• Tidak ada hasil yang ditemukan

ADAB BERHIAS

Dalam dokumen BS Akhlak (Minat) XII K13 (2016) (Halaman 121-125)

PRILAKU TERPUJI

2. ADAB BERHIAS

a. Pengertian Adab Berhias

Berhias adalah kebutuhan dasar untuk memperindah penampilan diri, baik di dalam rumah ataupun di luar rumah. Berhias adalah bentuk ekpresi personal, yang menegaskan jati diri dan menjadi kebanggaan seseorang.

Menurut bahasa, berhias berasal dari kata “Zayyana – yuzayyinu yang artinya hias atau berhias, atau berhias diartikan; “usaha memperelok diri dengan pakaian ataupun keindahan sejenis, berdandan dengan dandanan yang indah dan menarik”.

Secara istilah berhias dapat dimaknai sebagai upaya setiap orang untuk memperindah diri dengan berbagai busana, asesoris ataupun yang lain dan dapat memperindah diri bagi pemakainya, sehingga memunculkan kesan indah bagi yang menyaksikan serta menambah rasa percaya diri penampilan untuk suatu tujuan tertentu.

Berdasarkan ilustrasi di atas, maka dapat dipahami bahwa pada hakekatnya berhias itu dapat dikatagorikan akhlak terpuji, sebagai perbuatan yang dibolehkan

bahkan dianjurkan, selama tidak bertentangan dengan prinsip dasar Islam. (QS. Al-A’raf : 31)

Dalam sebuah Hadits Nabi saw bersabda :

) ملسم هاور ( َلاَمَلا ُبِ ُي ٌلْيِ َج َلا َنِإْ

Artinya : Sesungguhnya Allah itu Indah dan menyukai keindahan ( HR. Muslim)

Adapun tujuan berhias untuk memperindah diri sehingga lebih memantapkan pelakunya menjadi insan yang lebih baik (muttaqin).

b. Bentuk Akhlak Berhias

Berhias merupakan perbuatan yang diperintahkan ajaran Islam. Mengenakan pakaian merupakan salah satu bentuk berhias yang diperintahkan. Pakaian dalam Islam memiliki fungsi hiasan yaitu, memenuhi kebutuhan manusia yang tidak sekadar membutuhkan pakaian penutup aurat, tetapi juga busana yang memperelok pemakainya.

Pada masyarakat yang sudah maju peradabanya, mode pakaian ataupun berdandan memperoleh perhatian lebih besar. Jilbab, dalam konteks ini, menjalankan fungsinya sebagai hiasan bagi para muslimah. Mode jilbab dari waktu ke waktu terus mengalami perkembangan. Jilbab bukan hanya sebagai penutup aurat, namun juga memberikan keelokan dan keindahan bagi pemakainya untuk mempercantik dirinya.

Berhias dalam ajaran Islam tidak sebatas pada penggunaan pakaian, tetapi mencakup keseluruhan piranti (alat) aksesoris yang lazim digunakan untuk mempercantik diri, mulai dari kalung, gelang, arloji, anting-anting, bross dan lainnya. Di samping itu dalam kehidupan modern, berhias juga mencakup penggunaan bahan ataupun alat tertentu untuk melengkapi dandanan dan penampilan mulai dari bedak, make up, semir rambut, parfum, wewangian dan sejenisnya.

Agama Islam telah memberikan pedoman yang tegas agar setiap muslim mengindahkan kaidah berhias yang meliputi;

1. Niat yang lurus, yaitu berhias hanya untuk beribadah, artinya segala bentuk kegiatan berhias diorientasikan sebagai bentuk nyata bersyukur atas nikmat dan bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah

2. Dalam berhias tidak dibenarkan menggunakan bahan-bahan yang dilarang agama.

3. Dilarang berhias dengan mengguankan simbol-simbol non muslim (salib dll.),

4. Tidak berlebih-lebihan .

5. Dilarang berhias seperti cara berhiasnya orang-orang jahiliyah .

6. Berhias menurut kelaziman dan kepatutan dengan memperhatikan jenis kelamin,

7. Dilarang berhias untuk keperluan berfoya-foya atau pun riya’, .

Agama Islam memberi batasan dalam etika berhias, sebagaimana ditegaskan

dalam firman Allah berikut:

َةٰوَكَزلٱ َنِتاَءَو َةٰوَل َصلٱ َنۡمِقَأَو ٰۖيوَ ُ ۡلٱ ِةَيِلِهٰ َجۡلٱ َجُ َبَت َنۡجَ َبَت َلَو َنُكِتوُيُب ِف َنۡرَقَو

