BAB II
HASIL PENELITIAN DAN ANALISIS
A. Kajian Pustaka
1. Perjanjian Utang Piutang a. Pengertian Utang Piutang
Utang piutang merupakan perjanjian antara pihak yang satu dengan pihak yang lainnya dan objek yang diperjanjikan pada umumnya adalah uang, kedudukan pihak yang satu sebagai pihak yang memberikan pinjaman sedang pihak yang lain menerima pinjaman uang, uang yang dipinjam akan dikembalikan dalam jangka waktu tertentu sesuai dengan yang di perjanjikannya.1 Pengertian hutang piutang sama dengan perjanjian pinjam meminjam yang dijumpai dalam ketentuan Kitab Undang-Undang Hukum Perdata Pasal 1754 yang berbunyi “pinjam meminjam adalah suatu perjanjian dengan mana pihak yang satu memberikan kepada pihak yang lain suatu jumlah barang-barang tertentu dan habis karena pemakaian, dengan syarat bahwa yang belakangan ini akan mengembalikan sejumlah yang sama dari macam keadaan yang sama pula”.2
Melihat berdasarkan dari perngertian perjanjian utang piutang yang diatur dalam Pasal 1754 KUHPedrdata, dapat diketahui bahwa yang paling pokok dapat kita pahami apa utang dan piutang itu. Utang adalah kewajiban yang dinyatakan atau tidak dapat dinyatakan dalam jumlah uang baik yang secara langsung maupun yang akan timbul di kemudian hari, yang timbul karena perjanjian atau undang-undang dan wajib dipenuhi oleh debitur dan apabila tidak dipenuhi memberi hak kepada kreditur untuk mendapat pemenuhannya dari harta kekayaan debitur. Sedangkan Piutang adalah tagihan (klaim) kreditur kepada debitur atas uang, barang
1 Gatot Supramono, Perjanjian Utang Piutang, Jakarta, Kencana, 2013, h.9.
2 R.Subekti dan R. Tjitrosudibyo, Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, Jakarta, Pradnya Paramita, 1992, h.451.
atau jasa yang ditentukan dan bila debitur tidak mampu memenuhi maka kreditur berhak untuk mendapat pemenuhannya dari harta kekayaan debitur.3
b. Perjanjian Kredit
Di dalam suatu perjanjian, para pihak mempunyai hak dan kewajiban masing-masing yang harus dipenuhi. Perjanjian adalah suatu peristiwa dimana dua orang atau dua pihak saling berjanji untuk melakukan suatu hal atau dapat dikatakan suatu persetujuan yang dibuat oleh dua pihak atau lebih, masing-masing bersepakat akan menaati apa yang tersebut dalam persetujuan itu.4 Berdasarkan peristiwa itu timbul suatu hubungan hukum diantara pihak-pihak yang mengadakan perjanjian tersebut. Hubungan hukum yang merupakan suatu perikatan itu menjadi dasar bagi salah satu pihak untuk menuntut suatu prestasi dari pihak lain yang berkewajiban untuk memenuhi tuntutan dari pihak lain atau sebaliknya.5
Rumusan dan pengertian tentang perjanjian kredit belum secara eksplisit tercantum dalam perundang-undangan. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perbankan tidak mengenal istilah perjanjian kredit.
Istilah perjanjian kredit ditemukan dalam Instruksi Presiden Kabinet Nomor 15/EK/10 tanggal 3 Oktober 1966 Jo Surat Edaran Bank Indonesia Unit I Nomor 2/539/UPK/Pemb tanggal 8 Oktober 1966 yang mengintruksikan kepada masyarakat perbankan bahwa dalam memberikan kredit dalam bentuk apapun bank-bank wajib mempergunakan perjanjian kredit.6
Namun Demikian dalam Pasal 1 angka 11 Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang peerbankan, kredit diartikan sebagai penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam-meminjam antara bank dengan pihak
3 Gatot Supramono, Perjanjian Hutang Piutang, Kencana, Cetakan ke-II, 2014, h. 26.
4 Subekti, Jaminan-Jaminan Untuk Pemberian Kredit Menurut Hukum Indonesia, Alumni, Bandung, 1982, h. 3.
5 Ibid., h. 6.
6 Ibid., h. 9.
lain yang mewajibkan pihak peminjam untuk melunasi utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga.7 Berdasarkan pengertian tersebut, perjanjian kredit dapat diartikan sebagai perjanjian pinjam- meminjam antara bank sebagai kreditur dengan pihak lain sebagai debitur yang mewajibkan debitur untuk melunasi utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga.
c. Jaminan dalam Perjanjian Kredit
Pemberian kredit pada umumnya dilakukan oleh mereka yang memiliki modal atau uang kepada yang membutuhkan (debitur) yang dikuatkan dalam bentuk perjanjian hutang piutang. Mereka yang memberikan kredit adalah pihak Bank sebagai kreditur. Antara kreditur dan debitur terikat hak dan kewajiban sebagaimana telah disepakati dalam perjanjian.8 Pihak kreditur memiliki kewajiban untuk menyerahkan sejumlah uang sebagaimana yang telah disepakati dalam perjanjian kepada debitur dengan harapan dapat menerima uangnya kembali pada waktunya berikut bunga yang telah disepakati oleh para pihak. Hak dan kewajiban debitur adalah bertimbal balik dengan hak dan kewajiban kreditur. Selama proses ini tidak menghadapi masalah dalam arti kedua pihak melaksanakan hak dan kewajibannya sesuai dengan perjanjian, maka persoalan tidak akan muncul.9
Dalam menjalankan kegiatan kredit perbankan dibutuhkan suatu pengamanan yang diawali pada saat perencanaan untuk memberikan kredit. Pengamanan ini perlu dilakukan sedimikian rupa karena erat kaitannya dengan risiko oleh karena itulah bank dilarang memberikan kredit tanpa jaminan.
Karena kredit yang diberikan oleh bank berisiko, maka dalam pelaksanaannya bank juga harus memperhatikan asas-asas kredit yang
7 Pasal 1 Angka 11 Undang-Undang No 10 Tahun 1998 tentang Perbankan
8 Subekti, Ibid., h. 32.
9 Ibid., h.33.
sehat10. Pengamanan tersebut mencakup pengamanan preventif dan represif. Pengamanan preventif dibentuk mencegah terjadinya kemacetan kredit, sedangkan pengamanan represif dibentuk untuk menyelesaikan kemacetan kredit. Hubungan kreditur dan debitur di bangun atas dasar kontrak atau perjanjian, sebagaimana diatur dalam Pasal 1320 KUHPerdata.
2. Jaminan
a. Pengertian Hukum Jaminan
Menurut J. Satrio, hukum jaminan itu diartikan peraturan hukum yang mengatur tentang jaminan-jaminan piutang seorang kreditur terhadap seorang debitur atau dengan kata lain hukum jaminan adalah hukum yang mengatur tentang jaminan piutang seseorang.11 Sementara itu, Salim HS memberikan perumusan hukum jaminan adalah keseluruhan kaidah-kaidah hukum yang mengatur hubungan antara pemberi dan penerima jaminan dalam kaitannya dengan pembebanan jaminan untuk mendapatkan fasilitas kredit.12 Fasilitas kredit yang dimaksud pada perumusan menurut Salim HS yaitu;
1. Adanya kaidah hukum.
2. Adanya Pemberi dan Penerima Jaminan.
3. Adanya Jaminan.13
b. Pengaturan Sumber Hukum Jaminan
Sumber hukum adalah tempat dimana ditemukan hukum. Dalam hal ini, hukum jaminan bersumber dari KUHPerdata. KUHPerdata sebagai terjemahan dari Burgerlijk Wetboek merupakan kodifikasi hukum perdata material yang diberlakukan pada tahun 1848 berdasarkan asas konkordansi. Ketentuan hukum jaminan dapat dijumpai dalam buku II
10 Ibid., h.35.
11 J, Satrrio, Hukum Jamiman Hak Jaminan Kebendaan Fiducia, PT Citra Aditya Bakti, Bandung, h. 37.
12 Salim HS, Perkembangan Hukum Jaminan di Indonesia, Jakarta, Raja Grafindo Persada, 2014, h. 55.
13 Salim HS. I, op.cit.,h.6.
KUHPerdata yang mengatur mengenai hukum kebendaan. Dilihat dari sistematika KUHPerdata, pada prinsipnya hukum jaminan merupakan bagian dari hukum kebendaan, sebab dalam Buku II KUHPerdata diatur mengenai pengertian, cara membedakan benda dan hak-hak kebendaan, baik yang memberikan kenikmatan dan jaminan.
Ketentuan dalam pasal-pasal buku II KUHPerdata yang mengatur mengenai lembaga dan ketentuan hak jaminan dimulai dari Titel Kesembilan Belas sampai dengan Titel Dua Puluh Satu, pasal 1131 sampai dengan Pasal 1232. Dalam pasal-pasal KUHPerdata tersebut diatur mengenai piutang-piutang yang diistimewakan, gadai, dan hipotek.14 Pada pasal 1131 yang berbunyi “Segala kebendaan si berhutang baik yang bergerak maupun tidak bergerak, baik yangsudah ada maupun yang baru aka nada di kemudian hari menjadi tanggungan untuk perikatan perseorangan.” Adapun dalam pasal 1132 KUHPerdata dinyatakan
“kebendaan tersebut menjadi jaminan bersama-sama semua orang yang mengutangkan padanya; pendapatan penjualan benda-benda itu dibagi- bagi menurut keseimbangan, yaitu menurut besar kecilnya piutang masing- masing kecuali apabila di antara para berpiutang itu ada alasan-alasan yang sah untuk didahulukan.”
