BAB III METODOLOGI PENELITIAN
2. Studi Teks
4.3 Nilai-nilai Didaktis dalam syair warnasari karya Raja Ali Haji
4.3.3 Agamis
Agamis merupakan suatu kepercayaan yang tertanam pada hati seorang manusia, atau serupa dengan agama yang nerupakan sebuah ajaran atau sistem yang mengatur tata cara peribadatan kepada Tuhan dan hubungan antar manusia.
Dalam ajaran sebuah agama, setiap penganutnya diajari agar saling hidup rukun dengan sesama manusia. Pandangan ini merupakan bagian dari pendekatan didaktis yang bertujuan untuk menggali nilai-nilai yang mampu memperkaya kehidupan rohaniah pembaca.
Seni dan sastra mengungkapkan masalah dan pengalaman manusia, suka dan dukanya. Khusus pengalaman manusia mengenai adanya Tuhan serta peran
Tuhan dalam hidupnya diungkapkan dalam seni dan sastra. Oleh karena itu, seni dan sastra harus diberi tempat yang wajar dan terhormat dalam kehidupan kelompok beragama (Gaudium et Spes dalam Veeger dkk., 2001: 14).
Pandangan agamis merupakan pandangan yang sangat sering di lihat dari setiap karya sastra, karena merupakan hal yang menyinggung permasalahan agama sedangkan dalam sebuah karya sastra sering kali menyinggung kata Tuhan di dalamnya, hal ini digunakan penulis bertujuan untuk memperkaya rohaniah pembaca. Dan pada syair warnasari ini sangat banyak di jelaskan bagaimana cerita di dalamnya tak terlepas dari setiap ketentuan Allah SWT, bagaimana Raja Ali Haji mendapatkan cobaan berupa penyakit yang di deritanya yang semua itu datangnya dari Allah maka tidak ada pula yang mampu menolak atas kehendak_Nya. Tapi berkat usaha dan kerja keras dari keluarga yang menginginkan kesembuhan dan kehendak Allah yang memberi kesembuhan atas segala usaha yang telah diperbuat. Hal demikian tergambar pada bait ke 4, 17 dan bait 21 dalam syair warnasari sebagai berikut :
(4) Jangankan kurang bertambah pula Dengan perintah Allah ta‟ala Badanpun lemah tiada terhela Sebab karena itulah bala
(17) Kita pun syukur kepada Allah
Meringankan penyakit yang berat lelah Minta ampun barang yang salah Akan diterima insya Allah
(21) Sekalian saudara memberi hormat Kepada gubernemen memberi selamat Tiada terbalas budi dan hemat
Mudah-mudahan Allah member rahmat
Pada bait ke-4 dalam syair warnasari ini dijelaskan bagaimana penderitaan yang di alami oleh Raja Ali haji, penyakit yang semakin lama semakin memburuk. Semua ini tak terlepas atas kehendak Allah ta‟ala, semakin hari kesabaran semakin di uji oleh Allah. Hal tersebut tergambar pada potongan syair berikut ini : „Jangankan kurang bertambah pula, dengan perintah Allah ta‟ala‟.
Penyakit yang semakin parah tersebut menjadi sebuah ujian yang teramat berat bagi penderita serta bagi keluarganya. Jika demikian hendaklah kita berpasrah pada Allah SWT karna semua terjadi atas kehendak-Nya dan hendaklah selalu berserah diri kepada Allah bahwa semua yang diciptakanya maka akan kembali pula kepadanya seperti bunyi lanjutan syair di atas berikut : „Badanpun lemah tiada terhela, sebab karena itulah bala‟.
