• Tidak ada hasil yang ditemukan

MAKALAH SOSIO BUDAYA DASAR KLP

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "MAKALAH SOSIO BUDAYA DASAR KLP"

Copied!
56
0
0

Teks penuh

(1)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala limpahan Rahmat, Inayah, Taufik dan Hinayahnya sehingga kami dapat

menyelesaikan“Makalah Hubungan Kebudayaan dan Kesehatan” yang bertujuan untuk memenuhi tugas mata kuliah Sosio Budaya Dasar.

Harapan kami semoga makalah ini membantu menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca, sehingga kami dapat memperbaiki bentuk maupun isi makalah ini sehingga kedepannya dapat lebih baik.

Makalah ini kami akui masih banyak kekurangan karena pengalaman yang kami miliki sangat kurang. Oleh kerena itu saya harapkan kepada para pembaca untuk memberikan masukan-masukan yang bersifat membangun untuk kesempurnaan makalah ini.

(2)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...i

DAFTAR ISI...ii

BAB 1 PENDAHULUAN...1

A. Latar Belakang...1

B. Rumusan Masalah...2

C. Tujuan...2

D. Manfaat...3

BAB 2 PEMBAHASAN...4

A. Hubungan Kebudayaan dan Kesehatan...4

1. Hubungan Kebudayaan dan Perilaku...4

2. Adaptasi Manusia Terhadap Lingkungan...16

3. Seleksi Alam dan Penyakit...24

4. Adaptasi Fisiologi...27

5. Adaptasi Budaya...29

B. Aspek Sosial Budaya Yang Mempengaruhi Status dan Perilaku Kesehatan...37

1. Konsep Sehat dan Sakit...37

2. Perilaku Sehat dan Sakit yang Berkaitan dengan Sistem Tradisi...41

BAB 3 PENUTUP...50

A. Kesimpulan...50

B. Saran...51

(3)

BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan tehnologi yang banyak membawa perubahan terhadap kehidupan manusia baik dalam hal perubahan pola hidup maupun tatanan sosial termasuk dalam bidang kesehatan yang sering dihadapkan dalam suatu hal yang berhubungan langsung dengan norma dan budaya yang dianut oleh masyarakat yang bermukim dalam suatu tempat tertentu.

Pengaruh sosial budaya dalam masyarakat memberikan peranan penting dalam mencapai derajat kesehatan yang setinggi-tingginya. Perkembangan sosial budaya dalam masyarakat merupakan suatu tanda bahwa masyarakat dalam suatu daerah tersebut telah mengalami suatu perubahan dalam proses berfikir. Perubahan sosial dan budaya bisa memberikan dampak positif maupun negatif.

Hubungan antara budaya dan kesehatan sangatlah erat hubungannya, sebagai salah satu contoh suatu masyarakat desa yang sederhana dapat bertahan dengan cara pengobatan tertentu sesuai dengan tradisi mereka. Kebudayaan atau kultur dapat membentuk kebiasaan dan respons terhadap kesehatan dan penyakit dalam segala masyarakat tanpa memandang tingkatannya. Karena itulah penting bagi tenaga kesehatan untuk tidak hanya mempromosikan kesehatan, tapi juga membuat mereka mengerti tentang proses terjadinya suatu penyakit dan bagaimana meluruskan keyakinan atau budaya yang dianut hubungannya dengan kesehatan.

(4)

meningkatkan tingkat kesehatan masyarakat dan pelayanan kesehatan dapat dirasakan oleh semua lapisan masyarakat secara memadai (Dinas Kesehatan, 2007). Permasalahan-permasalahan kesehatan masih banyak terjadi. sebenarnya individu yang menjadi faktor penentu dalam menentukan status kesehatan. Dengan kata lain, merubah pola hidup ataupun kebudayaan tentang kesehatan yang biasa kita lakukan dan mengikuti perubahan zaman.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang terdapat pada latar belakang di atas, maka rumusan masalah adalah sebagai berikut:

1. Bagaimanakah hubungan kebudayaan dan perilaku? 2. Bagaimanakah adaptasi manusia terhadap lingkungan? 3. Bagaimanakah seleksi alam dan penyakit?

4. Bagaimanakah adaptasi fisiologi? 5. Bagaimanakah adaptasi budaya?

6. Bagaimanakah konsep sehat dan sakit?

7. Bagaimanakah perilaku sehat dan perilaku sakit yang berkaitan dengan sistem tradisi?

C. Tujuan

1. Untuk mengetahui hubungan kebudayaan dan perilaku 2. Untuk mengetahui adaptasi manusia terhadap lingkungan 3. Untuk mengetahui seleksi alam dan penyakit

4. Untuk mengetahui adaptasi fisiologi 5. Untuk mengetahui adaptasi budaya

6. Untuk mengetahui konsep sehat dan sakit

(5)

D. Manfaat

(6)

BAB 2 PEMBAHASAN A. Hubungan Kebudayaan dan Kesehatan

1. Hubungan Kebudayaan dan Perilaku a. Pengertian Budaya dan Kebudayaan

Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sans kerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia.

Budaya adalah suatu pola hidup menyeluruh. Budaya bersifat kompleks, abstrak, dan luas. Banyak aspek budaya turut menentukan perilaku komunikatif. Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit termasuk sistem agama, politik, adat istiadat, bahasa, perkak as, pakaian, bangunan dan karya seni. Bahasa, sebagai-mana juga budaya merupakan bagian tak terpisahkan dari diri manusia sehingga banyak orang cenderung menganggapnya diwariskan secara genetis.

(7)

berbagai budaya seperti "individualisme kasar" di Amerika, "keselarasan individu dengan alam" di Jepang dan "kepatuhan kolektif" di Cina. Citra budaya yang bersifat memaksa tersebut membekali anggota-anggotanya dengan pedoman mengenai perilaku yang layak dan menetapkan dunia makna dan nilai logis yang dapat dipinjam anggota-anggotanya yang paling bersahaja untuk memperoleh rasa bermartabat dan pertalian dengan hidup mereka.

Karakteristik Kebudayaan adalah sesuatu yang dapat dipelajari, dapat ditukar dan dapat berubah, itu terjadi ‘hanya jika’ ada jaringan interaksi antar manusia dalam bentuk komunikasi antar pribadi maupun antar kelompok budaya yang terus menerus. Dalam hal ini, seperti yang dikatakan oleh Edward T. Hall, budaya adalah komunikasi,komunikasi adalah budaya. Jika kebudayaan diartikan sebagai sebuah kompleksitas total dari seluruh pikiran, perasaan, dan perbuatan manusia, maka untuk mendapatkannya dibutuhkan sebuah usaha yang selalu berurusan dengan orang lain. Edward T. Hall menegaskan bahwa hanya manusialah yang memiliki kebudayaan, sedangakan binatang tidak. Karaktersitik dari kebudayaan membentuk perilaku – perilaku komunikasi yang khusus, yang tampil dalam konsep subkultur. Subkultur adalah kebudayaan yang hanya berlaku bagi anggota sebuah komunitas dalam satu kebudayaan makro. Sebagai contoh para homosex atau lesbi mempunyai kebudayaan khusus, apakah itu dari segi pakaian, makanan, istilah, atau bahasa yang digunakan sehari-hari.

(8)

1) Budaya yang Bersifat Abstrak

Budaya yang bersifat abstrak ini letaknya ada di dalam alam pikiran manusia, misalnya terwujud dalam ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan-peraturan, dan cita-cita. Jadi budaya yang bersifat abstrak adalah wujud ideal dari kebudayaan. Ideal artinya sesuatu yang menjadi cita-cita atau harapan bagi manusia sesuai dengan ukuran yang telah menjadi kesepakatan.

2) Budaya yang Bersifat konkret

Wujud budaya yang bersifat konkret berpola dari tindakan atau peraturan dan aktivitas manusia di dalam masyarakat yang dapat diraba, dilihat, diamati, disimpan atau diphoto. Koencaraningrat menyebutkan sifat budaya dengan sistem sosial dan fisik, yang terdiri atas:

a) Perilaku : Perilaku adalah cara bertindak atau bertingkah laku dalam situasi tertentu. Setiap perilaku manusia dalam masyarakat harus mengikuti pola-pola perilaku (pattern of behavior) masyarakatnya.

b) Bahasa : Bahasa adalah sebuah sistem simbol-simbol yang dibunyikan dengan suara (vokal) dan ditangkap dengan telinga (auditory). Ralp Linton mengatakan salah satu sebab paling penting dalam memperlambangkan budaya sampai mencapai ke tingkat seperti sekarang ini adalah pemakaian bahasa. Bahasa berfungsi sebagai alat berpikir dan berkomunikasi. Tanpa kemampuan berpikir dan berkomunikasi budaya tidak akan ada.