Dengan keluarnya UUHT, maka pembebanan hipotek atas hak atas tanah beserta benda-benda yang berkaitan dengan tanah tidak lagi menggunakan lembaga dan ketentuan hipotek sebagaimana diatur dalam Pasal 1162 sampai dengan Pasal 1232 KUHPerdata. Sementara itu pembebanan hipotek atas bendabenda tidak bergerak lainnya selain hak atas tanah beserta benda-benda yang berkaitan dengan tanah, hipotek kapal laut misalnya, tetap menggunakan lembaga dan ketentuan-ketentuan hipotek sebagaimana diatur dalam Pasal 1162 sampai dengan Pasal 1232 KUHPerdata.
14 Rachmadi Usman, Hukum Jaminan Keperdataan, Sinar Grafika, 2009, Cetakan ke-2, h.152.
Dari rumusan Pasal 1131 dan 1132 KUHPerdata tersebut,dapat disimpulkan bahwa ada 2 macam bentuk jaminan yaitu:
a. Jaminan Umum
Jaminan umum adalah jaminan yang diberikan bagi kepentingan semua kreditur yang menyangkut semua harta kekayaan debitur.15 Pengertian tersebut dapat dilihat bahwa benda-benda jaminan tidak hanya diperuntukkan untuk kreditur tertentu, akan tetapi hasil dari penjualan benda yang menjadi jaminan akan dibagi secara seimbang untuk seluruh kreditur sesuai dengan jumlah hutang yang dimilik oleh debitur.16
Dalam jaminan umum ini tidak akan terjadi masalah jika hasil penjualan benda jaminan mencukupi seluruh hutang debitur kepada kreditur, akan tetapi jika hasil penjualan benda jaminan tidak mencukupi hutang debitur kepada kreditur maka hasil penjualan benda jaminan akan dibagi berdasarkan presentase piutang yang dimiliki oleh kreditur kepada debitur. Hal ini akan tetap menjadi masalah, karena hutang debitur tetap tidak dapat dibayar secara lunas sehingga akan menimbulkan kerugian terhadap kreditur. Jadi jaminan umum masih belum memberikan keamanan bagi kreditur untuk mendapatkan pelunasan atas piutangnya secara penuh. Untuk memberikan keamanan terhadap pelunasan hutang kepada debitur dibutuhkan suatu bentuk jaminan yang memberikan hak kepada kreditur untuk menjadi kreditur preferent yaitu kreditur yang harus didahulukan dalam pembayaran diantara kreditur-kreditur lainnya jika debitur melakukan wanprestasi.
b. Jaminan Khusus
Jaminan khusus muncul sebagai usaha untuk mengatasi kelemahan yang ada pada bentuk jaminan umum. Dalam Pasal 1132 KUHPerdata terdapat kalimat yang berbunyi “kecuali diantara para kreditur ada alasan- alasan yang sah untuk didahulukan”. Dengan adanya kalimat tersebut
15 Frieda Husni Hasbullah, Hukum Kebendaan Perdata, Hak-Hak Yang Memberikan Jaminan, Cetakan ke 2, Jakarta, Indo Hill-Co, 2005, h.8.
16 Ibid.,
dalam Pasal 1132 KUHPerdata, terdapat kemungkinan diadakan perjanjian yang menyimpang dari pengaturan jaminan umum.17 Bentuk jaminan khusus ditentukan secara terbatas dan tegas pada Pasal 1133 KHUPerdata yang menyatakan bahwa “Hak untuk didahulukan diantara orang-orang berpiutang terbit dari hak istimewa, dari gadai, dan dari hipotek”. Jadi adanya alasan untuk dapat didahulukan dapat terjadi karena ketentuan undang-undang, dapat juga terjadi karena diperjanjikan antara debitur dan kreditur.
Namun menurut J. Satrio, jaminan khusus tidak memberikan jaminan bahwa tagihan pasti akan dilunasi akan tetapi hanya memberikan kepada yang tidak memegang jaminan khusus atau dengan kata lain relatif lebih terjamin dalam pemenuhan tagihan. Oleh karena itu dalam doktrin masih dikenal mengenai pembagian bentuk jaminan yang lain, yaitu: yang pertama adalah Hak jaminan kebendaan (zakelijke zekerheidscrechten),
yang kedua adalah Hak jaminan perorangan
(personalijkezekerheidscrechten), kemudian yang ketiga adalah Hak jaminan yang lain.18
1.) Jaminan Perorangan
Jaminan perorangan timbul dari perjanjian jaminan antara kreditur (bank) dan pihak ketiga. Perjanjian jaminan perorangan merupakan hak relatif, yaitu hak yang hanya dapat dipertahankan terhadap orang tertentu yang terikat dalam perjanjian.19 Jaminan perorangan ini tidak memberikan hak untuk didahulukan pada benda-benda tertentu, karena harta kekayaan pihak ketiga hanyalah merupakan jaminan bagi terselenggaranya suatu perikatan seperti borgtocht.20 Jaminan
17 Rachmadi Usman, Hukum Jaminan Keperdataan, Sinar Grafika, 2009, Cetakan ke-2, h.152.
18 J, Satrrio, Hukum Jamiman Hak Jaminan Kebendaan Fiducia, PT Citra Aditya Bakti, Bandung, h. 65.
19 Djuhaendah Hasan dan Salmidjas Salam, Aspek Hukum Hak Jaminan Perorangan dan Kebendaan, Jakarta, 2000, h. 210.
20 Frieda Husni Hasbullah, Op. Cit., h. 12.
perorangan meliputi: borgtocht, tanggung-menanggung (tanggung renteng), dan garansi bank.21
Dasar hukum dari jaminan perorangan atau penanggungan diatur dalam pasal 1820 KUHPerdata yang berbunyi “Suatu perjanjian dengan mana seorang pihak ketiga guna kepentingan si berhutang mengikatkan diri untuk memenuhi perikatan si berhutang manakala orang ini sendiri tidak memenuhinya”
Kemudian pada Pasal 1822 KUHPerdata menyatakan:
“Seorang penanggung tidak dapat mengikatkan diri untuk lebih, maupun dengan syarat-syarat yang lebih berat, daripada perikatan si berutang.”
Adapun “penanggungan boleh diadakan untuk hanya sebagian saja dari hutangnya atau dengan syarat-syarat yang kurang. Jika penanggungan diadakan untuk lebih dari hutangnya, atau dengan syarat-syarat yang kurang jika penanggungan diadakan untuk lebih dari hutangnya, atau dengan syarat-syarat yang lebih berat, maka perikatan itu tidak sama sekali batal, melainkan ia adalah hanya untuk apa yang diliputi oleh perikatan pokoknya.”
Jadi dalam perjanjian penanggungan, kewajiban dari penanggung kurang ataupun sama dari perjanjian pokoknya, maka perjanjian penanggungan dapat dilaksanakan. Namun, apabila kewajiban penanggung lebih besar dari pada pejanjian penanggungan batal, akan tetapi kewajiban dari penanggung hanya sebatas pada jumlah yang disyaratkan pada perjanjian pokok. Kedudukan dari perjanjian penanggungan merupakan perjanjian yang bersifat accesoir, yang artinya jika perjanjian pokok batal, maka perjanjian penanggungan juga akan batal. Akan tetapi dalam Pasal 1821 KUHPerdata memberikan ruang untuk terjadinya pengecualian.
21 Ibid.,h. 211.
Pasal 1821 KUHPerdata menyatakan Tiada penanggungan jika tidak ada suatu perikatan pokok yang sah. Namun dapatlah seorang mengajukan diri sebagai penanggung untuk suatu perikatan, biarpun perikatan itu dapat dibatalkan dengan suatu tangkisan yang hanya mengenai dirinya pribadi si berhutang, misalnya dalam hal kebelumdewasaan.22 Jadi dalam Pasal 1821 KUHPerdata menerangkan bahwa, dapatlah suatu perjanjian penanggungan dapat tetap sah meskipun perjanjian pokoknya dibatalkan jika berhubungan dengan diri pribadi seseorang misalnya dalam hal belum dewasa. Adapun cirri-ciri dari jaminan perorangan adalah:
1. Mempunyai hubungan langsung dengan orang tetentu.
2. Hanya dapat dipertahankan terhadap debitur tertentu.
3. Menimbulkan hak perseorangan yang mengandung hak kesamaan atau keseimbangan (konkuren) artinya tidak membedakan mana piutang yang terjadi kemudian. Dengan demikian tidak mengindahkan urutan terjadinya karena semuan kreditur mempunyai kedudukan yang sama terhadap harta kekayaan debitur.