Dalam bait ke-17 ini penulis menceritakan bagaimana seharusnya kita apabila mendapat cobaan berupa penyakit seperti yang di derita Raja Ali Haji dalam syair ini. Keadaan penyakit yang tak kunjung sembuh mengharuskan agar selalu bersabar ketika mendapat cobaan seperti ini. Lakukan usaha-usaha tertentu untuk mencapai kesembuhan dengan berobat misalnya, apabila semua usaha sudah dilakukan dengan sangat maksimal apapun hasil dari usaha itu selalulah mengucap syukur atas kehendak yang di beri Allah SWT kepada kita selaku hambamnya. Memohon ampunan kepada Allah ta‟ala apabila terdapat dosa kita
pada yang lalu, sebab Allah itu maha pemaaf atas segala dosa hambanya yang telah lewat. Hal tersebut seluruhnya tertuang pada bait ke 17 beikut ini :
(17) Kita pun syukur kepada Allah
Meringankan penyakit yang berat lelah Minta ampun barang yang salah Akan diterima insya Allah
Pada bait ke-21ini merupakan bait yang terakhir dalam syair warnasari yang artinya merupakan ending dari cerita syair warnasari tersebut. Pada bait terakhir ini penulis menonjolkan pandangan secara agamis, pandangan tersebut mengacu kepada bagaimana kita menjaga hubungan sesama manusia dan bagaimana hubungan dengan Allah ta‟ala. Dalam bait ini dijelaskan bahwa bagaimana kita sebagai seorang hamba harus senantiasa mengharap ridho Allah SWT , mengharap rahmat atas segala cobaan yang sudah diberikanya terhadap kita. Hal demikian haruslah tetap kita pertahankan sebagai seorang hamba yang mempunyai Tuhan sebagai sang pencipta dari segala yang ada di dunia ini. Hal tersebut tergambar pada bait terakhir dalam syair warnasari di bawah ini :
(21) Sekalian saudara memberi hormat Kepada gubernemen memberi selamat Tiada terbalas budi dan hemat
Mudah-mudahan Allah member rahmat
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN 5. 1 Kesimpulan
Dari pemaparan hasil analisis penulis pada bab sebelumnya, maka penulis menarik beberapa kesimpulan dari hasil pembahasan, yaitu :
1. Syair Warnasari ini terdiri dari 21 bait yang ditulis dengan menggunakan bahasa Melayu.
2. Syair Warnasari karya Raja Ali Haji ini merupakan syair yang memiliki kandungan nilai-nilai pendidikan yang sangat luas di dalamnya, mulai dari keagamaan, sosial dan budaya.
3. Tema dalam syair warnasari ini mengacu pada kesabaran dan ketabahan seorang hamba kepada Tuhannya.
4. Nada yang digunakan dalam syair warnasari ini terbagi atas tiga bagian yaitu : a. Nada menegaskan
b. Nada persuasive c. Nada sugesti
5. Rasa yang penyair tuangkan di dalam syair warnasari di atas merupakan rasa bangga masyarakatnya terhadap pemimpin yang benar-benar peduli terhadap rakyat dan pemimpin yang dapat menjadi panutan oleh pemimpin-pemimpin lainnya.
6. Amanat dari syair warnasari menjelaskan bahwa tidak ada manusia yang dapat menghidar dari kuasa Allah ta‟ala, ketika Allah berkehendak maka semua akan menjadi mungkin.
Sebagai manusia harusnya kita selalu berserah diri kepada Allah SWT, jangan merasa paling hebat dan merasa mampu akan segalanya tanpa Allah SWT.
Kepercayaan merupakan suatu tanggung jawab yang besar dan harus selalu di jaga.
Setiap manusia pasti pernah melakukan suatu kesalahan entah itu dalam kehidupan bermasyarakat antar sesama manusia atau melakukan kesalahan terhadap tuhan-Nya.
7. Nilai didaktis yang terkandung dalam syair warnasari dipandang dari pendapat yang di kemukakan Aminuddin yang terbagi tiga yaitu:
a. Pandangan secara etis b. Pandangan secara filosofis c. Pandangan secara agamis.
8. Syair warnasari mempunyai banyak sudut pandang namun penulis lebih memaparkan bagaimana struktur bathin dalam syair warnasari, penulis menggunakan teori didaktis dalam pengkajiannya karena penulis melihat begitu banyak nilai-nilai pendidikan yang terkandung di dalam syair warnasari.
