• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

2. Tanggapan Pembaca terhadap novel Geni Jora

Tanggapan pembaca mengenai novel Geni Jora karya Abidah El

Khalieqy sangat beraneka ragam. Novel ini merupakan novel yang secara kritis membedah dunia pesantren. Menyorot sisi- sisi hubungan laki- laki dan perempuan kaitannya dalam masalah gender. Pemberontakan tokoh utama atas sikap patriarkis yang dinilainya tidak adil seperti yang diungkapkan oleh Drs. Yant Mujiyanto, M. Pd yaitu :

” Gambaran kehidupan sosial budaya masyarakat saat ini sudah tergambar cukup jelas dan mendalam dalam novel

commit to user

sudah sesuai dengan realitas yang ada. Realitas yang dimaksud disini adalah kuatnya budaya patriarki, sikap lebih mengutamakan laki- laki daripada wanita” ( CLHW. No 1)

Hal senada juga diungkapkan oleh Kartika Fitri Yuniarti . Sebagai seorang pembaca dia menilai novel ini sangat dekat dengan penyejajaran hak antara laki- laki dan perempuan.

“ Menurut saya novel Geni Jora sudah cukup

menggambarkan kehidupan sosial budaya masyarakat saat ini. Kejora menggambarkan sesosok aktifis emansipasi wanita yang berusaha mensejajarkan hak antara perempuan dan laki- laki. Namun pada kenyataannya kita tidak sempat mengubah hukum alam bahwa laki- laku lebih berkuasa daripada perempuan.” ( CLHW. No 4 ).

Selain menggambarkan mengenai feminisme dan patriarki dalam novel ini juga secara jelas menceritakan tentang kehidupan Pondok Pesantren. Dalam novel ini dapat dilihat bahwa pengarang sangat faham betul dan sangat fasih bicara tentang kehidupan pesantren. Hal ini di darenakan memang penulis mempunyai latar belakang pendidikan di pesantren.

“Di sini pengarang memotret realitas yang pernah dialaminya dengan penghayatan yang mendalam ketika dulu ia pernah nyantri di Pesantren. “ (CHLW. No 1)

Hal ini benar adanya karena pengarang sendiri bercerita bahwa lewat novel ini Abidah mencoba menggambarkan kehidupan di Pesantren baik pada jaman sekarang maupun dahulu saat dia masih tinggal di Pesantren.

“ Kejora dalam diri saya. Tokoh Kejora dalam novel ini memang menggambarkan tentang diri saya terutama pada saat saya ada dalam pondok pesantren di daerah Jawa Timur.” (CLHW. No 1)

Selain menceritakan tentang feminisme, novel ini juga banyak mengandung nilai- nilai agama khususnya agama islam karena dalam novel ini

commit to user

settingnya ada di Pesantren. Hal ini diungkapkan oleh Yulia Sri Astuti sebagai pembaca yang telah membaca novel ini.

“Ya. novel Geni Jora banyak sekali nilai- nilai pendidikan agama. Banyak contoh- contoh yang bisa diambil hikmahnya dari pendidikan agama.” (CLHW. No 4)

Pendapat senada juga diungkapkan oleh Drs. Yant Mujiyanto, M. Pd yang mengatakan bahwa dalam penceritaan ilmu agama dalam novel ini sangat pas, artinya tidak berlebihan sehingga terkesan tidak menggurui atau seperti buku agama yaitu :

“Sedikit banyak dalam novel ini dihadirkan aneka pengetahuan tentang agama islam, sesuai karakter kehidupan dan dunia pesantren yang menjadi inti permasalahan ( bukan sekedar latar budaya ), namun tidaklah terlalu detail seperti buku pelajaran agama. Artinya, disini pengarang bertindak cukup proporsional, sehingga penyampaian materi agamanya tidak terasa menggurui. “ (CLHW. No 2)

Pendapat yang hampir sama juga diungkapkan oleh Kartika Fitri Yuniarti yang mengungkapkan bahwa selain memberikan pengetahuan umun Pesantren juga memberikan pengetahuan tentang agama yaitu:

“Sekarang di Pesantren juga mengajarkan pendidikan umum jadi saya rasa sekarang sama dengan pendidikan umum. Malah pesantren memiliki nilai lebih karena di Pesantren mendapat bekal agama yang mendalam.”( CLHW. No 5).

