C. Susunan Lembaga Tonarigumi di Jawa
2. Agenda Pemerintah Dai Nippon bagi Tonarigumi
a. Permusyawaratan Tonarigumi
31 Ibid, hlm. 21
commit to user
Guna memantau dan mengontrol Tonarigumi yang tersebar di seluruh Jawa, pemerintah Jepang mengadakan beberapa agenda permusyawaratan bagi anggota ataupun pengurus Tonarigumi. Permusyawaratan tersebut antara lain sebagai berikut:
1) Tonarigumi Zyookai (Rapat Berkala Roekoen Tetangga)
Untuk agenda rutin dari Tonarigumi yang pertama adalah mengadakan permoesjawaratan atau Tonarigumi Zyookai (rapat berkala Roekoen Tetangga), jang terdiri dari anggota- anggota Tonarigumi, sekoerang-koerangnja sekali seboelan.
Tonarigumi sedikitnya sekali sebulan mengadakan Djokai (Rapat berkala) dihadiri
oleh semua anggota. Dalam rapat itu disampaikan perintah- perintah atau dirundingkan tentang usaha-usaha bagi Tonarigumi.33
2) Aza Zyokai (Rapat Berkala Dukuh)
Gambar 9: Aza Zyokai (Rapat Berkala Dukuh) sedang berlangsung Sumber: Djawa Baroe 1 Februari 1944 halaman 1
Aza Zyokai (Rapat Berkala Dukuh) ini berada di tingkat Aza (dukuh). Aza
commit to user
Zyookai terdiri dari Aza cho, Tanarigumi cho dan orang-orang pandai dalam
lingkungan Aza (Dukuh). Rapat ini perlu dilakukan untuk merapatkan hubungan antar Tonarigumi yang ada di setiap Aza (Dukuh). Permusyawaratan/rapat ini dilakukan sekurang- kurangnya sekali sebulan, menurut panggilan Aza cho.34 Rapat ini biasanya membahas mengenai permasalahan yang ada pada lembaga
Tonarigumi masing-masing. Baru setelah ada pengumuman, Tonarigumi cho
akan mengumumkan kepada anggota Tonarigumi-nya. Tapi biasanya rapat berkala ini biasanya lebih membahas kepada kebutuhan perang bala tentara Dai
Nippon. Seperti dalam rapat bulanan Aza dan Tonarigumi diseluruh Surabaya
Syu, dikemukakan soal-soal sebagai berikut:
a) Menghemat pemakaian air dalam lingkungan rumah tangga.
b) Menghemat pemakaian air untuk tanah-tanah sawah, dengan memakai air secara bergilir dan dilakukan secara gotong royong. c) Memelihara saluran air.
d) Saluran air harus senantiasa dikontrol kondisinya dan jika mengalami kerusakan agar segera diperbaiki. Saluran air diharapkan selalu bersih, sehingga airnya dapat mengalir dengan baik. Saluran pembuangan air hendaknya diatur sedemikian rupa, hingga airnya dapat digunakan oleh Ku (Desa) lain, jika tidak digunakan lagi.
commit to user
e) Tanam-tanaman di pekarangan rumah harus dipelihara dengan baik. Air untuk menyirami tanaman sebaiknya diambil dari air sumur.
f) Pengumpulan dan penanaman kapas.
g) Buah kapas dikumpulkan dan kemudian dijual kepada pemerintah, misalnya dengan perantaraan Aza cho masing-masing, guna turut berusaha menambah bahan pakaian.
h) Pengumpulan biji buah jarak. Pengumpulan biji buah jarak harus dijalankan secepatnya. Dalam hal pengumpulan itu, pemerintah Jepang mengeluarkan aturan agar tiap-tiap orang yang menyerahkan 2 kg biji jarak dapat membeli 1 liter minyak tanah.35 (Mulai berlaku pada tanggal 25 Agustus 1945).
3) Permusyawaratan Akbar
Pada tangal 3 November 1944 untuk pertama kali dilangsungkan Permusyawaratan Akbar Tonarigumi seluruh Jawa di Taman Raden Shaleh Jakarta yang dihadiri oleh utusan-utusan Tonarigumi 17 Shu, 2 Koo chi dan 1
Tokobetsushi, Gunseikan dan peunjuk-petunjuk yang berharga.
Pembesar-pembesar Gunseikanbu serta Ir. Soekarno juga hadir.