4. Jika suatu saat terjadi kepailitan, maka hasil penjualan dari benda- benda jaminan dibagi antara para kreditur seimbang dengan besarnya piutang masing-masing.23
2.) Jaminan Kebendaan
Jaminan kebendaan merupakan hak mutlak (absolut) adalah jaminan yang memberikan kepada kreditur atas suatu kebendaan milik debitur hak untuk memanfaatkan benda tersebut jika debitur melakukan wanprestasi. Dalam jaminan kebendaan ini, benda milik debitur yang dapat dijaminkan dapat berupa benda bergerak maupun benda tak bergerak. Untuk benda bergerak, dapat dijaminkan dengan gadai dan
22 J.Satrio, Op.Cit., h. 72.
23 J, Satrrio, Hukum Jamiman Hak Jaminan Kebendaan Fiducia, PT Citra Aditya Bakti, Bandung, h. 68.
fidusia. Sedangkan untuk benda yang tidak bergerak, dapat dijaminkan dengan hak tanggungan.24
Dengan mempunyai berbagai kelebihan, yaitu sifat-sifat yang dimilikinya, antara lain sifat absolut dimana setiap orang harus menghormati hak tersebut, memiliki droit de preference, droit de suite, serta asas-asas yang terkandung padanya, seperti asas spesialitas dan publisitas telah memberikan kedudukan dan hak istimewa bagi pemegang hak tersebut/kreditur, sehingga dalam praktek lebih disukai pihak kreditur daripada jaminan perorangan.25
Menurut sifatnya, jaminan kebendaan dibagi menjadi 2 (dua), yaitu:
a) Jaminan dengan benda berwujud (materiil)
Benda berwujud dapat berupa benda/barang bergerak dan atau benda/barang tidak bergerak.Yang termasuk dalam jaminan benda bergerak meliputi: gadai dan fidusia, sedangkan jaminan benda tidak bergerak meliputi: hak tanggungan, fidusia, khususnya rumah susun, hipotek kapal laut dan pesawat udara.
b) Jaminan dengan benda tidak berwujud (imateriil)
Benda atau barang tidak berwujud yang lazim diterima oleh bank sebagai jaminan kredit adalah berupa hak tagih debitur terhadap pihak ketiga.
3. Fidusia
a. Pengertin Fidusia
Istilah berasal dari kata fides yang berarti kepercayaan. Pengertian fidusia berdasarkan Pasal 1 nomor 1 Undang-Undang Nomor 42 Tahun 1999 Tentang Jaminan Fidusia adalah pengalihan hak kepemilikan suatu benda atas dasar kepercayaan dengan ketentuan bahwa benda yang hak
24 J.Satrio, Hak Jaminan Kebendaan, Bandung: Citra Aditya Bhakti, 2002, h.76.
25 Ibid., h. 214.
kepemilikannya dialihkan tersebut tetap dalam penguasaan pemilik benda.26 Fidusia merupakan lembaga jaminan yang mirip dengan gadai yaitu keduanya sama-sama mensyaratkan benda bergerak sebagai jaminan.
Hal yang membedakan fidusia dengan gadai adalah pada fidusia, benda yang dijaminkan tetap dalam kekuasaan kreditur.27 Dasar Hukum dari praktek fidusia adalah Undang-Undang Nomor 42 Tahun 1999 Tentang Jaminan Fidusia.
Sama dengan gadai, fidusia pada dasarnya adalah suatu perjanjian accessoir antara debitur dan kreditur yang isinya pernyataan penyerahan hak milik secara kepercayaan atas benda-benda milik debitur kepada kreditur, namun benda-benda tersebut masih tetap dikuasai oleh debitur sebagai peminjam pakai dan bertujuan hanya untuk jaminan atas pembayaran kembali uang pinjaman.28 Untuk penyerahannya dilakukan secara constitutum possessorium artinya penyerahan dengan melanjutkan penguasaan atas benda-benda yang bersangkutan karena benda-benda tersebut masih di tangan debitur.29
b. Ciri-Ciri Jaminan Fidusia
Sebagaimana jaminan gadai, jaminan fidusia juga memiliki ciri-ciri khusus, adapun ciri-ciri jaminan fidusia adalah:
1. Accessoir
Timbulnya fidusia didahului dengan suatu perjanjian meminjam uang atau perjanjian hutang piutang sebagai perjanjian pokok. Kemudian sebagai jaminan pelunasan hutang dibuatlah suatu perjanjian tambahan berupa perjanjian dengan jaminan fidusia tersebut. Oleh karena itu jika
26 A. Hamzah dan Senjun Manulang, Lembaga Fidusia dan Penerapanya Di Indonesia, Jakarta, Indonesia Hill Co, 1987, h. 8.
27 Salim HS, Op.Cit., h.42.
28 Salim HS, Op Cit., h.44.
29 Rachmadi Usman, Hukum Jaminan Keperdataan, Sinar Grafika, 2009, Cetakan ke-2, h.152.
perjanjian pokok berupa hutang piutang dilunasi, maka otomatis perjanjian fidusia berakhir. Dengan berakhirnya penyerahan hak milik berdasarkan kepercayaan ini tergantung pada perjanjian pokoknya.
2. Penyerhana Berulang kepada dua Orang (Constitutum Possessorium) Kalau dalam perjanjian gadai benda harus dilepaskan dari kekuasaan pemberi gadai/debitur dan hak milik atas benda tetap berada dalam tangan debitur, maka dalam perjanjian fidusia terjadi penyimpangan yaitu benda tetap dikuasai oleh debitur walaupun hak milik atas benda tersebut telah berpindah ke tangan kreditur. Oleh karena itu konstruksi demikian dinamakan penyerahan hak milik dengan melanjutkan penguasaan atas benda jaminan.30
3. Parate executie
Sehubungan dengan kedudukan separatis dan hak preferen yang dimiliki kreditur, demikian juga adanya pengakuan oleh yurisprudensi bahwa fidusia merupakan hukum jaminan kebendaan yang seperti halnya gadai dan hipotek, maka kreditur selaku penerima fidusia berhak melakukan parate executie atau menagih piutangnya dari hasil penjualan benda yang dijaminkan tanpa suatu executorial title.31
c. Asas-Asas Jaminan Fidusia
Menurut Tan Kamelo, bahwa asas-asas jaminan sebagaimana terdapat dalam UUJF sebagai berikut:32
1. Bahwa kreditur penerima fidusia berkedudukan sebagai kreditur yang diutamakan dari kreditur-kreditur lainnya;
2. Bahwa jaminan fidusia tetap mengikuti benda yang menjadi obyek jaminan fidusia dalam tangan siapapun benda tersebut berada;
30 Rachmadi Usman, Hukum Jaminan Keperdataan, Sinar Grafika, 2009, Cetakan ke-2, h.166.
31 Ibid., h. 168.
32 Tan Kamelo, Hukum Jaminan Fidusia; Suatu Kebtuhan yang didambakan, Bandung, PT. Alumni, 2006, h. 159 - 171.
3. Bahwa jaminan fidusia merupakan perjanjian ikutan yang lazim disebut asas asesoritas;
4. Bahwa jaminan fidusia dapat dibebankan pada benda yang akan ada;
5. Bahwa jaminan fidusia dapat dibebankan pada bangunan/ rumah yang terdapat di atas tanah milik orang lain;
6. Bahwa jaminan fidusia berisikan uraian secara detail terhadap subyek dan obyek jaminan fidusia;
7. Bahwa pemberi jaminan fidusia harus orang yang memiliki kewenangan hukum atas obyek jaminan fidusia;
8. Bahwa jaminan fidusia harus didaftar ke Kantor pendaftaran Fidusia;
9. Bahwa benda yang dijadikan objek jaminan fidusia tidak dapat dimiliki oleh kreditur penerima jaminan fidusia;
10. Bahwa jaminan fidusia memberikan hak prioritas kepada kreditur penerima fidusia yang terlebih dahulu ke kantor fidusia daripada kreditur yang mendaftarkan kemudian;
11. Bahwa pemberi jaminan fidusia yang tetap menguasai benda jaminan harus mempunyai iktikad baik;
d. Pembebanan dan Hak Mendahulu Jaminan Fidusia
Pengaturan mengenai pembebanan jaminan fidusia ditentukan dalam Pasal 4 Undang-Undang Jaminan Fidusia. Pasal 4 Undang-Undang Jaminan Fidusia menyatakan: “Jaminan fidusia merupakan perjanjian ikutan dari suatu perjanjian pokok yang menimbulkan kewajiban bagi para pihak untuk memenuhi suatu prestasi.” Prestasi dimaksud dalam ketentuan ini adalah memberikan sesuatu, berbuat sesuatu atau tidak berbuat sesuatu yang dapat dinilai dengan uang.
Pembebanan jaminan fidusia juga dapat dilihat dari ketentuan yang diatur dalam Pasal 5 ayat (1) Undang-Undang Jaminan Fidusia yang menyatakan bahwa: “Pembebanan benda dengan jaminan fidusia dibuat dengan akta notaris dalam bahasa Indonesia dan merupakan Akta Jaminan Fidusia.” Berdasarkan ketentuan Pasal 5 ayat (1) ini, memberikan peluang untuk dilakukan perjanjian pengikatan jaminan fidusia dengan akta
dibawah tangan, karena ketentuan dalam pasal ini tidak mengharuskan bahwa Akta Jaminan Fidusia harus dibuat dalam akta notaris, sehingga rumusan Pasal 5 UUJF tersebut tidak bersifat memaksa. Suatu ketentuan dikatakan bersifat memaksa apabila terdapat kata-kata tegas yang melarang atau bertentangan dengan ketentuan hukum yang berlaku dan diancam dengan adanya kebatalan. Dalam akta Jaminan Fidusia yang dibuat Notaris sesuai ketentuan pasal 6 UUJF, sekurang-kurangnya memuat: a). Identitas pihak Pemberi dan Penerima Fidusia; b). Data perjanjian pokok yang dijamin fidusia; c). Uraian mengenai benda yang menjadi objek Jaminan Fidusia; d). Nilai penjaminan; dan e). Nilai benda yang menjadi obyek jaminan fidusia.
