• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.2 Teori yang Digunakan

2.2.1 Teori Struktural

Struktur sering dipahami sebagai bentuk. Struktur merupakan susunan antar unsur-unsur yang masing-masing dari unsur itu memiliki keterkaitan. Kodrat struktur itu akan bermakna apabila dihubungkan dengan struktur lain. Struktur tersebut memiliki bagian-bagian yang kompleks, sehingga pemaknaan harus diarahkan ke dalam hubungan antar unsur-unsur secara keseluruhan. Keseluruhan akan lebih berarti dibandingkan bagian atau fragmen struktur (Endraswara, 2008:49).

Karya sastra merupakan struktur. Struktur disini dalam arti bahwa karya sastra merupakan susunan dari unsur yang bersistem, yang antara unsurnya terjadi hubungan timbal balik saling menentukan. Jadi, kesatuan unsur-unsur dalam sastra bukan hanya berupa kumpulan atau tumpukan hal-hal atau benda-benda yang berdiri sendiri, melainkan hal-hal itu saling terikat, saling berkaitan dan saling bergantung satu sama lain seperti sebuah ikat yang tidak dapat dipisahkan ( Pradopo, 1999:118).

Teori struktur pada dasarnya merupakan cara berpikir tentang dunia yang terutama berhubungan dengan tanggapan dan deskripsi struktur. Berdasarkan alur pikirannya maka teori ini lebih merupakan sususan suatu hubungan daripada susunan benda-benda. Oleh kerena itu kodrat tiap unsur dalam struktur itu tidak mempunyai makna dengan sendirinya, melainkan maknanya ditentukan oleh hubungannya dengan semua unsur lainnya yang terkandung dalam struktur itu (Pradopo, 1999:119).

Berdasarkan penjelasan di atas puisi dapat dikaji struktur dan unsur-unsurnya, baik itu struktur fisik maupun struktur batinnya. Struktur fisik meliputi diksi, imajinasi, kata-kata kongkrit, gaya bahasa. Sedangkan struktur batin meliputi tema, nada, perasaan dan amanat. Kemudian mengingat bahwa puisi terdiri dari struktur yang tersusun dari bermacam-macam unsur dan sarana-sarana kepuitisannya. Puisi yang paling tua adalah mantra (Waluyo, 1991:5) yang berisikan kekuatan magis sehingga nemimbulkan keyakinan diri bagi si pengguna dan pendengarnya.

Struktur fisik puisi sebagai metode pengucapan puisi meliputi:

1. Diksi (pilihan kata)

Diksi adalah pilihan kata-kata yang dilakukan oleh penyair dalam puisinya. Pemilihan kata-kata dalam puisi berhubungan erat dengan makna, keselarasan bunyi dalam rima dan irama, kedudukan kata itu di tengah konteks kata lainnya, dan kedudukan kata dalam keseluruhan puisi itu. Oleh sebab itu, di samping memilih kata yang tepat, penyair juga mempertimbangkan urutan

katanya dan kekuatan atau daya magis dari kata-kata tersebut. Kata-kata diberi makna baru yang tidak bermakna diberi makna menurut kehendak penyair.

Karena pemilihan kata-kata mempertimbangkan berbagai aspek estetis, maka kata-kata yang sudah dipilih oleh penyair untuk puisinya bersifat absolut dan tidak bisa diganti dengan padan katanya, sekalipun maknanya tidak berbeda.

Bahkan sekalipun unsur bunyinya hampir mirip dan maknanya sama, kata yang sudah dipilih itu tidak dapat diganti.

Kata-kata dalam puisi bersifat konotatif artinya memiliki kemungkinan maknanya lebih dari satu. Kata-katanya juga dipilih yang puitis artinya mempunyai efek keindahan dan berbeda dari kata-kata yang kita pakai dalam kehidupan sehari-hari. Dengan pemilihan kata-kata yang cermat ini, orang akan langsung tahu bahwa yang dihadapi itu puisi setelah membaca kata-kata yang dibacanya itu kata-kata yang tepat untuk puisi (Waluyo, 1991:72).

