KAJIAN TEORI, PENELITIAN YANG RELEVAN, DAN KERANGKA BERPIKIR
A. Landasan Teori 1. Pengertian Novel
4. Agama Islam
Kata “agama” berasal dari bahasa sansekerta yang berarti “tidak kacau”. Kata agama diambil dari dua akar suku kata, yaitu “a” yang berarti “tidak” dan “gama” yang berarti “kacau”, sehingga mengandung pengertian bahwa agama adalah suatu peraturan yang mengatur kehidupan manusia agar tidak kacau. Menurut inti maknanya yang khusus, kata agama dapat disamakan dengan kata
religion dalam Bahasa Inggris dan religie dalam Bahasa Belanda, dimana
keduanya berasal dari bahasa Latin yaitu religio, berasal dari akar kata religare
yang berarti mengikat (Dadang Kahmad 2002 :13). Agama dalam pengertian sosiologi adalah gejala yang umum dan dimiliki oleh seluruh masyarakat yang ada di dunia ini tanpa kecuali. Agama merupakan salah satu aspek dalam kehidupan sosial dan bagian dari sistem sosial suatu masyarakat dan dapat dilihat sebagai unsur dari kebudayaan suatu masyarakat di samping unsur-unsur yang lain, seperti
commit to user
kesenian, bahasa, sistem mata pencaharian, sistem peralatan dan sistem organisasi sosial. Dilihat dari sudut kategori pemahaman manusia, agama memiliki dua segi yang membedakan dalam perwujudannya, yaitu sebagai berikut :
1. Segi kejiwaan (psychological state), yaitu suatu kondisi subjektif atau kondisi dalam jiwa manusia, berkenaan dengan apa yang dirasakan oleh penganut agama. Kondisi ini biasa disebut dengan kondisi agama, yaitu kondisi patuh dan taat kepada yang disembah. Kondisi ini hampir sama dengan konsep “Religius Emotion” yang diutarakan Emile Durkheim. Emosi keagamaan seperti itu merupakan gejala individual yang dimiliki oleh setiap penganut agama yang membuat dirinya merasa sebagai “makhluk Tuhan”. Dimensi religiusitas merupakan inti dari keberagamaan yang membangkitkan solidaritas seseorang menjadi orang yang saleh dan takwa.
2. Segi objektif (Objective state), yaitu segi luar yang disebut sebagai kejadian objektif, dimensi empiris dari agama. Keadaan ini muncul ketika agama dinyatakan oleh penganutnya dalam berbagai ekspresi, baik ekspresi teologis, ritual maupun persekutuan. Dalam segi ini mencakup adat istiadat, upacara keagamaan, bangunan, tempat-tempat peribadatan, cerita yang dikisahkan, kepercayaan, dan prinsip-prinsip yang dianut oleh suatu masyarakat (Dadang Kahmad 2002 : 14).
Sosiologi Agama menangani masyarakat agama sebagai sasarannya yang langsung. Seperti masyarakat non-agama umumnya demikian pula masyarakat agama terdiri dari komponen-komponen konstitutif seperti misalnya kelompok-kelompok keagamaan, institusi-institusi religius yang mempunyai ciri pola tingkah laku tersendiri baik ke dalam maupun ke luar menurut norma-norma dan peraturan-peraturan yang ditentukan oleh agama.
Penjelasan bahwa masyarakat agama sebagai sasaran bukan berarti agama sebagai suatu sistem ajaran, melainkan agama dalam bentuk-bentuk kemasyarakatan yang nyata atau agama sebagai fenomena sosial, sebagai fakta sosial yang dapat disaksikan dan dialami banyak orang. Sosiologi Agama
mengkonstatasi (menyaksikan) akibat empiris kebenaran-kebenaran
commit to user
agama adalah persekutuan hidup (entah dalam lingkup sempit atau luas) yang unsur konstitutif utamanya adalah agama atau nilai-nilai keagamaan (Hendro puspito 1983 : 8-9).
