B. Hasil Penelitian 1. Kasus Posisi
4. Adanya Kerugian
Yang dimaksud dengan kerugian, terdiri dari kerugian materil dan kerugian immateril. Akibat suatu perbuatan melanggar hukum harus timbul adanya kerugian di pihak korban, sehingga membuktikan adanya suatu perbuatan yang melanggar hukum secara luas. Berbeda dengan kerugian karena wanprestasi yang hanya mengenal kerugian materil, maka kerugian karena perbuatan melawan hukum di samping kerugian materil, yurisprudensi juga mengakui konsep kerugian immaterial yang juga akan dinilai dengan uang.59
Pada putusan pengadilan No. 128/Pdt.G/2014/PN.Jkt.Sel debitur menggugat ganti rugi yang mana merasa dirugikan secara materil
“Menghukum Tergugat untuk mengganti kerugian kepada Penggugat sebesar Rp. 188.690.000,- ( seratus delapan puluh delapan juta enam ratus sembilan puluh ribu rupiah ) dengan perincian Biaya mobil uang hilang, Biaya pengurusan, Pengacara. Dan juga Menghukum
58 Fuady, op. cit., h. 13-14.
59 Sakkirang Sriwaty, Hukum Perdata, Teras, Yogyakarta, 2011, h. 135.
Tergugat untuk mengganti kerugian Immaterial yang diderita Penggugat sebesar Rp. 100.000.000,- ( seratus juta rupiah );”60
Artinya, ada kerugian korban dari debitur yang mana debitur sudah melaksanakan kewajibannya yaitu membayar angsuran kendaran sesuai apa yang diperjanjikan dan tidak pernah lalai dalam melakukan kewajibannya disinilah debitur merasa dirugikan dengan tiba-tiba barang jaminan pindah ke pihak lain.
Akibat perbuatan melawan hukum pada kasus yang dianalisis penulis, dimana diatur pada Pasal 1365 sampai dengan 1367 KUHPerdata sebagai berikut:
Menurut Pasal 1365 KUHPerdata dikutip bunyinya:
“Tiap perbuatan melanggar hukum, yang membawa kerugian kepada seorang lain, mewajibkan orang yang karena salahnya menerbitkan kerugian itu mengganti kerugian.”
Sedangkan Pasal 1366 KUHPerdata, menyebutkan:
“Setiap orang bertanggung-jawab tidak saja untuk kerugian yang disebabkan karena perbuatannya, tetapi juga untuk kerugian yang diesbabkan karena kelalaian atau kurang hati-hatinya.”
Lebih lanjut, Pasal 1367 KUHPerdata, menyebutkan:
“Seorang tidak saja bertanggung-jawab untuk kerugian yang disebabkan karena perbuatannya sendiri, tetapi juga untuk kerugian yang disebabkan karena perbuatan orang-orang yang menjadi tanggungannya, atau disebabkan oleh orang-orang yang berada di bawah pengawasannya … dst”.
Berdasarkan kutipan Pasal tersebut di atas, secara umum memberikan gambaran mengenai batasan ruang lingkup akibat dari suatu perbuatan melawan hukum. Akibat perbuatan melawan hukum secara yuridis mempunyai konsekuensi terhadap pelaku maupun orang-orang
60 hal 8 dari 32 hal put No: 128/Pdt.G/201/PN.Jkt.sel.
yang mempunyai hubungan hukum dalam bentuk pekerjaan yang menyebabkan timbulnya perbuatan melanggar hukum. Jadi, akibat yang timbul dari suatu perbuatan melanggar hukum akan diwujudkan dalam bentuk ganti kerugian terehadap korban yang mengalami.
Ganti rugi dalam hukum perdata dapat timbul dikarenakan wanprestasi akibat dari suatu perjanjian atau dapat timbul dikarenakan oleh Perbuatan Melawan Hukum.61 Ganti rugi yang muncul dari wanprestasi adalah jika ada pihak-pihak dalam perjanjian yang tidak melaksanakan komitmentnya yang sudah dituangkan dalam perjanjian, maka menurut hukum dia dapat dimintakan tanggung jawabnya, jika pihak lain dalam perjanjian tersebut menderita kerugian karenanya.62 KUHPerdata memperincikan kerugian (yang harus diganti) dalam tiga komponen sebagai berikut :63
1. Biaya 2. Rugi.
3. Bunga
Penggantian kerugian sebagai akibat dari adanya perbuatan melawan hukum, sebagaimana telah disinggung diatas, dapat berupa penggantian kerugian materiil dan immateriil. Lajimnya, dalam praktek penggantian kerugian dihitung dengan uang, atau disetarakan dengan uang disamping adanya tuntutan penggantian benda atau barang-barang yang dianggap telah mengalami kerusakan/perampasan sebagai akibat adanya perbuatan melanggar hukum pelaku.