Dalam pemilihan kata, penyair mempertimbangkan daya sugesti kata-kata itu. Sugesti itu ditimbulkan oleh makna kata-kata yang yang dipandang dangat tepat mewakili perasaan penyair. Karena ketepatan pilihan dan ketepatan penempatannya, maka kata-kata itu seolah memancarkan daya gaib yang mampu memberikan sugesti kepada pembaca untuk ikut sedih, terharu, bersemangat, marah, dan sebagainya (Waluyo,1991:77).

2. Imajinasi

Pengimajinasian adalah kata atau susunan kata-kata yang dapat mengungkapkan pengalaman sensoris, seperti penglihatan, pendengaran, dan

perasaan (Waluyo,1991:78). Pengimajian dalam sajak dapat dijelaskan sebagai usaha penyair untuk menciptakan atau menggugah timbulnya imaji dalam diri pembacanya, sehingga pembaca tergugah untuk menggunakan mata hati untuk melihat benda-benda, warna, dengan telinga mendengar bunyi-bunyian, dan dengan perasaan hati kita menyentuh kesejukan dan keindahan benda dan warna Effendi (dalam Waluyo, 1991: 81).

Ada 8 macam imaji yang terdapat dalam puisi, yaitu :

1. Imaji pengelihatan (Visual), yakni pembaca seakan melihat sendiri apa yang digunakan atau apa yang diceritakan oleh penyair.

2. Imaji pendengaran (auditory), yakni pembaca seperti mendengar sendiri apa yang dikemukakan oleh penyair.

3. Imaji pendengaran (articulatory), yakni imajinasi yang menyebabkan pembaca mendengar bunyi-bunyi dengan artikulasi-artikulasi tertentu pada bagian mulut atau bunyi-bunyi makhluk hidup di ala mini.

4. Imaji penciuman (olfactory), yakni pembaca atau pendengar seperti ketika mendengar atau membaca puisi seakan-akan mencium sesuatu.

5. Imajinasi pencicipan (gustatory), yakni dengan membaca atau mendengar kata-kata atau kalimat-kalimat tertentu, kita seperti mencicipi suatu benda yang menimbulkan rasa.

6. Imajinasi rasa kulit (tactual), yakni yang menyebabkan kita seperti merasakan sesuatu dibagian kulit badan kita saat membaca sebuah puisi.

7. Imajinasi gerakan tubuh (kinaestetik), yakni dengan membaca atau mendengarkan kata-kata atau kalimat dalam puisi itu kita merasakan gerakan tubuh atau otot.

8. Imajinasi organik, yakni imajinasi badan yang menyebabkan kita dapat melihat atau merasakan badan yang lesu, lapar, lemas dan sebagainya.

(Sayuti, 1985:64; Situmorang, 1981:20:21) 3. Kata Konkrit

Kata konkrit digunakan untuk membangkitkan imajinasi (daya khayal) pembaca. Maksudnya ialah bahwa bahwa kata-kata itu dapat menyaran kepada arti yang menyeluruh. Kata yang diperkonkrit juga erat hubungannya dengan penggunaan kiasan dan lambang. Jika seorang penyair mahir memperkonkrit kata-kata, maka pembaca seolah-olah melihat, mendengar, atau merasa apa yang dilukiskan oleh penyair. Dengan demikian pembaca terlibat penuh secara batin kedalam puisinya. Dengan kata yang kongkret, pembaca dapat membayangkan secara jelas peristiwa atau keadaan yang dilukiskan oleh penyair (Waluyo, 1991:81).