Sosiologi Agama berusaha mencari dimensi sosiologis, sampai sejauh mana agama dan nilai-nilai kegamaan memainkan peranan dan berpengaruh atas eksistensi kegiatan manusia, seperti seberapa jauh unsur kepercayaan mempengaruhi pembentukan kepribadian para pemeluknya. Berdasarkan hasil studi para sosiolog, dapat diketahui bahwa agama merupakan suatu pandangan hidup yang harus diterapkan dalam kehidupan individu atau kelompok yang
memiliki hubungan saling mempengaruhi dan saling bergantung
(interdependence) dengan semua faktor yang ikut membentuk struktur sosial di masyarakat mana pun.
Islam ialah agama samawi yang terkandung dalam Al-Quran, yang dianggap penganutnya sebagai kalam Allah, kata demi kata, serta ajaran dan contoh normatif nabi terakhir Nabi Muhammad S.A.W. Perkataan Islam bermaksud "penyerahan", atau penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah. Seorang penganut Islam dikenali sebagai Muslim, bermaksud "seorang yang tunduk (kepada Allah)". Muslim percaya bahwa Allah itu Esa dan tujuan hidup ialah untuk menyembah Tuhan. Muslim juga percaya bahawa Islam merupakan versi lengkap dan sejagat kepercayaan monoteistik ajaran Nabi Ibrahim a.s., Nabi Musa a.s., Nabi Isa a.s., dan lain-lain nabi. Nabi Muhammad S.A.W. bukanlah pengasas agama baru, sebaliknya menjadi pemulih keimanan monoteistik ajaran nabi-nabi terdahulu.
Tradisi Islam menegaskan bahwa agama Yahudi dan Kristian memutarbalikkan wahyu yang Allah berikan kepada nabi-nabi ini dengan mengubah teks atau memperkenalkan tafsiran palsu, atau kedua-duanya. Amalan keagamaan Islam termasuklah Rukun Islam, yang merupakan lima tanggungjawab yang menyatukan Muslim ke dalam sebuah masyarakat. Selain itu, terdapat syariat Islam (syari'ah) yang menyentuh pada hampir semua aspek kehidupan dan kemasyarakatan. Tradisi ini meliputi segalanya dari hal praktik seperti hukum pemakanan dan perbankan kepada jihad dan zakat. (www.wikipedia.org)
commit to user a. Islam Sinkretik
Islam sinkretik adalah Islam Jawa yang merupakan campuran antara Islam, Hindu, Budha, dan Animisme. Dalam kajiannya tentang Islam di pusat kerajaan yang dianggap paling sinkretik dalam belantara keberagamaan (keislaman) justru tidak ditemui unsur sinkretisme atau pengaruh ajaran Hindu-Budha di dalamnya. Melalui kajian secara mendalam terhadap agama-agama Hindu di India, yang dimaksudkan sebagai kacamata untuk melihat Islam di Jawa yang dikenal sebagai paduan antara Hindu, Islam, dan keyakinan lokal, maka tidak ditemui unsur tersebut di dalam tradisi keagamaan Islam di Jawa, padahal yang dikaji adalah Islam yang dianggap paling lokal, yaitu Islam di pusat kerajaan Jogyakarta. Melalui konsep aksiomatika struktural, maka diperoleh gambaran bahwa Islam Jawa adalah Islam juga, hanya saja Islam yang berada di dalam konteksnya.
Islam sebagaimana di tempat lain yang sudah bersentuhan dengan tradisi dan konteksnya. Islam Persia, Islam Maroko, Islam Malaysia, Islam Mesir dan sebagainya adalah contoh mengenai Islam hasil bentukan antara Islam yang genuin Arab dengan kenyataan-kenyataan sosial di dalam konteksnya. Memang harus diakui bahwa tidak ada ajaran agama yang turun di dunia ini dalam konteks vakum budaya. Itulah sebabnya, ketika Islam datang ke Jawa, mau tidak mau juga harus bersentuhan dengan budaya lokal yang telah menjadi seperangkat pengetahuan bagi penduduk setempat.
