• Tidak ada hasil yang ditemukan

3. Adopsi sistem pertanian konservasi di dataran tinggi berlereng dalam jangka panjang meningkatkan pendapatan usahatani lebih besar dibandingkan yang

2.7. Adopsi Sistem Pertanian Konservasi dan Manfaatnya

Sistem pertanian konservasi (SPK) dapat dikatakan sebagai suatu bentuk inovasi pertanian lahan kering dataran tinggi (Sinukaban, 1994 dan Hoesle, 1997) dan sebagai inovasi memerlukan suatu proses sampai diadopsi oleh petani. Menurut Rogers (1995), yang dikenal sebagai guru dalam studi adopsi/difusi sejak tahun 1960, menyatakan bahwa adopsi suatu inovasi merupakan proses mental sejak seseorang mengetahui adanya inovasi sampai mengambil keputusan untuk menerima atau menolak dan kemudian mengukuhkannya. Secara lebih rinci, proses adopsi dapat dibagi dalam lima tahapan yaitu pengenalan, persuasi, keputusan, implementasi dan konfirmasi. Tiga tahapan terakhir dapat dipandang sebagai satu tahapan implementasi atau adopsi inovasi. Lebih lanjut Rogers mengemukakan bahwa kecepatan adopsi suatu inovasi dipengaruhi banyak faktor terutama karakteristik inovasi, lingkungan sosial budaya, karakteristik individu petani, dan kondisi usahataninya. Yang dimaksud adopsi dalam studi ini adalah ‘sudah menerapkan’. Kriteria adopsi atau sudah menerapkan konservasi diketahui dari melihat langsung di lapang bentuk teknik konservasi mekanik seperti apa yang

digunakan. Adopsi dalam penelitian ini tidak melihat secara rinci proses dari adopsi tersebut seperti yang didefinisikan oleh Rogers.

Studi tentang adopsi teknologi konservasi secara umum pada dasarnya dibangun dari dua pemikiran ilmiah. Pendekatan pertama memberi penekanan pada peran dominan insentif ekonomi dalam hubungannya dengan penggunaan teknologi tertentu, sedangkan pendekatan kedua menekankan pentingnya variabel-variabel non-ekonomi dalam proses adopsi. Dasar model ekonomi untuk menganalisis tingkat adopsi petani terhadap teknologi konservasi petani adalah bahwa manfaat yang positif (bersih) dapat menghasilkan tingkat kegunaan (utility) yang lebih tinggi bagi petani. Maksudnya, petani akan mengadopsi teknologi konservasi tanah apabila manfaat bersih keputusan tersebut (net benefit) positif, yang juga berarti tingkat kegunaan atau utilitas yang lebih tinggi, misalnya pada produktivitas dan pendapatan. Keputusan memilih sistem praktek pertanian di lahan berada di tangan petani sendiri. Keputusan yang dibuat biasanya berhubungan dengan tujuan petani itu sendiri seperti mencari berbagai kemungkinan untuk menaikkan produksi dan juga berhubungan dengan faktor-faktor penghambat/kendala yang dihadapi.

Di dataran tinggi Jawa, Barbier (1990) menunjukkan bahwa hubungan antara erodibilitas dan keuntungan dari berbagai bentuk sistem pertanian pada tanah dan kemiringan yang berbeda merupakan penentu yang penting bagi petani dataran tinggi untuk mengadopsi teknik konservasi tanah. Barbier juga menyatakan bahwa akses pada input tertentu yang disubsidi seperti pupuk dan bibit terbukti merupakan insentif dalam mengontrol erosi tanah jangka panjang, pencabutan subsidi-subsidi tersebut akan mendorong berkurangnya investasi pada konservasi tanah.

Alimaras et al. (1991) mengemukakan bahwa alasan utama petani mengadopsi konservasi tanah adalah kelayakan ekonomi. Petani akan melakukan konservasi tanah jika dengan tindakan tersebut petani akan memperoleh keuntungan yang lebih besar. Pagiola (1999) menyatakan bahwa dalam beberapa kasus, adopsi sistem pertanian konservasi bahkan justru tampak tidak memberikan hasil yang nyata. Penyebabnya antara lain rendahnya harga output sehingga kenaikan produktivitas tidak berdampak terhadap biaya yang telah dikeluarkan, atau adanya penghambat lain seperti kemiskinan, kredit, dan status kepemilikan lahan. Pada kasus penanaman pohon oleh petani marjinal di Filipina, Shivelly (1997) mengemukakan bahwa faktor dominan yang mempengaruhi keputusan menanam

pohon ditentukan oleh perubahan harga relatif output dan berbagai resiko yang muncul akibat mengambil keputusan menanam pohon.

Rerkasem (1996) mengidentifikasi tiga faktor penting dalam pengelolaan penggunaan lahan secara berkelanjutan yaitu: (a) adanya pemecahan biaya teknologi konservasi secara efektif dan tepat, (b) adanya pengelolaan organisasi sosial dan sumberdaya masyarakat, (c) adanya kemampuan masyarakat lokal untuk berpartisipasi dalam membuat keputusan krusial yang berhubungan dengan manajemen lahan. Hwang et al. (1994) menyatakan bahwa status lahan sewa akan mempercepat terjadinya erosi karena pengelolaannya bersifat jangka pendek. Lahan sewa cenderung akan dimanfaatkan secara maksimal (intensif). Keputusan-keputusan bentuk penggunaan lahan juga dipengaruhi oleh status lahan/kepemilikan lahan. Bila lahan berstatus milik maka lahan akan lebih memberikan kontribusi positif terhadap perbaikan fisik lahan (Feder dan Onchan, 1987) dibandingkan dengan lahan status sewa.