Penilaian ganti rugi karena perbuatan melawan hukum sudah lama dikenaldalam sejarah hukum.64 Pasal 1365 KUHPerdata yang mana menentukan kewajiban pelaku perbuatan melawan hukum untuk membayar ganti rugi namun tidak ada pengaturan lebih lanjut mengenai
61 M.A. Moegni Djojodirjo, Perbuatan Melawan Hukum, Cetakan 1, Pradnya Paramita, Jakarta, 1979, h.11.
62 Munir Fuady, Op.Cit., h. 223.
63 Ibid., h. 223.
64 Agustina, Op. Cit., h. 51.
ganti kerugian tersebut. Dalam hukum perdata dapat dipersoalkan apakah ada perbedaan pengertian antara (1) kerugian sebagai akibat suatu perbuatan melawan hukum di satu pihak; dan (2) kerugian sebagai akibat tidak terlaksananya suatu perjajian di lain pihak. Oleh karena itu, Pasal 1365 KUHPerdata menamakan kerugian akibat perbuatan melawan hukum sebagai “schade” (rugi) saja, sedangkan kerugian akibat wanprestasi oleh Pasal 1246 KUHPerdata. dinamakan “kosten, scaden, en interesten”
(biaya, kerugian, dan bunga).
Dalam undang-undang tidak diatur tentang ganti kerugian yang harus dibayar karena perbuatan melawan hukum, sedangkan Pasal 1243 KUHPerdata memuat ketentuan tentang ganti kerugian yang harus dibayar karena wanprestasi. Untuk itu pada kasus putusan pengadilan No.
128/Pdt.G/2014/PN.Jkt.Sel penentuan ganti kerugian karena perbuatan melawan hukum dapat diterapkan ketentuan-ketentuan yang sama dengan ketentuan tentang ganti kerugian karena wanprestasi. Pitlo menegaskan bahwa biasanya dalam menentukan besarnya kerugian karena perbuatan melawan hukum tidak diterapkan ketentuan-ketentuan dalam Pasal 1243 KUHPerdata65, melainkan paling tinggi ketentuan dalam Pasal 1243 KUHPerdata secara analogis. Sehubungan dengan hal tersebut ketentuan dalam Pasal 1247 dan 1250 KUHPerdata tidak dapat diterapkan untuk perbuatan melawan hukum karena:66
a. Pasal 1247 KUHPerdata. mengenai “perbuatan perikatan” yang berarti bahwa perikatan tersebut dilahirkan dari persetujuan, sedang perbuatan melawan hukum tidaklah merupakan perikatan yang lahir dari persetujuan;67
b. Pasal 1250 KUHPerdata. membebankan pembayaran bunga atas penggantian biaya, rugi, dan bunga dalam hal terjadi kelambatan pembayaran sejumlah uang, sedang yang dialami karena perbuatan