(9)

perumahan, kesenian, alat-alat rumah tangga, senjata, alat produksi, dan alat transportasi.

b. Unsur-unsur Kebudayaan

Ada beberapa pendapat ahli yang mengemukakan mengenai komponen atau unsur kebudayaan, antara lain sebagai beri kut:

Melville J. Herskovits menyebutkan kebudayaan memiliki 4 unsur pokok :

1) Alat-alat teknologi 2) Sistem ekonomi 3) Keluarga

4) Kekuasaan politik

Bronislaw Malinowski mengatakan ada 4 unsur pokok yang meliputi :

1) Sistem norma sosial yang memungkinkan kerja sama antara para anggota masyarakat untuk menyesuaikan diri dengan alam sekelilingnya

2) Organisasi ekonomi

3) Alat-alat dan lembaga-lembaga atau petugas-petugas untuk pendidikan (keluarga adalah lembaga pendidikan utama) 4) Organisasi kekuatan (politik)

Berdasarkan wujudnya, kebudayaan dapat digolongkan atas dua komponen utama:

1) Kebudayaan material

(10)

material juga mencakup barang-barang, seperti televisi, pesawat terbang, stadion olahraga, pakaian, gedung pencakar langit, dan mesin cuci.

2) Kebudayaan nonmaterial

Kebudayaan nonmaterial adalah ciptaan-ciptaan abstrak yang diwariskan dari generasi ke generasi, misalnya berupa dongeng, cerita rakyat, dan lagu atau tarian tradisional.

c. Pengertian Perilaku

Perilaku adalah tindakan atau aktivitas dari manusia itu sendiri yang mempunyai bentangan yang sangat luas antara lain : berjalan, berbicara, menangis, tertawa, bekerja, kuliah, menulis, membaca, dan sebagainya. Dari uraian ini dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud perilaku manusia adalah semua kegiatan atau aktivitas manusia, baik yang diamati langsung, maupun yang tidak dapat diamati oleh pihak luar (Notoatmodjo, 2003).

Menurut Skinner, seperti yang dikutip oleh Notoatmodjo (2003), merumuskan bahwa perilaku merupakan respon atau reaksi seseorang terhadap stimulus atau rangsangan dari luar. Oleh karena perilaku ini terjadi melalui proses adanya stimulus terhadap organisme, dan kemudian organisme tersebut merespons, maka teori Skinner ini disebut teori “S-O-R” atau Stimulus –Organisme–Respon.

Dilihat dari bentuk respon terhadap stimulus ini, maka perilaku dapat dibedakan menjadi dua (Notoatmodjo, 2003): 1) Perilaku tertutup (convert behavior)

(11)

atau reaksi terhadap stimulus ini masih terbatas pada perhatian, persepsi, pengetahuan, kesadaran, dan sikap yang terjadi pada orang yang menerima stimulus tersebut, dan belum dapat diamati secara jelas oleh orang lain.

2) Perilaku terbuka (overt behavior)

Respon seseorang terhadap stimulus dalam bentuk tindakan nyata atau terbuka. Respon terhadap stimulus tersebut sudah jelas dalam bentuk tindakan atau praktek, yang dengan mudah dapat diamati atau dilihat oleh orang lain.

Menurut Lowrence Green, perilaku ditentukan atau terbentuk dari tiga faktor :

a. Faktor predisposisi ( predis posing factors )yang terwujud dalam pengetahuan, sikap kepercayaan, keyakinan, nilai – nilai dan sebagainya.

b. Faktor pendukung ( enabling factors ) yang terwujud dalam linkungan fisik, tersedia atau tidak tersedia sarana.

c. Faktor pendorong ( reinforcement factors ) yang terwujud dalam sikap dan perilaku, kebijakan dan lain – lain.

Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa pengetahuan adalah hasil dari seseorang setelah orang tersebut melakukan penginderaan terhadap obyek tertentu dan pengetahuan merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk perilaku seseorang.

d. Hubungan Antara Kebudayaan dan Perilaku

(12)

Hampir semua tindakan manusia itu merupakan kebudayaan. Hanya tindakan yang sifatnya naluriah saja yang bukan merupakan kebudayaan, tetapi tindakan demikian prosentasenya sangat kecil. Tindakan yang berupa kebudayaan tersebut dibiasakan dengan cara belajar. Terdapat beberapa proses belajar kebudayaan yaitu proses internalisasi, sosialisasi, dan enkulturasi.

Selanjutnya hubungan antara manusia dengan kebudayaan juga dapat dilihat dari kedudukan manusia tersebut terhadap kebudayaan. Manusia mempunyai empat kedudukan terhadap kebudayaan yaitu sebagai :

1) Penganut kebudayaan, 2) Pembawa kebudayaan, 3) Manipulator kebudayaan 4) Pencipta kebudayaan.

Pembentukan kebudayaan dikarenakan manusia dihadapkan pada persoalan yang meminta pemecahan dan penyelesaian. Dalam rangka survive maka manusia harus mampu memenuhi apa yang menjadi kebutuhannya sehingga manusia melakukan berbagai cara.

Hal yang dilakukan oleh manusia inilah kebudayaan. Kebudayaan yang digunakan manusia dalam menyelesaikan masalah-masalahnya bisa kita sebut sebagai way of life, yang digunakan individu sebagai pedoman dalam bertingkah laku.

(13)

hakikatnya menjadi khalifah di muka bumi ini. Disamping itu manusia juga memiliki akal, intelegensia, intuisi, perasaan, emosi, kemauan, fantasi dan perilaku. Dengan semua kemampuan yang dimiliki oleh manusia maka manusia bisa menciptakan kebudayaan. Ada hubungan dialektika antara manusia dan kebudayaan. Kebudayaan adalah produk manusia, namun manusia itu sendiri adalah produk kebudayaan. Dengan kata lain, kebudayaan ada karena manusia yang menciptakannya dan manusia dapat hidup ditengah kebudayaan yang diciptakannya.

Kebudayaan mempunyai kegunaan yang sangat besar bagi manusia. Hasil karya manusia menimbulkan teknologi yang mempunyai kegunaan utama dalam melindungi manusia terhadap lingkungan alamnya. Sehingga kebudayaan memiliki peran sebagai:

1) Suatu hubungan pedoman antarmanusia atau kelompoknya 2) Wadah untuk menyalurkan perasaan-perasaan dan

kemampuan-kemampuan lain.

3) Sebagai pembimbing kehidupan dan penghidupan manusia 4) Pembeda manusia dan binatang

a) Petunjuk-petunjuk tentang bagaimana manusia harus bertindak dan berprilaku didalam pergaulan.

b) Pengatur agar manusia dapat mengerti bagaimana seharusnya bertindak, berbuat dan menentukan sikapnya jika berhubungan dengan orang lain.

5) Sebagai modal dasar pembangunan.

(14)

mengalami perubahan dan perkembangan sejalan dengan perkembangan manusia itu. Perkembangan tersebut dimaksudkan untuk kepentingan manusia itu sendiri, karena kebudayaan diciptakan oleh dan untuk manusia.

Kebudayaan yang dimiliki suatu kelompok sosial tidak akan terhindar dari pengaruh kebudayaan kelompok-kelompok lain dengan adanya kontak-kontak antar kelompok atau melaui proses difusi. Suatu kelompok sosial akan mengadopsi suatu kebudayaan tertentu bilamana kebudayaan tersebut berguna untuk mengatasi atau memenuhi tuntunan yang dihadapinya.

Pengadopsian suatu kebudayaan tidak terlepas dari pengaruh faktor-faktor lingkungan fisik. Misalnya iklim topografi sumber daya alam dan sejenisnya. Dari waktu ke waktu, kebudayaan berkembang seiring dengan majunya teknologi (dalamhal ini adalah sistem telekomunikasi) yang sangat berperan dalam kehiduapan setiap manusia.

Perkembangan zaman mendorong terjadinya perubahan-perubahan disegala bidang, termasuk dalam kebudayaan. Mau tidak mau kebudayaan yang dianut suatu kelompok sosial akan bergeser. Suatu kelompok dalam kelompok sosialbisa saja menginginkan adanya perubahan dalam kebudayaan yang mereka anut, dengan alasan sudah tidak sesuai lagi dengan zaman yang mereka hadapi saat ini. Namun, perubahan kebudayaan ini kadang kala disalah artikan menjadi suatu penyimpangan kebudayaan.

