KAJIAN PUSTAKA
13) Adol Dhawet (Jual Dawet)
Upacara ini dilaksanakan setelah siraman. Penjualnya adalah ibu calon pengantin putri yang dipayungi oleh bapaknya. Pembeli para tamu dengan uang pecahan genting (kreweng).
Upacara ini mengandung harapan agar nanti pada saat upacara panggih dan resepsi banyak tamu dan rezeki yang datang. 14) Paes
Paes atau rias dengan dipotong atau cukur, kerik, yaitu upacara, memotong rambut halus diatas kening (dikerik) yang dilakukan oleh juru paes. Istilahnya calon pengantin putri "dihalub-halubi", "dilakari", atau "dicengkorongi".
Paes itu sesungguhnya mengandung makna luhur. Paes di tengah kening disebut "gajah". Binatang ini zaman dahulu adalah kendaraan para raja, maka diharapkan calon pengantin kelak memperoleh kedudukan luhur mulia. Paes dekat paes gajah disebut pengapit simbol sebagai biyung atau ibu, sedang simbol atau lambang bapak adalah paes panitis yang terletak dekat paes pengapit. Di dekat panitis, yaitu godhek mengandung arti keturunan.
Setelah selesai di-halub-halubi calon pengantin lalu berdandan kemudian dipandu oleh juru rias menghadap para sesepuh dan pinisepuh serta para tamu lain untuk mohon doa restu.
Sumarsono (2007:32-33) mengungkapkan,” Ada pula yang memberi makna gajah memiliki sepasang gading yang sama warnanya sama bentuknya, sama kuatnya. Selain memperindah penampilannya gading juga mempunyai fungsi untuk melindungi dari segala bahaya terhadap dirinya. Demikianlah bagi sepasang pengantin juga merupakan dua Wsatuan tunggal: tunggal cipta,
tunggal rasa, dan tunggal karsa. Dengan kesatuan hati dan
jiwanya diharapkan mampu mengatasi segala tantangan, godaan, dan hambatan dalam mengarungi samudra kehidupan di masyarakat.
15) Midodareni
Sumarsono (2007:34) mengungkapkan, ” Midodareni dari asal kata "widodareni" (bidadari) lalu menjadi "midodareni" artinya membuat keadaan calon pengantin seperti bidadari (putri) dan bidadara (putra). Semoga dengan upacara ini maka kecantikan dan kebagusan sepasang pengantin bagaikan bidadari dan bidadara. Dalam dunia pewayangan seperti Dewi Kumaratih dan Dewa Kumajaya. Dalam upacara ini dilangsungkan penebusan kembar-mayang yang akan dijadikan sarana pawiwahan (pelantikan), pengantin berdua pada saatnya nanti”. Ditambahkan oleh Walter
L.W (1995:146), ” Ruangan kamar pengantin juga dihiasi bunga yang sangat harum”.
16) Selamatan (Selametan)
Dengan mengundang para tetangga untuk berdoa bersama dalam rangka akan dilangsungkannya pawiwahan dan pahargyan pengantin pada waktunya nanti. Menurut tradisi tempat tertentu uba rampe selamatan terdiri dari sepasang tumpeng dilengkapi dengan nasi asahan. Ambengan beralaskan daun pisang raja, gudhangan, dan ingkung ayam.
Setelah siap semuanya lalu didoakan oleh Rois dengan tijub mohon berkah keselamatan menyongsong pelaksanaan ijab qobul dan akad nikah. Selesai selamatan dilanjutkan tirakatan sekaligus menata ulang persiapan esok harinya dan atau menemani para pendekor, bahkan mungkin sudah ada para tamu yang datang untuk memberi doa restu.