65 Agustina, Op. Cit., h. 55.
66 M.A. Moegni Djojodirjo, Perbuatan Melawan Hukum, Cetakan 1, Pradnya Paramita, Jakarta, 1979, h.54.
67 Ibid., h.57.
melawan hukum bukan disebabkan karena tidak dilakukannya pembayaran uang tepat pada waktunya.68
Perlindungan Hukum yang di Dapat Debitur
UUJF bertujuan untuk memberikan suatu pengaturan yang lebih lengkap dari yang ada selama ini, dan hendak memberikan perlindungan yang lebih baik bagi para pihak yang berkepentingan. Atas dasar tersebut, maka UUJF mengambil prinsip pendaftaran jaminan fidusia.69 Pendaftaran tersebut diharapkan memberikan kepastian hukum kepada pemberi dan penerima maupun kepada pihak ketiga. Pendaftaran dimaksudkan agar mempunyai akibat terhadap pihak ketiga. Dengan pendaftaran, maka pihak ketiga dianggap tahu ciri-ciri yang melekat kepada benda yang bersangkutan dan adanya ikatan jaminan dengan ciri-ciri yang disebutkan disana, dan dalam hal pihak ketiga yang ingin mengambil alih jika adanya pendafttaran makan pihak ketiga tidak dapat mengambilnya. Untuk itu perlu memperhatikan/ mengontrol register/ daftar jika tidak maka, itu tidak dapat mengharapkan adanya perlindungan berdasarkan itikad baik dan harus memikul resiko kerugian.
Perlindungan hukum berasal dari dua suku kata, yaitu perlindungan dan hukum. Perlindungan adalah hal atau perbuatan melindungi.70 Sedangkan hukum adalah aturan untuk menjaga semua pihak. Menurut Wirjono Prodjodokoro, perlindungan hukum adalah suatu upaya perlindungan yang diberikan kepada subyek hukum, tentang apa apa yang dapat dilakukannya untuk mempertahankan atau melindungi kepentingan dan hak subyek hukum tersebut. Pengertian umum tentang perlindungan hukum atau legal protection menurut Law Dictionary, Baron Legal Guides Steven H. Gift 1975 adalah defending by law against all sides concerned, atau dengan kata lain mempertahankan suatu hak atau keadaan dari gangguan semua pihak dengan menggunakan hukum yang berlaku.
68 Ibid., h.58
69 Munir Fuafy, Op. Cit., h. 76
70 Depdikbud-Balai Pustaka, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Edisi ke-3, Jakarta, 2001, h. 674.
Dalam kaitannya dengan perlindungan hukum bagi rakyat, Hadjon membedakan dua macam perlindungan hukum, yaitu perlindungan hukum yang bersifat prefentif dan perlindungan hukum yang bersifat represif.71 Pada perlindungan hukum yang bersifat prefentif, kepada rakyat diberikan kesempatan untuk mengajukan keberatan (inspraak) atau pendapatnya sebelum suatu keputusan pemerintah mendapat bentuk yang definitif.
Dengan demikian, perlindungan hukum yang prefentif bertujuan untuk mencegah terjadinya sengketa, sedangkan sebaliknya perlindungan hukum yang bersifat represif bertujuan untuk menyelesaikan sengketa.
Perlindungan hukum yang bersifat represif adalah penanganan perlindungan hukum bagi rakyat oleh lembaga peradilan, yaitu peradilan umum dan peradilan administrasi. Perlindungan hukum, berarti perlindungan yang diberikan melalui hukum (rechtsbescherming, legal protection) terhadap sesuatu status (kedudukan) ataupun hak, misalnya hak milik, hak berusaha sebagai warga negara sebagai penduduk negara, rakyat negara dan sebagainya. Kepastian dan perlindungan hukum ini mempunyai peranan penting dalam suatu masyarakat yang teratur. Masyarakat dinilai sebagai tidak teratur dan tidak tertib, jika didalamnya tidak ada jaminan kepastian hukum dan/atau perlindungan hukum, termasuk karena ketidakteraturan peraturan hukumnya sendiri.
Pada kasus diatas yang dikaji penulis secara hukum perlindungan debitur jika kreditur mengalihkan objek jaminan ke pihak perlindungan ke pihak lain tidak adanya diatur di peraturan terlebih di Undang-Undang Jaminan Fidusia. Untuik itu penulis memakai kajian perlindungan represif, perlindungan hukum yang represif bertujuan untuk menyelesaikan sengketa..72
Dalam kasus ini, penulis mencatat perlindungan hukum yang didapat oleh debitur (Desta Widyatama dan Dea) dikarenakan PT. Astra Sedaya
71 Philipus M. Hadjon. Op.Cit.
72 Philipus M. Hadjon, “Perlindungan Hukum bagi Rakyat di Indonesia (Sebuah Studi tentang Prinsip-Prinsipnya, Penanganannya oleh Pengadilan dalam Lingkungan Peradilan Umum dan Pembentukan Peradilan Administrasi)”, Surabaya, Peradaban, 2007, h. 3.
