• Tidak ada hasil yang ditemukan

Adaptasi Budaya

Dalam dokumen MAKALAH SOSIO BUDAYA DASAR KLP (Halaman 31-39)

BAB 2 PEMBAHASAN

A. Hubungan Kebudayaan dan Kesehatan

5. Adaptasi Budaya

Proses adaptasi antarbudaya didefinisikan sebagai tingkat perubahan yang terjadi ketika individu pindah dari lingkungan yang dikenalnya ke lingkungan yang kurang dikenal. Proses ini melibatkan perjalanan lintas batas budaya.

Faktor-Faktor Antecedent Adaptasi antarbudaya mengacu pada proses perubahan yang berkaitan dengan identitas yang terjadi secara meningkat yang terjadi pada para penduduk musiman dan imigran di lingkungan baru.

Penyesuaian mengacu pada proses adaptif jangka pendek dan menengah yang dilakukan para penduduk musiman dalam masa penugasan mereka di luar negeri.

Istilah akulturasi digunakan dalam literatur antarbudaya untuk menggambarkan proses perubahan jangka panjang para imigran dan pengungsi saat beradaptasi dengan tempat tinggal baru mereka.

Enkulturasi, pada sisi lain, kerap mengacu pada proses sosialisasi primer terus-menerus para orang asing di budaya asal mereka di mana mereka telah menginternalisasikan nilai-nilai budaya utama.

Ada tiga faktor antecedent yang biasanya mempengaruhi proses adaptasi para pendatang: faktor di level sistem, level individu, dan interpersonal.

1) Faktor-Faktor di Level Sistem

Faktor-faktor di level sistem adalah faktor-faktor yang ada di lingkungan yang didatangi yang mempengaruhi para adaptasi pendatang baru terhadap budaya baru. Ada lima observasi yang terkumpul berdasarkan temuan dari riset adaptasi yang tersedia.

a) Pertama, keadaan sosioekonomi budaya yang didatangi mempengaruhi iklim adaptasi. Keadaan yang makmur akan membuat para anggota budaya tersebut lebih toleran terhadap pendatang baru.

b) Kedua, pendirian sikap budaya yang didatangi berkaitan dengan asimilasi budaya atau pluralisme budaya menghasilkan efek tak langsung pada kebijakan-kebijakan institusional terhadap proses adaptasi para pendatang baru. Pendirian asimilasi budaya menuntut konfirmitas lebih tinggi dari para orang asing dalam beradaptasi dengan lingkungan yang didatangi dibandingkan dengan pendirian pluralis budaya.

c) Ketiga, institusi lokal berperan sebagai agensi kontak pertama yang memfasilitasi atau menghambat proses adaptasi para penduduk musiman atau imigran.

d) Keempat, definisi makna budaya yang didatangi soal peran para pendatang dapat mempengaruhi proses awal dari adaptasi para penduduk musiman dan imigran.

e) Kelima, jarak budaya antara kedua budaya--milik para pendatang dan tuan rumah--berdampak kuat pada adaptasi para pendatang.

2) Faktor-Faktor di Level Individu

Di level individu, ada faktor-faktor yang mempengaruhi adaptasi antarbudaya: motivasi individual, ekspektasi individual, pengetahuan berdasarkan interaksi dan pengetahuan budaya, dan atribut pribadi.

Orientasi motivasi pendatang baru untuk meninggalkan tempat asalnya dan memasuki satu budaya baru memiliki pengaruh yang tak terhindarkan pada mode-mode adaptasinya.

Ekspektasi individual pun dipandang secara luas sebagai satu faktor krusial dalam proses adaptasi antarbudaya. Ekspektasi mengacu pada proses antisipatori dan hasil prediktif dari situasi yang akan datang.

Pengetahuan budaya dan pengetahuan berdasarkan interaksi yang dimiliki para pendatang baru tentang budaya yang didatangi juga berperan sebagai faktor penting lain dalam proses adaptasi mereka. Pengetahuan budaya dapat mencakup informasi soal sejarah perbedaan etnik dan budaya, geografi, sistem politik dan ekonomi, keyakinan agama dan spiritul, sistem nilan berganda, dan norma-norma situasional. Pengatahuan berdarkan interaksi mencakup bahasa, gaya verbal dan nonverbal, isi-isu komunikasi yang berkaitan dengan perbedaan, dan berbagai gaya pemecahan masalah dan pengambilan keputusan.