Young (1987) mengemukakan tiga kendala utama petani dalam memutuskan sistem penggunaan lahannya yaitu jenis tanah, ukuran lahan, dan permasalahan yang muncul/ada dari pengelolaan lahan itu sendiri. Juo dan Thurow (1998) menyatakan bahwa adopsi teknik konservasi tanah dipengaruhi oleh faktor bio-fsik, sosial, ekonomi dan peningkatan kapasitas masyarakat lokal. Arifin (2002) menyatakan beberapa variabel diduga mempengaruhi keputusan petani mengadopsi teknik konservasi, terutama teras (contour terracing) adalah faktor personal, faktor ekonom, faktor kelembagaan, dan faktor biofisik. Hediger (2003) menyatakan bahwa pertanian berkelanjutan adalah pertanian yang dapat mempertahankan pendapatan ditingkat petani untuk jangka waktu yang lama. Pendapatan pertanian tergantung pada faktor-faktor biofisik lahan dan ekonomi seperti harga komoditas, biaya produksi, penanaman intensif, rotasi tanaman, unsur hara tanah, kedalaman tanah, dan faktor produktivitas yang ada kaitannya dengan karakteristik tanah. Secara umum dapat dikatakan bahwa variabel faktor personal dan faktor ekonomi relatif dominan dalam mempengaruhi keputusan petani untuk melakukan adopsi teknologi konservasi.

Manfaat sistem pertanian konservasi adalah jangka panjang. Untuk melihat manfaat jangka panjang dapat dilakukan dengan perhitungan nilai kini bersih (NPV) dalam waktu jangka tertentu. Keputusan memilih sistem penggunaan lahan bersifat

langsung artinya lahan yang digunakan harus memberikan nilai yang tinggi bagi pemiliknya, yang diukur melalui nilai sekarang bersih/NPV (net present value) dari manfaat bersih berturut-turut yang diharapkan dalam jangka panjang. Petani hanya peduli (concern) pada manfaat dan biaya internal saja. Oleh karena itu dari sudut pandang pemilik lahan, manfaat sekarang bersih (NPV) privat merupakan kriteria terbaik untuk mengevaluasi keberlanjutan ekonomi sistem penggunaan lahannya. NPV sistem penggunaan lahan dapat diukur dengan membandingkan nilai manfaat dan biaya dari lamanya sistem penggunaan lahan tersebut digunakan dan kemudian menghitung nilai manfaat sekarang bersih/NPV secara berturut-turut dengan menggunakan tingkat diskon yang berlaku (The, 2001).

Dengan menggunakan kerangka analisis manfaat-biaya, Current dan Scherr (1995) menganalisis manfaat finansial dan ekonomi dari 56 sistem penggunaan lahan agroforestry di Amerika Tengah. Hasil menunjukkan bahwa 75% dari 56 sistem penggunaaan lahan agroforestry menghasilkan NPV positif pada tingkat diskon 20%. Dua pertiga dari kasus menunjukkan NPV dan tingkat pengembalian (returns) untuk tenaga kerja lebih tinggi pada sistem penggunaan lahan agroforerstry dibandingkan pada sistem penggunaan lahan alternatif lainnya seperti lahan pertanian atau lahan yang hanya terdiri dari pohon saja (misalnya hutan saja). Irawan (2001) menganalisis manfaat finansial dan ekonomi dari sistem pertanaman lorong (alley cropping system), salah satu teknologi budi daya pengendalian erosi secara vegetatif, di lahan kering berlereng di Kubang Ijo, Jambi. Sistem pertanaman lorong tersebut terdiri dari menanam tanaman pangan, tanaman pagar, rumput pakan ternak, dan tanaman kayu-kayuan. Setelah memperhitungkan kehilangan unsur hara yang terangkut erosi sebagai manfaat yang hilang (forgone benefit), nilai NPV dan B/C rasio pengembangan sistem pertanaman lorong menunjukkan hasil positif (layak). Pada tingkat diskon 12% nilai indikator NPV dan B/C rasio relatif lebih baik dibandingkan dengan sistem pertanaman yang telah ada (tradisional) di Kubang Ijo, Jambi.

The (2001) menganalisis kelayakan finansial dan ekonomi empat sistem penggunaan lahan di Vietnam Tengah. Keempat sistem penggunaan lahan itu: sistem pertanian sawah dataran tinggi, sistem perkebunan tebu, sistem agroforestry tanaman buah-buahan, sistem pertanaman pohon kayu putih (eucalyptus). Dengan kerangka waktu penggunaan lahan 30 tahun, analisis manfaat-biaya menunjukkan

NPV sistem agroforestry pada tingkat diskon 10%, 12%, 15%, 20%, maupun 25% menunjukkan hasil positif, sedangkan sistem pertanian sawah dan kayuputih pada tingkat diskon yang sama memberikan nilai NPV paling kecil.