4. Gaya Bahasa (bahasa kiasan)

Setiap penyair selalu menggunakan gaya bahasa dalam menuangkan buah pikirannya. Selain sebagai media estetis, gaya bahasa juga digunakan penyair sebagai ciri khas yang merupakan gambaran dari kejiwaanya. Hal ini senada dengan pendapat Keraff (1991 : 113) bahwa gaya bahasa adalah cara menuangkan pikiran secara khas yang memperhatikan jiwa serta kepribadian penyair. Artinya

gaya bahasa yang digunakan oleh seorang penyair merupakan refleksi dari pikiran dan jiwanya dalam membuat sebuah karya sastra.

Bahasa figuratif menyebabkan puisi menjadi prismatis, artinya memancarkan banyak makna atau kaya akan makna. Bahasa figuratif ialah bahasa yang digunakan penyair untuk mengatakan sesuatu dengan cara yang tidak biasa, yakni secara langsung mengungkapkan makna. Kata atau bahasanya bermakna kias atau makna lambang.

Pengiasan disebut juga simile atau persamaan, karena membandingkan atau menyamakan sesuatu hal dengan hal lain. Dalam pelambangan sesuatu hal diganti atau dilambangkan dengan hal lain. Tujuan pengunaan kiasan ialah untuk menciptakan efek lebih kaya , lebih efektif, lebih sugesti dalam bahasa puisi. Gaya bahasa atau majas merupakan komponen yang sangat penting bagi seorang penyair untuk mewujudkan maksud dari puisinya, sehingga gaya bahasa mampu nenambah daya ungkap atau daya pikat dari puisi tersebut.

Ada beberapa macam gaya bahasa (bahasa kiasan) yaitu :

1. Metafora yaitu kiasan langsung dimana benda yang dikiaskan itu tidak disebutkan. Jadi ungkapan itu langsung berupa kiasan.

2. Perbandingan yaitu kiasan yang tidak langsung disebut perbandingan atau simile, karena benda yang dikiaskan kedua-duanya ada bersama pengiasannya dan digunakan kata-kata perbandingan yaitu membandingkan sesuatu dengan yang lain.

3. Personifikasi adalah keadaan atau peristiwa alam sering dikiaskan sebagai keadaan atau peristiwa yang dialami oleh manusia. Dalam hal ini benda mati dianggap dianggap sebagai manusia atau persona, atau di

“personofikasi”kan. Hal ini digunakan untuk memperjelas penggambaran peristiwa dalam keadaan itu.

4. Hiperbola adalah kiasan yang yang berlebih-lebihan. Penyair merasa perlu melebih-lebihkan hal yang dibandingkan itu agar mendapat perhatian yang lebih seksama dari pembaca.

5. Sinekdoce adalah menyebutkan sebagian untuk maksud keseluruhan, atau

toto (menyebutkan sebagian untuk keseluruhan) dan totem pro parte (menyebutkan keseluruhan untuk maksud sebagian).

6. Ironi adalah kata-kata yang bersifat berlawanan untuk memberikan sindiran. ironi dapat berubah menjadi sinisme dan sarkasme, yakni penggunakan kata-kata yang keras dan kasar untuk menyindir dan mengkritik. Jika ironi harus mengatakan kebalikan dari apa yang hendak dikatakan, maka sinisme dan sarkasme sebaliknya. Tetap ketiganya mempunyai maksud yang sama, yakni memberikan kritik atau sindiran (Waluyo, 1991: 84-86).

Struktur batin puisi meliputi:

1. Tema

Tema adalah gagasan pokok atau subject-metter yang dikemukakan oleh penyair. Pokok pikiran atau pokok persoalan itu begitu kuat dan mendesak dalam jiwa penyair, sehingga menjadi landasan utama pengucapannya. Dalam penulisan puisi, seorang penyair harus memiliki landasan pokok atau landasan utama dalam membuat puisi. Tema adalah ide dasar dari suatu puisi yang menjadi inti dari keseluruhan dalam suatu puisi (Aminuddin, 1987:151).

Tema adalah gagasan, pandangan hidup pengarang yang melatarbelakangi ciptaannya. Karena sastra merupakan refleksi kehidupan masyarakat, maka tema yang diungkapkan sangat beragam (Fananie, 2000:84). Tema bisa berupa persoalan moral, etika, agama, sosial budaya , teknologi, tradisi yang terkait erat dengan masalah kehidupan.