5. 2 Saran
1. Untuk menjaga generasi selanjutnya tentang karya sastra Melayu yang baik, maka penelitian terhadap karya-karya sastra Melau harus tetap dilakukan sebagai salah satu bentuk kepedulian terhadap penelitian sastra
2. Karya sastra lisan dan puisi lama harus terus dijaga dan dilestarikan agar dapat diketahui oleh kalangan kaum intlektual dan masyarakat luas.
3. sebagai orang yang mencintai khazanah Melayu, sudah sepantasnya kita lebih mengedepankan tentang pengetahuan karya-karya sastra Melayu yang lebih unggul dari pada karya-karya barat, dengan terus melakukan penelitian terhadap karya-karya sastra melayu.
4. untuk kedepannya dalam setiap penelitian tentang karya sastra Melayu upayakan menggunakan teori didaktis agar nilai-nilai pendidikan yang terkandung dalam sebuah karya sastra melayu dapat diterapkan untuk anak cucu kita nantinya.
DAFTAR PUSTAKA
Ary, D. 1982. Metodologi Dalam Penelitian. Surabaya : Usaha Nasional.
Atmazaki. 1990. Ilmu Sastra Teori dan Terapan. Padang. Angkasa.
Brahmana, 2008. Sastra Sebagai Sebuah Disiplin Ilmu. Jurnal Ilmiah Bahasa dan Sastra.
Dudung. 2015. “Pengertian Sastra Menurut 15 Para Ahli Dan KBBI”. (Online) http://www.dosenpendidikan.com/pengertian-sastra-menurut-15-para-ahli-dan-kbbi/. Diakses 20 Agustus 2016 pukul 19.00 WIB
Endraswara, Suwandi. 2008. Metodologi Penelitian Sastra. Yogyakarta: Media Pressindo.
Faang Liaw Yock. 1993. “Sejarah Kesusasteraan Melayu Klasik”. Jakarta.
Erlangga.
Fananie, Zainuddin. 2000. Telaah Sastra. Surakatra: Muhammadiyah University Prees.
Hartoko. 1992. “Pengantar ilmu sastra”. Jakarta. PT Gramedia pustaka utama.
Hasbullah. 2005. Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan. Jakarta : PT. Rajagrafindo Persada.
Http://www.pengertianmenurutparaahli.net/pengertian-filosofi/
Junus, Hasan.2007. Raja Ali Haji Budayawan Di Gerbang Abad XX. Pekanbaru.
Universitas Islam Riau Press.
.2007. Gurindam Dua Belas dan Sejumlah Sajak Lain. Pekanbaru. Yayasan Pustaka Riau.
Kartono, Kartini. 1997. Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta : PT. Pradanya Paramita.
Komaruddin. 1987. “Metode penulisan skripsi dan tesis”. Bandung. Angkasa.
Lexi J.Moleong. 2007. Metodologi Penelitian Kualitatif: Edisi Revisi. Bandung:
PT Remaja Rosdakarya
Maslinda. 2000. Analisis Struktur dan Nilai-nilai Psikologi dalam Mantra Pekasih Masyarakat Melayu Aras Kabu.
Pradopo, Racmat Djoko. 1999. Pengkajian Puisi. Yogyakarta: Gajah Mada University press.
Prof.Dr.S.Nasution. 2015. M.A. Didaktik Asas Mengajar. Jakarta: PT Bumi Aksara.
Rumini. 2000. Analisis Struktur Dan Nilai-Nilai Didaktis Dalam Ungkapan Tradisional Masyarakat Natal. (skripsi) Medan: Universitas Sumatra Utara.
Semi, Atar. 1990. Metode Penelitian Sastra. Bandung : Angkasa.
Tari. 2010. Nilai-nilai religius syair Haji terjemahan Muhammad Fanani.
(skripsi) Medan: Universitas Sumatera Utara.