Berkaitan dengan atribut pribadi, profil-profil kepribadian seperti toleransi tinggi terhadap ambiguitas, locus internal kontrol, fleksibilitas dan keterbukaan personal secara konstan

dihubungkan dengan pemfungsian psikologis yang positif dalam satu budaya baru. Ward mengajukan satu proposisi ”cultural fit”, yang menekankan pentingnya kecocokan antara tipe kepribadian para acculturators dengan norma-norma budaya yang jadi tuan rumah.

Sebagai tambahan, variabel-veriabel demografis seperti usia dan tingkat pendidikan juga mempengaruhi keefektifan adaptasi.

3) Faktor-Faktor di Level Antarpribadi

Faktor-faktor di level interpersonal mencakup faktor jaringan hubungan tatap muka, faktor kontak yang dimediasi, dan faktor-faktor kemampuan interpersonal. Faktor jaringan kontak dan media massa dapat meningkatkan kemampuan menyesuaikan diri interpersonal dalam perjalanan pembelajaran budaya yang mereka lakukan.

Jaringan kontak mengacu pada kombinasi ikatan personal dan sosial dalam budaya baru di mana sumber-sumber daya afektif, instrumental, dan informasional dipertukarkan. Sumber daya afektif mencakup pertukaran dukungan identitas dan pesan-pesan emphatic relasional. Sumber daya instrumental mencakup dukungan tujuan yang berkaitan dengan tugas, bantuan-bantuan praktis, dan pertukaran sumber daya yang tangible. Sumber daya informasional mencakup berbagi pengetahuan dan membuat orang lain mengetahui satu berita penting tertentu.

Studi menemukan bahwa dalam tahap adaptasi awal, jaringan pertemanan/sosial yang berdasarkan etnis berperan penting bagi para pendatang baru dalam hal fungsi dukungan identitas dan dukungan emosional.

Media etnis juga memainkan peran yang penting dalam tahap awal adaptasi para imigran. Hambatan bahasa membuat para imigran cenderung memilih media etnis.

Di sisi lain, media tuan rumah juga memainkan peran edukatif dalam menyediakan lingkungan yang aman bagi para pendatang baru untuk mempelajari bahasa dan keterampilan bersosialisasi dari budaya tuan rumah.

Dari semua variabel, kemampuan berbahasa memainkan peran yang paling penting dalam konsumsi media tuan rumah. Semakin baik kemampuan bahasa para pendatang, semakin mungkin mereka memilih media tuan rumah. Pada tahap awal adaptasi, para imigran mungkin cenderung memilih acara-acara hiburan, namun pada tahap berikutnya, mereka lebih memilih acara-acara informasi.

Para peneliti manajemen internasional mengidentifikasi beberapa kemampuan adaptif interpersonal yang penting bagi para pelaku bisnis yang bekerja di luar negeri: pemeliharaan keadaan psikologis, kesadaran yang memadai soal perilaku dan nila-nilai tuan rumah, interaksi interpersonal dengan orang dari negara tersebut. Sebagai perbandingan, peneliti komunikasi antarbudaya mendefinisikan beberapa kemampuan sebagai keterampilan antarbudaya yang penting: (1) kemampuan mengelola tekanan psikologis, (2) kemampuan berkomunikasi secara efektif, dan (3) kemampuan membangun hubungan antarpribadi yang meaningful.

Ada lima langkah yang dapat diterapkan oleh para penduduk musiman dan imigran dalam mengasah kemampuan interpersonal khusus-budaya mereka dalam budaya baru:

a) identifikasi satu keterampilan yang memfasilitasi komunikasi yang lebih baik dengan orang-orang dari satu budaya tertentu

b) pahami mengapa keterampilan ini penting-pasangkan nilai budaya tertentu dengan kemampuan ini

c) cari tahu mengapa, di mana, dan dalam situasi apa keterampilan ini digunakan secara tepat

d) sadari keunikan para individu yang berinteraksi dengan kita —mungkin saja dia tidak cocok dengan norma di atas tadi e) latih keterampilan ini dalam interaksi keseharian dengan

orang-orang dari budaya baru.

Dalam tiap proses pembelajaran budaya yang berhasil, anggota budaya tuan rumah perlu bersikap sebagai tuan rumah yang baik sedangkan pendatang bersikap sebagai orang-orang yang bersedia belajar.