Menarik tidaknya sebuah tema akhirnya memang bergantung kepada kepiawaian pengarang. Semakin pandai ia menyamarkan tema tersebut melalui ungkapan-ungkapan simbolik, maka semakin baik model tema yang diungkapkan.

Karena pada dasarnya , menariknya sebuah tema bukan terletak kepada kebagusan

jenis tema yang diungkapkan, melainkan bagaimana seorang pengarang mampu meramu tema tersebut dalam jalinan ungkapan-ungkapan yang menarik.

Dengan latar belakang pengetahuan yang sama, penafsir-penafsir puisi, akan memberikan tafsiran tema yang sama bagi sebuah puisi, karena tema puisi bersifat lugas, obyektif, dan khusus. Tema puisi harus dihubungkan dengan penyairnya, dengan konsep-konsepnya yang terimajinasikan. Oleh sebab itu, tema bersifat khusus (penyair), tetapi objektif (bagi semua penafsir), dan lugas (tidak dibuat-buat).

Namun mencari tema tidak semudah yang dibayangkan, karena puisi memiliki bagian-bagian kata yang terkadang tidak saling berhubungan dan kata-kata terpisah dibagian lain mempunyai makna lain lagi dalam kata-kata-kata-kata sebelumnya, sehingga sulit untuk mencari makna seluruhnya.

2. Nada dan Suasana

Nada puisi adalah sikap penyair yang ingin diungkapkan kepada pembaca.

Sikap tersebut seperti menegaskan, manasehati, membantu, menyindir, atau bersikap lugas hanya menceritakan sesuatu kepada pembaca. Suasana adalah keadaan kejiwaan pembaca setelah membaca puisi itu atau akibat psikologis yang ditimbulkan puisi itu terhadap pembaca. Nada dan suasana puisi saling berhubungan kerena nada puisi menimbulkan suasana terhadap pembacanya.

Adapun nada yang sering digunakan dalam puisi adalah sebagai berikut : a. Nada Menegaskan

Nada menegaskan ini bersifat lugas, hanya menceritakan sesusatu kepada pembaca. Dengan kata lain, menceritakan kembali sebuah kisah yang pernah

terjadi dengan menggunakan bahasa dan pikiran pengarang atau menegaskan kembali apa yang telah ditetapkan sebelumnya seperti sejarah, dogma-dogma agama, hukum adat dan lain-lain. Dengan demikian pembaca menjadi paham atas apa yang dimaksudkan penyair di dalam bait-bait sajaknya.

b. Nada Persuasif

Kata persuasif menurut kamus besar bahasa Indonesia (1995:760) adalah sebuah kata sifat yang berarti membujuk secara halus kepada seseorang maupun orang banyak supaya menjadi yakin. Dalam hal ini penyair mengajak pembaca untuk mengikuti jalan kebenaran yang dimaksudkanya.

c. Nada Sugesti

Kata sugesti menurut kamus besar bahasa Indonesia (1995:969) adalah dorongan atau ransangan yang diberikan kepada orang lain sehingga tergerak dan terpengaruh hatinya untuk melakukan hal yang dimaksudkan. Dalam hal ini tentu penyair ingin merangsang pembaca agar tergerak hatinya untuk melakukan apa yang dimaksudkan penyair. Rangsangan atau dorongan ini tentu dapat bermacam-macam, bisa berupa benda, janji, dan sebagainya.

3. Perasaan

Persaan adalah sikap penyair terhadap objeknya (puisi). Dalam menciptakan puisi, suasana perasaan penyair harus di ekspresikan kedalam puisinya dan harus dapat dihayati oleh pembaca. Perasaan yang ada di dalam puisi itu merupakan perasaan penyair. Persaan yang diungkapkan beraneka ragam, seperti persaan cinta, sedih, benci, rindu, terharu, kagum, kecewa dan lain-lain.

