KOMUNITAS ASEAN DALAM MASYARAKAT DUNIA: AGENDA KERJA INDONESIA
III. Agenda Kerja: Demokrasi, HAM dan Korups
Presiden SBY yang secara resmi mengumumkan kepemimpinan Indonesia 2011 pada upacara penutupan ASEAN Summit ke-17 di Hanoi, 30 Oktober 2010 membawa pula agenda kerja berupa demokrasi, HAM, dan pemberantasan korupsi. Tiga hal ini sangat berkaitan dengan sikap hidup manusia yang harus ditanamkan sejak dini. Kebebasan berpendapat yang merupakan inti dari demokrasi harus diimplementasikan dengan memberikan pada anak kebebasan untuk berdiskusi baik dalam keluarga maupun di sekolah. Sistem pendidikan kita yang lebih menjurus pada menghapal dan tidak pada observasi mandiri dan keleluasaan untuk bertanya harus diubah agar pada waktu mereka dewasa mereka paham arti kebebasan berpendapat.
Sekalipun Indonesia mendapat pengakuan internasional akan kecepatannya berbalik dari rezim otoriter ke era demokrasi, tetapi kualitas demokrasi yang dicapai baru sebatas kelengkapan perangkat institusional dengan Pilpres sampai Pilkada dan Pilwara4nya. Dalam
implementasinya, demokrasi liberal ala Indonesia memerlukan banyak sekali pembenahan. Sampai saat ini orang awam menilai perwujudan demokrasi adalah kebebasan melaksanakan demonstrasi jika putusan tidak sesuai dengan kehendak. Ditambah dengan kemiskinan yang 4 Pemilihan Presiden, Pemilihan Kepala Daerah, Pemilihan Wakil Rakyat
masih luas, demonstrasi menjadi suatu event yang dapat direkayasa. Calon-calon yang kalah dalam pemilihan umum dengan mudah dapat mengorganisir demonstrasi, sehingga masyarakat menilai memang ada kecurangan dalam Pemilu. Demokrasi seharusnya diiringi dengan sikap sportif menerima kekalahan. Demonstrasi bukan lagi murni sebagai ajang mengeluarkan pendapat karena pendemo mudah dibayar walaupun dalam nominal yang hanya Rp 10,000 – Rp 25,000 per orang.
Fenomena membayar untuk mendapatkan sesuatu yang diingini ini sebenarnya telah dimulai ketika Orde Baru berkuasa. Kita tentu belum lupa dengan istilah ‘serangan fajar’ yang dengan mudah membeli/ mengalihkan suara pemilih dengan sebuah amplop ataupun sekotak sembako yang dilakukan pada pagi hari sebelum pencoblosan (fajar). Ketika masih menganut sistem tiga partai, orang yang sama mengenakan tiga kaos berbeda pada saat kampanye. Untuk masing- masing keikutsertaan, mereka mengaku diberi kaos gratis dan uang. Sikap seperti ini telah terbentuk lama dan akhirnya membudaya, rakyat tidak pernah berpikir apa yang akan terjadi sebagai dampak keputusan ataupun pilihannya. Ketika era demokrasi dicanangkan, fenomena serupa terulang kembali. Mereka ikut dalam demo dan tidak peduli dengan tujuan demo tersebut.
Kerugian ekonomi terkait praktik demokrasi yang serba cepat seperti yang dipaparkan di atas amat banyak dan jarang diekspose apalagi dihitung. Kerugian itu utamanya adalah biaya kampanye yang sebagian dibantu pemerintah, belum lagi moral hazard yang terjadi untuk mensukseskan calon yang diusung. Kemudian ada lagi demo pasca pemilu karena calon yang gagal tidak dapat bersikap sportif menerima kekalahan. Sebenarnya sementara menunggu kesiapan dan pemahaman masyarakat, pemilu dapat saja dilakukan di tingkat pemilihan presiden dulu, kemudian setelah beberapa tahun masyarakat lebih matang dapat dilakukan di tingkat propinsi untuk pemilihan gubernur. Kerugian ekonomi pasca pemilu tidak kalah besarnya dengan kerugian kampanye yang jor-joran. Pasca Pemilu
akan terjadi kolusi antara pemenang dan kalangan bisnis yang mendanai era kampanye5, akibatnya pertumbuhan dan pembangunan
daerah sulit berkualitas.
ASEAN sering dikritik sebagai terlalu berorientasi elit. Hal ini setidaknya mengandung kebenaran. Penduduk ASEAN tidak merasakan apa-apa yang terjadi dalam wadah ASEAN. Kerjasama ataupun negosiasi tidak membawa manfaat apapun bagi mereka. Dengan agenda demokrasi, HAM dan pemberantasan korupsi, ASEAN akan lebih berorientasi pada manusia (people-centered association) yang harus diterjemahkan ke dalam tindakan nyata. Pemerintah Indonesia masih menyimpan sejumlah pekerjaaan rumah berupa masalah-masalah HAM yang sampai saat ini tidak terungkap tuntas (contoh: masalah Munir dan Trisakti).
