BAB II. Pengertian Musik Melayu, Musik Asli, Musik Tradisional, dan Musik
2.2 Adopsi Musik Melayu Dari Berbagai Budaya
Hubungan kebudayaan dari India kenegeri-negeri di Nusantara ini sejak masa Hindu, kemudian Budha, dan kemudian Islam sejak abad ke 13 M. Pengaruh-pengaruh itu banyak sekali terdapat dalam kisah yang diuraikan didalam “Sejarah Melayu”. Berbagai “jiwa dan raga” musik India juga berpengaruh dalam lagu-lagu senandung Melayu. Kebudayaan India yang Menjamur pada kebudayaan Melayu adalah Boria dan Calti Pop Melayu Dangdut. Berikut penjelasannya :
* Boria
Asalnya satu kumpulan orang yang berpakaian aneka ragam berbaris dan mengunjungi rumah-rumah orang terkemuka sambil bernyanyi dan biasanya dengan
iringan tambur.9 Perkataan “boria” berasal dari bahasa Hindustan berarti “tikar” (disini tikar untuk sembahyang) dan dapat ditelusuri asal usulnya dari Persia. Sejarah Boria ini mula-mula dibawa oleh serdadu Hindustan ke Penang dari Resimen ke 21 yang tiba dari Madras tahun 1845. Kedatangan mereka ke Penang karena didalam bulan Muharram mereka diberi cuti 10 hari untuk memperingati kematian Saidina Hasan dan Saidina Husin (cucu-cucu Nabi Muhammad Saw), yaitu putera dari Saidina Ali, yang terbunuh di padang Karbela. Setelah berbaris mereka mendatangi rumah orang-orang terkemuka dengan berbaris dan bernyanyi diiringi musik yang memakai alat-alat gendering, simbal dan terompet.10
Setelah pimpinannya menyanyi kemudian diikuti bersama-sama oleh orang banyak. Pimpinan lalu menunjukkan tangannya yang merah berwarna darah dengan disertai nyanyian yang memuja Saidina Hasan dan Husin itu.11
“Tabuik” (tabut) di Sumatera Barat dan Di Bengkulu juga berasal dari Hindustan, ketika Inggris berkuasa di pantai barat Sumatera pada abad ke 19. Jadi di sini kita dapati sesuatu bersifat ritual keagamaan yang mempunyai pengaruh sekte Syiah.
Ketika rombongan Bangsawan “Indian Ratu” kepunyaan Sultan Serdang kembali dari tournya di Perbaungan maka mulai turun Dari kereta api itu menuju istana Sultan di kota Galuh ( biasanya 1 Muharram) dengan bernyanyi dan berpakaian aneka ragam . Tetapi sekarang jenis kesenian ini sudah tidak ada lagi di Sumatera Timur. Boria di
9
Tengku Luckman Sinar, SH, Pengantar Etnomusikologi dan Tarian Melayu, Medan: Perwira, 1990, hal 72.
10
Tengku Luckman Sinar dan Wan Syaifudin, Kebudayaan Sumatera Timur, Medan: Usu Press, 2002, hal 343.
11
Malaysia telah menjadi drama, tarian, nyanyian oleh tukang karang dan tawak pada tahun 1950-an.12
* Chalti dan Pop Melayu Dangdut
Irama Melayu Deli boleh dikatakan sebagai induk dari musik dangdut. Musik Melayu sendiri sebetulnya merupakan jenis irama dalam musik Indonesia dengan sentuhan semenanjung Melayu, musik gaya lama sebelum kejayaan Melayu-Hindustan
(dangdut).13 Lagu Melayu asli adalah Melayu Deli yang masih mempergunakan gendang
tradisional Melayu yang memungkinkan membawa sentuhan dendang dan joget tradisional, seperti contoh : Mainang Sayang, Serampang Dua Belas, Lenggang patah Sembilan, Selayang Pandang, Lancang Kuning, Babendi Bendi, Seringgit Dua Kupang
dan sebagainya.14 Pada saat ini musik tersebut masih tetap hidup dan berkembang di
masyarakatnya, walaupun mereka berada ditengah-tengah persaingan berbagai macam aliran musik. Seperti Musik Rock, Dangdut, dan lain-lain.
Semangat ke-Melayu-an saat ini bisa kita rasakan ataupun mungkin sengaja dimunculkan kembali, seperti lagu cindai yang dibawakan artis cantik dari negeri jiran Malaysia Siti Nurhaliza atau Laila Canggung dan Laksamana Raja di Laut yang dibawakan Iyeth Bustami.
Ketika irama Melayu memasuki dunia musik hiburan yang lebih luas sesungguhnya ia telah masuk dalam kategori musik pop. Kategori musik pop ataupun musik populer adalah musik ringan yang menyenangkan dan disukai banyak peminat
12
Ibid, hlm 78
dengan menekankannya pada sifat hiburan.15 Mempunyai sifat mudah didengar, dicerna, mudah dikenal dan dihafal masyarakat tetapi mudah pula redupnya.