Adaptasi Antar-Budaya: Proses Perubahan Identitas

Proses adaptasi antarbudaya melibatkan perubahan identitas dan tantangan-tantangan bagi para pendatang baru. Tantangan-tantangan yang dimaksud:

a) Perbedaan-perbedaan dalam keyakinan inti, nilai-nilai, dan norma-norma situasional antara di tempat asal dan di tempat baru;

b) Hilangnya gambaran-gambaran budaya asal yang dipegang —semua citra dan simbol yang familiar yang menandakan bahwa identitas yang dulu familiar dari para pendatang baru telah hilang;

c) Rasa ketidakmampuan para pendatang dalam merespons setting baru secara tepat dan efektif.

Mengelola Proses Guncangan Budaya

Culture shock mengacu pada proses transisional di mana individu merasa adanya ancaman pada keberadaannya dalam satu lingkungan yang secara budaya baru baginya. Dalam lingkungan yang kurang akrab baginya itu, identitas individu tersebut tampak tak terlindungi. Scenes dan script budaya tak beroperasi dalam setting baru dan jaringan budaya yang akrab sebelumnya telah hilang.

Culture shock menghasilkan pelanggaran ekspektansi, yang pada gilirannya memunculkan kerapuhan emosional. Culture shock pada awalnya merupakan fenomena emosional, lalu muncul disorientasi kognitif dan disonansi identitas.

Menurut Oberg, culture shock menghasilkan satu keadaan disequilibrium identitas, yang dapat memunculkan transformasi adaptif dalam diri seorang pendatang pada level moral, afektif, kognitif, perilaku. Culture shock melibatkan: 1) rasa hilangnya dan tercabutnya identitas yang berkaitan

dengan nilai-nilai, status, profesi, teman-teman, dan kepemilikan;

2) ketegangan identitas sebagai hasil dari upaya yang dibutuhkan untuk melakukan perubahan-perubahan psikologis yang diperlukan;

3) penolakan identitas oleh anggota budaya baru;

4) kebingungan identitas, terutama yang berkaitan dengan ambiguitas peran dan unpredictibility;

5) ketidakmampuan identitas sebagai akibat dari ketidakmampuan untuk mengatasi lingkungan baru.

Semua penduduk musiman dan imigran mengalami beberapa derajat hilangnya identitas dan duka dalam lingkungan yang asing. Guncangan budaya--tak dapat dihindari--merupakan satu pengalaman yang menekan dan memunculkan disorientasi.

Guncangan budaya dapat memunculkan efek negatif dan positif. Yang termasuk dalam implikasi negatif adalah masalah psikosomatik akibat stres berkepanjangan; disorientasi kognitif akibat kesulitan-kesulitan dalam membuat atribusi yang akurat; letupan afektif yang terdiri dari perasaan kesepian, depresi, dan perubahan mood yang drastis; dan kecanggungan dalam interaksi sosial akibat ketidakmampuan untuk tampil optimal dalam bahasa dan latar baru.

Sebaliknya, jika dikelola dengan penuh pertimbangan, guncangan budaya dapat menimbulkan efek positif pada pendatang baru: rasa tenteram dan meningkatnya harga diri; fleksibilitas dan keterbukaan kognitif; kompetensi dalam interaksi sosial dan meningkatnya kepercayaan diri dan rasa percaya pada orang lain.

Banyak penduduk musiman yang gagal karena pengalaman guncangan budaya menjadi sangat agresif atau menyendiri secara total. Anderson mengidentifikasi empat tipe “culture shockers”:

1) early returnees--mereka yang keluar pada tahap awal dan menggunakan strategi pulang-pergi untuk berurusan dengan lingkungan “yang tak bersahabat”;

2) time servers—mereka yang bersikap biasa-biasa saja dengan kontak minimum dengan para warga lokal dan

secara emosional dan kognitif menjalani waktu serta pada saat yang bersamaan menunggu kesempatan untuk pulang;

3) the adjusters—mereka yang bersikap secara cukup moderat dan membaur bersama para penduduk lokal secara perilaku tapi tidak secara afektif;

4) the participators—mereka yang menampilkan upaya optimal dan secara perilaku dan afektif menjadi partisipan penuh dalam budaya lokal.

B. Aspek Sosial Budaya Yang Mempengaruhi Status dan

Dalam dokumen MAKALAH SOSIO BUDAYA DASAR KLP (Halaman 31-39)

Dokumen terkait