Dari ketentuan pasal tersebut diperlukan penjelasan beberapa istilah sebagai berikut: yang dimaksud dengan “identitas“ adalah meliputi nama lengkap, agama, tempat tinggal, atau tempat kedudukan, tempat dan tanggal lahir, jenis kelamin, status perkawinan dan pekerjaan. Sedangkan yang dimaksud dengan “Data Perjanjian Pokok” adalah mengenai macam perjanjian dan utang yang dijamin dengan Fidusia. Pembebanan Jaminan Fidusia sesuai pasal 7 Undang-Undang Jaminan Fidusia diperuntukan bagi:
- Utang yang telah ada ;
- Utang yang akan timbul di kemudian hari yang telah diperjanjikan dalam jumlah tertentu; atau
- Utang yang pada saat eksekusi dapat ditentukan jumlahnya berdasarkan perjanjian pokok yang menimbulkan kewajiban memenuhi suatu prestasi.
- Utang yang akan timbul dikemudian hari yang dikenal dengan istilah
“kontinjen” misalnya utang yang timbul dari pembayaran yang dilakukan oleh kreditur untuk kepentingan debitur dalam rangka pelaksanaan garansi bank.
Jaminan Fidusia juga dapat diberikan kepada lebih dari satu penerima fidusia atau kepada kuasa atau wakil dari penerima fidusia tersebut (pasal 8 Undang-Undang Jaminan Fidusia). Dalam ketentuan tersebut, dimaksudkan sebagai pemberian fidusia kepada lebih dari satu penerima fidusia dalam rangka pembiayaan kredit konsorsium.33
Hak mendahului diatur dalam pasal 27 Undang-Undang Jaminan Fidusia yang menyatakan penerima fidusia memiliki hak yang didahulukan terhadap kreditur, bahwa hak yang didahulukan sesuai ayat (2) adalah hak penerima fidusia untuk mengambil pelunasan piutangnya atas hasil eksekusi benda yang menjadi obyek jaminan fidusia. Hak yang didahulukan dari penerima fidusia tidak hapus karena adanya kepailitan dan atau likuidasi pemberi fidusia. Hak yang didahulukan dihitung sejak tanggal pendaftaran benda yang menjadi obyek jaminan fidusia pada kantor pendaftaran fidusia. Jaminan Fidusia merupakan hak agunan atas kebendaan bagi pelunasan utang. Disamping itu, ketentuan dalam Undang- Undang tentang Kepailitan menentukan bahwa benda yang menjadi obyek jaminan fidusia berada diluar kepailitan. Selanjutnya pasal 28 Undang- Undang Jaminan Fidusia menjelaskan apabila atas benda yang sama menjadi obyek jaminan fidusia yang lebih dari satu perjanjian jaminan fidusia, maka hak yang didahulukan, diberikan kepada pihak yang lebih dahuklu mendaftarkannya pada kantor pendaftaran fidusia.
e. Perlindungan Hukum Terhadap Pemberi Fidusia
Sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 ayat (2) mengenai pelaksanaan titel eksekutorial oleh penerima fidusia merupakan pelaksanaan dari Pasal 15 ayat (3) Undang-Undang Jaminan Fidusia.
Disebutkan dalam pasal tersebut bahwa apabila debitur cidera janji, maka penerima fidusia mempunyai hak untuk menjual benda yang menjadi objek jaminan fidusia berdasarkan atas kekuasaannya sendiri. Jaminan
33 J, Satrrio, Hukum Jamiman Hak Jaminan Kebendaan Fiducia, PT Citra Aditya Bakti, Bandung, h. 65.
fidusia juga dapat dieksekusi dengan menjual benda yang menjadi jaminan fidusia tersebut dengan syarat:34
a. Antara pembeli dan penerima fidusia telah ada kesepakatan terlebih dahulu
b tercapai harga tertinggi yang menguntungkan para pihak apabila penjualan dilaksanakan dibawah tangan;
c. Diberitahukan secara tertulis oleh pemberi dan penerima fidusia kepada pihak-pihak yang berkepentingan;
d. Diumumkan dalam sedikitnya dalam dua surat kabar (memo) yang beredar di daerah yang bersangkutan;
Disebutkan dalam Pasal 29 Undang-Undang Jaminan Fidusia bahwa jaminan fidusia merupakan suatu ketentuan bersyarat untuk melaksakan eksekusi terhadap jaminan fidusia karena ketentuan tersebut baru berlaku bilamana pemberi fidusia atau debitur cidera janji. Kemudian dalam ketentuan Pasal 17 Undang-Undang Jaminan Fidusia memberikan ketentuan yang melarang pemberi fidusia untuk melakukan fidusia ulang atas benda yang menjadi objek jaminan fidusia yang telah terdaftar di Kantor Pendaftaran Fidusia.”Pada Pasal 23 ayat (2) yang berbunyi bahwa pemberi fidusia dilarang mengalihkan, menggadaikan atau menyewakan kepada pihak lain benda yang menajdi obyek jaminan fidusia yang tidak merupakan benda persediaan, kecuali dengan terlebih dahulu mendapat persetujuan dari penerima fidusia. Terdapat aturan tentang pengaturan mengenai nasabah yang tidak diperbolehkan untuk melakukan pengalihan, penggadaikan dan/atau melakukan penyewaan yang ada didalam Pasal 23 ayat 2 Undang-Undang Nomor 42 Tahun 1999 Tentang Jaminan Fidusia.35
Berdasarkan ketentuan-ketentuan yang disebutkan sebelumnya semakin menegaskan bahwa debitur sebagai pemberi fidusia dilarang untuk menjaminkan kembali obyek yang telah menjadi jaminan fidusia,
34 Munir Fuady. Op.Cit.. h. 61.
35 Luh Gede Pebby Gitasari, Perlindungan Kreditur Penerima Fidusia Atas Musnahnya Benda Yang Menjadi Obyek Jaminan Jurna Kertha Semaya. Denpasar, 2018, h. 45.
jika Perampasan benda jaminan fidusia oleh negara menyebabkan beralihnya penguasaan benda fidusia. Dalam Undang-Undang Jaminan Fidusia tidak mengatur secara rinci mengenai kewajiban debitur dalam hal obyek jaminan fidusia dirampas negara.36
Namun di sisi lain dalam Undang-Undang Jaminan Fidusia secara tertulis belum terdapat aturan yang menegaskan penerima debitur dilarang atau tidak dilarang untuk menjaminkan obyek jaminan fidusia yang telah ada padanya. Secara tersirat dapat ditafsirkan bahwa jaminan fidusia hanya dapat dieksekusi oleh penerima fidusia melalui mekanisme sebagaimana telah disebutkan sebelumnya. Kreditur selaku penerima fidusia tidak serta merta dapat menjaminkan ulang benda jaminan fidusia dalam suatu perjanjian fidusia yang lainnya. Hal ini dikarenakan benda yang telah menjadi objek jaminan tersebut tidak dapat dimiliki sepenuhnya meskipun kreditur berposisi sebagai penerima fidusia. Sehingga dalam hal ini objek jaminan fidusia bukanlah kepemilikan yang sebenarnya dari debitur kepada kreditur melainkan atas jaminan dimana objek jaminan tersebut hanya untuk memberikan rasa aman oleh debitur kepada kreditur atas utang yang dipinjamkannya, sehingga dalam hal sangat tidak mungkin akan adanya penjaminan ulang atas suatu objek fidusia yang sudah didaftarkan.
Apabila dilihat dari sudut pandang lainnya, jaminan fidusia hanya dapat dieksekusi ketika debitur terbukti wanprestasi dengan tidak menunaikan pembayaran utang yang telah jatuh tempo kepada kreditur.
Perjanjian fidusia merupakan accesoir pada perikatan pokoknya, dalam artian perikatan yang sepenuhnya dijamin melalui jaminan fidusia. Maka dengan demikian terdapat suatu konsekuensi bahwa benda jaminan tidak dapat dialihkan tanpa adanya kesepatan untuk mengalihkan dalam perikatan pokoknya. Lebih janut lagi maka cassie yang ada pada perikatan pokoknya, secara tidak langsung berakibat bahwa benda jaminan yang
36 Wayan Kharismawan, Kewajiban Pemberi Fidusia Dalam Hal Obyek Jaminan Fidusia Dirampas. Jurna Kertha Semaya, Denpasar, vol, 9, 3 oktober tahun 2019.
dimaksud turut beralih.37 Dengan kata lain, meski kreditur telah menjadi pemilik atas benda yang dijaminkan tetap kewenangan atas benda tersebut sangatlah terbatas.”Hak kebendaan kreditur atas benda jaminan dengan suatu perjanjian obligatoir, sebab sebagai kreditur atau dalam hal ini penerima fidusia tidak diperkenankan untuk menjual, menggadaikan lagi, menukarkan, bahkan tidak diperkenankan untuk memakai objek jaminan.38 Pembatasan tersebut sesungguhnya dimaksud untuk menegaskan bahwa penyerahan hak milik dari debitur kepada kreditur hanya sebagai jaminan saja sehingga apabila debitur telah melunasi utangnya kepada kreditur maka benda yang dijaminkan wajib untuk dikembalikan.
f. Hapusnya dan Eksekusi Jaminan Fidusia
Mengenai mekanisme/prosedur pelaksanaan eksekusi atas barang yang menjadi jaminan fidusiaa, apabila debitur tidak dapat mengembalikan kreditnya tepat pada waktunya, pada umumnya responden mengatakan, bahwa : Apabila debitur/ pemberi fidusia cidera janji, maka bank harus memberitahukan secara tertulis kepada mereka agar segera menyerahkan objek jaminan fidusia dan debitur wajib menyerahkannya kepada bank.