Untuk tema puisi yang sama dilukiskan dengan persaan yang berbeda akan menghasilkan puisi yang berbeda pula.

4. Amanat

Amanat adalah maksud yang hendak disampaikan oleh penyair kepada pembaca di dalam puisinya. Amanat merupakan hal yang mendorong penyair untuk menciptakan puisi. Amanat dapat dipahami setelah pembaca memahai tema, rasa dan

nada puisi. Amanat tersirat di samping kata-kata yang disusun, dan juga berada dibalik tema yang di ungkapkan. Amanat yang hendak disampaikan oleh penyair mungkin secara sadar berada dalam pikiran penyair, namun lebih banyak penyair tidak sadar akan amanat yang disampaikan.

2.2.2 Didaktis

Kata didaktis berasal dari bahasa Yunani yakni didaktie yang asal katanya adalah didaskein artinya mengajar. Didaktie dalam bahasa Latinnya disebut didaktik atau didaktis, (Djaka, dalamYusmalina, 1997:26).

Semi (1990 : 71) berpendapat bahwa didaktis adalah pendidikan dengan pengajaran yang dapat mengantarkan pembaca kepada sesuatu arah tertentu.

Temyang, dkk (Yusmalina, 1997:26) menyatakan bahwa pengertian didaktis adalah ilmu mengajar yang menunjukan kepada kita bagaimana kita harus mengajar anak lebih mudah dikatakan didaktis menetapkan cara mengajar.

Pada dasarnya pendidikan adalah laksana eksperimen yang tidak pernah selesai sampai kapan pun, sepanjang ada kehidupan manusia di dunia ini. Di katakan demikian, karena pendidikan merupakan bagian dari kebudayaan dan

peradaban manusia yang terus berkembang. Hal ini sejalan dengan pembawaan manusia yang memiliki potensi kreatif dan inovatif dalam segala bidang kehidupannya (Hasbullah, 2005 : 10).

Tentang pengertian pendidikan ini dijelaskan oleh (Kartono, 1997 : 10) bahwa:

“Pendidikan merupakan proses mempengaruhi dan proses membentuk yang diorganisi, direncanakan, diawasi, dinilai, dan dikembangkan secara terus-menerus. Karena itu pedagogi (lebih baik disebut sebagai andragogi

= pendidikan/ilmu mendidik manusia; andros = manusia, agoo = menuntun, membimbing) ialah ilmu membentuk manusia, agar dia bisa mandiri, dan selalu bertanggung jawab secara susila sepanjang hidupnya”.

Dari penyataan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa dalam arti sederhana pendidikan sering diartikan sebagai usaha manusia untuk membina kepribadiannya sesuai dengan nilai-nilai di dalam masyarakat dan kebudayaan.

Dalam perkembangannya, istilah pendidikan atau paedagogie berarti bimbingan atau pertolongan yang diberikan dengan sengaja oleh orang dewasa, dalam arti dewasa di sini dimaksudkan adalah dapat bertanggung jawab terhadap diri sendiri secara biologis, psikologis, paedagogis dan sosiologis. Selanjutnya, diartikan sebagai usaha yang dijalankan oleh seseorang atau kelompok orang lain agar menjadi dewasa atau mencapai tingkat hidup atau penghidupan yang lebih tinggi dalam arti mental.

Kohnstamm dan Gunning (Kartono, 1997 : 11) menyatakan bahwa : “Pendidikan adalah pembentukan hati nurani dan proses pembentukan diri dan penentuan diri secara etis, sesuai dengan suara hati nurani”.

Pengertian pendidikan menurut KBBI (2000 : 263) : “Pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan”.