Pada saat rapat berlangsung, Gunseikan selaku pemimpin Jawa Hokokai memberi nasihat kepada para utusan. Selanjutnya Naimubu cho dan Ir. Soekano juga turut memberi pengarahan yang bermanfaat bagi para anggota Tonarigumi.
commit to user
Saat permusyawaratan Tonarigumi pertama seluruh jawa Ir Soekarno selaku Pengurus pusat Djawa Hokokai memberi nasihat:
“Kewajiban Tonarigumi amatlah penting ialah: membantu Dai Nippon dan menyusun masyarakat baru. Hendaknya tiap-tiap Tonarigumi mendidik setiap orang dari 50 Juta penduduk di Jawa soepaya mereka insyaf akan gelombang zaman. Ia juga menjelaskan artinya pekerjaan Tonarigumi yang ia simpulka dalam perkataan: loro-loroning toenggal yang berarti bahwa pekerjaan Tonarigumi untuk membantu peperangan tak dapat dipisahkan dari pekerdjaan menjoesoen masjarakat baroe di Indonesia.” Pidato singkatnya tersebut mendapat perhatian penuh dari para utusan
Tonarigumi masing-masing Ken (Kabupaten). Mereka secara bersama-sama
menyatakan janji untuk memaksimalkan usahanya guna membantu usaha peperangan dan Indonesia merdeka. Sesudah itu para utusan berziarah ke tempat bersejarah dan dengan khidmat mengenang pahlawan yang tewas.36
4) Pertemuan Kondankai
Ditiap tiap Ken, Shi dan Shiku seluruh Jawa dan Madura atas perintah
Jawa Hokokai Soosai, akan dilangsungkan Kondankai (Pertemuan ramah tamah
dengan kesempatan tanya jawab) untuk Tonarigumi seluruh Jawa dan Madura. Pertemuan tersebut diadakan di tiap-tiap Ken, Shi atau Shiku akan dikunjungi oleh wakil-wakil Kumi cho, Aza cho dan Ku cho dalam daerah masing-masing. Pimpinan dalam pertemuan ini dipegang oleh Jawa Hokokai dan pangreh praja dibantu oleh pegawai-pegawai pejabatan pertanian, pengajaran, kesehatan, polisi,
Chokin Kyoku, Shoomin Ginko, Badan Pembantu Prajurit Pekerja, Romusha, Fujinkai, dan lain- lain. Yang akan menjadi perundingan ialah:
commit to user a) Bahan makanan
b) Bahan pakaian
c) Perburuhan dan tabungan uang d) Kesehatan dan keamanan
e) Pendidikan dan pembelaan tanah air, dan lain sebagainya.37 b. Mengadakan Perlombaan
Dalam Tonarigumi tidak hanya melakukan permusyawaratan tetapi untuk mengambil hati rakyat, pemerintah Jepang juga mengadakan sebuah perlombaan yang melatih kreativitas dan secara tidak langsung membangun mental rakyat untuk menggalang persatuan agar mau bekerjasama dengan pemerintah Dai
Nippon. Untuk memperteguhkan persatuan penduduk serta melatih gerakan
bersama, diadakan perlombaan Tonarigumi di masing- masing daerah, contohnya di Menteng Ku, Jakarta Si.
Gambar 10: Berbagai macam lomba yang diadakan oleh Tonarigumi Sumber: Djawa Baroe tanggal 1 Januari 1945 halaman 23
commit to user
Lomba ini diikuti dari berbagai golongan baik penduduk Indoneseia asli, peranakan maupun Tionghoa ataupun bangsa Nippon serta tua muda laki- laki perempuan seolah-olah jiwa mereka menjadi kembali menjadi muda dan saling tolong menolong dalam satu tim untuk berlomba-lomba menjadi pemenang. Perlombaan tersebut diantaranya adalah lomba memasang api dirokok, lomba membawa tangga dengan cepat, lomba penyerahan ember, dan lain- lain. Pemerintah Jepang juga menyediakan hadiah untuk memancing semangat rakyat.38
c. Pemantauan Tonarigumi di tiap daerah
Untuk pertama kali semenjak dibentuknya Tonarigumi di Jawa, Naimubu dan Gunseikanbu melakukan pemantauan pembentukan Tonarigumi di sejumlah
Shu di Jawa seperti daerah Madiun, Ponorogo, Ngawi dan Magetan Ken. Pokok
hasil penyelidikan dalam usaha-usaha Tonarigumi sebagai berikut:
Tentang usaha-usaha untuk pemerintah dan umum seperti dalam hal pengumpulan padi, dan lain- lainnya. Sebagainya berjalan baik.