(15)

ditampilkan sengat bertolak belakang dengan budaya yang dianut didalam kelompok sosial yang ada di masyarakat. Sekali lagi yang diperlukan adalah kontrol / kendali sosial yang ada di masyarakat sehingga dapat memilah-milah mana kebudayaan yang sesuai dan mana yang tidak sesuai.

e. Dampak Kebudayaan Terhadap Perilaku Perubahan Kebudayaan

Sebagaimana yang telah kita ketahui bahwa kebudayaan mengalami perkembangan (dinamis) sesuai dengan perkembangan manusia itu sendiri, oleh sebab itu tidak ada kebudayaan yang bersifat statis. Dengan demikian, kebudayaan akan mengalami perubahan. Adalima penyebab terjadi perubahan kebudayaan yaitu:

1) Perubahan lingkungan alam

2) Perubahan yang disebabkan adanya kontak dengan kelompok lain

3) Perubahan karena adanya penemuan (discovery).

4) Perubahan yang terjadi karena suatu masyarakat atau bangsa mengadopsi beberapa elemen kebudayaan material yang telah dikembangkan oleh bangsa lain ditempat lain. Perubahan yang terjadi karena suatu bangsa memodifikasi cara hidupnya dengan mengadopsisuatu pengetahuan atau kepercayaan baru atau karena perubahan dalam pandangan hidup dan konsepsinya tentang realitas.

Dampak kebudayaan terhadap perilaku di bagi menjadi dua, ada yang berdampak positif ada juga yang berdampak negative.

(16)

a) Tertanamnya sikap untuk saling menghormati dan menghargai antar suku yang berbeda

b) Keanekaragaman budaya daerah dapat membantu meningkatkan pengembangan kebudayaan nasional c) Promotes nilai-nilai kemanusiaan, Ketika suatu organisasi

memiliki sekelompok karyawan milik beragam budaya, hal ini menunjukkan bahwa organisasi mengakui dan merayakan dan memperingati keragaman yang ada pada orang dari latar belakang yang berbeda. Ini membuat orang-orang organisasi berpikir bahwa nilai mereka dan kontribusi layak sedang direalisasikan oleh organisasi dan manajemen.

d) Improves produktivitas dan profitabilitas, Terlepas dari nilai-nilai kemanusiaan, keragaman budaya juga membawa beberapa manfaat nyata kepada bisnis di seluruh dunia. Persuasi aktif keragaman di tempat kerja langsung dampak produktivitas dan profitabilitas organisasi serta karyawan. Ada peningkatan produktivitas pekerjadan profitabilitas bagi organisasi. e) Exchange ide-ide inovatif, Ketika sebuah organisasi

(17)

Situasi seperti ini pernah dibuat dalamkelompok orang yang berpikir sama dan milik budaya serupa.

2) Dampak negatif kebudayaan terhadap perilaku :

a) Adanya pontensi konflik antarsuku dan hambatan pergaulan antarsuku karena perbedaan bahasa dan budaya

b) Kecurigaan antar suku

(18)

2. Adaptasi Manusia Terhadap Lingkungan a. Pengertian Adaptasi

Adaptasi adalah kemampuan makhluk hidup untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan hidupnya. Ada beberapa cara penyesuaian diri yang dapat dilakukan, yaitu dengan carapenyesuaian bentuk organ tubuh, penyesuaian kerja organtubuh, dan tingkah laku dalam menanggapi perubahan lingkungan.

Adaptasi dari makhluk hidup khususnya dapat dibedakan dalam dua macam, yaitu adaptasi genetis dan adaptasi somatis. 1) Adaptasi Genetis

Setiap lingkungan hidup selalu merangsang penghuninya untuk membentuk struktur tubuh tertentu. Struktur yang dibentuk ini dapat bersifat menurun dan permanen, sehingga dapat dikatakan adanya hubungan yang kuat antara struktur tertentu dari organisme dengan lingkungan hidupnya. Manusia memiliki banyak ciri-ciri genetika yang spesifik dibanding makhluk hidup lainnya, antara lain:

a) mempunyai susunan gigi yang lengkap

b) mempunyai organ pencernaan dengan enzim-enzim dan kekuatan-kekuatan khusus yang ada di dalamnya,

c) mempunyai struktur badan yang lengkap, termasuk susunan syaraf yang menjadikan manusia sebagai makhluk hidup “berakal”.

(19)

2) Adaptasi Somatis

Adaptasi somatis adalah adaptasi yang berbentuk perubahan struktural ataupun fungsional, bersifat sementara serta tidak diturunkan kepada keturunannya. Apabila terjadi perubahan lingkungan yang baru, maka struktur atau fungsinya bisa berbeda pula sesuai dengan perubahan yang terjadi. Misalnya, pada daerah panas kulit manusia akan berubah menjadi lebih gelap, sedangkan daerah yang dingin menjadi lebih terang. Di daerah pegunungan dengan kadar oksigen yang lebih rendah dari daerah pantai, maka bentuk jantung dan paru- paru juga akan menyesuaikan menjadi lebih besar.

Adaptasi somatis selain mengubah struktur dan fungsi pada manusia, juga dapat mengubah kemampuan manusia. Dengan kemampuan ini manusia menjadi lebih mudah menyesuaikan diri dengan keadaan lingkungan yang bermacam-macam. Berbagai alat yang diproduksi manusia semakin lama semakin kompleks sesuai dengan kemajuan teknologi mereka, misal kemajuan teknologi di bidang konstruksi bangunan, pakaian, persenjataan, obat-obatan sampai teknologi mengeksplorasi luar angkasa. Kemampuan ini tidak dapat dijumpai pada makhluk lain seperti binatang maupun tumbuhan. Adaptasi somatis ini juga mampu membentuk sifat-sifat manusia menjadi agresif, pemalas, pemarah, dan sebagainya.

(20)

mempertahankan diri dan meningkatkan taraf hidupnya baik secara individu maupun secara berkelompok. Adaptasi manusia terhadap lingkungannya berbeda dengan adaptasi tumbuhan dan hewan. Adaptasi manusia lebih terlihat pada perubahan perilaku dan budayanya sebagai respons yang tepat terhadap tantangan dari lingkungannya.

Adaptasi pada manusia di muka bumi dengan kondisi lingkungan yang berbeda akan menimbulkan bentuk adaptasi yang berbeda pula, misalnya cara berpakaian, bermata pencaharian, berbahasa, dan sebagainya. Secara keseluruhan adaptasi itu akan membentuk pola-pola kebudayaan yang berbeda- beda yang tersebar di permukaan bumi, sehingga membentuk wilayah kebudayaan (cultural region).

b. Pengertian Lingkungan

Lingkungan digambarkan sebagai dunia di dalam dan di luar manusia. Lingkungan merupakan masukan (input) bagi manusia sebagai sistem yang adaptif sama halnya lingkungan sebagai stimulus internal dan eksternal. Lebih lanjut stimulus itu dikelompokkan menjadi tiga jenis stimulus yaitu : fokal, kontekstual dan residual.

1. Stimulus fokal yaitu rangsangan yang berhubungan langsung dengan perubahan lingkungan misalnya polusi udara dapat menyebabkan infeksi paru, kehilangan suhu pada bayi yang baru lahir.

(21)

daya tahan tubuh yang menurun, lingkungan yang tidak sehat.

3. Stimulus residual yaitu : sikap, keyakinan dan pemahaman individu yang dapat mempengaruhi terjadinya keadaan tidak sehat atau disebut dengan faktor presdiposisi sehingga terjadi kondisi fokal. Misalnya : persepsi klien tentang penyakit, gaya hidup dan fungsi peran.

Lebih luas lagi lingkungan didefinisikan sebagai segala kondisi, keadaan di sekitar yang mempengaruhi keadaan, perkembangan dan perilaku manusia sebagai individu atau kelompok.

c. Adaptasi Manusia Terhadap Lingkungan

Manusia adalah satu-satunya mahluk hidup di bumi yang memiliki akal budi dan pikiran yang dapat digunakan dalam berpikir di kehidupan sehari-hari. Karena akal pikiran itulah, Manusia juga akhirnya menjadi mahluk yang bersosial dan hidup menyebar di berbagai tempat di bumi dengan berbagai kondisi alam dan tantangan hidupnya masing-masing

Manusia hidup di berbagai tempat di bumi, mulai dari suku sahara di gurun sahara afrika yang gersang, orang indian di lebat ganasnya hutan hujan tropis di selatan benua amerika, orang nepal yang hidup di dataran tertinggi dunia dengan tekanan udara amat rendah, hingga daerah kutub yang di huni oleh orang eskimo.

(22)

Dalam menghadapi tantangan hidup dan mempertahankan kelangsungan hidupnya, manusia menggunakan 4 hal dari diri mereka sendiri, yaitu:

1) Akal pikiran

Manusia adalah satu-satunya mahluk hidup yang tidak memiliki alat pertahanan hidup alami.