Finance selaku kreditur telah mengalihkan objek jaminan kepada pihak lain tanpa sepengetahuannya. Jika dilihat dari segi perlindungan hukum hukum represif yang didapat oleh debitur adalah untuk mengajukan gugatan terhadap kreditur. Putusan hakim yang mengandung unsur kepastian hukum akan memberikan suatu kontribusi dalam ilmu hukum, karena putusan hakim dalam pengadilan akan mengikat kepada kedua belak pihak yang bersengketa dan memiliki kekuatan hukum yang tetap, bukan lagi pendapat majelis hakim namun berubah menjadi putusan dari institusi pengadilan dan menjadi acuan dari masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.
Radbruch memberikan pendapat yang cukup mendasar mengenai kepastian hukum. Ada 4 (empat) hal yang berhubungan dengan makna kepastian hukum:
1) Hukum itu positif yakni perundang-undangan.
2) Hukum itu berdasarkan pada fakta atau hukum yang ditetapkan itu pasti.
3) Kenyataan (fakta) harus dirumuskan dengan cara yang jelas sehingga menghindari kekeliruan dalam pemaknaan, disamping mudah dilaksanakan.
4) Hukum positif tidak boleh mudah berubah.73
Jika dilihat dalam putusan nomor 128/Pdt.G/2014/PN.Jkt.Sel pada halaman 25 sebagai berikut: “Menimbang, bahwa setelah majelis hakim meneliti tentang bukti mengenai surat perjanjian, saksi yang menjadi dasar adanya surat perjanjian Jaminan Fidusia No. Perjanjian : 01.100.162.00.095220.3, tanggal 1 September 2009 adalah antara Penggugat dan Tergugat, sementara Tergugat telah tahu bahwa mobil obyek jaminan fidusia telah hilang karena digelapkan orang, maka tindakan Tergugat menerima pelunasan angsuran mobil atas nama Penggugat Destya Widyatama selaku Debitur dan menyerahkan BPKB ke
73 Ibid.,h. 107.
pihak lain tanpa sepengetahuan dan seijin Penggugat selaku pemilik adalah merupakan perbuatan melawan hukum yang merugikan penggugat” dan
“Menimbang, Bahwa berdasarkan pertimbangan tersebut diatas maka dalil gugatan Penggugat bahwa Tergugat telah melakukan perbuatan melawan hukum telah terbukti.” Serta juga “Menimbang, bahwa terhadap bantahan Tergugat yang menyatakan bahwa pihak yang telah melunasi sebesar angsuran pokok ditambah denda adalah diluar sepengetahuan dan diluar kewenangan Tergugat, menurut Majelis Hakim merupakan suatu alasan yang janggal, karena untuk melunasi sisa angsuran yang belum dibayar oleh Penggugat pastilah orang yang membayar datang ke kantor Tergugat untuk mengetahui jumlah yang pasti berdasarkan data yang ada, demikian pula untuk penyerahan BPKB tentu disertai tanda bukti penerimaan dari yang bersangkutan” dan juga pada putusan Mahkamah Agung Nomor 1271 K/PDT/2016 sebenarnya jaminan fidusia tidak pernah ada karena dari awal jaminan tersebut tidak didaftarkan ke Kantor Pendaftaran Jaminan Fidusia. Hal ini menyebabkan jaminan tersebut hanya sebatas jaminan pada umumnya.
Dari pertimbangan majelis hakim tersebut, jika dikaji dari pendapat Radbruch bahwa kenyataan (fakta) harus dirumuskan dengan cara yang jelas sehingga menghindari kekeliruan dalam pemaknaan dan di samping itu agar mudah untuk dilaksanakan, oleh karena itu putusan Pengadilan Negeri Jakarta nomor 128/Pdt.G/2014/PN.Jkt.Sel terhadap perkara gugatan PMH merasa dirugikan antara Dea Arum dan Desta Widyatama menggugat PT. Astra Sedaya Finance tersebut sesuai dengan kepastian hukum yang dicita-citakan oleh pihak yang berperkara khususnya pihak penggugat debitur Dea Arum dan Desta Widyatama maka majelis hakim dalam perkara ini telah mengambil kesimpulan untuk terwujudnya suatu kepastian hukum dengan melihat serta menilai baik dari sisi yang berdasarkan undang-undang juga memperhatikan fakta dan kenyataannya.