Setelah barang dikuasai oleh bank, maka tindakan bank selanjutnya melaksanakan eksekusi jaminan fidusia. Mekanisme/prosedur pelaksanaan eksekusi atas barang yang menjadi jaminan fiducia dapat dilakukan dengan cara :
a. Pelaksanaan titel eksekutorial dari Sertifikat jaminan Fidusia (SJF) oleh penerima fidusia. (Dalam Sertifikat Jaminan Fidusia yang dibuat secara Notaril, tercantum kata-kata Demi Keadilan Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa" yang mempunyai kekuatan eksekutorial yang sama dengan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap);
37 J. Satrio, 1996. Hukum Jaminan, Hak-Hak Jaminan Kebendaan. PT. Citra Aditya Bakti.
Bandung. h. 177.
38 Ibid.
b. Penjualan benda yang menjadi obyek jaminan fidusia atas kekuasaan penerima fidusia (Bank) melalui pelelangan umum dan mengambil pelunasan piutangnya dari hasil penjualan
c. Penjualan di bawah tangan yang dilakukan berdasarkan kesepakatan pemberi ( Debitur ) dan penerima fidusia ( Bank ) jika dengan cara demikian dapat diperoleh harga tertinggi yang menguntungkan para pihak. 39
Pelaksanaan penjualan atau pelelangan tersebut baru dapat dilakukan setelah lewat waktu 1 (satu) bulan sejak diberitahukan secara tertulis oleh pemilik barang dan atau bank kepada pihak-pihak yang berkepentingan dan diumumkan sedikitnya dalam 2 surat kabar didaerah yang bersangkutan. Hasil penjualan/pelelangan dipergunakan untuk melunasi kewajiban debitur sehubungan dengan pemberian kredit, dan kelebihannya akan dikembalikan kepada pemilik barang/jaminan. Permasalahan eksekusi ini bagi bank sangat penting, karena sesuai dengan fungsi hak jaminan berkaitan dengan pemberian kredit adalah sebagai “bemper terakhir” agar kredit yang diberikan oleh bank tersebut dapat kembali dan menguntungkan, yaitu dengan cara eksekusi/menjual agunan kredit tersebut dan hasilnya diperuntukkan bagi pelunasan hutang debitur, sedangkan apabila dari hasil penjualan tersebut terdapat sisa setelah digunakan pembayaran hutangnya, maka sisa itu dikembalikan kepada debitur. Selanjutnya jika dari hasil penjualan tersebut terdapat kekeurangan, maka kekurangan tersebut wajib dibayar debitur, namun menggunakan hak yang konkurent berdasarkan pasal 1131 KUHPerdata yang relatif lemah. Dalam kenyataan, hak- hak yang melekat pada agunan kredit tersebut tidak sepenuhnya mudah untuk dilaksanakan.40
39 J. Satrio, Hukum Jaminan Kebendaan Fidusia, PT. Citra Aditya Bakti, Purwokerto, 2002, h. 318.
40 J. Satrio, Hukum Jaminan Kebendaan Fidusia, PT. Citra Aditya Bakti, Purwokerto, 2002, h. 320
Kemudahan-kemudahan itu sebenarnya telah diupayakan misalnya dalam UUHT maupun dalam Undang-Undang Jaminan Fidusia yang isinya dapat dikemukakan sebagai berikut: Pasal 14 ayat 2 UU Hak Tanggungan dan Pasal 15 ayat 2 UU Jaminan Fidusia yang menyebutkan dalam Sertifikanya berirah-irah “DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA”; Pasal 14 ayat 3 UUHT dan Pasal 15 ayat 2 Undang-Undang Jaminan Fidusia disebutkan bahwa Sertifikat Hak Tanggungan tersebut mempunyai kekuatan eksekutorial yang sama dengan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum yang tetap; Pasal 20 UUHT dan Pasal 29 Undang-Undang Jaminan Fidusia isinya menyatakan bahwa apabila debitur cidera janji,maka obyek jaminan dapat dilakukan; dengan cara pelaksanaan titel eksekutorial (seperti telah mempunyai kekuatan hukum yang tetap); menjual sendiri melalui pelelangan umum; atas kesepakatan kedua belah pihak dapat menjual di bawah tangan.41
Sekalipun jelas sekali undang-undang mengatur mengenai kemudahan bagi kreditur untuk melakukan penjualan obyek jaminan kredit tersebut baik yang dilakukan melalui kantor lelang maupun penjualan di bawah tangan, akan tetapi dalam praktek hal tersebut masih terdapat kendala yaitu masih diperlukan Eksekusi dari Pengadilan. Berdasarkan penjelasan pasal 14 ayat 2 dan 3 UU Hak Tanggungan sebagaimana telah dikelaskan di atas, bahwa terdapat kata-kata “melalui tata cara dan dengan menggunakan lembaga parate executif sesuai dengan peraturan Hukum Acara Perdata”. Ini berarti sekalipun debitur telah cidera mata dapat dilakukan. Dalam praktek pihak kantor lelang akan meminta adanya fiat pengadilan mengenai eksekusi jaminan kredit tersebut. Tanpa adanya penetapan pengadilanmengenai eksekusi jaminan kredit tersebut, pelaksanaan penjualan akan mengalami kesulitan dan masih terdapat
“permasalahan hukum”. Sering kali terjadi, walaupun pengadilan telah menetapkan adanya eksekusi atas obyek jaminan kredit, pihak debitur
41 Ibid., h. 320.
mengadakan upaya bantahan mengenai penetapan eksekusi tersebut dengan alasan-alasan yang dapat diterima hakim. Hal demikian juga akan memperpanjang pelaksanaan eksekusi jaminan kredit.42
Sesuai dengan penjelasan pasal 8 UU Perbankan yang telah diuraikan di atas jaminan kredit terdiri dari jaminan pokok dan jaminan tambahan. Jaminan pokok adalah obyek yang dibiayai dengan kredit tersebut. Dalam praktek jaminan pokok ini terutama dalam kredit modal kerja adalah barang-barang inventory berupa tagihan-tagihan, barang persediaan, bahan baku, dan sebagainya. Sekalipun telah diadakan berbagai upaya, misalnya dengan pengecekan dengan cara fisik (on the spot) dan penelitian laporan-laporan (on desk), namun karena fluktuasi barang inventory tersebut relatif cepat dan sulit dimonitor, maka bank kesulitan untuk menentukan kepastian jumlahnya. Pada saat debitur cidera janji masalah tersebut akan muncul, karena jumlah barang dagangan tersebut ternyata sudah menjadi sangat kecil, demikian pula tagihan yang ada dibanding dengan kredit yang diberikan, sekalipun ditambah dengan jaminan tambahan. Dalam posisi demikan bank akan mengalami pilihan dilematis, apabila jaminan tersebut dijual, tidak dapat menutup keseluruhan hutangnya kepada Bank. Apabila usaha dari kreditur tersebut dinilai masih layak, maka bank biasanya akan menggunakan penjadwalan kembali cicilan hutang atau penurunan suku bunga kredit. Hal ini semata - mata ditempuh untuk mengurangi kerugian yang lebih besar. Dengan adanya Undang-Undang Jaminan Fidusia ini masalah tersebut khususnya yang berkaitan dengan jaminan berupa barang-barang yang menjadi obyek jaminan fidusia telah mendapatkan perhatian, sehingga dapat mengurangi risiko bank.
Hal-hal yang harus dilakukan untuk dapat melaksanakan penghapusan/pencoretan jaminan fldusia, apabila debitur telah mengembalikan kredit sesuai dengan perjanjian, berdasarkan data analisis
42 Ibid., h. 321.
hasil penelitian lapangan menunjukkan bahwa, pada umumnya responden mengetakan, bahwa :
• Penerima Fidusia ( Bank ) memberitahukan kepada Kantor Pendaftaran Fidusia mengenai hapusnya jaminan Fidusia dengan melampirkan pernyataan bahwa kredit / pinjaman pemberi Fidusia (debitur) telah lunas.
• Berdasarkan pemberitahuan dari Bank sebagaimana tersebut pada point a, kantor Pendaftaran Fidusia (KPF) mencoret pencatatan Jaminan Fidusia dari Buku Daftar Fidusia.
•Kantor Pendaftaran Fidusia (KPF) menerbitkan surat keterangan yang menyatakan Sertifikat Jaminan Fidusia tidak berlaku lagi. Apabila fasilitas kreditnya telah dilunasi atau barang dimaksud bukan lagi menjadi objek jaminan fidusia (karena diganti), maka bank wajib mengembalikan bukti kepemilikan atas barang/objek jaminan fidusia kepada dibitur/pemberi fidusia/pemilik jaminan dan disertai dengan surat roya yang ditujukan kepada KPF.43
4. Perlindungan Hukum
a. Pengertian Perlindngan Hukum
Istilah perlindungan hukum dalam bahasa inggris dikenal dengan legal protection, sedangkan dalam bahasa belanda dikenal dengan Rechts bescherming. Perlindungan hukum merupakan hak setiap warga negara, dan dilain sisi bahwa perlindungan hukum merupakan kewajiban bagi negara itu sendiri, oleh karenanya negara wajib memberikan perlindungan hukum kepada warga negaranya. Pada prinsipnya perlindungan hukum terhadap masyarakat bertumpu dan bersumber pada konsep tentang pengakuan dan perlindungan terhadap harkat, dan martabat sebagai manusia. Sehingga pengakuan dan perlindungan terhadap hak tersangka sebagai bagian dari hak asasi manusia tanpa membeda-bedakan.