Kajian Islam dan masyarakat telah banyak dilakukan semenjak tahun 1950an. Berbagai karya monumental pun telah banyak dihasilkan, misalnya Clifford Geertz, “The Javanese Religion”. Konsep yang dihasilkan dari kajian ini adalah penggolongan sosial budaya berdasarkan aliran ideologi. Konsep aliran inilah kemudian hampir seluruh pengkajian tentang masyarakat dan penggolongan sosial, budaya, ekonomi, dan bahkan politik. Pada masyarakat Jawa, aliran ideologi berbasis pada keyakinan keagamaan.
Abangan adalah mewakili tipe masyarakat pertanian perdesaan dengan segala atribut keyakinan ritual dan interaksi-interaksi tradisional yang dibangun di atas pola bagi tindakannya. Salah satu yang mengedepan dari konsepsi Geertz adalah pandangannya tentang dinamika hubungan antara Islam dan masyarakat
commit to user
Jawa yang sinkretik. Sinkretisitas tersebut nampak dalam pola dari tindakan orang Jawa yang cenderung tidak hanya percaya terhadap, hal-hal gaib dengan seperangkat ritual-ritualnya, akan tetapi juga pandangannya bahwa alam diatur sesuai dengan hukum-hukumnya dengan manusia selalu terlibat di dalamnya. Hukum-hukum itu yang disebut sebagai numerologi.
Melalui numerologi inilah manusia melakukan serangkaian tindakan yang tidak boleh bertentangan dengannya. Hampir seluruh kehidupan orang Jawa
disetting berdasarkan hitungan-hitungan yang diyakini keabsahannya.
Kebahagiaan atau ketidakbahagian hidup di dunia ditentukan oleh benar atau tidaknnya pedoman tersebut dilakukan dalam kehidupan. Penggunaan numerologi yang khas Jawa itu menyebabkan adanya asumsi bahwa orang Jawa tidak dengan segenap fisik dan batinnya ketika memeluk Islam sebagai agamanya. Di sinilah awal mula “perselingkuhan” antara dua keyakinan: Islam dan budaya Jawa.
Islam di Indonesia memang mengalami pergulatannya sendiri. Di tengah arus pergulatan tersebut, corak Islam memang menjadi bervariatif mulai dari yang sangat toleran terhadap tradisi lokal maupun yang sangat puris dan menolak tradisi lokal. Gerakan-gerakan Islam pun bervariasi dari yang bercorak tradisionalisme, post-tradisionalisme sampai yang modernisme bahkan neo-modernisme. Corak ke-Islaman seperti itu sebenarnya menjadikan wajah Islam di Indonesia menjadi semakin menarik untuk dicermati, baik sisi sosiologisnya maupun antropologisnya.
Tradisi Islam pesisir dan pedalaman memang tidaklah berbeda. Jika pun berbeda hanyalah pada istilah-istilah yang memang memiliki lokalitasnya masing-masing. Perbedaan ini tidak serta merta menyebabkan perbedaan substansi tradisi keberagamaannya. Substansi ritual hakikatnya adalah menjaga hubungan antara pelaksanaan ritual yang diselenggarakan dengan corak dan bentuk yang bervariasi, misalnya Nyadran laut atau sedekah laut bagi para nelayan hakikatnya adalah upacara yang menandai akan datangnya masa panen ikan, upacara wiwit
dalam tradisi pertanian hakikatnya juga rasa ungkapan syukur karena penen padi akan tiba.
commit to user
Upacara lingkaran hidup juga memiliki pesan ritual yang sama. Upacara hari-hari baik dan intensifikasi hakikatnya juga memiliki pesan dan substansi ritual yang sama. Dengan demikian, kiranya terdapat kesamaan dalam tindakan rasional bertujuan atau in order to motive bagi komunitas petani atau pesisir dalam mengalokasikan tindakan ritualnya. Perbedaan antara tradisi Islam pesisir dengan tradisi Islam pedalaman hakikatnya hanyalah pada struktur permukaan, namun dalam struktur dalamnya memiliki kesamaan, dengan kata lain substansinya sama meskipun simbol-simbol luarnya berbeda.
