• Tidak ada hasil yang ditemukan

PAPARAN DATA DAN TEMUAN PENELITIAN

C. Temuan Penelitian

1. Bentuk-bentuk Prosesi pernikahan adat Jawa di Desa Dadapayam, Kec. Suruh, Kab. Semarang

Setelah terjun kelapangan di desa Dadapayam, Suruh, Semarang. Penulis menemukan perbedaan antara Prosesi dan Resepsi. Prosesi adalah acara dalam suatu pernikahan dari awal sampai akhir sedangkan Resepsi dalam suatu pernikahan adalah rangkain acara khusus untuk pengantin dari acara Ijab Qobul sampai sungkeman serta Penulis menemukan Bentuk-bentuk Prosesi pernikahan adat Jawa beserta nilai Pendidikan Islam yang terkandung dalam ritual tersebut yang dibagi menjadi beberapa tahapan-tahapan.

Inilah tahapan rangkaian prosesi dan resepsi dalam pernikahan adat jawa: a. Tahapan Prosesi Pernikahan

Yaitu babak atau tahap pembicaraan antara pihak yang akan punya hajat mantu dengan pihak calon besan, mulai dari pembicaraan pertama sampai tingkat melamar, menentukan hari penentuan dan ijab qobul. Seperti di jelaskan oleh SW wawancara pada tanggal 10 juli 2011 jam 09.30 wib sebagai berikut:

1) Congkog

Seseorang yang diutus menanyakan dan mencari informasi ter-hadap kondisi dan situasi calon besan, karena adanya rasa cinta dengan putrinya, yang sekarang akan dilamar.

2) Nontoni

Setelah pihak calon besan memberi lampu hijau artinya larnarannya diterima, pembicaraanbisa dilanjutkan. Dalam acara ini calon pengantin putri secara tidak langsung "dipertontonkan" kepada calon mertua dan pengikutnya dengan cara menghidangkan minuman, atau diajak duduk bersama, sekaligus berkenalan dengan calon mertua dan peserta lain yang hadir.

3) Nglamar

Pada acara ini adalah memantapkan pembicaraan serta menetapkan hari H, ten-tang rencana dan acara selanjutnya.

Yaitu menyerahkan seperangkat perlengkapan sarana untuk melancarkan pelaksanaan acara sampai hajat berakhir seperti cincin, seperangkat busana putri, perhiasan, makanan tradisional, buah-buahan, daun sirih, dan uang.

5) Peningsetan

Lambang kuatnya ikatan pembicaraan untuk mewujudkan dua kesatuan ditandai dengan tukar cincin antara kedua calon pengantin. Tata cara pelaksanaan pemasangannya sesuai dengan adapt yang berlaku yang penting ada saksi-saksinya.

6) Asok tukon

Hakikatnya adalah penyerahan dana berupa sejumlah uang untuk membantu meringankan kepada keluarga pengantin putri. 7) Ijab Qobul

Peristiwa paling penting dan paling utama sekaligus menjadi inti dari hajatan manta adalah ijab qobul di mana sepasang calon pengantin bersumpah di hadapan Naib dan para saksi dihadiri para

pinisepuh serta para wali yang sudah disiapkan lahir batinnya di jauh

waktu sebelumnya secara sakral. Ditambahkan oleh Bhr wawancara pada tanggal 12 Juli 2011 jam 10.45 Wib, ” Ijab qobul merupakan

peristiwa penting dalam hajatan. dimana sepasang calon pengantin bersumpah di hadapan naib yang disaksikan wali, pinisepuh dan orang tua kedua belah pihak”.

Setelah ijab qobul selesai sebutan tidak lagi calon pengantin tetapi pengantin. Selanjutnya diadakan tasyakuran menyambut pengantin karena telah lulus melaksanakan akad nikah.

b. Tahapan Resepsi Pernikahan

Pada tahapan ini untuk menciptakan nuansa bahwa hajatan mantu sudah tiba saatnya. Sekurang-kurangnya ada lima atau enam tahapan:

1) Pasang Tratag dan Tarub

Setelah pemasangan tratag lalu dilanjutkan dengan pasang tarub, pihak tuan rumah memberi tanda resmi adanya hajatan mantu atau pernikahan kepada masyarakat. Tarub dibuat menjelang acara inti tiba. Menurut A.H wawancara pada tanggal 11 Juli 2011 jam 11.00 Wib, ” Pasang tarub digunakan sebagai tanda resmi bahwa akan ada

hajatan mantu dirumah yang bersangkutan. Adapun cirri khas tarub adalah dominasi hiasan daun kelapa muda (janur), hiasan warna-warni, dan kadang disertai dengan ubarampe”.

2) Kembar Mayang

Dari kata "kembar" artinya sama dan "mayang" artinya bunga pohon jambe atau wring disebut Sekar Kalpataru Dewandaru, lambang kebahagiaan dan keselamatan. Pembuatannya biasanya diserahkan kepada sesepuh yang mengetahui akan hal itu. Menurut Sltr wawancara pada tanggal 11 Juli 2011 jam 13.00 Wib, ” Kembar

artinya sama dan mayang artinya bunga pohon jambe yang Secara umum adalah lambang kebahagiaan dan keselamatan”.