ۡمُكَرِّه َطُيَو ِتۡيَلٱ َلۡهۡ َأ َسۡجِّرلٱ ُمُكنَع َبِهۡذُ ِل ُ َلٱ ُديِرُي اَمَنِإ ۚٓۥَُلوُسَرَو َ َلٱ َنۡعِطَأَو

٣ اٗرِه ۡطَت

Artinya: dan hendaklah kamu tetap di rumahmu[1215] dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang­orang Jahiliyah yang dahulu[1216] dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul­Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, Hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih­bersihnya. (Q.S. al-Ahzāb/33:33 )

Larangan Allah dalam ayat tersebut di atas, secara khusus ditujukan kepada wanita- wanita muslimah, agar mereka tidak berpenampilan (tabarruj) seperti orang-orang jahiliyyah zaman Nabi dahulu.

b. Nilai Positif Akhlak Berhias

Islam adalah agama yang sempurna, yang mengatur manusia dalam segala aspeknya. Ajaran Islam bukannya hanya mengatur hubungan vertikal manusia (hablum minallah), tetapi juga hubungan horizontal dengan sesamanya (hablum minannas). Karena itulah antara lain Islam dikatakan sebagai yang sempurna, Islam mengajarkan kepada manusia mulai dari bagaimana cara makan, minum, tidur, sampai bagaimana cara mengabdi kepada sang Khaliq.

Dalam masalah berhias, Islam menggariskan aturan-aturan yang harus ditaati yakni dalam apa yang disebut etika berhias (berdandan). Seorang muslim atau muslimah dituntut untuk berhias sesuai dengan apa yang digariskan dalam aturan. Tidak boleh misalnya, seorang muslim atau muslimah dalam berhias hanya mementingkan mode atau adat yang berlaku di suatu masyarakat, sementara

batasan-batasan yang sudah ditentukan agama ditinggalkan.

Seorang muslim ataupun muslimah yang berhias (berdandan) sesuai ketentuan Islam, maka sesungguhnya telah menegaskan jati dirinya sebagai mukmin ataupun muslim. Mereka telah menampilkan diri sebagai sosok pribadi yang bersahaja dan berwibawa sebagai cermin diri yang konsisten dalam berhias secara syar’i. Di samping itu seorang yang berhias secara Islami akan merasa nyaman dan percaya diri dengan dandanannya yang telah mendapatkan jaminan halal secara hukum. Sehingga apa yang sudah dilakukan akan menjadi motivasi untuk menghasilkan karya yang bermanfaat bagi sesamanya.

Berhias secara Islami akan memberikan pengaruh positif dalam berbagai aspek kehidupan, karena berhias yang dilakukan diniatkan sebagai ibadah, maka

segala aktifitas berhias yang dilakukan seorang muslim, akan menjadi jalan untuk

mendapatkan barakah dan pahala dari sang Khaliq.

Adapun bentuk perangkap setan dalam hal berhias, dapat kita telusuri melalui kisah manusia pertama sebelum diturunkan di bumi. Ketika Adam dan Hawa masih tinggal di surga, setan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya. Setan membujuk mereka untuk menampakkan auratnya dengan cara merayu mereka untuk memakan buah khuldi.

اَمُكٰىَهَن اَم َلاَقَو اَمِهِتٰۡوَس نِم اَمُهۡنَع َيِرۥُو اَم اَمُهَل َيِدۡبُ ِل ُنٰ َطۡيَشلٱ اَمُهَل َسَوۡسَوَف

٠ َنيِ ِلٰ َخۡلٱ َنِم اَنوُكَت ۡوَأ ِ ۡنَكَلَم اَنوُكَت نَأ ٓ َلِإ ِةَرَجَشلٱ ِهِذَٰه ۡنَع اَمُكُبَر

Maka syaitan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk Menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka Yaitu auratnya dan syaitan berkata: “Tuhan kamu tidak melarangmu dan mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi Malaikat atau tidak menjadi orang­orang yang kekal (dalam surga)”.(Q.S. al­A’raf/7: 20)

Dari peristiwa Adam dan Hawa tersebut, kita dapat mengambil dua pelajaran,

pertama, ide membuka aurat adalah idenya setan yang selalu hadir dalam lintasan pikiran manusia. Kedua, Adam dan Hawa dikeluarkan dari surga karena terjebak pada perangkap setan.

Dalam dokumen BS Akhlak (Minat) XII K13 (2016) (Halaman 121-125)