Perubahan bagaimanapun harus dimulai dari diri sendiri. Masalah yang dihadapi Indonesia terkait langsung dengan manusia adalah adalah pekerja migran. Sebagai pemasok pekerja migran terbesar maka perlindungan dan bantuan terhadap hak-hak mereka merupakan persoalan yang harus dipikirkan dalam kebijakan luar negeri Indonesia. Deklarasi hak-hak migran yang disepakati di Cebu pada 2007 dapat digunakan sebagai langkah awal. Isu ini tidak hanya penting bagi Indonesia melainkan seluruh warga ASEAN (Nugroho, 2011).
Selain masalah pekerja migran, terkait dengan HAM, kemiskinan bangsa kita secara langsung menghilangkan hak-hak mereka untuk hidup tenang. Hak anak-anak untuk belajar belum sepenuhnya dapat dinikmati dengan merata. Akses terhadap kesehatan secara formal memang diatur dengan mekanisme yang baik; namun di lapangan masih banyak orang miskin yang tidak tertangani. Belum lagi hak untuk hidup sehat yang seolah tercerabut dengan ditemukannya Balita dengan gizi buruk, dan adanya warga yang meninggal karena kelaparan. Pada 2010 diberitakan bahwa jumlah penduduk Indonesia 5 P2E-LIPI banyak melakukan studi tentang masalah bisnis dan pilkada ini.
dengan gizi buruk berjumlah 17.9%. Kemudian dari tayangan TV sekitar bulan Maret atau April 2011 ditemukan sebuah dusun di mana hampir separuh penduduknya ‘idiot’ karena dari kecil makan makanan yang gizinya kurang. Ini semua adalah akibat kelaparan dan kemiskinan.
Akan halnya pemberantasan korupsi, mungkin benar kita sudah in the right track; namun dalam masalah ini terkesan ‘adu kuat-kuatan’. Korupsi terdapat dimana-mana di segala tingkat, dan di semua bidang, baik dalam bidang eksekutif, judikatif maupun legislatif. Tiga bidang pendukung trias politica yang menunjukkan adanya demokrasi; semuanya tidak luput dari aroma korupsi. Bentuk dan cara korupsi pun berkembang dan yang sedang dijaring sekarang adalah pencucian uang (money laundering) dengan contoh kasus Malinda Dee/City Bank. Pembicaraan informal dengan broker property mengungkapkan bahwa mereka sangat mudah menjual property pada saat sebelum ataupun segera setelah Pemilu. Dugaan mereka waktu itu adalah waktu di mana pencucian uang banyak terjadi.
Bagaimana caranya menampilkan diri sebagai contoh yang baik dalam pemberantasan korupsi sekaligus membawa citra bangsa yang positif dalam ASEAN, karena bagaimanapun Indonesia memegang kepemimpinan untuk tahun ini. Tabel 3 menunjukkan Indeks Persepsi Korupsi negara-negara ASEAN, 2010; Human Development Index dan persentase responden yang menyuap untuk mendapatkan layanan. Tabel 3 ini sengaja menempatkan Indeks Persepsi Korupsi dengan Indeks Pembangunan Manusia dalam satu tabel, karena penulis berpendapat semakin baik pembangunan manusia, semakin kurang keinginan untuk melakukan korupsi.
Tabel 3: Indeks Persepsi Korupsi (CPI), Indeks Pembangunan Manusia (HDI) 2008, dan Persentase Responden yang Menyuap
untuk Mendapatkan Layanan
N egar a Index Persepsi Korupsi1 In d ex P emb an gu n an M an u si a 2 R es p on d en yan g M en yu ap u tk me n d p t Layan an (%) 3 R an k S cor e Brunei Darussalam 38 5.5 0.894 - Cambodia 154 2.1 0.598 72 Indonesia 110 2.8 0.728 31 Lao PDR - - 0.601 - Malaysia 56 4.4 0.811 6 Myanmar 176 1.4 0.583 - Philippines 134 2.4 0.771 32 Singapore 1 9.3 0.922 - Thailand 78 3.5 0.781 - Vietnam 116 2.7 0.733 -
Angka tidak ada
-
Sumber: 1. Transparancy International. 2. Asean Statistical Yearbook, 2008. 3) Tjitoheriyanto, Priyono, 2010: 170
Dari tabel 3 dapat dilihat bahwa Singapura memiliki skor HDI dan CPI yang tinggi, demikian pula halnya dengan Brunei Darussalam. Dalam Indeks Persepsi Korupsi, dengan nomor urut ke-110 dan skor 2.8 menjadikan Indonesia bukan negara yang patut dicontoh dalam pemberantasan korupsi. Hanya ada 4 negara yang indeks persepsi korupsinya di bawah Indonesia yaitu berturut-turut Vietnam, Filipina, Cambodia dan Myanmar. Jadi melihat pada daftar ini, untuk pemberantasan korupsi, Negara-negara ASEAN yang indeks CPI-nya buruk akan belajar pada Singapura dan bukan pada Indonesia yang memegang chairmanship. HDI untuk Indonesia yang dapat digunakan sebagai proxy untuk pembangunan yang berorientasi pada manusia juga tidak menduduki tempat di ranking atas.