Jika kucing memiliki cakar dan taring, ular memiliki bisa, bunglon dapat berubah warna, maka manusia tidak memiliki apapun sebgai alat pertahanan alami kecuali satu-satunya yang di berikan Tuhan kepada manusia, yaitu AKAL PIKIRAN

Cara manusia mempertahankan hidup adalah dengan “Memberdayakan Akal Pikiran” mereka dalam menghadapi bermacam hal di kehidupannya.

Akal pikiran di gunakan diantaranya, untuk:

a) Membuat sesuatu di gunakan untuk kemudahan dan keberlangsungan hidup manusia.

(misalnya, membuat alat berburu, rumah, obat, pakaian dll.)

b) Mempertimbangkan sesuatu digunakan untuk memutuskan apa yang sebaiknya dilakukan untuk merespon suatu kondisi tertentu yang dihadapi (misalnya, menyimpan air sebelum musim kemarau tiba, mempertimbangkan resiko ketika akan melakukan sesuatu dll.)

(23)

d) Membantu manusia belajar. Belajar sangat membantu manusia, agar tidak melakukan hal yg salah, misalnya belajar dari kesalahan sehingga dapat menjadi lebih baik kedepannya. Manusia adalah satu-satunya mahluk hidup

yang dapat

mempelajari sesuatu dan mempertimbangkannyadeng an seksama.

Contoh Akal pikiran untuk mempertahankan hidup

a) Suku eskimo membuat rumah iglo yang terbuat dari es untuk berlindung.

Meskipun terbuat dari es, ternyata suhu di dalam iglo jauh lebih hangat dari suhu luar yg bisa mencapai -46 °C

b) Pembuatan alat berburu untuk mempermudah mencari makan.

c) Pembuatan alat-alat pertahanan dari bahaya

d) Pikiran untuk menjauhi tempat berbahaya sebagai tempat tinggal

e) Menyimpan banyak air menjelang kemarau. Dan lain-lain.

2) Perasaan/emosi

Perasaan adalah emosi yang hadir sebagai hasil dari pertimbangan akal pikiran dan pertimbangan keterikatan nurani. Perasaan atau emosi digunakan manusia untuk bertahan hidup, karena manusia adalah mahluk sosial.

(24)

mereka dapat membantu untuk menjaga kita dan mempertahankan keberlangsungan hidup kita.

Perasaan/emosi juga digunakan untuk mempertimbangkan sesuatu, baik atau buruk, pantas tak pantas, tega atau tidak tega menggunakan perasaan atau emosi manusia.

Sebenarnya, perasaan adalah anugerah terbesar yang diberikan Tuhan kepada manusia. Perasaan saling menyayangi, menghargai dan lainnya adalah dasar harmonisasi social manusia. Jadi manusia, tidak hanya menggunakan akal pikiran saja, tapi juga diperlukan perasaan/emosi

Contoh penggunaan emosi/perasaan dalam mempertahankan hidup

a) Keluarga adalah contoh konkret.

b) Bagi suku eskimo misalnya, pembagian tugas dan peran masing-masing membantu menjaga keberlangsungan hidup.

c) Kerjasama dalam berburu, menjaga ketika ada yg sakit, membuat rumah bersama. Dll

d) Perasaan seorang ibu untuk menjaga kelangsungan hidup anaknya

e) Perasaan seorang kepala keluarga yang menyayangi dan menjaga keluarganya

f) Bahkan orang asing yang tidak dikenal sekalipun dapat ditolong manusia lainnya berdasarkan perasaan dan nurani.

(25)

Jasmani atau kekuatan tubuh menjadi salah satu hal yang digunakan manusia dalam beradaptasi dan mempertahankan hidup secara individu, misalnya:

a) Lapisan lemak di kulit orang eskimo di kutub untuk mempertahankan suhu tubuh lebih tebal dari manusia umumnya.

b) orang suku sahara di gurun sahara yang pori keringatnya lebih besar dari manusia umumnya.

c) Kadar Hb (hemoglobin) orang nepal lebih banyak dari manusia umumnya, untuk mengikat oksigen lebih banyak di daerah miskin oksigen di gunung himalaya.

4) Komunikasi

Komunikasi adalah salah satu hal yang digunakan manusia dalam kehidupannya untuk berinteraksi dan menyampaikan maksud antar individu berbeda, Baik komunikasi verbal, tulisan, bahasa tubuh, bahkan isyarat

Dalam mempertahankan hidupnya, komunikasi menjadi hal penting bagi manusia untuk mengutarakan pikiran ke manusia lain, sehingga peluang bertahan hidup lebih besar karena koordinasi lebih terjalin serta maksud dari satu individu lainnya dapat dimengerti dengan baik.

Seandainya tidak ada komunikasi, akan sangat sulit untuk manusia bertahan. Bahasa yang berbeda dan tidak dapat di mengertipun sangat mengganggu.

Contoh penggunaan komunikasi untuk mempertahankan hidup

(26)

b) Ketika manusia berkoordinasi membuat rumah atau berburu

c) Ketika manusia menjalin kerjasama dan membangun emosi.

d) Ketika manusia saling berinteraksi dan menyampaikan berita

e) Ketika manusia bekerjasama dalam ekonomi, dan lain-lain.

3. Seleksi Alam dan Penyakit a. Pengertian Seleksi Alam

Seleksi alam adalah proses pemilihan atau penyeleksian yang dilakukan oleh alam terhadapmakhluk hidup yang dapat beradaptasi karena adanya perubahan alam, makhluk hidup yangmampu menyesuaikan diri terhadap alam akan tetap bertahan, sedangkan yang tidak dapatmenyesuaikan diri akan tersisih (punah).Mengapa sekarang dinosaurus tidak ditemukan lagi?Salah satu dugaan menyatakan bahwa pada masa kehidupandinosaurus, banyak asteroid atau meteorit (benda-bendalangit) yang menabrak Bumi. Kejadian ini menyebabkanterjadinya perubahan iklim yang ekstrim di Bumi sehinggabanyak makhluk hidup yang tidak dapat bertahan hidup.

(27)

Walaupun para ahli berbeda pendapat tentang penyebab punahnya makhluk hidup yang hidup di zaman dahulu,namun sesungguhnya ada juga persamaan pendapat. Pendapatyang sama tersebut menyatakan bahwa kondisi bumiyang jauh berbeda dengan keadaan sebelumnya itulah yangmenyebab kan banyak makhluk hidup mati.

Keadaan alam yang berubah turut menyeleksi keberadaan makhluk hidup. Makhluk hidup yang memiliki kemampuanadaptasi yang tinggi akan mampu bertahan hidup.Adapun makhluk hidup yang tidak mampu beradaptasi tidakakan bertahan hidup. Teori tersebut dinamakan “SeleksiAlam” yang ditemukan oleh Charles Darwin pada 1859dalam bukunya yang berjudul The Origin of Species by Meansof Natural Selection.

Faktor penyeleksi alam

Seleksi alam ditentukan oleh beberapa faktor. Faktorfaktor tersebut adalah sebagai berikut.

a) Suhu lingkungan

(28)

b) Makanan

Setiap makhluk hidup memerlukan makanan. Makanan adalah kebutuhan primer makhluk hidup. Makanan akan menjadi faktor penyeleksi jika terjadi perebutan makanan. Makhluk hidup yang kuat dan mempertahankan makanannya akan dapat berlangsung hidup, sebaliknya hewan yang lemah dan tidak mampu bersaing dalam perebutan makanan akan tereliminasi dan punah.

c) Cahaya matahari

Faktor matahari berhubungan dengan penyeleksian tumbuhan tingkat tinggi yang berklorofil. Mengapa demikian? Karena tumbuhan menggunakan cahaya matahari untuk pembentukan makanan.

b. Seleksi Alam dan Penyakit

Kondisi alam dan lingkungan akan selalu mengalami perubahan. Adanya bencana alam ataupun persaingan serta munculnya wabah penyakit yang menyerang makhluk hidup akan membuat terjadinya kepunahan. Untuk itu semua makhluk hidup dituntuk untuk dapat beradaptasi dengan segala perubahan yang terjadi pada alam ini.

(29)

4. Adaptasi Fisiologi

Adaptasi fisiologi adalah penyesuaian yang dipengaruhi oleh lingkungan sekitar yang menyebabkan adanya penyesuaian pada organ atau alat-alat tubuh untuk mempertahankan hidup dengan baik.

Adaptasi fisiologi ini penekanannya menyangkut fungsi alat-alat tubuh yang umumnya terletak di bagian dalam tubuh mengalami perubahan srhingga tetap bertahan hidup.

