunjuk dan pemberian informasi terkait penyakit stroke. Anggota keluarga seringkali menyarankan dan mengingatkan penderita untuk melakukan rehabilitasi.

Penelitian yang dilakukan oleh Erlina (2014) di Poliklinik Neurologi di Rumah Sakit Stroke Nasional Bukittinggi, menggunakan metode kuantitatif desain kolerasi, sampel penelitian berjumlah 89 responden dengan purposive sampling. Menggunakan kuisoner dukungan keluarga dan tingkat kemampuan aktivitas sehari-hari. Hasil analisa data diperoleh presentase dukungan keluarga tertinggi sebesar 87,6% dan aktivitas sehari-hari dengan presentase 48,3% yaitu kategori ketergantungan ringan. Hasil uji korelasi dengan spearmen rank menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara dukungan keluarga dengan tingkat

82 kemampuan aktivitas sehari-hari dan korelasi yang sedang semakin tinggi dukungan keluarga, semakin tinggi tingkat kemampuan aktivitas sehari-hari.

Hasil penelitian berbeda dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Endriyani (2011) melaporkan bahwa hubungan antara dukungan keluarga dengan kemandirian activity of daily living (ADL) klien post stroke di RSU PKU Muhammadiyah Bantul, jenis penelitian kuantitatif dengan non-eksperimen yang menggunakan metode descriptive correlational dengan menggunakan pendekatan waktu cross sectional. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 27 orang diambil dengan menggunakan accidental sampling. Indikator dalam penelitian ini dukungan keluarga diberikan antara lain dukungan informasional, dukungan emosional, dukungan instrumental, dan dukungan penilaian. Pengambilan data menggunakan kuesioner, skala datanya berupa ordinal, dengan kategori tinggi, sedang dan rendah. Hasil penelitian menunjukan bahwa dukungan keluarga yang diterima klien post stroke dalam kategori tinggi (81,5%), kemandirian activities of daily living (ADL) klien post stroke pada kategori ketergantungan sebagian (70,4%). Berdasarkan analisis data dapat disimpulkan bahwa

83 tidak ada hubungan antara dukungan keluarga dengan kemandirian activities of daily living (ADL) klien post stroke di RSU PKU Muhammadiyah Bantul.

Hasil penelitian Rickard (2016), di rumah Sakit Pancaran Kasih Manado dengan desain deskriptif analitik menggunakan pendekatan cross sectional, dengan jumlah populasi 180 orang post stroke dengan teknik pengambilan sampel memakai purposive sampling dan mendapatkan jumlah 36 orang. Pengumpulan data dengan menggunakan kuesioner, dukungan keluarga dan observasi kemandirian aktivitas kegiatan sehari-hari. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa 33 orang (91,7%) memberikan dukungan baik, kemudian 29 orang (80,6%) dengan kemandirian bantuan sebagian. Hasil analisis bivariate pada hubungan dukungan keluarga motivasi dengan kemandirian aktivitas kegiatan sehari-hari memiliki hubungan yang bermakna sehingga dapat disimpulkan bahwa ada hubungan antara dukungan keluarga dengan kemandirian aktivitas sehari-hari pasien post stroke.

84

Dokumen terkait