Pembaca lain juga beranggapan bahwa saat ini pesantren tidak hanya mengajarkan tentang pendidikan agama saja tetapi mengajarkan juga pengetahuan umun sama seperti sekolah pada umumnya, sehingga pesantren saat ini tidak kalah dengan sekolah- sekolah formal.

“ Pendidikan di pokdok pesantren tidak kalah dari pendidikan umum karena sekarang banyak pesantren yang mengajarkan pendidikan agama dan umum.” ( CLHW. No 3)

commit to user

Memang dalam novel ini digambarkan oleh penulis secara detail tentang kehidupan di pesantren serta gaya hidup para santri yang cenderung berdampak positif. Hal ini diungkapkan oleh Drs. Yant Mujiyanto, M. Pd yaitu :

“ Pendapat saya tentang pendidikan di Pondok Pesantren hanya saya ketahui secara umum dan selintas ( dari baca buku dan pengalaman anak saya yang pernah sekolah disana yaitu pendalaman mengenai syariat Islam penuh dengan materi- materi keagamaan, untuk diamalkan dalam kehidupan sehari- hari. Disana ditanamkan ketaatan pada perintah- perintah Allah, menjauhi arangan-Nya, hidup sederhana, tekun, jujur, disiplin, menghormati ustadz- ustadzah, punya kepedulian terhadap lingkungan, disampaikan menjadi figur yang membawa rahmat bagi semesta alam.” (CLHW. No 3)

Selain kelebihan, tentunya kehidupan pesantren juga memiliki kelemahan. Seperti diungkapkan oleh Yulia Sri Astuti yaitu :

“ Pondok Pesantren ada kelebihan dan kekurangannya. Kelebihannya siswa benar- benar dipersiapkan untuk urusan dunia dan akhirat, serta dengan alkhlak mulia. Kekurangannya santri kadang jadi tertekan, dan tidak mampu beradaptasi dengan dunia luar. Banyak jebolan pesantren jadi nakal karena mereka tidak mampu menyeleraskan kehidupan ini dengan benar.” ( CLHW. No 4)

Banyak pendapat yang mengatakan bahwa kehidupan pesantren sesuai dengan apa yang dicanangkan pemerintah, tetapi ada juga yang berpendapat bahwa tidah sesuai. Seperti diungkapkan para pembaca sebagai berikut:

“ Rata- rata kehidupan di Pondok Pesantren sudah sesuai dengan yang dicanangkan Pemerintah. Artinya, di sana diajakan sikap dan tindakan untuk menjadi Warga Negara yang baik, ketaatan terhadap ajaran agama, sesuai bermaslahat, jauh koridor amar makhruf nahi munkar, menjadi insan yang dari tindakan yang mengarah pada kemudaratan, apalagi terorisme. “(CLHW. No 1)

commit to user

“ Sesuai dan mendukung. Bahkan sangat membantu pemerintah dalam melaksanakan kehidupan yang sejahtera.” (CLHW. No 4) “ Hanya menurut saya mungkin saja pesantren sudah menerapkan aturan itu karena pesantren selalu menghasilkan santri- santri yang dapat diterima dalam kehidupan bermasyarakat.” (CLHW. No 3) Pembaca selaku pemberi makna adalah variabel menurut ruang, waktu dan golongan sosial budaya. Baik dan tidaknya sebuah karya sastra dapat dilihat dari bagaimana para pembaca dan penikmat sastra terhadap karya sastra tersebut.

B. Pembahasan

Dokumen terkait