Jembatan menuju Melayu Pop Modern Indonesia adalah pengembangan berbentuk orkes Melayu yang membawakan lagu-lagu Melayu asli yang dikembangkan secara orchestral. Pengembangan lebih jauh ke Melayu Pop Modern dilakukan Soneta Group (Rhoma Irama). Orkes Melayu Tarantula (Reynold Pangabean) dan lain-lain. Maka mulailah dikenal dengan istilah pop dangdut.16
B. Adopsi dengan budaya Timur Tengah atau Arab
Kedatangan agama Islam ke Nusantara membawa Seni dan Kebudayaan Arab, yang menarik hati masyarakat Islam khususnya pada keindahan lagu-lagu Arab yang didengar dan diterima melalui bacaan Al-Quran dan alunan lagu Qasidah Tawasyih, Ibtihal dan nasyid serta sholawat dari nuzum syair marhaban dalam memuji dan mengucapkan sholawat kepada Nabi Muhammad Saw. Lagu Arab tersebut dibawa secara langsung oleh pendakwah Arab yang datang ke Nusantara untuk mengembangkan Islam. Masyarakat Islam di tanah Melayu telah menjadikan nasyid Tawasyih , Qasidah Majrur dan bacaan Rawi berzanji dan Marhaban sebagai satu kesenian dalam setiap Majelis Perkawinan, Majelis Khatam Al-Qur’an, Majelis Berkhatan, Majelis Menyambut kelahiran bayi dan Majelis menyambut Maulid Nabi Muhammad Saw.
Musik Gambus dalam artian sempit adalah jenis alat musik tradisional Arab yang penggunaannya dengan cara dipetik dan banyak dikenal di Indonesia. Dalam arti yang lebih luas dapat diartikan sebagai satuan musik yang berinti alat musik gambus
15
Ibid, hlm 341
16
khususnya yang memainkan lagu-lagu Arab dan qasidah, pasangan perlengkapannya adalah harmonium, biola, gendang, dan suling.17
Qasidah adalah lagu yang bernapaskan Islam, yang berakar pada lagu Timur Tengah. Di Indonesia secara umum diartikan sebagai lagu dakwah Islam. Akan tetapi masyarakat kita sudah terlanjur salah kaprah, jika ada lagu Arab lantas disebut lagu Islami. Qasidah itu intinya sama saja dengan syair, hanya saja qasidah diambil dari kata Maqshuud (keinginan). Jadi orang yang bermaksud kemudian memiliki ilusi dan ingin dicetuskan ke dalam bait-bait syair. Demikian juga dengan musik gambus, masyarakat juga menganggap musik gambus sebagai lagu yang Islami. Padahal bisa jadi isinya mengenai percintaan dan lain sebagainya.
Di Indonesia qasidah rebana mulai berkembang di sekitar Pulau Jawa khususnya di Jakarta dan sekitarnya selepas tumbangnnya Parti Komunis Indonesia sekitar tahun 1966/1967, dikatakan hampir seluruh lingkungan wilayah dan kampung mempunyai kumpulan qasidah rebana. Pada kebiasaanya qasidah rebana hanya diiringi dengan alat rebana dan tamborin. Awal tahun 1970-an qasidah gambus mulai berkembang seiring dengan qasidah rebana.
Qasidah gambus diiringi dengan alat musik yang biasanya terdiri dari gambus, biola, seruling, gendang, tabla dan sebagainya. Biasanya mereka membawakan lagu-lagu dakwah atau lagu yang bertemakan keagamaan, dengan melodi dan irama ala Timur Tengah. Pada masa yang sama juga wujud orkes gambus yang biasanya membawakan lagu-lagu asli Timur Tengah. Sekitar tahun 70-an wujudnya kumpulan Qasidah Pop, namun ia hanya diminati oleh golongan elit. Sementara pada pertengahan tahun 80-an perkembangan Qasidah Indonesia turut menyaksikan qasidah dangdut yang telah
diperkenalkan oleh kumpulan Nasidaria dari Samarang dan pada tahun 1990 qasidah rebana plus turut menyajikan lagu-lagu nasyid dengan diiringi alat muzik seperti gitar, piano dan sebagainya.
C. Adopsi dengan budaya Barat
Pada abad ke-16 M, kolonial Eropa (Inggris, Spanyol, Portugis, Perancis dan Belanda) masuk ke kawasan Melayu. Dalam perkembangannya, hampir seluruh kawasan ini tunduk pada kekuatan kolonial tersebut, bahkan banyak yang runtuh, seperti Malaka di Malaysia. Singkat kata, Kerajaan Melayu memang telah runtuh, namun kebudayaannya tidak akan musnah (sebagaimana dikatakan Hang Tuah, Tak kan Melayu hilang di dunia). Kebudayaan Melayu selalu ada dan ruhnya akan bangkit kembali, terutama di daerah asalnya ataupun di kawasan lain.
Dalam seni musik Melayu ini unsur-unsur budaya barat dapat dilihat dari alat-alat musiknya seperti perangkat drum, keyboard, sound sistem dan lighting system. Juga dalam pembagian seperti interlude, reff, coda, not balok dalam lagu, dan lain-lain.