• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODOLOGI

3.4. Observasi

3.4.2. Adegan Terancam

Tiga shot yang dipilih sebagai observasi adegan terancam masing – masing berasal dari film A Bug’s Life, The Last Bastion dan Apocalypto. Shot – shot tersebut dipilih berdasarkan kemiripan adegan, suasana, tempat, dan waktu dengan shot yang akan dirancang. Adegan bahaya yang dipilih adalah adegan di mana tokoh utama mengalami bahaya yang dapat mengancam hidupnya.

1. A Bug’s Life

Shot dipilih dari adegan ketika Hopper marah karena Flik berusaha

mengelabuinya dengan burung palsu. Shot ini dipilih karena merupakan adegan

climax dalam film yang merupakan puncak permasalahan dan bahaya terbesar.

Juga di mana Flik sang tokoh utama harus mengambil keputusan yang dapat merubah jalan cerita. Adegan ini pun menyerupai adegan pada shot yang akan dirancang, di mana adegan tersebut merupakan climax dan puncak permasalahan. Tempat terjadinya shot ini adalah di depan rumah para koloni semut yang terletak di tanah gersang di antara rerumputan dan dikelilingi oleh pasir dan bebatuan.

Setting waktu pada shot adalah malam hari dan cahaya utama pada shot adalah api

Gambar 3.16 Color Palette Adegan Terancam A Bug's Life (A Bug’s Life, 1998)

Tata warna yang digunakan pada shot berikut adalah tata warna komplimenter berupa orange dan biru, di mana di dominasi oleh tata warna orange yang dapat dilihat pada color palette. Tata warna orange tersebut dihasilkan dari api besar dari burung palsu yang terbakar di background, sementara tata warna biru dihasilkan dari cahaya bulan yang menggambarkan suasana malam. Berdasarkan teori, tata warna komplementer dapat digunakan untuk meningkatkan intensitas. Warm color yang berada pada shot ini pun dapat mengindikasikan kedatangan bahaya bagi para semut khususnya Flik. Karena pada adegan sebelumnya yaitu identitas burung palsu yang belum terbongkar, Flik dan para semut tengah dibaluti tata warna biru.

Gambar 3.17 Adegan Aman dan Terancam A Bug's Life (A Bug’s Life, 1998)

Warm color juga dapat menunjukkan Hopper yang jauh lebih kuat

daripada Flik yang didominasi tata warna biru. Hal ini dikarenakan warm color tersebut terdiri dari tata warna merah yang dapat menyimbolkan kekuatan dan kuning sebagai tanda bahaya. Sementara tata warna biru sendiri adalah tata warna yang pasif. Peletakan warm color di belakang Hopper dengan value dan saturasi yang tinggi, dapat menarik perhatian pandangan penonton kepada Hopper yang merupakan objek terpenting dalam shot. Teori juga mengatakan bahwa tata warna kuning adalah tata warna yang paling mudah diketahui keberadaannya.

Gambar 3.18 Black and White Adegan Terancam A Bug's Life (A Bug’s Life, 1998)

Gambar 3.19 Histogram Adegan Terancam A Bug's Life (sumber: dokumentasi pribadi)

Melihat dari gambar shot dan histogram, dapat disimpulkan pada shot ini digunakan kualitas pencahayaan low key. Hal ini bisa dilihat dari banyaknya area gelap pada gambar dan bagaimana detail pada histogram yang berpusat pada bagian shadow. Penggunaan low key menyesuaikan dengan waktu yaitu pada malam hari. Selain itu penggunaan low key dapat membantu memfokuskan pandangan penonton pada area dengan value tertinggi yaitu api di belakang Hopper.

Sumber cahaya utama pada shot adalah api yang berada di belakang Hopper, sehingga arah cahaya pun datang dari belakang tokoh. Hal ini menyebabkan wajah dan badan Hopper tertutup bayangan dan begitu juga dengan Flik, sehingga dapat meningkatkan intensitas dalam shot. Selain itu api pun ikut berperan menjadi rim light bagi tokoh yang membantu visual shapping tokoh dan memisahkannya dari background. Sumber cahaya yang jauh menyebabkan terbentuknya jenis bayangan hard light, dan sesuai dengan teori hal ini dapat meningkatkan intensitas pada shot.