Dalam hal ini juga Hasbullah (2005 : 38-55) mengatakan bahwa pendidikan erat hubungannya dengan pendidikan dalam lingkungan keluarga, pendidikan dalam lingkungan sekolah dan pendidikan dalam lingkungan masyarakat :

1. Pendidikan dalam Lingkungan Keluarga

Lingkunga keluarga merupakan lingkungan pendidikan yang pertama, karena dalam keluarga inilah anak pertama-tama mendapatkan didikan dan bimbingan. Juga dikatakan lingkungan yang utama, karena sebagian besar dari kehidupan anak adalah di dalam keluarga, sehingga pendidikan yang paling banyak diterima oleh anak adalah dalam keluarga.

Tugas utama dari keluarga bagi pendidikan anak ialah sebagai peletak dasar bagi pendidikan akhlak dan pandangan hidup keagamaan. Sifat dan tabiat anak sebagian besar diambil dari kedua orang tuanya dari anggota keluarga yang lain.

Dengan demikian terlihat betapa besar tanggung jawab orang tua terhadap anak. Bagi seorang anak, keluarga merupakan persekutuan hidup pada lingkungan keluarga tempat di mana ia menjadi diri pribadi atau diri sendiri. Keluarga juga merupakan wadah bagi anak dalam konteks proses belajarnya untuk mengembangkan dan membentuk diri dalam fungsi sosialnya. Di samping itu keluarga merupakan tempat belajar bagi anak dalam segala sikap untuk berbakti kepada Tuhan sebagai perwujudan nilai hidup yang tertinggi.

2. Pendidikan dalam Lingkungan Sekolah

Pada dasarnya pendidikan di sekolah merupakan bagian dari pendidikan dalam keluarga, yang sekaligus juga lanjutan dari pendidikan dalam keluarga. Di samping itu, kehidupan di sekolah adalah jembatan bagi anak yang menghubungkan kehidupan dalam keluarga dengan kehidupan dalam masyarkat.

Yang dimaksud dengan pendidikan sekolah di sini adalah pendidikan yang diperoleh seseorang di sekolah secara teratur, sistematis, bertingkat, dan dengan mengikuti syarat-syarat yang jelas dan ketat (mulai dari taman kanak-kanak sampai perguruan tinggi).

Sebagai lembaga pendidikan formal, sekolah yang lahir dan berkembang secara efektif dan efesien untuk masyarakat, merupakan perangkat yang berkewajiban memberikan pelayanan kepada masyarakat dalam mendidik warga negara. Sekolah dikelolah secara formal, hierarkis dan kronologis yang berhaluan pada falsafah dan tujuan pendidikan nasional.

3. Pendidikan dalam Lingkungan Masyarakat

Masyarakat diartikan sebagai sekumpulan orang yang menempati suatu daerah, diikat oleh pengalaman-pengalaman yang sama, memiliki sejumlah persesuaian dan sadar akan kesatuannya, serta dapat bertindak bersama untuk mencukupi krisis kehidupannya.

Masyarakat juga dapat diartikan sebagai satu bentuk tata kehidupan sosial dengan tata nilai dan tata budaya sendiri. Dalam arti ini masyarkat adalah wadah dan wahana pendidikan, medan kehidupan manusia yang majemuk (plural : suku, agama, kegiatan kerja, tingkat pendidikan, tingakat sosial ekonomi dan

sebagainya). Manusia berada dalam multikompleks antarhubungan dan antaraksi di dalam masyarakat.

Dalam konteks pendidikan, masyarakat merupakan lingkungan ketiga setelah keluarga dan sekolah. Pendidikan yang dialami dalam masyarakat ini, telah mulai ketika anak-anak untuk beberapa waktu setelah lepas dari asuhan keluarga dan berada di luar dari pendidikan sekolah. Dengan demikian, berarti pengaruh pendidikan tersebut tampaknya lebih luas. Corak dan ragam pendidikan yang dialami seseorang dalam masyarakat banyak sekali, ini meliputi segala bidang, baik pembentukan kebiasaan, pembentukan pengetahuan, sikap dan minat, maupun pembentukan kesusilaan dan keagamaan.