43 J Satrio, Hukum Jaminan Hak-Hak Jaminan Kebendaa, Bandung, PT Citra Aditya, 1993, h. 241.
Menurut Setiono, perlindungan hukum adalah tindakan atau upaya untuk melindungi masyarakat dari perbuatan sewenang-wenang oleh penguasa yang tidak sesuai dengan aturan hukum, untuk mewujudkan ketertiban dan ketentraman, sehingga memungkinkan manusia untuk menikmati martabatnya sebagai manusia.44
Sedangkan Satjipto Raharjo mengemukakan bahwa perlindungan hukum adalah memberikan pengayoman terhadap hak asasi manusia (HAM) yang dirugikan orang lain dan perlindungan itu di berikan kepada masyarakat agar dapat menikmati semua hak-hak yang diberikan oleh hukum.45 Karena sifat sekaligus tujuan hukum menurutnya adalah memberikan perlindungan (pengayoman) kepada masyarakat, yang harus diwujudkan dalam bentuk adanya kepastian hukum. Perlindungan hukum merupakan tindakan bagi yang bersifat preventif dan represif.
Sehingga berdasarkan uraian dan pendapat para pakar di atas dapat simpulkan bahwa perlindungan hukum adalah perbuatan untuk melindungi setiap orang atas perbuatan yang melanggar hukum, atau melanggar hak orang lain, yang dilakukan oleh pemerintah melalui aparatur penegak hukumnya dengan menggunakan cara-cara tertentu berdasarkan hukum atau peraturan perundang-undangan yang berlaku sebagai upaya pemenuhan hak bagi setiap warga negara, termasuk atas perbuatan sewenang-wenang yang dilakukan oleh penguasa (aparatur penegak hukum itu sendiri).
b. Jenis-Jenis Perlindungan Hukum
Perlindungan hukum pada hakekatnya setiap orang berhak mendapatkan perlindungan dari hukum hampir seluruh hubungan hukum harus mendapat perlindungan dari hukum. Oleh karena itu terdapat jenis- jenis perlindungan hukum yang cukup sering didengar adalah perlindungan hukum terhadap konsumen.
44 Setiono, 2004, Rule Of Law (Supremasi Hukum), Surakarta, Magister Ilmu Hukum Pasca Sarjana Univeristas Sebelas Maret, h. 3.
45 Satijipto Raharjo, 2000, Ilmu Hukum, Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, h.53.
Menurut Philipus M. Hadjon, bahwa sarana perlindungan hukum ada dua macam, yaitu :46
a. Perlindungan Hukum Preventif
Pada perlindungan hukum preventif ini, subyek hukum diberikan kesempatan untuk mengajukan keberatan atau pendapatnya sebelum suatu keputusan pemerintah mendapat bentuk yang definitif. Tujuannya adalah mencegah terjadinya sengketa. Perlindungan hukum preventif sangat besar artinya bagi tindak pemerintah yang didasarkan pada kebebasan bertindak karena dengan adanya perlindungan hukum yang preventif pemerintah terdorong untuk bersifat hati-hati dalam mengambil keputusan yang didasarkan pada diskresi. Di Indonesia belum ada pengaturan khusus mengenai perlindungan hukum preventif.
b. Sarana Perlindungan Hukum Represif
Perlindungan hukum yang represif bertujuan untuk menyelesaikan sengketa. Penanganan perlindungan hukum oleh Pengadilan Umum dan Pengadilan Administrasi di Indonesia termasuk kategori perlindungan hukum ini. Prinsip perlindungan hukum terhadap tindakan pemerintah betumpu dan bersumber dari konsep tentang pengakuan dan perlindungan terhadap hak-hak asasi manusia karena menurut sejarah dari barat, lahirnya konsep-konsep tentang pengakuan dan perlindungan terhadap hak-hak asasi manusia diarahkan kepada pembatasan- pembatasan dan peletakan kewajiban masyarakat dan pemerintah.
Prinsip kedua yang mendasari perlindungan hukum terhadap tindak pemerintahan adalah prinsip Negara hukum. Dikaitkan dengan pengakuan dan perlindungan terhadap hak-hak asasi manusia, pengakuan dan perlindungan terhadap hak-hak asasi manusia mendapat tempat utama dan dapat dikaitkan dengan tujuan dari Negara hukum.47
46 Philipus M. Hadjon, Perlindungan Bagi Rakyat di Indonesia, PT.Bina Ilmu, Surabaya ,1987, h.4.
47 Philipus M. Hadjon, Perlindungan Bagi Rakyat di Indonesia, op.cit, h.5.
c. Hubungan Hukum Pemberi Fidusia
Sebagaimana dimaksud pasal 2 Undang-Undang Jaminan Fidusia bahwa setiap benda jaminan fidusia didasarkan pada perjanjian. Ketentuan yg dimaksud dapat kita ketahui bahwa dalam fidusia terjadi hubungan hukum antara kreditur dan debitur dikarenakan adanya perjnajian itu.
perjanjian adalah hukum tertinggi bagi masing-masin pihak yang melaksanakanya, untuk itu harus mengacu pada pasal 1320 KUHPerdata karena 1320 titik acuan syarat sah terjadiya perjanjian. Oleh sebab itu klasula apa yg diperjanjikan antara itu sendiri.
B. Hasil Penelitian 1. Kasus Posisi
Kasus berawal pada saat Desta Widyatama (Penggugat 1), yang merupakan suami dari Dea Arum Gunadi (Penggugat 2), sepakat mengadakan perjanjian pembiayaan kendaraan bermotor (mobil) dengan PT. Astra Sedaya Finance (Tergugat) pada tanggal 1 September 2009.
Sejak angsuran ke-1 hingga angsuran ke-37 penggugat tidak pernah terlambat ataupun lalai dalam memenuhi kewajibannya kepada tergugat.
Namun pada angsuran ke-37 (September 2012), telah terjadi peristiwa penipuan/penggelapan terhadap mobil tersebut pada hari Jumat, 28 September 2012 sekitar Pukul 13.30 WIB, mobil tersebut dibawa kabur oleh Dani alias Ncek yang kemudian diketahui sebagai penyewa mobil tersebut. Atas kejadian tersebut, penggugat melalui orang tuanya bernama Temmy telah melaporkan ke pihak yang berwajib (Polsek Jatiuwung) pada hari Jumat tanggal 5 Oktober 2012 jam 19.00 WIB (Laporan polisi Nomor:
LPB / 980 / X / PMJ / RESTRO TNG / SEK JATI).
Walaupun mobil penggugat telah hilang, namun penggugat tetap melaksanakan kewajibannya yaitu membayar angsuran hingga angsuran ke-39 dengan keyakinan bahwa mobil tersebut akan kembali/ditemukan.
Pada Desember 2012, penggugat melaporkan hal ini kepada tergugat yang memerintahkan penggugat untuk melaporkan hal ini kepada pihak asuransi (Garda Oto). Namun pihak asuransi menolak dengan alasan bahwa hal ini adalah penipuan sehingga asuransi tidak bisa di klaim.
Kemudian penggugat kembali kantor tergugat untuk menemui bagian penagihan yang dimana penggugat menyampaikan bahwa mobil tersebut hilang dan telah dilaporkan ke pihak kepolisian. penggugat juga menyampaikan permohonannya kepada Tergugat untuk memberikan keringanan terkait pembayaran angsuran tersebut namun permohonan tersebut di tolak oleh tergugat. Pada akhirnya tergugat dan penggugat mengambil keputusan untuk mencari bersama-sama mobil tersebut dan bilamana ketemu mobil tersebut maka akan penggugat lunasi angsurannya berikut konsekuensinya. Pada tanggal 12 Desember 2012, penggugat juga mengajukan blokir ke Seksi BPKB Subdit Regident Direktorat lantas Polda Metro Jaya.
Sekitar satu tahun lima bulan lamanya, tiba-tiba datanglah dua orang yang tidak dikenal ke rumah Penggugat yang mengaku dari pihak asuransi.
Mereka menanyakan perihal pemblokiran mobil tersebut. Kedua orang tersebut bertemu dengan orang tua penggugta dikarenakan penggugat pada saat itu tidak berada ditempat. Kedua orang tersebut sempat menelepon penggugat namun tidak memberikan keterangan apapun. Keesokan harinya, Orang tua penggugat mendapat telepon dari polsek Jatiuwung yang meminta agar penggugat datang ke Polsek dikarenakan adanya informasi mengenai mobil tersebut.
Saat di Polsek, Bapak Iman Santoso (salah satu polisi yang berkerja di Polsek Jatiuwung) mengatakan jika kemarin ada dua orang laki-laki yang menanyakan perihal mobil Penggugat yang hilang. Dari informasi ke dua orang tersebut, mereka telah membeli mobil tersebut sebesar Rp 112.000.000,- (seratus dua belas juta rupiah) dari hasil lelang dan tidak dapat membayar pajak dikarenakan telah diblokir oleh Samsat. Atas
kejadian tersebut, Pihak Polsek Jatiuwung memerintahkan penggugat untuk memastikan hal ini kepada tergugat.
Pada tanggal 20 Januari 2014, penggugat mendatangi tergugat dan mengetahui bahwa mobil tersebut tidak dilelang tetapi ada pihak yang melunasi angsuran pokok sebesar Rp 33.000.000,- (tiga puluh tiga juta rupiah), denda Rp 6.000.000,- (enam juta rupiah), totalnya adalah Rp 39.000.000,- (tiga puluh Sembilan juta rupiah) dan diketahui bahwa BPKB mobi tersebut sudah ada yang mengambil dan tidak lagi berada dibawah penguasaan tergugat.