Waluyo, Herman J.1991. Teori dan Apresiasi Puisi. Jakarta: Erlangga.
Widya, Wendy. 2008. Bedah Puisi Lama. Klaten: Pariwara.
Yusmalina. 1997. Struktur Dan Nilai-Nilai Didaktis Syair Memuji Pengantin Masyarakat
Melayu Tanjung Pura. Skripsi Sarjana. Medan. FS. USU.
LAMPIRAN Syair Warnasari
Syair dikarang oleh Raja Ali Haji ibn Raja Ahmad ibn Yang Dipertuan Muda Riau
1. Dengarkan tuan suatu peri Syair kurang seorang diri
Tatkala sakit di kota Engku Puteri Hampirkan hilang jiwa sendiri
2. Saudara dan bapa terlalu susah Siang dan malam keluh susah Mencari obat minum dan asah Ada yang panas ada yang basah
3. Dipanggillah dukun Melayu dan Cina Ada yang jantan ada yang betina Berbuatlah obat berbagai warna Kepada badanku sekalian terkena
4. Jangankan kurang bertambah pula Dengan perintah Allah ta‟ala Badanpun lemah tiada terhela Sebab karena itulah bala
5. Sanak saudara bertambah cinta Ada yang menyapu ayernya mata Berhimpunlah mufakat ke dalam kota Musyawarahkan obat supaya nyata
6. Raja Abdullah saudara yang dipertuan Ialah wakil raja bangsawan
Bijaksana lagi dermawan
Ialah mengeluarkan ikhtiarnya tuan
7. Katanya ayuhai ayahanda bunda Dengarkan juga ikhtiarnya anakada Baik kita pinta dokter holanda Karena obatnya bukan bersenda
8. Karena obatnya dengan pelajar Kepada negeri yang besar-besar Janganlah kita perbanyak ghubar Berserah kepada tuhan yang jabbar
9. Selesailah mufakat sama sendiri Menyuruh seorang pergi berlari Kepada Residen kepada negeri Meminta dokter esok hari
10. Reisiden pun suatu orang mengerti Dikabulkan pinta dengan putih hati Tiada suatu tangguh dan nanti Sampailah ia orang berbakti
11. Datanglah seorang dokter darat Berkayuhlah ia ke pulau Penyengat Memeriksa penyakit ringan dan berat Periksa halus terlalu sangat
12. Habis periksa obat diberi Dua botol diminum saban hari Kira-kira ada empat lima hari Kita pun minta sebilang hari
13. Tengah berobat lalu berhenti Sebab dokter sakitnya kaki
Dokter kapal perang pula mengganti Ia pun satu orang mengerti
14. Datanglah dokter yang pilihan Memeriksa penyakit dengan perlahan Rupanya lembut dengan kasihan Sampailah orang kepercayaan
15. Habis periksa ia pun pulang Datang pula ia berulang Membawa obat di dalam baling Satu jam sekali di minum berselang
16. Ada kira-kira lima enam hari Dengan izin tuhan yang bahri Kuranglah penyakit di dalam diri Bolehlah sedikit dibawa berdiri
17. Kita pun syukur kepada Allah
Meringankan penyakit yang berat lelah Minta ampun barang yang salah Akan diterima insya Allah
18. Kepada Allah mengata amin
Menerima kasihlah kepada gubernemen Serta menterinya tuan Residen
Kepada dokter bukanya main
19. Tuan dokter muda bestari Lemah lembut lakunya diri Air ayam pula diberi
Disuruhnya minum sehari-hari
20. Tiadalah kita panjangkan mudah Hilanglah duka cita hati yang gundah Sanak saudara sukalah sudah
Mukanya manis berupa indah
21. Sekalian saudara memberi hormat Kepada gubernemen memberi selamat Tiada terbalas budi dan hemat
Mudah-mudahan Allah member rahmat
Termaktub di dalam negeri Riau kepada 1 hari bulan Jumadil-awal tahun 1268 (3 Maret 1852)