• Tidak ada hasil yang ditemukan

3. Adopsi sistem pertanian konservasi di dataran tinggi berlereng dalam jangka panjang meningkatkan pendapatan usahatani lebih besar dibandingkan yang

3.4. Analisis Data

3.4.3. Analisis Data untuk Tujuan 3

Menganalisis pengaruh adopsi sistem pertanian konservasi terhadap kualitas sumberdaya lahan dan pendapatan usahatani kentang.

Kualitas sumberdaya lahan dan pendapatan usahatani sayuran kentang dalam studi ini dihitung dengan menggunakan kerangka kerja pemodelan biofisik-ekonomi (Grist et al., 1997). Dampak ketiga sistem penanaman (konservasi dan tanpa konservasi) terhadap tanah dan produksi diprediksi dengan model SCUAF. Indikator kualitas sumberdaya lahan adalah tingkat erosi, kadar bahan organik (C), dan unsur hara tanah (N dan P). Perhitungan pendapatan dalam penelitian ini tidak dimaksudkan untuk melihat kelayakan usahatani kentang melainkan untuk membandingkan tingkat profit (keuntungan) antara usahatani yang menerapkan konservasi dengan yang tidak menerapkan konservasi. Analisis manfaat biaya (NPV) digunakan karena jangka waktu perhitungan keuntungan usahatani dalam kasus ini 20 tahun. Agar keuntungan tahun sekarang (kini) dapat dibandingkan dengan keuntungkan tahun-tahun berikutnya maka perlu dilakukan proses discounting (diskonto) sehingga besaran keuntungan antar waktu dapat dibandingkan.

Perhitungan pendapatan usahatani kentang per musim tanam (MT) dari ketiga sistem penanaman kentang di Pangalengan (penanaman pada guludan searah lereng, penanaman pada guludan searah kontur dan penanaman dengan teras) juga dihitung. Hasil keuntungan usahatani per musim tanam (MT) dan keuntungan usahatani dalam waktu 20 tahun dibandingkan. Perhitungan harga input yang dikeluarkan dan harga penerimaan yang diterima menggunakan harga yang berlaku

pada tahun 2004 - 2005. Nilai Kini Bersih (NPV) ketiga teknik penanaman usahatani kentang di Pangalengan dihitung dengan menggunakan kerangka kerja pemodelan biofisik-ekonomi seperti terlihat pada Gambar 3.

kalibrasi

Gambar 3 Kerangka kerja pemodelan biofisik-ekonomi(Grist et al., 1997).

Tahapan kerangka kerja pemodelan biofisik-ekonomi adalah sebagai berikut: 1. Aplikasi SCUAF dalam penelitian ini:

• SCUAF diaplikasikan untuk memprediksi dampak tiga sistem usahatani sayuran kentang di Pangalengan terhadap tanah dan produksi untuk periode 20 tahun. Ketiga sistem usahatani tersebut adalah usahatani kentang dengan penanaman tanaman pada guludan searah lereng, penanaman tanaman pada guludan searah kontur dan penanaman tanaman dengan teras. Hasil simulasi ketiga sistem penanaman dibandingkan.

• Pola pergiliran jenis sayuran untuk ditanam dalam satu tahun ditentukan oleh petani sendiri. Pola tanam sayuran dalam satu tahun untuk simulasi SCUAF diwakili oleh penanaman kentang dua kali. Dasar penentuan pola tanam menanam kentang dua kali sebagai berikut:

Produksi tanaman (output) Jumlah input

Harga dan Biaya

Nilai Kini Bersih (NPV)

Model SCUAF (Sistem Penggunaan Lahan) Survei pada

petani

Penelitian Terdahulu

Tingkat Erosi dan Kesuburan Tanah

Biaya/Manfaat Lingkungan (Biaya erosi tanah on-site dan dampak off-site)

1. Petani lebih menyukai menanam kentang dengan alasan: (a) kentang merupakan tanaman komersial, (b) walaupun biaya usahatani kentang paling tinggi dibanding usahatani sayuran lainnya tetapi usahatani kentang memberikan keuntungan tinggi dibandingkan tanaman sayuran lainnya, (c) B/C ratio wortel dan memang cabe lebih tinggi dari B/C kentang dan kubis, namun masa tanam kentang pendek (3 bulan), hasil panennya bersifat lebih tahan lama, dan disamping itu harga jual kentang lebih stabil dibandingkan harga tomat atau cabe yang sangat berfluktuasi.