Koentjaraningrat (1994: 326) membagi keberagaman masyarakat Jawa menjadi dua, yaitu agama Islam Jawa dan agama Islam Santri. Kategori yang pertama kurang taat kepada syariat dan bersikap sinkretis yang menyatukan unsur-unsur pra-Hindu, Hindu, dan Islam, dan mereka inilah yang disebut sebagai masyarakat sinkretik, sedangkan yang kedua lebih taat dalam menjalankan ajaran agama Islam dan bersifat puritan. Meski sudah memeluk Agama Islam, namun masih banyak masyarakat yang menjalankan berbagai ritual animisme dinamisme, sehingga disebut sebagai Islam abangan. Segala macam ritual dan meditasi yang bersifat religus banyak ditujukan untuk melakukan hubungan dengan dunia gaib.
Berbagai macam ritual tersebut disebut dengan tindakan-tindakan keagamaan. Dalam Agama Jawa, tindakan-tindakan keagamaan yang terpenting adalah upacara makan bersama, yang dalam bahasa halusnya disebut dengan
wilujengan atau dalam bahasa ngoko disebut sebagai selamatan. Selamatan atau
wilujengan adalah suatu upacara pokok atau terpenting dari hampir semua ritus
dan upacara dalam sistem religi orang Jawa pada umumnya dan penganut Agami Jawi khususnya. Suatu upacara selametan biasanya diadakan di rumah suatu keluarga dan dihadiri oleh anggota-anggota keluarga, tetangga, kerabat, teman-teman, dan sebagainya. Rangkaian selametan biasanya terdiri dari nasi tumpeng lengkap dengan lauk pauk dan pelengkapnya (Koentjaraningrat, 1994 : 345). Masyarakat Jawa melakukan acara ritual untuk menghormati leluhur ataupun danyang.
Perbedaan Islam pesisir dan pedalaman memang pernah terjadi dalam rentangan panjang sejarah Islam Jawa. Namun seiring dengan perubahan sosial
commit to user
budaya-politik dalam kehidupan masyarakat, maka perbedaan itu tidak lagi didapatkan. Hal ini terjadi adanya perbedaan dalam simbol-simbol performansinya, namun memiliki kesamaan dalam substansi. Perbedaan label ritual Islam, misalnya hanya ada dalam label luarnya saja namun dalam substansinya memiliki kesamanaan.
Islam pesisiran maupun pedalaman, ternyata memiliki perbedaan-perbedaan yang unik. Perbedaan itu anehnya justru menjadi daya tarik karena masing-masing memiliki ciri khas yang bisa saja tidak sama. Pada masyarakat petani bisa saja terdapat perbedaan Islam murni meskipun selama ini selalu dilabel bahwa Islam pedalaman itu Islam lokal. Demikian pula Islam pesisir yang selama ini dilabel Islam murni ternyata juga terdapat Islam lokal yang menguat dan berdiri kokoh.