17) Nyantri atau Nyantrik
Menurut Danang Sutawijaya (2001:8), ” Yaitu datangnya calon pengantin pria beserta pengiringnya ke tempat calon pengantin putri. Pada tata cara ini diadakan upacara penyerahan dan penerimaan. Isi pokok penyerahan, yaitu calon pengantin putra mohon diijabkan”. Karena acara ijab berlangsung esok harinya maka calon pengantin putra ditempatkan di pemondokan bersama rombongannya, di rumah saudara atau tetangga atau di
hotel. Sebelum istirahat dipondokannya biasanya diadakan pertemuan perkenalan dengan sanak saudara atau sementara tamu yang kebetulan sudah hadir.
18) Upacara Panggih
Menurut Sumarsono (2007:37-39), “ Banyak urut-urutan upacara yang harus dilakukan dalam acara ini jika memang dikehendaki, tetapi biasanya zaman sekarang hanya mengambil sepotong-potong saja sesuai dengan keadaan. Nama upacara, arti serta Nilai Pendidikan Islamnya adalah sebagai berikut :
a) Liron kembar mayang
Saling menukar kembar mayang antara calon pengantin put-ra dengan pengantin putri bermakna dan mempunyai tu juan bersatunya cipta, rasa dan karsa untuk bersama mewujudkan kebahagiaan dan keselamatan.
b) Gantal
Daun sirih yang digulung kecil diikat benang putih ada dua macam, yaitu gantal putri disebut gondhang kasih dan gantal putra disebut gonthang tutor. Saling dilempar kepada pengantin yang satu dan yang lain dengan harapan semoga semua godaan hilang terkena lemparan itu.
c) Ngidak endhog
Pengantin putra menginjak telur ayam sampai pecah sebagai simbol seksual kedua pengantin sudah pecah pamornya.
d) Pengantin putri mencuci kaki pengantin putra
Mencuci dengan air bunga setaman dengan makna semoga benih yang diturunkan bersih dari segala perbuatan yang kotor.
e) Minum air degan
Air ini dianggap sebagai lambang air hidup, air suci, air mani (manikem).
f) Di-kepyok dengan bunga warna-warni
Mengandung harapan mudah-mudahan keluarga yang mereka bina dapat berkembang segala-galanya dan berbahagia secara lahir batin.
g) Masuk ke pasangan
Bermakna pengantin menjadi pasangan hidup siap berkarya melaksanakan kewajiban.
h) Sindur
Sindur atau isin mundur artinya pantang menyerah atau
pantang mundur. Siap menghadapi tantangan hidup de ngan semangat berani karena benar seperti lambang warna kain sindur merah dan putih.
Setelah melalui tahapan panggih seperti tersebut di atas pengantin diatar duduk di sasana riengga, di situ dilangsungkan tata adat Jawa. Acara ini pun bukan harga mati, tidak mengikat tergantung pada keadaan setempat :
1) Timbangan
Upaya untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT untuk mencapai kebahagian dunia dan akhirat Bapak pengantin putri duduk di antara pasangan pengantin, kaki kanan diduduki pengantin putra, pengantin putri di kiri. Dialog singkat antara Bapak dan Ibu pengantin putri berisi pernyataan bahwa masing-masing pengantin sudah seimbang”.
2) Kacar-kucur
Menurut Imam Sutardjo (2008:82-85),” Pengantin putra mengucurkan penghasilan kepada pengantin putri berupa uang receh beserta. kelengkapannya. Mengandung makna kaum pria bertanggung jawab memberi nafkah kepada keluarganya. Tetapi ada juga yang saling mengucurkan secara bergantian, ternyata pengaruh gender sudah masuk dalam upacara adat ini.
3) Dulangan
Pengantin putra dan putri saling menyuapi. Mengandung kiasan laku memadu kasih pasangan laki-laki dan perempuan (simbol seksual)”.
19) Upacara Babak Kawah
Menurut Danang Sutawijaya (2001:31-33),” Upacara ini khusus untuk kalangan keluarga yang baru pertama kali hajatan
mantu putri sulung, ditandai dengan membagi harta benda dalam
umbi-umbian. Mengandung makna sebagai ungkapan syukur orangtua sudah dapat melaksanakan kewajibannya. Babak artinya membabat, sedang kazvah yaitu air ketuban yang keluar mengawali bayi lahir”. Babak kawak berarti membabat segala aral yang melintang yang menghadang di jalan pada awal perjalanan hidup dari pengantin.