1) Tentang usaha-usaha untuk memajukan desa seperti membuat pengairan, mengadakan ronda malam, dan lain-lain. Sistem yang digunakan masih menggunakan aturan desa seperti sedia kala.
2) Tentang usaha-usaha untuk lingkungan Tonarigumi sendiri, seperti pembuatan empang, mengerjakan sawah, dan lainnya. Dikerjakan dengan cara gotong royong dan berjalan baik sekali.39
38 Djawa Baroe tanggal 1 januari 1945 39 Sinar Baroe tanggal 26 Juli 1944
commit to user d. Upacara peringatan
1) Upacara Hari Raya Tentriyo
Dalam berbagai upacara peringatan yang diadakan pemerintah Jepang tak jarang Tonarigumi diikutsertakan dan diberi tugas yang telah ditentukan. Misalnya Upacara Hari Raya Tentriyo Setu diselenggarakan di masing-masing Ku serentak pada tanggal 20 Juni 1944 jam 8.40 pagi sudah siap sedia. Tempat upacara ialah lapangan yang memiliki radio, dan memiliki ukuran yang luas.
Upacara dimulai menunggu aba-aba dari siaran radio dan kemudian dilanjutkan dengan mendengarkan pidato sambutan Hari Raya Tentriyo Setu oleh paduka Tuan Surabaya Syu cho. Yang ikut serta dalam upacara ini ialah: Aza cho,
Tonarigumi cho dari tiap aza, Anggota Seinendan serta pengurus Husinkai di tiap Ku. Dalam upacara peingatan ini diadakan pula latihan Takeyaki yang bertujuan
mengobarkan semangat perjuangan penduduk untuk menghancur leburkan musuh kita Inggris tepat pada hari perayaan Tentriyo Setu, hari kebaktian. Upacara ini harus dilakukan dengan penuh khidmat dan dengan segala penghormatan, setiap oang dilarang bercakap-cakap atau merokok. Ku cho lah yang bertanggung jawab atas tempat upacara serta memimpin berjalannya upacara.40
2) Upacara Peringatan 1 Tahun Tonarigumi
Genap 1 tahun berdirinya Tonarigumi di Surabaya Shi, maka pada tanggal 21 Januari 1945 akan diadakan perayaan untuk memperingati peristiwa itu. Untuk penyelenggaraan peringatan ini pada tanggal 4 Januari 1945 jam 6 sore dibentuk suatu panitia perayaan bertempat di Taman Persahabatan Shi. Pada pertemuan
commit to user
tersebut akan dibicarakan rencana-rencana yang mengenai perayaan itu. Dalam garis besarnya perayaan itu akan dibagi menjadi 3 tingkatan:
a) Upacara selamatan di Tambak Sari.
b) Perlombaan yang mempunyai sifat-sifat ke Tonarigumi-an dan dapat mengobarkan semangat bergotong royong.
c) Pertunjukan sandiwara yang mengandung isi ke Tonarigumi-an pula.
e. Pelatihan Tonarigumi
Untuk menyempurnakan keadaan Tonarigumi sebagai Badan Kebaktian Rakyat, pemerintah Jepang melakukan pelatihan Tonarigumi di seluruh Jawa. Seperti yang dilakukan oleh Jember Ken Hokokai merencanakan adanya latihan calon Tonarigumi Sidooin (Peserta Latihan dari Tonarigumi) yang akan dimulai pada tanggal 16 Juli 1945 sampai tanggal 23 Juli 1945 dan bertempat di asrama. Dalam latihan tersebut akan turut serta 3 orang calon dari tiap-tiap Son (Kecamatan) dalam Jember Ken (Kabupaten). Untuk memajukan Tonarigumi,
Ken Hokokai juga telah menerbitkan buku tuntunan atas pimpinan Tonarigumi
sebagai petunjuk bagi mereka yang turut memimpin Tonarigumi.41
Isi dari pelatihan Tonarigumi ini di ataranya adalah latihan pembelaan serangan udara, memadamkan kebakaran, penjagaan malam, dan kegiatan yang berkaitan dengan penjagaan keamanan lainnya. Selain itu diberikan juga materi mengenai pentingnya gotong royong, mempertahankan bangsa dari serangan musuh, sampai cara-cara menjaga kebersihan lingkungan.