Lokalitas Islam hakikatnya adalah hasil konstruksi sosial masyarakat lokal terhadap Islam yang memang datang kepadanya ketika di wilayah tersebut telah terdapat budaya yang bercorak mapan. Islam memamg datang ke suatu wilayah yang tidak vakum budaya. Islam datang ke wilayah tertentu maka konstruksi lokal pun turut serta membangun Islam sebagaimana yang ada sekarang.
b. Islam Puritan
Islam puritan adalah aliran yang identik dengan fundamentalis, militan, ekstrimis, radikal, fanatik, dan jahidis. Islam Puritan menentang konsep-konsep seperti demokrasi, Hak Asasi Manusia, dan pengakuan akan peran perempuan. Sejarah Islam Puritan lebih tepatnya dikatakan dari kaum Wahhabi, dimana dasar-dasar teologi Wahhabi dibangun oleh Muhammad Ibn Abd al-Wahhab yang sangat fanatik pada abad ke-18. Perlu dipahami bahwa Islam Puritan sangat menentang modernitas (Barat), menurut mereka umat muslim wajib kembali kepada Islam yang dipandang murni, sederhana, dan lurus. Artinya, umat Islam tidak boleh bersahabat dengan dengan mereka yang bukan muslim atau muslim yang dinilai bidaah.( Khaleb A. El Fadl, 2006:27).
Bagi Islam puritan menafsirkan agama dalam proses penjadian sama dengan mengkhianati apa yang telah diberikan oleh Allah. Kaum puritan selalu
commit to user
membesar-besarkan peran teks dan menafihkan peran aktif manusia yang menafsirkan teks keagamaan, dan karena kemampuan manusia dalam menafsirkan teks diabaikan maka estetika dan wawasan moralitas dinilai tidak relevan dan tidak berguna. Karena teks menjadi pegangan maka kehidupan yang berada di luar hukum Tuhan dinilai tidak benar sehingga harus diperangi atau dihukum.
Hukum yang dimaksud disini adalah Al-Quran dan Tradisi Nabi (hadist dan sunah), menurut mereka 90% (dalam syari’at) dari apa yang mereka anggap hukum yang terwayuhkan tidak terbuka bagi perdebatan, tidak boleh dipertanyakan, dan hanya 10% dari hukum yang terbuka bagi perdebatan.
5. Pondok Pesantren a. Hakikat Pondok Pesantren
Definisi dari kosakata pondok pesantren dapat dikaji dengan memperhatikan makna per kata yang menjadi bagiannya. Kata pondok berarti tempat yang dipakai untuk makan dan istirahat. Istilah pondok dalam konteks dunia pesantren berasal dari pengertian asrama-asrama bagi para santri. Perkataan pesantren berasal dari kata santri, yang dengan awalan pe di depan dan akhiran an berarti tempat tinggal para santri (Dhofier 1985: 18). Maka pondok pesantren adalah asrama tempat tinggal para santri. Wahid (2001: 171) menerangkan bahwa pondok pesantren mirip dengan akademi militer atau biara (monestory, convent). Dikatakan seperti itu karena mereka yang berada di dalamnya mengalami suatu kondisi yang menuntut adanya sebuah totalitas.
Sebagai sebuah lembaga pendidikan Islam, selama ini pesantren dikenal sebagai pencetak para ulama handal di Indonesia. Ini terkait dengan misi utama pesantren sebagai lembaga pencetak thâ`ifah mutafaqqihîna fiddîn (para ahli agama). Tak terhitung jumlahnya ulama yang telah lahir dari pesantren. Kita mengenal nama-nama seperti Imam Nawawi Al-Bantani, HOS Tjokroaminoto, Hamka, KH. Hasyim Asy’ari, KH. Ahmad Dahlan dan KH. Imam Zarkasyi. Mereka adalah sebagian kecil dari para alumni pesantren yang menjadi ulama besar dikemudian hari.