2. The Last Bastion

The Last Bastion memiliki kemiripan dari segi tokoh robot, adegan, suasana, tempat dan waktu yang terlihat jelas pada adegan flashback yang dialami oleh Bastion yang akan menjadi shot observasi. Pada shot ini Bastion mengalami

flashback melalui memori salah satu temannya yang telah rusak, adegan

digambarkan sangat kacau karena terjadinya peperangan antar robot. Ledakan terjadi di mana – mana dan cahaya tembakan dari robot dan api menerangi shot ini. Adegan ini mirip dengan adegan dari shot yang akan dirancang, di mana Mansar akan diserang oleh Mantis dan terdapat api dari obor disekitarnya. Setting tempat yang terlihat pada shot adalah tanah gersang dan kering, tidak terlihat adanya satu pun tumbuhan serta dikelilingi oleh asap yang dihasilkan dari ledakan dan serangan para robot. Setting tanah gersang memiliki kemiripan dengan Omen, begitu juga dengan setting waktu pada malam hari.

Dominasi tata warna pada shot adalah warm color yang dihasilkan dari api ledakan dan tembakan senjata para robot. Dengan tidak adanya sumber cahaya lain selain api dan tembakan, benda – benda sekitar pun terpengaruhi dan menjadi dominan warm color. Warm color pada shot tersebut mengindikasikan terjadinya bahaya besar, karena warm color yang sangat menonjol pada shot ini tidak digunakan pada adegan lainnya.

Gambar 3.21 Adegan Aman dan Terancam The Last Bastion (The Last Bastion, 2016)

Selain itu transisi tata warna dari adegan sebelumnya pada adegan di dalam shot ini terjadi sangat cepat. Hal ini dapat membantu untuk menyampaikan kepada penonton bahwa kejadian pada adegan peperangan terjadi pada waktu yang berbeda yaitu pada masa lalu. Karena tata warna yang digunakan pada adegan sebelumnya dan sekarang sangat berbeda. Tata warna yang digunakan cenderung desaturated dengan value rendah, kecuali pada tata warna api dan tembakan robot. Hal ini bertujuan untuk membantu mengarahkan pandangan penonton pada serangan robot untuk menunjukkan keganasan perang yang sedang terjadi. Penggunaan saturasi dan value yang rendah pun dapat meningkatkan intensitas dalam shot.

Gambar 3.22 Black and White The Last Bastion (The Last Bastion, 2016)

Gambar 3.23 Histogram The Last Bastion (sumber: dokumentasi pribadi)

Terlihat pada shot terdapat cukup banyak area gelap. Pada histogram pun ditunjukkan detail berada pada area shadow dan midtones, sehingga dapat disimpulkan pada shot ini memiliki kualitas low key. Sumber cahaya pada shot adalah api ledakan dan tembakan senjata dari para robot, sehingga cahaya datang dari berbagai arah. Namun pada shot ini, dengan melihat arah highlight pada badan robot dan arah jatuhnya bayangan dapat dilihat cahaya terkuat berasal dari tembakan senjata robot. Tembakan robot tersebut berfungsi sebagai key light sementara ledakan api di background maupun di foreground berfungsi sebagai fill

robot tersebut telah menghilang. Bayangan pada shot adalah hard light yang dapat digunakan untuk meningkatkan intensitas dalam shot.

3. Apocalypto

Seperti Omen, Apocalypto pun mengangkat cerita dengan tokoh dan setting yang sangat kental dengan suku. Tokoh yang di angkat pun memilki kemiripan dari segi fisik, pakaian dan tata warna kulit. Secara konsep, sama seperti pada film – film acuan sebelumnya di mana tokoh akan merasa aman apabila bersembunyi di bayangan sehingga tidak terlihat oleh musuh. Shot yang dipilih diambil dari adegan penyerangan prajurit terhadap perkampungan Jaguar Paw. Penyerangan yang dilakukan secara tiba – tiba menyebabkan Jaguar Paw dan teman – temannya tidak memiliki senjata dan menyebabkan kekalahan pada pihaknya. Keduanya juga memiliki setting rumah tradisional yang terletak di tengah – tengah hutan. Meski setting waktu terjadi pada pagi hari, namun cahaya api dari rumah yang terbakar tetap menjadi cahaya utama dalam shot tersebut. Cahaya yang dihasilkan matahari pun belum begitu kuat pada shot tersebut.