Pada tanggal 12 Febuari 2014, penggugat memperoleh surat keterangan mengenai pelunasan atas nama DESTA WIDYATAMA sesuai dengan nomor perjanjian kontrak 01100162000952203 pada tanggal 31 Juli 2013 sebesar Rp 39.000.000,- (tiga puluh Sembilan juta rupiah) dari pihak tergugat. Atas hal ini penggugat merasa dirugikan dikarenakan BPKB penggugat dialihkan kepada pihak lain karena penggugat tidak pernah merasa telah melunasi maupun memberikan surat kuasa pengambilan BPKB ke pihak-pihak lain.
Setelah serangkaian persidangan dilalui, Majelis Hakim dalam Putusan Pengadilan Negeri Nomor 128/Pdt.G/2014/PN.Jkt.Sel.
menyatakan bahwa tergugat telah melakukan perbuatan melawan hukum terhadap Pihak penggugat dan memenangkan pihak penggugat dikarenakan penggugat telah berhasil membuktikan dalil gugatannya bahwa tergugat telah mangalihkan BPKB mobil yang seharusnya dimiliki oleh penggugat kepada pihak lain tanpa persetujuan maupun sepengetahuan penggugat.
Yang menjadi fokus dalam penulisan ini adalah fakta bahwa kreditur telah mengalihkan BPKB ke pihak lain tanpa sepengetahuan debitur dan debitur tidak mengenal pihak lain tersebut. Dalam kasus ini apakah perlindungan untuk debitur sudah terpenuhi apa belum
2. Tabel Perbandingan Putusan
No
Penggugat, Terbanding Termohon
Kasasi
Putusan Nomor 128/Pdt.G/2014/PN.Jkt.Sel
Putusan Nomor 275/PDT/2015/PT.DKI
Putusan Nomor 1271 K/Pdt/2016 1. Gugatan • Menerima gugatan Penggugat
Rekonpensi seluruhnya.
• Menyatakan bahwa Penggugat adalah orang yang paling berhak atas sebuah mobil Daihatsu New Xenia XI MC 1 TON MB Warna Hitam.
• Gugatan Penggugat diterima oleh Hakim bahwa Terguggat terbukti melakukan perbuatan melawan hukum Pasal 1365 KUHPerdata.
• Menerima permohonan banding dari Pembanding semula Tergugat.
• Menguatkan putusan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan Nomor:
128/Pdt.G/2014/PN.Jkt.Sel.
• Menolak permohonan Kasasi PT Astra Sedaya Finance.
• Memperbaiki amar putusan Pengadilan Tinggi Jakarta Nomor 275/PDT/2015/PT.DKI
• Dalam Eksepsi; Menolak eksepsi Tergugat
• Dalam Pokok Perkara; Menerima gugatan Penggugat (debitur) untuk sebagian, Menyatakan Tergugat (kreditur) telah melakukan Perbuatan Melawan Hukum Pemohon Kasasi semula Tergugat.
2. Dasar
Pertimbangan hakim
1. bahwa terhadap bantahan tergugat yang menyatakan bahwa pihak yang telah melunasi sebesar angsuran pokok ditambah denda adalah diluar sepengetahuan dan diluar kewenangan tergugat, menurut Majelis Hakim merupakan
1.Bahwa materi keberatan Pembanding semula Tergugat tersebut pada prinsipnya telah dipertimbangkan dengan benar, sehingga oleh Majelis Hakim tingkat banding berpendapat bahwa putusan
1.Penggugat dan tergugat terikat dengan perjanjian pembiayaan dengan jaminan fidusia, dan penggugat sudah melakukan pembayaran angsuran hingga ke 39 dari total 48 kali angsuran 2. perbuatan tergugat menerima
suatu alasan yang janggal, karena untuk melunasi sisa angsuran yang belum dibayar oleh penggugat pastilah orang yang membayar datang ke kantor tergugat untuk mengetahui jumlah yang pasti berdasarkan data yang ada, demikian pula untuk penyerahan BPKB tentu disertai tanda bukti penerimaan dari yang bersangkutan 2.Bahwa berdasarkan dalil penggugat yang tidak dibantah oleh Tergugat bahwa masalah hilangnya mobil telah diberitahukan oleh penggugat kepada tergugat.
3.Karena hubungan hukum yang terjadi sebagaimana dalam Perjanjian Pembiayaan Dengan Jaminan Fidusia No. Perjanjian : 01.100.162.00.095220.3, tanggal 1 September 2009 adalah antara penggugat dan tergugat, sementara tergugat telah tahu bahwa mobil obyek jaminan fidusia telah hilang karena digelapkan orang, maka tindakan tergugat menerima pelunasan
perkara a quo sudah tepat dan benar serta beralasan hukum, dan oleh Majelis Hakim tingkat banding disetujui dan diambil alih sebagai pertimbangan sendiri dalam memutus perkara ini, serta menjadi bagian dari dan telah termasuk dalam putusan ini 2.Bahwa berdasarkan Fakta
persidangan bahwa
pembanding telah
memberikan BPKB kepada orang lain tanpa sepengetahuan dan mengatasnamakan
Terbanding.
pelunasan mobil dan menyerahkan BPKB mobil objek jaminan fidusia kepada orang lain tanpa sepengetahuan penggugat adalah perbuatan melawan hukum, karena ketika objek jaminan tersebut hilang sudah dilaporkan oleh penggugat kepada tergugat dan pihak kepolisian
angsuran mobil atas nama penggugat Destya Widyatama selaku debitur dan menyerahkan BPKB ke pihak lain tanpa sepengetahuan dan seijin penggugat selaku pemilik adalah merupakan perbuatan melawan hukum yang merugikan Para Penggugat
4. Bahwa berdasarkan pertimbangan tersebut diatas maka dalil gugatan penggugat bahwa tergugat telah melakukan perbuatan melawan hukum.
3. Putusan 1. Dalam Konspensi menolak eksepsi dari Tergugat (kreditur).
2. Dalam Pokok Perkara menerima gugatan Penggugat untuk sebagian; menyatakan bahwa Penggugat adalah orang yang paling berhak atas sebuah mobil New Daihatsu Xenia XI MC 1 TON MB, Warna : Hitam Metalik, Tahun : 2009, No.
Rangka : -MHKV1
8A2J9K041612, No. Mesin : DE45891 atas nama DEA ARUM GUNADI;
1.Menerima permohonan banding dari Pembanding semula Tergugat;
2.Menguatkan putusan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan Nomor: 128/Pdt.
G/2014/PN.Jkt. Sel. Tanggal 16 September 2014 yang dimohonkan banding tersebut;
3.Menghukum Pembanding semula Tergugat untuk membayar biaya perkara dalam kedua tingkat
1. Menolak permohonan Kasasi PT.
Astra Sedaya Finance;
2. Memperbaiki amar Putusan Pengadilan Tinggi Jakarta Nomor 275/PDT/2015/PT.DKI. tanggal 18 Agustus 2015 yang menguatkan Putusan Pengadilan Negeri Jakarta Selatanb Nomor 128/Pdt.G.2014/PN.Jkt.Sel
tanggal 16 September 2014;
3. Menghukum Pemohon
Kasasi/Tergugat/Pembanding untuk membayar biaya perkara dalam semua tingkat peradilan
3. Menyatakan tergugat telah melakukan perbuatan melawan hukum;
4. Menghukum Tergugat untuk mengganti kerugian kepada Penggugat sebesar Rp.
168.690.000,-
5. Dalam Rekonpensi, Menolak gugatan Penggugat seluruhnya;
6. DALAM KONPENSI DAN REKONPENSI Menghukum Tergugat Konpensi / Penggugat Rekonpensi membayar biaya perkara sebesar Rp. 516.000,-
pengadilan, yang untuk tingkat banding ditetapkan sebesar Rp.150.000.- (seratus lima puluh ribu rupiah);
yang pada tingkat kasasi ini
ditetapkan sejumlah
Rp500.000,00 (lima ratus ribu rupiah);
3. Analisis
UUJF sebagai yang disebutkan pada tinjauan sub bab 2 bertujuan untuk memberikan suatu pengaturan yang lebih lengkap dari selama ini yang ada, dan sejalan dengan itu hendak memberikan perlindungan yang lebih baik bagi pihak yang berkepentingan. Dalam penjelasan atas UUJF selain hendak menampung kebutuhan didalam yang selama ini ada juga hendak memberikan kepastian hukum kepada pihak-pihak yang berkepentingan.
Dengan diundangkannya Undang-Undang Nomor 42 Tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia, maka pembuat undang-undang kita sudah memilih untuk mengatur fidusia dalam bentuk tertulis. Dikeluarkannya Undang- Undang Jaminan Fidusia merupakan pengakuan resmi dari pembuat undang- undang akan lembaga jaminan fidusia, yang selama ini baru memperoleh pengakuannya melalui yurisprudensi. Lembaga jaminan timbul didasari adanya keinginan untuk menuntut kepastian hukum atas utang yang timbul dari perjanjian kredit pada lembaga perbankan sebagai kreditur, dan untuk memberikan kepercayaan akan kemampuan mengembalikan pinjaman meskipun dalam kondisi ketidakmampuan dari debitur. Penanggungan jaminan seperti yang disebutkan diatas memang diperlukan oleh kreditur, karena dalam suatu perikatan antara kreditur dan debitur, pihak kreditur mempunyai suatu kepentingan bahwa debitur memenuhi kewajibannya dalam perikatan tersebut. Pada perikatan antara kreditur dan debitur, sudah adanya hak dan kewajiban masing-masing yang harus dilaksanakan.