Contoh adapatasi fisiologis adalah seperti pada binatang / hewan onta yang punya kantung air di punuknya untuk menyimpan air agar tahan tidak minum di padang pasir dalam jangka waktu yang lama

a) Anjing laut yang memiliki lapisan lemak yang tebal untuk bertahan di daerah dingin dengan menahan panas tubuh tetap tertahan

b) Adaptasi ini bisa juga berupa berlaku pada enzim yang dihasilkan suatu organisme karena makanannya . Contoh: dihasilkannya enzim selulase oleh hewan memamah biak pada bagian rumennya yang dihasilkan oleh bakteri rumen yang ada di dalam rumennya yang diajak kerja sama dengannya

c) Kucing, apabila hewan ini berteduh kadar metabolisme badan kucing tersebut akan direndahkan supaya kadar kehilangan air didalam badan berkurang.

d) Musang juga beradaptasi dengan cara menyemburkancairan bagi mengelakkan dirinya daripada musuh. Kelenjar bau yang dimiliki oleh musang tersebut membuat musuh tidak kuat dan pergi karena baunya

(30)

a) Jumlah Hemoglobin pada sel darah merah orang yang tinggal di pegunungan lebih banyak jika dibandingkan dengan orang yang tinggal di pantai/dataran rendah mengingat semakin tinggi tempat semakin kadar oksigen menurun

b) Ukuran jantung para atlet rata-rata lebih besar dari pada ukuran jantung orang kebanyakan.

c) Pada saat udara dingin, orang cenderung lebih banyak mengeluarkan urine (air seni).

Adaptasi Fisiologi pada Hewan

a) Berdasarkan jenis makanannya, hewan dapat dibedakan menjadi karnivor (pemakan daging). herbivor memakan tumbuhan), serta omnivor (pemakan daging dan turnbuhan). Penyesuaian hewan-hewan tersebut terhadap jenis makanannya. antara lain terdapat pada ukuran (panjang) usus dan enzim pencernaan yang berbeda.. Untuk mencerna tumbuhan yang umumnya mempunyai sel-sel berdinding sel keras, rata-rata usus herbrvor lebih panjang daripada usus karnivor:

b) Ikan air tawar yang telanan osmotik cairan tubuhnya lebih besar dengan air sebagai habitatnya , maka minum sedikit , kencingnya banyak . iini terjadi karena air dari luar masuk secara osmosis di tubuhnya yang lebih pekat , maka ikan mas di laut akan mati karena kebiasaan itu kebablasan di air laut , maka yang terjadi dehidrasi , harusnya minumnya banyak kencing sedikit OK

(31)

a) Tumbuhan yang penyerbukannya dibantu oleh serangga mempunyai bunga yang berbau khas m dengan corolla menyolok

b) Tumbuhan tertentu menghasilkan zat khusus yang dapat menghambat pertumbuhan tumbuhan lain atau melindungi diri terhadap herbivor.

c) Misalnya. semak azalea di Jepang menghasilkan bahan kimia beracun sehingga rusa tidak memakan daunnya.

5. Adaptasi Budaya

Proses adaptasi antarbudaya didefinisikan sebagai tingkat perubahan yang terjadi ketika individu pindah dari lingkungan yang dikenalnya ke lingkungan yang kurang dikenal. Proses ini melibatkan perjalanan lintas batas budaya.

Faktor-Faktor Antecedent Adaptasi antarbudaya mengacu pada proses perubahan yang berkaitan dengan identitas yang terjadi secara meningkat yang terjadi pada para penduduk musiman dan imigran di lingkungan baru.

Penyesuaian mengacu pada proses adaptif jangka pendek dan menengah yang dilakukan para penduduk musiman dalam masa penugasan mereka di luar negeri.

Istilah akulturasi digunakan dalam literatur antarbudaya untuk menggambarkan proses perubahan jangka panjang para imigran dan pengungsi saat beradaptasi dengan tempat tinggal baru mereka.

(32)

Ada tiga faktor antecedent yang biasanya mempengaruhi proses adaptasi para pendatang: faktor di level sistem, level individu, dan interpersonal.

1) Faktor-Faktor di Level Sistem

Faktor-faktor di level sistem adalah faktor-faktor yang ada di lingkungan yang didatangi yang mempengaruhi para adaptasi pendatang baru terhadap budaya baru. Ada lima observasi yang terkumpul berdasarkan temuan dari riset adaptasi yang tersedia.

a) Pertama, keadaan sosioekonomi budaya yang didatangi mempengaruhi iklim adaptasi. Keadaan yang makmur akan membuat para anggota budaya tersebut lebih toleran terhadap pendatang baru.

b) Kedua, pendirian sikap budaya yang didatangi berkaitan dengan asimilasi budaya atau pluralisme budaya menghasilkan efek tak langsung pada kebijakan-kebijakan institusional terhadap proses adaptasi para pendatang baru. Pendirian asimilasi budaya menuntut konfirmitas lebih tinggi dari para orang asing dalam beradaptasi dengan lingkungan yang didatangi dibandingkan dengan pendirian pluralis budaya.

c) Ketiga, institusi lokal berperan sebagai agensi kontak pertama yang memfasilitasi atau menghambat proses adaptasi para penduduk musiman atau imigran.

(33)

e) Kelima, jarak budaya antara kedua budaya--milik para pendatang dan tuan rumah--berdampak kuat pada adaptasi para pendatang.

2) Faktor-Faktor di Level Individu

Di level individu, ada faktor-faktor yang mempengaruhi adaptasi antarbudaya: motivasi individual, ekspektasi individual, pengetahuan berdasarkan interaksi dan pengetahuan budaya, dan atribut pribadi.

Orientasi motivasi pendatang baru untuk meninggalkan tempat asalnya dan memasuki satu budaya baru memiliki pengaruh yang tak terhindarkan pada mode-mode adaptasinya.

Ekspektasi individual pun dipandang secara luas sebagai satu faktor krusial dalam proses adaptasi antarbudaya. Ekspektasi mengacu pada proses antisipatori dan hasil prediktif dari situasi yang akan datang.

Pengetahuan budaya dan pengetahuan berdasarkan interaksi yang dimiliki para pendatang baru tentang budaya yang didatangi juga berperan sebagai faktor penting lain dalam proses adaptasi mereka. Pengetahuan budaya dapat mencakup informasi soal sejarah perbedaan etnik dan budaya, geografi, sistem politik dan ekonomi, keyakinan agama dan spiritul, sistem nilan berganda, dan norma-norma situasional. Pengatahuan berdarkan interaksi mencakup bahasa, gaya verbal dan nonverbal, isi-isu komunikasi yang berkaitan dengan perbedaan, dan berbagai gaya pemecahan masalah dan pengambilan keputusan.

(34)

dihubungkan dengan pemfungsian psikologis yang positif dalam satu budaya baru. Ward mengajukan satu proposisi ”cultural fit”, yang menekankan pentingnya kecocokan antara tipe kepribadian para acculturators dengan norma-norma budaya yang jadi tuan rumah.

Sebagai tambahan, variabel-veriabel demografis seperti usia dan tingkat pendidikan juga mempengaruhi keefektifan adaptasi.

3) Faktor-Faktor di Level Antarpribadi

Faktor-faktor di level interpersonal mencakup faktor jaringan hubungan tatap muka, faktor kontak yang dimediasi, dan faktor-faktor kemampuan interpersonal. Faktor jaringan kontak dan media massa dapat meningkatkan kemampuan menyesuaikan diri interpersonal dalam perjalanan pembelajaran budaya yang mereka lakukan.

Jaringan kontak mengacu pada kombinasi ikatan personal dan sosial dalam budaya baru di mana sumber-sumber daya afektif, instrumental, dan informasional dipertukarkan. Sumber daya afektif mencakup pertukaran dukungan identitas dan pesan-pesan emphatic relasional. Sumber daya instrumental mencakup dukungan tujuan yang berkaitan dengan tugas, bantuan-bantuan praktis, dan pertukaran sumber daya yang tangible. Sumber daya informasional mencakup berbagi pengetahuan dan membuat orang lain mengetahui satu berita penting tertentu.

(35)

Media etnis juga memainkan peran yang penting dalam tahap awal adaptasi para imigran. Hambatan bahasa membuat para imigran cenderung memilih media etnis.

Di sisi lain, media tuan rumah juga memainkan peran edukatif dalam menyediakan lingkungan yang aman bagi para pendatang baru untuk mempelajari bahasa dan keterampilan bersosialisasi dari budaya tuan rumah.

Dari semua variabel, kemampuan berbahasa memainkan peran yang paling penting dalam konsumsi media tuan rumah. Semakin baik kemampuan bahasa para pendatang, semakin mungkin mereka memilih media tuan rumah. Pada tahap awal adaptasi, para imigran mungkin cenderung memilih acara-acara hiburan, namun pada tahap berikutnya, mereka lebih memilih acara-acara informasi.