commit to user
Salah satu ciri khas ulama lulusan pesantren adalah, mereka bukan hanya
memiliki ilmu yang luas tapi juga akhlaq yang tinggi. Hal ini terkait dengan metode pendidikan yang dikembangkan para kiai di pesantren. Tujuan pendidikan tidak semata-mata untuk memperkaya pikiran santri dengan penjelasan-penjelasan, tetapi juga untuk meninggikan moral, melatih dan mempertinggi semangat, menghargai nilai-nilai spiritual dan kemanusiaan, mengajarkan sikap dan tingkah laku yang jujur dan bermoral, dan menyiapkan murid untuk hidup sederhana dan bersih hati. Setiap murid diajar untuk menerima etik (peraturan moral) agama di atas etik-etik lain. Tujuan pendidikan pesantren bukanlah untuk mengejar kepentingan kekuasaan, uang dan keagungan duniawi, tetapi ditanamankan kepada mereka bahwa belajar adalah semata-mata kewajiban dan pengabdian kepada Allah. (Zamakhsyari Dhofier, 1982: 20-21)
Pesantren dianggap sebagai salah satu pilar benteng pertahanan umat. Hal ini sangat disadari musuh-musuh Islam. Sehingga mereka berusaha melemahkan peran pesantren agar tidak lagi memiliki peran. Keseimbangan dan kelestarian lingkungan hidup -bahkan seluruh aspek kehidupan manusia- merupakan kunci kesejahteraan. Stabilitas hidup memerlukan keseimbangan dan kelestarian di segala bidang, baik yang bersifat kebendaan mau pun yang berkaitan dengan jiwa, akal, emosi, nafsu dan perasaan manusia. Islam sebagaimana dalam beberapa ayat Al-Qur’an dan Hadits juga menuntut keseimbangan dalam hal-hal tersebut, keseimbangan mana sering disebut al-tawassuth atau al-i’tidal.
Kenyataan di mana-mana menunjukkan lingkungan hidup mulai tergeser dari keseimbangannya. Ini merupakan akibat dari pelbagai kecenderungan untuk cepat mencapai kepuasan lahiriah, tanpa mempertimbangkan disiplin sosial, dan tanpa memperhitungkan antisipasi terhadap kemungkinan-kemungkinan yang terjadi di masa mendatang yang akan menyulitkan generasi berikut. Pembinaan lingkungan hidup dan pelestariannya menjadi amat penting artinya untuk kepentingan kesejahteraan hidup di dunia mau pun akhirat, di mana aspek-aspeknya tidak dapat terlepas dari air, hewan, tumbuh-tumbuhan
commit to user
dan benda-benda lain sebagai unsur pendukung. Keseimbangan dan keserasian
antara semua unsur tersebut sangat rnempengaruhi dan dipengaruhi oleh sikap rasional manusia yang berwawasan luas dengan penuh pengertian yang berorientasi pada kemaslahatan makhluk.
Pesantren sebagai lembaga pendidikan keagamaan yang mempunyai fungsi ganda, sebagai lembaga pendilikan yang mampu mengembangkan pengetahuan dan penalaran, keterampilan dan kepribadian kelompok usia muda dan merupakan sumber referensi tata-nilai Islami bagi masyarakat sekitar, sekaligus sebagai lembaga sosial di pedesaan yang memiliki peran sosial dan mampu menggerakkan swadaya dan swakarsa masyarakat, mampu melakukan perbaikan lingkungan hidup dari segi rohaniah mau pun jasmaniah.
Pesantren yang menyatu dengan masyarakat tahu benar denyut nadi masyarakat. Sebagaimana masyarakat pun tahu siapa pesantren dengan kiai dan para santrinya. Para santri di pesantren tidak hanya belajar ilmu-ilmu agama, akan tetapi juga di dalam kehidupan nyata mereka belajar tentang hidup. Karena bersatunya santri dan masyarakat itulah, pesantren kemudian tidak kebingungan meneliti lingkungan hidup.
Bilamana mereka harus mengabdi kepada masyarakat, mereka merumuskan sikapnya terhadap masyarakat sejak masih dalam status kesantriannya. Kehidupan di pesantren itu sendiri merupakan deskripsi ideal bagi kehidupan luas di masyarakat. Atau dapat juga disebut, kehidupan pesantren adalah miniatur kehidupan masyarakat. Sehingga fungsi sosial pesantren seperti di atas mempunyai arti penting di dalam penyebaran gagasan baru atau perambatan modernisasi di masyarakat melalui kegiatan-kegiatan dakwah dan pelayanan masyarakat.