2. Hasil studi terhadap 180 responden, untuk masa tanam 2005, 167 responden atau 92% responden sudah menanam kentang satu kali, dan 58% dari 92% responden tersebut sudah menanam kentang dua kali. 3. Untuk semua jenis tanaman sayuran yang ada di Pangalengan, dalam

sepuluh tahun terakhir ini, luasan tanam tanaman kentang tertinggi, yang kemudian diikuti oleh luas tanaman kubis (Dinas Pertanian, Kabupaten Bandung, 2004).

4. Kebijakan pemerintah daerah Kabupaten Bandung, Pangalengan menjadi sentra penghasil kentang di Jawa Barat.

5. SCUAF berbasis persamaan erosi (USLE). Ketiadaan literatur nilai C (vegetasi) untuk pola tanam berurutan kentang dengan tanaman lain ataupun nilai C untuk tumpang sari kentang dengan tanaman lain maka penentuan nilai C dalam simulasi SCUAF diambil dari nilai C kentang yang ditanam secara monokultur.

• Deskripsi tiga sistem usahatani kentang Pangalengan dalam satu tahun yang disimulasi dalam SCUAF tertera pada Tabel 5.

Tabel 5 Deskripsi tiga sistem usahatani kentang di Kecamatan Pangalengan yang digunakan dalam simulasi SCUAF

Sistem Usahatani PolaTanam

1. Penanaman pada guludan searah lereng

Penanaman tanaman kentang – kentang dalam setahun

2. Penanaman pada guludan searah kontur

Penanaman tanaman kentang – kentang dalam setahun

3. Penanaman pada teras bangku

Penanaman tanaman kentang – kentang dalam setahun

• Analisis usahatani, perhitungan nilai kini bersih (NPV) dan biaya pengganti tanaman hortikultur pada ketiga teknik penanaman di Pangalengan diwakili oleh tanaman kentang

• Hasil keluaran SCUAF yang digunakan adalah prediksi jumlah produksi (panen), prediksi erosi tanah yang terjadi, dan kandungan nitrogen (N), fosfor (P) dan carbon (C, bahan organik tanah) tanah.

• Erosi dalam SCUAF dimodelkan oleh persamaan umum erosi tanah (universal soil loss equation) (Wischmeier dan Smith, 1978), siklus C tanah dalam SCUAF dihitung berdasarkan prinsip pendekatan Nye dan Greenland (1960) yang dimodifikasi oleh Young (1997). Modifikasi tersebut sekaligus juga dapat memprediksi siklus hara N dan P tanah. Besaran prediksi panen tergantung pada perubahan hara, carbon dan kedalaman tanah.

• Parameter agroklimat yang diperlukan SCUAF adalah iklim, kemiringan lereng, drainase tanah, bahan induk tanah, tekstur tanah, pH tanah, status organik tanah (C), status N dan P tanah, dan status kesuburan tanah. Parameter agroklimat daerah Pangalengan tertera pada Lampiran 5 dan 6. Parameter lain yang diperlukan untuk SCUAF adalah nilai C (faktor penutup tanaman), P (masing-masing sistem teknik konservasi), K (erodibilitas tanah), dan A (erosi) tertera pada Lampiran 6. Proporsi daun dan umbi kentang adalah 20 persen dan 80 persen. Fraksi N dan P dari umbi kentang sebesar 0.03 dan 0.3.

Keterbatasan dalam model SCUAF 4 adalah hanya dapat memprediksi bahan organik (C), unsur hara tanah N dan P. Unsur hara K belum dapat diprediksi padahal unsur hara tanah yang penting adalah N, P dan K. Perhitungan NPV dan biaya erosi tanah dalam penelitian ini belum memperhitungkan kehilangan K.