Kewajiban Pemberi Fidusia yakni
1. Pemberi Fidusia dilarang meminjamkan, menyewakan, mengalihkan atau menyerahkan penguasaan, penggunaan atau mengubah penggunaan atas objek jaminan;
2. Pemberi Fidusia wajib untuk membayar seluruh hutang sesuai dengan yang diperjanjikan;
3 Pemberi Fidusia wajib untuk memelihara Objek Jaminan dengan sebaik-baiknya;
4. Pemberi Fidusia wajib mengurus, menyelesaikan, dan membayar tuntutan, gugatan atau tagihan tersebut atas biaya dan tanggung jawab Pemberi Fidusia.48
Apabila lalai atas kewajibanya, maka Pemberi Fidusia harus menanggung semua risiko terhadap kerusakan, kehilangan, kecelakaan, kerugian, dan lain-lainnya terhadap Objek Jaminan; Pemberi Fidusia harus melepaskan hak atas Objek Jaminan Fidusia; Pemberi fidusia Wajib menyerahkan benda yang menjadi Jaminan Fidusia dalam rangka pelaksanaan eksekusi Jaminan Fidusia; dan Penerima Fidusia berhak untuk secara langsung mengambil atau menarik kembali (penguasaan) objek Jaminan.49 Untuk itu bagaimana jika kewajiban yang dilakukan debitur sudah dilaksanakan sesusi dengan apa yang di undang-undangkan, berbalik kepada penerima fidusia yang mana mengalihkan objek fidusia dan menerima piutang pada debitur lain atau pelunasan orang lain.
Pada kasus Putusan No.128/Pdt.G/2014/PN.Jkt.Sel yang terkait dengan sesuai sub bagian tinjauan pustaka yang mana hak dan kewajiban suatu perikatan adanya perkara Perbuatan Melawan Hukum (PMH) antara Desta Widyatama (penggugat 1), yang merupakan suami dari Dea Arum Gunadi (penggugat 2), sepakat mengadakan perjanjian pembiayaan kendaraan bermotor (mobil) dengan PT. Astra Sedaya Finance (tergugat) dapat dilihat dari fakta hukum dalam kutipan putusan halaman 27 yaitu :
“bahwa terhadap bantahan tergugat yang menyatakan bahwa pihak yang telah melunasi sebesar angsuran pokok ditambah denda adalah diluar sepengetahuan dan diluar kewenangan tergugat, menurut Majelis Hakim merupakan suatu alasan yang janggal, karena untuk melunasi sisa angsuran yang belum dibayar oleh penggugat pastilah orang yang membayar datang ke kantor tergugat
48 J, Satrrio, Hukum Jamiman Hak Jaminan Kebendaan Fiducia, PT Citra Aditya Bakti, Bandung, h. 48.
49 Ibid.,
untuk mengetahui jumlah yang pasti berdasarkan data yang ada, demikian pula untuk penyerahan BPKB tentu disertai tanda bukti penerimaan dari yang bersangkutan”.50
Jika diamati kutipan putusan tersebut, di mana seharusnya tergugat yaitu PT. Astra Sedaya Finance bertanggung jawab atas penyimpanan barang jaminan BPKB tersebut hingga pembayaran yang dilakukan debitur lunas baru dapat diberikan akan tetapi kreditur (tergugat) menyerahkan hak kepemilikan debitur kepada pihak lain yaitu yang tidak memiliki hubungan hukum dengan si debitur tersebut, mengetahui hal itu maka penggugat yaitu Dea dan Desta menggugat kreditur itu. Perbuatan PT. Astra Sedaya Finance yang menyerahkan hak kepemilikannya kepada pihak lain yang berakibatkan rugi secara materil atau merasa dirugikan ditentukan Pasal 1365 KUHPerdata “Tiap perbuatan yang melanggar hukum dan membawa kerugian keapda orang lain, mewajibkan orang yang menimbulkan kerugian itu karena kesalahannya untuk mengganti kerugian tersebut.”51 Jika dilihat dari teori keadilan sangat tidak adil apabila tergugat merasa dirugikan dan tidak mendapatkan haknya.
Selanjutnya pada kutipan putusan hal 27:
“bahwa karena hubungan hukum yang terjadi sebagaimana dalam Perjanjian Pembiayaan Dengan Jaminan Fidusia No. Perjanjian : 01.100.162.00.095220.3, tanggal 1 September 2009 adalah antara penggugat dan tergugat, sementara tergugat telah tahu bahwa mobil obyek jaminan fidusia telah hilang karena digelapkan orang, maka tindakan tergugat menerima pelunasan angsuran mobil atas nama penggugat Destya Widyatama selaku debitur dan menyerahkan BPKB ke pihak lain tanpa sepengetahuan dan seijin penggugat selaku pemilik adalah merupakan perbuatan melawan hukum yang merugikan Para Penggugat”
50 Hal 27 dari 32 Hal Putusan No. 128/Pdt.G/2014/PN.Jkt.Sel.
51 Pasal 1365 Kita Undang-Undang Hukum Perdata.
Dari kutipan putusan diatas tergugat mengetahui adanya mobil tersebut hilang karena digelapkan, dan ada orang yang melunasi angsuran debitur tersebut, mengapa tergugat selaku kreditur mau menerima pelunasan dari orang yang bukan debitur itu sendiri. Dari sini penulis melihat adanya penerimaan angsuran dari pihak lain yang mana tanpa seijin dan sepengetahuan penggugat (debitur) serta juga pihak lain ini tidak memiliki hubungan hukum dengan debitur disini penggugat sudah melaksanakan kewajibannya membayar penuh angsuran tanpa macet.
Dengan hal ini maka adannya merugikan penggugat.
Hakim berdasarkan pada pertimbangannya memutuskaan bahwa kreditur telah melakukan perbuatan melawan hukum, kenapa tidak wanprestasi karena apa yang diperjanjikan kedua belah pihak tidak ada melanggar isi perjanjian keduanya mentaati dan melaksanakan perjanjian tersebut, hanya halnya kreditur melakukan kelalaian yang menyebabkan kerugian orang lain yaitu debitur. Dikarenakan hakim telah mengunakan alat-alat bukti yang ditampilkan oleh ketertangan saksi oleh pengggugat, surat-surat bukti pembayaran dan perjanjian. Pertimbangan hakim juga didukung fakta hukum yang ada yaitu seperti pada putusan halaman 27, serta juga saksi yang tidak bisa dipanggil oleh tergugat dan jugab bukti surat kuasa jika emang adanya surat kuasa pelunasan otentik oleh penggugat degan demikian hakim sudah dapat menyatakan bahwa tergugat (PT. Astra Sedaya Finance) melakukan perbuatan melwan hukum serta juga untuk membayar kerugian materil.
Pada tingkat banding yang mana sebelumnya di Pengadilan Negeri yang dimenangkan oleh debitur sebelumnya (penggugat), disini PT. Astra Sedaya Finance sebelumnya (tergugat) melakukan upaya hukum tingkat banding. Adapun pokok perkara pada no. 10 halaman 5 emang jika fakta hukum bahwa kreditur memang sudah tepat dan sah secara hukum dengan seiijin debitur, mengapa tidak adanya bukti otentik surat kuasa pembayaran atas nama debitur dan juga tidak adanya saksi ketika hakim
menanyakan bukti-bukti pada tingak Pengadilan Negeri, dari sini kreditur membalikan fakta peristiwa hukum yang ada.
Selanjutnya pada putusan Pengadila Tinggi halaman 10:
“ materi keberatan Pembanding semula Tergugat tersebut pada prinsipnya telah dipertimbangkan dengan benar, sehingga oleh Majelis Hakim tingkat banding berpendapat bahwa putusan perkara a quo sudah tepat dan benar serta beralasan hukum, dan oleh Majelis Hakim tingkat banding disetujui dan diambil alih sebagai pertimbangan sendiri dalam memutus perkara ini, serta menjadi bagian dari dan telah termasuk dalam putusan ini”
Dari kutipan diatas hakim menguatkan putusan Pengadilan Negeri yang harus dikuatkan.
Pada putusan Mahkamah Agung kreditur (pembanding) melakukan upaya hukum tingkat kasasi. Pada halaman 22 menyatakan bahwa;
“ penggugat dan tergugat terikat dengan perjanjian pembiayaan dengan jaminan fidusia, dan penggugat sudah melakukan pembayaran angsuran hingga ke 39 dari total 48 kali angsuran”.
Dari kutipan diatas penulis tahu bahwa perjanjian tersebut sudah disepakati hak dan kewajiban para pihak yang mana kewajibannya debitur membayar hingga lunas sesuai apa yang diklausulakan, disni debitur sudah melaksanakan kewajibannya dengan baik sehingga disini tidak ada perbuatan yang melanggar ataupun wanprestasi yang dilakukan debitur.
Kutipan lainnya;
“ perbuatan tergugat menerima pelunasan mobil dan menyerahkan BPKB mobil objek jaminan fidusia kepada orang lain tanpa sepengetahuan penggugat adalah perbuatan melawan hukum, karena ketika objek jaminan tersebut hilang sudah dilaporkan oleh penggugat kepada tergugat dan pihak kepolisian”
Adapun kutipan diatas perbuatan hukum ialah perbuatan yang merugikan orang lain, dengan kata lain apa yang diperbuat yang mana