Tujuan umum pendidikan di pesantren, ialah membentuk atau mempersiapkan manusia yang akram (lebih bertakwa kepada Allah SWT.) dan
shalih (yang mampu mewarisi bumi ini dalam arti luas, mengelola, memanfaatkan, menyeimbangkan dan melestarikan) dengan tujuan akhirnya mencapai sa'adatu al-darain. Bertolak dari prinsip itu, pesantren memberikan arahan pendidikan lingkungan hidup dengan berbagai macam aspeknya.
commit to user
Pada gilirannya para santri tahu dirinya sebagai makhluk sosial yang di
dalam hidup nyata tidak bisa lepas dari keterkaitan dengan orang lain dan alam. Sebagaimana orang lain dan alam pun, tidak bisa lepas dari keterkaitan mereka dalam pelbagai konteks sosial, di mana rnereka berarti mempunyai tanggung jawab atas apapun yang mereka lakukan, terhadap dirinya sendiri dan orang lain maupun terhadap Allah SWT.
Dalam hal tersebut pesantren menekankan pentingnya arti tanggung jawab. Tanggung jawab terhadap dirinya sendiri, berarti keharusan meningkatkan kemampuan pribadi untuk memusatkan dirinya pada pewarisan bumi (alam) dalam rangka ibadah yang sempurna. Sedangkan tanggung jawab terhadap orang lain, merupakan sikap dan perilaku yang rasional di dalam berkomunikasi dengan orang lain dan alam di mana kehidupan manusia secara lahiriah selalu tergantung padanya. Kemudian tanggung jawab terhadap Allah SWT adalah dalam bentuk disiplin norma dan ajaran di dalam pengelolaan alam. Disiplin sosial sesuai dengan norma mu'asyarah dan mu’amalah antar sesama makhuk. Ini dalam rangka meningkatkan “keakroman" yang dapat menumbuhkan lingkungan hidup yang seimbang dan lestari.
Upaya pembinaan lingkungan hidup dapat dilakukan dengan dua pokok pendekatan. Pertama, pendekatan proyek dan kedua, pendekatan motivasi. Atau keduanya sekaligus dilakukan secara terpadu. Pendekatan kedua (motivasi) walaupun akan memerlukan waktu yang relatif panjang, akan berdampak lebih positif karena pihak sasaran secara berangsur akan mau mengubah sikap dan perilaku secara persuasif. Perilaku dan sikap acuh tak acuh terhadap masalah ingkungan hidup akan berubah menjadi suatu sikap dinamis yang terus berkembang yang akan berkulminasi pada stabilitas pembinaan lingkungan hidup. Pendekatan motivasi seperti itu dapat dilakukan dalam pola pendidikan di pesantren. Kesadaran akan keseimbangan lingkungan hidup yang muncul dari pengertian dasar tentang masalah-masalahnya serta implikasinya terhadap kesejahteraan ukhrawi dan duniawi dapat ditanamkan dan dikembangkan melalui jalur pendidikan di pesantren.
commit to user
Keterlibatan pesantren memberi pengertian mengenai dampak lingkungan
hidup secara duniawi dan ukhrawi, merupakan peranan dan peran serta nyata dalam pembinaan lingkungan hidup. Bila peranan itu mampu dilembagakan, akan banyak berpengaruh positif di kalangan masyarakat sekelilingnya. Mengingat posisi pesantren sebagai lembaga dakwah, berfungsi pula sebagai titik sentral legitimasi keilmuan agama Islam bagi masyarakatnya, melalui kegiatan pendidikan formal pesantren (yaitu madrasah) dan pengajian weton