2. Analisis Manfaat dan Biaya

Untuk mengukur keuntungan ketiga sistem usahatani kentang di Pangalengan selama 20 tahun, digunakan analisis manfaat dan biaya. Produksi kentang dari ketiga sistem usahatani sayuran Pangalengan selama 20 tahun dalam analisis ini diperoleh dari model SCUAF. Hasil panen dikalikan dengan harga pasar (harga kentang yang biasa berlaku di Pangalengan) untuk mendapatkan penerimaan

panen. Biaya-biaya yang dikeluarkan untuk ketiga sistem penanaman meliputi biaya untuk bibit, pupuk organik, pupuk anorganik (NPK), pestisida, dan tenaga kerja. Analisis manfaat dan biaya berguna untuk membandingkan manfaat dan biaya dari praktek pertanian. Karena pengukuran keuntungan akan dilihat dalam masa 20 tahun, maka dimensi waktu dimasukkan dalam perhitungan analisis manfaat biaya melalui penggunaan diskonto. Proses diskonto adalah proses memperoleh nilai sekarang dari nilai yang akan datang. Menurut Gittinger (1982), ukuran arus uang berdiskonto dari keuntungan praktek pertanian yaitu nilai kini bersih (NPV), tingkat pengembalian internal (IRR), dan rasio manfaat biaya (BCR).

Nilai kini bersih (NPV) dari ketiga sistem pertanaman usahatani kentang Pangalengan dalam kurun waktu penilaian t tahun, dihitung dengan persamaan:

n ( Bt - Ct )

NPV = Σ --- (1)

t = 1 ( 1 + r ) t

Persamaan rasio manfaat-biaya ( Benefit Cost Ratio/BCR) adalah: n n

BCR = Σ Bt / (1 + r )t / Σ Ct /(1 + r)t (2) t = 1 t = 1

Keterangan: Bt = manfaat yang diperoleh dari tiap sistem usahatani kentang pada tahun ke t

Ct = total biaya yang dikeluarkan untuk tiap sistem usahatani Kentang pada tahun ke t

t = kurun waktu penilaian (1,2,3,....,n) r = faktor diskon

NPV = nilai bersih kini (Net Present Value) BCR = rasio manfaat biaya (Benefit Cost Ratio) n = jumlah tahun

Kriteria penilaian yang digunakan adalah bila NPV > 0 atau bila BCR > 1, maka usahatani sayuran lahan kering dataran tinggi Pangalengan dikatakan layak. Asumsi yang dipakai dalam analisis NPV adalah: (a) perhitungan NPV yang dilakukan berdasarkan umur teknik konservasi tanah teras yang dalam dalam 20 tahun sudah memerlukan perbaikan yang cukup besar, (b) penghitungan nilai penyusutan/depresiasi tidak dimasukkan dalam cash flow untuk menghindari penghitungan ganda (double counting), (c) diskon faktor yang digunakan berdasarkan pada tingkat suku bunga untuk proyek-proyek pertanian (18%), (d) nilai sisa untuk barang-barang pertanian dianggap nol/habis, dan (e) sumber pendanaan

berasal dari dalam rumahtangga petani sendiri. Hasil analisis akan disajikan sebagai nilai kini bersih (NPV) komulatif dari setiap sistem usahatani sayuran. Keuntungan dari menggunakan NPV adalah karena NPV mampu menggambarkan tingkat keuntungan yang diperoleh usahatani kentang setelah memperhitungkan nilai waktu dari uang (time value of money).

Menurut Gittinger (1982), perhitungan tingkat pengembalian internal (IRR) dapat dilakukan jika IRR dari sederetan nilai-nilai seperti nilai arus uang hanya jika paling tidak ada satu nilai negatif. Jika semuanya positif maka tidak ada satupun tingkat diskonto (discount rate) yang dapat membuat NPV sama dengan nol. Berapapun besarnya tingkat diskonto, NPV akan positif jika tidak terdapat bilangan negatif.