Para peneliti manajemen internasional mengidentifikasi beberapa kemampuan adaptif interpersonal yang penting bagi para pelaku bisnis yang bekerja di luar negeri: pemeliharaan keadaan psikologis, kesadaran yang memadai soal perilaku dan nila-nilai tuan rumah, interaksi interpersonal dengan orang dari negara tersebut. Sebagai perbandingan, peneliti komunikasi antarbudaya mendefinisikan beberapa kemampuan sebagai keterampilan antarbudaya yang penting: (1) kemampuan mengelola tekanan psikologis, (2) kemampuan berkomunikasi secara efektif, dan (3) kemampuan membangun hubungan antarpribadi yang meaningful.

(36)

a) identifikasi satu keterampilan yang memfasilitasi komunikasi yang lebih baik dengan orang-orang dari satu budaya tertentu

b) pahami mengapa keterampilan ini penting-pasangkan nilai budaya tertentu dengan kemampuan ini

c) cari tahu mengapa, di mana, dan dalam situasi apa keterampilan ini digunakan secara tepat

d) sadari keunikan para individu yang berinteraksi dengan kita —mungkin saja dia tidak cocok dengan norma di atas tadi e) latih keterampilan ini dalam interaksi keseharian dengan

orang-orang dari budaya baru.

Dalam tiap proses pembelajaran budaya yang berhasil, anggota budaya tuan rumah perlu bersikap sebagai tuan rumah yang baik sedangkan pendatang bersikap sebagai orang-orang yang bersedia belajar.

Adaptasi Antar-Budaya: Proses Perubahan Identitas

Proses adaptasi antarbudaya melibatkan perubahan identitas dan tantangan-tantangan bagi para pendatang baru. Tantangan-tantangan yang dimaksud:

a) Perbedaan-perbedaan dalam keyakinan inti, nilai-nilai, dan norma-norma situasional antara di tempat asal dan di tempat baru;

b) Hilangnya gambaran-gambaran budaya asal yang dipegang —semua citra dan simbol yang familiar yang menandakan bahwa identitas yang dulu familiar dari para pendatang baru telah hilang;

(37)

Mengelola Proses Guncangan Budaya

Culture shock mengacu pada proses transisional di mana individu merasa adanya ancaman pada keberadaannya dalam satu lingkungan yang secara budaya baru baginya. Dalam lingkungan yang kurang akrab baginya itu, identitas individu tersebut tampak tak terlindungi. Scenes dan script budaya tak beroperasi dalam setting baru dan jaringan budaya yang akrab sebelumnya telah hilang.

Culture shock menghasilkan pelanggaran ekspektansi, yang pada gilirannya memunculkan kerapuhan emosional. Culture shock pada awalnya merupakan fenomena emosional, lalu muncul disorientasi kognitif dan disonansi identitas.

Menurut Oberg, culture shock menghasilkan satu keadaan disequilibrium identitas, yang dapat memunculkan transformasi adaptif dalam diri seorang pendatang pada level moral, afektif, kognitif, perilaku. Culture shock melibatkan: 1) rasa hilangnya dan tercabutnya identitas yang berkaitan

dengan nilai-nilai, status, profesi, teman-teman, dan kepemilikan;

2) ketegangan identitas sebagai hasil dari upaya yang dibutuhkan untuk melakukan perubahan-perubahan psikologis yang diperlukan;

3) penolakan identitas oleh anggota budaya baru;

4) kebingungan identitas, terutama yang berkaitan dengan ambiguitas peran dan unpredictibility;

(38)

Semua penduduk musiman dan imigran mengalami beberapa derajat hilangnya identitas dan duka dalam lingkungan yang asing. Guncangan budaya--tak dapat dihindari--merupakan satu pengalaman yang menekan dan memunculkan disorientasi.

Guncangan budaya dapat memunculkan efek negatif dan positif. Yang termasuk dalam implikasi negatif adalah masalah psikosomatik akibat stres berkepanjangan; disorientasi kognitif akibat kesulitan-kesulitan dalam membuat atribusi yang akurat; letupan afektif yang terdiri dari perasaan kesepian, depresi, dan perubahan mood yang drastis; dan kecanggungan dalam interaksi sosial akibat ketidakmampuan untuk tampil optimal dalam bahasa dan latar baru.

Sebaliknya, jika dikelola dengan penuh pertimbangan, guncangan budaya dapat menimbulkan efek positif pada pendatang baru: rasa tenteram dan meningkatnya harga diri; fleksibilitas dan keterbukaan kognitif; kompetensi dalam interaksi sosial dan meningkatnya kepercayaan diri dan rasa percaya pada orang lain.

Banyak penduduk musiman yang gagal karena pengalaman guncangan budaya menjadi sangat agresif atau menyendiri secara total. Anderson mengidentifikasi empat tipe “culture shockers”:

1) early returnees--mereka yang keluar pada tahap awal dan menggunakan strategi pulang-pergi untuk berurusan dengan lingkungan “yang tak bersahabat”;

(39)

secara emosional dan kognitif menjalani waktu serta pada saat yang bersamaan menunggu kesempatan untuk pulang;

3) the adjusters—mereka yang bersikap secara cukup moderat dan membaur bersama para penduduk lokal secara perilaku tapi tidak secara afektif;

4) the participators—mereka yang menampilkan upaya optimal dan secara perilaku dan afektif menjadi partisipan penuh dalam budaya lokal.

B. Aspek Sosial Budaya Yang Mempengaruhi Status dan Perilaku Kesehatan

1. Konsep Sehat dan Sakit

Istilah sehat mengandung banyak muatan kultural, social dan pengertian profesional yang beragam. Dulu dari sudut pandangan kedokteran, sehat sangat erat kaitannya dengan kesakitan dan penyakit. Dalam kenyataannya tidaklah sesederhana itu, sehat harus dilihat dari berbagai aspek. WHO melihat sehat dari berbagai aspek (6).

Definisi WHO (1981): Health is a state of complete physical, mental and social well -being, and not merely the absence of disease or infirmity. WHO mendefinisikan pengertian sehat sebagai suatu keadaan sempurna baik jasmani, rohani, maupun kesejahteraan social seseorang.

(40)

penyakit. Penyakit sendiri ditentukan oleh budaya: hal ini karena penyakit merupakan pengakuan sosial bahwa seseorang tidak dapat menjalankan peran normalnya secara wajar.

Cara hidup dan gaya hidup manusia merupakan fenomena yang dapat dikaitkan dengan munculnya berbagai macam penyakit, selain itu hasil berbagai kebudayaan juga dapat menimbulkan penyakit.

Masyarakat dan pengobat tradisional menganut dua konsep penyebab sakit, yaitu: Naturalistik dan Personalistik. Penyebab bersifat Naturalistik yaitu seseorang menderita sakit akibat pengaruh lingkungan, makanan (salah makan), kebiasaan hidup, ketidak seimbangan dalam tubuh, termasuk juga kepercayaan panas dingin seperti masuk angin dan penyakit bawaan. Konsep sehat sakit yang dianut pengobat tradisional (Battra) sama dengan yang dianut masyarakat setempat, yakni suatu keadaan yang berhubungan dengan keadaan badan atau kondisi tubuh kelainan-kelainan serta gejala yang dirasakan. Sehat bagi seseorang berarti suatu keadaan yang normal, wajar, nyaman, dan dapat melakukan aktivitas sehari-hari dengan gairah.

Sedangkan sakit dianggap sebagai suatu keadaan badan yang kurang menyenangkan, bahkan dirasakan sebagai siksaan sehingga menyebabkan seseorang tidak dapat menjalankan aktivitas sehari-hari seperti halnya orang yang sehat.

(41)

kusta dan cara perawatannya. Kusta telah dikenal oleh etnik Makasar sejak lama.

Adanya istilah kaddala sikuyu (kusta kepiting) dan kaddala massolong (kusta yang lumer), merupakan ungkapan yang mendukung bahwa kusta secara endemik telah berada dalam waktu yang lama di tengah-tengah masyarakat tersebut.

Hasil penelitian kualitatif dan kuantitatif atas nilai-nilai budaya di Kabupaten Soppeng, dalam kaitannya dengan penyakit kusta (Kandala,Bgs.) di masyarakat Bugis menunjukkan bahwa timbul dan diamalkannya leprophobia secara ketat karena menurut salah seorang tokoh budaya, dalam nasehat perkawinan orang-orang tua di sana, kata kaddala ikut tercakup di dalamnya.