Jika peresmian (pawiwahan) sudah selesai, biasanya kembar mayang dilabuh atau dibuang di perempatan jalan, sungai atau la tit mempunyai maksud dan makna agar pengantin berdua selalu ingat asal-muasal hidup ini adalah dari bapak dan ibu sebagai perantara dari Tuhan Yang Maha Kuasa.

Barang-barang untuk membuat kembar mayang itu Menurut Sltr adalah sebagai berikut :

a. Batang pisang, 2-3 potong, untuk hiasan. Biasanya diberi alas dari tabung yang terbuat dari kuningan.

b. Bambu untuk penusuk (sujen), secukupnya. c. Janur kuning, dan pelepah.

d. Daun-daunan: daun kemuning, beringin beserta rantingrantingnya daun girang dan daun andong.

e. Nanas dua buah, pilih yang sudah masak dan sama besarnya. f. Bunga melati, kanthil dan mawar merah putih.

g. Kelapa muda dua buah, dikupas kulitnya dan airnya jangan sampai tumpah. Bawahnya dibuat rata atau datar agar kalau diletakkan tidak terguling dan air tidak tumpah

3) Pasang Tuwuhan (Pasren)

Tuwuhan atau tumbuh-tumbuhan yang melambangkan isi alam semesta. Dipasang di pintu masuk ke tempat peresmian atau tempat

duduk pengantin. Petunjuk pembuatannya diserahkan kepada sesepuh yang dipercaya. Namun saat ini, seringkali diborongkan saja kepada dekorator, hanya pemasangan pertama dimulai oleh orang yang dituakan. Jenis tumbuh-tumbuhan disesuaikan dengan keberadaan lingkungan setempat, sehingga antara tempat yang satu dan yang lain berbeda-beda, yang penting adalah harapan yang terkandung di dalamnya.

Menurut Syd wawancara pada tanggal 11 Juli 2011 jam 15.00 Wib, ” Setiap jenis tumbuh-tumbuhan mengandung makna dan

harapan diantaranya:

a. Janur. Harapannya agar pengantin memperoleh nur atau cahaya terang dari Yang Maha Kuasa.

b. Daun kluwih. Semoga hajatan tidak kekurangan sesuatu, jika mungkin malah dapat lebih (luwih) dari yang diperhitungkan. c. Daun beringin dan ranting-rantingnya. Diambil dari kata ingin,

artinya harapan, cita-cita atau keinginan yang didambakan mudah-mudahan selalu terlaksana.

d. Daun dadap serep. Berasal dari suku kata oerep artinya dingin, sejuk, teduh, damai, tenang tidak ada gangguan apa pun.

e. Seuntai padi (pari sewuli). Melambangkan semakin berisi semakin merunduk. Diharapkan semakin berbobot dan berlebih hidupnya, semakin ringan kaki dan tangannya, dan selalu siap membantu sesama yang kekurangan.

f. Cengkir gadhing. Air kelapa muda (banyu degan), adalah air suci bersih, dengan lambang ini diharapkan cinta mereka tetap suci sampai akhir hayat.

g. Setundhun gedang raja suluhan (setandan pisang raja). Semoga kelak mempunyai sifat seperti raja hambeg para marta, mengutamakan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi. h. Tebu wulung watangan (batang tebu hitam). Bermakna

kemantapan hati (anteping kalbu), jika sudah mantap menentukan pilihan sebagai suami atau istri, tidak tengok kanankiri lagi. i. Kembang lan woh kapas (bunga dan buah kapas). Harapannya

agar kedua pengantin kelak tidak kekurangan sandang, pangan, dan papan. Selalu pas, tetapi tidak pas-pasan.

j. Kembang setaman. Harapannya agar kehidupan kedua pengantin selalu cerah ibarat bunga di taman”.

4) Siraman

Menurut Swr wawancara pada tanggal 11 Juli 2011 jam 16.00 Wib, ” Untuk siraman yang harus disiapkan berupa air bunga

setaman, yaitu air yang diambil dari tujuh sumber mata air yang ditaburi bunga setaman yang terdiri dari mawar, melati dan kenanga”.

Upacara siraman ini sebagai persiapan lahir dan batin bagi kedua talon pengantin sebelum menjalani upacara puncak perkawinan mereka.

5) Midodareni

Midodareni artinya membuat keadaan calon pengantin seperti bidadari (putri) dan bidadara (putra). Semoga dengan upacara ini maka kecantikan dan kebagusan sepasang pengantin bagaikan bidadari dan bidadara. Jadi, ” Midodareni adalah membuat keadaan

calon pengantin seperti bidadari” Menurut Rdw wawancara pada

tanggal 12 Juli 2011 jam 10.00 Wib.