Gambar 3.24 Color Palette Apocalypto (Apocalypto, 2006)

Dapat dilihat dominasi warm color berupa orange kecoklatan dari color

palette. Dengan tata warna kuning dan orange yang memiliki value dan saturasi

yang tinggi yang dapat menarik perhatian penonton. Waktu di dalam shot adalah pagi hari sehingga cahaya matahari belum kuat yang menyebabkan tata warna pada hutan di background memiliki value dan saturasi yang lebih rendah. Dengan begitu pandangan penonton pun dapat diarahkan pada kegiatan bertarung antara rakyat dan prajurit di tengah shot. Seperti pada shot – shot sebelumnya, warm

color pada shot ini juga dapat mengindikasikan bahaya bagi para rakyat

perkampungan.

Selain tata warna tersebut dihasilkan dari api yang membakar rumah mereka, warm color tersebut datang mengikuti para prajurit musuh dan menghilang ketika penyerbuan telah selesai. Tata warna dalam shot pun berupa tata warna komplementer dengan tata warna api dan tata warna lingkungan

sekitarnya yang cenderung hijau dan biru. Menyesuaikan dengan teori yang mengatakan tata warna komplimenter dapat meningkatkan intensitas.

Gambar 3.25 Black and White Apoclypto (Apocalypto, 2006)

Gambar 3.26 Histogram Apocalypto (sumber: dokumentasi pribadi)

Melihat pada histogram, detail berkumpul secara bertahap dan berkumpul pada area shadow. Menciptakan gambar dengan dominasi value midtone menuju

shadow secara bertahap, sehingga dapat disimpulkan kualitas pada gambar adalah low key. Value tertinggi berada pada sisi kanan shot berupa cahaya api yang

menjadi sumber cahaya utama pada shot. Hal ini membantu mengarahkan pandangan penonton. Penggunaan low key pada adegan ini juga membantu untuk

penyampaian setting waktu pada pagi hari, di mana cahaya pagi cenderung rendah.

Sumber cahaya utama berada pada sisi kanan shot dan bayangan pun muncul pada arah yang berlawanan. Arah cahaya yang terletak pada belakang tokoh antagonis menyebabkan bayangan menutupi wajahnya yang dapat meningkatkan intensitas dalam shot karena penonton tidak dapat melihat dengan jelas wajah tokohnya. Arah pencahayaan yang berada di belakang tokoh juga menjadi rim light. Bayangan yang dihasilkan pun berupa hard light yang dapat dilihat dari jarak antara ruang gelap dan terang yang kecil.

Dari ketiga shot tersebut dapat dilihat bagaimana warm color mendominasi gambar. Dominasi tersebut terjadi berdasarkan faktor sumber cahaya utama yang berasal dari api pada setiap shot. Warm color yang digunakan pada setiap shot pun sebagai indikasi bahaya bagi tokoh utama, hal ini disimpulkan dari penggunaannya ketika bahaya datang dan menghilang pada saat tidak ada bahaya. Warm color juga dapat membantu mempertegas kuatnya tokoh antagonis dalam film sehingga penonton dapat merasakan perjuangan tokoh protagonist dalam menghadapi musuhnya. Ketiga shot tersebut juga menggunakan tata warna komplimenter untuk meningkatkan intensitas dan memperlihatkan perbedaan antara tokoh antagonis dan protagonist. Meski teori mengatakan warm

color melambang kebahagiaan, namun tata warna yang digunakan memiliki

saturasi dan value yang tinggi. Hal ini dapat menimbulkan rasa resah pada penonton karena sifatnya yang ribut dan menyilaukan.

Persamaan dari ketiga shot juga dapat dilihat dari kualitas pencahayaan

low key yang digunakan. Sesuai dengan teori di mana penggunaan low key

bertujuan untuk meningkatkan intensitas juga menyesuaikan dengan waktu malam hari dan pagi pada Apocalypto. Kemudian arah cahaya yang datang dari belakang tokoh, meskipun pada The Last Bastion, sumber cahaya utama bergantian antara tembakan senjata robot dan api ledakan pada background. Bayangan yang digunakan pada ketiga shot pun berupa hard light. Sumber cahaya utama yang mirip yaitu api yang juga dapat digunakan untuk menyimbolkan bahaya, kekuatan dan kemarahan musuh. Pada ketiga shot, bayangan menutupi wajah tokoh antagonis yang dapat menambah ketegangan bagi penonton. Arah pencahayaan dari belakang berperan sebagai key light sekaligus rim light sebagai penjelas bentuk tokoh dan memisahkan tokoh dari background.

Dokumen terkait