20) Tumplek Punjen
Dalam penjelasanya Sumarsono (2007:40), “Numplak artinya menumpahkan, punjen berbeda beban di atas bahu, Nilai Pendidikan Islamnya lepas sudah semua darma kepada anak. Tata cara ini dilaksanakan bagi orang yang punya hajat menantu terakhir (anak bungsu), berarti tidak akan bermenantu lagi. Pelak-sanaannya membagi kantong-kantong kecil berisi uang receh, bumbu dapur, beras kuning, kacang kawak, dhele kawak dan bu-nga setaman. fika dalam bokor masih bersisa, isinya hares ditum-pahkan semua sampai habis. Maka tuntas sudah beban orang-tua. Itulah Nilai Pendidikan Islamnya”.
21) Sungkeman
Menurut Purwadi (2007:58-59), “ Sungkeman adalah ungkapan bakti kepada orangtua, serta mohon doa restu. Caranya berjongkok dengan sikap seperti orang menyembah menyentuh lutut orangtua pengantin perempuan, mulai dari pengantin putri diikuti pengantin putra, baru kemudian kepada bapak dan ibunya
pengantin putra”. Pada waktu upacara Sungkeman keris pusaka yang dipakai oleh pengantin putra harus dilepas dahulu.
22) Kirab
Menurut Sumarsono (2007:41-43), “ Ada dua macam jenis kirab, yaitu kirab kanarendran dan kirab hasatrian. Kirab adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan saat pengantin berdua meninggalkan tempat duduknya untuk berganti busana. Waktu keluar disebut kirab kanarendran, sedang setelah kembali lagi untuk duduk di tempat semula disebut kirab kasatriyan. Baik keluar maupun masuknya diawali oleh suba manggala, sementara di belakangnya berturut-turut adalah satriya kembar, patah,
pengantin, pengamping (pengapit), juru rias, putri dhomas, para warga wandawa, besan, yang punya hajat, kakek-nenek (kalau masih ada).
23) Pahargyan / Pasamuan
Sekurang-kurangnya ada tiga macam model:
a) Cara "montoran" (acara selesai sehari) atau cara "climen"
- Pagi pasang tarub sampai kurang lebih jam 11.00, - Dilanjutkan srah-srahan,
- Ijab qobul,
- Panggih bersamaan dengan panghargyan (tamu diundang tidak bersamaan dengan panggih)
Bila ijab qobul sudah terlaksana, maka pasangan pengantin lalu dibawa ke tempat istirahat masing-masing. Pengantin putra ke tempat istirahat putra, pengantin putri dibawa ke tempat istirahat putri. Mereka lalu mengenakan busana pengantin lengkap. Setelah selesai berbusana pengantin, maka pengantin putri lalu didudukkan di sasana rinengga menunggu pengantin putra datang. Begitu ada isyarat pongantin putra datang, maka pengantin putri menjemput dipintu sasana rinengga dan di situ panggih berlangsung dengan urutan acara sebagai berikut :
- Pembukaan
- Saling melempar gantal, menginjak telur, mencuci kaki, menginjak pasangan, terus menuju ke sasana rinengga Bacaan ayat suci al Qur'an
- Sambutan selamat datang dari tuan rumah - Istirahat I
- Sambutan dari wakil besan - Kirab kanarendran
- Istirahat II - Kirab kasatriyan - Ular-ular
- Doa penutup
- Pengantin siap di tempat yang ditentukan menerima jabat tangan dari para tamu untuk berpamitan
c) Prasmanan
Model ini disebut dengan pesta standing party, pesta ber-diri, atau pesta adeg-adegan. Para tamu setelah berjabat tangan dengan pengantin dan kedua orangtua dari pengantin putra dan putri terus menuju ke tempat hidangan. Mereka kemudian bersantap secara santai tak terikat secara protokoler, dan dapat memilih tempat yang disukai”.