Aminuddin (1987 : 47) menyatakan bahwa : Pendekatan didaktis adalah suatu pendekatan yang berusaha menemukan dan memahami gagasan tanggapan evaluatif maupun sikap pengarang terhadap kehidupan. Gagasan, tanggapan maupun sikap itu dalam hal ini akan mampu terwujud dalam suatu pandangan etis, filosofis maupun agamis sehingga akan mengandung nilai nilai yang mampu memperkaya kehidupan moral pembaca khususnya tentang pendidikan suatu masyarakat.

Dari beberapa pendapat yang menjelaskan tentang teori didaktis di atas, penulis menggunakan teori didakis yang telah dikemukakan oleh Aminuddin, karena objek kajian yang akan penulis analisis sesuai dengan pendapat yang dikemukakan Aminuddin, bahwa suatu gagasan, tanggapan dalam suatu pandangan etis, filosofis maupun agamais akan mengandung nilai yang mampu memperkaya moral kehidupan pembaca tentang pendidikan suatu masyarakat.

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Metode Dasar

Metode penelitian sastra adalah cara yang dipilih peneliti dengan mempertimbangkan bentuk, isi dan, sifat sastra sebagai objek kajian (Endraswara, 2008:8), sementara Kane (dalam Moleong, 2007:157), mengatakan bahwa metode penelitan bisa juga disebut sebagai teknik penelitian. Baik metode maupun teknik, keduanya memiliki makna yang sinonim, tujujanya tetap sama yaitu untuk memecahkan masalah dalam penelitian.

Metode dalam pembagian sastra terbagi dua yaitu metode kualitatif dan metode kuantitatif. Pada penelitian ini penulis menggunakan metode kualitatif yang bersifat deskriptif. Pada dasarnya metode kualitatif itu sendiri memiliki pengertian bahwa data yang digunakan dalam peneitian merupakan nilai atau kesan dari suatu objek bukan angka-angka, sementara metode kualitatif yang bersifat deskriptif yaitu menggambarkan objek penelitian tersebut dengan menggunakan data dalam objek sehingga dapat diketahui bagaimana nilai-nilai didaktis yang terdapat pada syair Warnasari.

3.2 Sumber Data Penelitian

Loflan (dalam Moleong, 2007: 157) berpendapat bahwa sumber data utama dalam penelitian kualitatif berasal dari kata-kata dan tindakan, selain dari itu penulis juga memperoleh sumber data dari sumber tertulis, sumber tertulis ini dapat berupa dokumen, arsip, serta buku-buku yang relevan dengan bahan penelitian.

Sumber utama dari kajian ini adalah :

a) Nama/Judul Buku : Guridam Duabelas dan Sejumlah sajak lain Raja Ali Haji

b) Penerbit : Yayasan Pusaka Riau c) Tahun Terbit : 2007

d) Penulis / Editor : Hasan Junus

e) Ukuran Buku : Panjang = 10 cm Lebar = 7 cm f) Jumlah Halaman : 118 Halaman

g) Cover : Terdapat gambar tiga helai daun dan tulisan di Raja Ali Haji, Gurindam Duabelas dan sejumlah sajak lain.

3.3 Metode Pengumpulan Data

Data yang diperoleh dan informasi yang diperlukan menggunakan metode pengumpulan sebagai berikut :

1. Studi Kepustakaan

Studi kepustakaan merupakan metode pengumpulan data dengan menjadikan buku, skripsi, tesis, disertasi, jurnal penelitian, dan bahan yang tertulis lainnya, yang berhubungan dengan objek penelitian penulis sebagai bahan pengumpulan data. Dalam hal ini penulis memperoleh data objek kajian dari buku Gurindam Dua Belas dan Sejumlah Sajak Lain Raja Ali Haji karya Hasan Junus.

2. Studi Teks

Studi teks yaitu pengumpulan data yang diperoleh dari objek kajian dengan cara membaca secara cermat naskah yang menjadi kajian. Penulis mengumpulkan data dengan cara studi teks untuk memfokuskan data dalam

Dokumen terkait