Analisis sensitivitas (perlakuan terhadap ketidaktentuan) bertujuan meneliti kembali suatu analisis untuk dapat melihat pengaruh-pengaruh yang terjadi akibat keadaan yang berubah-ubah. Analisis sensitivitas tidak dilakukan terhadap kenaikan biaya ataupun kenaikan harga output, karena akan memiliki dampak yang sama baik terhadap NPV usahatani kentang yang mengadopsi sistem pertanian konservasi maupun yang tidak mengadopsi. Sensitivitas dilakukan terhadap besaran tingkat diskonto (discount rate) yang digunakan. Tingkat diskonto dapat menggambarkan preferensi petani terhadap pendapatan kini ataukah pendapatan masa yang akan datang. Semakin besar tingkat diskonto dapat berarti petani lebih mementingkan atau memberi bobot yang lebih tinggi terhadap keuntungan masa kini dibandingkan keuntungan masa depan (Lumley, 1997).

Keputusan petani untuk mengadopsi atau tidak mengadopsi sistem pertanian konservasi bersifat privat. Analisis manfaat biaya ditingkat usahatani (field level) dari perspektif petani dapat memberikan gambaran kepada petani untuk memutuskan akan mengadopsi sistem pertanian konservasi atau tidak.

Biaya erosi tanah usahatani kentang Pangalengan

Erosi tanah usahatani sayuran kentang di Pangalengan terutama berhubungan dengan erosi tanah on-site. Biaya erosi on-site didekati melalui nilai kini (PV) biaya pengganti hara yang hilang melalui erosi tanah untuk ketiga sistem pertanaman dalam kurun waktu 20 tahun, dengan diskon faktor 18%. Pendekatan biaya pengganti (The Replacement Cost Approach) dalam penelitian ini adalah mengukur

unsur hara tanah yang hilang melalui erosi dengan menghitung nilai bahan organik (C) dan unsur hara tanah (N dan P) yang hilang tersebut yang ekuivalen dalam penggunaan pupuk kandang dan pupuk buatan. Metode ini kadang-kadang juga dipakai dalam metode penilaian sumberdaya yang berhubungan dengan perkiraan biaya pengganti relatif.

Melalui pendekatan biaya pengganti untuk menghitung biaya erosi tanah on-site, kesuburan tanah diperlakukan sebagai input dalam produksi tanaman. Tanah diasumsikan akan digunakan secara optimal oleh petani. Karena itu, kontribusi unsur hara tanah terhadap produksi (seperti nilai marjinal produk dari produksi tanaman) sama dengan atau setara dengan harga unsur hara tanah.

Nitrogen, fosfor dan bahan organik (C) yang hilang melalui erosi tanah dapat diduga dengan SCUAF. Dari hasil wawancara, dapat diketahui biaya kehilangan unsur hara yang ekuivalen dalam pupuk organik dan anorganik yang digunakan yang hilang melalui erosi. Harga pupuk dihitung melalui harga pasar. Biaya pengganti tahunan erosi lahan didiskon sepanjang waktu analisis (discounting over time) untuk menghitung nilai pengganti sekarang dari tanah yang hilang.

Eksternalitas usahatani di Pangalengan terutama berhubungan dengan dampak off-site (di luar tempat kejadian erosi) yaitu munculnya sedimentasi seperti pendangkalan waduk, sungai, saluran dan badan air lainnya, tertimbunnya lahan pertanian, dan sebagainya. Eksternalitas off-site Pangalengan hasil penelitian Katharina (2001) akan digunakan sebagai data sekunder untuk ditambahkan dalam penghitungan NPV sistem penanaman pada guludan searah lereng (tanpa teknik konservasi tanah) dan kemudian hasilnya dibandingkan dengan NPV penanaman dengan teknik konservasi tanah teras bangku dan penanaman pada guludan searah kontur. Pembandingan ini ditujukan untuk melihat manfaat jangka panjang adopsi sistem pertanian konservasi.