Disebutkan bahwa bila terjadi pelanggaran melakukan hubungan intim saat istri sedang haid, mereka (kedua mempelai) akan terkutuk dan menderita kusta/kandala.

Ide yang bertujuan guna terciptanya moral yang agung di keluarga baru, berkembang menuruti proses komunikasi dalam masyarakat dan menjadi konsep penderita kusta sebagai penanggung dosa. Pengertian penderita sebagai akibat dosa dari ibu-bapak merupakan awal derita akibat leprophobia.

Rasa rendah diri penderita dimulai dari rasa rendah diri keluarga yang merasa tercemar bila salah seorang anggota keluarganya menderita kusta. Dituduh berbuat dosa melakukan hubungan intim saat istri sedang haid bagi seorang fanatik Islam dirasakan sebagai beban trauma psikosomatik yang sangat berat.

(42)

dinyatakan sakit jika menangis terus, badan berkeringat, tidak mau makan, tidak mau tidur, rewel, kurus kering. Bagi orang dewasa, seseorang dinyatakan sakit kala u sudah tidak bisa bekerja, tidak bisa berjalan, tidak enak badan, panas dingin, pusing, lemas, kurang darah, batuk-batuk, mual, diare.

Sedangkan hasil diskusi kelompok di Nusa Tenggara Barat menunjukkan bahwa anak sakit dilihat dari keadaan fisik tubuh dan tingkah lakunya yaitu jika menunjukkan gejala misalnya panas, batuk pilek, mencret, muntah -muntah, gatal, luka, gigi bengkak, badan kuning, kaki dan perut bengkak.

Seorang pengobat tradisional yang juga menerima pandangan kedokteran modern, mempunyai pengetahuan yang menarik mengenai masalah sakit-sehat. Baginya, arti sakit adalah sebagai berikut: sakit badaniah berarti ada tanda-tanda penyakit di badannya seperti panas tinggi, penglihatan lemah, tidak kuat bekerja, sulit makan, tidur terganggu, dan badan lemah atau sakit, maunya tiduran atau istirahat saja.

Pada penyakit batin tidak ada tanda -tanda di badannya, tetapi bisa diketahui dengan menanyakan pada yang gaib. Pada orang yang sehat, gerakannya lincah, kuat bekerja, suhu badan normal, makan dan tidur normal, penglihatan terang, sorot mata cerah, tidak mengeluh lesu, lemah, atau sakit-sakit badan.

(43)

dewasa dianggap sakit jika lesu, tidak dapat bekerja, kehilangan nafsu makan, atau “kantong kering” (tidak punya uang).

Selanjutnya masyarakat menggolongkan penyebab sakit ke dalam 3 bagian yaitu

1) Karena pengaruh gejala alam (panas, dingin) terhadap tubuh manusia

2) Makanan yang diklasifikasikan ke dalam makanan panas dan dingin.

3) Supranatural (roh, guna-guna, setan dan lain-lain.).

Untuk mengobati sakit yang termasuk dalam golongan pertama dan ke dua, dapat digunakan obat-obatan, ramuan-ramuan, pijat, kerok, pantangan m akan, dan bantuan tenaga kesehatan. Untuk penyebab sakit yang ke tiga harus dimintakan bantuan dukun, kyai dan lain-lain. Dengan demikian upaya penanggulangannya tergantung kepada kepercayaan mereka terhadap penyebab sakit.

6. Perilaku Sehat dan Sakit yang Berkaitan dengan Sistem Tradisi

a. Perilaku Sehat

Perilaku sehat diperlihatkan oleh individu yang merasa dirinya sehat meskipun secara medis belum tentu mereka betul-betul sehat. Sesuai dengan persepsi tentang sakit dan penyakit maka perilaku sakit dan perilaku sehatpun subyektif sifatnya. Persepsi masyarakat tentang sehat-sakit ini sangatlah dipengaruhi oleh unsur pengalaman masalalu di samping unsur sosial budaya. Sebaliknya petugas kesehatan berusaha sedapat mungkin menerapkan kreter ia medis yang obyektif berdasarkan gejala yang tampak guna mendiagnosis kondisi fisik individu.

(44)

a) Perilaku pemeliharaan kesehatan (health maintenance) Usaha seseorang untuk memelihara atau menjaga kesehatan agar tidak sakit dan usaha untuk penyembuhan bilamana sakit. Perilaku pemeliharaan kesehatan terdiri dari 3 aspek :

1) Perilaku pencegahan penyakit, dan penyembuhan penyakit bila sakit, serta pemulihan kesehatan bilamana telah sembuh dari penyakit.

2) Perilaku peningkatan kesehatan, apabila seseorang dalam keadaan sakit.

3) Perilaku gizi (makanan dan minnuman)

b) Perilaku pencarian dan penggunaan sisitem atau fasilitas pelayanan kesehatan.

Upaya seseorang pada saat menderita dan atau kecelakaan.Dimulai dari pengobatan sendiri sampai mencari pengobatan ke luar negeri.

c) Perilaku kesehatan lingkungan

Becker, 1979 membuat klasifikasi tentang perilaku kesehatan, diantaranya:

a) Perilaku hidup sehat

Kegiatan seseorang untuk mempertahankan dan meningkatkan kesehatannya. Perilaku ini mencakup : Menu seimbang, Olahraga teratur, Tidak merokok, Tidak meminum-minuman keras dan narkoba, Istirahat yang cukup, Mengendalikan stress, Perilaku atau gaya hidup lain yang positif bagi kesehatan.

(45)

Respon seseorang terhadap sakit dan penyakit. Persepsinya terhadap sakit pengetahuan tentang penyebab dan gejala penyakit, pengobatan penyakit dsb. c) Perilaku peran sakit

Perilaku ini mencakup :Tindakan untuk memperoleh kesembuhan

Mengenal atau mengetahui fasilitas atau sasaran pelayanan penyembuhan penyakit yang layak. Mengetahui hak, misalnya memperoleh perawatan.

b. Perilaku Sakit

Perilaku sakit diartikan sebagai segala bentuk tin dakan yang dilakukan oleh individu yang sedang sakit agar memperoleh kesembuhan, sedangkan perilaku sehat adalah tindakan yang dilakukan individu untuk memelihara dan meningkatkan kesehatannya, termasuk pencegahan penyakit, perawatan kebersihan diri, penjagaan kebugaran melalui olah raga dan makanan bergizi.

Menurut Parsons, perilaku spesifik yang tampak bila seseorang memilih peran sebagai orang sakit , yaitu orang sakit tidak dapat disalahkan sejak mulai sakit, dikecualikan dari tanggung jawab pekerjaan, sosial dan pribadi, kemudian orang sakit dan keluarganya diharapkan mencari pertolongan agar cepat sembuh.

(46)

menurut Meile, konsep Parsons tersebut tidak cocok dipakai pada orang sakit jiwa.

a) Penyebab Perilaku Sakit

Menurut Mechanic sebagaimana diuraikan oleh Solito Sarwono (1993) bahwa penyebab perilaku sakit itu sebagai berikut:

1) Dikenal dan dirasakannya tanda dan gejala yang menyimpang dari keadaan normal.

2) Anggapan adanya gejala serius yang dapat menimbulkan bahaya

3) Gejala penyakit dirasakan akan menimbulkan dampak terhadap hubungan keluarga, hubungan kerja, dan kegiatan kemasyarakatan.

4) Frekuensi dan persisten (terus-menerus, menetap) tanda dan gejala yang dapat dilihat.

5) Kemungkinan individu untuk terserang penyakit.

6) Adanya informasi, pengetahuan, dan anggapan budaya tentang penyakit.

7) Adanya perbedaan interpretasi tentang gejala penyakit. 8) Adanya kebutuhan untuk mengatasi gejala penyakit. 9) Tersedianya berbagai sarana pelayanan kesehatan,

seperti: fasilitas , tenaga, obat-obatan, biaya, dan transportasi.

Menurut Sri Kusmiyati dan Desmaniarti (1990), terdapat 7 perilaku orang sakit yang dapat diamati, yaitu:

(47)

takut tidak mendapat pengakuan dari lingkungan sehingga merasa diisolasi.

2) Regresi, salah satu perasaan yang timbul pada orang sakit adalah ansietas (kecemasan). Untuk mengatasi kecemasan tersebut, salah satu caranya adalah dengan regresi (menarik diri) dari lingkungannya. 3) Egosentris, mengandung arti bahwa perilaku individu

yang sakit banyak mempersoalkan tentang dirinya sendiri. Perilaku egosentris, ditandai dengan hal-hal berikut:

a) Hanya ingin menceritakan penyakitnya yang sedang diderita.

b) Tidak ingin mendengarkan persoalan orang lain. c) Hanya memikirkan penyakitnya sendiri.

d) Senang mengisolasi dirinya baik dari keluarga, lingkungan maupun kegiatan.