6) Upacara Panggih

Banyak urut-urutan upacara yang harus dilakukan dalam acara ini jika memang dikehendaki, tetapi biasanya zaman sekarang hanya mengambil sepotong-potong saja sesuai dengan keadaan. Nama upacara, arti serta Nilai Pendidikan Islamnya Menurut Sltr wawancara pada tanggal 12 Juli 2011 jam 13.00 Wib, adalah sebagai berikut :

a) Liron kembar mayang

Saling tukar kembar mayang antar pengantin, bermakna menyatukan cipta, rasa dan karsa untuk bersama-sama mewujudkan kebahagiaan dan keselamatan.

b) Gantal

Daun sirih digulung kecil diikat benang putih yang saling dilempar oleh masing-masing pengantin, dengan harapan semoga semua godaan akan hilang terkena lemparan itu.

c) Ngidak endhog

Pengantin putra menginjak telur ayam sampai pecah sebagai simbol seksual kedua pengantin sudah pecah pamornya. Pengantin putri mencuci kaki pengantin putra Mencuci dengan air bunga setaman dengan makna semoga benih yang diturunkan bersih dari segala perbuatan yang kotor.

d) Minum air degan

Air ini dianggap sebagai lambang air hidup, air suci, air mani (manikem).

e) Di-kepyok dengan bunga warna-warni

Mengandung harapan mudah-mudahan keluarga yang akan mereka bina dapat berkembang segala-galanya dan bahagia lahir batin.

f) Masuk ke pasangan

Bermakna pengantin yang telah menjadi pasangan hidup siap berkarya melaksanakan kewajiban.

g) Sindur

Sindur atau isin mundur, artinya pantang menyerah atau pantang mundur. Maksudnya pengantin siap menghadapi tantangan hidup dengan semangat berani karena benar”.

Setelah melalui tahap panggih, pengantin diantara duduk di sasana riengga, di sana dilangsungkan tata upacara adat Jawa, yaitu:

1) Timbangan

Bapak pengantin putri duduk diantara pasangan pengantin, kaki kanan diduduki pengantin putra, kaki kiri diduduki pengantin putri. Dialog singkat antara Bapak dan Ibu pengantin putri berisi pernyataan bahwa masing-masing pengantin sudah seimbang.

2) Kacar-kucur

Pengantin putra mengucurkan penghasilan kepada pengantin putri berupa uang receh beserta kelengkapannya. Mengandung arti pengantin pria akan bertanggung jawab memberi nafkah kepada keluarganya.

3) Dulangan

Antara pengantin putra dan putri saling menyuapi. Hal ini mengandung kiasan laku memadu kasih diantara keduanya (simbol seksual).

7) Sungkeman

Sungkeman adalah ungkapan bakti kepada orangtua, serta mohon

doa restu. Menurut Sltr wawancara pada tanggal 12 Juli 2011 jam 13.00 Wib, “ Caranya berjongkok dengan sikap seperti orang

menyembah menyentuh lutut orangtua pengantin perempuan, mulai dari pengantin putri diikuti pengantin putra, baru kemu dian kepada bapak dan ibunya pengantin putra”.

Pada waktu upacara Sungkeman keris pusaka yang dipakai oleh pengantin putra harus dilepas dahulu.

2. Nilai-nilai Pendidkan Islam Dalam Prosesi Pernikahan Adat Jawa di Desa Dadapayam, Kec. Suruh, Kab. SemarangTahun 2011

Secara umum nilai-nilai yang terkandung dalam prosesi pernikahan adat Jawa sebagai berikut:

a. Memberikan pelajaran agar dalam mengarungi kehidupan itu harus berhati-hati jangan sampai menyimpang dari norma-norma yang ada. b. Membersihkan diri lahir dan bathin

c. Melatih diri dalam membina kerukunan dan kekompakan rumah tangga agar senantiasa hidup berbahagia dunia akhirat

d. Mentransfer Budaya baru atau pewarisan Budaya kepada generasi muda

e. Syukur kepada Allah SWT atas segala nikmat yang telah diberikan. f. Agar kita hati-hati dalam menjalankan kehidupan sehari-hari sehingga

terhindar dari segala yang merugikan diri kita.

g. Mampu menguatkan mental manusia untuk berkumpul bermasyarakat dan menjaga keharmonisan.

BAB IV PEMBAHASAN

Kumpulan data yang dianalisa dalam skripsi ini bersumber dari hasil wawancara Pejabat desa, Tokoh Agama dan masyarkat yang penulis anggap mampu untuk memberikan keterangan yang relevan, dilengkapi dengan dokumen yang ada. Mengacu pada fokus peneltian dalam skripsi ini, maka penulis akan menganalisa dan menyajikanya secara sistematis tentang Nilai-nilai Pendidikan Islam dalam Prosesi Pernikahan Adat Jawa.

Setelah terjun kelapangan di desa Dadapayam, Suruh, Semarang. Penulis menemukan Nilai-nilai Pendidikan Islam dalam Prosesi Pernikahan Adat Jawa dihubungkan dengan kajian teori, maka hasilnya sebagai berikut:

A. Bentuk-bentuk Prosesi dan Resepsi Pernikahan Adat Jawa

Dokumen terkait