Hal terbaru dalam masalah korupsi di Indonesia adalah merebaknya pemberitaan adanya pejabat-pejabat Indonesia yang disuap oleh
perusahaan multinasional. Diberitakan bahwa FBI Amerika Serikat sedang mendalami hasil penyelidikan terhadap sejumlah perusahaan AS yang terlibat suap dengan pejabat Indonesia. Sayangnya FBI tutup mulut tentang nama atau jumlah perusahaan yang menyuap dan pejabat yang disuap6. Dalam kasus Innospec yang sudah diadili pengadilan Inggris dan AS, Innospec Limited dari Inggris mengaku telah menyuap pejabat Pertamina, BP Migas dan sejumlah kementerian Negara berkaitan dengan penjualan tetra ethyl lead/ TEL yang digunakan dalam bensin bertimbal. Kasus yang seharusnya ditindak lanjuti oleh KPK ini tiba-tiba diserobot oleh kejaksaan7. IV. ASEAN dalam Tantangan Global
Dengan motto komunitas ASEAN dalam masyarakat dunia, Indonesia harus dapat membawa ASEAN menjawab tantangan global. Beberapa isu global yang menantang kepemimpinan ASEAN adalah masalah lingkungan hidup, keterbatasan sumberdaya alam, hambatan dalam perdagangan dunia, ketidakadilan yang masih dijumpai dalam praktek- praktek perdagangan, dan pola pertumbuhan ekonomi (Adi, 2007). ASEAN harus mengantisipasi perubahan-perubahan besar yang akan terjadi di dunia, perubahan yang mensyaratkan regionalisasi yang tangguh, karena ASEAN harus bersaing dalam perekonomian dunia yang saling berhubungan dan globalisasi. Makalah ini hanya akan mengambil contoh masalah lingkungan hidup yang berkaitan dengan perubahan iklim.
Penyebab terjadinya perubahan iklim yang mulai dirasakan menganggu siklus pertanian dan kedatangan bencana demi bencana masih menjadi perdebatan kalangan ilmuwan. Sebagian menengarainya sebagai suatu fenomena alam, sedangkan sebagian lagi menganggap sebagai dampak dari industri yang eksploitatif. Dalam sektor pertambangan, manusia membongkar perut bumi dan 6 AS memiliki Foreign Corrupt Practices Act (FCPA) yang melarang perusahaan
mereka melakukan suap di luar negeri. FBI hanya mengumumkan suatu kasus ke publik setelah kasus itu masuk proses persidangan.
melenyapkan 300 trilyun ton minyak, 550 milyar ton batubara, 7500 trilyun cubfeet gas alam dalam periode 100 tahun. Dalam kurun waktu 1960-1985, manusia telah membuat gundul 40% hutan di muka bumi, dan Indonesia dinilai sebagai juara nomor satu dalam perusakan hutan. Keterbatasan sumber daya alam ini mendorong manusia untuk mencari energi alternatif yang terbarukan (renewable).
Kemudian terkait dengan industri manufaktur, proses produksi memberikan polusi pada lingkungan, limbah pabrik merusak dan meracuni air bersih, ditambah lagi dengan produk-produk penunjang gaya-hidup seperti AC, mobil, kulkas yang semuanya ini memberi kontribusi pada efek rumah kaca (Jusmaliani, 2008). Berbagai upaya dilakukan untuk mencari jalan keluar mengatasi masalah lingkungan hidup ini. Data mengenai kawasan lindung dan emisi CO2 dalam tabel 4 dapat ditafsirkan sebagai upaya ataupun kepekaan suatu negara terhadap perubahan iklim yang terjadi.
Tabel 4: Kawasan Lindung dan Emisi CO2
Negara Kawasan Lindung (% dari kawasan yang ada1, 2006
Emisi CO
2 (per
cap metric ton), 2004 Brunei Darussalam 1.5 24.0 Cambodia 29.7 0.0 Indonesia - 1.7 Lao PDR - 0.2 Malaysia - 7.5 Myanmar 3.93 0.2 Philippines 12.7 1.0 Singapore 4.8 12.3 Thailand - 4.2 Vietnam - 1.2
Sumber: ASEAN Statistical Yearbook, 2008, diolah
V. Kesimpulan dan Saran