4) Terlalu memperhatikan persoalan kecil, yaitu perilaku individu yang sakit dengan melebih-lebihkan persoalan kecil. Akibatnya pasien menjadi cerewet, banyak menuntut, dan banyak mengeluh tentang masalah sepele.

5) Reaksi emosional tinggi, yaitu perilaku individu yang sakit ditandai dengan sangat sensitif terhadap hal-hal remeh sehingga menyebabkan reaksi emosional tinggi. 6) Perubahan perpepsi terhadap orang lain, karena

beberapa faktor diatas, seorang penderita sering mengalami perubahan persepsi terhadap orang lain. 7) Berkurangnya minat, individu yang menderita sakit di

(48)

timbul stress. Faktor psikologis inilah salah satu sebab berkurangnya minat sehingga ia tidak mempunyai perhatian terhadap segala sesuatu yang ada di lingkungannya. Berkurangnya minat terutama kurangnya perhatian terhadap sesuatu yang dalam keadaan normal ia tertarik atau berminat terhadap sesuatu.

b) Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perilaku Sakit 1) Faktor Internal

Persepsi individu terhadap gejala dan sifat sakit yang dialami.

Klien akan segera mencari pertolongan jika gejala tersebut dapat mengganggu rutinitas kegiatan sehari-hari.

Misal: Tukang Kayu yang menderitas sakit punggung, jika ia merasa hal tersebut bisa membahayakan dan mengancam kehidupannya maka ia akan segera mencari bantuan.

Akan tetapi persepsi seperti itu dapat pula mempunyai akibat yang sebaliknya. Bisa saja orang yang takut mengalami sakit yang serius, akan bereaksi dengan cara menyangkalnya dan tidak mau mencari bantuan.

2) Faktor Eksternal

Gejala yang Dapat Dilihat

Gajala yang terlihat dari suatu penyakit dapat mempengaruhi Citra Tubuh dan Perilaku Sakit.

(49)

karena mungkin komentar orang lain terhadap gejala bibir pecah-pecah yang dialaminya.

c) Tahap-tahap Perilaku Sakit 1) Tahap I (Mengalami Gejala)

Pada tahap ini pasien menyadari bahwa ”ada sesuatu yang salah ”. Mereka mengenali sensasi atau keterbatasan fungsi fisik tetapi belum menduga adanya diagnosa tertentu.

Persepsi individu terhadap suatu gejala meliputi: (a) kesadaran terhadap perubahan fisik (nyeri, benjolan, dll); (b) evaluasi terhadap perubahan yang terjadi dan memutuskan apakah hal tersebut merupakan suatu gejala penyakit; (c) respon emosional. Jika gejala itu dianggap merupakan suatu gejal penyakit dan dapat mengancam kehidupannya maka ia akan segera mencari pertolongan.

2) Tahap II (Asumsi Tentang Peran Sakit)

(50)

dengan sistem pelayanan kesehatan akan tetapi jika gejala itu menetap dan semakin memberat maka ia akan segera melakukan kontak dengan sistem pelayanan kesehatan dan berubah menjadi seorang klien.

3) Tahap III (Kontak dengan Pelayanan Kesehatan)

(51)

meyakinkan bahwa kesehatan atau kehidupan mereka tidak terancam. Misalnya: klien yang didiagnosa mengidap kanker, maka ia akan mengunjungi beberapa dokter sebagai usaha klien menghindari diagnosa yang sebenarnya.

4) Tahap IV (Peran Klien Dependen)

Pada tahap ini klien menerima keadaan sakitnya, sehingga klien bergantung pada pada pemberi pelayanan kesehatan untuk menghilangkan gejala yang ada.

Klien menerima perawatan, simpati, atau perlindungan dari berbagai tuntutan dan stress hidupnya.

Secara sosial klien diperbolehkan untuk bebas dari kewajiban dan tugas normalnya semakin parah sakitnya, semakin bebas. Pada tahap ini klien juga harus menyesuaikanny dengan perubahan jadwal sehari-hari. Perubahan ini jelas akan mempengaruhi peran klien di tempat ia bekerja, rumah maupun masyarakat.

5) Tahap V (Pemulihan dan Rehabilitasi)

(52)
(53)

BAB 3 PENUTUP A. Kesimpulan

1. Dari Uraian diatas dapat kami simpulkan bahwa manusia sebagai pencipta dan pengguna kebudayaan akan terus berhadapan dengan problematika kebudayaan. Salah satu yang harus diperhatikan yaitu bagaimana kita menyikapi perubahan dan perkembangan kebudayaan. Kebudayaan akan terus mengalami perubahan selama manusia hidup dimuka bumi ini karena kebudayaan bersifat dinamis. Dan yang terpenting dari itu semua adalah bagaimana kita menyikapi dan memilah milah kebudayaan asing yang masuk dan mengintervensi kebudayaan asli yang kita kita miliki.

2. Adaptasi adalah proses dimana dimensi fisiologis dan psikososial berubah dalam berespon terhadap stress. Perubahan lingkungan merangsang seseorang untuk membuat respon adaptasi. Dalam beradaptasi,individu menggunakan mekanisme koping yang positif dan negatif.Kemampuan beradaptasi dipengaruhi oleh 3 komponen yaitu penyebab utama terjadinya perubahan,kondisi dan situasi yang ada dan keyakinan dan pengalaman dalam beradaptasi. Tiga elemen penting yang termasuk dalam Model Adaptasi adalah 1) manusia; 2) lingkungan; 3) sehat.

(54)

4. Masalah kesehatan merupakan masalah kompleks yang merupakan resultante dari berbagai masalah lingkungan yang bersifat alamiah maupun masalah buatan manusia, sosial budaya,perilaku, populasi penduduk, genetika, dan sebagainya.

E. Saran

1. Sebagaimana yang telah kita ketahui bahwa kebudayaan mengalami perkembangan (dinamis) sesuai dengan perkembangan manusia itu sendiri, oleh sebab itu tidak ada kebudayaan yang bersifat statis. Dengan demikian, kebudayaan akan mengalami perubahan. Oleh karena itu sebagai manusia dan masyarakat sudah kewajiban kita melestarikan dan menjaga kelestarian budaya tersebut.

2. Saran yang dapat diberikan penulis kepada pembaca adalah agar pembaca dapat mengetahui tentang adaptasi suatu organisme terhadap suatu lingkungan

3. Sebagai seorang tenaga kesehatan yang profesional kita harus menjaga kesehatan kita terlebih dahulu sebelum kita merawat pasien atau klien yang kita rawat. Sehingga kita dapat merawat pasien ataupun klien dengan semaksimal mungkin.

(55)

DAFTAR PUSTAKA Pada tanggal 29 November 2017. http://ferosiska.blogspot.co.id/ 2013/01/adaptasi-manusia-dan-lingkungannya.html

Marya Rya. 2013. Perilaku Sehat-Sakit Masyarakat. Diakses Pada tanggal 29 November 2017. http://ryamarya.blogspot.co.id /2013/03/makalah-perilaku-sehat-sakit-masyarakat.html

Mickey. 2012. Adaptasi Fisiologi. Diakses Pada tanggal 29 November 2017. https://mickeybal.wordpress.co m/tag/adaptasi-fisiologi/

Ninny Anggelina. 2013. Konsep Perilaku Sehat dan Sakit. Diakses Pada tanggal 29 November 2017. http://anggelinaninny.blogspot .co.id/2013/12/makalah-konsep-perilaku-sehat-dan-sakit.html

Nurjannah Amaliyah. 2016. Kelangsungan Hidup Organisme. Diakses Pada tanggal 29 November 2017.http://amaliyahnurjannah.blogs pot.co.id/2016/12/makalah-kelangsungan-hidup-organisme.html

Nuraisah Myta. 2011. Pengertian Sehat dan Sakit. Diakses Pada tanggal 29 November 2017.http://mytanuraisah.blogspot.c o.id/2011/06/v-behaviorurldefaultvmlo.html

(56)

Sani Noni. 2016. Pengertian Adaptasi Kebuayaan. Diakses Pada tanggal 29 November 2017. http://aku35.blogspot.co.id/20 16/07/pengertian-adaptasi-kebudayaan.html

Ryadi, Slamet dan T Wijayanti. 2011. Dasar-dasar epidemiologi.Salemba Medika. Jakarta.

Sanjaya Zahra. 2012. Aspek Sosial Budaya. Diakses Pada tanggal 29 November 2017.

http://zahra- sanjaya.blogspot.co.id/2012/06/makalah-aspek-sosial-budaya-yang.html

Referensi

Dokumen terkait